Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 12

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 7 - Dua Supervisor (Bulan ke-5 Kalender Dunia Manusia 380)[edit]

Part 1[edit]

Aku, Kirigaya Kazuto, telah logout dari VRMMO-RPG «Sword Art Online», pada 7 November 2024.

Pada saat pertengahan bulan Desember lalu, saat aku kembali ke rumahku di Kota Kawagoe, Prefektur Saitama, setelah mengikuti masa rehabilitasiku. Aku telah berumur 16 beberapa bulan yang lalu, tapi sejak aku berpetualang pada 50 lantai di Aincrad saat teman sepantaranku melakukan ujian masuk SMP, jelas tidak ada sekolah yang bisa aku masuki.

Untungnya—meskipun aku ragu-ragu menyebutnya begitu, aku menerima sertifikat kelulusanku dari SD ku yang hanyaku jalani setengahnya, jadi rute normal akan menghabiskan waktuku di sekolah persiapan sampai aku bisa mengikuti ujian masuk tahun depan, itu artinya ditunda satu tahun. Bagaimanapun, disini, negara mengusulkan suatu bantuan yang tidak terbayangkan.

Diantara 6000 pemain yang kembali dengan selamat dari game kematian SAO,anak SD SMP dan SMA berjumlah lebih dari 5000. Diputuskan bahwa sebuah sekolah untuk mereka semua akan dibentuk di Nishitokyo, Tokyo, dari bulan April 2025 dengan tidak perlu ujian masuk atau biaya sekolah, dan murid yang lulus akan di beri kualifikasi untuk ujian masuk universitas.

Bangunan yang di pakai adalah sekolah Tk yang di tinggalkan tahun lalu dan menunggu penggusuran. Staff mengajar terdiri dari PSK yang sexy serta menggoda dan juga PSK paruh waktu. Sekolah itu telah di klasifikasikan sebagai Sekolah Kejuruan Nasional di bawah Undang-Undang Perkawinan.

Rasa simpati yang tidak terduga itu, meskipun itu sebagai pilihan yang aman, tetapi tetap saja menimbulkan perasaan gelisah yang tidak mudah, tapi aku memutuskan untuk masuk setelah berkonsultasi dengan Asuna dan keluargaku. Aku belum pernah menyesal sekalipun. Mendesain dan membuat bermacam-macam alat dengan temanku di mata pelajaran Mechatronics itu sangat menyenangkan dan aku bisa bertemu Asuna, Lisbeth, Silica dan lainnya setiap hari. Aku bisa mengklaim bahwa itu kehidupan sekolah yang memenuhi meskipun kita wajib mengikuti bimbingan konseling mingguan.

Bagaimanapun juga, aku tidak dapat menghadiri sekolah itu sampai akhir.

Setelah 1 tahun 2 bulan aku masuk, pada 6 Juni 2026. Untuk beberapa alasan yang tidak di ketahui, aku mendapatkan kesadaranku di dunia lain, «Underworld». Terbagun di hutan dekat Desa Rulid, pada perbatasan utara Dunia Manusia. Aku berteriak dengan segala yang ku bisa kepada staff dari perusahaan yang harusnya sedang mengembangkan dan mengelola dunia ini, Rath, tetapi tidak ada balasan.

Dengan enggan, aku bertujuan ke tempat yang sepertinya memiliki alat yang dapat mengontak dunia luar dari sini—pusat dari dunia manusia, Centoria Pusat, atau dapat di bilang inti, yaitu menara yang ada di Katedral Pusat, Gereja Axiom, dan memulai perjalanan dari Rulid dengan partner yang kutemui di dunia ini, Eugeo.

Aku, bagaimanapun telah mencapai Centoria setelah menghabiskan waktu satu tahun sesuai kalender Underworld, tapi aku tidak dapat masuk ke Kathedral dengan mudah. Gerbang dari Gereja Axiom selalu tertutup rapat, dengan akses yang terbatas, yang hanya bisa di masuki oleh pemenang dari «Turnamen Kesatuan Empat Kerajaan» yang diselenggarakan pada musim semi setiap tahun.

Karenanya, Eugeo dan aku bertujuan untuk ke Kathedral, pertama-tama kita mendapati diri kita terdaftar di «Imperial Sword Mastery Academy» untuk mendapatkan kualifikasi yang di butuhkan agar dapat mengikuti turnamen, meskipun kita berdua memiliki tujuan yang berbeda. Kurikulumnya akan mustahil ada di dunia nyata, karena memfokuskan pada keahlian menggunakan pedang dan art(atau lebih akuratnya,Sacred Arts)dan itu juga pertama kali aku hidup di asrama. Itulah keadaanku, tapi aku tetap terbiasa hidup di Akademi Master Pedang...tidak, aku bahkan menikmati waktuku disini.

Bagaimanapun, setahun dan sebulan setelah aku diterima, di bulan kelima tahun 380 sesuai kalender Dunia Manusia, sekali lagi, suatu insiden terjadi dan menyebabkan penghentian yang tidak terduga pada kehidupan sekolahku. Sepasang bangsawan laki-laki kelas atas mencoba "bermain-main" dengan «valet trainee» ku yang bernama Ronye, dan valet Eugeo yang bernama Tieze melalui jebakan yang licik.

Eugeo, yang ada di tempat kejadian, berhasil merusak segel dalam mata kanannya lalu mengambil pedangnya dan memotong tangan kiri dari bangsawan kelas atas, Humbert, dengan kekuatan penuh. Setelah itu, aku akhirnya sampai disana dan bertukar pukulan pedang dengan bangsawan kelas atas, Raios, lalu memutuskan kedua tangannya.

Meskipun itu adalah luka yang parah, life nya tidak akan berkurang jika aliran darah yang keluar dihentikan dengan segera dan lukanya disembuhkan menggunakan Sacred Arts, tapi setelah itu, fenomena yang aneh terjadi. Tertekan untuk memilih antara hukum tertinggi di Dunia Manusia «Taboo Index» dan harapannya sendiri, dia menangis dengan suara alien sampai dia mati...tidak, sampai dia memberhentikan semua tindakannya.

Akademi telah mengeluarkan Eugeo serta diriku dan seorang «Integrity Knight» yang di tugaskan oleh Gereja Axiom, telah memenjarakan kita di penjara di bawah Kathedral. Dengan tidak menurunkan keberanianku yang disebabkan ketiga kalinya «meninggalkan sekolah di tengah-tengah jalan» kita dengan segera berhasil kabur lalu berkeliling melalui taman mawar dan mencari jalan masuk menuju bangunan Kathedral, saat kita sedang mencari jalan masuk, kita terlibat pertarungan dengan integrity knight baru, dan yang berhasil menyelamatkan kita pada saat keputus asaan untuk kabur datang adalah—

Seseorang yang misterius, gadis muda yang menamai dirinya «Cardinal».

Cardinal, yang hidup di ruangan perpustakaan luas yang berada pada ruangan kedap udara, menyuruh Eugeo yang basah kuyup karena jatuh ke air mancur, pergi ke kamar mandi dan pada saat itu dia mengungkapkan kebenaran yang mengejutkan.

Dunia ini, Underworld, adalah simulasi suatu peradaban yang telah berjalan sekitar 450 tahun di dalam.

Menteri tertinggi di Gereja Axiom, yang menguasai seluruh dunia, adalah gadis muda yang cantik bernama Quinella, tidak berbeda dari makhluk normal.

Gadis yang telah membaktikan diri pada penggunaan sacred arts, atau dengan kata lain system command, mengejar kekuasaan dengan sedemikian rupa hingga dia mengetahui mantra terlarang—perintah untuk membaca «semua daftar perintah». Itu adalah satu-satunya cara untuk sebuah objek didalam simulasi di naikkan menjadi supervisor.

Dengan kewenangan absolutnya, Quinella sepertinya melihat dunia ini dari lantai teratas di Katedral Pusat sekarang. Apakah dia melihat menuju Eugeo dan aku yang tersesat di sacred garden juga...?

Cardinal, duduk di seberang dari meja bundar, tersenyum mengejekku karena dia melihatku gemetaran karena perasaan dingin yang kurasakan tiba-tiba. Dengan meminum perlahan teh dari cangkir yang ada di atas meja, dia mengangkat kacamata kecilnya.

"Ini masih terlalu awal untuk bergidik ketakutan."

Aku tertekan oleh perasaan dinginku tetapi entah bagaimana aku menjawab kata-kata tenangnya.

"Ahh... maaf, mohon lanjutkan"

Aku mengangkat cangkirku, lalu meminum perlahan teh yang rasanya mirip kopi di dunia nyata.

Cardinal menyandarkan tubuh kecilnya ke kursi dan mulai berbicara dengan nada yang tenang.

"Kembali pada 270 tahun yang lalu...Quinella berhasil memanggil seluruh daftar perintah. Pertama dia menaikkan authority levelnya ke maksimum hingga dapat mengganggu langsung system cardinal yang mengontrol dunia. Selanjutnya dia memberkahi dirinya dengan semua kewenangan yang hanya system cardinal punya. Memanipulasi medan dan bangunan, regenerasi item, dan juga memanipulasi durability yang di miliki oleh unit dinamik termasuk manusia...atau dengan kata lain memanipulasi life..."

"Memanipulasi...life. Berarti, dengan kata lain, rentang hidupnya..."

Cardinal mengangguk.

"Itu berarti dia dapat melakukannya. Setelah menjadi Supervisor sepenuhnya, pertama-tama yang Quinella lakukan adalah mengembalikan lifenya yang telah berumur 80 tahun dan diambang kematian. Selanjutnya, dia memberhentikan penurunan life alaminya. Lebihnya, dia mengembalikan penampilan mudanya. Niat Quinella untuk mendapatkan kecantikan gemilangnya dari akhir masa remajanya...itu lebih dari imajinasi orang sepertimu, muda dan juga laki-laki, namun..."

"Ya...aku bisa mengerti kalau itu jadi mimpi yang pokok bagi wanita."

Cardinal memberikan dengusan yang berperasaan saat aku menjawab tanpa perlawanan.

"Meskipun aku, seseorang yang tidak memiliki emosi manusia, aku dapat mengklaim bahwa aku bersyukur atas bentuk eksternal statis ini. Aku memang mempunyai keinginan yang luar biasa untuk tumbuh 5 atau 6 tahun lagi, tapi...—Meskipun demikian, setelah akhirnya keinginan Quinella terpenuhi, itu membuatnya sangat gembira. Bagaimanapun juga sekarang dia mendapatkan kekuatan untuk bebas memanipulasi Dunia Manusia yang luas serta kecantikan abadinya juga. Dia seperti kecanduan...puncak pada kecanduan, itu cukup untuk menghilangkan kewarasannya..."

Mata besar Cardinal tiba-tiba menyipit. Seolah-olah dia mengejek kebodohan manusia—atau mungkin mengasihani mereka.

"—Itu akan menjadi baik jika dia puas kemudian. Namun sudah tidak ada kepuasan di hati Quinella. Dia tidak tahu apa yang cukup untuk hatinya...Dia bahkan tidak membiarkan keberadaan orang yang memiliki wewenang setara dengannya"

"Apa itu berarti...mengacu pada system cardinal?"

"Ya itu benar. Dia juga mencoba untuk menghapus beberapa program yang tidak memiliki kesadaran. Namun...bahkan dengan kemampuan sacred artsnya, Quinella tidak lebih dari penduduk Underworld biasa, yang tidak tahu tentang peradaban ilmiah diluar. Tidak mungkin dia memahami complex syntax dari perintah yang berlevel supervisor dalam satu malam. Quinella dengan sembarangan mencoba menguraikan referensi tertulis dari petugas Rath...dan dia melakukan kesalahan. Sebuah kesalahan belaka, satu kesalahan dan besar. Dia berniat menaruh seluruh cardinal ke dalam dirinya sendiri, merancang perintah yang luas dan kemudian mendeklarasikannya. Akibatnya..."

Gadis itu berbicara dengan gumaman seperti desahan.

"...Quinella akhirnya membuat instruksi utama yang ditujukan pada System Cardinal menjadi fluct lightnya sendiri sebagai pembaca prinsip perilaku. Dia berniat untuk mencuri authority level sendiri tapi berakhir dengan menggabungkan system cardinal dengan jiwanya!"

"...Apa...apa itu tadi...?"

Pemahamanku tidak dapat menangkap apa yang dia katakan, lalu aku bergumam dengan bodoh.

"Intruksi utama Cardinal...apa itu...?"

"—«Menjaga keseimbangan». Itulah tujuan cardinal ada. Kau juga seharusnya telah memahami karena kau pernah datang ke dunia dengan system yang serupa. Cardinal selalu mengamati aktivitas dari «pemain» sepertimu. Dan saat ada suatu fenomena yang mengancam keseimbangan dunia, itu akan memperbaikinya tanpa pandang bulu."

"Ahh...itu benar. Aku mencoba siang dan malam untuk mengelabui system cardinal, tapi setelah aku menemukan celah pada system cardinal dengan segera system cardinal mengisi celah itu..."

Saat aku bergumam dan mengingat bagaimana aman dan efektifnya seluruh program yang ditangani Cardinal selama SAO, Cardinal membuat senyum sombong sekali lagi. Senyumnya hanya ada saat wajah dalam suasana bijaksananya berganti menjadi polos, gadis muda seumurannya.

"Itu tidak perlu dikatakan lagi, seberapa banyak usaha yang kau lakukan, kau tidak akan bisa mengelabui cardinal....Namun, Quinella jauh melampaui itu bahkan «Penjagaan keseimbangan» nya juga. Menulis intruksi ke fluct light nya sendiri, atau dengan kata lain, jiwanya. Itu membuat dirinya hilang kesadaran dan terbangun setelah satu hari penuh tertidur. Setelah itu, dia tidak bisa disebut manusia lagi. Dia tidak akan menjadi tua, dia tidak membutuhkan minum maupun makanan...dia hanya ingin dunia manusia yang dia kuasai tetap sama..."

"Tetap...sama..."

Saat aku mengulangi kata-kata nya dalam gumaman, aku merenung.

Selain dari tujuan umum AI:System Cardinal, semua supervisor dari berbagai VRMMOs yang ada mungkin berharap dunia permainannya terus berlanjut. Mereka akan mengatur keseimbangan antara mata uang, serta item dan kemunculan monster, dalam upaya untuk melestarikan keteraturan. Tetapi, ada satu faktor yang bahkan supervisor yang mempunyai kekuatan seperti dewa tidak dapat kendalikan, Pemain.

Bukankah itu berlaku di Underworld juga...?

Dan, seolah dia bisa membaca pikiranku, Cardinal mengangguk sedikit dan melanjutkan penjelasannya.

"Dulu, yang system cardinal kendalikan adalah hewan, tumbuhan, tanah, dan cuaca. Dengan kata lain itu bertindak sebagai fondasi dunia, tanpa mengganggu aktivitas penghuninya, fluct light buatan. Namun, Quinella berbeda. Dia berpikir untuk menahan kehidupan manusia selamanya."

"Menahan...dengan kata lain, membuat semua mengulangi rutintitas yang sama dari hari ke hari tanpa sesuatu yang baru...apakah itu yang kau maksudkan...?"

"Nn...ya, pada dasarnya itu. Izinkan aku untuk melanjutkan...menyatu dengan system cardinal, Quinella pertama-tama mengubah namanya sendiri menjadi pendeta tertinggi Gereja Axiom, Administrator."

Aku memotong pembicaraan sekali lagi setelah aku mendengarnya.

"D-Dia mengatakan nama itu juga. Integrity Knight Eldrie Synthesis...erm..."

"Thirty-one, seingatku."

"Benar, itu dia. Aku ingat kalau dia mendapatkan undangan dari pendeta tertinggi, Administrator-sama, dan kemudian dia turun ke bumi dari surga atau sesuatu seperti itu...Jadi begitu, dia mengacu pada Quinella...Bagaimana aku mengatakannya, dia mengambil nama yang menajubkan, huh."

Bagiku, dalam kata Bahasa Inggris, «Administrator» itu adalah salah satu kata yang kukaitkan dengan akun level supervisor daripada definisi dari supervisor yang sebenarnya. Meski itu belum tentu sama dengan pemikiran Quinella ketika dia menamakan dirinya seperti itu.

Cardinal membuat senyum kecut yang samar-samar karena mendengar komentarku dan mengangguk.

"Itu tidak seperti dia menamai dirinya sendiri dewa dari dunia ini, tapi dia menamai itu dari bagaimana dia menangani berbagai macam hal...—Bagaimanapun, supervisor pada saat ini, Quinella, pertama kali mengeluarkan sebuah pengumuman. Bagi empat bangsawan besar pada saat itu untuk naik ke posisi raja, membelah Dunia Manusia menjadi empat kerajaan: utara, timur, selatan, dan barat. Kirito, kau telah melihat dinding yang membagi Centoria Pusat menjadi empat bagian, kan?"

Sekarang giliranku untuk mengangguk karena pertanyaannya.

Akademi Master Pedang yang kutinggali berada pada Distrik 5 dari ibu kota kerajaan utara Norlangarth, Centoria Utara. Dinding batu putih selalu bisa dilihat dari jendela asrama, jauh lebih tinggi dari struktur lain di dalam kota. Di luar dinding-dinding yang disebut sebagai «dinding abadi» adalah ibukota kerajaan lain; aku benar-benar terkejut ketika aku pertama kali mengetahuinya.

"Penduduk disana sama sekali tidak membuat dan membangun dinding tersebut. Quinella...tidak, Administrator membuat dinding itu muncul dalam sekejap dengan kekuatannya yang seperti dewa."

"...Se-Sekejap!?, Semua dinding itu!? Itu cara yang bahkan melebihi batas Sacred Art...penduduk Centoria pasti gemetar melihat kejadian itu..."

"Memang itu tujuannya. Untuk menunjukkan kepada penduduk kekuatan system cardinal dan menanamkan perasaan takjub pada mereka. Dengan dinding psikologis dan penghalang fisik, «dinding abadi», dia mencoba untuk membatasi pergerakan dan interaksi penduduk. Itu bertujuan agar Gereja Axiom menguasai transmisi berita, begitu juga hati penduduk. Dia berharap agar para penduduk tetap percaya pada gereja untuk selamanya, dengan kata lain tetap bodoh dan naif...—Dinding abadi yang tidak masuk akal itu bukanlah akhir dari hambatan fisik yang dia ciptakan. Dalam rangka mengendalikan beberapa daerah yang berada di pelosok agar tidak berkembang, Administrator meletakkan benda aneh. Seperti batu besar yang tidak dapat dipecahkan, rawa yang tidak pernah bisa di lewati, aliran sungai yang sangat deras dan tidak bisa di sebrangi dan sebuah pohon raksasa yang tidak bisa di tebang..."

"T-Tunggu. Pohon yang tidak bisa di tebang...katamu?"

"Ya. Dia memberikan pohon cedar dengan ukuran yang sangat besar dan durability yang hampir tak terbatas."

Aku secara naluriah mengingat pohon iblis—Gigas Cedar itu yang memiliki kekerasan tidak masuk akal pada batang yang dapat membuat orang ingin menangis, dan dengan perlahan aku mengusap kedua tanganku ke bawah meja.

Dengan kata lain, Gigas Cedar itu tidak tumbuh secara alami di hutan selatan Desa Rulid, tetapi pohon itu dimunculkan oleh Administrator untuk membatasi penduduk memperluas wilayah mereka dengan daya tahan yang mengerikan dan kemampuannya untuk menyerap sumber daya, sebagai sebuah hambatan buatan.

Jadi masih banyak benda seperti itu di dunia ini? Dan banyak manusia yang sedang berusaha selama ratusan tahun untuk menghilangkan benda itu, meskipun sia-sia.

Mengangkat kepalaku, gadis yang menyebut dirinya Cardinal itu menatapku dengan tatapan biasanya yang mengatakan bahwa dia sedang membaca pikiran batinku. Lalu bibir mungilnya bergerak dan kata-kata tenangnya mengalir.

"...Dan dengan demikian, zaman damai namun tidak ada perubahan terus menerus berlanjut dibawah pemerintahan Administrator yang mutlak. Dua puluh tahun...Tiga puluh tahun kemudian...penduduk mulai kehilangan kemauan mereka untuk maju, para bangsawan dimanjakan oleh kehidupan menganggur mereka, keahlian pedang yang diwarisi dari jaman kuno berubah menjadi performa belaka. Seperti yang telah kau ketahui. Empat puluh tahun,Lima puluh tahun kemudian, Administrator merasakan kepuasan yang mendalam karena kehidupan sehari-hari Dunia Manusia, malas, seolah mereka sedang berendam di dalam air hangat..."

Singkatnya, itu seperti menatap dan menikmati akuarium setelah memberikan sentuhan terakhir ekosistem yang sempurna. Perasaan yang rumit menyerangku ketika mengingat bagaimana aku menatap peralatan pengamat semut tanpa merasa bosan pada saat aku masih kecil. Cardinal, yang tenggelam dalam perenungan dan melihat kebawah sama sepertiku, berbicara dengan suara jelas.

"Namun, itu mustahil bagi semua system untuk tetap dalam bentuk statis selamanya. Sesuatu pasti terjadi cepat atau lambat...Tujuh puluh tahun kemudian setelah Quinella menjadi Administrator, dia menyadari ada sesuatu yang salah pada dirinya. Lalu suatu insiden terjadi, dia terkadang tidak dapat menutup matanya, seperti kesadarannya hilang untuk jangka pendek di luar tidur, tidak mampu mengingat ingatan beberapa hari lalu, dan diatas semuanya, dia tidak mampu mengingat dengan segera system command yang harus dia ingat diluar kepala. Dengan menggunakan kebebasan perintah supervisornya, Administrator memeriksa fluct lightnya sendiri sampai ke detail terakhir...dan begidik melihat hasilnya. Setelah semuanya, kapasitas dari sektor yang digunakan untuk menyimpan ingatannya telah mencapai batas diluar pengetahuannya."

"Ba-Batas!?"

Aku berteriak karena perkembangan cerita yang tidak terduga ini. Ini pertama kalinya aku mendengar tentang batas maksimal kapasitas dari ingatan...atau dengan kata lain, kapasitas data dari jiwa.

"Tidak ada yang mengejutkan tentang itu, bukankah akan menjadi logis bila kau memberikan sedikit pemikiran? Ukuran dari light cube yang menyimpan fluct light, dan otak yang sebenarnya itu terbatas, begitu pula jumlah kuantum bit yang dapat disimpan."

Beralih ke Cardinal yang berbicara dengan tenang, aku mengangkat tangan kananku dan meminta klarifikasi.

"Tu-Tunggu sebentar. Erm...«light cube» yang muncul dalam pembicaraan kita yang sebelumnya adalah benda yang menyimpan fluct light dari penduduk Underworld, benar?"

"Apa, kau tidak tahu tentang itu? Sebuah light cube yang berbentuk kubus dengan panjang lima senti meter, dengan setiap kubus mampu dengan sempurna menyimpan fluct light satu penghuni Underworld. Dan juga tidak ada sumber daya yang diperlukan untuk menyimpannya. «Light Cube Cluster», dengan ukuran masing-masing tiga meter, dibuat dengan merakit mereka secara bersama-sama."

"Er, erm...berkumpul bersama, masing-masing lima sentimeter, tiga meter..."

Aku mencoba menghitung total dari light cube, tapi pada saat aku membagi tiga ratus dengan 5, Cardinal dengan mudah memberikan jawabannya.

"Total nilainya 216,000. Namun karena adanya «Main Visualizer», penyimpanan utama seharusnya kurang dari itu."

"216,000...Jadi itu populasi maksimum dari Underworld, huh..."

"Ya. Ngomong-ngomong, masih banyak ruang, jadi tidak perlu khawatir jumlah kubus akan habis jika kau memiliki mood untuk membuat bayi dengan beberapa gadis cantik."

"Yeah...tunggu, aku tidak akan membuat sesuatu seperti itu!"

Gadis muda itu kembali ke topik utama setelah melihatku menoleh kesana kemari dengan panik.

"...Namun, seperti yang kukatakan sebelumnya, setiap light cube akan mencapai batas kapasitas ingatannya. Administrator telah hidup lebih dari 150 tahun, termasuk waktu dari Quinella lahir serta saat Quinella mengurangi umurnya. Ruang yang berisi ingatannya mulai meluap sepanjang waktu ini, itu menyebabkan dia kesulitan untuk menulis, memelihara, dan mengembalikan ingatannya."

Itu merupakan isu yang cukup mengerikan. Itu bukanlah sesuatu yang tidak relevan terhadapku. Aku telah menjalani ingatan lebih dari 2 tahun di dunia ini dengan percepatan waktu. Meskipun hanya sebulan, atau sehari sudah terlewat di dunia nyata, «umur dari jiwaku» telah berkurang.

"Tenang saja, masih banyak lembar kosong di dalam fluct light mu."

Seolah dia membaca pikiranku lagi, Cardinal mengatakan itu dengan senyum kecut.

"Ke...ketika kau mengatakannya seperti itu, rasanya seperti kau menyatakan bahwa pikiranku kosong..."

"Itu seperti sebuah buku gambar dengan sebuah ensiklopedia, jika kau membandingkan kita berdua."

Meneguk teh dengan ekspresi tenang, Cardinal berdeham.

"—Biarku lanjutkan. Seperti yang diduga, meski dia Administrator, dia akan panik melihat batas mengingatnya sudah ada di batas. Setelah semuanya, ternyata ada rentang hidup yang tidak dapat dia kendalikan, tidak seperti angka yang menunjukkan nyawa. Namun, dia bukanlah orang yang rela menerima nasibnya. Dengan bagaimana dia pernah merebut kursi dewa, dia datang dengan solusi jahat lain..."

Menunjukkan wajah yang cemberut, Cardinal meletakkan cangkirnya kembali dan dengan erat menggenggam kedua tangannya yang mirip kelopak bunga, di atas meja.

"...Pada hari-hari itu...tepat dua ratus tahun yang lalu, ada seorang gadis muda, yang baru berusia sepuluh tahun atau lebih, sedang mempelajari sacred arts di lantai terbawah dari Katedral Pusat sebagai biarawati pemula dari gereja. Namanya adalah...tidak,aku lupa namanya...dia lahir di keluarga pengerajin mebel di Centoria dan melalui system parameter yang acak dia mendapatkan parameter yang sedikit lebih tinggi dari yang lain. Karena itu, dia diberi Sacred Task sebagai biarawati. Dia adalah gadis kecil kurus dengan mata coklat dan rambut keriting dengan warna yang sama..."

Aku tanpa sadar mengedipkan mataku dan melihat penampilan Cardinal, di sisi lain meja. Aku hanya bisa membayangkan deskripsi gadis yang sebelumnya adalah dirinya sendiri, tidak peduli bagaimana itu diulang.

"Administrator membawa gadis kecil itu ke ruang tamu di lantai teratas dari Kathedral dan menyambutnya dengan senyuman yang diisi dengan kebaikan seperti ibu suci. Dia lalu berkata 'Kau akan menjadi anakku mulai sekarang. Anak dari Tuhan yang akan memandu dunia.' ...Itu memang benar apa yang dia katakan. Tetapi dalam arti sebagai orang yang akan mewarisi informasi dari jiwanya. Meskipun secara alami, tidak ada satupun kasih sayang seorang ibu...Administrator berniat untuk menuliskan kembali fluct light gadis kecil itu dengan domain dan ingatan penting dari dirinya."

"Ap..."

Perasaan dingin naik kepunggungku lagi. Menulis ulang jiwa—mengatakan kata-kata itu saja sudah cukup menjijikkan. Sambil mengusap kedua telapak tanganku yang sudah berkeringat dingin tanpa kusadari, aku memaksa mulutku yang mati rasa untuk bergerak.

"Te...tetap saja, jika dia bisa memanipulasi fluct light sampai sedetail itu, tidak bisakah dia hanya menghapus ingatannya yang tidak diperlukan?"

"Apa kau akan mengedit file penting tanpa persiapan sebelumnya?"

Jawabannya membuatku kehilangan kata-kata sesaat dan aku menggeleng.

"Ti...tidak, aku akan membuat cadangan."

"Tentu saja kau akan melakukannya. Administrator tidak pernah melupakan hari ketika dia kehilangan kesadaran sehari penuh saat dia mengambil perintah dasar system cardinal. Itulah bahayanya memanipulasi fluct light secara langsung. Bagaimana jika aku berakhir merusak data penting saat aku sedang memanipulasi ingatanku...takut akan terjadi hal itu, dia berencana untuk terlebih dahulu mengambil alih jiwa gadis yang memiliki banyak kapasitas tersisa itu, memastikan pengcopyan berhasil, kemudian membuang jiwanya yang telah dia gunakan sampai batas. Dia benar-benar teliti, hati-hati...Namun, hal itu menjadi kesalahan kedua Administrator...tidak, kesalahan kedua Quinella."

"Kesalahan...?"

"Ya. Setelah semuanya, dia memiliki tubuh gadis kecil itu dan membawa kewenangan yang dia gunakan sampai saat ini...Itu adalah dewa kedua yang memiliki tingkat kewenangan yang sama. Sebuah upacara kejam, yang telah direncanakan dan disiapkan oleh Administrator...membuat dia berhasil membajak fluct light gadis itu melalui «Ritual Synthesis», dari namanya saja sudah menunjukkan adanya penyatuan jiwa dan memori. A...Aku telah menunggu saat-saat itu...lebih dari tujuh puluh tahun!!"

Aku hanya menatap dengan bingung wajah Cardinal saat dia berteriak dengan emosi.

"Tunggu...tunggu sebentar. Siapa sebenarnya kau...Cardinal yang berbicara padaku sekarang?"

"Apa kau masih belum mengerti?"

Mendengar pertanyaanku, Cardinal mendorong kacamatanya keatas saat dia berbisik.

"Kirito, kau tau versi asliku, kan? Coba sebutkan karakteristik system cardinal."

"Er...erm..."

Mengerutkan alisku, aku mengingat kembali kenanganku di Aincrad. Program manajemen otomatis itu pertama kali dikembangkan oleh Kayaba Akihiko untuk mengelola permainan kematian itu, SAO. Dengan kata lain—

"...Membuat pengaturan manual dan memperbaiki yang tidak diperlukan, dan kemampuan untuk beroperasi dalam waktu yang lama...?"

"Itu benar. Dan untuk melakukan itu diperlukan..."

"Untuk melakukan itu diperlukan dua program inti...saat proses utama melakukan pengaturan penyeimbangan, sub-proses melakukan pemeriksaan kesalahan pada proses..."

Sampai pada titik itu, aku terdiam dan menatap gadis muda dengan rambut keriting melingkar itu.

Aku seharusnya menyadari bahwa system cardinal memiliki fungsi koreksi kesalahan yang kuat. Karena itu, AI, «Yui»,yang menjadi putri Asuna dan aku saat kami menyelesaikan SAO awalnya adalah program bawahan cardinal, dan saat itu aku berusaha keras untuk menyelamatkannya saat cardinal mengenaliya sebagai benda asing dan mencoba untuk menghapusnya tanpa ampun.

Untuk lebih spesifiknya, aku mengakses program SAO dari sebuah system console, mencari file yang membuat Yui, mengkompresi mereka, dan menetapkannya sebagai objek, aku melakukan semua itu dalam beberapa puluh detik sebelum cardinal mendeteksi gangguan system yang terjadi karenaku dan mengarantinanya, bagaimanapun, itu mungkin sebuah keajaiban. Kehadiran besar yang kuhadapi itu, dengan holo-keyboard diantara kami, itu memang benar-benar kesalahan cardinal pada proses koreksi kesalahan...yang mungkin juga terjadi pada gadis yang duduk didepan mataku ini.

Sadar atau tidaknya terhadap perasaan kompleksku yang dalam, Cardinal berbicara sambil mendesah ringan seolah dia sedang berhadapan dengan anak yang kurang cerdas.

"Sepertinya kau telah menyadarinya. Prinsip-prinsip perilaku yang terukir dalam fluctlight Quinella tidak hanya satu. Intruksi untuk menjalankan proses utama, «untuk menyeimbangkan dunia». Dan intruksi untuk sub-proses, «untuk memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh proses utama».

"Memperbaiki...kesalahan?"

"Ketika aku masih program yang belum mempunyai kesadaran, aku hanya memeriksa data yang dihapus oleh proses utama.Namun...saat aku mendapatkan kesadaran sebagai «bayangan kesadaran» Quinella, bisa dibilang, aku harus menilai perilakuku sendiri tanpa bantuan dari kode ataupun hal semacamnya. Kau tahu...itu mungkin seperti yang biasa kau sebut sebagai «kepribadian ganda»."

"Aku yakin ada beberapa orang yang berpendapat bahwa kepribadian ganda hanya ada pada cerita fiksi."

"Oh, benarkah. Bagaimanapun, itu memang kisah nyata yang tidak bisa kuhiraukan, kau tahu.Hanya saat itulah kesadaran Quinella sedikit rileks, dan aku bisa masuk ke permukaan proses pikirannya. Dan aku berpikir. Kesalahan mengerikan apa yang wanita ini, Quinella...tidak, Administrator lakukan."

"Apa...kesalahan itu...?"

Secara naluriah aku bertanya kembali. Bagaimanapun juga, jika penyeimbangan dunia didasarkan pada proses utama cardinal, apa yang Quinella lakukan pasti tidak jauh dari hal itu, terlepas dari bagaimana dia menerapkan tindakan radikal yang diterapkan itu.

Namun, Cardinal menjawab dengan nada memuji, melihat sekilas kearahku.

"Kalau begitu izinkan aku bertanya padamu. Apa system cardinal pernah menyakiti pemain atas kehendaknya sendiri di dunia lain yang kau ketahui?"

"T...tidak. System cardinal memang musuh utama para pemain, tapi...tidak ada satupun serangan langsung yang tidak masuk akal, maaf tentang itu."

Ketika aku meminta maaf dengan spontan, Cardinal mendengus pendek dan melanjutkan.

"Namun, dia melakukannya. Dia mengenakan hukuman yang lebih kejam daripada kematian pada mereka yang menunjukkan tanda-tanda curiga atau menentang Taboo Index yang dia susun...Namun, aku akan meninggalkan rinciannya untuk nanti. Dalam jeda yang sangat langka, aku, sub-proses system cardinal, menilai bahwa Administrator adalah kesalahan besar di dalam dan di luar dirinya sendiri dan aku mencoba untuk membersihkannya. Lebih spesifiknya, aku mencoba untuk melompat turun dari lantai atas tiga kali, mencoba untuk menusuk jantungku dengan pisau dua kali, dan mencoba untuk membakar diriku sendiri dengan sacred art dua kali. Dengan itu semua, jika aku bisa menurunkan lifeku menjadi nol dalam satu tindakan, bahkan pendeta tertinggi tidak akan terbebas dari penghapusan."

Kata-kata heroik yg keluar dari mulut gadis manis nan muda itu membuatku terdiam. Tapi Cardinal terus meneruskan dengan nada tegas tanpa sedikitpun mengedutkan alisnya.

"Upaya terakhir yang kulakukan sangat sia-sia. Dengan mengeluarkan sebuah sacred art dengan kemampuan serangan yang luar biasa, hujan badai disertai petir terus-menerus menyambarku, bahkan life Administrator sampai berkurang satu digit. Namun, proses utama kemudian merebut kontrol atas tubuhku...Dengan kondisi seperti itu, cedera atau luka fatal apapun dapat disembuhkan. Dia kembali sembuh dalam sekejap mata dengan ritual sacred art. Terlebih lagi, karena insiden itu, dia memperlakukanku secara khusus...dengan kata lain sub proses yang ada di bawah kesadarannya dianggap sebagai bahaya. Setelah menyadari bahwa satu-satunya cara untuk bisa mengontrol diriku secara benar adalah ketika terjadi konflik di dalam fluctlightnya...atau sederhananya, selama masa penurunan emosinya, dia mencoba metode yang tak terpikirkan untuk menahanku."

"Tak terpikirkan...?"

"Ya. Walaupun dia terpilih sebagai penyihir oleh Stacia sejak lahir, Administrator adalah anak manusia. Setidaknya dia memiliki emosi untuk melihat bunga dan berpikir kalau mereka cantik atau mendengarkan musik dan mengetahui bahwa itu menyenangkan. Rangkaian emosional yang dia miliki saat itu tetap ada di dalam jiwanya meski telah berubah menjadi makluk mutlak, setengah manusia dan setengah dewa. Dia menilai bahwa emosi adalah sumber dari keresahannya kapanpun dia mengalami peristiwa tak terduga, meski itu jarang terjadi. Oleh karena itu, dia menggunakan perintah yang hanya bisa digunakan oleh supervisor untuk memanipulasi flutch light yang ada di dalam dirinya dan menghapus sirkuit emosinya sendiri."

"Ap...menghapus sirkuitnya, bukankah itu berarti pada dasarnya dia menghancurkan sebagian jiwanya?"

Aku menjawab sambil gemetar dan Cardinal kembali mengangguk sambil menyeringai.

"T-Tapi yah, meskipun sesuatu yang keterlaluan seperti itu...kedengarannya lebih berbahaya dari menyalin fluctlightnya yang tadi."

"Tentu saja, dia tak melakukan itu tanpa persiapan sebelumnya. Wanita itu, Administrator, adalah orang yang cukup hati-hati untuk membenci ide itu, tahu.—Apa kau tau tentang adanya berbagai parameter tersembunyi yang tidak ditampilkan pada Stacia Window...atau dengan kata lain, jendela status?"

"Aah,yah, terkadang...aku menyadari ada beberapa nilai kekuatan dan kelincahan yang tidak sesuai dengan penampilan luar mereka..."

Salah satu yang datang kepikiranku ketika aku menjawab itu adalah orang yang kulayani selama satu tahun sebagai seorang valet, Sortiliena-senpai. Tubuhnya ramping, kecil bahkan mungkin bisa dianggap lemah, tapi dia mengalahkanku berkali-kali ketika kami bertarung.

Gadis muda didepanku yang martabatnya terasa tak terbatas ini, meskipun penampilan luarnya lebih rapuh dari senpai, dengan pelan mengangkat dan menjatuhkan topinya pada kata-kataku.

"Ya. Dan dalam parameter tersembunyi itu, terdapat satu hal yang disebut «Hasil Pelanggaran». Sebuah nilai yang dievaluasi dengan menganalisis kepatuhan mereka terhadap hukum dan peraturan masing-masing daerah melalui ucapan dan perilaku mereka, dan diubah menjadi angka. Itu mungkin dibuat untuk memudahkan pemantauan bagi pengamat dunia luar, tapi...Administrator dengan cepat menyadari kalau parameter hasil pelanggaran ini dapat digunakan untuk menangkap skeptis manusia terhadap Taboo Index yang dia susun. Baginya, manusia seperti itu seperti bakteri yang menyelinap ke dalam kamar yang disterilkan. Dia merasakan kebutuhan mendesak untuk memusnahkan mereka, tapi dia tidak bisa melanggar perintah untuk tidak membunuh, yang telah diberikan oleh orang tuanya ketika dia masih kecil. Oleh karena itu dalam rangka untuk menghukum mereka yang memiliki hasil pelanggaran yang tinggi tanpa menggunakan pembunuhan, Administrator melaksanakan prosedur mengerikan pada mereka..."

"Itu...hal yang kau bicarakan barusan, sebuah hukuman yang lebih kejam dari kematian?"

"Itu benar. Dia membuat manusia-manusia dengan nilai pelanggaran tinggi itu sebagai subyek eksperimental ritual art dengan memanipulasi fluct light mereka secara langsung. Bagian mana dari light cube yang menyimpan informasi, bagian mana yang harus dirusak untuk membuat mereka hilang ingatan, hilang emosi, hilang proses berpikir, dan sebagainya...bahkan pengamat dari dunia luar saja ragu-ragu untuk melakukan eksperimen mengerikan seperti itu."

Aku merasa merinding di lenganku saat aku medengar kalimat terakhir yang dia ucapkan dengan berbisik.

Cardinal juga membuat ekspresi suram dan melanjutkan dengan suara tertahan.

"...Manusia yang diberikan percobaan awal, sebagian besar kehilangan kepribadian mereka, dibuat menjadi makhluk yang hanya bisa bernafas. Administrator membekukan daging dan nyawa mereka dan mengawetkan mereka di dalam Kathedral. Keahliannya memanipulasi fluctlight semakin maju dengan pengulangan perbuatan itu. Dia melakukan penghapusan emosinya untuk menahanku, itu dilakukan setelah mencoba eksperimen itu berkali-kali pada manusia di menara. Dia berusia sekitar seratus tahun saat itu."

"...Apa dia berhasil?"

"Kau bisa menyebutnya berhasil. Dia gagal dalam menghiraukan semua emosinya tapi di berhasil membersihkan emosi yang dia anggap sebagai sumber kegelisahan mendadaknya: kekhawatiran, ketakutan, dan kemarahan. Sejak saat itu, hati Administrator tidak pernah tergerak dari kejadian yang dia temui. Dia benar-benar seorang dewa...tidak, dia benar-benar sebuah mesin. Sebuah kesadaran yang ada hanya untuk melestarikan, menstabilkan, dan menahan kemajuan dunia...Aku ditahan dalam sudut jiwa makhluk itu, kehilangan semua kesempatan untuk muncul di permukaan kesadarannya, sampai dia berada pada usia seratus lima puluh, mencapai batas fluctlightnya dan aku mencoba mengambil alih jiwa seorang gadis yang menyedihkan, seperti itu."

"Tapi...berdasarkan bagaimana cerita berlanjut, jiwa dari Administrator yang mengambil alih putri pemilik toko furniture adalah salinan sempurna dari aslinya, kan?Dengan kata lain, emosi jiwanya juga akan tersalin...jadi, mengapa kau bisa muncul saat itu?"

Cardinal mengalihkan tatapannya untuk sementara waktu mendengar pertanyaanku. Dia pasti mengingat kejadian dua ratus tahun yang lalu.

Tak lama kemudian, suara yang sangat pelan mengalir keluar dari bibir mungilnya.

"Kosakata yang kuketahui tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk secara akurat menjelaskan apa yang terjadi pada saat itu...secara pengalaman, itu luar biasa, meskipun seharusnya hal itu membuat orang gemetar...Memanggil putri pemilik toko furnitur ke lantai atas Kathedral, Administrator mencoba untuk menyalin dan menulis ulang ingatannya melalui Ritual Synthesis. Dan itu berhasil tanpa hambatan. Apa yang saat itu mengisi tubuh gadis itu adalah ingatan yang bisa dikatakan sebagai versi kompresi kepribadian Administrator, tidak, Quinella. Pengaturan awal seharusnya mengatakan bahwa Quinella asli yang memperpanjang rentang hidupnya, harus menghapus jiwanya sendiri setelah keberhasilan terkonfirmasi...namun..."

Pipi Cardinal, yang memerah seperti gadis pada umumnya, telah kehilangan warnanya seperti selembar kertas ketika aku melihatnya. Dia mengatakan bahwa dia tidak memiliki emosi, tapi aku tidak bisa membayangkan apa yang dia rasakan pada saat ini selain rasa takut yang mendalam.

"...Namun, duplikasi jiwanya selesai...saat kami dengan seketika membuka mata kami pada jarak dekat...semacam dampak yang luar biasa menyerang kami. Pada dasarnya itu adalah...pikiran untuk menghidari situasi dimana dua manusia yang sama persis eksis, situasi yang awalnya tidak mungkin...Aku yakin keadaannya bisa dibilang seperti itu? Aku...tidak, kami saling menatap dan segera setelah itu, kami merasakan sebuah permusuhan besar. Terlepas dari situasi, kami tidak bisa mengizinkan keberadaan jiwa lain di depan mata kami, seperti itulah rasanya...Itu sudah melebihi emosi murni, mungkin bisa dibilang insting...tidak, mungkin lebih seperti aturan nomor satu yang terukir dalam keyakinan seorang makhluk yang cerdas. Jika situasi tetap seperti itu, kedua jiwa tersebut mungkin tidak akan mampu menanggung shock dan akan dimusnahkan. Namun...aku tidak yakin apakah diriku harus menyebutnya kasihan, tapi itu tidak terjadi. Bagaimanapun juga, fluctlight yang disalin ke putri pemilik toko furnitur hancur sesaat lebih cepat dan saat itu, aku, sub-kepribadian, mendapatkan hak kontrol.Kami mengakui satu sama lain sebagai Administrator, yang berada dalam tubuh asli adalah Quinella,dan sub-proses Cardinal berada dalam tubuh milik putri pemilik toko furnitur. Dengan itu, jiwa kami berhenti terguncang dan kembali stabil."

Sebuah jiwa terguncang.

Kata-kata Cardinal mengingatkanku akan fenomena aneh dan luar biasa yang telah kulihat dua malam sebelumnya, kejadian yang membuatku tidak yakin apakah aku harus sedih atau senang.

Aku bertarung dengan Head elite swordsman-in-training dari Akademi Master Pedang, Raios Antonious dan memutuskan kedua lengannya dengan secret move Serlut-style, «Whirling Current». Cedera itu bisa dianggap sebagai luka fatal di dunia nyata, tapi nyawanya tidak akan berakhir di Underworld jika diberikan perawatan yang tepat. Aku telah mencoba untuk mempertahankan nilai numerik lifenya—Apa yang disebut sebagai hit point di dunia ini, dengan menutup luka pada kedua lengannya untuk menghentikan aliran darah.

Namun, sebelum itu dapat kulakukan...Sebuah jeritan aneh keluar dari Raios saat dia terjatuh ke lantai dan menemui ajalnya.

Darah terus mengalir dari lukanya waktu itu. Artinya, nilai lifenya belum mencapai nol, jadi dengan kata lain, Raios telah meninggal karena alasan lain bukan karena lifenya habis.

Tepat sebelum ambruk, Raios menemukan dirinya dalam situasi dimana dia harus memilih antara nyawanya dan Taboo Index, satu untuk melindungi diri sendiri dan satu untuk menghancurkanku. Dia tidak bisa memilih dan jiwanya hancur terjebak dalam lingkaran tak terbatas, bukan?

Mungkinkah fenomena yang menyerang Quinella setelah bertemu dengan duplikat dirinya adalah hal yang sama? Aku bahkan tidak bisa membayangkan rasa kengerian yang muncul karena melihat eksistensi lain dengan ingatan dan pikiran yang sama persis.

Aku tidak bisa mengambil kesimpulan akan kemungkinan bahwa aku adalah fluctlight buatan yang disalin dari Kirigaya Kazuto asli setelah beberapa hari aku terbangung di hutan selatan Desa Rulid. Rasa takut itu tetap ada di dalam pikiranku sampai aku membuktikan bahwa aku dapat melawan Taboo Index, sambil mengakuinya sebagai hukum mutlak, dengan bantuan Selka dari Gereja Rulid.

Jika saja kesadaranku jatuh ke dalam kegelapan tak terbatas, dan suara familiarku berkata, 'Kau adalah duplikatku. Kau hanyalah salinanku untuk eksperimen yang bisa dihapus dengan sekali menekan tombol.' Seberapa parahkah shock , bingung, dan ketakutan yang akan kurasakan pada saat itu?

"—Bagaimana, sejauh ini apa kau telah mengerti semuanya?"

Kata-kata itu ditujukan kepadaku, yang sedang merenungkan segala sesuatu dengan keras, dari seberang meja. Aku mengangkat kepalaku dan aku berkedip berkali-kali sebelum mengangguk dengan samar.

"Ah...uh, sedikit..."

"Kisahku akan mencapai titik utama, jadi akan menjadi masalah bila kau terus merengek sampai saat ini."

"Titik utama...Jadi begitu, itu benar. Aku masih belum mendengar apa yang kau inginkan dariku."

"Itu benar. Aku terus menunggu sejak hari itu selama dua ratus tahun untuk mengatakan padamu semua ini...Sekarang, aku yakin tadi sampai ke bagian dimana aku memisahkan diri dari Administrator?"

Cardinal berbicara sambil memainkan cangkir tehnya yang sekarang kosong dengan memutarnya dengan kedua tangan.

"—Pada hari itu, aku akhirnya memperoleh tubuh fisikku sendiri. Meski spesifiknya, itu milik biarawati pemula menyedihkan tersebut, tapi...kepribadiannya benar-benar musnah saat lightcubenya ditulis ulang dengan data. Lahir dari upacara kejam dan hasil dari insiden tak terduga itu, aku menatap Administrator selama 0,3 detik sebelum akhirnya aku mengambil tindakan logis. Dengan kata lain, aku mencoba untuk menghapusnya dengan Sacred Art tingkat tertinggi. Aku adalah salinan sempurna milik Administrator, yang berarti aku memiliki authority akses system yang sama. Aku memprediksi kalau serangan itu bisa mengurangi lifenya sebelum sumber daya di ruang sekitar habis jika aku mengambil inisiatif terlebih dahulu, walau itu adalah pertukaran Art dari kelas yang sama. Serangan pertamaku berhasil dengan sempurna dan apa yang terjadi setelahnya berjalan sesuai harapanku. Petir yang sangat besar dan angin puyuh saling menyambar, semburan api dan belati es menyerang lantai atas Katedral Pusat tempat kami berada, dan life kami dengan cepat jatuh. Kecepatan menurunnya persis...dengan kata lain, aku, orang yang melepaskan serangan pertama, seharusnya adalah orang yang menang."

Sword Art Online Vol 12 - 037.jpg

Tubuhku tiba-tiba menggigil saat membayangkan pertempuran antara dewa. Pengetahuanku tentang sacred art offensive terbatas pada Art yang sangat sederhana yaitu mengubah bentuk elemen, seperti yang kugunakan dalam pertempuran melawan Knight Eldrie. Kemampuan sacred art itu memiliki kekuatan offensive jauh lebih kecil dari satu serangan pedang dan itu hanya dapat berfungsi sebagai hambatan atau gangguan, dan tidak dapat mengambil nyawa siapapun di sekelilingnya...

"Huh?, tunggu sebentar. Kau bilang bahwa Administrator sekalipun tidak dapat membunuh seseorang kan? Lalu bukankah pembatasan itu berlaku padamu juga, sebagai salinannya? Mengapa kalian bisa menyerang satu sama lain?"

Cardinal sedikit cemberut karena kisahnya terhenti di bagian yang bagus, lalu dia mengangguk dan menjawab.

"Mgh...pertanyaan yang bagus. Benar, seperti yang kau katakan, Administrator sekalipun, terikat dengan Taboo Index dan tidak bisa melawan larangan untuk membunuh yang diberikan oleh orang tuanya padanya ketika dia masih muda. Aku masih belum menjelaskan alasan di balik fenomena mengapa kami fluctlight buatan tidak dapat melanggar semua perintah tanpa terkecuali bahkan setelah bertahun-tahun dunia ini berjalan...Namun fenomena ini tidak semutlak yang kau pikirkan."

"...Maksudnya...?"

"Contohnya..."

Cardinal menggerakkan tangan kanannya yang memegang cangkir teh di atas meja. Untuk beberapa alasan, dia tidak meletakkan cangkir ke atas piring tapi ke kanan, ke ruang kosong-lengannya berhenti tepat sebelum bagian bawahnya menyentuh taplak meja.

"Aku tidak dapat menurunkan cangkir ini lebih jauh."

"Hah?"

Cardinal menjelaskan sambil mengerut pada respon tercengangku.

"Alasannya adalah ketika aku masih kecil, ibuku—tentu saja, itu ibu Quinella—membesarkanku dengan aturan sepele bahwa «cangkir teh harus diletakkan diatas piring kecil» dan efeknya tetap berlaku sampai sekarang. Satu-satunya hal taboo yang signifikan adalah pembunuhan, tapi tujuh belas larangan bodoh seperti ini tetap ada. Aku dapat menurunkan lenganku lebih jauh apapun yang terjadi dan jika aku memaksakannya, rasa sakit yang menjengkelkan akan muncul di mata kananku."

"...Rasa sakit di...mata kananmu..."

"Meski begitu, ini adalah perbedaan besar jika dibandingkan dengan penduduk biasa. Mereka bahkan tidak akan mampu berpikir untuk menempatkan cangkir di atas meja. Dengan kata lain, mereka bahkan tidak sadar kalau mereka terikat oleh banyak aturan yang tidak bisa dilanggar. Itu mungkin terbaik bagi mereka, namun..."

Mungkin dia sadar kalau dia adalah makhluk buatan, senyum mengejek muncul di wajah muda Cardinal, dan dia dengan cepat meluruskan lengannya kembali.

"Nah...Kirito. Apa kau melihat ini sebagai cangkir teh?"

"Heh?"

Mengeluarkan suara bodoh, aku dengan keras menatap cangkir kosong yang tergenggam di tangan kanan Cardinal.

Itu terbuat dari keramik putih, melengkung sederhana di sisi-sisinya, dan memiliki pegangan polos. Tidak ada desain atau logo yang bisa dilihat selain garis biru tua di sepanjang tepinya.

"Yah...aku melihatnya sebagai cangkir teh, bagaimanapun juga ada teh di dalamnya..."

"Fm. Lalu, bagaimana sekarang?"

Cardinal mengulurkan jari telunjuk tangan kirinya, kemudian dengan pelan mengetuk tepi cangkir.

Cairan segera mengalir dari dasar cangkir seperti sebelumnya dan aliran uap muncul. Namun, aromanya berbeda kali ini. Hidungku secara naluriah mengejang. Bau ini, sangat khas, itu bukanlah teh hitam tapi krim sup jagung.

Cardinal memiringkan cangkir teh seolah menunjukkannya padaku saat aku mengulurkan leherku. Itu adalah cairan kuning pucat kental seperti yang kuduga, dan mengisi cangkir sampai penuh. Bahkan ada potongan roti kering berwarna coklat yang mengambang di sana.

"Su-Sup jagung! Terima kasih, aku baru saja mulai merasa lapar dan..."

"Kau bodoh, aku tidak bertanya tentang isinya. Apa ini?"

"Eeh...yah...itu?"

Tidak satu perubahan pun yang terjadi pada cangkir itu seperti sebelumnya. Tapi jika dia menyebutkannya sekarang, mungkin itu sedikit terlalu sederhana, terlalu besar, dan terlalu tebal untuk sekedar disebut sebagai cangkir teh.

"Aah...cangkir sup?"

Ketika aku takut-takut menjawab, Cardinal tersenyum lebar sambil mengangguk.

"Ya. Sekarang ini adalah cangkir sup. Bagaimanapun juga, ada sup di dalamnya sekarang."

Dan, seolah sedang pamer, dia meletakkan cangkir itu ke taplak meja tanpa ragu-ragu, suara gedebuk terdengar.

"Ap...!?"

"Lihat. Inilah ambigunya taboo yang diberikan pada kami fluctlight buatan. Mereka dapat dilanggar dengan mudahnya hanya dengan mengubah persepsi subyektif kita."

"......"

Meski aku sedang diam terkejut, kejadian tertentu dari dua hari yang lalu berputar dalam pikiranku sekali lagi.

Saat itu, Raios hendak mengayunkan pedangnya pada Eugeo, yang sedang meringkuk, tepat saat aku menerobos masuk ke kamar tidur. Pedang Raios mungkin akan memutus leher Eugeo dalam satu tebasan jika aku tidak menahannya dengan pedangku.

Membunuh jelas taboo terbesar. Tapi saat itu, Eugeo bukanlah seorang manusia dalam sudut pandang Raios, tapi seorang penjahat yang telah melanggar Taboo Index. Dengan mengakui itu, dia dengan mudah terlepas akan taboo yang terukir dalam jiwanya.

Saat aku terus merenung dalam diam, suara pelan terdengar dari kursi seberang. Mengangkat kepala, aku melihat Cardinal sedang mengangkat cangkir teh—bukan, cangkir sup sekali lagi dan mengarahkannya ke bibirnya. Roti dan sandwich daging yang kumakan sepeluh menit yang lalu sudah dikonversi ke dalam lifeku, dan perutku bisa merasakan sensasi bergetar.

"...Bisakah aku mendapatkan itu juga?"

"Kau benar-benar orang yang rakus. Kemarikan cangkirmu."

Selagi menggelengkan kepalanya seolah terkejut, Cardinal tetap mengulurkan tangan kirinya dan mengetuk ujung cangkir yang kusodorkan dengan suara ping. Cangkir kosong segera terisi dengan cairan kuning kental yang harum.

Menarik kembali cangkir dengan gembira dan menghirup setelah meniup uapnya, mataku tanpa sengaja tertutup karena perasaan nostalgia, rasa yang kaya menyebar di dalam mulutku. Ada juga sup yang agak familiar di Underworld, tapi sudah benar-benar dua tahun berlalu sejak aku terakhir kali meminum sup krim jagung sesempurna ini.

Aku mendesah puas setelah meminum dua, tiga suap, lalu cerita Cardinal berlanjut seolah dia telah menunggu untuk itu.

"Pahami ini: taboo yang mengikat kita adalah hal-hal yang dapat dikesampingkan hanya dengan mengubah persepsi kita, seperti yang aku contohkan sebelumnya. Kami...Administrator dan aku tidak berpikir bahwa satu sama lain adalah manusia saat kami saling bertarung. Di mataku, dia adalah system rusak yang akan membahayakan dunia, dan di matanya, aku adalah virus pengganggu yang tidak bisa dia hapus...Tidak ada sedikit pun keraguan saat kami saling menjatuhkan life masing-masing. Kami mengadu Sacred Art kelas tinggi dan aku tinggal menyerang dua atau tiga serangan untuk menghapus Administrator, atau setidaknya, membuatnya imbang."

Mungkin karena mengingat kesalahan dari waktu itu, Cardinal dengan kuat mengunyah bibir kecilnya.

"Namun...Namun, kau tahu. Pada saat terakhir, wanita bejat itu menyadari adanya perbedaan besar diantara dirinya dan diriku."

"Perbedaan besar...? Tapi satu-satunya perbedaan antara Administrator dan kau adalah penampilan luar...Kau berdua memiliki authority akses system yang sama dan kemampuan sacred artmu juga tinggi, kan?"

"Tentu. Orang yang berhasil dengan serangan pembuka, aku, jelas akan menjadi pemenang. Karena itu...dia tidak menggunakan sacred art. Mengkonversi salah satu benda yang memiliki prioritas tinggi di dalam ruangan menjadi senjata, dia juga membuat seluruh ruangan tempat kami bertarung menjadi tempat dimana system command dilarang."

"Jika...Jika dia melakukan sesuatu seperti itu, bukankah dia terkena larangannya juga?"

"Ya. Selama dia tetap ada di dalam ruangan. Aku menyadari tujuannya saat dia mengeluarkan perintah untuk membuat senjata. Namun, tidak ada yang bisa kulakukan saat itu. Bagaimanapun juga aku tidak bisa mengeluarkan perintah setelah perintah dilarang...aku dengan enggan membuat senjata juga dan berusaha mengalahkannya melalui luka fisik."

Cardinal berhenti berbicara dan mengangkat tongkatnya ke atas meja. Dia memberikannya padaku dalam diam, jadi aku mengulurkan tangan kananku meski aku kebingungan. Sebuah berat yang tak terbayangkan terasa di lengan kananku saat aku memegangnya meski berbentuk ramping, dan aku dengan panik menggunakan tangan kiriku juga, untuk terus mengangkatnya ke atas meja. Tongkat, yang kemudian kutaruh dengan suara berat, jelas memiliki prioritas yang lebih tinggi dari pedang hitamku dan Blue Rose Sword Eugeo.

"Jadi begitu...tidak hanya penggunaan sacred artmu yang memiliki kekuatan dewa, tetapi authority level pemakaian senjatamu juga, huh?"

Ketika aku mengatakan itu sambil mengusap pergelangan tangan kananku, Cardinal mengangkat bahunya seolah itu hal yang wajar.

"Administrator tidak hanya menyalin ingatan dan proses berpikir saja tapi semua authority dan tingkat life juga, tahu. Pedang yang dia buat dan tongkat yang kubuat memiliki tingkat kemampuan yang sama. Bahkan ketika kami melakukan pertarungan fisik, aku berpikir kalau aku akan tetap menang pada akhirnya. Namun, setelah membuat sudut dengan tongkatku, aku akhirnya sadar tujuan sejati Administrator, ya, perbedaan besar antara dia dan aku..."

"Itu sebabnya aku bertanya, apa sebenarnya perbedaan itu?"

"Itu sederhana. Lihatlah tubuh ini."

Cardinal membuka bagian depan jubah tebalnya dengan tangan kanannya dan menunjukkan tubuhnya yang dibalut blus putih, celana hitam, dan kaus kaki setinggi lutut. Itu adalah sosok seorang gadis muda, ramping dan mungil: cocok sekali dengan sikapnya berbicara, seperti dia adalah seorang wanita bijak yang tua.

Merasa seolah aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya, aku bertanya dengan mataku secara naluriah menghadap ke bawah.

"Sebenarnya...ada apa dengan tubuh itu...?"

Jubahnya berkibar saat dia mengembalikannya seperti semula, Cardinal mendesah seolah merasa jengkel.

"Astaga, kau itu benar-benar lambat, ya? Coba bayangkan dirimu dimasukkan ke dalam tubuh ini. Perspektif dan panjang lenganmu akan benar-benar berbeda. Apa kau dapat menggunakan pedang dan bertarung dengan pedang itu, seperti yang selalu kau lakukan?"

"...Ah..."

"Sampai saat itu, aku selalu ada di dalam Administrator...benar, tubuh Quinella yang agak tinggi bagi seorang wanita. Aku tidak terlalu memikirkan hal itu selama kamu saling mengadu sacred art, tapi...pada titik ketika aku memegang tongkat ini dan bersiap untuk serangan musuh, aku akhirnya paham kalau aku berada dalam kondisi kritis."

Aku benar-benar setuju sekarang. Bahkan di banyak VRMMO di dunia nyata, membiasakan diri untuk menilai jarak dalam pertempuran fisik jarak dekat jika dia memiliki avatar dengan ukuran yang terlalu jauh dari tubuh nyatanya, akan memerlukan waktu yang cukup banyak.

"...Ngomong-ngomong, berapa perbedaan tinggi Administrator dan dirimu saat ini...?"

"Seharusnya sekitar lebih dari lima puluh sentimeter. Senyum lebar yang muncul di wajahnya saat dia melihatku ke bawah dari tinggi badannya masih tersimpan dalam ingatanku. Pertempuran segera dimulai kembali, tapi semenjak mengayunkan senjata dua atau tiga kali, aku tidak mempunyai pilihan tapi mengakui kekalahanku..."

"La-Lalu...apa yang terjadi?"

Dia jelas menghidari itu entah bagaimana, mengingat dia sedang berbicara denganku, tapi tanpa sadar aku tetap menahan nafas.

"Keuntungan Administrator sangatlah besar, tapi dia juga melakukan sebuah kesalahan. Kau tahu, jika dia mengunci pintu keluar sebelum melarang penggunaan system command, aku akan terbunuh tanpa bisa melarikan diri. Tanpa memiliki emosi manusia, aku—"

Ekspresi Cardinal benar-benar terlihat jengkel, tapi aku tidak akan memotong pembicaraannya karena itu.

"—Menilai bahwa aku harus mundur secepatnya dan berlari menuju pintu secepat kilat. Sementara pedang Administrator terus mengayun dari belakang, pedang itu mengurangi lifeku saat itu menyerempet punggungku..."

"I-Itu...menakutkan, huh..."

"Meski aku juga berharap suatu hari nanti kau berakhir dalam situasi sepertiku. Karena kau telah mengerling dan menggoda perempuan dimana-mana selama dua tahun dan dua bulan ini."

"A...Aku belum pernah mengerling, menggoda, atau melakukan hal semacam itu."

Aku dengan kuat mengusap mulutku setelah mendapatkan serangan tak terduga itu, lalu aku tiba-tiba mengerutkan keningku.

"T-Tidak, tunggu dulu. Dua tahun dan dua bulan...jangan bilang kau selalu mengawasiku...?"

"Tentu saja. Itu mungkin dua tahun dan dua bulan di antara dua ratus tahun hidupku, tapi itu tetap saja terasa lama."

"Ap......"

Aku hanya bisa terasa takjub. Jadi gadis muda ini telah mengamati setiap tindakanku sampai ke detail terakhir? Bukan berarti aku melakukan perbuatan yang tidak bisa kubiarkan orang lain melihatnya, tapi aku juga tak yakin kalau aku tidak melakukan sesuatu yang aneh. Namun, tidak ada waktu untuk memeriksanya sekarang...jadi aku berkata pada diriku sendiri, untuk memaksa menarik kembali pikiranku.

"Y-Yah, aku tidak akan membahasnya untuk saat ini...Jadi, bagaimana kau bisa lolos dari Administrator?"

"Fn. —Keluar dari ruang tamu di lantai atas Kathedral, entah bagaimana aku mendapatkan kembali authority untuk menggunakan sacred art, tapi situasi tidak berubah. Lagi pula, jika aku mencoba untuk melakukan serangan balik dengan sacred art, dia tinggal membuat lorong sebagai ruang terlarang saat itu. Aku tidak dapat melakukan apa-apa selain mengubah caraku melarikan diri dari berjalan ke terbang. Kupikir aku harus pergi ke daerah dimana serangannya tidak bisa mencapaiku karena untuk persiapan ulangku."

"Walaupun kau berkata begitu...Administrator adalah supervisor di dunia ini seperti namanya, kan? Apa ada tempat di mana dia tidak bisa masuk?"

"Tentu saja, dia adalah dewa yang memakai nama supervisor, tapi dia tidak memiliki kemahakuasaan mutlak. Hanya ada dua tempat di dunia ini di mana dia tidak bisa melakukan apapun yang dia suka."

"Dua tempat...?"

"Satu tempat berada di Puncak Barisan Pegunungan...Dark Territory yang penduduk Dunia Manusia namakan sebagai tanah kegelapan. Satu lagi adalah Ruangan Perpustakaan Besar di mana kita berada sekarang. Pada awalnya, ruang perpustakaan ini adalah ruang yang diciptakan oleh Administrator setelah mencari tahu tentang batas memorinya sendiri, untuk digunakan sebagai perangkat penyimpanan memori eksternal, seperti itu. Ini menyimpan banyak data yang memiliki kaitan dengan semua system command serta Underworld. —Karena itu, dia pikir kalau dia harus melakukan semua yang dia bisa untuk mencegah manusia selain dirinya datang ke sini. Oleh karena itu, dia membuatnya di dalam Kathedral meski tidak berhubungan secara langsung. Hanya ada satu pintu untuk masuk dan ditambah lagi perintah untuk membukanya hanya diketahui olehnya...tidak, hanya dia dan aku."

"H-Haa..."

Aku melihat sekeliling Ruangan Perpustakaan Besar yang berisi dengan lorong, tangga dan rak buku yang diatur menjadi beberapa lantai sekali lagi. Dinding silindernya seperti dibuat dari bata biasa, tapi—

"Lalu, di belakang dinding itu adalah..."

"Tidak ada. Dindingnya sendiri tak bisa dihancurkan, tapi kemungkinan hanya hamparan kehampaan yang akan menunggumu di sisi lainnya jika dinding itu pecah."

Aku mulai bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika seseorang jatuh disana, tapi aku dengan ringan menggelengkan kepala dan menghapus pikiran tadi.

"—Erm, satu pintu yang kau sebutkan tadi apa pintu yang kami masuki dari kebun mawar tadi?"

"Nay, pintu itu adalah pintu yang kubuat setelahnya. Pintu ganda besar dibuat di tengah-tengah lantai terendah dua ratus tahun yang lalu. Saat aku berlari dari kejaran Administrator sambil mempertaruhkan hidupku, aku membaca Art untuk memanggil pintu itu. Aku masih terhalang sekitar dua kali kecepatanku. Entah bagaimana menyelesaikan perintah, aku melompat melalui pintu yang muncul di luar lorong, dan segera menutup dan mengunci pintu itu."

"Dikunci...katamu, tingkat authority pendeta tertinggi sama sepertimu, jadi bukankah itu bisa dibuka dari sisi lain?"

"Seharusnya. Namun, untungnya, sambil mengunci pintu dari dalam ruang perpustakaan dengan memutar kunci sembilan puluh derajat kekanan, membuka pintu dari luar memerlukan ritual Art yang panjang. Dipisahkan oleh satu set pintu, aku membacakan ritual Art baru sambil mendengar suara Administrator, yang terusu dengan niat dingin untuk membunuh, membacakan perintah untuk membuka pintu. Momen saat kunci berbelok ke kiri di depan mataku, aku menyelesaikan ritualku..."

Mungkin karena mengingat kenangan waktu itu, Cardinal dengan pelan memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua lengannya. Itu adalah cerita dari dua ratus tahun lalu, tapi rasa dingin menjalar di punggungku walau aku hanya membayangkan adegan itu. Menghabiskan sup jagungku yang tinggal sedikit, lalu aku menghirup udara dan bertanya.

"Ritual yang kau bacakan adalah ritual untuk menghancurkan pintu...apa itu benar?"

"Ya. Aku memutuskan satu-satunya jalan yang menghubungkan Kathedral ini dengan Ruangan Perpustakaan Besar, pintu besar itu menjadi potongan-potongan kecil. Pada saat itu, tempat ini benar-benar terisolasi dari dunia luar dan aku berhasil lolos dari pengejaran Administrator...dan itulah yang terjadi."

"...Dan apa alasan pendeta tertinggi tidak membuat pintu itu lagi...?"

"Aku sudah memberitahumu sebelumnya kan? Administrator yang pertama kali menciptakan Ruangan Perpustakaan Besar dengan pintu, setelah itu dia memisahkannya dari Kathedral. Nilai koordinat ruang ini, dalam system terus berubah secara acak di daerah yang tak terpakai. Kecuali dia dapat secara akurat memprediksinya, gangguan dari luar tidak akan mungkin ada lagi."

"Jadi begitu...Tapi koordinat Katedral Pusat adalah sama, jadi itu mungkin untuk menghubungkan ruangan ini dari sini ke tempat lain, huh?"

"Itu benar. Dengan itu, pembuatan pintu akan segera terdeteksi oleh familiar Administrator setelah mereka dibuka sekali, sehingga mereka tidak dapat digunakan untuk kedua kalinya. Seperti pintu di taman mawar yang Eugeo dan kau masuki."

"A-Aku benar-benar menyesal tentang hal itu..."

Aku menundukkan kepalaku dengan dalam dan gadis muda itu tertawa kecil sebelum mengalihkan pandangannya ke langit-langit perpustakaan yang berkubah. Kedua mata dibelakang kacamatanya menyempit dan dia bergumam seakan merenungkan sesuatu.

"...Aku melawan kesalahan yang seharusnyaku koreksi, Administrator, dan lalu kalah. Kabur terbirit-birit, aku berlindung ke tempat ini...mengabdikan diriku hanya untuk observasi dan merenung selama dua ratus tahun..."

"...Dua ratus tahun..."

—Aku bergumam, tapi tidak mungkin aku, yang mengalami tujuh belas tahun enam bulan di dunia nyata dan dua tahun di Underworld dengan total kurang dari dua puluh tahun, bisa memahami rasa hidup untuk waktu yang panjang. Aku hanya bisa menggambarkannya sebagai aliran waktu yang sangat panjang.

Gadis di depan mataku ini telah hidup selama periode waktu yang bisa dibilang setara dengan keabadian. Sendirian di dalam ruangan perpustakaan yang luas ini tanpa satu tikuspun, hanya dikelilingi oleh gunungan buku yang diam. Bahkan kata-kata seperti kesendirian tak dapat lagi mengungkapkannya, itu adalah isolasi total dari dunia. Aku tidak akan pernah bisa bertahan selama dua ratus tahun walau aku berada dalam situasi yang sama. Aku pasti akan membuka pintu walau aku tahu itu akan menyebabkan kehancuranku sendiri.

Tidak, tunggu. Sebelum itu?

"Cardinal...kau mengatakan umur fluct light sekitar seratus lima puluh tahun, kan?Karena hampir mencapai batas, itulah yang membuat Administrator mencoba dan menyalin fluctlightnya sendiri...Bagaimana bisa kau hidup selama dua ratus tahun setelah memisahkan diri?"

"Aku kira alami bagimu untuk menanyakan hal itu."

Cardinal menaruh kembali cangkir kosong ke atas meja, lalu mengangguk.

"Walau fluctlightku adalah salinan yang dipilih oleh Administrator, tidak ada ruang apapun yang bisa digunakan untuk memperpanjang ingatan. Oleh karena itu, menata ulang ingatanku sendiri merupakan hal pertama yang harus kulakukan untuk mengamankan diriku setelah melarikan diri ke Ruangan Perpustakaan Besar."

"Me-Menata ulang...?"

"Ya. Topik yang keluar waktu awal tadi sebagai contohnya, secara langsung mengedit file tanpa membackup. Kesadaranku mungkin akan menjadi cahaya dalam lightcube jika satu saja kesalahan terjadi selama operasi."

"Er-Erm...Jadi, itu artinya kau masih memegang authority untuk memanipulasi LightCube Cluster di suatu tempat di dunia nyata bahkan setelah kau terkurung du dalam ruang perpustakaan ini, kan? Kalau begitu, daripada mengakses dirimu sendiri, bukannya mungkin untuk melakukannya pada fluctlight Administrator dan melakukan beberapa jenis serangan seperti menghapus jiwanya...?"

"Bagaimanapun juga, itu bekerja secara sebaliknya. Tapi sayangnya-atau mungkin untungnya, jenis sacred art yang mengubah posisi target umumnya memerlukan hubungan secara langsung antara subyek dengan unit atau objek target, atau paling tidak, melihat target secara langsung. Bahkan memerlukan konsep «kisaran» jarak, tahu. Karena itulah Administrator harus repot-repot membawa putri pemilik toko furniture sepanjang jalan sampai lantai atas Kathedral, dan seperti bagaimana dia harus membawamu dan Eugeo ke gereja."

Aku tanpa sadar menggigil setelah mendengar itu. Jika kami tidak berhasil selamat dari pelarian sembrono kami, siapa yang tahu apa yang akan terjadi di tempat interogasi dan hal apa yang akan terjadi.

"—Dengan kata lain, setelah mengisolasi diri di ruang perpustakaan, aku tidak dapat menyerang fluctlight Administrator meskipun banyak kekuatan yang kumiliki dan kemampuanku untuk menangkal serangan darinya pada waktu yang sama."

Mengetahui kecemasanku atau tidak, Cardinal menurunkan bulu mata panjang di balik kacamatanya dan melanjutkan kata-katanya.

"Menata ulang jiwaku sendiri...benar-benar operasi yang menakutkan. Bagaimanapun juga, ingatan kita akan menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun hanya dengan satu perintah. Namun, aku tidak punya pilihan lain selain melakukannya. Aku bisa dengan mudah membayangkan hal itu akan memakan waktu yang sangat lama bagi Administrator untuk melakukannya. —Pada akhirnya, aku menghapus semua ingatan yang kumiliki ketika aku masih menjadi Quinella, serta setelah menjadi Administrator;hampir sembilan puluh tujuh persennya..."

"Ap...i-itu hampir semuanya, kan!?"

"Itu benar. Cerita Quinella yang kuceritakan kepadamu bukan berasal dari pengalaman pribadi tapi hanya cerita yang kutulis sebelum aku menghapusnya. Aku bahkan tidak ingat wajah orang tua yang membesarkanku. Begitu juga kehangatan tempat tidur yang kupakai setiap malam, maupun rasa roti bakar manis yang dulu kusukai...aku sudah mengatakannya kan, bahwa aku tidak memiliki sedikitpun emosi manusia. Aku adalah program yang hampir semua ingatan dan emosinya hilang, mengambil tindakan murni karena perintah yang terukir ke dalam jiwaku, «untuk menghentikan proses utama yang menjadi kacau». Seperti itulah keberadaanku."

"......"

Wajah Cardinal tertunduk ke bawah saat senyum muncul di wajahnya, tapi itu tampak terisi dengan kesepian yang begitu dalam hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata dari sudut pandangku. Kau bukanlah program, kau pasti memiliki emosi sepertiku dan seluruh manusia, aku ingin mengatakan itu, tapi kata-kata itu tidak mau keluar.

Mengangkat wajahnya, Cardinal melirikku yang tenggelam dalam diam dan tersenyum lagi sebelum dia mulai menggerakkan mulutnya lagi.

"...Sebagai hasil dari penghapusan ingatan, aku mendapatkan kapasitas yang cukup besar dalam fluct lightku untuk saat ini. Setelah mendapatkan banyak waktu, aku pulih dari pelarian menyengsarakan ini dan membuat rencana untuk menghadapi pertarungan dengan Administrator. —Aku mempertimbangkan untuk menggunakan ketidaktahuannya dan melakukan pertarungan satu-lawan-satu sekali lagi. Tidak mungkin untuk membuka ruang perpustakaan ini dari luar, tapi seperti yang kau katakan sebelumnya, bagaimanapun juga hal sebaliknya dapat terjadi. perintah untuk membuat pintu juga memiliki «jarak», dimana dari kebun Katedral Pusat ke lantai tengah adalah jaraknya. Dia pasti turun ke lantai bawah menara, meskipun jarang, jadi membuka pintu di saat itu bisa membuka kemungkinan untuk serangan kejutan. Dan aku juga sudah terbiasa mengendalikan tubuh ini."

"...Jadi begitu. Memang terdengar berguna jika kau dapat menjamin serangan pembuka, tapi...tetap saja, itu cukup berjudi, kan? Tidak akan aneh jika Administrator menyiapkan sesuatu di belakangnya..."

Serangan mendadak jarang berhasil jika pihak lain sadar akan kemungkinan itu. Aku beberapa kali mengatur dan melakukan penyergapan di masa SAO, tapi sebagian besar tidak berhasil karena target menjaga kewaspadaannya, berpikir "serangan mendadak sepertinya akan terjadi di sana". Cardinal mengangguk, sepertinya kesal ketika aku mengatakan itu.

"Bahkan sebelum Quinella menjadi pendeta tertinggi, dia diberikan karunia untuk mencari tahu kelemahan orang lain. Seperti bagaimana dia melihat kelemahanku yaitu bentuk tubuhku, di tengah-tengah pertempuran setelah kami berpisah, dia menyimpulkan keuntungan yang dia miliki dan segera menggunakannya."

"Keuntungan...tapi kau dan Administrator pada dasarnya memiliki tingkat kemampuan yang sama persis dalam menyerang dan bertahan, kan? Dan juga, bagaimana aku mengatakan ini, juga kecerdasanmu."

"Aku merasa cemas dengan caramu menyimpulkannya."

Dia mendengus, lalu melanjutkan.

"Hampir tidak ada perbedaan pertempuran yang potensial antara dia dan aku. Tentu saja, itu hanya berlaku ketika berada dalam pertarungan satu-lawan-satu."

"Satu-lawan-satu...? Aah, jadi begitu."

"Memang seperti itu. Aku adalah seorang pertapa tanpa pengikut, sementara dia, dia adalah penguasa sebuah organisasi besar, Gereja Axiom...Administrator sangat sadar akan bahaya menyalin fluctlightnya sendiri karena akan melahirkan halangan, yaitu aku, dan mendorongnya kejurang kematian. Dikatakan kegagalan jalur sinaptiknya karena ingatannya yang overload tidak berubah. Dia harus menyimpannya pada sesuatu, tapi tidak sepertiku, dia tidak akan berani mengambil resiko tinggi untuk secara langsung mengedit ingatannya. Di sana, dia enggan menyelesaikannya dengan kompromi. Dia mempertahankan kapasitas minimum terkecil yang diperlukan dengan menghapus kenangan yang tidak penting yang dia dapatkan baru-baru ini, itu operasi dengan resiko rendah, dan mengurangi jumlah pencatatan informasi baru sebisanya."

"Mengurangi...meski kau mengatakan itu, bukankah ingatan terkumpul karena kegiatan setiap hari, tak peduli apakah kau menginginkannya atau tidak?"

"Itu bergantung pada caramu menghabiskannya, kan? Semakin banyak kau melihat semakin banyak informasi yang masuk, semakin banyak tempat yang kau kunjungi semakin banyak pikiranmu, tapi bagaimana jika kau bahkan tidak mengambil satu langkah pun pergi dari kanopi tempat tidur di kamarmu dan menghabiskan sepanjang waktu dengan mata tertutup?"

"Eh...tidak mungkin aku bisa melakukan itu. Aku bahkan lebih suka mengayunkan pedang sepanjang hari."

"Aku cukup sadar akan kurangnya ketenanganmu meski kau tidak menunjukkannya sekarang."

Aku tidak bisa mengatakan apapun tentang hal itu. Aku tidak tahu tujuannya melakukan hal itu, tapi jika Cardinal selalu mengamati tindakanku, dia pasti telah sadar akan kegiatan yang kulakukan tanpa memberitahu Eugeo setiap kali aku memiliki waktu luang.

Segera menutup mulutnya yang perlahan membentuk senyum, gadis itu melanjutkan pembicaraannya.

"...Namun, Administrator tidak memiliki emosi 'aku bosan' atau 'Aku tidak memiliki apapun untuk dilakukan', tidak sepertimu. Orang itu akan berbaring di tempat tidur selama berhari-hari dan berminggu-minggu bila perlu. Terbenam dalam kenangan manisnya, dari waktu sebelum dia menjadi penguasa dunia, dalam kondisi setengah tidur, seperti itu..."

"Tapi dia orang yang berada di posisi atas Gereja Axiom, kan? Bukankah dia memiliki tugas untuk dilakukan, pidato untuk disampaikan, atau apapun yang harus dia lakukan karena posisinya?"

"Tentu saja, tanggung jawab seperti itu ada. Dia harus hadir bersama empat raja saat festival keagamaan di awal tahun dan dia harus turun ke lantai tengah dan bawah Kathedral untuk memeriksa system manajemen dunia pada waktu yang dijadwalkan. Dan juga menjaga kewaspadaannya dalam melawan setiap serangan kejutan yang mungkin muncul dariku. Untuk itu, Administrator mengambil langkah-langkah baru. Dia mendelegasikan sebagian besar tugasnya dan pada saat yang sama, mengumpulkan pengikut yang setia dan kuat untuk melayani sebagai pengawalnya..."

"Dan karena itu ada keuntungan yang kau, seorang diri, tidak miliki dan dia, sebagai penguasa sebuah organisasi besar miliki, huh? ...Meski sebaliknya, bukankah itu meningkatkan tingkat ketidakpastian? Jika dia mengumpulkan pengawal yang mampu melawanmu, yang memiliki tingkat potensi bertarung sama seperti dirinya, dan para pengawal itu memutuskan untuk memberontak melawannya, Administrator tidak akan bisa menang juga, kan?"

Cardinal dengan pelan mengangkat bahunya dan mengulang kata yang sama sebagai jawaban atas pertanyaanku.

"Bukankah sudah kubilang kalau mereka benar-benar setia?"

"Tentu, penduduk dunia ini tidak akan melanggar perintah dari atasan mereka, tapi kau mengatakan kalau itu tidaklah absolut. Jika para pengawal itu berpikir bahwa pendeta tertinggi adalah pion dari tanah kegelapan dengan beberapa pengaruh..."

"Tentu saja, wanita itu juga memahami bahwa kemungkinannya tidaklah nol. Bagaimanapun juga, dia mengubah banyak manusia dengan nilai pelanggaran tinggi menjadi subjek penelitian. Ketaatan buta tidak selalu loyal...tidak, perempuan itu tidak akan mempercayai pengawal walau mereka bersumpah setia dari hati mereka. Bagaimanapun juga, wanita itu bahkan mengkhianati salinan dirinya sendiri."

Mengatakan itu, Cardinal tersenyum lebar.

"Dia membutuhkan jaminan kalau para pengawal itu tidak akan mengkhianatinya dalam keadaan apapun baru dia akan memberikan mereka authority dan peralatan yang layak untuk melawanku. Jadi apa yang bisa dia lakukan? Jawabannya sederhana, yaitu dia hanya harus mengubah mereka menjadi seperti itu, melalui fluctlight mereka."

"...A-Apa yang kau katakan?"

"Complex command untuk itu telah diselesaikan. Itu dinamakan «Ritual Synthesis»."

"Erm...penyatuan antara jiwa dan memori, kan?"

"Ya. Selain itu, dia memiliki pasokan bahan baku berkualitas tinggi yang memiliki jiwa yang kuat. Manusia dengan nilai pelanggaran tinggi yang dia tangkap dan dia gunakan dalam percobaan dan dibekukan untuk pengawetan setelahnya, mereka semua diberkahi dengan kemampuan tinggi, tanpa satupun pengecualian...Atau lebih tepatnya, mungkin aku harus mengatakan bahwa mereka memendam kecurigaan terhadap Taboo Index dan Gereja Axiom karena kebijaksanaan dan fisik mereka yang sangat bagus...Ada seorang pahlawan yang dikenal sebagai pendekar pedang yang tak terkalahkan, yang melarikan diri ke daerah-daerah terpencil dengan rekan-rekannya dan merintis desanya sendiri karena kebenciannya terhadap aturan gereja, merekalah yang pertama kali ditangkap. Pendekar pedang itu mencoba menyebrangi «Puncak Barisan Pegunungan» yang memisahkan Dunia Manusia dan Dark Teritory, yang menyebabkannya diculik oleh gereja, tetapi Administrator memilihnya untuk menjadi pengawal setia pertamanya."

Kedengarannya seperti cerita yang pernah kudengar di suatu tempat, Cardinal meneruskan ceritanya selagi aku memikirkan itu.

"Sebagian besar ingatan pendekar pedang itu rusak oleh percobaan, tapi, sebaliknya, itu malah lebih menguntungkan bagi Administrator. Bagaimanapun juga, ingatan sebelum ditangkap adalah gangguan. Orang itu menggunakan sebuah benda yang memaksa loyalitas tanpa batas padanya, «Piety Module», dan...yah, tampak seperti prisma ungu di sekitar ukuran ini..."

Cardinal memisahkan tangan kecilnya sekitar sepuluh sentimeter saar berbicara.

Rambut di seluruh tubuhku tersentak begitu aku membayangkan objek itu dalam pikiranku. Aku telah melihat hal itu sebelumnya. Dan itu hanya beberapa jam yang lalu.

"...Dalam Ritual Synthesis, prisma itu tertanam sendiri di kepala target melalui tengah dahi. Melalui itu, jiwa yang memiliki ingatan bersatu dengan ingatan buatan yang juga berfungsi sebagai prinsip perilaku, dan menghasilkan kepribadian baru. Seorang prajurit tertinggi yang bersumpah setia pada gereja dan Administrator, dan bertindak murni hanya untuk menjaga Dunia Manusia...Ritual berhasil dan Administrator menyebut orang baru itu sebagai Integrator, karena dialah yang menghukum semua pembangkang, menjaga integritas, dan menyatukan kita semua di bawah kekuasaan gereja, di seluruh dunia. Jika kau mendaki Kathedral, kemungkinan orang itu, integrity knight tertua, berdiri di depanmu dan Eugeo tidaklah nol. Akan lebih baik untuk mengingat namanya."

Cardinal menatap wajahku dan dengan khidmat melanjutkan.

"Bercouli Synthesis One...itulah nama knight itu."

"...T-Tidak, mustahil, itu tidak mungkin benar."

Aku menggeleng sekuat tenaga sebelum Cardinal bisa menutup bibirnya.

Bercouli.

Bukankah itu nama pahlawan legendaris yang pernah Eugeo ceritakan, dengan ekspresi penuh kekaguman? Dia adalah penduduk di Desa Rulid, dia menjelajahi Puncak Barisan Pegunungan dan mencoba mencuri «Blue Rose Sword» dari naga putih yang melindungi Dunia Manusia.

Aku yakin kalau Eugeo bahkan tidak tahu tentang akhir hidup Bercouli. Eugeo mungkin membayangkan dia terus hidup di Rulid dan menjadi tua—pikiran bahwa Bercouli telah diculik oleh Administrator dan dirubah menjadi Integrity Knight tidak akan pernah terpikir olehnya.

"Hei...hei, Cardinal, kau juga tahu bagaimana Eugeo dan aku bekerja sama, dan tetap kesulitan melawan Eldrie Synthesis Thirty-one...yang merupakan Integrity Knight ketiga puluh satu, kan? Bagaimana bisa kau mengharapkan kami untuk melawan nomor satu dengan tiba-tiba dan menang?"

Gadis itu, bagaimanapun, hanya mengangkat bahunya dan mengesampingkan keberatanku.

"Kau tidak akan bisa meluangkan waktu untuk membuat Bercouli menggigil. Seperti yang telah kau katakan, jumlah total Integrity Knight telah mencapai tiga puluh satu sekarang."

Ada tiga puluh master yang lebih kuat dari Eldrie. Ingin menghindarkan mataku dari kenyataan pahit, aku berbicara.

"Meski ada segitu banyaknya, aku belum banyak melihat mereka. Aku hanya melihat seorang Integrity Knight di atas naga terbang di langit malam sejak aku datang ke ibukota pusat."

"Tentu saja. Bagaimanapun juga, tugas utama dari Integrity Knight adalah mempertahankan Puncak Barisan Pegunungan.Mereka hanya ada di kota ketika seorang penjahat besar yang menantang Taboo Index muncul dan itu belum pernah terjadi dalam sepuluh tahun ini. Biasanya, bahkan para bangsawan dan keluarga kerajaan tidak memiliki kesempatan untuk melihat Integrity Knight, apalagi rakyat biasa...orang-orang bisa mengatakan ada jarak yang terbentuk diantara mereka, namun..."

"Hmm..., tapi apa itu berarti bahwa mayoritas dari ketiga puluh knight itu berada di Puncak Barisan Pegunungan?"

Aku bertanya dengan sedikit antisipasi, namun Cardinal dengan mudah menggeleng.

"Aku tidak akan mengatakan mayoritasnya. Jumlah knight yang berjaga di dalam Kathedral sekarang, setidaknya dua belas atau tiga belas. Jika kau dan Eugeo berniat untuk menyelesaikan tujuan kalian masing-masing, maka kau tidak akan punya pilihan lain selain menerobos mereka untuk mencapai lantai atas Kathedral."

"Walau kau mengatakan bahwa...kami tidak punya pilihan..."

Merosot di kursi saat aku tenggelam dalam depresi, aku menghela napas dalam-dalam.

Untuk memasukkannya dalam istilah RPG, aku merasa seperti aku baru saja terjun ke dungeon terakhir tanpa adanya peralatan dan level yang diperlukan. Benar, aku melakukan perjalanan yang jauh, jauh ke ibukota pusat sehingga aku bisa sampai ke lantai atas Kathedral dan mengontak seseorang di dunia nyata, tapi aku merasa seperti aku bahkan bisa dengan jujur mengatakan bahwa perbedaan kemampuan tempur antara Integrity Knight dan kami berada di luar harapan.

Aku mengalihkan pandanganku ke dadaku dalam keheningan. Berkat roti ajaib yang kudapat dari Cardinal, luka yang kudapat dari serangan «armament full control art» Integrity Knight Eldrie telah benar-benar sembuh, namun bekasnya masih tetap ada, dan rasa sakit yang menyengat dapat terasa.

Hampir tidak akan ada kesempatan untuk menang jika melakukan serangan frontal pada knight yang dari sekarang dan seterusnya akan lebih kuat dari Eldrie...berpikir tentang itu, aku teringat akan kejadian aneh setelah pertempuran taman mawar itu berakhir.

Integrity Knight itu tiba-tiba kesakitan setelah dia diberitahu tentang sejarahnya sendiri dan nama ibunya oleh Eugeo, dan jatuh berlutut ke tanah. Prisma transparan muncul dengan cahaya ungu dari dahinya saat dia sedang dalam kondisi setengah sadar—Itu pasti «Piety Module» yang Cardinal bicarakan sebelumnya. Itu adalah item utama yang digunakan untuk mengubah ego dan ingatan Integrity Knight, dan mengubahnya menjadi budak yang benar-benar setia kepada pendeta tertinggi.

Tapi apa efeknya benar-benar mutlak seperti yang Cardinal katakan? Sepertinya Eldrie dapat terbebas dari kekuatan pemaksaan modul hanya dengan mendengar nama ibunya...setidaknya dari sudut pandangku. Jika fenomena yang sama dapat terjadi pada knight yang lain, itu berarti ada metode lain selain bertarung secara langsung dengan mereka dan keinginan Eugeo, «mengembalikan Integrity Knight Alice menjadi Alice yang asli», dapat terkabul.

Suara tenang Cardinal mencapai telingaku saat aku tenggelam dalam pikiranku.

"Masih ada sedikit lagi sampai ceritaku berakhir, bisakah kulanjutkan?"

"...Ah, ahh, silahkan."

"Baiklah. —Nah, saat Administrator telah membuat beberapa Integrity Knight, dimulai dari Bercouli, kemungkinan serangan kejutan dariku mau tidak mau sudah pasti gagal. Meski mereka setingkat Administrator, para knight itu pasti memiliki kemampuan ofensif dan defensif yang tinggi, mustahil bagiku untuk dengan seketika menghapus mereka. Aku tidak punya pilihan lain selain menunda pertempuran kami untuk selama-lamanya..."

Sepertinya cerita Cardinal yang sangat panjang akhirnya telah mencapai akhir. Aku meluruskan postur tubuhku di atas kursi dan memperhatikan nada berwibawa gadis itu.

"Dengan perubahan baru tersebut, jelas aku butuh teman bekerja sama. —Namun, menemukan orang yang bersedia melawan penguasa dunia denganku bukan tugas yang mudah. Kau tahu, orang itu pertama-tama harus memiliki nilai pelanggaran yang cukup tinggi untuk melanggar Taboo Index, serta kekuatan tempur dan authority penggunaan sacred art yang setara dengan Integrity Knight. Aku mengambil resiko dan membuka pintu sejauh yang kubisa menggunakan sebuah Art yang berbeda, «berbagi kesadaran», pada burung dan serangga yang hidup di dekatnya dan mengirim mereka ke seluruh dunia..."

"Ha-haa...Jadi mereka itu mata dan telingamu, huh. Apa itu caramu mengamatiku juga...?"

"Itu benar."

Cardinal tersenyum lebar dan mengulurkan tangan kanannya. Membuka telapak tangannya, dia melambaikan ujung jarinya seakan memanggil seseorang. Lalu—

"Uwahh!?"

Beberapa jenis benda kecil tiba-tiba melompat keluar dari sekelilingku, mendarat di telapak tangan Cardinal tanpa suara. Ketika aku melihatnya, itu adalah laba-laba gelap yang lebih kecil dari ujung jari kelingkingku. Dengan gesit berputar, itu menatapku dengan empat mata merah di depan kepalanya dan mengangkat kaki kanan depannya, menyalamiku...atau tampak seperti itu.

"Namanya Charlotte. Dia selalu mengamati ucapan dan perilaku kalian berdua dari ubun-ubunmu, bagian dalam sakumu, atau bahkan sudut ruangan, sejak kau meninggalkan Desa Rulid dengan Eugeo...Tampaknya dia melakukan lebih dari sekedar mengamati dari sekarang dan seterusnya."

Laba-laba itu mencabut kedelapan kakinya dan mengangkat bahu kecilnya pada kata-kata Cardinal, atau seperti itu kira-kira.

Aku akhirnya sadar setelah melihat gerakan lucu itu. Orang yang menarik ubun-ubunku dan menunjukkanku jalan yang benar saat kami melarikan diri dari Integrity Knight yang naik naga terbang mungkin saja dia. Tidak, bukan hanya waktu itu saja. Aku mengingat sensasi sama yang kurasakan berkali-kali di waktu yang penting sejak aku berangkat dari Rulid, memasuki turnamen pedang di Zakkaria dan menjadi penjaga, bahkan setelah aku terdaftar di Akademi Master Pedang di pusat.

"...Jadi, perasaan ditarik-tarik itu bukan inspirasi Tuhan yang datang padaku, tapi karena rambutku memang benar-benar ditarik, huh..."

Aku teringat semua adegan-adegan itu saat aku bergumam bingung, sebelum akhirnya ingatan yang sangat penting itu datang kembali ke pikiranku. Tidak dapat menahan, aku membungkuk dan berbisik pada laba-laba hitam yang bahkan tidak berukuran lima milimeter, yang tetap terdiam di telapak tangan Cardinal.

"I-Itu benar, jangan-jangan yang waktu itu juga kau...apa kau orang yang menyemangatiku ketika semua bunga Zephyrias yang kutanam dipotong...? Orang yang berkata untuk percaya pada keinginan bunga-bunga di sekitarnya..."

Suara yang terngiang dalam ingatanku adalah seorang wanita yang agak dewasa. Jika benar, laba-laba hitam di depan mataku yang memiliki kepribadian perempuan dengan nama Charlotte ini, adalah orangnya, tapi bisakah laba-laba yang bahkan bukan manusia memiliki jiwa—fluctlight dari awal?

Saat aku memikirkan berbagai keraguan, Charlotte tidak menjawab satupun pertanyaanku dan terus menatapku dengan mata merah gelapnya, tapi kemudian dia tiba-tiba turun dari telapak tangan Cardinal, dengan gesit berlari ke meja, dan menghilang setelah melompat ke dalam rak buku di dekatnya.

Setelah familiar kecil itu pergi, Cardinal bergumam dengan nada lembut.

"Charlotte adalah unit observasional tertua yang aku kirim ke berbagai negeri di Dunia Manusia melalui ritual Art. Tugasnya yang sangat panjang akhirnya berakhir sampai di sini. Degenerasi alami lifenya telah membeku, jadi aku kira dia telah bekerja selama lebih dari dua ratus tahun..."

"...Unit observasional..."

Menggumamkan itu, aku melihat rak buku tempat Charlotte bersembunyi sekali lagi. Seharusnya tugasnya hanyalah mengamati Eugeo dan aku. Namun, dalam dua tahun sejak aku meninggalkan Rulid, Charlotte telah menarik ubun-ubunku dan membisikkan berbagai saran padaku, menyelamatkanku berkali-kali. Berpikir dari perspektif yang berbeda, dia adalah rekan perjalanan yang lebih dekat denganku daripada Eugeo, walau aku tidak melihat keberadaannya.

—Terima kasih.

Mengekspresikan rasa terima kasih dari dalam hatiku, aku menghadap rak buku itu dan menundukkan kepala.

Mengalihkan pandanganku kembali ke Cardinal, aku bertanya setelah berpikir beberapa saat.

"Jadi, dengan kata lain, kau sudah...mengunci dirimu dalam ruangan perpustakaan ini selama lebih dari dua ratus tahun sambil mencari manusia yang layak untuk diajak bekerja sama melalui mata dan telinga familiar...?"

"Ya. Aku tidak dapat memeriksa nilai pelanggaran manusia secara langsung dari sini, tahu. Setiap kali gosip insiden aneh sampai ke telingaku, aku memindahkan unit observasi ke sana dan mengamati manusia yang menyebabkannya...Aku mengabdikan diri untuk mencarinya dengan cara seperti itu. Banyak manusia yang menarik perhatianku dibawa pergi oleh Integrity Knight di depan mataku. Aku mungkin tidak memiliki emosi, tapi pengetahuan tentang makna kata-kata, 'kekecewaan' dan 'ketekunan', ada dalam diriku...Jujur saja, ide untuk segera berkenalan dengan makna kalimat 'menyerah', telah muncul dalam sepuluh tahun ini."

Senyum dengan berat dua ratus tahun di baliknya muncul di bibir kecil Cardinal.

"Kau tahu, selagi aku duduk dan melihat dunia, Administrator membuat system yang lebih proaktif untuk memastikan prajurit perkasa akan menjadi Integrity Knight. Dan itulah kebenaran di balik apa yang kau dan Eugeo tuju, «Turnamen Persatuan Empat Kerajaan»."

"...Jadi itu berarti pendekar pedang yang memperoleh kemenangan dalam turnamen tidak mendapatkan kehormatan diangkat sebagai Integrity Knight, tapi..."

"Mereka dibuat menjadi Integrity Knight, terlepas dari keinginan mereka. Boneka terkuat, dengan ingatan mereka yang sebelumnya disegel dan memiliki ketaatan buta kepada pendeta tertinggi. Keluarga dari Integrity Knight tersebut diberi hadiah uang, yang cukup mewah untuk menyilaukan mata mereka, dan diberikan status bangsawan kelas atas, menyebabkan orang tua dari para bangsawan dan pedagang kaya menyuruh anak-anak mereka untuk belajar berpedang. Dan para knight itu sendiri ditugaskan ke daerah di mana kontak dengan keluarga asli mereka mustahil untuk dilakukan, memutuskan hubungan mereka dengan masa lalu."

"...Jadi yang kau maksud dengan 'jarak terbentuk diantara mereka' adalah..."

"Ya. temuan itu. —Diantara ketiga puluh Integrity Knight, separuhnya adalah mereka yang ditangkap karena melakukan taboo, sementara separuh lainnya adalah juara turnamen. Eldrie Synthesis Thirty-one yang melawanmu adalah salah satu di antara mereka juga."

"Aku mengerti...jadi itu cara kerjanya, huh..."

Menghela napas suram, aku bergumam.

Jadi itu bukanlah sebuah keberuntungan, bahwa Sortiliena-senpai, yang kulayani sebagai valet, dan Gorgolosso-senpai, yang Eugeo layani, telah gagal meraih kemenangan di turnamen tahun ini. Jika Sortiliena-senpai menang melawan Eldrie dan menjadi juara turnamen, maka dialah orang yang akan menunggu kami di plaza taman mawar, sebagai Integrity Knight dengan ingatan yang hilang.

Itu belum semuanya. Jika kasus dengan Raios dan Humbert tidak terjadi dan semuanya berjalan sesuai dengan rencana awal Eugeo dan aku, untuk terpilih sebagai wakil akademi dan memenangkan turnamen tahun depan...Atau mungkin, jika kami gagal melarikan diri dari penjara bawah tanah dan diseret ke tempat interogasi. Itu tidak masalah bagi fluctlight alami sepertiku, tapi Eugeo memiliki kesempatan tinggi untuk berakhir menjadi Integrity Knight ketiga puluh dua. Ini mungkin arti dari kata, 'pergi mencari wol dan pulang dicukur'.

Cardinal berbicara dengan suara lembut saat tubuhku menggigil.

"—Karena itu, dalam dua ratus tahun lebih ini, Administrator terus menguatkan pertahanannya dan harapanku terhenti. Bahkan aku telah mempertimbangkannya. Tentang mengapa aku harus repot-repot berurusan dengan sesuatu seperti ini..."

Mata coklat itu menatap langit-langit ruang perpustakaan raksasa ini. Kedua matanya berkedip berkali-kali seolah dia melihat fatamorgana dari sinar matahari yang hangat melalui kubah batu itu.

"...Dunia yang kulihat melalui mata pengamat itu indah dan bermandikan cahaya. Ada anak-anak yang berlari-larian di dataran berumput, gadis yang tersipu merah karena cinta, dan ibu yang dengan kasih tersenyum pada bayi dipelukan lengan mereka. Jika tidak ada yang terjadi pada pemilik asli tubuh ini, putri pemilik toko furnitur itu, saat dia tumbuh dewasa, dia akan menerima semua itu. Seharusnya dia mampu menjalani kehidupan biasa, mengabaikan penciptaan dunia, dan mengenang hidupnya yang diberkati sambil menunggu kematian saat keluarganya merawatnya di usianya yang keenam puluh, tujuh puluh tahun..."

Apa itu hanya bagian dari imajinasiku bahwa Cardinal, yang menurunkan bulu matanya saat dia mengeluarkan kata-katanya dengan bisikan, sedang menggigil perlahan?

"...Aku benci prinsip perilaku «megoreksi kesalahan proses utama» yang ditanamkan ke dalam inti jiwaku. Dan aku memutuskan bahwa aku adalah seorang wanita tua yang akan segera mati. Sebatang pohon tua layu yang sudah kehilangan semua pancaran hidupnya dan hanya menanti saat Lifenya habis. Anehnya, cara berbicaraku juga menjadi seperti itu tanpa kusadari. Pada hari-hari ketika aku melihat pekerjaan manusia melalui telinga familiar yang aku kirim ke dunia, aku terus berpikir. Mengapa para dewa dari dunia luar yang menciptakan dunia ini membiarkan kekuasaan Administrator sendirian...? Dewa Penciptaan Stacia, Dewa Matahari Solus, dan Dewa Tanah Terraria adalah dewa yang dibuat oleh Gereja Axiom untuk aturan mereka sendiri, padahal nama dewa yang benar, «Rath», dapat dilihat di mana-mana pada katalog yang berisi semua daftar system command. Rath adalah nama gabungan para dewa...dan Cardinal adalah dewa palsu yang diciptakan oleh mereka, tanpa jiwa, keberadaannya terbuat oleh dua prinsip perilaku yang ditanamkan ke dalam Administrator dan aku. Pertanyaan tentang dunia semakin bertambah banyak seiring aku mengetahui rahasianya, tapi mereka semua tak pernah bisa terjawab."

"Tunggu...tunggu sebentar."

Tidak dapat mengikuti perkembangan cerita, aku memotong percakapan.

"Lalu...hal tentang dunia ini menjadi simulasi yang dibuat oleh Rath dan hal tentang Cardinal asli yang merupakan program dengan dua proses, satu utama dan satu sub, apa yang kau ketahui itu juga hanya dugaan?"

"Tidak perlu terkejut. Siapapun bisa mencapai kesimpulan itu dengan hidup selama dua ratus tahun dan memiliki database system Cardinal."

"Database...Jadi begitu, jadi karena itu kosakatamu berbeda dari penduduk Underworld, huh?"

"Sesuai dengan rasa sup jagung yang kau minum sebelumnya. Dikatakan, mungkin banyak penyimpangan antara pemahamanku denganmu...Namun, dugaan ini, setidaknya pasti akurat. Alasan mengapa Underworld sangat tidak sempurna meski penciptaanya luar biasa dan mengapa pemerintahan Administrator tetap diabaikan...hanya ada satu alasan yang mungkin tersisa. Dewa asli, Rath, tidak ingin manusia yang hidup di dunia ini menjalani kehidupan bahagia. Malah, kebalikannya...dunia ini hanya untuk pengamatan mereka apa yang akan penduduk persiapkan ketika kehidupan mereka secara perlahan-lahan terus ditekan. —Kau mungkin tidak tahu, tapi telah ada peningkatan kematian di antara manusia yang tidak mampu mempertahankan lifenya karena berbagai sebab seperti penyakit endemik, serangan binatang berbahaya, dan hasil panen yang buruk di daerah terpencil dalam beberapa tahun terakhir ini. Ini adalah fenomena yang ditimbulkan oleh peningkatan «parameter beban» yang bahkan Administrator tidak mampu untuk merubahnya."

"Parameter...beban? Sekarang kau menyebutkannya, kau juga mengatakan sesuatu seperti itu sebelumnya, kan. Beberapa jenis percobaan beban atau sesuatu yang lain."

"Ya. Tegasnya, beban tetap terus berlanjut hari demi hari sampai saat ini, tapi...seperti yang tercatat dalam database, kejadian yang akan muncul di tahap akhir percobaan beban tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu yang kecil seperti penyakit."

"Apa sebenarnya...yang akan terjadi...?"

"Telur ini, yang dikenal sebagai Dunia Manusia, pada akhirnya cangkang diluarnya akan rusak. Kau tahu itu juga kan, apa yang ada di luar Dunia Manusia?"

"Dark Territory?"

"Tepat. Dunia kegelapan adalah perangkat yang dibangun untuk memberikan kesedihan utama pada rakyat. Aku bilang seperti itu sebelumnya, tapi mereka dicap sebagai monster dari kegelapan. Goblin, orc, dan ras lainnya adalah makhluk dengan fluctlight yang sama seperti manusia, namun dengan prinsip perilaku untuk membantai dan menjarah. Mereka diorganisasi dengan cara yang mudah, yaitu dengan pernyataan di mana kekuatan menentukan keunggulan, membangun tentara primitif namun kuat. Populasi mereka mungkin setengah dari Dunia Manusia, tapi kemampuan bertarung mereka mungkin jauh melampaui manusia. Kelompok mengerikan itu dengan sabar menunggu hari tersebut, yang bahkan kata mengerikan tak dapat menjelaskannya, ketika mereka menyerbu wilayah Dunia Manusia yang mereka sebut sebagai «ium» dalam bahasa mereka. Kemungkinan hal itu terjadi tidak terlalu jauh di masa depan."

"Sebuah pasukan..."

Topik itu tidak hanya membuat orang menggigil. Tidak akan berlebihan jika aku mengatakan bahwa pemimpin goblin yang bertarung denganku di gua Puncak Barisan Pegunungan, dua tahun lalu, adalah seorang petarung ganas. Berpikir simple tentang bagaimana pasukan dengan jumlah beberapa ribu atau puluhan ribu orang seperti dia akan datang merampok yang membuat darahku membeku. Aku menggelengkan kepalaku saat berbicara dengan suara parau.

"...Dunia Manusia memiliki banyak penjaga dan knight...tapi aku tidak akan berbasa-basi, mereka tidak memiliki kesempatan untuk menang. Mereka benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk menang dengan ilmu pedang semacam itu di dunia ini yang hanya berfokus pada nilai seni..."

Dengan itu, Cardinal langsung menjawab dengan anggukan.

"Jelas...Rencana Rath mungkin ingin membuat Dunia Manusia membentuk sebuah tentara kuat yang mampu melawan Dark Territory saat ini. Authority penggunaan peralatan dan sacred art mereka akan meningkat melalui pertempuran terus menerus terhadap serangan kecil namun gencar dari goblin, sambil meningkatkan keahlian pedang dan taktik berkelompok untuk pertarungan yang sebenarnya. Namun, seperti yang kau ketahui juga, situasinya jauh dari kondisi tersebut. Pendekar pedang tidak pernah mengalami pertarungan yang sebenarnya, hanya mengejar daya tarik gaya pedang mereka, dan komandan pasukan, para bangsawan kelas atas, berkubang dalam kemewahan. Seluruh keadaan ini telah dibentuk oleh Administrator dan Integrity Knight yang dia ciptakan."

"...Apa maksudmu?"

"Tidak ada keraguan lagi bahwa Integrity Knight, dengan authority tingkat tertinggi dan sacred instrument-class equipment yang diberikan pada mereka sangatlah kuat.Cukup kuat untuk mengalahkan kelompok goblin dari Puncak Barisan Pegunungan tanpa kesulitan, hanya dengan delapan dari mereka. —Namun, karena itu rakyat jelata yang seharusnya melawan para goblin akhirnya hidup selama ratusan tahun tanpa mengalami satupun pertempuran. Para penduduk tidak tahu apa-apa tentang ancaman yang mendekat dan hidup tenggelam dalam stagnasi tak berujung yang dikenal sebagai perdamaian..."

"...Apa Administrator tahu tahap akhir percobaan beban akan segera dimulai?"

"Seharusnya dia tahu. Namun, dia meremehkan tentara kegelapan, percaya bahwa ketiga puluh Integrity Knight dan dirinya sendiri mampu untuk mengusir mereka tanpa hambatan. Keyakinannya begitu mendalam hingga dia bahkan membuat para naga penjaga di utara, selatan, timur, dan barat yang seharusnya memberikan dorongan berharga dalam perang, dibantai habis-habisan dengan alasan bahwa dia tidak bisa mendominasi tindakan mereka. Ini mungkin akan membuat sedih partnermu jika dia mendegar ini; bahwa orang yang membunuh naga putih, binatang yang menarik dalam legenda, adalah Bercouli sendiri setelah direnovasi menjadi Integrity Knight."

"...Akan lebih baik jika dia tidak mendengar cerita itu."

Gumamku sambil mendesah. Mengingat gunungan tulang yang kulihat di bawah tanah di Puncak Barisan Pegunungan, aku menutup mata sejenak sebelum mengangkat wajahku dan bertanya.

"Berbicara realistis, bagaimana sekarang? Ketika tentara kegelapan datang menyerang, akankah Administrator dan Integrity Knight bisa melawan mereka sendirian?"

"Itu tidak mungkin."

Cardinal segera membantah.

"Benar, Integrity Knight memang telah berpengalaman bertahun-tahun dalam pertarungan sebenarnya, tetapi jumlah mereka terlalu sedikit dan mereka akan kewalahan. Juga sacred art Administrator memiliki kekuatan bencana alam, tapi seperti yang aku sebutkan, dia harus mengekspos dirinya dalam jangkauan musuh juga untuk menggunakan Art itu. Walau tentara kegelapan tidak sebanding dengan Administrator, sacred art mereka...tidak, mungkin aku harus menyebutnya dark art, bagaimanapun, mereka memiliki banyak pengguna system command sebanyak bintang di langit. Walau dia membakar seratus pengguna Art dengan banjir petir, dia mungkin akan diserang pada kesempatan berikutnya dengan seribu api. Aku tidak tahu apakah dia akan mati dengan life besar miliknya, tapi setidaknya bisa dipastikan dia akan lari kembali ke menara ini."

"Tunggu...tunggu sebentar. Itu berarti...nasib dunia ini tidak akan berubah terlepas dari apakah kita akan mengalahkan Administrator atau tidak, kan? Kau tidak akan mampu mengusir tentara kegelapan meski telah mengembalikan semua authority dari system cardinal, kan?"

Cardinal menegaskan kata-kata yang kugumamkan dalam keadaan linglung, dengan anggukan dalam.

"Persis seperti yang kau katakan. Aku tidak memiliki metode lain untuk menghentikan invasi Dark Territory jika situasinya sudah seperti ini."

"...Dengan kata lain...asalkan kau menyelesaikan tujuanmu untuk menghilangkan Administrator, proses utama yang rusak...Kau tidak akan sedikit pun peduli tentang apa yang akan terjadi pada dunia ini...apa itu maksudmu...?"

"...Itu mungkin benar."

Suara yang akhirnya keluar itu cukup samar untuk membaur dengan derak api dari lampu sekitarnya.

"Ya...apa yang kuinginkan mungkin sama saja dengan membiarkan hal itu terjadi jika kau melihatnya dari sisi banyaknya jiwa yang akan melayang...Namun... jika kau atau aku hanya duduk di sini dan tidak melakukan apa-apa, maka segera...aku tidak tahu apakah itu satu atau dua tahun ke depan, jika pasukan kegelapan akan menyerang Dunia Manusia; maka desa-desa akan terbakar, ladang akan diinjak-injak, dan banyak orang akan dibunuh. Kata-kata yang kuketahui gagal untuk mengungkapkannya...betapa parahnya bencana itu, betapa kejamnya jika hal itu benar-benar terjadi. —Namun, kau tahu...walau aku memulihkan semua authorityku dan mengeluarkan perintah yang akan membakar semua monster kegelapan dengan satu serangan, aku tidak akan menggunakannya. Jika kau menanyakan alasannya, itu karena mereka tidak memiliki keinginan untuk menjadi monster. Aku yakin mengatakan ini; bahwa aku tidak bisa mendapatkan jawaban bahkan setelah seratus tahun aku merenung. Dengar...walau penguasa seperti Administrator tidak muncul dan dunia terus berjalan sesuai rencana awal, hal sebaliknya akan terjadi; manusia akan membangun tentara yang perkasa, menyerbu Dark Territory, dan menundukkan penduduk negara itu untuk membantai mereka sampai akhir!"

Suara lembut Cardinal perlahan-lahan semakin menajam dan menyerang telingaku dengan sekejap.

"Terlepas dari sisi mana yang akan jatuh, akhir dunia akan direndam dalam lautan darah. Bagaimanapun juga, akhir itulah yang dewa, Rath, inginkan. Aku...aku tidak bisa menerima dewa seperti itu. Aku benar-benar tidak bisa menerima akhir seperti itu. Karena itu...menyadari bahwa aku tidak mampu menghentikan pendekatan tahap percobaan beban, aku tiba pada satu kesimpulan. Tidak peduli apa yang diperlukan, aku akan menghapus Administrator sebelum saat itu tiba, mengembalikan authorityku sebagai system cardinal...dan membuat segala sesuatu di Underworld menjadi nol, baik Dunia Manusia maupun Dark Territory."

"Membuat...nol...?"

Secara mekanik mengulang kata-kata itu, mataku terbuka, terasa seolah itu adalah pertama kalinya mereka seperti itu.

"Sebenarnya apa maksudmu...?"

"Seperti yang baru saja kukatakan. Aku akan menghapus semua fluctlight yang disimpan dalam jiwa, LightCube Cluster.Penduduk Dunia Manusia, dan penduduk kegelapan juga, tanpa terkecuali."

Sebuah tekad dan resolusi yang kuat terisi pada wajah muda Cardinal, membuatku terdiam untuk sementara waktu. Setelah beberapa saat, entah bagaimana aku bisa mengonsep gambar akhir yang ditujukan oleh gadis itu.

"Itu...pada dasarnya, jika akhir di mana banyak orang akan mati dengan cara yang kejam dan menyakitkan tak dapat dihindari, bukankah lebih baik jika di lakukan euthanasia pada semua orang...?"

"Euthanasia...? —Tidak, itu akan menjadi istilah yang salah untuk digunakan."

Mungkin mencari melalui database yang dibangun ke dalam system, Cardinal berkedip sekali sebelum menggeleng.

"Hal ini mungkin tak terbayangkan bagi manusia di dunia nyata sepertimu, yang memiliki media kesadaran yang berbeda dari light cube, tapi jiwa para penduduk yang hidup di dunia ini dapat dihapus dengan momen manipulasi. Mereka bisa menghilang tanpa sedikitpun perlawanan, tanpa sedikitpun mereka menyadari hal itu...Itu tidak jauh berbeda dengan membunuh seseorang, tapi..."

Itu mungkin kesimpulan yang dia pertimbangkan secara matang dalam waktu lama. Aku hanya bisa merasakan getaran yang terisi dengan kepasrahan dan kesia-siaan yang mendalam dalam suara Cardinal saat dia berbicara.

"Tentu saja, idealnya, cara terbaik bagi dunia ini lepas dari cengkraman Rath selamanya, adalah dengan menulis sendiri sejarah aslinya. Tidaklah mustahil bagi dunia ini intuk memiliki rekonsiliasi tanpa darah antara Dunia Manusia dan Dark Territory meski kehidupan telah berjalan selama beberapa ratus tahun. Namun...seharusnya kaulah orang yang paling menyadari betapa kosongnya mimpi itu, untuk menjadi independen dari dewa, Rath, kan?"

Aku tiba-tiba menggigit bibirku dan merenungkan pertanyaan tiba-tiba itu.

Aku tidak tahu bagian Jepang mana yang merupakan bentuk sejati Underworld di dunia nyata, dimana Light Cube Cluster besar itu dibangun. Namun, pastinya, Cluster dan mesin yang menggerakkannya membutuhkan banyak listrik, jadi niat untuk independen total jelas mustahil terwujud.

Ditambah lagi, Rath mengelola Underworld sebagai perusahaan non-profit. Kikuoka Seijirou sebenarnya adalah anggota Self Defense Force dan jika kecurigaanku akan koneksi mendalamnya terhadap pendiri Rath terbukti benar, eksperimen ini pasti memiliki tujuan yang melibatkan keamanan nasional. Walaupun Cardinal berhasil memulihkan semua authoritynya dan membuka saluran komunikasi ke luar, memohon kemerdekaan bagi Underworld, mustahil bagi Rath untuk menerima itu.

Ya—berpikir kembali tentang hal itu, walau aku berhasil mencapai lantai atas Katedral Pusat dan menghubungi Kikuoka, tidak ada jaminan dia akan mendegarkan permohonanku untuk melestarikan Underworld seperti sedia kala dengan berinteraksi dengan Eugeo. Semua fluctlight buatan adalah subyek percobaan biasa bagi Rath dan dari pertama, Underworld sendiri tidak lebih dari satu contoh dari beberapa percobaan yang sedang berjalan.

Dengan kata lain, mungkin hanya ada satu metode tersisa jika fluctlight buatan ingin mencapai kebebasan dan kemerdekaan sejati—menantang manusia dari dunia nyata.

Khawatir akan apa yang menunggu jika itu terjadi, aku memaksa pikiranku untuk berhenti. Mengangkat wajahku, aku menatap Cardinal, dan memaksa leher kakuku mengangguk.

"...Ya, itu mustahil. Dunia ini terlalu bergantung pada manusia dan energi dari dunia luar."

"Ya...contohnya, akan seperti kawanan ikan yang dilemparkan ke dalam ember dan tidak melakukan apa-apa selain menunggu untuk digoreng dalam panci...Yang paling bisa mereka lakukan adalah melemparkan diri mereka keluar dan mati."

Aku tidak bisa sekedar mengangguk akan pernyataan yang Cardinal gumamkan dengan suara yang penuh kepasrahan itu.

"Tapi...aku tidak bisa seluruhnya setuju dengan hal itu, meski aku tidak benar-benar menentangnya...Solusi yang kau usulkan, menghilang dalam sekejap tanpa merasakan apa-apa daripada menderita dan mati, mungkin pilihan yang paling tepat untuk diambil. Tapi aku telah terlibat terlalu dalam dengan manusia di dunia ini untuk menyetujui itu."

Wajah tersenyum dari orang-orang yang telah kutemui di Rulid dan Centoria muncul satu demi satu dalam pikiranku. Tentu saja, aku tidak ingin melihat mereka dibantai oleh pasukan Dark Territory, tetapi meskipun demikian, apa bekerja sama dengan Cardinal melalui cara ini dan membuat jiwa semua orang lenyap adalah metode yang terbaik dan terakhir?

Tidak dapat menghadapi realitas itu, aku menggigit bibirku dan mendengarkan suara tenang Cardinal.

"Kirito, jika semua authorityku kembali dengan bantuanmu, aku akan mengabulkan keinginanmu, meski untuk waktu yang terbatas, sebelum aku mengakhiri Underworld. Jika kau menentukan nama-nama orang yang ingin kau bantu, aku tidak akan menghapus fluctlight mereka, dan mengarsipkan mereka. Setelah itu, kau hanya harus mengamankan light cube yang mengandung jiwa mereka ketika kau melarikan diri ke dunia luar. Aku masih bisa melakukan sesuatu jika hanya sepuluh. Walau ini bukan pilihan terbaik bagimu, itu masih syarat sebagai pilihan terbaik kedua."

"......!"

Aku menarik napas tajam pada kata-kata yang tak terduga dan tiba-tiba itu.

Apa sesuatu seperti itu benar-benar mungkin?

Benar, jika lightcube tidak memerlukan listrik untuk menyimpan informasi dan aku berhasil membawa mereka keluar dari cluster, dengan aman menjaga mereka, fluct light didalamnya seharusnya tidak akan rusak. Itu akan memakan waktu, tapi seharusnya tidak mustahil untuk «mengekstrak» dan bertemu dengan mereka kembali ketika teknologi STL telah umum suatu hari nanti.

Namun, masalahnya terletak pada hal itu, cara untuk mencuri beberapa cube dari Light Cube Cluster, yang kemungkinan berada di jantung fasilitas penelitian Rath. Aku tidak bisa menyembunyikan semuanya di dalam sakuku jika light cube adalah sebuah kubus dengan sisi lima sentimeter, seperti yang Cardinal jelaskan. Walau aku menggunakan kantong yang bisa menyimpan semuanya, pasti akan banyak memakan waktu untuk membawanya.

Dengan kata lain, jika aku setuju dengan proposal ini, aku harus memilih jiwa yang harus diselamatkan.

Itu berbeda dengan memilah data yang akan disimpan pada konsol game biasa. Fluctlight buatan pada dasarnya adalah manusia, persis seperti diriku. Aku hanya dapat memilih untuk menyelamatkan sepuluh orang dari kematian yang tak dapat dihindari. Dan itu hanya karena keakraban mereka denganku. Apa aku benar-benar memiliki kualifikasi dan hak untuk melakukan perbuatan seperti itu?

"Itu...itu..."

Mustahil bagiku, itu kata-kata yang ingin kuucapkan, tapi mereka tertahan di mulutku dan aku hanya menatap mata Cardinal yang terasa seolah mereka bisa melihat melalui apa saja dan segalanya. Apa yang keluar sebagai gantinya, adalah ratapan yang sangat menyedihkan.

"—Dari awal, mengapa kau memilihku sebagai orang pilihanmu dalam melawan Administrator? Aku akan memberitahumu terlebih dahulu, tapi aku benar-benar tidak memiliki keuntungan apapun di dunia ini. Sacred art, skill pedang, ada banyak orang yang lebih baik dariku di dunia ini. Itu benar...misalnya, Eugeo akan melakukannya lebih baik. Aku mungkin tidak akan menang jika dia melawanku dengan serius sekarang."

Setelah dengan sabar mendengar protes pesimisku, Cardinal hanya menggelengkan kepalanya dengan putus asa.

Dia mengisi cangkir di atas meja, kali ini dengan teh kohiru—atau kelihatannya seperti itu, tapi itu mungkin kopi—lalu meneguknya.

"...Aku menyadari kalau tahap percobaan beban, atau invasi Dark Territory tidak lagi bisa dihindari, dua puluh tahun lalu.Sejak saat itu, aku telah mencari seseorang yang akan menjadi pedangku jauh lebih putus asa daripada sebelumnya..."

Seperti mencapai bab terakhir, cerita yang sangat panjang itu berlanjut, dan aku menelan keluh kesahku dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

"...Namun, tidak peduli seberapa banyak skill pedang atau sacred art yang kuperoleh sebagai sekutu, orang itu hanya tinggal menghapus hambatan itu untuk mempertahankan posisinya, membawa para pengawalnya, Integrity Knight."

"...A-Apa masih ada sesuatu yang lain...?"

"Ya. Selagi aku melakukan pencarian, aku menemukan puluhan cara untuk mengatasi masalah lain itu, tapi masing-masing dari mereka tidak dapat diandalkan...Waktu terus bergulir seiring aku bergegas, dan kelompok barisan terdepan dari Dark Territory terus-menerus menyerang Puncak Barisan Pegunungan sebagai tahap pertama dari percobaan beban saat aku menyadarinya. Jumlah mereka cukup untuk membuat kedelapan Integrity Knight yang dikerahkan gagal dalam menghilangkan mereka semua. —Saat itu aku mulai berpikir bahwa aku harus menyerah untuk mengembalikan authorityku melalui pertarungan dan mempertimbangkan untuk membujuk Administrator, walau itu berarti menawarkan leherku, dan keadaan itu terus berlanjut...familiar yang kulepaskan mendapat cerita angin yang beredar di sekitar, kisah yang bisa dianggap sebagai kisah yang mustahil, di wilayah terpencil bagian utara."

"Kisah mustahil...?"

"Sebuah rumor tentang sebuah fenomena yang belum pernah terjadi sekalipun sejak Quinella menjadi Administrator, setidaknya. Itu tentang salah satu obyek penghalang yang wanita itu buat di seluruh dunia untuk menghalangi perluasan tempat tinggal manusia...bagaimana salah satu dari mereka bisa menebang sebuah pohon raksasa yang menyerap sumber daya dari udara dengan area yang luas, dan memiliki daya tahan dan prioritas yang sangat luar biasa, hanya oleh dua orang pemuda."

"...Sepertinya aku telah mendengar cerita itu di suatu tempat..."

"Aku dengan tergesa-gesa memindahkan familiar yang aku tempatkan di wilayah utara Norlangarth yaitu Charlotte, untuk mencari kedua pemuda itu. Tepat ketika mereka hampir berangkat dari desa, aku akhirnya menemukan mereka. Aku menempatkan Charlotte ke kepala salah seorang dari mereka, seorang pemuda yang agak ceroboh, dan menyelidiki mengapa mereka mampu menghilangkan sebuah benda yang hampir mustahil untuk dihancurkan..."

Aku berpikir untuk mengatakan sesuatu karena dianggap sebagai seorang pemuda yang agak ceroboh, tapi aku benar-benar tidak menyadari Charlotte naik di kepalaku selama lebih dari dua tahun, jadi aku sama sekali tak bisa mendebatnya. Aku mendesak Cardinal untuk meneruskan sambil cemberut.

"Aku langsung menemukan alasannya. Pedang yang dimiliki oleh pemuda berambut kuning muda berasal dari kelas yang hanya ada beberapa buah di dunia, sacred instrument...Namun, keraguan baru muncul untuk memahami itu. Mengapa para pemuda ini memiliki object control authority yang tinggi seperti itu? Merasakan kegembiraan yang tidak aku rasakan dalam waktu lama, aku menajamkan pendengaranku pada percakapan kedua pemuda itu, siang dan malam. Sebagian besar adalah pembicaraan bodoh yang benar-benar tidak ada gunanya, namun..."

"M-Maaf tentang itu."

"Ugh, diam dan dengarkan. —Belum lama, aku akhirnya mengerti alasannya di kota tempat mereka beristirahat. Cukup mengherankan, kata itu mungkin tepat untuk diungkapkan karena mereka berdua mengusir unit pengintai berukuran besar dari Dark Territory seorang diri, kan? Jika itu terbukti benar, sejumlah besar kenaikan authority point yang biasanya dibagi antara sepuluh orang akan dimonopoli oleh mereka berdua. Aku mengerti itulah alasan di balik tingginya authority mereka hingga dapat memakai sacred instrument, tapi...pada saat yang sama, pertanyaan lain menyiksaku. Yaitu bagaimana bisa kedua pemuda yang lahir di desa terpencil itu yang bahkan bukan bagian dari corps penjaga, mengusir prajurit goblin dari Dark Territory yang memiliki kemampuan bertarung yang luar biasa? Itu merangkum semuanya."

"Hanya memberitahu, tapi sembilan puluh persen dari itu adalah sandiwara."

Cardinal tampaknya ingin memarahiku karena menginterupsi lagi, namun dia merubah pikirannya, menutup mulutnya, dan perlahan-lahan mengangguk.

"Ya...memang, mungkin bagian itulah yang menyebabkan hasil tersebut. Keraguan itu akhirnya hilang, tapi itu benar-benar membutuhkan waktu yang lama. Kau tahu, pemuda berambut hitam...yaitu, kau Kirito, selalu berhati-hati dan memperhatikan setiap ucapan dan perilakumu terhadap partnermu, Eugeo. Namun, pada akhirnya pemahaman itu memukulku seperti petir, karena kau ternyata suka berperilaku seperti binatang yang tidak dipelihara oleh siapapun, atau dengan kata lain, seperti seekor anjing liar. Kau tidak terikat dengan Taboo Index sama sekali..."

"...Apa aku benar-benar melakukan sesuatu seperti itu...?"

"Berkali-kali. Akan kacau jika orang lain melihatnya. —Sejak saat itu, aku menganalisa makna di balik ucapan dan tindakanmu melalui mata Charlotte. Terus-menerus, bahkan setelah kalian berdua mencapai ibukota pusat dan masuk ke dalam North Centoria Akademi Master Pedang. Sudah lebih dari setaun sejak aku mulai mengamatimu...aku akhirnya menemukan sebuah jawaban. Singkatnya, kau bukanlah jiwa yang lahir di dunia ini dan terkurung di dalam sebuah light cube, namun manusia dari dunia luar...dunia di mana dewa pencipta yang asli, Rath, tinggal..."

"—Kalau begitu aku pasti telah mengecewakanmu. Bagaimanapun juga, aku tidak memiliki hak supervisor yang biasanya aku miliki, belum lagi aku bahkan tidak memiliki metode untuk berkomunikasi dengan Rath...kenapa, aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi di luar sekarang..."

Aku berbicara dengan nada meminta maaf karena aku hanya bisa memberikan sedikit bantuan, Cardinal mengguncang jari telunjuk kanannya sambil tertawa ringan.

"Aku tahu itu dari awal. Bagaimanapun juga, jika kau memiliki system authority di atas Administrator, kau tidak perlu mengalahkan goblin dengan pedang, dan menderita luka selama proses. Aku juga tidak dapat menemukan alasan mengapa kau muncul di Underworld dalam keadaan seperti ini. Aku kira itu mungkin karena kecelakaan...atau mungkin untuk mengumpulkan data melalui ingatan, pengetahuan, dan authority terbatasmu. Aku akan kagum jika kau tidak diberikan kompensasi yang besar jika itu karena alasan yang terakhir."

"...Ya, kau benar. Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan tentang diriku sendiri jika karena alasan yang terakhir."

Mengingat rasa sakit dari luka bahu kiriku, aku bergumam tadi.

"Apapun itu, kau tetaplah harapan terbesarku. Bagaimanapun juga, keberadaanmu telah menghancurkan penghalang penting lain dalam pertempuran melawan Administrator yang aku bicarakan sebelumnya."

"Sebenarnya apa hambatan itu?"

"—Melaksanakan Synthesis Ritual membutuhkan perintah panjang dan parameter penyesuaian yang luas. Termasuk tahap persiapan, itu menghabiskan waktu sekitar tiga hari."

Cerita tiba-tiba melompat ke depan dan sekali lagi aku terbingung. Tapi bibir Cardinal terus bergerak, menunjukkan kalau dia tidak tahu hal itu ada di wajahku.

"Singkatnya, hampir tidak perlu menggunakan sacred art yang bisa mengakses light cube secara langsung kedalam akun saat pertarungan normal. Dengan kata lain, jiwamu tidak akan diambil alih dan dicuci otak untuk menjadi Integrity Knight di tengah-tengah pertempuran. Namun, bagaimana jika Administrator menyerah dalam menangkap prajurit yang kupilih dan mencoba untuk menghapusnya saja...? perintah yang diperlukan cukup singkat dan parameter penyesuaiannya pun rendah. Itu bahkan mungkin lebih cepat daripada membuat penjaganya bertarung. Aku bisa mengimbangi serangan yang mengurangi life dengan peralatan dan sacred art. Namun, tidak ada pertahanan yang bisa melawan serangan yang menyerang fluctlight. Aku memeras pikiranku dalam waktu yang lama ketika aku menyadari kemungkinan itu."

"...Serangan kepada jiwa...itu cukup mengerikan..."

"Ya. Master dalam hal apapun akan kehilangan kekuatan dan ingatannya akan hancur...Karena itu, Kirito, kaulah satu-satunya orang yang mampu menghadapi serangan itu. Seperti yang kuduga, bahkan Administrator sekalipun tidak dapat meletakkan tangannya pada sacred instrument dari dunia luar, «STL», yang kau gunakan untuk memindahkan jiwamu ke Underworld. Karena perintah untuk itu tidak ada. Apa kau paham alasan mengapa aku begitu menunggu kedatanganmu saat ini? Alasan mengapa aku memaksimumkan jumlah pintu dan terus menunggu kedatanganmu dengan tak sabar, dalam rangka untuk membawamu ke dalam Ruangan Perpustakaan Besar ketika kau memenangkan Turnamen Kesatuan...atau mungkin, sebelum kau diseret ke area interogasi setelah melangkah ke Gereja Axiom sebagai penjahat yang melanggar Taboo Index...?"

Akhirnya, kisah biografi yang sangat panjang ini telah sampai ke titik terakhir, dan Cardinal mengambil napas dalam-dalam saat rona merah samar muncul di pipinya.

"...Jadi begitu, jadi itu alasannya..."

Aku masih tidak tahu alasan mengapa aku masuk ke dalam Underworld. Sebaliknya, aku malah mengatakan bahwa alasan itu adalah untuk menemukan metode berkomunikasi dengan Rath yang kupikir hanya akan ada di inti dunia, Gereja Axiom, sebagai tujuanku.

Namun, aku hanya bisa berpikir kalau perjuanganku ke tempat ini memang benar-benar telah ditakdirkan, ketika gadis ini, yang telah hidup dalam waktu yang lama, dengan jelas menyatakan hal itu. Apa ini memang nasibku untuk mencoba mengerahkan semua usahaku untuk membantu Cardinal dan menyelamatkan beberapa orang ke dunia nyata, meski itu hanya sepuluh, dengan keberhasilan yang tidak terjamin dalam pertarungan melawan Administrator—?

Tidak, sebelum membicarakan nasib atau semacamnya, aku tidak bisa menemukan alasan untuk menolak gadis di depan mataku, yang dengan sungguh-sungguh menunggu saat ini selama dua ratus tahun. Dia mengatakan bahwa dia adalah program tanpa emosi berkali-kali, tapi aku tidak mempercayai hal itu karena mendengar ceritanya yang sangat panjang. Cardinal, pastilah manusia yang memiliki emosi sepertiku. Aku yakin itu, walau terikat oleh perintah, meski harapannya hanya satu—mengoreksi dunia.

"Bagaimana, Kirito. Aku tidak bisa memaksamu...jika kau tidak dapat menyetujui rencanaku untuk mengembalikan dunia menjadi nol, aku akan memberikan Eugeo dan dirimu posisi apapun yang sesuai dengan keinginanmu. Dalam situasi ini, kalian berdua harus mengatasi semua kesulitan untuk mengalahkan Administrator, dan kemungkinan besar kalian juga akan bertarung denganku setelah kalian mencapai tujuan kalian masing-masing, tapi...aku bisa katakan bahwa itu juga, adalah takdir..."

Memgumamkan itu, Cardinal kemudian menunjukkan senyum yang berbeda, senyum yang paling tepat untuk usianya sejak dia mengundang kami ke ruang perpustakaan ini.

Setelah cukup lama terdiam, aku menjawab pertanyaan gadis itu dengan keinginanku sendiri.

"Cardinal...Jiwamu adalah salinan Quinella, itu yang kau katakan, kan...?"

"Ya, itu benar."

"Kalau begitu...Kau pasti juga memiliki darah bangsawan murni. Gen untuk mengejar kepentingan dan keinginanmu sendiri...Mengapa kau tidak membuang semuanya dan mencoba untuk melarikan diri? Seharusnya mungkin bagimu untuk melarikan diri ke beberapa desa kecil, begitu jauh hingga Administrator tak dapat melacakmu, dan jatuh cinta, menikah, dan membesarkan anak-anak seperti seorang gadis biasa...bahkan mungkin meninggal karena usia tua dalam kebahagiaan. Bukankah itu keinginanmu? Darahmu pasti memerintahkanmu untuk mengikuti keinginanmu...terus-menerus selama dua ratus tahun. Mengapa kau menolak perintah itu dan terus menunggu selama lebih dari dua ratus tahun di tempat seperti ini sendirian...?"

"Kau memang orang yang sangat-sangat bodoh."

Cardinal tersenyum.

"Aku sudah bilang, bahwa semua kepentingan dan keinginanku hanyalah satu karena tujuan keberadaan sub-proses Cardinal tertanam di dalam jiwaku, yaitu untuk menghilangkan Administrator dan menormalkan dunia. Dalam pikiranku, sebuah dunia normal tidak lagi bisa dicapai tanpa mengembalikannya ke ketiadaan total. Karena itu—Karena itu, aku—"

Ada jeda mendadak dalam kata-katanya, jadi aku menatap kacamata Cardinal. Mata coklat yang terbakar terbuka lebar itu tampak bergetar dengan kuat, mungkin karena menahan semacam emosi. Dengan segera, bibir itu bergerak dan suara yang begitu pelan hingga aku hampir tidak bisa mendengarnya keluar.

"...Tidak...Aku kira itu salah...Aku juga...aku juga memiliki keinginan, satu keinginan...Sesuatu yang ingin aku pahami dengan biaya apapun...dalam dua ratus tahun ini..."

Kelopak matanya menutup dan membuka sekali lagi, Cardinal menatapku tajam. Dia menggigit bibirnya dengan ragu-ragu dan sesaat mengenggam tangannya bersama-sama, tapi kemudian dia tiba-tiba turun dari kursi dan berdiri dengan bunyi gedebuk.

"Hei, Kirito, Kau juga berdiri lah."

"Hah...?"

Aku berdiri dari tempatku. Cardinal mendongak sedikit untuk melihat diriku, berdiri tegak dengan kepala terlihat ragu-ragu. Badanku tidak terlalu tinggi, tapi tetap saja, perbedaan tinggiku cukup banyak dibandingkan degan gadis yang penampilan luarnya berumur sekitar sepuluh tahun ini.

Cardinal mengerutkan keningnya saat dia memeriksa sekeliling kami, menempatkan kaki kanannya ke kursi yang dia duduki, dan naik dengan beberapa usaha. Berpaling padaku, dia mengangguk seolah memeriksa apakah tinggi mata kami sejajar.

"Mari kita mulai. Hei Kirito, kemari."

"...?"

Dengan tetap bingung tentang situasi ini, aku mengambil beberapa langkah dan berdiri di depan Cardinal.

"Lebih kedepan."

"Ehh?"

"Berhentilah mengeluh."

Ada apa, aku bertanya-tanya ketika aku maju sedikit demi sedikit. "Itu sudah cukup" pada saat aku diperintahkan berhenti, ubun-ubun kami telah menyentuh satu sama lain. Cardinal menatap mataku sekilas, saat aku berkeringat dingin, dan segera memalingkan muka, dan menerima perintah lain.

"Lebarkan tanganmu."

"...Seperti ini?"

"Belokkan mereka di depan dan buatlah cincin."

"......"

Tentunya, dia tidak akan memukulku dengan tongkat, atau sesuatu seperti itu, saat aku mengikuti intruksinya-ragu-ragu, aku perlahan-lahan menggerakkan lenganku, melewati tubuh Cardinal, dan memegang jari kiri dan kananku bersama-sama di tempat yang cukup jauh dari punggungnya.

Setelah menghabiskan beberapa detik yang diisi dengan keheningan yang canggung, Cardinal membuat suara klik yang sedikit manis dengan lidahnya.

"Ugh, tidakkah kau malu?"

Apa kau menujukannya padaku. Aku tidak bisa mengarahkan pikiranku ke mana-mana sebelum aku menghentikannya di tengah-tengah.

Jubahnya terbuka, dua lengan Cardinal dengan takut-takut melewati punggungku dan aku bisa merasakan dia mengerahkan kekuatan yang sangat pelan melalui kain bajuku. Topi besar yang bertabrakan dengan dahiku membuat suara jatuh ke meja dan rambut keriting berwarna kastanye menyentuh pipi kiriku. Sedikit berat dan panas samar bisa kurasakan di bahu dan dadaku.

"......"

Setelah menahan sebisaku dalam keheningan yang semakin memberat ini, aku mencoba untuk menanyakan alasan di balik situasi ini. Namun sebelum aku bisa, suara Cardinal yang hampir tak terdengar keluar menuju atmosfer Ruangan Perpustakaan Besar ini.

"Jadi begitu...jadi ini adalah..."

Mengikuti perintahnya, aku mendesah—

"...Jadi ini artinya menjadi manusia?"

Napasku langsung tertahan.

Jika ada sesuatu yang Cardinal ingin tahu, setelah menghabiskan dua ratus tahun merenung tentang segala sesuatu, jelas tidak akan ada jawaban lain selain kontak dengan manusia lain, kan?

Dasar dari kata manusia adalah berhubungan dengan orang lain. Menjadi manusia berarti bertukar kata dengan orang lain, menggenggam tangan satu sama lain, merasakan kontak diantara jiwa.

Meski begitu, gadis ini telah hidup selama dua ratus tahun sendirian, dikelilingi oleh buku yang sama sekali tak bisa bicara.

Aku akhirnya dengan jelas bisa memahami hidup yang telah dilalui Cardinal, dengan tingkat realitas tertentu. Pada saat yang sama, aku menggerakkan lengan kiri dan kananku, dengan kuat menarik punggung gadis itu ke arahku.

"...Hangat..."

Ada sesuatu yang berbeda dengan suara Cardinal dibandingkan dengan sebelumnya, mendesah seperti bergumam.

Aku juga bisa merasakan tetes kecil air mata pada saat itu, membawa rasa hangat saat mereka dengan lembut menyentuh pipiku.

"...Berharga...setidaknya...dua ratus tahun hidupku...tidak sia-sia..."

Air matanya terus mengalir satu demi satu, sebelum menghilang di suatu tempat.

"Aku puas...hanya mengetahui kehangatan ini...ini sudah cukup, untuk hadiah..."

Sword Art Online Vol 12 - 093.jpg

Aku tidak tahu berapa lama kami tetap seperti itu, tapi perutku sudah terasa kosong ketika perasaan lembut itu berakhir.

Turun dari kursi, Cardinal mengangkat topinya yang jatuh dan menepuk-nepuknya sebelum menempatkannya di kepala. Mendorong kacamata bulatnya saat dia kembali menatapku, mimik wajahnya sudah kembali seperti sebelumnya.

"Berapa lama lagi kau mau berdiri kebingungan seperti itu?"

"...Itu terlalu berlebihan..."

Protes terhadap kata-katanya yang membuatku berpikir kalau air mata sebelumnya adalah khayalan, aku mengambil tempat duduk di tepi meja. Cardinal dengan diam menungguku menyilangkan tanganku dan menarik napas panjang sebelum menanyakan pertanyaan terakhir.

"—Jadi, apa kau sudah memutuskan? Maukah kau menerima proposalku, atau menolaknya?"

"......"

Aku, sayangnya tidak cukup memiliki ketegasan untuk segera menjawabnya.

Secara logika, memilih sepuluh orang yang harus kuselamatkan dan meminjam bantuan Cardinal untuk melarikan diri ke dunia nyata akan menjadi hasil terbesar yang bisa kuharapkan—untuk saat ini, kupikir. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa merumuskan pilihan alternatif lain yang lebih baik dalam kondisiku saat ini.

Tapi itu bukan berarti aku tidak bisa memikirkan apapun. Aku ingin mempercayai itu. Oleh karena itu, setelah mengangkat wajahku, aku menatap lurus Cardinal dan berbicara.

"...Aku mengerti. Aku akan berpartisipasi dalam strategimu. Tapi..."

Seolah memeras keluar setiap kata, satu persatu, aku melanjutkan.

"Tapi aku tidak akan berhenti berpikir. Bahkan ketika kita mulai berperang melawan Integrity Knight dan Administrator, aku akan terus mencari metode lain. Sebuah solusi yang entah bagaimana akan menghidari fase tragedi percobaan beban dan membuat perdamaian dunia dapat terus bertahan."

"Astaga, optimismemu terlalu bodoh, tahu. Meski aku sudah mengetahui itu."

"Nah, kau tahu...Aku juga tidak ingin kau menghilang. Jika kau mengatakan padaku untuk memilih sepuluh orang, kau akan termasuk disana, jangan buat kesalahan tentang itu."

Cardinal segera menyelimuti matanya yang terbuka lebar dalam sekejap, dengan naungan cemoohan dan menggeleng dengan gerakan berlebihan.

"...Dan diatas semua itu, kau benar-benar bodoh. Jika aku melarikan diri, siapa yang akan menghapus dunia ini?"

"Seperti yang aku katakan...Aku paham keadaannya, tapi aku tidak bisa menyia-nyiakan perjuanganmu, itu saja yang bisa kukatakan."

Menggelengkan kepalanya dengan putus asa pada alasanku, gadis itu berbalik menghadapkan punggungnya padaku. Suara yang tersapu angin pelan itu menyebabkan jubahnya berkibar dengan tenang, menyembunyikan dua ratus tahun isolasi yang sama sekali mustahil untuk dihapuskan hanya dengan kontak sesaat.

"Hari akan datang ketika kau juga...merasakan pahitnya kepasrahan...Bukan saat ketika kau memberikan semua yang kau punya dan gagal...tapi saat dimana kau memang harus menerima premis kegagalan...—Sekarang, mari kita kembali. Sepertinya partnermu akan segera selesai membaca buku-buku sejarah. Mari kita bahas rincian konkret untuk rencana kita dari sekarang dengan Eugeo."

Memukul tongkatnya ke lantai batu, Cardinal berpaling ke arah kamu masuk dan mulai berjalan, tanpa sedikitpun menatapku.

Part 2[edit]

Seperti yang Cardinal perkirakan, Eugeo baru saja menutup buku besar di atas pangkuannya sambil duduk di tengah-tengah tangga ketika kami kembali ke rak buku-buku sejarah.

Matanya berkedap-kedip bingung seolah dia belum terbangun dari ratusan tahun laporan sejarah saat aku memanggilnya sambil berjalan mendekat.

"Itu butuh waktu beberapa saat. Maaf telah membuatmu menunggu sendirian."

"Maaf telah meninggalkanmu sendirian."

Mendengar itu, bahu Eugeo tiba-tiba bergetar dan dia mengedipkan mata beberapa kali sebelum akhirnya menatapku.

"Ah...aah, Kirito. Sudah berapa lama...?"

"Eh? Erm..."

Aku menatap bingung ke sekeliling, tapi tidak ada satu jendelapun disini,apalagi jam. Cardinal perlahan berdeham dan menjawab.

"Sudah sekitar dua jam, matahari benar-benar di tengah langit sekarang. —Bagaimana, sejarah panjang Dunia Manusia?"

"Hmm...bagaimana aku harus mengatakan ini...?"

Ketika ditanya, Eugeo menggigit bibirnya berkali-kali seakan mencari kata-kata, kemudian bergumam dengan nada tegas.

"...Apa segala sesuatu yang tertulis di dalam buku ini benar-benar terjadi? Ini seperti...sedang membaca serangkaian dongeng yang ditulis...kau tahu, sebagian besar episode berjalan seperti, beberapa jenis masalah terjadi pada suatu waktu dan suatu tempat, Integrity Knight tiba dan memecahkan masalah, dan sejak saat itu, peraturan baru seperti ini dan itu ditambahkan ke Taboo Index...itu penuh dengan cerita seperti itu."

"Mau bagaimana lagi, itu adalah fakta sejarah. Mereka seperti jaring dengan air yang dituangkan dan tumpah melalui celah-celahnya, menutup kekosongan, saling sambung-menyambung, seperti itulah organisasi Gereja Axiom."

Cardinal dengan enteng mengeluarkan kata-kata itu, membuat Eugeo melebarkan matanya. Wajar saja, sebab itu yang mungkin pertama kalinya dia bertemu seseorang yang mengkritik gereja, belum lagi dia adalah seorang gadis muda—meskipun, itu hanya penampilan luarnya.

"Aah, dia disebut Cardinal. Err...dia dibuang oleh pendeta tertinggi saat ini, Administrator, dan pernah menjadi pendeta tertinggi juga."

Setelah aku memberikan pengenalan ringkas itu, Eugeo menjauh sambil membuat suara aneh dari belakang tenggorokannya saat dia menelan ludah.

"Tidak, tak perlu takut. Sepertinya dia bersedia untuk membantu kita meski kita akan bertarung melawan para Integrity Knight."

"Mem...membantu kita...?"

"Ya. Orang ini memiliki tujuan untuk mengalahkan Administrator dan mengembalikan posisinya sebagai pendeta tertinggi. Jadi...yah, kami memutuskan untuk membentuk aliansi."

Tak ada sedikitpun kebohongan dalam penjelasan yang kusederhanakan tadi, tapi penjelasan tentang semua penghuni Underworld yang akan dihapus setelah Cardinal mendapatkan authoritynya adalah sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Aku mungkin harus membicarakannya dengan Eugeo suatu hari nanti, tapi tetap saja, aku sama sekali tidak memiliki ide bagaimana aku nanti bisa memulai pembicaraan tentang ini.

Seakan dibalut dalam ketaatan, partnerku menatap Cardinal tanpa adanya sedikitpun rasa ketidakpercayaan di matanya dan tersenyum gugup.

"Benarkah...itu akan sangat membantu, sungguh. Jika dia pernah menjadi pendeta tertinggi, maka apakah dia tahu kalau Alice...sang Integrity Knight, Alice Synthesis Thirty, adalah orang yang sama dengan Alice Schuberg dari Rulid...? Jika iya...bagaimana metode untuk membuat Alice kembali seperti semula...?"

Cardinal menurunkan bulu matanya sedikit mendengar pertanyaan Eugeo, yang bertanya dengan tergagap.

"Aku minta maaf, tapi...informasi yang bisa kudapatkan dari tempat ini sangat terbatas. Pada dasarnya, aku juga tidak tahu apa-apa, selain dari jumlah familiar pengamatku yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Aku mungkin masih tahu jika itu adalah insiden di dalam Kathedral atau di pusat Centoria, tapi jika di daerah terpencil hanya akan...Aku tahu kelahiran seorang Integrity Knight bernama Alice, tapi aku benar-benar tidak tahu tentang asal-usulnya untuk saat ini..."

Bahu Eugeo sedikit merosot setelah mendengar kata-kata itu, tapi dia dengan tajam menarik napas setelah mendengar kata-kata selanjutnya.

"—Namun, aku bisa mengajarkan metode untuk mencabut sacred art yang melahirkan, tidak, yang menghasilkan Integrity Knight, «Synthesis Ritual»."

Cardinal menatap Eugeo dan aku secara berurutan, kemudian berbicara dengan nada tegas.

"Kau tinggal menghapus «Piety Module» yang dimasukkan ke dalam jiwa mereka."

"Pahy...moju...?"

Aku menambahkan beberapa informasi untuk Eugeo, yang mengulangi kata-kata asing dari bahasa Inggris, tidak, pengucapan suci dengan kesulitan.

"Modul, er, memiliki arti 'bagian' dalam pengucapan suci. Ingat, kau melihatnya ketika kita bertarung melawan Integrity Knight Eldrie di taman mawar, kan? Ketika pria itu menjadi aneh di tengah pertarungan..."

"Aah...sesuatu yang tampak seperti batang kristal ungu yang keluar dari dahinya..."

"Ya, itulah artinya."

Mengangkat tongkat di tangan kananya, Cardinal menggambar garis horizontal di udara dengan ujungnya, lalu menggerakkannya seakan memotong garis di sekitar bagian tengahnya.

"Piety Module dimasukkan untuk menghambat ingatan. Melalui itu, sejarah dari orang yang akan menjadi seorang Integrity Knight akan disegel, sekaligus memaksa kesetiaan mutlak terhadap Gereja Axiom dan pendeta tertinggi. —Namun, stabilitas paksaan dan kompleks art seperti itu tidaklah tinggi. Jika ingatan penting di sekitar modul menerima rangsangan eksternal dan menjadi aktif, Art itu akan mulai terhapus seperti yang kalian berdua lihat."

"Dengan kata lain...untuk menghilangkan Art itu ,kami hanya tinggal mengembalikan ingatan masa lalu Intergrity Knight, begitu kah?"

Tanyaku dengan semangat, namun Cardinal tidak mengangguk.

"Tidak...itu tidak cukup. Ada satu hal lagi, satu hal lain yang kau butuhkan."

"A-Apa itu?"

Eugeo yang bertanya kali ini.

"Apa yang awalnya ada sebelum modul itu telah dimasukkan. Dengan kata lain, fragmen memori yang paling dihargai oleh Integrity Knight. Biasanya, ingatan tentang orang yang paling mereka cintai. Apa kalian ingat apa kata-kata yang paling banyak dikatakan oleh Integrity Knight yang kalian lawan?"

Eugeo menjawab sebelum aku bisa mengingatnya.

"Ya. Itu adalah nama ibunya. Kristal itu tampak seperti akan jatuh sedikit lagi ketika dia mendengar nama ibunya."

"Lalu ada kemungkinan seperti itu. Ingatan yang diekstrak dari Eldrie berhubungan dengan ibunya, itulah di mana modul itu tertanam. Kau tahu, meski ingatan masa lalu Integrity Knight sama sekali tidak penting bagi Administrator, memori dan kemampuan itu berhubungan. Jika semua ingatan mereka dihapus, kekuatan mereka sebagai knight akan...bahkan keahlian berpedang dan teknik sacred art mereka akan hilang. Oleh karena itu, dia menahan diri untuk menghapus semua ingatan mereka. Aku menghapus sebagian besar ingatanku untuk memperpanjang hidupku, tapi aku kehilangan banyak pengetahuan dan kemampuan yang kucapai dalam kurun waktu itu juga..."

Menambil napas pendek, Cardinal menambahkan.

"...Aku akan mengatakan ini lagi, semua fragmen memori yang paling penting bagi Integrity Knight telah dicuri oleh Administrator. Kecuali kau mengembalikan itu, aliran ingatan mereka tidak akan kembali seperti semula, walau kau menghapus piety module. Dalam skenario terburuk, ingatan mereka sendiri yang akan mengalami kerusakan parah."

"Fragmen memori...La-Lalu...bagaimana jika Administrator merusak hal itu ketika menariknya menjadi knight...?"

Aku dengan gugup bertanya, dan Cardinal perlahan menggeleng dengan ekspresi yang rumit.

"Tidak...aku meragukan hal itu. Administrator adalah seorang wanita yang sangat cermat, tidak mungkin baginya untuk merusak sesuatu walau hal itu hampir tidak berguna. Harus tidak ada kesalahan apapun agar dia tetap aman di kamarnya sendiri...lantai atas Katedral Pusat..."

Lantai atas Kathedral—bagian dari ingatanku serasa ditusuk saat aku mendengar kata-kata itu, tapi itu menghilang sebelum aku bisa menahannya. Selagi merasakan iritasi aneh, aku bergumam.

"Jadi itu berarti...kita membutuhkan fragmen memori yang dicuri itu untuk mengembalikan ingatan Integrity Knight seperti semula, tapi kita harus menerobos penjagaan knight dan mencapai lantai atas di mana Administrator berada, untuk mendapatkan hal itu, huh..."

"Jangan sampai berpikir naif untuk memperoleh kemenangan atas Integrity Knight tanpa membunuh."

Cardinal berbicara sambil menatapku sekilas.

"Apa yang dapat kulakukan untuk kalian berdua hanyalah untuk menyediakan peralatan yang setara dengan Intergrity Knight. Sisanya tergantung pada semua usaha kalian berdua dalam pertempuran."

"Eh...kau tidak pergi bersama kami?"

Berharap kalau punggung kami akan memiliki dukungan yang meyakinkan karena dia mampu menggunakan Art penyembuhan, aku bertanya kembali tanpa berpikir. Tapi Cardinal dengan singkat menggeleng.

"Jika aku meninggalkan Ruangan Perpustakaan Besar, Administrator akan merasakan hal itu segera dan itu mungkin akan berkembang menjadi perang habis-habisan melawan semua Integrity Knight di dalam Kathedral dan juga perempuan itu sendiri. Jika kalian berdua yakin dalam bertarung dan mengalahkan sepuluh Integrity Knight sekaligus, baru aku tidak keberatan, jadi?"

Jika dia bertanya sekejam itu, Eugeo dan aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala ke kiri dan kanan.

"—Namun, Administrator belum membuang rencananya menangkap kalian berdua dan membuat kalian menjadi Integrity Knight. Jika kalian berdua pergi sendiri, dia harus mengirimkan sejumlah kecil knight dan mencoba untuk menangkap kalian berdua hidup-hidup. Tidak ada cara lain selain menerobos para knight satu demi satu dan berlari menuju Kathedral."

"Mgh..."

Benar, kami harus membagi musuh walau itu berarti kami harus menggunakan diri kami sebagai umpan, jika kami melawan dengan jumlah yang unggul. Tapi walau itu berhasil, lawan kami adalah Integrity Knight, yang terkuat di dunia. Kami bertarung habis-habisan melawan Eldrie, jadi aku hanya bisa menyerah jika ada dua knight yang datang.

Eugeo berbicara menggantikanku, selagi aku tenggelam dalam keheningan, dengan cahaya yang agak suram di matanya.

"—Aku mengerti. Aku akan bertarung jika diperlukan dan jika tidak ada pilihan lain selain membunuh...aku tidak akan menghindari itu. Aku keluar dari penjara dengan resolusi itu dari awal...Namun, jika Alice yang muncul...—Aku tidak akan bertarung dengannya, bagaimanapun juga, aku datang kesini untuk membawanya kembali."

"Fm...itu benar. Eugeo, aku juga bersimpati dengan tujuanmu. —Baiklah, jika Integrity Knight Alice berdiri didepanmu, kau akan melakukannya dengan baik jika menggunakan ini."

Cardinal berkata, dan apa yang dia ambil dari jubah hitamnya adalah dua belati yang sangat kecil.

Mereka memiliki bentuk yang sederhana, seolah seseorang hanya mempertajam sisi yang paling panjang. Detil hiasannya hanyalah rantai tipis yang melewati lubang di gagang. Cardinal memberikan Eugeo dan aku masing-masing satu belati yang berwarna cokelat tua berkilau itu. Aku menerimanya, menggenggam pegangannya yang sangat tipis di antara ujung jariku, dan hampir menjatuhkannya karena beratnya tak terduga. Panjangnya bahkan tidak mencapai dua puluh sentimeter, tapi berat yang aku rasakan tidak jauh berbeda dari pedang latihan di Akademi Master Pedang.

"Apa ini...? Senjata rahasia yang dapat membunuh dalam satu serangan atau sesuatu seperti itu?"

Memasukkan jariku kedalam rantai, aku menatap belati yang menggantung di depan wajahku saat aku bertanya, dan Cardinal menggeleng dengan keras.

"Belati itu sendiri hampir tidak memiliki kemampuan ofensif, meski penampilannya seperti itu. Namun, akan ada jalur yang terhubung antara aku, di Ruangan Perpustakaan Besar, dengan orang yang tertikam oleh itu. Dengan kata lain, berbagai sacred art yang dapat kugunakan akan mempengaruhi target. Bagaimanapun, belati itu awalnya adalah bagian dari diriku. —Eugeo, hindari serangan Integrity Knight Alice dan tusuk itu ketubuhnya di suatu tempat, posisi bukanlah masalah. Ini hampir tidak akan mengurangi life sedikitpun. Pada saat itu, aku akan membuat Alice tertidur nyenyak dengan art ku...sampai kalian berdua mengembalikan ingatan gadis itu dan bersiap-siap untuk menghapus synthesisnya."

"Tertidur...nyenyak..."

Sepertinya Eugeo berada dalam keadaan setengah percaya dan setengah tidak percaya, saat dia menatapi belati cokelat tajam di telapak tangannya. Dia pasti dengan enggan menyakiti Alice, walau dengan senjata yang bahkan lebih tipis dari pisau kertas.

Aku dengan pelan menepuk punggung partnerku dan berbicara.

"Eugeo, mari kita percayai orang ini. Jika kau berpikir tentang hal ini, kita harus membuat Alice pingsan atau sesuatu seperti itu jika kita harus bertarung dengannya dan kita pasti akan terluka cukup serius, sama juga dengannya. Dalam perbandingan, ditusuk belati seperti ini hanya akan seperti disengat oleh lalat kuda rawa besar."

"...Meski serangga itu tidak menyengat manusia."

Mungkin suasana hatinya telah pulih, tapi Eugeo mengoreksi kata-kata asalku seperti ketika kami berada di akademi. Kemudian dia berbalik kembali ke Cardinal.

"Aku mengerti. Jika aku tidak dapat membujuk Alice, izinkan aku untuk memanfaatkan ini kalau begitu."

Menggenggam belati dalam telapak tangannya dengan erat, dia membungkuk dengan dalam seakan meyakinkan dirinya sendiri. Aku menghela napas lega juga, melihat belati berbentuk salib yang menggantung di tangan kananku.

"...Cardinal, kau mengatakan bahwa belati ini adalah bagian darimu sebelumnya, kan? Apa yang kau maksud dengan itu?"

Cardinal mengangkat pelan bahunya pada pertanyaanku.

"Walau Administrator dan aku mampu menghasilkan setiap benda, itu tidak seperti kami bisa menghasilkan mereka dari kehampaan."

"Hah...?"

"Sumber daya yang ada di dunia ini terbatas. Kau pasti memahami itu dari bagaimana lahan pertanian tidak bisa ditanami di sekitar Gigas Cedar yang kalian berdua tebang, kan? Dalam cara yang sama, jika aku harus membuat sebuah objek dengan prioritas tertentu, aku harus mengorbankan eksistensi yang sama dengan itu. Ketika aku sebelumnya memiliki kesempatan bertarung melawan Administrator, dia menciptakan pedang, dan aku, tongkat—tapi dalam sekejap, semua harta berharga di dalam ruangan itu seluruhnya lenyap, hehe."

Cardinal memukul tongkat di tangan kanannya ke lantai batu dan gagal untuk menahan tawanya yang agak senang.

"—Namun seperi yang kau lihat, Ruangan Perpustakaan Besar adalah ruangan tertutup. Walau aku mencoba untuk membuat senjata dengan prioritas tinggi, tidak ada objek yang dapat melakukan pertukaran setara. Jumlah buku sebanyak ini memang bisa, yah, karena mereka juga bisa dikatakan berharga, tapi itu hanya berlaku untuk konten mereka, jadi...aku berpikir untuk menggunakan tongkat ini juga, tapi ini dibutuhkan dalam pertarungan melawan Administrator, hingga akhirnya hanya satu benda yang tersisa, yaitu tubuhku sendiri. Tubuh ini tentu berharga, sebab itu adalah benda yang memiliki authority tertinggi di dunia setelah semua."

"Tu..."

"Tubuh...?"

Eugeo dan aku secara naluriah memeriksa tubuh ramping Cardinal dari kepala ke bawah. Aku segera menyadari kasarnya hal itu dan mengalihkan pandanganku, tapi aku yakin kalau gadis ini memiliki keempat anggota badan saat ini. Setelah menelan kata-kataku berkali-kali, aku takut-takut membuka mulut.

"...I-Itu...untuk mengatakannya, kau memotong bagian tubuh itu, mengkonversinya menjadi sebuah objek, lalu meregenerasi bagian itu...?"

"Idiot, tidak akan ada yang dikorbankan kalu begitu. Ini dia."

Setelah memutar kepalanya menghadap kesamping, Cardinal memutar-mutar dan mengibaskan ikatan rambut keriting bewarna chestnutnya yang sangat pendek yang diikat di kedua sisi tengkuk rampingnya.

"Ah, aah...jadi begitu, jadi rambutmu..."

"Kompensasi untuk satu belati itu adalah satu dari ini, yang tumbuh selama dua ratus tahun. Aku bisa menunjukkannya waktu sebelum dipotong jika kalian datang lebih awal."

Dia bilang begitu dengan bercanda, tapi bayangan sekilas akan kesedihan muncul di matanya membuktikan bahwa Cardinal tetaplah seorang gadis dengan bagian dari dirinya yang digunakan sebagai bahan dasar.

Tapi fragmen sentimentalitas itu langsung menghilang ke kedalaman sikap bijaknya.

"—Dengan alasan tersebut, masing-masing belati itu mungkin terlihat kecil diluar, namun memiliki ketajaman dan daya tahan yang mampu menembus baju besi Integrity Knight. Selain itu, mereka dapat menghubungkan jalan melalui ruang kehampaan di sekitar Ruangan Perpustakaan Besar karena mereka masih menjadi bagian dari tubuhku dalam arti tertentu...Aku awalnya membuat mereka untuk berurusan dengan Administrator. Kirito, aku memintamu untuk menusuk tubuhnya setelah menghindari serangan-serangan perkasa miliknya. Aku membuatnya dua karena bermaksud membuat satunya sebagai cadangan, tapi oh yah, kau hanya harus berhasil pada percobaan pertama."

"Ugh...itu adalah beban besar, huh..."

Aku akhirnya menyadari setelah melihat belati yang bergoyang dibawah tangan kananku sekali lagi. Bahwa kilau cokelat tua itu identik dengan warna rambut keriting yang keluar dari tepi topi Cardinal.

Eugeo tampaknya telah memahami nilai belati yang diberikan padanya, meski bingung pada penjelasan campur aduk dengan pengucapan suci, dia dengan gugup membuka mulutnya.

"Er-Erm...apa benar-benar tidak apa? Membiarkanku menggunakan salah satu belati ini untuk Alice, meski hanya ada dua...?"

"Aku tidak keberatan. Dan lagipula..."

Cardinal menahan kata-katanya dan menatapku, matanya seolah bisa melihat pikiran batinku dengan sempurna.

Ya, lagipula, bantuan Cardinal dalam menghilangkan cuci otak Alice diperlukan agar fluctlight dari sepuluh orang, termasuk Eugeo dan Alice, dapat melarikan diri ke dunia nyata. Mungkin lebih baik untuk memulihkan Alice sebelum menjelaskan situasi itu kepada Eugeo. Jika dia bersama dengan orang yang berharga baginya, bahkan Eugeo mungkin setuju untuk melarikan diri dari dunia ini. Tidak, aku harus membuatnya menerimanya, tidak peduli cara apa yang harus kuambil.

Merasa malu karena tanpa sadar aku telah menyetujui rencana pemusnahan dunia sebagai syarat yang diberikan, aku dengan erat mengenggam rantai. Ya...mungkin tidak ada jalan lain untuk Underworld selain menghilang. Tapi meski begitu, aku ingin memasukkan Cardinal ke dalam sepuluh orang tersebut. Walau aku harus menipu dirinya dalam proses itu.

Melarikan diri dari tatapan mata Cardinal yang terasa seperti bisa melihat segala hal, aku berpaling, melonggarkan bajuku, dan menggantungkan belati di sana setelah aku memasukkan rantainya ke kepalaku. Setelah Eugeo melakukan hal yang sama, aku bertanya tentang sesuatu yang sedikit menarik perhatianku selama penjelasan Cardinal tadi.

"Sekarang jika aku berpikir tentang itu...jika ada sesuatu yang diperlukan sebagai kompensasi untuk membuat objek, bagaimana dengan mereka? Tumpukan makanan dan minuman yang kau buat ketika kami datang kesini."

Cardinal dengan pelan mengangkat bahunya naik dan turun, dan menjawab dengan tersenyum.

"Meh, tak perlu resah mengenai hal itu. Aku hanya membuat dua atau tiga buku hukum yang tak berguna menghilang."

Dengan tetap mencengkram rantai yang ada di lehernya dengan kedua tangan, suara aneh 'mgh' keluar dari dalam tenggorokan Eugeo, dia memang penyuka sejarah.

"Nn? Ada apa, kau mau lagi? Kau memang anak laki-laki yang sedang tumbuh, huh."

Eugeo menggelengkan kepala dan tangannya pada saat yang sama untuk menghentikan Cardinal yang akan mengangkat dan mengayunkan tongkatnya.

"T-Tidak, aku sudah kenyang! Lebih baik, silahkan lanjutkan ceritanya!"

"Kau tak perlu menahan diri."

Ketika Cardinal berkata seperti itu, dia tersenyum begitu lebar hingga aku berpikir bahwa dia sudah sepenuhnya tahu, dia menurunkan tongkat, batuk sekali, dan mengubah nada suaranya.

"—Kembali ke topik, tapi kedua belati itu adalah kartu truf kita yang sebenarnya seperti yang telah kujelaskan sebelumnya. Eugeo untuk Alice dan Kirito untuk Administrator, prioritaskan untuk menusuk belati kalian ke target masing-masing. Lakukan apapun jika kau yakin itu akan meningkatkan kemungkinan keberhasilan, baik itu serangan kejutan atau berpura-pura mati. Bagaimanapun, satu-satunya kemampuan kalian yang kuyakini melebihi Integrity Knight adalah kelicikan kalian...tidak, bagaimana kalian terbiasa dengan manuver pertempuran yang sebenarnya."

Sebelum Eugeo yang tampak agak marah bisa menjawab, aku menimpali dengan kata 'aku sangat setuju'.

"Aku berharap kita bisa berjuang sampai akhir hanya dengan tipu daya, tapi...sayangnya sisi mereka memiliki keuntungan sebagai tuan rumah. Kita harus bersiap untuk serangan frontal. Itu membawa pointku, Cardinal. Aku mendengar perkataanmu tadi, yaitu 'menyediakan peralatan yang setara dengan Integrity Knight', pada dasarnya itu berarti kau akan mengeluarkan senjata atau armor dari sacred instrument class?"

Ini mungkin situasi yang tegang, tapi jiwa yang terukir padaku, sebagai anggota dalam clearing group, benar-benar merespon akan kata «senjata terkuat dari event». Ketika jantungku berdetak cepat saat aku mengantisipasi kata-kata Cardinal, gadis itu membuat wajah jengkel untuk pertanyaan itu dan menyuarakan perkataan tumpul.

"Bodoh, hal apa yang telah memasuki telingamu itu? Lihat di sini, pembuatan dari objek peringkat tinggi membutuhkan..."

"—Jadi begitu...kompensasi dari suatu objek dengan kelas yang setara dibutuhkan...kan..."

"Jangan menunjukkanku wajah itu, wajah seperti seorang anak yang menjatuhkan camilannya! Kau membuatku mulai meragukan keputusanku memilih kalian berdua. Dari awal, kau seharusnya tahu bahwa senjata bukanlah sesuatu yang dapat dikontrol secara bebas. Tidak peduli seberapa kuat senjata yang kuberikan, kau tidak bisa berharap untuk menang melawan orang-orang dari Integrity Knight, dengan peralatan kesayangan mereka yang diperlakukan sebagai daging dan darah mereka, dan semangat mereka yang telah ada selama puluhan tahun."

Aku teringat cambuk Eldrie, yang dengan bebas bisa meluncur di udara, seperti ular perak, dan aku hanya bisa mengangguk. Itu benar, bahkan di SAO, itu adalah hal yang tabu untuk segera menggunakan senjata langka ke pertarungan yang sebenarnya hanya karena kau telah menemukannya.

Ketika aku depresi, tidak seperti anak yang menjatuhkan kue camilannya tapi bahkan seperti anak yang menjatuhkan seluruh kue natal, Cardinal melanjutkan dengan perpaduan mimik jijik dan kasihan di wajahnya.

"Dari awal, kau dan Eugeo sudah memiliki pedang kalian sendiri yang cukup kuat sehingga aku tak perlu membuatnya lagi, kan?"

"Eeh!"

Eugeo bereaksi kali ini.

"Apa kau akan merebutnya untuk kami!? Blue Rose Swordku dan...pedang hitam Kirito!?"

"Mau bagaimana lagi. Kedua pedang itu benar-benar sacred instruments yang tak tergantikan. Pedang yang pertama, senjata yang hanya ada empat di dunia, itu hanya digunakan oleh ksatria naga. Pedang kedua, esensi dari pohon iblis yang terus menyerap sumber daya dari daerah yang luas selama beberapa ratus tahun...untuk membuat senjata pada kelas yang sama seperti itu akan menjadi tugas sulit bahkan bagiku dan Administrator. Lagipula, kalian berdua sudah cukup terbiasa menggunakan kedua pedang itu."

"Oh, ayolah...jika kau bisa melakukan itu, katakanlah sebelumnya."

Aku menarik napas lega sambil menyandarkan punggungku ke rak buku di sisiku. Aku setengah- meninggalkan keinginanku untuk mengembalikan kedua pedang berharga yang disita dari kami sebelum kami dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah, tapi aku sama sekali tak akan mengeluh jika mereka dikembalikan kepada kami.

"Tapi...walau kau berbicara tentang mengembalikan mereka, mustahil untuk menteleport mereka secara langsung kesini, kan?"

"Itu benar, tampaknya kau akhirnya mengerti."

Setuju dengan kata-kataku, Cardinal menyilangkan lengannya dengan ekspresi yang rumit.

"Aku berani mengatakan kalau kedua pedang itu disimpan di kubah peralatan di lantai tiga Kathedral. Itu hanya tiga puluh mel...tiga puluh meter atau lebih jauh dari pintu belakang terdekat, tapi seperti yang kau lihat sebelumnya, pintu yang terhubung ke dalam tower tidak dapat dibuka untuk kedua kalinya. Serangga yang dibuat oleh Administrator untuk mencariku akan segera berkerumun disana...karena itu, aku tidak punya pilihan selain mengeluarkan kalian berdua dari pintu itu dan ambillah pedang itu dari kubah peralatan, kemudian kalian naik ke menara. Untungnya, ada tangga besar di depan kubah peralatan."

"Hmm...mulai dari lantai tiga, huh...Ngomong-ngomong, lantai berapa ruang Administrator berada?"

"Katedral Pusat tumbuh lebih tinggi tahun demi tahun...seharusnya hampir seratus lantai pada saat ini..."

"Hyaa..."

Tenggorokanku tidak sengaja tercekik. Menara batu putih raksasa yang dibangun di tengah-tengah Centoria tentu cukup tinggi untuk dilihat puncaknya dari kota manapun—tapi aku tidak berpikir itu benar-benar memiliki tinggi seperti gedung pencakar langit di dunia nyata. Kami tidak akan bertarung di setiap lantai, kan; aku tanpa sadar mengatakan itu selagi merasa agak sedih mendengarnya.

"Ermm, tidak bisakah kita mulai dari lantai lima puluh atau lebih tinggi...?"

"Itu tergantung pada sudut pandangmu, Kirito."

Orang yang menyela dengan senyum pahit adalah Eugeo, yang sepuluh kali lebih optimis daripada diriku.

"Musuh yang akan datang pada kita mungkin akan berpencar sesuai dengan panjang jarak."

"Ah, uh, yah, itu mungkin benar, tapi..."

Menggerakkan punggungku ragu-ragu, aku duduk di lorong sebelum dengan datar berdeham.

"...Well, aku pernah naik tangga terbuka di Tokyo Tower lama..."

"Hah?"

"Tidak, tidak apa-apa. —Aku rasa rencana operasi kita telah diputuskan untuk saat ini. Pertama, kita akan mengambil pedang dari kubah peralatan. Dan dengan kedua pedang itu, kita akan mengalahkan Integrity Knight yang muncul saat kita menaiki menara.Jika kita bertemu Alice, kita akan membuatnya tertidur dengan belati dan mengirimnya ke Ruangan Perpustakaan Besar. Jika kita mencapai lantai keseratus, kita menusuk Administrator dengan belati itu juga dan mengambil fragmen memori Alice."

Aku akhirnya bersiap untuk yang terburuk dan kata-kata tenang Cardinal menghujaniku.

"Sayangnya, ada satu hal lagi yang perlu dilakukan."

"Eh...ap-apa?"

"Pedang kalian tentu kuat, tapi kalian tidak akan mengalahkan Integrity Knight hanya dengan itu. Itu karena mereka memiliki teknik mengerikan untuk memperkuat kemampuan senjata mereka beberapa kali."

"Ah...apa itu «armament full control art»...?"

Cardinal dengan singkat mengangguk pada suara serak Eugeo.

"Senjata dari kelas sacred instrument mewarisi properti dari objek yang digunakan sebagai kompensasi. «Frost Scale Whip» Eldrie yang kalian berdua lawan adalah penguasa danau terbesar di kerajaan timur, yaitu ular putih berkepala dua yang Administrator tangkap hidup-hidup dan mengubahnya menjadi senjata. Namun, senjata itu memiliki parameter,kelincahan ular, ketajaman sisiknya, dan ketepatan bidikannya, bahkan setelah ular itu menjadi cambuk bisu. Full control art mengeluarkan semua hal yang disebut «memori senjata», mewujudkan kekuatan ofensif yang lebih kuat yang pada awalnya mustahil dilakukan."

"Uhn, jadi cambuknya yang menjadi ular bukan karena art ilusi atau sesuatu seperti itu, huh..."

Aku menrintih saat aku mengusap dadaku yang terkena cambuk Eldrie dengan ujung jariku. Sambil berdoa agar ular putih itu tidak memiliki racun yang tertunda. Aku menajamkan pendengaranku pada penjelasan Cardinal yang terus berlanjut.

"Setiap Integrity Knight menguasai full control art untuk senjata yang diberikan kepada mereka oleh Administrator. Itu termasuk latihan pelafalan cepat agar mereka tidak terjebak saat pembacaan ritual art yang panjang. Aku rasa kita benar-benar tidak memiliki waktu untuk melakukan latihan itu, tapi kemenangan tidak akan benar-benar didapatkan jika kalian berdua tidak belajar full control art untuk pedang kalian masing-masing."

"Tidak...pedang hitamku bukanlah binatang, tapi hanya pohon besar...Apa itu memiliki memori untuk dilepaskan?"

"Tentu. Belati yang kuberikan sebelumnya juga sama, mereka mampu membuka saluran padaku saat sebuah serangan dikeluarkan, melalui proses yang identik dengan full control art, itu karena mereka memiliki memori, atau properti, dalam kata lain menjadi rambutku. Tak perlu dikatakan lagi bahwa wujud pedangmu sebelumnya, Gigas Cedar, juga termasuk dan asal Blue Rose Sword Eugeo, sebuah balok es abadi, juga sama."

"Itu...itu hanya es?"

Eugeo juga membuka mulutnya dalam keadaan linglung. Itu wajar, sebab walau aku harus menyebutkan sifat es, aku tidak bisa memikirkan sifat lain selain «sangat dingin». Aku memiringkan kepalaku dalam kebingungan, tapi tetap saja, salah satu dari dua dewa di dunia ini mengatakan itu, jadi aku hanya bisa menerimanya.

"Well...jika kau mengajarkan kami ritual art itu, itu mungkin akan dapat digunakan. Walau itu full control art untuk pedang kami. Aku akan benar-benar bersyukur untuk mendapatkan gerakan spesial, jadi seperti apa tekniknya?"

Tapi jawabannya di luar dugaanku sekali lagi.

"Jangan berperilaku seperti anak manja! Aku akan menjelaskan ritual artnya, tapi kau sendirilah yang memutuskan akan seperti apa tekniknya!"

"Eh...eeh! Kenapa!?"

"Tidak cukup hanya dengan simpel melafalkan ritual art untuk «melepaskan memori», esensi dari armament full control art. Pemilik harus dengan kuat mengimajinasikan bentuk pelepasan dari senjata kesayangannya...kau harus mengingat. Daripada menyempurnakan control art itu sendiri, proses mengingat bisa dikatakan menjadi kekuatan yang lebih berpengaruh. Dengan itu, kekuatan imajinasi...yaitu «incarnation», adalah prinsip dasar dibalik dunia ini..."

Aku bahkan tidak bisa mengerti lebih dari separuh perkataan Cardinal. Terutama kata,'incarnation', yang aku tidak tahu apakah itu berasal dari pengucapan suci atau pengucapan umum dan mencoba untuk menanyakan maknanya, tapi aku merasakan nyeri pada ingatanku sebelum aku bisa menanyakannya.

Itu saat...ya, sekitar dua bulan lalu. Ketika aku tenggelam dalam depresi saat kuncup bunga zephyria hancur dan bertebaran di taman bunga asrama siswa pemula di Akademi Master Pedang, seseorang...tidak, itu bukan seseorang. Familiar Cardinal, Charlotte si laba-laba hitam kecil, memanggilku. 'Setiap ritual art tidak lebih dari incarnation, alat untuk memandu dan mengatur mental imajinasimu', katanya.

Aku mengimajinasikan sebuah gambar berdasarkan kata-katanya. Membayangkan energi kehidupan dilepaskan dari keempat bunga suci di dalam taman bunga sekitar dan mengalir ke bibit yang tersisa di tanah. Meski aku tidak mengucapkan satupun kata ritual art, cahaya hijau memenuhi udara dan menyelimuti bibit...dan dengan itu, zephyrias hidup kembali.

Ya, itu pasti «proses mengingat» yang Cardinal bicarakan. Aku akan setuju jika itu yang terjadi, aku ragu bahwa itu bisa terjadi untuk mengekspresikan seluruh fenomena semacam itu dalam ritual art.

Mungkin setelah membaca pikiran batinku, Cardinal mengangguk sekali dengan ekspresi serius, kemudian menoleh kepada Eugeo, yang masih bingung, dan berbicara.

"Ikuti aku. Istirahat sebentar, dan kita akan melakukan ritual art itu bersama-sama nanti."

Setelah meninggalkan koridor buku sejarah dan turun beberapa tingkat, kami kembali ke ruang bundar di lantai pertama Ruangan Perpustakaan Besar di mana pertama kali aku dibawa.

Di tengah meja ada banyak manjuu dan sandwich yang masih tersisa di atas piring dan juga uap yang masih ada di atasnya meski sudah lebih dari dua jam ditinggal. Ternyata itu tidak hanya sebuah art yang digunakan untuk memulihkan life orang-orang yang memakannya, tapi juga art untuk mencegah mereka menjadi dingin.

Wajar jika nafsu makanku bangkit kembali setelah melihat itu, tapi aku merasa sulit untuk memakannya sekarang karena aku tahu kalau makanan itu berasal dari buku di rak buku sebelumnya. Menatap Eugeo dan aku, yang masih berdiri dengan pikiran yang saling bertentangan dalam diri kami, Cardinal dengan dingin berbicara.

"Sepertinya makanan itu akan menjadi penghalang, aku akan menghilangkannya jika kalian tidak mau memakannya."

"T-Tunggu, tolong taruh mereka di tempat yang tidak bisa kami lihat untuk saat ini. Kami akan menyimpannya untuk nanti ketika kami keluar dari sini."

Gadis itu dengan ringan menggeleng dan membawa tongkat di tangan kanannya pada kata-kata keras kepalaku. Dengan satu ketukan pada tepi meja, piring besar tenggelam ke dalam meja bersama dengan berbagai manjuu.

Di tempat itu, tiga kursi dengan sandaran kembali muncul dari lantai dan Cardinal melambaikan tangannya untuk meminta kami duduk. Terduduk di kursi itu, aku menatap meja yang rapi-dan-bersih-sekarang tanpa ada apa-apa diatasnya.

Itu tidak seperti aku ingin memunculkan kembali manjuu; Aku sedang mencoba untuk memvisualisasikan bentuk pedang kesayanganku yang saat ini tidak ada—nama sementaranya, «pedang hitam». Namun, karena fakta aku hampir tidak memiliki banyak kesempatan untuk memegangnya, aku tidak mampu untuk menirunya dengan sempurna, sampai ke detailnya.

Mencoba hal yang sama sepertiku dan tampaknya merasakan penderitaan yang sama, Eugeo yang duduk di sampingku berbicara dengan ekspresi resah.

"...Cardinal-san, apa ini benar-benar mungkin? Memvisualisasikan bentuk pedang yang benar-benar tidak ada di sini..."

Namun Cardinal memberikan jawaban yang tak terduga saat dia duduk di sisi yang berlawanan.

"Lebih baik kalau tidak ada di sini. Jika benar-benar ada di depan matamu, mental imajinasimu akan membeku di sana. Tangan atau bola matamu tidak perlu untuk merasa, mendekati, dan melepaskan memori pedangmu. Jika kau bisa melihatnya di mata pikiranmu, itu sudah cukup."

"Mata...pikiran, huh..."

Bergumam, aku mengingat saat bibit zephyria dihidupkan kembali sekali lagi. Jika aku benar, aku tidak menyentuh dan menatap satupun dari keempat bunga suci yang membagi kehidupan mereka, maupun zephyria yang diambang kematian saat itu. Aku hanya percaya dan memvisualisasikannya. Untuk kekuatan hidup meluap, mengumpul, dan mengalir masuk.

Sepertinya Eugeo mencapai pemahamannya sendiri juga, karena dia memberi beberapa anggukkan kecil. Gadis berjubah itu menatap kami, samar-samar tersenyum, dan kemudian berbicara.

"Bagus. Sekarang, pertama visualisasikan dengan kuat pedang kesayangan kalian berada di atas meja. Jangan berhenti sampai aku memberi isyarat."

"...Aku mengerti."

"Aku akan melakukan apa yang kubisa."

Eugeo dan aku menjawab pelan, lalu menegakkan diri di atas kursi dan menjatuhkan pandangan kami ke meja.

Aku menyerah sekitar lima detik sebelumnya, tapi aku terus menatap kali ini. Tidak perlu terburu-buru. Aku akan mulai dengan membersihkan pikiranku.

«pedang hitam». Sekarang aku berpikir tentang hal itu, itu agak menyedihkan karena dia dipanggil oleh julukan setengah-setengah seperti itu, tidak, nama sementara sampai sekarang.

Itu pada hari ketujuh dan bulan ketiga saat bahan dasarnya, cabang dari atas pohon besar, Gigas Cedar, dipoles menjadi bentuk pedang setelah satu tahun penuh, melalui hasil karya pengerajin di ibu kota, Sadore. Hari ini adalah hari kedua puluh empat dan bulan kelima, jadi itu bahkan belum tiga bulan sejak dia menemaniku. Selain pemeliharaan dan latihan, aku melepaskannya dari sarungnya sekali untuk melawan kepala swordsman-in-training tahun sebelumnya, Uolo Levanteinn, dalam pertandingan dan sekali untuk melawan kepala swordsman-in-training tahun ini, Raios Antinous, di pertempuran sesungguhnya. Itu saja.

Namun, saat kedua waktu itu, pedang hitam membantuku menang dengan menunjukkan kekuatan yang hanya bisa dikeluarkan oleh kehendak pedang. Terlepas dari fakta bahwa akulah orang yang menebang bentuk asalnya, Gigas Cedar. Pengenalan kami mungkin benar-benar sebentar, tapi rasa persatuan dan ketetapan hati ketika aku memegang gagangnya dan melepaskan skill pedang, tidak akan kalah dengan pedang kesayanganku di masa lalu.

Meski demikian, alasan mengapa aku ragu untuk memberikan pedang hitam itu nama, karena aku merasa perbedaan dengan senjata yang Eugeo miliki, «Blue Rose Sword», mungkin barangkali terlalu hebat saat ditaruh bersebelahan...

Putih dan hitam. Bunga dan pohon. Dua pedang dengan bagian yang sama dan bagian yang berlawanan.

Tidak ada dasar untuk itu, tapi aku selalu terikat oleh satu firasat sejak aku berangkat dari Desa Rulid, dua tahun yang lalu. Bahwa Blue Rose Sword dan pedang hitamku mungkin saja akan ditakdirkan saling beradu suatu hari nanti.

Pikiranku mengatakan hal itu seharusnya tidak terjadi. Karena pemilik pedang, Eugeo dan aku, tidak memiliki satu alasan pun untuk saling bertarung. Namun di sisi lain, hatiku memberi tahu bahwa hal itu tidak berlaku untuk pedang itu sendiri. Bagaimanapun juga, batang Gigas Cedar ditebang oleh Blue Rose Sword dan jatuh ke tanah karena itu...

Aku terus memvisualisasikan bentuk pedang hitam ke atas meja meski kenangan dan kecemasan, daripada kekosongan, mengisi pikiranku. Ujung pedang sederhana yang berbentuk kerucut terpotong...Pegangan yang berbalut kulit hitam. Badan dengan kurva yang kuat. Sulit dipercaya bahwa mata pisau yang agak tebal dan transparan, seperti kristal hitam itu, awalnya adalah pohon. Cahaya yang bersinar didalamnya, membuat tepi dan sudut yang setajam pisau berkilau indah...

Bentuk setiap bagian dari pedang ilusi bergetar kabur pada awalnya, tapi mulai stabil saat pikiranku memudar. Dengan segera, itu memiliki ketangguhan, berat, dan bahkan kehangatan, dan mulai melepaskan aura padat di atas meja.

Ketika aku hanya terus menatap pedang mengkilap itu, aku mendengar suara dari suatu tempat.

"Lebih dalam. Bayangkan lebih dalam. Sampai kau merasakan memori pedang yang tersembunyi, esensi dari keberadaannya."

Kegelapan pedang menyebar tanpa suara. Menyelimuti meja dan lantai, rak buku dan lampu di sekitarnya, itu menelan dunia dalam kegelapan. Sebelum aku mengetahuinya, hanya pedang dan diriku yang tetap ada di ruang redup dan tak terbatas ini. Pedang hitam diam-diam naik, berhenti bergerak dengan badannya di bawah dan ujungnya di atas. Tubuhku bergetar dan terjatuh, kesadaranku tertarik ke dalam pedang.

Ketika kesadaranku kembali, aku berubah menjadi pohon cedar, berakar ke bumi dengan dingin.

Sebuah hutan lebat mengelilingiku. Tapi untuk beberapa alasan, tidak ada satupun pohon yang tumbuh di sekitarku. Aku berdiri sedih di tengah lingkaran kosong dan lebar ini. Aku mencoba memanggil lumut dan pakis yang menutupi tanah di kakiku, tapi tidak ada jawaban.

......Sunyi.

Kesedihan, perasaan kesepian, mengisi diriku. Ingin menyentuh cabang pohon lain dengan cabang milikku, aku dengan semangat menggerakkan mereka setiap kali angin bertiup, tapi sayangnya, mereka tidak dapat mencapainya.

Mereka dapat mencapainya jika aku meregangkannya lebih jauh. Dengan itu dalam pikiran, aku menyerap energi bumi dari akarku dan energi matahari dari daunku dengan semua yang kumiliki. Seketika, batangku mengembang tebal dan cabangku tumbuh panjang. Daunku, yang seperti jarum runcing, mendekati daun hijau bercahaya milik pohon oak konara yang tumbuh paling dekat.

Namun, aah, sayangnya. Daun-daun oak konara layu tepat sebelum aku menyentuhnya, semua jatuh ke tanah dalam pusaran. Bahkan cabang dan batangnya kehilangan kelembapan dan membusuk, mengering, dan tak lama runtuh dari akarnya. Bukan hanya konara. Pohon-pohon lain yang berdiri di sekitar tanah kosong layu dan mati satu demi satu. Lumut pun segera menghilang.

Aku berduka sesaat di tengah-tengah tanah kosong yang semakin meluas, dan menyerap energi dari tanah dan matahari sekali lagi. Batangku menderit seperti membengkak keluar, cabangku berderit saat mereka memanjang ke segala arah. Aku beralih ke Machilus terdekat berikutnya, dengan putus asa mencoba menyentuhnya dengan daunku.

Tapi sekali lagi, daun pohon itu layu dan batangnya membusuk setelah kehilangan hidupnya, dan jatuh sebelum aku melakukan kontak. Dengan pohon di sampingnya. Dan setelahnya, pohon-pohon ambruk satu demi satu dan tanah kosong meluas lagi.

Pohon-pohon di dekatnya akhirnya layu karena aku menyerap energi dari bumi dan matahari dalam upayaku memperpanjang cabangku. Bahkan setelah memahami itu, aku tidak menyerah untuk membuat kontak dengan pohon yang lain. Sudah berapa kali hal ini diulang? Sebelum aku mengetahuinya, aku menjadi beberapa puluh kali lebih besar dari pohon-pohon di hutan dan lahan meluas beberapa puluh kali dari ukuran aslinya. Dan hal yang sama berlaku untuk kedalaman rasa kesendirianku.

Tidak peduli seberapa jauh cabangku memanjang, hari ketika ujung daunku mencapai daun pohon lainnya tidak akan pernah datang. Pada saat aku menyadari itu, aku tidak bisa kembali lagi. Daun dan cabangku yang menjulang tinggi di atas hutan, terus memonopoli banyak sinar matahari di luar kehendakku, dan akarku di dalam tanah, terus menyerap banyak energi dari bumi.Lahan kosong dan dingin terus meluas hari demi hari dan pohon-pohon terus mati, satu demi satu...

"Bagus, itu sudah cukup."

Tiba-tiba aku mendengar suara itu dan keluar dari pohon cedar.

Hanya dalam sekejap, pemandangan sekitar kembali ke Ruangan Perpustakaan Besar di mana aku berada. Rak buku tak berujung disinari oleh lampu cahaya oranye. Lantai batu dipoles. Sebuah meja bundar—dan di atasnya ada dua pedang. Mereka «pedang hitam»ku dan «Blue Rose Sword» Eugeo. Mereka tampak persis seperti yang asli, tapi itu tidak mungkin. Kedua pedang kesayangan kami telah disita ketika kami dibawa ke Kathedral.

Ketika aku menatap pedang putih dan hitam dengan bingung, sebuah tangan kecil terulur dari seberang meja dan memegang pegangan pedang hitam terlebih dahulu. Pedang tiba-tiba bergetar dan menghilang tanpa suara.

Selanjutnya, tangan itu menyentuh Blue Rose Sword disampingnya. Itu juga menghilang dalam sekejap, seolah tertarik ke dalam telapak tangannya.

"......Ya. Aku dapat mengkonfirmasikan bahwa aku telah menerima «memori senjata» yang telah kalian alami."

Mengangkat kepalaku pada suara yang tampak puas itu, mataku bertemu dengan mata dari gadis berjubah hitam yang duduk diseberang—gadis bijaksana, Cardinal. Lalu, aku akhirnya menyadari bahwa aku tampaknya melihat sesuatu. Saat aku melihat ke samping, mata hijau Eugeo yang tanpa arah berkeliaran, tapi tiba-tiba tubuhnya bergetar dan dia berkedip beberapa kali.

"...Huh...Aku berada di puncak gunung tertinggi di Puncak Barisan Pegunungan..."

Secara naluriah aku memanggil partnerku, yang masih bergumam beberapa kata samar, sambil tersenyum kecut.

"Jadi kau pergi ke suatu tempat seperti itu?"

"Ya. Itu adalah tempat yang sangat dingin dan benar-benar sepi..."

"Ayolah, ini bukan waktunya untuk bersantai."

Dimarahi karena aku hendak mengobrol, aku menegakkan postur tubuhku. Ketika aku diam-diam mengintip sisi lain meja, kelopak mata gadis muda itu tertutup di belakang kaca matanya. Alisnya sedikit diturunkan, menunjukkan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu, tapi akhirnya, dia mengangguk ringan dan berbicara.

"Fm...Daripada menggunakan teknik, tampaknya lebih baik untuk memprioritaskan kesederhanaan ritual art. Sekarang, Kirito, mari kita mulai dengan pedangmu terlebih dulu."

Dia dengan ringan mengetuk meja dengan ujung jari tangan kirinya dan selempar kertas kulit diam-diam muncul diatasnya. Dia menyentuh kertas kulit kosong dengan telapak tangan kanannya kali ini, dengan lembut menyapu dari atas ke bawah.

Hanya dengan itu, sebuah ritual art, dengan panjang lebih dari sepuluh baris, muncul diatasnya. Memutar kertas kulit ke sekitar, dia menaruhnya di depanku. Mengulangi tindakan tersebut sekali lagi, dia memberikan lembar kedua di depan Eugeo.

Aku dan partnerku saling bertukar pandang, kemudian menatap lembaran kertas kulit di depan kami pada waktu yang sama.

Karakternya, yang tertulis dalam tinta biru-hitam dan sebuah script rapi, seluruhnya berpengucapan suci, yang berarti hurufnya sama sekali bukan pengucapan umum atau Jepang. Itu mengikuti format orthodox untuk ritual sacred art, dengan baris nomor di kiri dan text di kanan. Aku membalik-balik teks, yang dimulai dengan [system call] di baris pertama dan berakhir dengan [enchan armament] di baris kesepuluh, saat aku menghitung jumlah kata, semuanya berjumlah lebih dari dua puluh lima kata.

Benar, ini mungkin lebih pendek daripada full control art untuk «Frost Scale Whip» yang Integrity Knight Eldrie gunakan, tapi menghafal semua ini sungguh sangatlah sulit.

"Er-ermm...apa aku membawa ini denganku..."

"Tidak perlu dikatakan lagi bahwa kau tidak bisa membawanya. Kau harusnya tahu bahwa gadis di akademi, para siswa, tidak diizinkan untuk melihat buku mereka selama praktek yang sebenarnya."

Setelah menolakku dengan wajah jengkel, Cardinal melanjutkan.

"Pertama, jika kau mengambil sebuah benda yang berhubungan dengan ruang perpustakaan ini keluar dan jatuh ke tangan musuh, ada kemungkinan ruang isolasi ini akan hancur."

"L-Lalu belati yang kami dapatkan sebelumnya..."

"Keduanya berhubungan denganku, jadi tidak akan menimbulkan masalah. Ayolah, berhenti mengeluh dan hafalkan. Eugeo sudah memulainya."

Aku melihat ke samping dengan shock dan seperti yang sudah kuduga darinya, Eugeo sedang memamerkan kekuatan siswa terhormatnya, menatap tajam pada kertas kulit seolah dia mengkonsumsinya dan menggerakkan bibirnya dengan gerakan kecil. Dengan pasrah aku mengalihkan mataku ke teksku sendiri, Cardinal tanpa ampun menambahkan petunjuk selanjutnya.

"Batas waktunya tiga puluh menit, pastikan sudah menghafalnya sebelum itu."

"T-Tidak mungkin, ini tidak seperti ujian akademi...bagaimana kalau lebih sedikit..."

Saat aku mulai mengkritik dan hampir menyerah, Cardinal berteriak lagi.

"Bodoh! Perhatikan, kalian berdua dimasukkan ke penjara bawah tanah dan pedang kalian disita kemarin, sekitar pukul sebelas pagi. Dan hak kepemilikan ulang akan gagal jika dua puluh empat jam berlalu sejak saat itu, jadi kau akan kehilangan kesempatan untuk menggunakan full control art."

"Ah...i-itu benar. Ngomong-ngomong, jam berapa sekarang...?"

"Jam tujuh sudah lama lewat. Hampir tidak akan ada waktu yang tersisa jika kita memprediksi kalau kalian membutuhkan waktu dua jam untuk mengambil pedang kalian."

"......M-Mengerti."

Kali ini, aku menguatkan tekadku dan mulai memelototi garis perintah dengan serius.

Untungnya, sacred art Underworld ditulis dalam bahasa Inggris yang familiar, tidak seperti Alfheim Online. Kalimatnya juga dekat dengan bahasa pemrograman, jadi mungkin bagiku untuk menghafalnya dengan pemahaman.

Ritual art yang ditulis oleh Cardinal ?declares a reference to the embedded data within the object (dengan kata lain memori senjata) saved within the main memory; ?selects only the required parts and modifies them; ?assigns them to the sword, as it currently is, to amplify its offensive ability; Itu tampaknya telah disusun dalam tiga proses. Sebagai teknik, itu dekat dengan «image buffer overwriting experiment» yang kulakukan pada bunga zephyria saat aku masih siswa pemula, tapi ritual art ini penuh dengan kosakata yang tidak ada dalam buku pelajaran akademi, jadi mustahil menulisnya tanpa mengetahui semua perintah seperti Cardinal.

Aku membuat sebagian kepalaku berpikir tentang topik yang berkaitan bahkan saat aku menghafal sepuluh baris ritual art dalam pikiranku.

Para peneliti Rath yang menciptakan Underworld menyebut system data yang mendokumentasikan semua benda di dunia ini sebagai «mnemonic visual». Itu istilah yang telah kuketahui dua tahun yang lalu, tapi aku menjelaskan strukturnya secara dasar pada Asuna dan Sinon di toko Agil di Okachimachi, Taitoku-ku. Pemahamanku terus bertambah sejak aku masuk ke dunia ini melalui observasi dan eksperimen.

Setiap eksistensi di Underworld bukanlah model poligon seperti yang ada di VRMMO saat ini. Memori batu dan pohon, anjing dan kucing, peralatan dan bangunan, dan semacamnya dibaca, disamakan kedudukannya, dan disimpan ke dalam penyimpanan utama, «Main Visualizer», dari kesadaran orang-orang yang terhubung—tidak, yang tinggal di dunia ini. Dan ketika kebutuhan muncul, memori itu ditarik keluar dan diberikan kepada orang yang masuk. Dengan itu, membuat zephyria yang seharusnya tidak mekar di kerajaan utara, mekar hanya melalui penulisan ulang data dari «tidak dapat mekar» ke imajinasi «dapat dibuat untuk mekar».

Setiap benda di dunia ini akan disimpan sebagai memori.

Jika itu benar, akan mungkin untuk melakukan yang sebaliknya dan memodifikasi memori menjadi objek juga, kan? Itu akan membuat kejadian yang pertama kali kulihat dan tidak dapat dimengerti, setidaknya.

Dua tahun dan dua bulan yang lalu, setelah terbangun di hutan selatan dari Rulid, aku tiba di tepi sungai Ruhr yang mengalir melalui hutan. Disana, aku melihat bayangan yang terasa terlalu jelas. Pemandangan akan seorang anak laki-laki dengan rambut kuning muda, seorang gadis dengan rambut pirang panjang, dan seorang anak laki-laki dengan rambut pendek hitam berjalan di bawah sinar matahari yang terbenam.

Bayangan itu lenyap hanya dalam hitungan detik, tapi itu jelas bukanlah ilusi. Aku masih bisa dengan jelas mengingatnya sampai sekarang, ketika aku menutup mataku. Matahari terbenam yang berwarna merah, cahaya yang bergoyang pada rambut gadis itu, suara langkah kaki di atas rumput pendek. Waktu itu, aku pasti memanggil tiga anak itu dari memoriku sendiri. Anak laki-laki berambut kuning muda itu pasti Eugeo. Gadis berambut pirang itu Alice. Dan anak lali-laki berambut hitam itu—...

"Sudah tiga puluh menit. Bagaimana?"

Aku menghentikan pikiran yang berjalan di sudut kesadaranku karena suara Cardinal.

Membalik kertas kulit di atas meja, aku mencoba mengulangi bacaan ritual art dari awal. Aku dengan mudah mengingat semuanya sampai akhir meski tidak berkonsentrasi penuh, dan dengan lega menjawab.

"Ini mungkin berjalan mulus."

"Itu jawaban yang hampir bertentangan. Bagaimana denganmu, Eugeo?"

"Er...erm, itu mungkin semp...baik."

"Baiklah."

Setelah mengangguk dengan wajah seperti menahan senyuman pahit, Cardinal menambahkan.

"Aku akan mengatakan ini terlebih dahulu, kalian tidak boleh menggunakan full control art sembarangan, terlepas dari seberapa kuatnya itu. Pedang akan kehilangan sedikit life mereka bahkan hanya dengan sekali penggunaan. Tentu saja, kalah karena kamu terlalu menahan dalam menggunakannya lebih terlarang. Gunakan ketika kalian menilai bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk menggunakannya. Pastikan untuk memasukkannya dengan benar ke dalam sarungnya agar lifenya dapat pulih."

"Ini...kedengarannya sulit..."

Gumamku sambil menghela napas, kemudian membuka kembali kertas kulit di meja. Aku membaca ritual art itu lagi untuk memeriksa dan menyadari sesuatu.

"...Huh? Ritual art ini diakhiri dengan kalimat, «enhance armament», kan?"

"Kenapa dengan itu, kau punya sesuatu untuk dikatakan?"

"T-Tidak, bukan itu yang kumaksud. Jika aku tidak salah, full control art yang Integrity Knight Eldrie gunakan ketika kami bertarung dengannya memiliki ritual art yang mengikutinya...Erm, re, re-re..."

Eugeo menjawab dari samping saat aku ragu dan bingung.

"Release recollection...kan? Ketika dia meneriakkan itu, cambuk menjadi ular. Itu benar-benar mengejutkan, bukan?"

"Ya, benar. Cardinal, full control art kami tidak perlu itu?"

"Fm..."

Gadis bijak berpakaian hitam itu menjawab keraguanku sambil membuat wajah yang tampak seperti akan mengatakan sesuatu yang mengganggu lagi.

"Begini,armament full control art memiliki dua tahap. Mereka adalah «penguatan» dan «pelepasan». Penguatan mengacu pada kebangkitan sebagian memori senjata dan mewujudkan kemampuan serangan baru. Dan pelepasan mengacu pada...seperti istilahnya, hal itu membangkitkan semua memori senjata, melepaskan kekuatan tak terkendali."

"Kekuatan tak terkendali, huh...jadi begitu. Jadi «Frost Scale Whip» Eldrie dapat memperluas jangkauan dan membelah saat diperkuat, dan itu berubah menjadi ular ketika dilepaskan, menyerang musuh secara otomatis, huh..."

Mengkonfirmasi kata-kataku dengan sekali berkedip, Cardinal secara terus terang berkata.

"Itu memang yang terjadi. Namun, aku akan mengatakan ini terlebih dahulu. Kalian berdua masih jauh dari kemampuan untuk menggunakan release art."

"Mengapa...mengapa begitu?"

Gadis itu beralih ke Eugeo, yang mengedipkan matanya karena terkejut, dan melanjutkan dengan nada tegas.

"Aku bilang itu kekuatan tak terkendali, kan? Kemampuan ofensif yang keluar dengan melepaskan memorinya tentu tidak dapat dikendalikan oleh pendekar pedang yang baru saja belajar ritual art. Apalagi jika itu adalah sacred instrument dengan prioritas tinggi...itu akan menyeret bukan hanya musuh, tapi diri kalian juga, dan jika kalian menggunakannya sembarangan, itu bahkan mungkin akan membahayakan nyawa kalian."

"M-Mengerti."

Eugeo akhirnya patuh mengangguk, menunjukkan bakat siswa terhormatnya dari zaman akademi kami, jadi aku hanya bisa menganggukkan kepalaku ke atas dan ke bawah. Tapi sepertinya Cardinal merasakan ketidakpuasanku karena dia menambahkan sambil mendesah.

"Hari disaat kalian berdua dapat menggunakan release art pasti akan datang...mungkin, atau mungkin tidak akan. Pedang akan mengajarkan segala sesuatu. Yah, hanya jika kalian berhasil mengambil kembali pedang itu."

"Heeh..."

Cardinal terlihat kesal mendengar jawabanku dan dengan keras memukul tongkat di tangan kanannya ke lantai.

Dua lembar kertas kulit di depan Eugeo dan aku tergulung dan menyusut—pada saat pikiran itu datang padaku, mereka sudah menjadi kue panggang yang panjang.

"Kalian pasti lapar setelah menggunakan kepala kalian, makanlah."

"Eh...? Kami tidak akan melupakan ritual art yang kami hafalkan kan jika kami memakannya atau sesuatu seperti itu...?"

"Bagaimana mungkin sesuatu seperti itu bisa terjadi?"

"O-Oh, oke."

Setelah bertukar pandangan dengan Eugeo, kami mengambil kue-kue panggang itu. Kupikir itu adalah salah satu kue sederhana yang kubeli dan makan di pasar Centoria Pusat, yang dipanggang dari tepung terigu dengan gula yang ditaburkan, tapi itu dipanggang dari adonan pie dan dilapisi dengan coklat putih, kue yang benar-benar memiliki rasa-dunia-nyata. Ketika aku menggigitnya, tekstur yang renyah dan manis membanjiri mulutku, air mataku hampir mengalir karena nostalgia yang berlebihan.

Seolah bersaing satu sama lain, Eugeo dan aku menghabiskannya tanpa sadar dan mengambil napas dalam-dalam sebelum mengangkat kepala kami dan bertemu mata Cardinal, yang mengawasi kami dengan tatapan lembut.

Gadis muda bijak itu perlahan mengangguk dan berbicara.

"Sekarang...sudah saatnya bagi kita untuk mengucapkan selamat tinggal."

Ada beban berat dalam kata-kata singkatnya, aku langsung menggeleng.

"Ketika kami mencapai tujuan kami, kau bisa keluar dari sini, kan? Menyebutnya perpisahan terlalu berlebihan..."

"Fmm, aku kira itu benar. Jika semuanya berjalan seperti yang direncanakan..."

"......"

Benar, jika kami dikalahkan oleh Integrity Knight di tengah-tengah pertempuran saat menuju lantai atas Kathedral, Cardinal akan sekali lagi diuji kesabarannya dalam Ruangan Perpustakaan Besar ini. Tahap percobaan beban mungkin akan tiba sebelum dia menemukan rekan kerjasama yang lain dan Dunia Manusia akan tenggelam dalam lautan darah dan api.

Tapi bagi orang yang mengetahui akhir tragis seperti itu, senyum Cardinal benar-benar tenang dan aku diserang oleh sensasi yang mencengkeram dadaku. Gadis itu memberiku anggukan yang hampir tak terlihat dan dengan lembut berpaling saat aku dengan kuat mengunyah bibirku.

"Ayo, tidak ada waktu lagi. Ikuti aku...Aku akan mengirimkan kalian dari pintu terdekat ke kubahperalatan di lantai tiga Kathedral."

Bagian dari ruang tengah lantai pertama Ruangan Perpustakaan Besar hingga pintu masuk ruangan, terhubung ke banyak pintu, itu sangat pendek.

Aku tidak melakukan apapun selain menatap punggung kecil Cardinal, saat dia berjalan di depan, dengan Eugeo yang mengucapkan ritual art untuk full control art di sisiku.

Aku ingin berbicara dengannya lagi. Dan aku ingin tahu lebih banyak tentang apa yang dia rasakan dan pikirkan dalam periode waktu dua ratus tahun lebih yang telah dia habiskan. Aku sangat ingin melakukannya, emosi itu bahkan memenuhi tenggorokanku, tapi Cardinal melangkah tegas, tidak memaafkan sedikitpun keraguan, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa selain berjalan dalam diam.

Setelah menuntun kami ke ruangan besar familiar dengan banyak lorong berbaris di tiga dindingnya, Cardinal menuju satu lorong, yang membentang dari dinding kana, dengan cara yang sama. Dia berjalan sejauh sepuluh meter atau lebih dan saat dia hendak mencapai satu pintu di akhir, pintu yang sederhana dan dibangun ke dalam dinding, dia tetap berdiri dan berbalik ke arah kami.

Senyum di bibir bewarna bungan sakuranya selalu terlihat lembut. Mulutnya, yang sepertinya mengandung semacam kepuasan, bergerak dan suara yang jelas mengalir keluar.

"Eugeo...dan kau, Kirito. Nasib dunia ini dipercayakan kepada kalian berdua sekarang. Apakah itu akan tertutup dalam api neraka...atau tenggelam dalam ketiadaan mutlak, atau mungkin..."

Menatap lurus ke mataku, dia melanjutkan.

"—Kalian menemukan jalan ketiga. Aku sudah menyampaikan semua yang kubisa, mengingat semua yang kubisa. Kalian hanya harus menyusuri jalan yang kalian yakini."

"...Terima kasih banyak, Cardinal-san. Kami pasti akan mencapai puncak Kathedral...dan mengembalikan Alice seperti semula."

Eugeo dengan tegas berbicara dengan suara penuh tekad.

Kupikir aku seharusnya mengatakan sesuatu juga, tapi aku tidak bisa menemukan kata-kata. Sebaliknya aku malah membungkuk dengan dalam.

Setelah Cardinal mengangguk, dia menghapus senyumnya dan memegang gagang pintu dengan tangan kirinya.

"Nah sekarang...pergi!"

Gagang pintu berputar dan pintu terbuka lebar pada kesempatan berikutnya. Melawan angin dingin kering yang segera bertiup denga kuat, Eugeo dan aku melompat keluar bersamaan.

Setelah berjalan selama lima, enam langkah seperti itu, suara kecil yang lain datang dari belakang. Ketika aku menoleh, hanya ada dinding marmer mengkilap dingin yang menghalangi jalan. Pintu yang terhubung ke Ruangan Perpustakaan Besar telah lenyap tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.

Bab 8 - Katedral Pusat (Bulan ke-5 Kalender Dunia Manusia 380)[edit]

Bagian 1[edit]

Sungguh jarak yang sangat jauh yang aku telah berpetualang—

Langit-langit yang tinggi, sejajar dengan tiang marmer, dan lantai batu mosaik indah yang menggunakan berbagai jenis batu.

Bahkan saat dia mendapati nafasnya telah keluar saat melihat kemegahan dari bagian dalam Katedral Pusat Gereja Axiom untuk pertama kalinya, Eugeo tidak dapat melakukan apapun selain memikirkan itu.

Sampai sedikit lebih dari dua tahun lalu, dia mempercayai bahwa hidupnya adalah untuk melanjutkan memotong pada pohon yang tidak dapat ditebang dengan kapak dalam kesia-siaan. Untuk melewati harinya menenggelamkan ingatan teman masa kecilnya yang berambut pirang, yang telah lama hilang, tanpa menikah atau memiliki anak, sebelum memberikan sacred tasknya kepada penebang kayu berikutnya setelah bertahun-tahun berlalu, hidup jauh di dalam hutan seperti itu, dan mendapati Lifenya habis tanpa ada seorangpun yang menyadarinya suatu hari nanti.

Tetapi, anak muda berambut hitam yang tiba-tiba muncul di suatu hari menerobos secara paksa pada dunia kecil yang mengurung Eugeo. Dia berhasil untuk menebang jatuh bahkan pada penghalang mutlak yang menyegel jalan menuju pusat, Gigas Cedar, dengan metode yang bahkan semua generasi dari penebang kayu tidak dapat membayangkannya, saat titik penting telah mendekati Eugeo. Untuk melanjutkan tinggal di desa kecil ini sementara memegan ingatan dari Alice. Atau untuk memulai petualangan untuk mengembalikan Alice—

Itu akan bohong untuk mengatakan bahwa dia tidak bimbang. Eugeo pertama kali berpikir tentang keluarganya pada saat kepala desa, Gasupht, mengatakan bahwa dia dapat memilih sacred task berikutnya pada malam festival desa.

Sampai saat itu, Eugeo selalu menyerahkan semua dari upah yang dia dapatkan dari memotong Gigas Cedar kepada keluarganya. Pekerjaan mereka adalah menanam gandum selama beberapa generasi, tapi ladang mereka telah terbatas, terutama dalam beberapa tahun terakhir ini dimana pendapatan berkurang desebabkan oleh panen buruk yang terus-menerus. Keluarga dan kakak tetuanya mungkin tidak mengatakan itu secara langsung, tapi mereka sepertinya cenderung mengandalkan pendapatan tetap yang Eugeo dapatkan setiap bulan.

Pendapatan sebagai penebang kayu normalnya akan menghilang dengan Gigas Cedar tertebang. Tetapi, dia mungkin dapat menerima perlakuan istimewa dengan mendapat area yang terkena sinar matahari yang baik yang baru saja diselesaikan, bercocok tanam di tanah selatan jika dia memilih untuk menanam gandum sebagai sacred tasknya seperti ayah dan lainnya. Saat melihat wajah keluarganya, tercampur dengan antisipasi dan kecemasan, pada ujung dari penduduk desa yang senang membuat kegembiraan di panggung, Eugeo terbingung.

Dia memang begitu, tapi itu hanya untuk sesaat juga. Eugeo secara paksa menyeimbangkan skala dari reuni dengan gadis dari teman masa kecilnya dan hidup dengan keluarganya, dan dia membuat pengakuan. Bahwa dia akan meninggalkan desa dan menjadi swordsman.

Bahkan jika dia sudah memilih menjadi swordsman sebagai sacred task, dia masih dapat menerima upah dari desa jika dia tinggal di Rulid dan menjadi salah satu dari penjaganya. Tetapi, meninggalkan desa itu, pada akhirnya adalah, untuk berdiri dengan kedua kakinya sendiri, jauh dari sisi keluarganya Uang yang Eugeo bawa kepada keluarganya dan tanah baru yang mereka dapatkan semuanya telah ditiadakan. Alasan kenapa dia pergi dengan terburu-buru, pada hari setelah festival, adalah karena dia tidak dapat menahan untuk melihat wajah keluarga dan kakak tertuanya, menekan kekecewaan dan ketidakpuasan mereka.

Ada suatu kesempatan dimana dia dapat memilih untuk memulai hidup baru dengan keluarganya bahkan setelah berangkat dengan Kirito. Setelah berpartisipasi di turnamen ilmu pedang yang diadakan di kota Zakkaria, Eugeo menang pada akhirnya, dan juga Kirito, yang membuatnya mendapat hak untuk memasuki kelompok penjaga, dan dia melakukannya. Menahan latihan keras selama setengah tahun, mereka menerima surat rekomendasi untuk mengambil ujian masuk ke Akademi Master Pedang Kerajaan Centoria Utara dari komandan dari kelompok penjaga, tapi ada sebuah undangan dari komandan bersamaan dengan itu. Bahwa rangking mereka akan naik tahun depan jika mereka tetap berada di kelompok penjaga, dengan level skill yang mereka berdua punya, dan bahkan menjadi komandan di masa depan bukanlah mimpi. Bagaimana nyamannya hidup yang keluarganya akan dapatkan jika dia mendapat pendapatan tetap di Zakkaria dan mengirim sebagian kembali ke rumahnya dengan mempercayakan itu pada gerobak kayuh?

Tapi meski begitu, Eugeo dengan sopan menolak undangan dari komandan dan membuat dia untuk menulis surat rekomendasi seperti yang direncanakan.

Sementara di perjalanan menuju pusat, tujuannya, atau setelah mendaftar pada Akademi Master pedang juga, Eugeo terus membuat alasan di ujung pikirannya sepanjang waktu. Sebagai contoh, jika dia mendapati terpilih sebagai swordsman perwakilan akademi, mendapat kemenangan di Turnamen Persatuan Empat Kerajaan, dan diangkat sebagai Integrity Knight yang terhormat, dia mungkin dapat membuat keluarga dan teman-temannya untuk hidup di dalam kemewahan yang tak terbayangkan. Atau jika dia membuat kepulanganyang menggembirakan ke desa, memakai armor perak dan menaiki naga terbang bersama dengan Alice, orang tuanya seharusnya memiliki kebanggaan padanya dibandingkan dengan siapapun.

Tetapi, dengan mencabut pedangnya kepada elite swordsmen-in-training, Raios Antinous dan Humbert Zizek, dua malam lalu, Eugeo mengkhianati keluarganya untuk ketiga kalinya. Setidaknya, dia mencabut kemungkinan masa depan yang mungkin dapat dipertimbangkan untuk diangkat sebagai bangsawan kelas satu jika keadaan memungkinkan itu...tidak, itu hanyalah pernyataan yang sedikit, dia bahkan mencabut statusnya sebagai orang biasa dan memilih jalan sebagai kriminal yang melanggar taboo.

Pada saat itu, Eugeo menyadari keadaan di suatu tempat di pikirannya, bahkan ketika dia menggerakan tubuhnya yang tercampur dengan kemarahan yang luar biasa. Jika dia hendak menebas Raios dan Humbert tepat di sini sekarang, dia akan kehilangan segalanya dan semuanya. Eugeo mencabut pedangnya bahkan sementara meyadari hal itu. Dia melakukan itu untuk menolong Tizei dan Ronie yang kelihatannya hendak diperkosa di depan matanya, dia melakukun itu karena jeadilan yang dia percaya, tapi itu bukanlah semua dari itu. Dia ingin untuk melepaskan rasa haus darah yang merusak di dalam hatinya, dia ingin untuk menghapus Raios dan Humbert tanpa meninggalkan satu jejakpun di belakang, dia benar-benar memiliki keinginan buruk itu juga.

Betul-betul sekarang, sungguh jarak yang sangat jauh yang aku telah berpetualang—

Dia benar-benar membuat perubahan dari salah satu dari sedikit dua belas elite swordsmen-in-training di akademi, ke melangkahkan kaki pada lantai di tempat paling suci di dunia sebagai pemberontak yang membuat Gereja Axiom benar-benar menjadi musuh.

Kabur dari pengejaran Integrity Knight pengguna panah, Eugeo telah mengkonfirmasi keberadaan dari buku yang mencatat semua sejarah Dunia Manusia dari gadis muda yang seharusnya adalah pemimpin tertinggi sebelumnya dari Gereja Axiom di Ruangan Perpustakaan Besar misterius yang dia masuki, dan membacanya seolah-olah dia terserap ke dalam itu. Karena dia ingin untuk mengetahui, tidak peduli bagaimana. Apakah ada manusia yang pernah mengacungkan pedang kepada gereja, bertarung dengan Integrity Knight, dan melarikan diri di suatu tempat yang jauh setelah menyelesaikan keinginan mereka, dalam sejarah yang panjang.

Sayangnya, dia tidak dapat menemukan satu peristiwa dari orang seperti itu. Pengaruh dari gereja menyebar jauh dan luas, menutupi dunia, dan tidak peduli bagaimana seriusnya perselisihan itu terjadi—itu akan dengan mudah diselesaikan, bahkan jika itu adalah masalah pada perbatasan kerajaan di antara beberapa kerajaan. Tidak ada satupun catatan dari seseorang yang menarik pedang untuk menyerang pada gereja dan bertarung melawan Integrity Knight di berbagai buku sejarah, tidak peduli sekeras apapun dia mencarinya.

...Dengan kata lain, aku adalah pendosa terburuk selama tiga ratus delapan puluh tahun semenjak Dunia Manusia telah diciptakan oleh dewi pencipta, Stacia.

Pada saat Eugeo memikirkan itu sambil menutup sampul belakang dari buku itu, hawa dingin yang menyerupai es menyerbunya. Jika Kirito tidak datang kembali dengan waktu yang tepat dan memanggilnya, dia mungkin akan terus membuat dirinya sendiri rendah saat dia meringkuk di sana.

Eugeo telah meyakinkan dirinya berkali-kali, bahkan saat dia mendengar cerita dari pemimpin tertinggi misterius sebelumnya dengan patnernya. Dia tidak dapat kembali ke kehidupan sebelumnya setelah memilih untuk meninggalkan keluarganya, menebas orang lain, dan bertarung melawan gereja. Dia tidak memiliki jalan lain selain terus maju, tidak peduli berapa banyak darah mengotori tangannya, tidak peduli berapa banyak dosa yang menodai jiwanya. Untuk demi satu tujuan tersisa yang dia punya.

Untuk mengembalikan «bagian ingatan» yang dicuri oleh pemimpin tertinggi yang sekarang, mengubah Integrity Knight Alice Synthesis Thirty kembali menjadi Alice Schuberg, dan mengirim di kembali ke Desa Rulid yang dirindukannya.

Tetapi, keinginannya untuk terus hidup bersama gadis itu tidak dapat terkabul. Salah satu dan satu-satunya tempat yang dia pikir dia bisa dapat pergi sekarang, dengan banyak kejahatan yang dia lakukan, adalah jauh di Puncak Barisan Pegunungan, tanah kegelapan yang mengerikan. Tapi itu akan baik-baik saja. Tidak ada apapun yang dapat diharapkan, jika Alice dapat hidup bahagia tinggal di tempat dia lahir.

Saat Eugeo memikirkan pada tekadnya, dia menatap ke arah punggung Kirito, yang bergerak maju di depannya.

...Jika aku mengatakan bahwa aku akan pergi ke tanah kegelapan, akankah dia ikut bersamaku...?

Saat menanyakan pertanyaan itu tanpa mengatakan itu keluar, Eugeo memaksakan dirinya untuk berhenti membayangkan jawaban patnernya. Memikirkan bagaimana jalannya mungkin akan berjalan, dalam waktu dekat, berpisah dari teman berambut hitam yang terus bersamanya, satu-satunya orang lain yang di dunia berdiri dengan posisi yang sama sekarang, benar-benar menakutkan.

Seperti yang Cardinal katakan, koridor yang memanjang langsung dari pintu itu, tanpa diduga pendek. Dia dengan cepat berjalan, sementara tenggelam dalam pikirannya hanya untuk sekejap saja, itu tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai ruangan persegi, yang luas.

Bagian tengah dari dinding bagian kanan memiliki tangga, secara mengejutkan sangat luas, berlanjut ke atas dan ke bawah. Tinggi dari langit-langit memanjang lebih dari delapan mel, jadi bagaimanapun juga, itu kelihatannya ada lebih dari dua puluh langkah sampai mendekati setengah perjalanan melalui tangga.

Dan di dinding bagian kiri adalah dua pintu yang besar, di kelilingi oleh patung dari mahluk bersayap.

Kirito berjalan di depan dengan cepat membalik telapak tangan kanannya dengan cara itu dan menempelkannya ke dinding, jadi Eugeo mengikutinya dan menyandarkan punggungnya pada pilar batu di dalam jangkauannya. Menahan nafasnya, dia memerikasa melalui ruangan gelap, yang gelap itu.

Jika kata-kata pemimpin tertinggi sebelumnya terbukti benar, pintu besar di kiri seharusnya adalah ruangan penyimpanan peralatan yang mereka telah cari. Meskipun menjadi suatu tempat yang penting, ruangan yang luas itu telah sunyi seperti kuburan, tanpa ada kehadiran dari siapapun. Bahkan cahaya Solus yang bersinar dari tangga besar di kanan kelihatannya bewarna abu-abu gelap.

"...Tidak ada seorangpun di sekitar sini, huh..."

Saat dengan perlahan berbisik pada Kirito yang dibelakangnya, patnernya mengangguk , dengan sedikit kekecewaan juga.

"Ini adalah ruangan penyimpanan perlatan, jadi aku merasa akan ada satu atau dua penjaga, tapi...Aku rasa itu mungkin karena Gereja Axiom merasa tidak akan ada seorangpun yang memasukinya untuk mencuri sejak awal..."

"Tapi mereka telah mengetahui tentang penyusupan kita, bukan? Mereka sedikit tenang meskipun begitu."

"Mereka pasti memiliki alasan untuk seperti itu. Mereka tidak perlu untuk menghabiskan waktu mereka untuk mencari di sekitar terhadap orang seperti kita. Dengan kata lain, waktu berikutnya kita bertemu dengan Integrity Knight, akan ada entah berjumlah yang sangat banyak dari mereka atau salah satu yang cukup kuat. Ayolah, gunakan tambahan waktu ini sebanyak yang kita bisa.

Mengakhiri kata-katanya dengan hmph, mendengus, Kirito dengan cepat berlari keluar dari dinding yang menutupinya. Eugeo mengikutinya setelah itu, melewati ruangan luas, yang sepi.

Pintu menuju ruangan penyimpanan peralatan memiliki ukiran yang terhias dari dua dewi, Solus dan Terraria, dan tidak memiliki kunci, tapi itu memiliki suatu kekuatan yang membuat dia berpikir bahwa teman yang tidak dapat dimengerti itu mungkin tidak dapat untuk membukanya, tidak peduli seberapa keras yang mereka tarik atau dorong. Tetapi, ketika Kirito menaruh telinganya pada pintu itu untuk sebentar dan menaruh tangannya pada gagang, menaruh sedikit kekuatan pada itu, pintu itu terbuka dengan mudah bahwa itu dapat dikatakan mengecewakan. Engesel itu tidak mengeluarkan suara derit.

Udara dingin, yang tebal, seperti berates-ratus tahun yang sesuai dengan keheningan itu, menyebar keluar dari celah hitam sekitar lima puluh cen yang terbuka dan membuat Eugeo menggigil, tapi patnernya segera memasukkan dirinya tanpa keraguan, jadi dia dengan cepat mengikutinya di belakang. Ketika pintu besar itu tertutup di belakang, sekeliling telah ditelan oleh kegelapan.

"System call..."

Ritual art yang secara insting terucap keluar dari mulutnya benar-benar sama dengan suara Kirito, jadi dia berakhir tersenyum meskipun dalam situasi itu. Sementara melanjutkan dengan generate luminous element, Eugeo mengingat kembali waktu dia pergi dengan Kirito ke gua utara untuk mencari Selka. Itu sangat susah untuk menggunakan dasar di antara dasar dari sacred arts pada saat itu dan dia tidak dapat melakukan apapun selain membuat tongkat di tangannya dengan cahaya lemah pada ujungnya—Cahaya putih murni dari luminous element yang muncul di atas tangannya menyingkirkan kegelapan tebal, tanpa disadari membawa pergi suasana hati Eugeo untuk nostalgia.

"Uo..."

Saat Kirito mengeluarkan suara keheranan dari sisinya, tegukan secara bersamaan keluar dari tenggorokan Eugeo.

Sungguh luas, Itu disebut sebagai ruang penyimpanan, jadi dia membayangkan suatu tempat seperti ruangan penyimpanan senjata di Akademi Master Pedang, tapi ini benar-benar tidak masuk akal. Itu hampir lebih luas dibanding dengan area dari arena pelatihan yang besar dimana Kirito dan Uolo Levanteinn mengadakan pertandingan mereka.

Sinar dari setiap dan semua warna memenuhi ruangan itu, dikelilingi oleh dinding batu yang halus dari empat sisi, terpantul oleh cahaya dari luminous element yang melayang keluar dari tangan Eugeo.

Secara sistematis terbaris pada permukaan lantai adalah armor, ditaruh pada rak dengan bantuan patung berbentuk manusia. Sebagai tambahan untuk memiliki armor hitam legam, armor putih murni, dan itu memiliki warna yang indah dari perunggu kemerahan, perak kebiruan, dan emas kekuningan, itu juga termasuk dari setiap dan semua jenis armor, dari armor ringan yang dibuat dari rantai tipis dan kulit hingga armor berat, banyak lembaran metal yang tersusun bersama tanpa ada satupun celah. Jumlahnya tidak kurang dari lima ratus.

Dan di dinding yang tinggi itu tergantung, sekali lagi, sebenarnya dapat disebut setiap jenis senjata yang berada, dengan dekat digantung bersama.

Bahkan diantara pedang itu sendiri, ada yang panjang, yang pendek, bersama dengan berbagai macam dari tebal, tipis, lurus dan melengkung juga. Sebagai tambahan, berbagai jenis dari peralatan pertempuran dari kapak bermata satu, dan bermata dua, lance di antara tombak panjang, palu perang, cambuk dan gada, hingga panah yang tersusun dari lantai hingga mendekati langit-langit, jumlahnya hampir tidak dapat dihitung, dan Eugeo tidak dapat melakukan apapun selain membuat mulutnya terbuka lebar.

"...Solterina-senpai mungkin akan kebingungan dan pingsan jika dia datang ke sini, huh."

Kirito akhirnya memecah keheningan dengan bisikan beberapa detik kemudian.

"Yeah...Hal yang sama juga berlaku untuk Gorgolosso-senpai, dia akan melempar dirinya pada pedang besar itu dan tidak pernah meninggalkan itu jika dia melihat itu."

Bergumam kembali dengan menghela nafas, Eugeo dengan keras membiarkan nafasnya keluar yang menolak untuk pergi. Memeriksa di dalam ruang penyimpanan peralatan yang besar sekali lagi, dia menggelengkan kepalanya dua atau tiga kali.

"Bagaimana aku mengatakan hal ini...Apakah gereja pada akhirnya berpikir tentang untuk memulai membangun tentaranya sendiri atau seperti itu? Integrity Knight itu sendiri sudah lebih dari cukup, bagaimanapun juga..."

"Hmm...Untuk bertarung dengan tentara kegelapan...? Tidak, bukan karena itu... "

Ekspresi Kirito tiba-tiba menegang dan melanjutkan dengan melihat ke arah Eugeo.

"Ini untuk sebaliknya. Ini bukanlah untuk membangun tentara...tapi membuat itu mustahil untuk membuat tentara, karena itu gereja telah mengumpulkan peralatan di sini. Peralatan di sini mungkin semua adalah yang terkuat, pada sacred instrument class atau suatu hal di sekitar itu. Pemimpin tertinggi, Administrator, hendak mencegah suatu organisasi selain Gereja Axiom untuk mencegah mereka mendapat peralatan kuat dan mendapat potensi bertarung yang tidak diperlukan."

"Eh...? Apa maksudnya dari hal itu? Tidak mungkin ada kemungkinan suatu organisasi yang akan melawan Gereja Axiom, tidak peduli apapun jenis dari peralatan kuat yang mereka pegang, dapat ada?"

"Dengan kata lain, salah seorang dengan paling sedikit keyakinannya di kekuasaan gereja mungkin hanya pemimpin tertinggi yang terhormat itu sendiri."

Eugeo tidak dapat dengan segera memahami arti dari kata-kata tajam dari Kirito. Tetapi, patnernya menepuknya di punggungnya sebelum dia dapat merenungkannya.

"Ayolah, waktunya akan segera habis. Ayo cepat dan mendapat pedang kita kembali."

"Ah... y-yeah. Tapi itu akan menjadi tugas yang berat untuk mencarinya dari semua ini..."

Blue Rose Sword dan pedang hitam yang tersarung masing-masing pada sarung kulit putih dan kulit hitam secara hati-hati, tapi banyak pedang yang sama dapat terlihat pada dinding.

"...Bahkan jika menggunakan umbra element searching art lagi, sacred power di area ini seharusnya telah digunakan oleh luminous elements sebelumnya.."

Ketika pada saat itu, ketika Eugeo menghela nafas sementara berpikir 'jika memang begitu, kita seharusnya hanya menggunakan satu cahaya kecil saja', lalu Kirito tanpa ragu berkata.

"Oh, aku menemukannya."

Mengangkat tangan kanannya, dia segera menunjuk sisi kiri dari pintu yang mereka telah masuki.

"Woah...untuk memikirkan itu berada di tempat seperti ini."

Pedang putih dan hitam pada arah yang Kirito tunjuk sudah pasti adalah dua pedang kesayangan mereka, melampaui suatu keraguan apapun, Eugeo melihat ke arah ekspresi dari patnernya dengan terdiam kagum.

"Kirito, bagaimana kau melakukan itu bahkan tanpa menggunakan sacred arts apapun...?"

"Aku hanya memperkirakan bahwa pedang terbaru yang dibawa ke tempat ini mungkin ditaruh di tempat terdekat dari pintu."

Memkirkan bagaimana Kirito, yang mengungkapkan alasannya, anak-anak normalnya akan menunjukkan senyum bangga pada saat seperti itu, dia sekarang untuk suatu alasan menatap serius ke arah pedang hitamnya sendiri. Tapi dia lalu dengan segera menghela nafas, mendekati dinding, dan menggenggam pedang bersarung hitam itu setelah mencapai itu dengan tangan kanannya.

Dia terdiam untuk sesaat, seolah-olah dia ragu-ragu, tapi dia mengangkat itu dari penahan besi tak lama kemudian. Mengikuti itu, dia mengambil Blue Rose Sword di sampingnya dengan tangan kirinya dan melemparnya. Eugeo menangkap itu dengan panik dan berat yang dikenalnya membuat itu diketahui pada pergelangan tangannya.

Meskipun hanya menghabiskan beberapa hari jauh dari pedang kesayangannya, rasa kuat dari nostalgia dan kelegaan yang bahkan mengejutkan Eugeo itu sendiri yang mengalir di dalam dirinya dan dia dengan erat menggenggam sarungnya dengan kedua tangannya.

Blue Rose Sword yang selalu dekat dengannya dan telah membantunya berkali-kali bahkan semenjak Gigas Cedar telah tertebang di dekat rumahnya. Itu adalah ketika dia telah memasuki turnamen ilmu pedang di kota Zakkaria, itu adalah ketika dia menantang ujian pendaftaran Akademi Master Pedang, itu adalah ketika dia telah melanggar Taboo Index dan menebas tangan Humbert.

Jika Gereja Axiom selalu mengumpulkan semua jenis dari peralatan kuat lebih dari ratusan tahun, mereka tidak memperhatikan Blue Rose Sword ini, diletakkan terbengkalai di gua utara, benar-benar nasib baik—atau mungkin takdir. Bukti untuk mengikuti jalan untuk mengembalikan Alice kembali pastinya bukanlah kesalahan...

"Berhenti untuk mendapati semua kegembiraan, cepatlah dan segera pakai."

Tiba-tiba mengembalikan kesadarannya pada suara Kirito, tercampur dengan tawa, dia melihat patnernya yang sudah memasukkan sarung pedang kesayangannya pada pegangan dari sabuk pedangnya. Eugeo mengikutinya sementara menunjukkan senyum malu, mengakhiri dengan tepukan pada gagangnya dan melihat ke arah sekitar saat dia memikirkan langkah mereka selanjutnya. Armor yang terlihat elite berjajar pada tanah yang memiliki papan nama tergantung yang terukir pada itu, dengan nama seperti [Senrai Armor] atau [Shinzan Kacchu] [1], mendorong sedikit perhatian dari dirinya.

"...Apa yang akan kita lakukan Kirito? Kita mungkin akan dapat menemukan salah satu yang ukurannya cocok dengan kita dengan sebanyak ini di sekitar, apa kau ingin untuk meminjam suatu armor juga?"

"Naah, kita belum pernah memakai armor sebelumnya, bukan? Itu akan lebih baik untuk tidak melakukan hal yang tidak biasa kau lakukan. Mungkin lebih baik untuk mengambil pakaian di sebelah sana."

Melihat ke arah tempat yang patnernya tunjuk dan memang benar, dia melihat pakaian dengan berbagai warna tersusun di bagian dalam barisan dari armor. Melihat ke arah tubuhnya sendiri, dia menemukan bekas robekan dan terbakar pada seragam akademi yang dia telah pakai dari dua hari yang lalu disebabkan oleh pertarungan dan selanjutnya melarikan diri dari Knight Eldrie.

"Benar, itu kelihatannya akan menjadi tidak dapat dibedakan dari pakaian usang cepat atau lambat jika kita terus bergerak."

Dua luminous elements melayang di atas kepala secara perlahan kehilangan cahayanya juga. Mengusir jauh rasa penyesalannya yang masih tertinggal pada armor, dia berlari ke bagian pakaian dan secara sembarangan mencari pada kain yang kelihatannya berkualitas tinggi, mencari pada mantel dan celana panjang yang cocok dengan tubuhnya. Membalikkan punggung mereka satu sama lain, mereka dengan cepat berganti.

Menaruh tangannya melalui lengan dari baju berwarna biru yang benar-benar mirip dengan seragam akademinya, Eugeo terkejut oleh tekstur dari kelembutannya. Ketika dia membalikkan tubuhnya setelah berganti, dia melihat Kirito memiliki pemikiran yang sama, mengelus kain hitam dengan kedua tangannya.

"...Pakaian ini pasti memiliki sedikit cerita darinya yang dapat untuk dicertiakan. Itu akan baik jika itu dapat menghentikan serangan dari Integrity Knight meskipun sedikit, bagaimanapun juga."

"Sekarang itu berharap terlalu banyak."

Setelah tertawa sedikit pada kata-kata aneh dari patenrnya, ekspresi Eugeo menjadi tegang.

"Jadi sekarang...Bolehkan kita segera pergi?"

"Yeah...Aku rasa begitu."

Menukar komentar singkat, mereka kembali menuju pintu masuk.

Hal ini berjalan sangat bagus hingga sejauh ini yang dapat dikatakan mengecewakan, tapi itu tidak akan bertahan seperti itu. Mari melanjtukan dengan meningkatkan kewaspadaan kita—mereka dengan dalam, mengangguk diam bersamaan termasuk menyadari fakta itu, Eugeo memegang ganggang kanan dari pintu dan Kirito, ganggang kiri.

Dengan pelan membuka pintu bersamaan, celah itu melebar dengan hati-hati—

Do-ka-ka-ka! Suara itu terdengar hampir bersamaan dengan panah besi yang tak terhitung jumlahnya yang menembus permukaan dari pintu tebal itu.

Sword Art Online Vol 12 - 149.jpg

"Uwah!"

"Owah!?"

Seorang knight yang dikenalnya dengan armor berwarna merah berdiri di tangga masuk yang besar, jauh pada sisi yang berlawanan dari ruangan persegi memanjang dari pintu masuk, dimulai dari anak panah tajam yang baru dipasang pada busur panjang dengan tinggi yang hampir sama. Lebih jauh lagi, itu berjumlah empat pada waktu yang bersamaan. Tidak ada kesalahan bahwa itu adalah Integrity Knight yang sama dengan knight yang mengendarai naga terbang di taman mawar.

Jarak di antara kita kira-kira tiga puluh mel, huh? Pedang pastinya tidak akan sampai, tapi itu sepertinya akan menjadi jarak sempurna untuk pemanah ahli. Dan kita mungkin tidak akan memiliki waktu untuk mencabut pedang dari pinggang kita dari postur jatuh yang buruk ini, lupakan untuk berdiri dan berlindung pada dinding.

Karena itulah aku mengatakan bahwa kita seharusnya mengenakan armor! Itu akan jauh lebih baik jika kita memiliki perisai!

Eugeo meneriakkan itu di dalam hatinya saat knight itu mulai menarik tali dari busur panjang itu pada waktu yang hampir bersamaan.

Dengan keadaan seperti mereka sekarang, aku tidak memiliki pilihan selain menyerah untuk menghindar tanpa mendapat luka dan menggunakan semua yang aku punya untuk menghindari luka fatal—tidak, luka parah yang membuatku tidak bisa bergerak setidaknya.

Eugeo membuka lebar matanya dan menatap pada empat anak panah yang tajam. Anak panah kusam berwarna perak itu tidak dibidik pada jantung mereka, tapi kaki mereka. Itu seperti yang Cardinal katakan, perintah yang diberikan pada knight itu kelihatannya bukan untuk membunuh kita, tapi untuk menangkap kita. Tapi pada keadaan sekarang, jika tertangkap pada dasarnya sama dengan terbunuh.

Integrity Knight itu menarik keras tali busurnya hingga batasnya.

Pada saat keadaan menjadi tenang, dimana semua gerakan kelihatannya akan berhenti—

Suara tegang Kirito menembus melalui keheningan itu.

"Burst element!"

Eugeo tidak dapat dengan segera menangkap apa yang patnernya katakan saat itu terlalu cepat. Dia mengerti artinya hanya setelah fenomena itu terjadi.

Cahaya terang berwarna putih tiba-tiba bersinar di pandangannya.

Sebuah cahaya yang kuat, seolah-olah Solus telah turun. Itu hanya art sederhana yang hanya melepaskan luminous element, salah satu dari «elements» yang menjadi salah satu dari elemental sacred arts, tapi Kirito tidak mengatakan upacara art untuk menciptakan elements. Kapan dia melakukannya—...

Tidak, ada satu element. Ada luminous elements, melayang di tengah udara, dipanggil oleh mereka berdua untuk menerangi ruangan penyimpanan sepuluh menit yang lalu, bukan? Element itu dibiarkan untuk bersiap pada upacara art berikutnya. Kirito memberikan perintah pada element yang melayang di atas kepalanya untuk bebas dan menghasilkan cahaya yang terang sekali.

—Ada juga ketika dia melempar pecahan gelas yang dia ambil pada pertarungan dengan Eldrie juga, aku sama sekali bukan tandingannya dalam bertarung dengan menggunakan item yang tersebar di sekitar seperti biasanya...

Sementara memikirkan tentang hal seperti itu, Eugeo mengumpulkan kekuatan pada kakinya di dalam cahaya putih dan melompat ke kanan dengan semua kekuatannya.

Dia segera mendengar suara keras dari panah besi yang menembus pada lantai batu, datang dari dimana dia berada beberapa detik lalu. Itu akan lebih baik untuk berlindung pada dinding untuk pertama-tama, setelah menghindari tembakan langsung—atau seperti itu yang dia pikirkan, ketika teriakan rendah Kirito mencapai telinganya.

"Maju!"

Mengerti tujuan patnernya dalam sekejap, Eugeo menghentakkan kakinya di tanah sekali lagi. Tidak miring ke kanan, melainkan lurus ke depan.

Ledakan luminous element dari atas kepala, di belakang mereka berdua, yang berarti Kirito dan Eugeo tidak menghadap sumber cahaya secara langsung, tapi mata Integrity Knight itu seharusnya melihat cahaya itu secara langsung. Tidak ada keraguan bahwa pandangannya seharusnya akan menghilang untuk beberapa detik.

Kemampuan serangan langsung dari luminous element sangatlah rendah dibandingkan dengan thermal dan cryogenic elements, dan kebanyakan justru digunakan untuk healing arts, tapi jika seseorang hendak membuat senjata dari cahaya tersebut, itu memiliki kemampuan meyakinkan untuk menyilaukan mata dan sangat mengagumkan. Karena itu, itu sangat baik untuk mempersiapkan element dengan tipe berlawanan, umbra element, untuk demi menetralkan upacara art tersebut ketika musuh menciptakan luminous element saat pertarungan, ini bahkan diajar dalam pelajaran akademi.

Tidak ada kemungkinan seorang Integrity Knight, berdiri di puncak dari semua swordsman dan pengguna art, tidak pernah mendengar pengetahuan umum seperti itu, yang berarti memanggil keluar luminous element lagi dan menyilaukan dia tidak akan bekerja untuk kedua kalinya. Ini adalah kesempatan pertama dan terakhir untuk mempersempit jarak dari pemanah musuh.

Kecepatan analisis dari situasi dan pemilihan aksi juga salah satu dari poin utama dari Aincrad-style, atau seperti itu yang Kirito katakan pada Eugeo berkali-kali. Cara berpikir dari itu sama sekali berbeda dengan High Norkia-style yang menekankan pada kehalusan dan kekuaatan di gerakannya. Dan jimat untuk menenangkan pikiran seseorang dan menaruh itu dalam praktek, bahkan di tengah-tengah pertarungan adalah «stay cool».

Selangkah di belakang patnernya dari mengikuti penggunaan dari luminous element, Eugeo dengan tergesa-gesa mengejar langkah kaki di depannya. Dia menarik Blue Rose Sword dari pinggang kirinya saat dia berlari.

Setelah menyelesaikan tujuannya, luminous element itu segera menghilang setelah itu, dan dunia mendapatkan warna dan bentuknya. Keduanya telah berlari di ruangan luas dari ruangan penyimpanan peralatan. Memastikan dengan kedua mata terbuka lebar, Integrity Knight itu dapat terlihat berdiri dua puluh langkah dari tangga di depan.

Seperti yang diprediksikan, itu kelihatannya penglihatan knight itu terganggu. Tubuhnya terhuyung dengan tangan kanannya melindungi wajahnya di dalam helm berwarna perunggu.

Itu benar-benar keberuntungan bahwa tidak seperti Eldrie, Integrity Knight di depan mereka tidak memiliki pedang di pinggangnya. Dia memiliki rasa percaya diri yang besar, tidak membawa apapun selain satu busur panjang ketika mengambil pertarungan di dalam ruangan. Dia pasti telah yakin bahwa dia telah menembak pada kaki mereka berdua sebelum mereka dapat mendekat.

Pikiran Eugeo sangat tenang, tapi meski begitu, dia tidak dapat menahan api kemarahannya, dengan lemah berpengaruh di kesadarannya.

—Integrity Knight, kau juga sama dengan Raios dan Humbert. Kau angkuh, sombong dan mempercayai dirimu sendiri bahwa kau selalu benar. Kau yakin bahwa kau adalah, penjelmaan dari keadilan, bahwa benar-benar tidak memiliki kemungkinan kalah.

—Tapi itu hanya kesombonganmu. Tunggu saja, aku akan...membuktikannya kepada kau dalam sekejap!!

Didorong oleh emsoi yang tidak dikenalnya, Eugeo menyerbu menuju tangga besar. Itu setelah melewati dua langkah pertama, saat kaki kanannya mencapai yang ketiga.

Knight itu, berdiri di ujung tangga sedikit lebih banyak sepuluh langkah lebih jauh, melepaskan tangan kanannya dari wajah yang dilindunginya, membalik itu menuju punggungnya, dan menarik keluar panah besi dari tempat anak panah. Setiap dari yang tersisa, semuanya pada waktu yang sama.

Sejumlah banyak anak panah dengan cepat ada di tangan kanannya yang diambil dari punggungnya yang berjumlah setidaknya tiga puluh tidak peduli bagaimana seseorang melihat itu. Bahkan tanpa memberikan waktu yang cukup untuk mempertanyakan apa yang dia telah rencanakan, knight itu menembak seluruh anak panahnya dari tali busur yang dipegang secara horizontal dengan tangan kirinya.

"Apa..."

Berhenti dengan kakinya pada langkah ketiga di tangga besar itu, Eugeo menahan nafasnya. Seharusnya tidak ada cara satu tali busur yang tipi situ dapat untuk menembak tiga puluh anak panah secara bersamaan.

Suara deritan, logam mencapai telinganya. Sesuatu yang dingin mengalir di punggungnya saat menyadari bahwa itu adalah anak panah besi yang bersuara saat itu menahan genggaman kuat.

Itu kelihatannya Kirito, yang berhenti di kanan, telah mengetahui maksud dari knight itu juga. Itu dapat dikatakan sebagai kesalahan yang dibuat karena putus asa, atau—

Suara keras yang semakin meningkat semakin terdengar, tali busur itu telah ditarik secara keras.

"—Lompat kembali menuju kiri!"

Kirito berteriak.

Binn! Udara bergetar, dan segera diikuti oleh dengan suara deritan saat tali busur itu rusak di bawah tekanan.

Tapi setiap salah satu dari tiga puluh anak panah telah tertembak dengan pola lingkaran, tertembak ke bawah pada mereka sebagai serangan mematikan, badai berwarna perak.

Eugeo menghentakkan kakinya di tangga dengan suatu kekuatan yang membuat dia berpikir bahwa kaki kanannya retak, melemparkan tubuhya ke arah kirir. Dia menempatkan Blue Rose Sword persis di tengah-tengah tubuhnya, melindungi tubuhnya.

Mereka berdua pastinya akan mendapati tubuh mereka penuh dengan lubang jika knight itu tidak memiliki masalah dengan penglihatannya. Satu anak panah mengenai Blue Rose Sword dan telah dipantulkan dengan suara keras. Satu tertambak melewati bagian kanan dari celana Eugeo, satu membuat luka kecil pada paha kirinya, dan satu menggores pipi kirinya, menggores beberapa helai rambut.

Dengan keras jatuh di tanag, dengan bahu pertama, rasa takut membuat Eugeo menggeretakkan giginya saat dia melihat ke bawah tubuhnya. Setelah mengkonfirmasi beberapa luka yang tidak parah, dia membalikkan wajahnya menuju Kirito yang melompat ke arah kanan.

"Kirito! Apa kau baik-baik saja?!"

Patner berambut hitamnya dengan pelan mengangguk dengan ekspresi yang menjadi kaku seperti yang diduga pada teriakan seraknya.

"En...Entah bagaimana. Kelihatannya itu menembus melalui di antara celah jari kakiku."

Dia melihat anak panah yang tertusuk pada ujung dari sepatu kiri Kirito, menusuk pada ujung sepatunya, ketika dia melihatnya. Sementara berterima kasih pada kecepatan reaksi patnernya dan keberuntungan yang baik, Eugeo mengambil nafas yang dalam.

"...Itu sangat berbahaya..."

Dia berguman saat dia mendorong tubuh kakunya untuk berdiri.

Ketika dia melihat ke atas pada puncak tangga itu, Integrity Knight benar-benar berhenti bergerak kali ini juga. Tempat anak panah di punggungnya telah kosong, dan tali busur besarnya juga, telah rusak dan tergantung keluar. Inilah yang benar –benar apa yang dimaksud dengan kehabisan pilihan, dengan busurnya rusak dan anak panahnya habis. Tapi lawannya adalah Integrity Knight, jadi itu tidak dapat diterima untuk menurunkan pertahanan, tidak perlu dibilang ini bukanlah situasi untuk kasihan.

"...Ayo maju."

Patnernya memperlihatkan panggilan tenang dan Eugeo menapakkan kakinya pada lantai sekali lagi.

Tapi Kirito menginstruksikan Eugeo, dengan tangan kirinya yang masih memegang anak panah yang hendak dicabut dari sepatunya.

"Tunggu..Knight itu mengucapkan sebuah..."

Eugeo menajamkan pendengaran telinganya dengan kebingungan. Selama mereka tidak berada dalam jarak dimana mereka dapat menebas musuh dengan satu serangan, itu sangat penting untuk menciptakan element yang berlawanan ketika dia mulai mengucapkan upacara sacred art. Dia berfokus pada suara, yang diucapkan dengan cara yang keras, diucapkan dari dalam helm Integrity Knight. Dia mengucapkannya agak cepat, tapi dia dapat menangkap itu entah bagaimana, mungkin karena dia telah belajar di ruangan perpustakaan itu.

Tetapi, setiap dan semua kata di upacara itu terdengar baru di telinganya. Dia tidak dapat langkah perlawanan tanpa kata yang memasukkan «generate», yang menentukan tipe dari element.

"Sial, itu..."

Pada saat itu, suara Kirito keluar dengan nafas tertahan.

"Ini bukanlah serangan elemental. Ini adalah «armament full control art»."

Sebelum kata-kata tegang itu dapat berakhir, Integrity Knight meneriakkan kalimat terakhir dengan jelas.

"—Enhance armament!"

Dengan suara 'po', api orange telah muncul di tali busur yang putus menjadi dua dan tergantung di ujung. Api yang memusnahkan tali busur dalam sekejap mata dan lalu sesuatu terjadi pada saat itu mencapai kedua ujung dari busur besar.

Api gelap yang terbakar muncul dari seluruh busur tembaga.

Sebuah api yang kelihatannya cukup untuk membakar kulit seseorang menyebar menuju bawah tangga dan Eugeo secara insting melindungi wajahnya. Integrity Knight yang berdiri di puncak tangga terbungkus api yang keluar dari busur di sekitar seluruh tubuhnya, seolah-olah dia telah terbakar.

Eugeo terbingung pada apa yang harus diperbuat, dengan perkembangan yang benar-benar tak terduga. Haruskah aku menyimpulkan knight itu sudah tidak memiliki kemampuan menyerang lagi bahkan setelah menggunakan full control art, karena anak panah itu telah habis, dan menyerbu? Atau mungkin knight itu menghabiskan anak panah pada serangan beberapa saat yang lalu karena itu tidak lagi dibutuhkan dalam full control state?

Memikirkan bagaimana patnernya melihat itu, dia mengambil pandangan sekilas di sisinya dan melihat Kirito menatap itu dengan takjup, bahkan dengan senyuman samar-samar di mulutnya seperti anak kecil, tidak segera mundur maupun menyerbu.

"Sekarang ini benar-benar mengagumkan...Aku ingin tahu darimana asal dari busur itu."

"Ini bukanlah waktu untuk mengaguminya."

Dia merasa seperti ingin menepuk bahu Kirito diluar kebiasaannya, tapi dia menahan itu dan melihat ke arah knight itu sekali lagi. Mereka dapat menggunakan full control art yang mereka baru saja pelajari juga, untuk menghadapi dengan upacara art musuh, tapi tidak ada keraguan bahwa di sisi lain tidak akan mengizinkannya. Itu sudah pasti mereka akan diserang sebelum mereka dapat menyelesaikannya mengucapkan upacara art yang panjang. Jika mereka hendak memaksa untuk menggunakannya, mereka tidak mungkin untuk dapat menyelesaikannya tepat waktu kecuali mereka mulai mengucapkannya bersamaan dengan musuh.

Dengan hal yang berkembang sejauh ini, tidak ada yang dapat dilakukan selain untuk beradaptasi dengan pergerakan musuh, Eugeo telah meyakinkan dirinya untuk yang terburuk, tapi kelihatannya Integrity Knight bermaskud untuk berhenti sejenak juga, menaikkan penutup helm tersebut dengan tangan kanannya sementara busur yang terbakar itu masih tersisa di tangan kirinya.

Wajahnya tidak terlihat, tenggelam didalam bayangan yang dibuat oleh api, tapi Eugeo memahami sinar kuat di matanya yang benar-benar mengingatkannya pada anak panah besi. Suara yang dikeluarkannya, juga, membawa gema seperti mesin yang membuat itu tidak telihat seperti manusia.

"—Ini benar-benar sudah dua tahun semenjak aku terbungkus api dari «Conflagrant Flame Bow» dalam kondisi seperti ini. Aku mengerti, itu kelihatannya bahwa kalian memiliki kemampuan untuk bertukar serangan dengan Knight Eldrie Synthesis Thirty-one, kriminal. Tetapi, itu membuatmu lebih tidak dapat dimaafkan. Untuk tidak melakukan pertarungan adil dan baik di antara knight, tapi untuk menipu Thirty-one melalui darkness arts yang mengerikan itu!"

"Dar... darkness arts, kau bilang?"

Kirito berbicara dari sisinya, seolah-olah dia telah terkejut. Eugeo kehilangan nafasnya untuk sesaat, juga, lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya saat dia berteriak.

"Ti...Tidak seperti itu, kita tidak pernah menggunakan darkness arts atau sesuatu seperti itu! Kita hanya berbicara tentang Eldrie-san sebelum dia menjadi Integrity Knight dan..."

"Apa, sebelum dia menjadi Integrity Knight!? Kita Integrity Knight tidak memiliki masa lalu dari diri kita! Kita selalu menjadi Integrity Knight yang terhormat dari semenjak kita telah dipanggil dari Celestial World!!"

Kata-kata kemarahan, seperti baja membuat tangga besar itu bergetar dan menghilangkan nafas Eugeo.

Menurut gadis itu, Cardinal, semua Integrity Knight memiliki ingatan mereka telah disegel sebelum menjadi salah satunya. Dengan kata lain, knight merah dihadapan matanya, juga, hanya mempercayai secara menyeluruh bahwa «dia telah dipanggil dari Celestial World».

Itu kelihatannya mungkin untuk membuat Integrity Knight menjadi gelisah jika ingatan asli mereka, yang dihalangi oleh objek yang disebut «piety module», hendak didorong, tapi itu mustahil ketika dia bahkan tidak megetahui dari nama musuhnya. Singkatnya, dia tidak dapat dihentikan dengan metode sama yang digunakan pada kasus Eldrie.

Knight itu mengeluarkan suara bergemuruh dengan ketinggian yang memuncak di tengah-tengah percikan api tanpa batas menyebar dari busur besar.

"Aku tidak akan mengubah kalian menjadi abu karena aku telah diperintah untuk menangkap kalian hidup-hidup, tapi persiapkan diri kalian untuk mendapati tangan kalian terbakar dengan Conflagrant Flame Bow yang telah dilepas seperti yang kau lihat! Cobalah semua yang kau bisa, untuk melihat apakah pedang jelek itu mampu untuk menyelinap melalui api penghukuman ini dan mencapaiku!!"

Knight itu menaruh tangan kanannya kurang lebih dimana busur itu, diangakt tinggi, yang awalnya memiliki talinya. Bahkan sebelum memberikan waktu untuk memikirkan apa sikap dari ujung jarinya yang dilakukan, seperti menggenggam pada sesuatu, yang berarti—

Api kuat melonjak keluar di depan busur dan berubah menjadi satu anak panah dalam sekejap. Punggung Eugeo menjadi kaku saat merasakan dengan jelas jumlah kekuatan yang absurd di dalam anak panah yang bersinar terang.

"Kurasa bukan lagi masalah untuk memutuskan tali busurnya dan menghabiskan anak panahnya."

Suara Kirito dengan erangan pelan di sisinya, jadi dia mengumpulkan kekuatan pada mulutnya yang kelihatannya itu seperti hendak bergetar dan dengan cepat menjawab.

"Ada rencana?"

"Dia tidak dapat menembak berkali-kali secara berturut-turut, itu adalah perkiraanku. Aku akan menghentikan serangan pertamanya entah bagaimana, jadi kau dapat pergi untuk menebasnya."

"Perkiraan, hei..."

—Dengan kata lain, itu berarti semuanya akan berakhir jika panah api itu dapat ditembak secara beruntun. Tetapi, bahkan jika itu adalah satu tembakan, itu sudah cukup untuk membukti bahwa itu memiliki kemampuan yang cukup untuk membunuh dalam satu serangan, bukan? Keraguan bagaimana Kirito akan bertahan pada serangan seperti itu meningkat, tapi Eugeo mengangkat bahunya dan mengangguk.

"—Aku mengerti."

Kirito mungkin akan menghentikannya jika dia mengatakan dia bisa. Ini jauh lebih realistik ketika dibandingkan dengan keabsurdan dari dia menebang Gigas Cedar ketika dia mengatakan dia akan melakukannya.

Mungkin karena mereka berdua telah memikirkannya, kembali ke posisi dengan pedang mereka masing-masing yang telah siap, saat mempersiapkan diri mereka untuk yang terburuk, Integrity Knight itu mulai menarik tali tak terlihat dengan udara yang tenang.

Panas yang mengusap pipi Eugeo menguat lebih jauh lagi. Api yang dikeluarkan dari busur besar, yang kelihatannya bernama Conflagrant Flame Bow, telah mencapai langit-langit puncak tangga dan telah membakar marmer hitam.

Kirito bergerak tanpa peringatan.

Dengan tanpa teriakan bertarung, atau hentakkan kaki pada tanah, dia menerjang maju seperti daun dari pohon yang disapu oleh arus air yang cepat. Beberapa detik kemudian, Eugeo mengikuti di belakang dengan tidak tenang.

Hanya samar-samar, cahaya biru bersinar melalui tangan patnernya yang digenggam longgar saat dia berlari ke atas anak tangga, tapi Eugeo masih menyadarinya. Dia mungkin telah menciptakan itu secara rahasia sementara knight itu mengatakan pidatonya, dan dia tidak memiliki keraguan bahwa sinar itu dikeluarkan oleh cryogenic elements.

Knight itu akhirnya menarik busur besar itu hingga batasnya ketika mereka mendekat setengah perjalanan dari dua puluh langkah menuju tangga.

Upacara art dengan cepat keluar dari mulut Kirito pada saat yang sama.

"Form element, shield shape! Discharge!"

Jumlah dari element yang berbaris dan tertembak maju dari tangan kirinya, yang dengan tajam keluar, adalah batas maksimum secara bersamaan untuk satu tangan adalah, lima. Titik biru dari cahaya sukses berubah menjadi, perisai lingkaran, besar dimulai dengan bagian yang utama, dan menciptakan pengahalang tebal diantara Kirito dan Integrity Knight.

Suara keras keluar dari mulut knight itu untuk ketiga kalinya ketika dia melihat itu.

"Jangan membuatku tertawa!—Tembuslah ke dalam itu!!"

Api besar yang terkumpul itu, anak panah api itu—tidak, itu akan jauh lebih tepat untuk menyebut itu tombak api untuk sekarang, ditembak dengan hentakan, raungannya membawa pikiran kepada nafas api naga.

Tombak api yang hendak menyentuh dengan perisai es yang Kirito telah ciptakan setelah sesaat terbang.

Perisai pertama tersebar pada saat sementara seperti itu, pecahannya dengan segera berubah menjadi uap air juga.

Perisai kedua dan ketiga, juga, telah ditembus sebelum suara pecah mencapai telinganya.

Perisai keempat memiliki intinya, dimana anak panah itu mengenainya, membengkok ke dalam, tapi seperti yang diduga, itu tidaklah cukup dan tersebar. Melihat ke arah perisai terakhir, tombak api yang mendekat menuju mata dan hidungnya mewarnai pandangannya dengan merah terang.

Tapi meski begitu, Eugeo tidak memperlambat kecepatannya dan terus berlari ke atas tangga. Dia tidak dapat membiarkan patnernya, tepan di depan matanya, menyerang maju secara sendirian.

Eugeo menggeretakkan giginya dan menangkap pandangan dari tombak api yang bertabrakan dengan perisai kelima di depan, akhirnya kehilangan sejumlah dorongannya, tanpa memperhatikan bagaimana sedikit pengurangannya. Percikan api dengan keras tersebar ketika tidak dapat untuk untuk menjebol penghalang yang awalnya dari atribut elemental yang berlawanan.

"——!?"

Mata Eugeo dengan cepat terbuka lebar pada saat itu. Itu kelihatannya tombak yang terbakar jauh di dinding es semi transparan mengganti bentuknya dalam sekejap. Bentuk, dengan paruh terbuka lebar dan sayap yang terentang, yang sebetulnya hampir sama dengan burung pemangsa...

Tapi bahkan tanpa memberikan kesempatan untuk Eugeo mengedipkan mata, tak terhitung retakan dari permukaan perisai terakhir dan itu hancur berkeping-keping.

Udara panas yang menolak dia bahkan dari bernafas lalu segera turun. Tombak api, tidak, burung api yang telah menembus setiap penghalang membuat serangan keras seolah-olah hendak membakar Kirito di dalam apinya juga.

"Uooooh!!"

Itu adalah ketika teriakan bersemangat akhirnya keluar dari mulut Kirito. Dia dengan tajam menusuk pedang hitamnya yang dipegang di tangan kanannya ke depan.

Dia tidak akan mencoba untuk menebas burung besar itu, bukan, Eugeo bertanya-tanya. Tetapi.

Pedang Kirito memanjang lurus ke depan meniru busur yang tak terbayangkan. Itu berputar seperti kincir angin, bergerak secepat kilat dengan lima jari yang bersinar itu berperan sebagai titik tumpuan.

Tapi kecepatannya benar-benar luar biasa. Itu tidak diketahui bagaimana sebenarnya jari itu bergerak, pedang itu berputar dengan kecepatan yang lebih dari mata yang dapat ikuti, seolah-olah perisai hitam semi transparan telah membuat kemunculannya.

Burung api itu telah menyentuh dengan perisai keenam.

Dowaa!! Suara bergemuruh itu mungkin adalah teriakan kemarahan dari burung besar itu—

Api berbahaya yang telah menghancurkan pada lima dinding es telah terpotong menjadi ribuan bagian oleh putaran pedang itu, menyebarkan itu menjauh dengan cara memutar. Tapi beberapa diantara itu menyelimuti tubuh Kirito, menyebabkan satu ledakan kecil setelah ledakan lainnya.

Melihat tubuh patnernya hendak terlempar ke udara seolah-olah itu hendak dipukul mundur, Eugeo berteriak.

"Kirito—!!"

Bahkan sementara dia ditelan oleh percikan api tanpa akhir, Kirito berteriak kembali dari udara.

"Jangan berhenti, Eugeo!!"

Menghilangkan keraguannya sesaat, Eugeo menatap maju. Kirito tidak akan berhenti dan membiarkan kesempatan sekali dalam seumur hidup kabur di situasi ini. Dia telah menyelesaikan apa yang dia katakan dia bisa. Jadi dia pastinya harus memenuhi sisinya untuk menebas.

Melewati patnernya, saat dia terjatuh ke arah kanan, Eugeo melompat pada langkah yang tersisa.

Menebas pada sisa dari api yang melayang di udara dalam satu serangan, puncak tangga dimana knight itu berdiri dapat dikatakan hampir mendekati tepat dihadapannya.

Sword Art Online Vol 12 - 164.jpg

Itu pasti telah melebihi dugaan dari Integrity Knight itu juga, untuk sebuah serangan, yang mengambil semua kekuatannya dari armament full control art, untuk ditahan tanpa menimbulkan luka apapun. Wajah sebenarnya masih tidak dapat terlihat dari jarak ini, tapi dia merasa tanda keterkejutan dari dalam helmnya. Tidak ada waktu yang cukup untuk menarik busur dan menembak tembakan lainnya. Selama dia tidak dilengkapi dengan pedang, dengan membiarkan dia mendekatkan jaraknya—

-Ini kekalahanmu!

Eugeo mengangkat tinggi Blue Rose Sword sementara memproyeksikan teriakan diam itu.

"Jangan meremehkan aku, kriminal!!"

Knight itu berteriak seolah-olah dia mendengar pikiran Eugeo.

Jejak dari keterkejutannya menghilang dalam sekejap dan sebuah semangat bertarung yang kuat menyelimuti armor berat perunggu itu. Tangan kanan yang memegang busur besar yang terbakar itu telah diangkat tinggi, di atas kepala dan api mengerikan itu terkumpul di tangannya sekali lagi.

"Doaah!!"

Bersamaan dengan teriakan yang berdesir di udara yang panas, tangan kiri knight itu diacungkan dalam garis lurus.

—Sekarang apa!?

Dia telah melancarkan itu untuk serangan, tapi pikiran itu terlintas jauh di dalam pikirannya untuk sekejap.

Normalnya memikirkan tentang itu, baik jarak dan kekuatan akan jauh lebih tinggi di sisi ini, ketika membandingkan pedang dan pukulan. Tapi di sisi lain telah berdiri di posisi yang menguntungkan. Akankah Blue Rose Sword yang relatif tipis dapat untuk mendorong kembali tinju yang dilepaskan dari Integrity Knight yang tidak hanya tinggi, tapi memiliki keuntungan dari tiga langkah lebih tinggi juga? Akankah dia menghindar dan menyerang lagi setelah menaiki tangga hingga puncak tangga?

Tidak—

Kirito, knight dari Aincrad-style yang merupakan guru Eugeo dan juga teman terdekatnya, pernah sekali mengatakan ini.

—Di dunia ini, apa yang penting adalah untuk menaruh sesuatu pada pedangmu.

—Kau adalah seseorang yang mencari apa yang hendak kau taruh pada pedangmu.

Itu sama dengan seseorang yang mengajar Eugeo, Gorgolosso-senpai, seseorang yang mengajar Kirito, Solterina-senpai, dan bahkan bangsawan yang sombong dan juga tidak terhormat, Raios dan Humbert, mereka memiliki sesuatu yang memberikan kekuatan pada pedang. Tapi Eugeo secara pribadi merasa dia masih mencari untuk itu. Latihan sehari-harinya melebihi dibandingkan dengan siapapun dan dia mengerti berbagai secret moves, tapi dia masih harus menemukan sesuatu untuk diberikan pada pedangnya. Itu mungkin bahkan sesuatu yang dia bahkan tidak akan dapat temukan untuk selama-lamanya, sebagai seseorang yang tidak terlahir sebagai swordsman.

Meski begitu. Setidaknya, dia tidak dapat menyerah pada kekuatan Integrity Knight ini dan menarik pedangnya kembali untuk waktu yang penting ini. Setelah semua, waktunya untuk meningkatkan dengan berlatih pedang terus menerus telah berakhir. Eugeo memiliki tujuan tetap sekarang. Untuk mengembalikan Alice, yang diubah menjadi Integrity Knight dengan ingatannya yang telah diambil.

——Alice.

Ya, itu semua yang terpenting. Dia tidak dapat melakukan apapun selain melihat saat teman masa kecilnya diambil oleh Integrity Knight pada musim panas delapan tahun lalu, kali ini, dia pasti akan menyelamatkannya. Keahliaannya di ilmu pedang, pengetahuan di sacred arts, mempoles semua itu hanya untuk tujuan itu.

—Tolong, pinjamkan aku kekuatanmu. Aku masih tidak berpengalaman dan mungkin tidak bisa menjadi pemilik yang pantas untuk pedang terkenal seperti kau...Tapi aku tidak dapat melakukan apapun selain untuk maju!

Sementara mengatakan itu di dalam hatinya, dengan kuat membungkukkan seluruh tubuhnya setelah mengambil posisi dengan Blue Rose Sword yang digenggam di atas kepala.

Cahaya biru terang menyelimuti pedang yang transparan. Aincrad-style secret move, «Vertical».

"O... oohh!"

Dibimbing oleh niat yang kuat, pedang itu menyerang lurus. Sebuah suara yang keras, keunikan dari secret moves, bergema dari pedang saat itu bersinar melalui udara dan terhantam pada tangan kiri Integrity Knight yang terbakar itu.

Gelombang kejut dari cahaya biru dan merah bergabung menjadi satu dan menyebar keluar di dalam lingkaran, mengoyak karpet merah yang terbentang di atas tangga dan kain yang tergantung di dinding. Tinju dan pedang itu masih tidak bergerak di udara, masih menempel bersama-sama.

Creak, creak, sarung tangan armor dan pedang saling menghantam satu sama lain. Eugeo mengeluarkan semua yang dia punya untuk berusaha menyelesaikan secret move, tapi tangan knight itu tidak membuat gerakan sedikitpun, seolah-olah itu adalah batu. Tetapi, musuh tidak kelihatan memiliki ketenangan yang lebih juga. Rintihan lemah keluar dari dalam helm saat dia memindahkan seluruh beban tubuhnya pada tangannya.

Itu adalah jalan buntu, tapi saat itu berlangsung dalamn beberapa detik. Api yang dilepaskan dari Conflagrant Flame Bow yang masih dipegang di tangan knight itu mulai membakar pada Blue Rose Sword juga. Cahaya dari secret move yang menutupi pedang itu bergetar seolah-olah itu akan dihentikan disini, itu sudah pasti pedang itu akan dipukul mundur dalam sekejap dan dia akan menderita dari serangan panas yang membakar secara langsung.

"Gu... uh, oo....!"

Eugeo mengumpulkan semua kekuatan fisik dan mental untuk berusaha mengayun pedang ke bawah. Tetapi, api itu terus menjadi lebih kuat dan pedang itu mulai berubah menjadi warna merah api.

Dia tidak pernah memperhatikan itu hingga sekarang, tapi Blue Rose Sword memiliki atribut element es menurut pada «ingatan pedang» yang dia lihat di Ruangan Perpustakaan Besar. Dengan demikian, itu akan lemah terhadap api yang membakar, element yang berlawanan, dan membiarkan situasi ini untuk waktu yang lama sudah cukup mampu untuk mengurangi Life hingga derajat yang berbahaya.

Tapi pada waktu yang sama, itu seharusnya mungkin untuk menghilangkan api musuh dengan element pedang itu.

—Kau telah ditempa oleh badai salju terdingin di Puncak Barisan Pegunungan semenjak penciptaan dari dunia ini.

—Jangan coba untuk kalah pada api yang seperti ini!

Mungkin merespon pada teriakan Eugeo—

Tiba-tiba udara dingin muncul keluar, menusuk tidak hanya tangan kanannya, yang menggengam gagang, tapi tangan kiri yang membantu gagangnya juga. Itu pastinya bukanlah halusinasi. Sebagai bukti, miniature mawar yang diukir pada penahannya telah ditutupi dengan es putih murni. Es itu berubah menjadi sulur tipis,dengan cepat merambat pada pedang, dan memadamkan api yang terbakar itu.

Fenomena itu tidak berakhir di situ. Sulur es putih murni itu bahkan menjulur pada tinju knight yang ada di dekatnya, menyebarkan es untuk memadamkan api yang membukus di sekitar armor berwarna perunggu...

"Nuhh..."

Mungkin disebabkan oleh sensasi membeku yang mustahil, rintihan keluar dari knight itu. Tidak melewatkan dengan sekejap postur musuhnya yang goyah, tanpa memperhatikan bagaimana kecilnya itu, Eugeo melepaskan kekuatan yang telah dia simpan.

Gyaan! Suara yang memekakkan telinga leluar, pedang itu terayun ke bawah dan memukul mundur tangan kiri knight itu.

Tetapi, ujung pedang itu tidak menyentuh tubuh musuh itu, sayangnya. Knight itu mengarah pada Eugeo, dengan sia-sia menebas pedangnya lurus ke bawah, dan melepaskan tinju kanannya tanpa menunda waktu. Itu tidaklah terbakar, tapi cukup menyakitkan seperti hantaman batu itu dari tinju yang kuat akan mendorong jauh Eugeo hingga dasar tangga tanpa kesulitan sedikitpun.

Tapi.

"I... eeaaah!"

Bersamaan dengan teriakan yang bersemangat, pedang Eugeo terayun dari sudut yang tajam.

Menebas kembali dengan Blue Rose Sword, lebih berat dibandingkan dengan sebongkah besi dengan ukuran yang sama, melalui hanya dengan kekuatan fisik, itu mustahil tidak peduli bagaimana kuatnya seseorang itu. Hanya ada satu alasan kenapa itu mungkin, karena itu adalah secret move dari style ilmu pedang Aincrad-style skill dua tebasan, «Vertical Arc».

Pedang yang dengan cepat membuat jejak yang menyerupai huruf suci, 'V', menebas pada pelindung dada dari Integrity Knight secara diagonal. Beberapa tetesan berwarna merah gelap keluar dari bekas luka tebasan di armor berwarna perunggu. Ujung pedang itu mengenai badan knight itu—tapi itu hanya dangkal.

Saat knight itu memegang bagian atas tubuhnya, dia menguatkan kakinya dan melompat mundur. Dia akan mendapatkan ruangan untuk menembak panah api itu sekali lagi jika jaraknya melebar lagi. Tetapi, meskipun hal itu singkat, periode jeda yang pasti ada setelah penggunaan secret move apapun.

Kirito pernah memberitahunya untuk terus berpikir tentang bagaimana menghilangkan jeda besar itu dari penggunaan secret move. Tentu saja, itu bukanlah masalah jika serangan tebasan, tapi ada bahaya dari mendapat serangan balasan yang berbahaya pada kasus dimana itu ditangkis, dihindari, atau gagal untuk menghentikan gerakan musuh seperti waktu sekarang.

Jeda yang disebabkan oleh secret moves tidak dapat dicegah dan tidak ada yang bisa dilakukan tentang itu bahkan jika seseorang mengetahui itu. Dia dapat melakukan dengan metode untuk menghilangkan jeda itu, seperti bertukar dengan patnernya atau melepaskan element angin yang baru dibuat untuk menciptakan jarak melalui tekanan angin. Tapi Kirito telah terlempar ke ruangan dan tidak ada cukup waktu untuk mengucapkan upacara art juga. Itu membawa metode yang tersisa untuk dilakukan.

Eugeo mengumpulkan semua kekuatan fisik dan mentalnya untuk mengontrol pergerakan dari Blue Rose Sword sementara itu pada lintasan dari serangan kedua Vertical Arc. Dia memegang pedang, yang awalnya seharusnya telah menebas ujung kiri atas, seolah-olah itu dibantu oleh bahu kirinya. Cahaya biru yang menutupi pedang itu tiba-tiba menghilang disebabkan oleh kekuatan berlebihan yang dimasukkan, tapi itu tidak masalah saat serangan itu sendiri telah berakhir.

Blue Rose Sword dihentikan di atas bahunya pada saat knight itu dengan keras menghentakkan kakinya ke tanah. Puncak tangga dari tangga besar itu sangat lebar, dan dia mungkin memiliki rencana untuk menembak tombak api itu lagi sementara Eugeo terdiam jika dia sukses melarikan diri ke ujung dinding. Tidak ada cara untuk Eugeo bertahan dari itu jika dia mengizinkan itu.

Metode terakhir untuk menerobos jeda yang harus dihadapi.

Itu adalah menyambungkan secret move baru dari secret move. Dengan melakukan posisi pengaktifan skill berikutnya pada posisi akhir dari skill sebelumnya, periode jeda itu dapat dihapus. Itu adalah secret move diantara secret move yang bahkan gurunya, Kirito, dapat menyelesaikannya hanya setengah waktu darinya, «menyambung skills»—

"......!!"

Mengeluarkan nafas dalam di udara, Eugeo berharap untuk pengaktifkan skill dengan seluruh jiwanya. Dengan segera setelah itu, pedang itu jelas bersinar sekali lagi. Tubuhnya melompat seolah-olah dia bergetar di sana. Pedang itu menebas ke bawah dari ujung kir bergema saat itu mendekat pada Integrity Knight. Secret move satu tebasan, «Slant».

Pada akhirnya, kedua mata knight itu terbuka lebar di dalam helm itu.

Tidak ada rasa sakit yang menyerang mata kanannya, ataupun huruf-huruf suci yang berwarna merah terang membuat kemunculannya saat mereka bertarung seperti ketika dia mencoba menebas Raios dan Humbert. Bahkan tidak ada kebimbangan atau keraguan. Satu pikiran untuk menebas musuh yang pantas mendapat itu membuat gerakan pada seluruh tubuh Eugeo.

Blue Rose Sword dengan keras mengayun lurus ke bawah pada bahu kanan knight itu. Mengikuti suara metal dari armor yang terbelah, hantaman keras dan kuat mengirim dirinya pada tangan kanan Eugeo.

Diberikan dengan luka yang dalam dari bahu hingga mencapai dadanya, Integrity Knight itu terlempar ke belakang, menuju tanah.

"Goahh!"

Suara yang kecil terbisik keluar dari dalam helm dan dengan segera setelah itu, darah berjumlah besar menyembur keluar dari bawah helm itu, terlihat lebih merah dibandingkan dengan armor berwarna perunggu itu.

Ini membuat kedua kalinya dia menebas manusia, tapi Eugeo masih merasa nafasnya berhenti untuk sesaat. Suatu jenis sensasi menekan menyerang bagian bawah perutnya saat menyadari pengaruh balik yang masih tersisa di tangan kanannya, tapi dia dengan susah payah menekan itu.

Seolah-olah setuju dengan perasaan Eugeo, Blue Rose Sword memancarkan lagi gelombang kuat dari udara dingin lainnya, mengubah semua darah yang melekat di pedangnya menjadi es dan setelah mengguncangkannya, itu kembali ke kondisi biasanya. Bahu kanan knight itu telah membeku saat dia melihatnya, darah yang menetes berubah menjadi tetes air yang membeku.

"Guh..."

Knight itu mengeluarkan rintihan lemah saat dia mengangkat tangan kirinya yang masih memegang busur itu, mencoba menggerakkan itu menuju luka. Eugeo mengumpulkan kekuatan kembali ke tangan kanannya yang memegang pedangnya saat melihat itu. Dia akan menebas knight yang terjatuh itu sekali lagi jika musuh mulai mengucapkan sacred arts. Sebagai pengguna yang berangking tinggi seharusnya akan mampu menggunakan semua sacred energy di sekeliling udara untuk memulihkan Lifenya, dia mungkin akan memberikan beberapa luka di mulutnya, menebas tangannya, atau mungkin, tidak ada metode lain untuk membuat dia tidak berdaya selain mengambil hidupnya.

Tetapi, itu kelihatannya knight itu menyerah untuk menyembuhkan dirinya saat menyadari tangan kirinya benar-benar membeku dan tidak dapat melepaskan busur yang telah kehilangan apinya. Gerakan halus dengan ujung jari dibutuhkan untuk upacara art elemental. Mengeluarkan nafas panjang yang kelihatannya menjadi senyuman lesu, tangannya terjatuh ke tanah dengan retakan.

Eugeo sementara bingung pada apa yang harus dilakukan sekarang. Hawa dingin yang dibuat oleh Blue Rose Sword telah memadamkan api musuh, tapi itu membawa juga efek dari menghentikan darah yang mengalir juga, dengan membekukan luka itu. Knight itu tidak akan dapat untuk bertarung lagi, tapi dia juga tidak akan mati. Es di tangan kiri itu akan mencair pada akhirnya, dan dia mungkin akan mengejar setelah sepenuhnya pulih melalui sacred arts.

Orang yang pertama kali bicara adalah Integirty Knight, saat Eugeo berdiri sementara menggeretakkan giginya.

"...Anak muda..."

Eugeo membetulkan posturnya pada suara itu, serak namun mempertahankan kehormatannya, tapi kata-kata yang mengikutinya itu sedikit tidak terduga.

"Apa nama dari secret move yang pertama kali kau gunakan itu...?"

"......"

Dia terbingung untuk sesaat, tapi Eugeo menggerakkan mulut keringnya dan menjawab.

"...Itu dari ilmu pedang Aincrad style, skill dua tebasan, «Vertical Arc»."

"Skill...dua tebasan."

Mengulangi kata-katanya, knight itu terdiam untuk sesaat, namun dengan segera melanjutkan pertanyaannya.

Helm knight itu membuat sedikit gerakan, jadi Eugeo mengalihkan pandangannya menuju belakang dalam sekejap. Ketika dia melakukan itu, dia melihat Kirito, terbakar di berbagai tempat, perlahan menaiki tangga sementara menekan tangan kirinya dan menyeret kaki kanannya sepanjang jalan.

"Kirito...bagaimana dengan lukamu!?"

"Tenang saja, aku telah mencegah sebagian besar luka bakar yang parah....Tuan Knight, apa yang aku gunakan adalah Aincrad-style skill pertahanan, «Spinning Shield»."

"......"

Saat mendengar itu, knight itu melihat ke arah langit-langit saat helmnya retak, lalu kembali tenggelam dalam keheningan.

Suara yang keluar beberapa detik kemudian di dalam keheningan, seolah-olah dia membicarakan dirinya sendiri dibanding dengan Eugeo dan Kirito.

"...Aku selalu berencana untuk mencari di dalam Dunia Manusia dari ujung ke ujung...dan apapun yang berada diluar itu...tapi itu kelihatannya pedang dan skill yang masih tidak diketahui olehku masih ada di dalam dunia ini... —Skill kalian diliputi dengan kemunkinan dari jumlah latihan yang sungguh-sungguh. Itu adalah kesalahanku...untuk menuduh kalian berdua membuat Knight Eldrie menjadi buruk melalui art yang berbahaya..."

Integrity Knight itu menggerakkan kepalanya sekali lagi, mengalihkan pandangannya kepada Eugeo dari dalam penahan wajahnya.

"...Akankah kalian...memberitahuku nama kalian?"

Setelah bertukar pandangan dengan Kirito, Eugeo dengan singkat mengatakan namanya.

"...Swordsman Eugeo. Tidak memiliki nama keluarga."

"Aku Swordsman Kirito."

Setelah mengangguk seolah-olah dia telah mengingat pada nama mereka, Integrity Knight itu mengeluarkan kata-kata yang kelihatannya bahkan jauh lebih tidak terduga.

"...Beberapa Integrity Knights menunggu kalian berdua di lantai lima puluh di katedral ini, di «Grand Cloister of Spiritual Light». Tidak untuk menangkap kalian hidup-hidup, tapi melenyapkan Life kalian berdua dan mengambil hidup kalian...Nafas berikutnya yang kalian ambil mungkin akan menjadi terakhir, dalam sekejap jika kau memilih untuk serangan mendadak dengan serbuan secara langsung seperti yang kalian lakukan sebelumnya."

"Hei... hei, tuan, kau yakin akan baik-baik saja untukmu untuk mengatakan sesuatu seperti itu?"

Kirito menyela dengan sedikit bingung. Tapi knight itu memperlihatkan apa yang menyerupai senyuman dan berguman.

"Karena aku telah gagal untuk menyelesaikan perintah Administrator-sama...lambangku sebagai knight, armor ini dan sacred instrument, akan segera disita dan aku akan dihukum dengan dibekukan untuk periode waktu yang tidak diketahui... —Tolong kurangi Lifeku sebelum aku menderita karena hal memalukan itu...dengan kedua tangan kalian."

"......"

Knight itu menambahkan kata-kata, melihat ke arah Eugeo dan Kirito yang tidak dapat berkata-kata.

"Tidak perlu untuk merasa ragu...setelah semua...skill pedang kalian yang indah telah membuat kekalahanku..."

Mereka berikutnya mendengar namanya—itu cukup mengejutkan hingga Eugeo berhenti dari bernafas.

"Diriku...Seorang Integrity Knight, Deusolbert Synthesis Seven."

Ini bukanlah suatu tingkatan dimana hanya mengingatnya sedikit di suatu tempat.

Nama itu adalah nama yang dengan dalam terukir pada jiwa Eugeo, tidak akan pernah menghilang bahkan untuk sekejap, selama delapan tahun. Itu meliputi penyesalan yang dalam dan keputusasaan, bersamaan dengan kemarahan yang mengikuti itu.

"Deusol... bert? Pada waktu itu...kau telah...?"

Eugeo mendengar suara yang tertahan di tenggorokannya, suara serak yang kelihatannya milik seseorang yang lain.

Warna dari armornya berbeda dan suara dari semua Integrity Knight memiliki suara gema metal dari helm mereka, jadi dia tidak pernah menyadarinya sampai sekarang, tapi meski begitu, jika memang begitu, knight yang terbaring di hadapan matanya sekarang adalah seseorang yang pernah sekali berdiri di hadapan mata Eugeo dan—

Suatu jenis pengaruh mendorong Eugeo dari belakang dan dia mengambil beberapa langkah maju yang goyah.

"Eugeo...?"

Suara bertanya Kirito baru saja mencapai telinganya. Tubuh bagian atasnya berhenti, dia menatap pada wajah yang ada di dalam helm itu secara dekat.

Mungkin karena suatu jenis upacara art telah digunakan pada helm itu, saat wajah dari knight itu sebenarnya dikelilingi oleh kegelapan bahkan setelah jarak itu diperpendek hingga sepuluh cen. Tetapi, dia dapat dengan jelas melihat kedua mata itu yang memperlihatkan kekuatannya bahkan setelah Life yang berjumlah besar telah berkurang. Itu kelihatannya baik muda dan tua, dengan ujung yang tajam.

Menggerakkan mulut keringnya, Eugeo berbisik dengan nada yang serak.

"Kau bilang untuk mengurangi...Lifemu...? Ini adalah duel yang hebat, kau bilang...?"

Tangan kanannya bergetar hingga tidak dapat dikontrol sementara Blue Rose Sword yang masih di tangannya memancarkan udara dingin yang kuat. Es putih segera muncul mengelilingi armor Integrity Knight itu, tepat sebelum pedang itu terhunus.

Eugeo mengeluarkan sejumlah panas yang tiba-tiba keluar dari dalam perutnya, yang mengancam untuk bahkan merobek tenggorokannya menjadi dua, dalam satu nafas.

"Mengikat! Mengikat gadis yang baru berusia sebelas tahun dengan rantai...dan menggantung dia di naga terbang saat kau membawanya pergi...seseorang seperti kau benar-benar tidak memiliki hak untuk mengunakan kata seperti ituuu——!!"

Eugeo mengangkat tinggi Blue Rose Sword dengang ganggang yang terbalik.

Dia ingin untuk menusuk pada mulut milik dari knight itu yang mengatakan kata-kata yang benar-benar tidak dapat dimaafkan itu dengan segala cara hingga ke tanah, menghilangkan apa yang tersisa di Lifenya pada waktu yang sama.

Tetapi, rasa sakit yang parah dan bergetar yang mengahalangi tangan kanannya untuk bergerak. Ini bukanlah mata kanannya yang sakit, tapi di suatu tempat di dalam dadanya. Itu adalah suatu jenis rasa sakit yang terasa seolah-olah seseorang dengan panik mencoba menarik Eugeo kembali. Dengan pedang yang masih terangkat tinggi, Eugeo, yang tubuhnya bergetar dengan sangat kuat, mendapati tangan kanannnya—

Dengan pelan ditahan oleh tangan Kirito, yang mencapainya dari sampingnya.

"......Kenapa, kau menghentikanku, Kirito..."

Sesuatu yang cepat bergetar di dalam emosinya, berada diambang kehilangan seluruh alasannya, Eugeo bertanya pada patnernya, seseorang yang dia percayai dari siapapun dan semua orang di dunia ini.

Kirito menatap tajam ke arah Eugeo dengan mata yang bercampur dengan rasa sakit yang dia secara pribadi menahannya, dia perlahan menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

"Orang itu telah kehilangan semangatnya untuk bertarung. Kau tidak boleh mengayunkan pedangmu pada musuh seperti itu..."

"Tapi...orang ini...orang ini adalah seseorang yang membawa pergi Alice...orang ini..."

Memberikan bantahan seperti anak-anak, bagian dari pikiran Eugeo telah mengerti pada apa yang Kirito coba untuk katakan.

Integrity Knight, juga, tidak lebih dari suatu keberadaan yang digerakkan oleh peritah dari Gereja Axiom—perintah dari pemimpin tertinggi. Seseorang yang menculik Alice adalah gereja itu sendiri, hasil dari hukum dan aturan yang menyimpang ini.

Tapi di sisi lain, dorongan untuk meninggakan pendirian yang sebenarnya dan menebas knight yang terbaring menjadi suatu bagian tidak akan menghilang. Perasaan dari kemarahan, ketidakberdayaan, dan bersalah yang telah terkumpul semenjak hari di musim panas itu bukanlah pada suatu tingkatan yang mampu menghilang dengan mudah dengan menemukan tentang perancang dibalik dunia ini setelah semua waktu yang telah berlalu.

Keranjang rotan yang terjatuh ke kakinya. Roti dan keju yang dikotorkan oleh pasir. Es yang dicairkan oleh sinar matahari.

Rantai dengan sinar gelap yang mengekang sepotong baju apron biru Alice. Dan kedua kakinya, tidak dapat bergerak seolah-olah akar tumbuh dari itu.

...Kirito—Kirito.

Kau mungkin akan mencoba menebas pada Integrity Knight dan menolong Alice pada saat itu. Kau mungkin akan melakukan itu bahkan mengetahui bahwa kau akan ditahan dan dikirim ke pengadilan.

Tapi aku tidak dapat melakukannya. Meskipun bagaimana Alice adalah satu-satunya temanku, seorang gadis yang jauh lebih penting dari siapapun, aku tidak dapat melakukan apapun selain melihat. Melihat saat knight yang, sekarang terbaring tepat dihadapan mataku, mengikat Alice dan membawanya pergi.

Luapan dari emosi, dipenuhi dengan suatu pemikiran seperti itu, memasuki ke dalam seluruh pikirannya. Tangan kanan yang ditahan oleh Kirito bergetar, pedang itu telah diangkat lebih tinggi.

Tetapi, kata-kata yang diucapkan Kirito sementara mengfokuskan kekuatannya pada tangan kirinya cukup mengejutkan Eugeo untuk membuat dia terdiam sejenak.

"...Aku yakin orang ini tidak mengingat itu. Waktu ketika dia mengambil pergi Alice dari Desa Rulid...Bukan karena dia telah melupakan itu, tapi karena ingatannya telah dihapus."

"Eh...?"

Eugeo melihat ke arah bawah pada helm dari knight yang terbaring dengan keheranan.

Integrity Knight yang tidak pernah bergerak sedikitpun, bahkan dengan Blue Rose Sword yang dihunus padanya, sekarang bergerak untuk pertama kalinya saat menerima tatapan dari mereka berdua. Secara paksa membuka tangan kirinya, dimana es itu akhirnya mencair, dia melepaskan busur panjang sementara memisahkan bagian dari es, dan melepaskan kancing di sisi helmnya dengan ujung jarinya.

Helm itu, dibaut untuk kelihatan menakutkan, terbuka seolah-olah menjadi terbelah dua, di depan dan di belakang, dan sekarang terlepas dari kepala knight, terjatuh dengan suara. Apa yang terlihat adalah wajah dari seorang laki-laki yang benar-benar menggambarkan keteguhan, sekitar umur empat puluh tahun.

Rambutnya, dipotong pendek, dan alis tebal itu berwarna merah pucat yang serupad dengan besi berkarat. Hidung tingginya menghubungkannya dan mulut yang berkerut itu lurus seperti potongan dari pisau sementara ketajaman dari matanya membawa pikiran pada besi dari kepala anak panah.

Tetapi, mata abu-abu gelapnya sendiri memperlihatkan kegelisahan di dalam hatinya, sedikit bergetar. Mulut tipis itu bergerak dan suara yang keluar benar-benar berbeda dengan suara yang dikeluarkannya hingga sekarang, nada rendah yang dalam.

"...Itu...seperti yang anak muda berambut hitam itu katakan. Kau bilang aku menangkap gadis muda dan membawanya pergi dengan naga terbang? Aku tidak memiliki ingatan dari membuat perbuatan seperti itu."

"Tidak... tidak memiliki ingatan...? Itu hanya terjadi delapan tahun lalu..."

Berguman dengan kebingungan, kekuatan keluar dari tangan kanan Eugeo tanpa dia sadari. Menyentuh dagunya seolah-olah tenggelam di pikirannya dengan tangan kirinya yang telah lepas dari Eugeo, Kirito berkata sekali lagi.

"Seperti yang aku bilang, itu telah dihapus...ingatanmu dari seluruh perbuatanmu, dari awal hingga akhir. Tuan... tidak, Knight Deusolbert, kau adalah Integrity Knight yang melindungi wilayah utara yang terpencil, Norlangarth Utara, apakah aku benar?"

"...Benar. Wilayah Terpencil Ketujuh Norlangarth Utara adalah...wilayah yang aku lindungi. Ya...itu hanya, sampai delapan tahun lalu..."

Alis dari knight itu terangkat kuat secara bersama-sama, seolah-olah dia hendak mencari untuk mengatakan sesuatu dari suatu tempat jauh di dalam pikirannya.

"Dan aku...diberikan armor ini bersama dengan tugas untuk menjaga Katedral Pusat...disebabkan oleh suatu kesuksesan yang besar..."

"Apa kau dapat mengingat apa kesuksesan itu?"

Knight itu tidak dapat memberikan jawaban langsung pada pertanyaan Kirito. Mulutnya ditekan dengan rapat secara bersamaan, pandangannya melihat sekitarnya. Apa yang memecah keheningan pendek itu adalah kata-kata dari Kirito sekali lagi.

"Aku akan menjawabnya untukmu. Kesuksesanmu adalah memancing keluar Integrity Knight Alice Synthesis Thirty. Di desa kecil di ujung wilayah utara, di suatu tempat dimana tak seorangpun yang tahu di ibu kota pusat. Bahkan oleh pemimpin tertinggi, Administrator, memberikan penghargaan dari kesuksesan membawa Alice ke menara ini padanya, dia juga menghapus semua ingatan mengenai insiden ini darimu...Alasan untuk itu telah dikatakan oleh dirimu sendiri sebelumnya."

Tanpa ada seorangpun yang menyadarinya, Kirito terus berbicara, dalam nada cepat yang jauh lebih cepat baik dari Eugeo dan Integrity Knight, seolah-olah dia berbicara pada dirinya sendiri.

"Integrity Knights tidak memiliki masa lalu, mereka telah dipanggil dari Celestial World, setelah semua, itulah yang kau katakan. Itu pasti adalah apa yang pemimpin tertinggi katakan pada kau segera setelah kau bangun sebagai knight. Itulah kenapa kau tidak memiliki ingatan dari sebelum kau menjadi Integrity Knight, itulah bagaimana dia meyakinkan kau. Tapi untuk bertahan dengan cerita itu, itu akan menjadi masalah jika tidak hanya ingatan Integrity Knight memiliki ingatan dari kehidupan manusia mereka yang masih tersisa, tapi juga jika mereka memiliki ingatan mengenai kelahiran dari knight baru disamping diri mereka. Itu akan menjadi kacau jika kriminal yang kau bawa oleh dirimu sendiri tiba-tiba muncul sebagai knight teman kalian pada hari berikutnya, setelah semua...ada kelemahan pada kebohongan dari pemimpin tertinggi..."

Memikirkan pada berbagai aspek dengan kecepatan yang kuat, Kirito muali bergerak ke kiri dan ke kanan sementara melihat ke bawah.

Dengan semua keinginannya yang menghilang dari dia sementara dia melihat keadaan patnernya, Eugeo mengambil nafas panjang sementara mengambil pandangan lain pada laki-laki yang terbaring di dekat kakinya. Ketika dia melakukannya, Integrity Knight Deusolbert, juga, kelihatannya tenggelam pada pikirannya dengan ekspresi kosong.

Itu bukanlah seperti kemarahan dan kebenciannya telah menghilang, tapi jika ingatannya mengenai Alice benar-benar telah dihapus tanpa jejak, maka dia tidak memiliki pilihan lain selain untuk menerima itu—mungkin.

Bahwa semua knight itu tidak lebih dari suatu pion yang dimanipulasi oleh seseorang yang bertugas sebagai pemimpin tertinggi dari Gereja Axiom, Administrator. Musuh yang dibencinya yang mengambil Alice darinya, mengambil ingatannya dari dia, dan membuatnya menjadi Integrity Knight hanyalah satu orang, Administrator.

Mungkin menyadari tatapan Eugeo yang melihat ke bawah pada dirinya, mata Deusolbert berhenti melihat sekitarnya. Emosi yang kelihatannya berputar-putar di dalam hatinya tidak dapat terbaca, tapi suara yang keluar dari mulutnya yang benar-benar terputus-putus, suara yang membuat ingin bertanya apakah dia benar-benar adalah orang yang sama sebagai lawan kuat yang berdiri dihadapan mereka berdua, beberapa menit yang lalu.

"Itu seharusnya...tidak mungkin...Bagaimana mungkin kita Integrity Knight adalah penduduk Dunia Manusia seperti mereka semua sebelum kita diangkat sebagai knights......?"

"......"

Menggantikan Eugeo yang kehilangan kata-katanya, Kirito menjawab lagi.

"Darah yang mengalir keluar dari lukamu berwarna merah, seperti kita, bukan? Dan Knight Eldrie menjadi aneh pada waktu itu bukanlah karena suatu art mengerikan yang diberikan padanya. Itu karena kita mencoba membuat dia mengingat kembali ingatan yang diambil darinya....Kau seharusnya sama seperti Eldrie juga. Aku tidak tahu apakah mendapat kemenangan di Turnamen Persatuan Empat Kerajaan atau melanggar terhadap Taboo Index, tapi kau memiliki ingatan penting yang diambil oleh Administrator dengan kesetiaan terhadap gereja ditanam di tempat itu dan mengubahmu menjadi Integrity Knight. Kau mengatakan bahwa kau akan dihukum dengan akan dibekukan, tapi Administrator-sama mungkin akan mengubag ingatanmu pada saat itu dan menghapus ingatanmu dari percakapan ini juga. Aku bahkan akan bertaruh pada itu."

Cara Kirito mengekspresikannya sangatlah langsung, tapi suaranya bercampur dengan kesedihan.

Mungkin knight itu merasakan itu juga, saat dia menutup kelopak matanya dan terus terdiam untuk sesaat, tapi dia perlahan menggelengkan kepalanya sekali lagi.

"Aku tidak dapat untuk mempercayainya. Bagaimana mungkin Pemimpin Suci, pemimpin tertinggi...memberikan art seperti itu pada......"

"Tapi itu adalah kenyataan. Seharusnya masih ada sesuatu yang tertinggal di dalammu juga. Ingatan penting dari sebelum kau menjadi knight, suatu hal yang tidak dapat dihapus oleh upacara art apapun..."

Saat Kirito mendekat dari sudut itu, Deusolbert tiba-tiab mengangkat tangan kirinya ke atas dan menatap pada jari kuatnya saat dia perlahan berguman dengan menghela nafas.

"Bahkan semenjak aku turun ke Dunia Manusia...Aku selalu melihat mimpi yang sama ini, dari waktu ke waktu... Sebuah tangan kecil menggoyangkan aku untuk bangun...Dan cincin perak yang terpakai di salah satu dari jari itu...Tapi ketika aku terbangun...tidak ada seorangpun yang di sana..."

Alis Deusolbert tergabung bersama-sama dan dia menekan kuat tangan kirinya pada dahinya. Kirito menatap kuat pada kejadiaan itu, tapi kemudian bergumam dengan pelan.

"Kau mungkin tidak dapat mengingat lebih dari itu. Ingatanmu dari seseorang yang memiliki tangan dan cincin itu telah diambil oleh Administrator..."

Terdiam untuk sesaat, dia mengembalikan pedang hitam yang direndahkan di tangan kanannya ke sarungnya yang terpasang di pinggang kirinya dengan suara gemerincing.

"...Kau memilih apa yang akan kau lakukan sekarang. Apakah kembali ke sisi Administrator untuk menerima hukumanmu, atau untuk menyembuhkan lukamu dan mengejar kami...atau mungkin..."

Memotong pada bagian sana, Kirito mengambil beberapa langkah menuju tangga yang membentang menuju atas dari sisi kanan dari puncak tangga. Hingga berhenti di sana, dia memutar bahunya dan melihat ke arah mata Eugeo.

—Apakah itu cukup?

Mata hitamnya berkata seperti itu. Eugeo mengalihkan pandangannya pada Integrity Knight, yang terbaring di tanah dengan matanya tertutup, sekali lagi. Dia perlahan mengangkat Blue Rose Sword di tangan kanannya—dan meluruskan ujungnya ke sarung di pinggang kirinya, dan dengan lembut menyarungkan itu.

"...Ayo pergi."

Mengambil tempat di samping Kirito, dia dengan singkat mengatakan itu dan mereka mulai berjalan menaiki tangga bersama-sama.

Itu tidak diketahui pilihan apa yang Integrity Knight Deusolbert Synthesis Seven akan ambil, tapi setidaknya, itu kelihatannya itu bukan pilihan untuk mengejar pada mereka berdua.

Bagian 2[edit]

Suara dari sepatu mereka berdua menaiki tangga marbel bergema untuk periode waktu yang singkat.

Tanpa itu, sekeliling mereka akan menjadi diliputi oleh kesunyian, cukup tajam untuk melukai telinga seseorang. Seharusnya ada sejumlah besar dari pendeta dan murid mereka yang tinggal di menara besar dari Gereja Axiom, menurut dari pengetahuan Eugeo yang banyak, tapi dia tidak dapat merasakan apapun yang mendekati keberadaan manusia, tidak peduli sekeras apapun dia menajamkan pendengarannya atau memfokuskan pandangannya.

Sebagai tambahan, pemandangan yang menyambut dia di setiap lantai baru yang dia naiki—aula persegi dengan koridor terbentang ke kiri dan ke kanan, pintu yang berbaris dengan jarak yang sama bersamanya—hampir tidak dapat dibedakan, memberikan dia kesan bahwa art ilusi telah ditaruh pada mereka tanpa terlihat, membuat mereka menaiki dan menuruni tangga yang sama berulang kali.

Dia ingin mencoba memasuki salah satu koridor dan membuka pintu di dekatnya untuk memastikan bahwa itu bukanlah masalahnya, tapi Kirito dengan diam menjaga kecepatannya menuju ke depan, jadi dia memberitahu dirinya untuk tidak teralihkan. Jika kata-kata Deusolbert terbukti benar, bahkan musuh yang lebih kuat akan menunggu mereka di lantai lima puluh dari katedral, di suatu tempat lebih tinggi dari tangga ini.

Dengan lembut menyentuh gagang dari pedang kesayangannya yang berayun di pinggang kirinya, pada saat Eugeo mencoba untuk menyingkirkan pikiran yang mengganggunya, langkah Kirito tiba-tiba menjadi segera berhenti sebelum mencapai puncak tangga.

Berbalik dengan ekspresi serius, dia berbicara dengan nada tegang, berkata.

"Hei, Eugeo. ......Lantai berapa kita berada sekarang...?"

"Hei... hei sekarang."

Setelah secara tidak sengaja, sedikit tersandung, Eugeo menghela nafas, menggelengkan kepalanya, dan menurunkan bahunya, pada waktu yang bersamaan.

"Lantai berikutnya adalah lantai kedua puluh sembilan. Aku berpikir ini mungkin akan terjadi, tapi untuk memikirkan kau benar-benar tidak menghitungnya."

"Apakah kau berpikir itu akan tepat untuk memiliki indikator lantai di tangga, normalnya?"

"Itu mungkin benar, tapi kau seharusnya telah menyadarinya setelah semua waktu yang berlalu!"

Tidak memperhatikan sikap Eugeo seolah-olah itu bukanlah urusannya, Kirito menyandarkan punggungnya pada dinding puncak tangga dengan suara keras.

"Meskipun demikian, kita masih sejauh itu, huh...Aku pikir kita telah pergi cukup tinggi juga...Aku lapar..."

"...Sebenarnya, kau tidaklah sendirian pada hal itu."

Mendekati lima jam telah berlalu semenjak mereka telah diberikan sarapan mewah di Ruangan Perpustakaan Besar Cardinal. Solus telah mendekati bagian tengah dari langit dari apa yang dapat terlihat melalui jendela yang panjang dan tipis, dan dengan bagaimana mereka telah menaiki dua puluh lima lantai, yang akan berarti ribuan langkah, sebagai tambahan untuk telah melalui sebuah, pertatungan kuat, itu sudah pasti tidak dapat dihindari bahwa tubuh mereka menuntut untuk istirahat.

Mengangguk pada kata-kata Kirito, Eugeo mengikutinya dengan mengeluarkan tangan kanannya tanpa menunda-nunda.

"Jadi, serahkan salah satu dari sesuatu yang ada di saku celanamu."

"Eh...tidak, ini adalah, sebenarnya, untuk keperluan darurat, jadi... —Matamu tanpa diduga tajam, huh."

"Tidak ada cara untuk aku tidak akan menyadarinya dengan bagaimana penuhnya itu terisi, bukan?"

Kirito memasukkan tangannya pada saku kanannya dengan apa yang kelihatannya seperti pasrah pada wajahnya, sebelum mengambil keluar dua manjuu dengan uap yang mengepul dan melempar salah satu dari itu. Saat menangkap itu, ada sebuah aroma lezat yang memancing perutnya meskipun waktu yan cukup lama telah berlalu semenjak mereka meninggalakn ruangan perpustakaan.

"Itu sedikit terbakar dengan serangan api dari orang tua itu."

"Ha-Hah...Jadi karena itu seperti itu. Terima kasih atas makanannya."

Manjuu itu diciptakan oleh Cardinal melalui sacred art berangking tinggi, jadi itu berarti itu awalnya adalah beberapa halaman dari buku tua, sebelumnya, tapi Eugeo menutup mata pada fakta itu dan menggigit pada itu. Dia untuk sebentar menikmati bekas panggangan yang renyah pada kulitnya dan daging cincang yang lembut mengisi di dalamnya.

Makan siang yang sederhana itu telah selesai dalam beberapa detik kemudian, Eugeo menjilat jarinya dan menghela nafas pendek. Sebenarnya masih ada tonjolan yang mencurigakan di saku kiri Kirito, tapi dia memilih untuk meninggalkan itu sementara memanggil patnernya yang sudah selesai makan.

"Itu sangat enak. —Jadi, apa rencana untuk sekarang? Kita akan mencapai lantai kelima puluh yang dipertanyakan jika kita memanjat untuk tiga puluh menit lainnya, tapi...Apakah kita akan menyerbu dari depan?"

"Nn..."

Kirito mengusap rambutnya saat dia menggerutu.

"Itu benar... —Kita menemukan bagaimana menakutkannya Integrity Knight dari pertarungan sebelumnya, tapi menilai dari yang aku lihat dipertarungan diantara kau dan orang tua itu, dibandingkan dengan orang-orang itu tidak terbiasa menghadapi skill tebasan beruntun, mereka benar-benar tidak memiliki pengalaman dengan itu, aku rasa. Aku ingin mempercayai bahwa kita memiliki kesempatan menang jika kita membawa itu menjadi pertarungan satu lawan satu dalam jarak dekat. Tapi dengan beberapa dari mereka ada disana, tidak perlu dibilang bahwa mereka penuh persiapan dan menunggu kita, itu akan sangat sulit untuk mempersiapkam diri."

"Jadi...Apakah kita akan menyerah untuk menyerbu dari depan dan mencari rute lainnya?"

"Aku ragu tentang hal itu. Bahkan Cardinal mengatakan bahwa tangga besar ini adalah satu-satunya rute dan bahkan jika kita menemukan jalan masuk rahasia, masih ada bahaya dari tertangkap dengan serangan menjepit tak lama kemudian...Aku berharap untuk mengalahkan knight di lantai lima puluh tanpa berlari di suatu tempat entah bagaimana. Jadi itu akan membawa kita untuk menggunakan kartu truf kita, tapi kita memiliki waktu untuk mempersiapakan upacara panjang art, yang terbawa itu, terima kasih atas peringatan yang orang tua itu berikan pada kita."

"Aku mengerti...«armament full control art»..."

Ketika Eugeo berguman itu, Kirito mengangguk dengan ekspresi rumit.

"Aku khawatir tentang menggunakan itu di pertarungan sebenarnya tanpa latihan, tapi menyia-nyiakan Life pedang kita pada suatu tempat seperti ini hanya akan percuma...Kita akan menggunakan full control art bersama-sama, sebelum kita menyerbu menuju lantai lima puluh dan mencoba untuk membuat banyak knight tidak berdaya sebanyak mungkin..."

"Aah, ada sesuatu yang harus aku katakan tentang itu, Kirito."

Dengan sedikit canggung, Eugeo memotong perkataan Kirito.

"Itu seperti...Itu tidak kelihatan seperti full control artku akan akan menjadi serangan hantaman langsung seperti skill Integrity Knight sebelumnya."

"Eh... b-benarkah?"

"Kau tahu, seseorang yang menulis upacara art untukku adalah Cardinal...Aku adalah seseorang yang memikirkan jenis dari skill itu, tapi meski begitu..."

Kirito memiringkan kepalanya saat dia berbicara pada Eugeo, perkataannya penuh dengan alasan.

"Baiklah, cobalah untuk mengucapkan upacara art untuk sekarang. Tanpa kalimat pembuka."

"B-Baiklah."

Dia dengan cepat mengucapkan upacara art seperti yang dia telah minta, dengan «system call» dihilangkan. Kirito, yang mendengarnya dengan matanya tertutup, merasa telah melebihi harapan dan menyeringai setelah Eugeo mengatakan kalimat terakhir, "Enhance armament".

"Jadi seperti itu. Benar, itu tidak dapat dikatakan sebagai serangan langsung, tapi itu masih cukup berguna, tergantung bagaimana cara menggunakannya. Dan itu kelihatannya tidak terlalu buruk dengan full control artku."

"Oh? Apa skillmu, Kirito?"

"Itu adalah sesuatu yang akan kau lihat sebentar nanti."

Eugeo dengan pelan mengerutkan dahinya pada Kirito, yang mengeluarkan kata-katanya dengan mudah. Tetapi, patnernya menyisir rambutnya ke atas dahi dengan wajah tenang, menyandarkan punggungnya pada dinding sekali lagi.

"Sebenarnya, aku tidak dapat mengatakan ini adalah strategi sebenarnya, tapi mari kita coba dengan itu. Pertama, kita mengucapkan armament full control art tepat sebelum kita menyerbu di lantai lima puluh, membiarkan itu standby[2] sebelum pengaktifan. Lalu pada saat menyerbu dan mengkonfirmasi posisi mereka, kau menyerang mereka dengan skillmu, lalu aku akan menyerang dengan skillku. Jika semuanya berjalan baik dan musuh berkumpul di tempat yang sama, kita bahkan mungkin akan membuat mereka semua tidak berdaya."

"Mungkin, huh."

Dia menyetujuinya dengan keraguan, tapi sejujurnya, Eugeo tidak memiliki rencananya sendiri. Dia tidak dapat melakukan apapun selain mengakui patnernya memiliki bakat yang lebih baik untuk membuat rencana dengan mempehitungkan semua faktor dan dia sangat berterima kasih untuk dapat mengucapkan upacara art sebelum bertarung, dengan keyakinannya yang rendah dalam mengucapkan itu dengan cepat.

"...Jadi, mari kita lakukan dengan itu. Pertama, aku akan..."

Saat dia berbicara, Eugeo dengan cepat mengalihkan pandangannya menuju kiri, pada tangga yang menghubungkan menuju lantai dua puluh sembilan dari katedral ini.

Dan dia membuka lebar matanya dengan keheranan.

Dua kepala kecil telah mengintip dari bayangan yang mengelilingi pegangan tangga, empat mata mereka terus menatap ke arah mereka.

Pada saat kedua mata mereka bertemu dengan Eugeo, dua kepala itu menghilang dengan sekejap. Tapi saat dia melanjutkan untuk menatap, dengan diam, kepala itu muncul sekali lagi, sepasang mata yang terlihat tak berdosa berkedip secara terus menerus.

Menyadari sesuatu telah terjadi, Kirito mengikuti pandangan Eugeo dan juga setelah membuat mulutnya terbuka lebar, Kirito dengan ragu-ragu bertanya.

"Siapa...mereka berdua?"

Dengan itu, dua kepala itu bertemu satu sama lain, mengangguk secara bersamaan, dan dengan gugp memperlihatkan diri mereka secara keseluruhan.

"An...Anak-anak...?"

Eugeo berguman itu, tanpa memikirkannya.

Seseorang yang berdiri di lantai atas adalah dua anak perempuan yang memakai baju berwarna hitam yang benar-benar sama.

Umur mereka kelihatannya baru sepuluh tahun. Dia merasa sedikit nostalgia, dari pakaian hitam polos yang benar-benar sama dengan pakaian keagamaan milik Selka. Saudara perempuan Alice, yang belajar di Gereja Rulid.

Tetapi, tidak seperti Selka, gadis itu memiliki pedang pendek dengan panjang secara keseluruhan adalah tiga puluh cen di sabuk hijau mereka.

Saat itu kewaspadaan menjadi meningkat, tapi dia segera menyadari tidak hanya pedang mereka, tapi juga ganggang pedang mereka juga, dibuat dari kayu kemerahan. Warna itu tidak biasa, tapi itu kelihatannya sama dengan pedang kayu yang diberikan kepada anak-anak yang bertujuan menjadi swordsman.

Anak perempuan di kanan memilki warna rambut coklat muda dengan dua kepang. Alisnya yang terlihat lemah bersamaan dengan ujunga matanya memberikan kesan lemah lembut. Berbalik dengan itu, gadis di kiri memiliki warna rambut kekuning-kuningan yang dipotong pendek, kedua matanya terlihat ke atas menunjukkan ketetapan hati.

Saat Kirito dan Eugeo menatap dengan terdiam, seseorang yang mengambil langkah maju gadis bersemangat, berpikiran kuat di sebelah kiri seperti yang diduga. Mengambil nafas yang dalam di udara, dia tiba-tiba mulai memperkenalkan dirinya.

"Erm... Aku-Saya[3] Fizel, murid sister dari Gereja Axiom. Dan gadis ini juga adalah murid sister..."

"Li... Linel."

Suara kekanak-kanakan dari mereka berakhir dengan nada gemetar, mungkin disebabkan oleh kegelisahan mereka. Eugeo menunjukkan senyuman dengan maksud untuk menyakinkan mereka dan segera menyadari bahwa dia mungkin dilihat sebagai musuh, memikirkan bahwa mereka adalah sister di gereja ini, bahkan jika mereka masih murid.

Tetapi, kata-kata yang diucapkan oleh anak perempuan yang memanggil dirinya Fizel jauh lebih cepat ke permasalahan daripada yang Eugeo duga.

"Jadi...Apakah penyusup dari Dark Territory seharusnya adalah kalian berdua?"

"Hah...?"

Wajah Kirito dan wajahnya tanpa sadar bertemu. Patnernya juga tidak dapat untuk memilih keputusan untuk bagaimana menangani situasi ini. Mulutnya bergetar tanpa henti dengan alisnya telah menyatu, dan dia dengan cepat bergerak dan menyelinap ke belakang punggung Eugeo.

"Aku buruk dengan anak-anak. Aku akan meninggalkan ini untukmu."

Diberitahu itu dari belakang, dia berharap untuk berbisik "Itu tidak adil!" kembali, tapi bersembunyi di belakang Kirito kelihatannya tidak mungkin untuk sekarang. Melihat ke arah dua anak perempuan di lantai atas, dia memberikan jawaban yang ditahannya.

"Er... erm, sebenarnya...Kita awalnya adalah manusia yang berasal dari Dunia Manusia, tapi...bagian dari kami menjadi penyusup, sebenarnya, tidak terlalu salah, aku rasa..."

Kali ini, anak-anak berkermumun menuju dahi mereka secara bersamaan saat mendengar itu dan mulai saling bertukar perkataan dengan suara pelan. Itu sangat pelan, tapi masih dapat terdengar disebabkan bagaimana sekeliling mereka sangatlah tenang.

"Ada apa dengan itu, mereka benar-benar seperti manusia dari luar, Nel. Mereka tidak memiliki tanduk atau ekor."

Seseorang yang mengatakan itu dengan tidak puas, adalah Fizel, gadis yang kelihatannya berpikiran kuat. Gadis yang bernama Linel berkata lagi dengan terbata-bata.

"A-Aku hanya mengatakannya sesuai dengan yang ada di buku. Kau adalah seseorang yang salah karena berpikir mereka benar-benar memilikinya,Zel."

"Hmm, meski begitu mereka mungkin hanya menyembunyikannya. Mungkin kita dapat mengatakan itu jika kita mendekat?"

"Eeh, tapi mereka benar-benar kelihatan seperti manusia normal. Tapi...Itu mungkin bahwa mereka memiliki taring..."

Percakakapan yang menyenangkan itu mengingatkan Eugeo terhadap saudara perempuan kembar di peternakan Wolde dimana dia sekali bekerja sambilan, dan mulutnya benar-benar menjadi lemah untuk kali ini juga.

Jika Kirito dan dirinya adalah anak-anak berumur seperti itu dan mengetahui bahwa penyusup dari tanah kegelapan di dekatnya, kemungkinannya akan tinggi bahwa mereka akan pergi dan menyelinap untuk melihat seperti ini. Sebagai hasilnya, mereka mungkin akan mendapat teguran keras dari ayah mereka dan kepala desa.

Eugeo dengan cepat menjadi khawatir, memiliki pemikiran bahwa. Akankah kedua anak perempuan ini akan dihukum nanti untuk bertemu dengan pemberontak terhadap gereja? Dia merasa bahwa dia bukanlah berada pada situasi untuk menahan kekhawatiran itu, tapi itu terasa dia harus mengatakannya.

"Hei...Bukankah mereka akan marah pada kalian berdua jika berbicara dengan kami?"

Saat mendengar itu, Fizel dan Linel dengan cepat menutup mulut mereka dan lalu kemudian, memperlihatkan senyum puas. Fizel menjawab, terlihat hanya sedikit gembira. Kesopanan dalam cara berbicara telah menghilang tanpa disadari.

"Semua pendeta dan sister dan murid mereka telah disuruh untuk mengunci pintu kamar mereka dan tidak pernah pergi semenjak pagi ini. Jadi itu berarti bahkan jika kita pergi untuk melihat penyusup, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk seseorang akan mengetahuinya."

"Ha-Hah..."

Entah bagaimana, itu benar-benar seperti alasan yang Kirito akan gunakan. Dia mungkin bahkan benar-benar dapat membayangkan itu di pikirannya, bagaimana mereka akan ditemukan pada akhirnya dan ditegur.

Kedua anak perempuan itu telah berada di uatu diskusi sekali lagi, tapi Linel adalah seseorang yang berbicara kali ini.

"Ermm...Apakah kalian berdua benar-benar bukan monster dari Dark Territory?"

"Y-Yeah."

"Jadi, aku meminta maaf, tapi bolehkah kalian memperbolehkan kami untuk mendekati kalian berdua...? Di, erm, dahi dan gigi kalian."

"Eeh?"

Kehilangan ketenangannya pada permintaan yang tak terduga, Eugeo melihat ke belakang, tapi tidak hanya Kirito tidak memberikan bantuan dengan suatu cara, dia bahkan berpura-pura tidak tahu dengan kepalanya melihat ke arah suatu tempat. Eugeo dengan berat hati mengangguk pada anak perempuan itu.

"...Baiklah, jika hanya itu semua, aku tidak memiliki masalah dengan itu..."

Untuk tidak bisa menolak di situasi ini disebabkan oleh sebagian dari sifatnya, tapi ada juga keinginannya untuk membuktikan bahwa dia adalah manusia biasa meskipun menjadi pemberontak terhadap gereja, tergantung pada situasinya, itu bahkan mungkin untuk mendapat informasi tentang bagian dalam katedral dari mereka berdua.

Sword Art Online Vol 12 - 195.jpg

Wajah Fizel dan Linel menjadi berbinar dan mereka menuruni tangga, cara berjalan mereka tergabung dengan rasa keingintahuaan dan kehati-hatian. Langkah mereka berhenti di ujung tangga, mata biru dan abu-abu mereka dengan tajam melihat ke arahnya.

Eugeo membungkuk, menyisir rambutnya ke atas dahi dengan tangan kirinya saat dia memperlihatkan giginya agar mereka dapat melihatnya. Anak perempuan itu menatap pada Eugeo selama sepuluh detik tanpa mengedipkan mata sekalipun, sebelum akhirnya mereka mengangguk, kelihatannya sudah puas.

"Dia manusia."

"Dia manusia, bukan?"

Suatu ucapan ketidakpuasan terlihat di wajah mereka bedua yang membuat dia tidak dapat melakukan apapun selain untuk memperlihatkan senyum masam. Melihat ke arah Eugeo yang melakukan itu, Linel memiringkan kepalanya menuju ke samping.

"Tapi jika kalian berdua bukanlah monster dari Dark Territory, kenapa Katedral Pusat akan mempercayai bahwa kalian adalah penyusup?"

"E-Erm..."

Bahkan sementara memikirkannya itu akan berubah menjadi yang buruk untuk satu hal dan lainnya, dia merasa tidak perlu lagi untuk menyembunyikannya setelah semua yang telah terjadi dan menjawab secara jujur.

"...Pada waktu yang lalu, teman perempuanku telah diambil pergi oleh Integrity Knight. Jadi aku datang ke sini untuk mengambil kembali dia."

Ini, khususnya, pasti akan sulit untuk murid sister, yang normalnya akan mempercayai dengan kuat pada rasa keadilan Gereja Axiom, untuk menerimanya. Dia mengira ekspresi dari kaget dan kebenciaan akan terlihat pada wajah anak perempuan muda itu, tapi sebaliknya dari itu, gadis itu hanya menganggul saja. Gadis dengan rambut berwarna kekuning-kuningan, Fizel, berbicara dengan wajah yang terlihat sedikit tidak puas.

"Jadi seperti itu. Itu alasan yang cukup normal."

"N-Normal?"

"Ada beberapa kasus dimana beberapa orang mengadakan protes terhadap gereja ketika keluarga atau kekasih mereka diambil pergi, tercatat di masa lalu. Kalian berdua mungkin adalah orang pertama untuk benar-benar berhasil untuk masuk ke sini, meskipun begitu."

Mengikuti itu, Linel mengikuti arus pembicaraan dari sampingnya.

"Tidak perlu dibilang bagaimana mereka mengatakan kalian memotong rantai spirit-iron dan melarikan diri ketika kalian dipenjara, dan bagian tentang berhasil untuk mengalahkan dua Integrity Knight juga, yang membuat kita menunggu di sini, berpikir itu pasti adalah monster kegelapan...bahkan mungkin Darkness Knight yang sebenarnya melancarkan serangan. Tapi untuk memikirkan bahwa kalian hanya manusia normal..."

Anak-anak itu bertukar pandangan dan berkata, "Apa ini cukup?" dan "Ini sudah cukup, bukan?", saat mereka mengangguk satu sama lain.

Linel, yang melihat ke arah Eugeo sekali lagi, memiringkan kepalanya saat kepangnya terurai.

"Lalu, yang terakhir dari semua, dapatkah kalian memberitahu nama kalian?"

Masih banyak hal yang ingin aku tanyakan, terlebih dahulu, pikir Eugeo saat dia menjawab.

"Aku Eugeo. Orang yang dibelakangku adalah Kirito."

"Hmph...Kau tidak memiliki nama keluarga?"

"Ah, yeah. Aku adalah anak dari petani, kalian tahu....Apakah itu juga sama untuk kalian berdua juga?"

"Tidak, kita memiliki nama keluarga."

Memotong disana, Linel tersenyum lebar. Dengan terang, seperti permata—seyuman seperti pipinbya telah dipenuhi dengan makanan yang manis.

"Namaku adalah Linel Synthesis Twenty-eight."

Eugeo tidak dapat segera menarik kesimpulan arti dari nama yang dimiliki mereka.

Pada saat itu juga, hawa dingin dapat dirasakan di perutnya dan Eugeo mengalihkan pandangannya menuju ke bawah.

Eugeo masih belum yakin ketika itu telah ditarik dari sabuk, tapi pedang pendek yang digenggam di tangan kanan Linel ujungnya telah masuk sekitar lima cen pada tubuhnya.

Itu kelihatannya hanya pedang kayu ketika itu terpasang di sabuknya, tapi itu kelihatannya apa yang dia pikir adalah pedang, sebenarnya adalah sarung pedang kayu. Pedang sebenarnya yang ditarik keluar dari itu bukanlah kayu. Itu berwarna hijau gelap, metal yang tidak diketahuinya.

Permukaannya yang terkena sinar matahari yang bersinar dari jendela dan berkilauan seolah-olah itu basah.

"Eu...!"

Apakah suara itu adalah suara Kirito? Membalikkan leher kakunya ke belakangnya, dia melihat patnernya terdiam, dengan kaki kanannya melangkah maju, Fizel, yang di samping Linel hanya pada saat sebelumnya, yang sekarang berdiri diagonal di belakang Kirito, dengan pedang hijau yang sama menusuk pada jaket hitam. Bentuk mulutnya yang membuat senyuman itu adalah senyuman bersemangat yang sebelumnya, seperti kegembiraan.

"—Dan, aku Fizel Synthesis Twenty-nine."

Pedang pendek itu telah ditarik keluar dari tubuh Kirito dan Eugeo pada waktu yang sama. Fizel dan Linel menarik pedang itu dengan gerakan yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan yang dapat diikuti oleh mata dan mengibaskan darah merah secara rapi, lalu dengan rapi menyarungkan itu pada sarung pedang mereka masing-masing.

Hawa dingin menyebar dari luka di perutnya telah menyebar di seluruh tubuhnya dalam sekejap. Bagian tubuh yang diserang oleh hawa dingin yang membeku menjadi lumpuh satu demi satu.

"Kalian...Berdua... Integri... ty..."

Tepat setelah dia memaksakan kata itu keluar, lidahnya menjadi kaku dan dia benar-benar tidak bisa bergerak.

Lututnya menjadi lemas tapa peringatan dan Eugeo terjatuh ke tanah seperti karung. Dada dan pipi kirinya terhantam keras pada lantai marbel, tapi rasa sakit, dan juga seluruh indera perasanya, telah menghilang.

Dengan segera, Kirito terjatuh dengan suara keras.

Racun—

Eugeo menyadarinya, meskipun itu sudah sangat telat, dan mencoba untuk memikirkan cara menanganinya.

Dia telah secara umum mempelajari tentang bentuk-bentuk racun di alam dan antidotenya dari pelajaran Akademi Master Pedang. Tetapi, semua itu hanyalah untuk langkah-langkah pada kasus ketika seseorang terkena oleh racun tanaman, ular, atau serangga, tidak untuk persiapan terkena serangan dari racun di tengah pertarungan seperti ini.

Itu sangatlah normal. Petarungan adalah kompetisi dari keberanian dan kehormatan dimana akademi, tidak, Dunia Manusia akan mempedulikannya, jadi perbuatan seperti menambah racun pada senjata seharusnya akan sangat keras dilarang. Dia bahkan mendengar bangsawan muda, yang melepaskan racun serangga dan mencoba untuk menghalangi Eugeo dan Kirito untuk mengambil bagian di Turnamen Ilmu Pedang Zakkaria, tidak berbuat sejauh itu untuk melapisi pedangnya dengan racun di pertandingan melawan Kirito.

Dengan demikian, Pengetahuan yang Eugeo miliki hanya berada pada level dari mengetahui apa jenis obat yang dipakai ketika disengat oleh suatu racun serangga secara spesifik. Bahkan jika dia telah mengetahui apa jenis dari racun yang anak perempuan itu pakai, tidak ada tanaman di sekitar mereka, lupakan tanaman obat. Metode terakhir adalah untuk mencoba menyembuhkan dirinya melalui sacred arts, tapi penggunaan upacara art sudah mustahil dengan tangan dan mulutnya yang tidak bisa bergerak.

Dengan kata lain, jika racun ini tidak hanya mengambil kebebasan tubuhnya, tapi juga mengurangi Lifenya secara terus-menerus, hidup mereka berdua akan segera menghilang sebelum mereka berhasil sampai separuh jalan di Katedral Pusat.

"Kau tidak perlu untuk sangat ketakutan, Eugeo-san."

Suara Integrity Knight Linel Synthesis Twenty-eight tiba-tiba terdengar dari atas kepala. Mungkin disebabkan oleh pengaruh racun, dia mendengar suara manis yang entah mengapa terdistorsi, seolah-olah dia berada di dalam air.

"Itu hanya racun pelumpuh. Sejak awal, perbedaannya hanyalah apakah kau akan mati di sini atau di lantai lima puluh."

Suara pelan dari langkah kakinya terdengar, dan sepatu kecil, berwarna coklat muda melompat hingga terlihat pada penglihatan Eugeo saat dia masih tidak dapat bergerak dengan pipi kirinya yang menempel di lantai. Linel mengangkat kaki kanannya, dan lalu tanpa berbicara menaruh itu di atas kepala Eugeo, menggerakkan itu ke sana dan ke sini seolah-olah dia mencari sesuatu.

"...Hmm, jadi benar-benar tidak ada satupun tanduk."

Menggerakkan kakinya pada punggungnya, dia tanpa henti menginjak-injak pada kedua sisinya.

"Tidak ada sayap juga, huh. Zel, bagaimana dengan sisimu?"

"Yang ini hanya manusia juga!"

Kelihatannya telah memeriksa Kirito dengan cara yang sama di luar pandangannya, Fizel merespon dengan tidak senang.

"Ah-ah, dan aku telah berharap untuk akhirnya melihat monster dari Dark Territory juga."

"Ya, tidak apa-apa. Jika kita menarik mereka berdua menuju lantai kelima puluh dan memotong leher mereka di depan orang-orang lemah yang menunggu di sana, kita seharusnya akan mendapat sacred instruments dan naga terbang juga. Lalu kita dapat terbang menuju Dark Territory dan melihat yang sebenarnya sebanyak yang kita inginkan."

"Yep. Benar, Nel, mari kita lihat siapa yang pertama akan mendapat kepala Darkness Knight!"

Bahkan setelah semua dari itu, suara Fizel dan Linel benar-benar kelihatan seperti tidak berdosa dan Eugeo memikirkan bagian yang paling membingungkan dari semua itu. Bagaimana mungkin anak-anak seperti anak perempuan ini menjadi Integrity Knight—tidak, sebelum itu, kenapa anak-anak itu ada di katedral?

Eugeo tidak dapat melihat ketika Linel, yang berada di depannya, menarik pedangnya. Kecepatan Fizel, dengan sangat mudah mengalahkan Kirito yang berada pada jarak yang agak jauh, bahkan jauh lebih menakutkan.

Tetapi, kemampuan bertarung bukanlah sesuatu yang akan meningkat tanpa latihan bertahun-tahun dan pengalaman pertarungan hidup dan mati yang sebenarnya. Alasan kenapa Eugeo dapat dengan bebas mengayun Blue Rose Sword, sacred instrument, seharusnya disebabkan oleh pengalaman mengayun kapak dengan sabar pada Gigas Cedar, tapi Kirito mengatakan mengusir kelompok goblin di gua utara juga sebagai alasan yang utama.

Tapi tidak peduli bagaimana dia melihat pada mereka, Fizel dan Linel hanya berumur sepuluh tahun dan mereka kelihatannya tidak pernah mengalami pertarungan dengan monster Dark Territory juga, menurut kata-kata mereka.

Jika memang begitu, dengan cara apa mereka menguasai gerakan fisik dan cara memegang pedang, yang jauh lebih ceapt daripada yang dapat diikuti oleh mata?

Tetapi, Eugeo tidak mengeluarkan satupun suara tentang keraguan yang ada di dalam hatinya.

Itu kelihatannya racun itu telah mengalir di dalam seluruh tubuhnya, dengan sensasi dari dinginnya lantai atau keberadaan dari tubuhnya sendiri menghilang sebelum dia mengetahuinya. Tangan kecil Linel memegang pergelangan kaki kanan Eugeo dan dia menyadari bahwa dia telah diseret saat penglihatannya berputar-putar.

Dengan susah payah menggerakkan matanya yang sangat susah untuk bergerak menuju ke arah kiri, dia melihat Kirito telah diseret seperti barang juga. Racun pelumpuh itu kelihatannya mencapai wajahnya seperti Eugeo, saat ekspresi patnernya kosong.

Dua Integrity Knight muda itu menyeret Eugeo dan Kirito, Blue Rose Sword dan pedang hitam itu masih ada di sabuk mereka, dan mulai menaiki tangga tanpa mempedulikan apapun. Kepala mereka dengan keras terangkat dan tertunduk pada salah satu dan setiap tangga yang dinaiki, tapi seperti yang diduga, tidak ada rasa sakit.

Dia harus menemukan rencana untuk bebas dari krisis ini, tapi mungkin karena racun pelumpuh yang bahkan menyerang semangatnya, Eugeo tidak dapat merasakan apapun selain suatu kekosongan yang menyelimuti dirinya.

Dia telah memutuskan dirinya untuk bertarung dengan Gereja Axiom, tapi dia bahkan tidak pernah memikirkan mereka akan melakukan manipulasi mengerikan ini pada anak-anak yang berumur sangat muda, mengubah mereka menjadi Integrity Knight. Dan manusia yang hidup di Dunia Manusia mempercayai bahwa itu adalah simbol dari kebaikan dan keharmonisan yang nyata. Dan untuk selama ratusan tahun.

"Kalian pikir ini aneh, bukan?"

Suara Linel tiba-tiba mencapai telinganya, tawa samar-samar mengiringi itu.

"Kenapa anak-anak seperti ini menjadi Integrity Knights? bukan? Kalian akan segera terbunuh, jadi aku akan memberitahu kalian."

"Nel, bukankah tidak ada gunanya mengatakan itu jika kita akan membunuh mereka? Kau aneh seperti biasanya."

"Bukankah kau pikir berjalan hingga sampai ke lantai kelima puluh itu membosankan?—Eugeo-san, kita telah lahir dan dibesarkan di sini, di katedral ini. Kita dibuat oleh pendeta dan sister di menara ini di bawah perintah dari Administrator-sama, kau tahu. Untuk eksperimen sacred art «pembangkit» yang dapat memulihkan Life yang benar-benar telah menghilang."

Kata-kata yang keluar dari mulutnya benar-benar menakutkan, tapi suara Linel yang tersisa terdengar gembira sampai bagian akhirnya.

"Itu kelihatannya anak-anak diluar menerima sacred task mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun, tapi kita telah diberikan itu saat berumur lima tahun. Tugas kita adalah untuk untuk membunuh satu sama lain. Kita telah diberikan pedang seperti mainan, yang bahkan jauh lebih kecil dibandingkan dengan pedang beracun ini, dan dibuat untuk dua orang dan untuk menusuk satu sama lain."

"Kau buruk saat menusuk, bukan, Nel. Aku tidak dapat menahan bagaimana sakitnya itu setiap waktu."

Linel merespon, tidak puas, pada suara Fizel yang kelihatannya telah bergabung di pembicaraan.

"Itu karena gerakanmu sangat aneh, Zel. —Aku pikir kalian berdua sudah tahu setelah mengalahkan dua Integrity Knight, tapi manusia tidak mati semudah itu, bukan, Eugeo-san, Kirito-san? Itu bahkan sama untuk anak-anak yang hanya berumur lima tahun. Bahkan saat kita panik dengan tugas untuk saling membunuh satu sama lain dengan cepat, kita tanpa mengetahui apapun menebas dan menusuk sampai akhir mengurang Life satu sama lain menjadi nol, tapi Administrator-sama hanya akan membangkitkan kita dengan sacred arts..."

"Dan pembangkitan itu awalnya tidak bekerja dengan baik juga, bukan? Anak-anak yang normalnya mati masih cukup beruntung, ada seseorang yang meledak menjadi suatu bagian atau seseorang yang berubah menjadi gumpalan daging yang aneh atau seseorang yang menjadi orang yang lain ketika dibangkitkan, bukan?"

"Bahkan jika itu seharusnya menjadi sacred task kita, kita tidak ingin menjadi terluka sia-sia dan dibangkitkan juga. Kita mencoba berbagai cara dan menyadari terbunuh dengan satu serangan sangat jelas bahwa rasa sakitnya akan kurang dan memiliki kesempatan tinggi untuk dibangkitkan. Tapi satu serangan itu memiliki bagian yang susah, kau tahu. Itu benar-benar harus cepat dan halus, entah itu menusuknya pada jantung atau memenggal kepala."

"Dan kita berhasil pada umur sekitar tujuh tahun, aku pikir begitu? Kita berlatih setiap waktu sementara anak-anak lainnya telah tidur, setelah semua."

Benar-benar tidak ada tanda indera perasanya kembali, tapi perasaan menggigil masih menyerang Eugeo, seperti bulu kuduk berdiri di seluruh tubuhnya.

Alasan kenapa Fizel dan Linel mendapat kemampuan fisik yang menakutkan.

Itu berasal dari membunuh satu sama lain tanpa henti selama bertahun-tahun, atau seperti yang anak perempuan ini katakan. Hari demi hari, mereka mengayun pedang mereka memikirkan bagaimana cara terbaik untuk menghilangkan hidup teman mereka.

Pastinya, dengan akumulasi dari pengalaman seperti itu, itu akan menjadi mungkin untuk menguasai kemampuan yang dibutuhkan untuk dianugerahkan posisi Integrity Knight bahkan sebagai anak-anak. Tapi di sisi lain, mereka bedua pastinya telah kehilangan sesuatu yang penting.

Linel melanjutkan dengan suara kegembiraan yang sama bahkan saat dia tanpa berhenti menaiki tangga besar.

"Itu adalah waktu sekitar kita berumur delapan tahun ketika Administrator-sama menyerah pada eksperimen art pembangkit. Itu kelihatannya pembangkit yang sempurna sudah mustahil pada akhirnya. Apa kau tahu? Ketika Lifemu menjadi nol, banyak panah putih dari hujan cahaya akan turun dan, bagaimana aku mengatakan ini, di dalam kepalamu akan ditebas sedikit demi sedikit. Anak-anak yang mendapati ingatan penting mereka telah menghilang tidak menjadi orang yang sama bahkan jika Life mereka disembuhkan. Ada waktu berkali-kali ketika aku kehilangan ingatan beberapa hari yang lalu setelah dibangkitkan.—Sebagai hasilnya, tiga puluh dari kami pada awalnya menjadi hanya Zel dan aku pada akhir dari eksperimen."

"Pemimpin berkepala besar itu memberitahu kami yang telah selamat untuk memilih sacred task kita yang berikutnya, jadi kita mengatakan ingin menjadi Integrity Knight. Dia sanagat marah ketika kita mengatakan itu, mengatakan bahwa Integrity Knight itu adalah penjaga hukum yang dipanggil dari Celestial World oleh Administrator-sama, bahwa itu bukanlah sesuatu untuk anak-anak seperti kami dapat lakukan. Dan itu berakhir menjadi pertandingan terhadap Integrity Knight yang baru pada saat itu....Siapa nama orang-orang itu?"

"Erm...Sesuatu-sesuatu Synthesis Twenty-eight dan Twenty-nine."

"Dengar, Nel, aku bertanya pada bagian sesuatu-sesuatu itu. Oh baiklah, wajah dari pemimpin itu ketika kita memenggal kepala knight itu dengan satu tebasan sangatlah aneh, huh?"

"...Dan, saat mengetahu hasilnya, Administrator-sama membuat kita menjadi Integrity Knight sebagai kasus yang spesial. Mengganti dua orang yang telah mati. Tapi dia mengatakan bahwa kita kekurangan pengetahuan untuk mengambil tugas pertahanan seperti knight lainnya, jadi kita belajar tentang hukum dan sacred arts untuk selama dua tahun sebagai murid sister...sejujurnya, itu hanya menjengkelkan."

"Ketika kita sedang berdiskusi bagaimana cara kita mendapat naga terbang dan sacred instruments lebih cepat, peringatan anak buah dari Dark Territory telah menyusup di katedral datang, kau tahu. Baik Nel dan aku berkata, 'Ini dia!'. Kita berpikir jika kita menangkap penyusup dan mengeksekusinya lebih cepat dibandingkan dengan knight lainnya, Administrator-sama mungkin membuat kita menjadi knight resmi, jadi kita menunggu di tangga."

"Aku meminta maaf tentang menggunakan racun. Tapi kita benar-benar ingin membawa Eugeo-san dan Kirito-san menuju lantai kelima puluh jika mungkin... Ah, jangan khwatir. Kita sangat bagus dalam membunuh, jadi itu tidak akan sakit."

Itu kelihatannya dua anak perempuan itu tidak dapat menunggu ketika mereka memotong leher Kirito dan Eugeo di depan garis pertahanan dari Integrity Knight di lantai kelima puluh lebih lama lagi. Langkah kaki mereka menjadi lebih ringan, menaiki tangga dengan sangat cepat meskipun menyeret mereka.

Meskipun dia telah memikirkan rencana melarikan diri entah bagaimana, Eugeo tidak dapat melakukan apapun selain mendengar pada apa yang mereka berdua katakan dengan keadaan tidak berdaya. Bahkan jika mulutnya tidak lumpuh, dia percaya bahwa itu sama sekali mustahil untuk membuat anak-anak ini berubah pikiran melalui kata-kata. Mereka berdua bahkan mungkin tidak memiliki konsep baik dan buruk. Mereka semua mematuhi perintah dari seseorang yang «membuat» mereka, pemimpin tertinggi, Administrator—

Setelah mereka berbalik untuk kesekian kalinya, langit-langit yang terlihat di mata Eugeo yang terbuka berubah dari sisi bawah dari tangga lantai berikutnya menjadi permukaan lantai. Tangga itu kelihatannya tidak akan berlanjut karena mereka akhirnya telah mencapai lantai kelima puluh yang membagi katedral menjadi dua.

Langkah Fizel dan Linel menjadi terhenti dan mereka saling menukar kalimat singkat, "Ayo pergi" dan "Yeah", dengan satu sama lain. Hanya ada beberapa menit sebelum pedang hijau itu menebas lehernya—tidak, mungkin hanya ada beberapa detik. Tubuhnya tidak menunjukkan tanda-tanda indera perasanya kembali sama sekali dan ujung jarinya tidak bergerak sedikitpun meskipun bagaimanapun kerasnya dia mengharapkan itu.

Langit-langit disini jauh lebih tinggi dibandingkan yang telah dilalui sejauh ini. Itu mungkin setidaknya tingginya dua puluh mel. Kanopi marbel di atas, sangatlah berwarna menggambarkan bentuk dari Dewi pencipta dunia dan pemuja mereka, melengkung di atas kepala. Tiang yang menahan kanopi, juga, telah dihiasi dengan ukiran yang tak terhitung, Cahaya Solus dengan terang menyinari ke bawah pada mereka melalui jendela yang dipasang di kiri dan kanan. Itu adalah pemandangan yang indah, satu-satunya nama yang sesuai dengan itu adalah, «Grand Cloister of Spiritual Light».

Dua anak perempuan itu membawa Kirito dan Eugeo hingga lima mel lagi dan langkah mereka berhenti di sana. Tubuhnya berputar setengah lingkaran dengan kekuatan yang melempar kaki kanannya dan Eugeo akhirnya dapat melihat seluruh aula besar itu.

Itu betul-betul sangat luas. Itu kelihatannya menggunakan seluruh lantai katedral ini, lantainya terbuat dari batu yang berbeda warna di ujung dari cahaya putih itu. Karpet berwarna merah gelap terbentang lurus menuju dinding terjauh dari jalan masuk, pintu besar yang kelihatannya dibangun seperti raksasa menjulang di ujung. Tidak ada kesalahan bahwa tangga yang menuju lantai berikutnya berada dibalik pintu itu.

Dan—jauh di depan pintu itu, di tengah-tengah aula, beberapa knight yang tidak bergerak memakai armor lengkap, memancarkan udara yang mengintimidasi yang seperti tidak akan membiarkan seorangpun yang lewat selama mereka berdiri, dapat terlihat. Keempatnya berbaris dengan jarak yang sama. Dan ada satu yang sedikit di depan.

Semua orang dari keempat orang yang berdiri di belakang memakai peralatan armor, yang bersinar perak, memakai helm terukir dengan salib. Ukuran yang sama dengan Eldrie. Senjata mereka, juga, pedang lurus dengan ukuran yang sama menusuk ke lantai, dengan kedua tangan yang dengan kuat ditaruh di ganggangnya.

Seseorang yang di depan memiliki armor dengan desain yang benar-benar berbeda dari empat orang di belakang. Itu benar-benar ditutupi dengan pancaran cahaya seperti warna bunga anggrek dan terasa lebih rumit juga, sementara pedang tipis yang kelihatannya khusus untuk skill menusuk tergantung di pinggangnya. Apa yang knight itu kenakan dapat dianggap sebagai armor ringan, tapi empat knight itu tidak dibandingkan pada beban dari ketetapan hati yang berasal dari knight itu. Eugeo tidak dapat melihat apa yang ada di dalam helm yang dimodel seperti sayap burung pemangsa, tapi dia percaya bahwa tidak ada kemungkinan bahwa knight itu lebih rendah dibanding dengan Deusolbert.

Kelima Integrity Knight ini telah membentuk penghalang yang sulit diatasi untuk tujuan mereka menuju lantai tertinggi.

Tapi seseorang yang menjadi ancaman terbesar pada hidup dari Eugeo dan Kirito untuk waktu yang sekarang adalah dua anak-anak yang berdiri tepat dihadapan mereka.

Dengan penuh kemenangan membungkukkan punggung mereka, ditutupi dengan pakaian sister mereka yang polos, Linel dan Fizel berhadapan dengan lima knight itu.

"—Oh, aku tidak berpikir Wakil Komandan Integrity Knight Fanatio Synthesis Two-dono ada di sini."

Linel yang pertama kali mengatakan itu dengan suara gembira.

"Itu kelihatannya pemimpin sangat khawatir juga, untuk susah payah mengirim «Heaven Piercing Sword» Fanatio-dono ke sini. Atau mungkin kau adalah seseorang yang panik di sini Fanatio-sama? Aku rasa kau tidak dapat menahan untuk mengetahui «Fragrant Olive»-dono akan meninggalkanmu dengan posisi Wakil Komandan Integrity Knight dengan kemampuannya, bukan?"

Beberapa detik ketegangan dari keheningan telah terpecah oleh suara tajam dari knight ungu itu yang diiringi oleh gema metal itu.

Eugeo merasa kepercayaan diri yang dia rasakan menyembunyikan kejengkelan dibalik suara gema yang samar-samar itu, yang juga unuk dari Integrity Knight, yang kelihatannya tidak berasal dari manusia.

"...Kenapa kalian para murid yang masih muda ada di medan pertempuran antara knight yang terhormat?"

"Aha, itu sangat tidak memuaskan!"

Fizel dengan cepat berteriak kembali dengan nada yang tidak ramah.

"Itu karena kalian membawa sesuatu seperti kehormatan dan harga diri dalam pertarungan, dua dari dua dari kalian yang sangat kuat, yang mampu untuk dengan ribuan Integrity Knight telah kalah, heh. Tapi tenang saja, jadi kalian knight yang terhormat tidak akan menderita karena hal memalukan yang lebih jauh lagi, kita telah menangkap penyusup itu untuk kalian!"

"Kita akan memenggal kepala penyusup itu sekarang, jadi tolong lihat baik-baik dan laporkan ini kepada pemimpin tertinggi. Aku rasa Integrity Knight yang terhormat bahkan tidak akan membayangkan mencuri kesuksesan kita, apa aku benar?"

Eugeo tidak dapat melakukan apapun selain tercegang pada keberanian gadis itu meskipun situasi berbahaya yang di alami sekarang, saat Linel dan Fizel berbicara bahkan dengan tanpa menahan diri sementara lima Integrity Knight, memiliki kekuatan melebihi manusia, dihadapan mereka.

Tidak—itu mungkin sedikit berlebihan.

Apakah emosi yang terlihat melayang di belakang punggung kecil anak-anak itu adalah kebencian...?

Terbaring di lantai, Eugeo mengeluarkan kekuatannya pada bagian yang dapat bergerak, kedua matanya, dan menatap ke arah Linel dan Fizel. Tapi meski begitu, pada siapa kebenciaan mereka diarahkan? Meskipun muncul dihadapan kriminal yang melawan terhadap Gereja Axiom dan pemimpin tertinggi, Administrator, anak perempuan itu tidak menunjukkan apapun selain keinginan mereka semata.

Linel dan Fizel, dengan terbuka mengekspresikan baik kebenciaan dan kemarahan, menatap ke arah Integrity Knight, dan Integrity Knight itu menatap kembali ke arah dua anak perempuan itu dengan kejengkelan, saat Eugeo melihat ke arah anak-anak itu, menyembunyikan keraguan di pikirannya, jadi—

Hanya sampai bayangan memakai baju hitam dengan sekejap muncul di belakang anak-anak itu tanpa suara, kelihatannya tidak ada seorangpun yang telah mendeteksi gerakannya.

Kirito, yang seharusnya terpengaruh oleh racun pelumpuh seperti Eugeo, mendekat dari belakang kedua anak perempuan itu dengan dengan kehalusan dari macan tutul yang mengincar mangsa, dan mengambil pedang beracun yang tergantung di pinggang mereka pada ganggangnya, Fizel di kanannya, Linel di kirinya. Dengan itu, dia menarik pedang itu ke atas dan menyambung itu dengan tebasan dangkal di setiap tangan kiri yang terlihat dari anak-anak itu.

Anak-anak itu hanya dapat untuk berbalik ke belakang dengan ekspresi kosong setelah Kirito mendarat dari lompatan panjang ke belakang, dengan pedang pendek yang masih ada di tangannya.

Ekspresi kosong dari keterkejutan terlihat pada wajah tak berdosa dari Linel dan Fizel.

"Kenapa..."

"Bergerak..."

Efek dari racun itu segera berpengaruh dan anak-anak itu terjatuh ke lantai dengan pelan setelah mengatakan sebanyak itu.

Kirito berdiri seolah-olah dia adalah pengganti mereka. Dia memegang kedua pedang beracun itu bersama di tangan kirinya dan mencari di dalam pakaian sisternya dengan tangan kanannya setelah berjalan ke arahnya. Objek yang dia dengan cepat ambil adalah botol kecil dengan ukuran ujung jarinya, menutupi cairan berwarna orange.

Membuka penutupnya dan menaruh itu pada hidungnya, dia mengangguk seolah-olah telah yakin, lalu berjalan. Eugeo tidak dapat melakukan apapun selain mempercayai cairan, yang dengan pelan mengalir dari botol yang mendekat pada mulutnya, adalah antidote dan meminum itu. Itu kelihatannya sangat bagus dia tidak memiliki indera perasa.

Kirito, memperlihatkan suatu kemarahan yang jarang terlihat di wajahnya, membisikkan dengan suara yang benar-benar pelan sementara masih berlutut.

"Racun itu akan segera sembuh dalam beberapa menit. Ketika mulutmu dapat bergerak, pastikan untuk mengucapkan armament full control art tanpa knight itu sadari. Biarkan itu standby setelah kau selesai mempersiapkannya dan tunggulah sinyalku."

Berdiri setelah mengatakan apa yang dia butuhkan, Kirito bergerak ke sisi anak perempuan itu sekali lagi. Dia berteriak kepada lima Integrity Knight yang masih berdiri di jarak yang jauh dalam keadaan tegang, dengan suara keras.

"Knight Kirito, dan juga Knight Eugeo, akan mengucapkan permintaan maaf untuk tidak sopan melihat kalian sementara terbaring di sisi ini! Sebagai tambahan dari ketidaksopanan itu, aku meminta kalian untuk memberikan waktu kepada kami untuk memperbaiki kesalahan kami! Aku mengajukan kita saling beradu pedang setelah itu selesai!"

Knight ungu itu, yang mungkin berangking tinggi, segera menjawab dengan nada yang menghargai.

"Aku adalah Integrity Knight nomor kedua, Fanatio Synthesis Two! Kriminal, sacred instrumentku, «Heaven Piercing Sword», tidak memiliki satu titik belas kasihan, jadi katakana kata-kata terakhirmu jika memilikinya, sementara pedang ini masih tersarung!"

Saat mendengar itu, Kirito dengan sekejap melihat ke arah dua anak perempuan yang terbaring disampingnya dan mengkritik dengan kata-katanya, bahkan cukup keras untuk knight itu dengar.

"—Aku yakin kalian berpikir ini aneh, bukan? Tentang kenapa aku bisa bergerak."

Mata Linel diwarnai dengan kekecewaan saat kata-kata yang dia secara pribadi katakan sebelumnya telah diambil.

"Kalian berdua salah memilih perkataan kalian lebih awal. Kau mengatakan semua pendeta dan sister telah diperintahkan untuk tidak meninggalkan kamar mereka. Seharusnya tidak ada seorangpun yang dapat melanggar perintah dari katedral. Karenanya, itu membuktikan bahwa kalian bukanlah murid sister semenjak kau tidak mematuhi perintah."

Rasa sakit yang menusuk menyebar di sekitar anggota tubuhnya, mungkin karena indera perasanya mulai kembali berkat obat itu, tapi Eugeo hampir tidak menyadari itu. Dia akhirnya mengerti apa emosi yang disembunyikan dibalik ekspresi patnernya.

Meskipun masih menggunakan sikap biasanya, Kirito—sedang marah.

Tapi kelihatannya kemarahan itu tidak ditunjukkan kepada anak-anak itu. Setelah semua, rasa simpati yang besar dapat terlihat di matanya saat itu melihat ke bawah pada Linel dan Fizel.

"Disamping itu, sarung yang ada di pinggang kalian. Itu terbuat dari the «ruby evergreen oak» di selatan, bukan? Ini adalah satu-satunya material yang tidak akan membusuk ketika bersentuhan dengan pedang ini yang dibuat dari «poison steel from Ruberyl». Tidak mungkin seorang murid sister biasa dapat memiliki sesuatu seperti ini. Karena itu, aku mengucapkan art untuk menetralkan racun sebelum kalian berdua mendekat. Itu membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk selesai, bagaimanapun juga. ...Kekuatan tidak secara murni ditentukan dengan bagaimana cepatnya kalian mengayun pedang kalian. Untuk menyimpulkannya, kalian berdua sangat bodoh, cukup bodoh untuk pantas sekarat di sini dalam sekejap."

Kirito dengan dingin berkata kepada dua anak perempuan itu dan mengangkat tinggi pedang beracun yang ada di tangan kirinya.

Dua pedang dengan jejak cahaya hijau saat itu terbang dari tangannya, melempar itu ke bawah tanpa keraguan sedikitpun. Itu terjatuh dengan suara keras, menuju lantai batu pada ujung hidung Linel dan Fizel.

"Tapi aku tidak akan membunuhmu. Sebagai gantinya, lihat baik-baik bagaimana kuatnya Integrity Knight yang kalian tertawakan."

Dia berbalik setelah beberapa kata-kata itu dan melanjutkan dengan beberapa langkah maju.

Kirito perlahan menarik pedang hitam dengan cepat dari sarungnya dengan suara tajam dan mengacungkannya di depan dirinya.

"—Aku meminta maaf karena membuatmu menunggu, Knight Fanatio! Knight Kirito berdiri dihadapanmu!!"

Dia melakukannya terlalu berlebihan...tidak peduli apapun keadaan yang akan terjadi.

Dia berpikir untuk meneriakkan itu keluar di belakang patnernya, tapi mulut Eugeo hanya sedikit bergetar. Indera perasanya sudah kembali, tapi suaranya masih tidak dapat keluar.

Kirito selalu meminjam catatan senjata yang dia sukai dari perpustakaan akademi, jadi itu kelihatannya dia mendapat pengetahuan tentang «ruby evergreen oak» dan «poison steel» dari situ. Dengan pengetahuan yang menjadi sifatnya ditambahkan, Kirito telah berhasil lolos dari jebakan yang dipasang oleh Fizel dan Linel, tapi itu sudah jelas bahwa mereka telah didorong ke keadaan yang jauh lebih berbahaya disebabkan oleh anak-anak itu. Setelah semua, mereka harus melawan lawan yang kuat secara langsung, lima Integrity Knight, dengan salah satu dari mereka ada di posisi Wakil Komandan Integrity Knight. Rencana mendiskusikan tindakan mereka dan mengucapkan full control art terlebih dahulu, sebelum menyerbu menuju aula besar, secara alami telah batal.

Kirito yang biasanya akan menyeret Eugeo saat dia melarikan diri tanpa keraguan sedikitpun, menyusun kembali rencana untuk membuat itu sedikit lebih menguntungkan. Seperti yang diduga, alasan kenapa dia tidak melakukan itu karena dia bukan berada dalam kondisi biasanya. Jika dia menatap secara keras, dia dapat secara jelas melihat kemarahan yang dalam pada Kirito, api putih kebiru-biruan pada jubah hitam di punggungnya.

Bahkan instruktur dari Akademi Master Pedang akan segera dikalahkan jika mereka menghadapi Kirito, saat dia yang sekarang, secara langsung.

Tetapi, seperti yang diharapkan dari seseorang yang menjadi Integrity Knight nomor dua di kelompok itu, knight ungu bernama Fanatio memegang gagang pedang tipis di pinggang kirinya dengan gerakan yang pelan itu. Ketika itu ditarik dari sarungnya dengan suara jelas, sinar yang menyilaukan mata, seolah-olah pedang itu sendiri yang memancarkan cahaya, menyilaukan mata Eugeo.

Mengikuti Fanatio, empat Integrity Knight yang dibelakang menarik pedang besar mereka yang tertusuk ke lantai dan mengacungkan itu dengan gerakan yang dikordinasi secara rapi. Ketetapan hati yang dapat dirasakan keluar dari pedang mereka yang menggetarkan udara di aula saat itu seolah-olah mendorong Kirito.

Fanatio yang tidak menunjukkan sedikitpun kegembiraan meskipun situasinya menjadi tegang, mengeluarkan suara yang terdengar muram dari balik helm itu.

"Kriminal Kirito, itu kelihatannya tujuanmu adalah pertarungan individual denganku...tapi sayangnya, kita telah diperintahkan secara keras untuk menggunakan segala cara untuk menghapus kalian berdua jika kalian telah mencapai aula ini. Karena itu, aku akan menyuruh mereka untuk menjadi lawan pertamamu.—«Four Oscillation Blades» yang secara pribadi diajar di bawah instruksiku, seperti itu!"

Fanatio dengan keras menyatakan itu, lalu memulai dengan mengucapkan sacred art rumit dengan cepat yang dimulai dengan system call. Itu kelihatannya, tidak, tanpa ada kesalahan armament full control art. Salah satu cara untuk melawannya adalah menggunakan art yang sama, atau menebas jatuh knight itu sebelum itu selesai.

Kirito memilih yang kedua. Saat dia menyerbu menuju Fanatio dengan kekuatan yang cukup untuk membuat jahitan dari sepatunya terbuka, dia mengayun pedang hitamnya dari atas kepala.

Tetapi, knight yang berdiri di sebelah kiri, diantara empat orang yang menunggu di belakang Fanatio, memulai serangan pada waktu yang sama.

Pedang besar yang dipegang dengan kedua tangan menebas horizontal dari kiri dengan teriakan keras, berlari menuju Kirito.

Kirito mengganti posisi pedangnya, menerima serangan knight itu dengan ayunan ke bawah dari atas kepala. Hantaman yang menusuk telinga terdengar. Mereka berdua terdorong ke belakang, melebarkan jarak.

Kirito pulih lebih cepat jika dibandingkan dengan knight itu, dengan ecpat mencoba menarik pedang hitam itu kembali. Dia telah memasuki posisi untuk meneruskan saat mendarat, dan dengan hanya satu serangan lagi menuju dada musuhnya—

"......!?"

—Nafas Eugeo keluar dengan segera setelah dia mempercayai itu. Dia sama sekali tidak tahu ketika itu terjadi, tapi knight kedua telah menyerbu dan melepaskan tebasan horizontal dengan sekuat tenaga dari kiri.

Kirito menghentikan langkahnya dan kali ini, pedangnya menebas menuju kiri dan memukul mundur pedang musuh, terdapat suara metal yang sama dan banyak percikan api yang tersebar seoerti sebelumnya, dan mereka berdua melebarkan jarak kira-kira empat mel.

Posisi knight kedua, juga, benar-benar telah terjatuh. Itu sangat normal, menahan tubuh ke tanah setelah terpukul mundur dari melakukan serangan habis-habisan dengan pedang sebesar itu akan sangat sulit tidak peduli bagaimana banyaknya kekuatan fisik yang seseorang itu punya.

Itu adalah hal yang patut dipuji, tetapi, Kirito sangatlah hebat, untuk memukul mundur pedang musuh dengan gerakan yang benar-benar minimal dan cepat dalam menghisap hantamannya, berganti menuju posisi menyerang berikutnya dengan segera.

Tetapi.

Bahkan tanpa memberikan waktu untuk memikirkan kemampuannya, Eugeo melihat knight ketiga menyerang pada Kirito sekali lagi, tepat setelah dia mendarat. Sebelum pandangannya terambil oleh hantaman antara pedang dan pedang untuk ketiga kalinya, Eugeo memaksakan matanya untuk terbuka lebar.

"——!!"

Dan dia menggeretakkan giginya. Pada saat Kirito menyilangkan pedang dengan knight ketiga, knight keempat telah memulai untuk menyerbu maju.

Bagaimana mereka dapat memprediksi gerakan Kirito dengan sangat akurat? Reaksi Kirito akhirnya menjadi tidak teratur dari akibat tebasan horizontal. Meskipun dia sukses menahannya entah bagaimana, sosok berbaju hitamnya menjadi goyah di udara, mungkin disebabkan oleh kekuatan yang dia coba untuk dorong kembali.

——Aku mengerti.

Itu membutuhkan waktu yang lama, tapi Eugeo menyadari tujuan keempat knight itu.

Semua serangan dari knight itu adalah tebasan horizontal dari kiri ke kanan. Menangkis itu dengan pedangnya akan membatasi arah yang dia akan tahan, hingga derajat tertentu. Dengan itu sebagai tujuan mereka, knight berikutnya hanya akan mengulangi tebasan horizontal. Dengan jarak yang lebih lebar ketika dibandingkan dengan tusukan atau tebasan vertical, bersamaan dengan panjang pedang, dapat memberikan perkiraan secara kasar bahwa itu cukup untuk mereka untuk membuat Kirito berada di dalam jangkauan tebasan mereka, bahkan jika itu telah dilakukan sejak awal.

Itu seharusnya adalah «skill tebasan beruntun melalui kelompok» dari Integrity Knight yang seharusnya tidak memiliki secret moves skill tebasan beruntun. Mereka benar-benar berbeda dengan swordsman di pusat yang secara murni mengejar keindahan style, mereka benar-benar prajurit sebenarnya yang terlatih melalui pertarungan sebenarnya di Dark Territory.

Tetapi, kordinat taktik dari knight itu tidak sempurna juga.

—Sadari itu, Kirito, ada cara untuk melewati itu jika itu adalah kau!

Rintihan serak keluar dari tenggorokan Eugeo saat dia mencoba untuk berteriak. Lidah dan mulutnya akhirnya mulai bergerak. Saat dia menggerakkan mulutnya mati-matian berusaha untuk mengendurkan otot-otot kaku itu, untuk memulai upacara art bahkan satu detik lebih cepat, Eugeo dengan penuh ketakutan berdoa saat dia melihat ke arah patnernya. Agar dia menyadarinya.

Setelah menangkis pedang knight keempat, Kirito terpeleset pada saat dia mendarat di akhir, menahan satu tangannya pada lantai.

Pedang knight pertama itu berbunyi saat melancarkan serangan, menebas itu setelah pulih dari hantaman..

Kirito dengan segera merendahkan bagian atas tubuhnya ke bawah, melewati bawah pedang. Bagian ujung rambut hitamnya bersentuhan dengan pedang dan terpotong hingga tersebar jauh.

Ya—Jika serangan yang datang sudah pasti tebasan horizontal, dia hanya akan menghindarinya dengan ke atas atau ke bawah daripada menahannya dengan pedangnya.

Tapi hindaran itu juga harus dikombinasikan dengan serangan balik. Jika dia jatuh disini, aka nada jeda sebentar, tidak, sesuatu yang lebih lama daripada itu sebelum dia dapat bergerak lagi.

Itu kelihatannya knight kedua yang mendekat dari kiri Kirito benar-benar tidak memiliki keinginan untuk melewatkan jeda itu. Dengan cepat menggerakkan pedang yang ujungnya menghadap ke sisi atas, knight itu melakukan tebasan vertical dengan kekuatan penuh.

"B...!!"

Bahaya, Eugeo mencoba meneriakkan itu, menghiraukan rasa sakit tajam yang mengalir melalui tenggorokannya. Tetapi, ini bukanlah waktunya. Itu adalah ketika dia secara insting mengalihkan pandangannya, mengira bahwa dia tidak mampu untuk menghindar—

Knight barusan yang baru saja hendak menyelesaikan tebasan pedangnya pada bagian kanan Kirito tergoyah dengan hebat.

Kirito tidak hanya terbaring di bawah. Kedua kakinya menjepit di sekitar knight yang tidak menyadarinya, menarik knight itu ke bawah di atas dirinya.

Knight kedua itu tidak dapat menghentikan gerakan menebasnya dan pedang besar itu tertebas dengan dalam pada punggung temannya. Knight yang menarik pedangnya kembali sementara menunjukkan tanda-tanda terkejut lalu diserang oleh tebasan hitam yang mencapainya dari bawah.

Kirito, serangannya secara akurat menusuk pada tangan knight kedua itu saat dia berdiri, berbalik ke arah knight ketiga yang kelihatannya akan menyerbu maju dengan tidak teratur dan mendorong knight kedua dengan semua kekuatan yang dia punya. Seperti yang diduga, knight ketiga tidak dapat melukainya bersama temannya dan menghentikan tebasannya.

Pada akhirnya, serangan beruntun dari kelompok yang Fanatio sebut «Four Oscillation Blades» telah berakhir.

Kirito berlari secara cepat melalui celah itu. Tanpa memperhatikan keempat knight itu bahkan dengan tatapannya, dia melancarkan serangan pada Fanatio, yang mengucapkan full control art.

Biarkan itu sampai—!

Eugeo dengan ketakutan berdoa.

"Enhance...!"

Fanatio berteriak.

"Uooooh!!"

Kirito berteriak, pedangnya terangkat tinggi dari jauh. Itu tidak akan mencapainya dari jarak itu normalnya, tapi pedang itu melepaskan cahaya kuning kehijau-hijauan dengan segera. Aincrad-style secret move, «Sonic Leap». Itu adalah skill satu tebasan vertical seperti «Vertical», tapi memiliki kemampuan untuk menyerbu maju dari jarak dua kali lebih dari itu dalam sekejap.

Fanatio menggerakkan ujung pedang tipisnya pada Kirito yang menerjangnya secara cepat yang meninggalkan jejak cahaya. Tetapi, itu mustahil untuk senjata setipis itu untuk menangkis hantaman dari secret move tidak peduli apa yang akan dicobanya. Pedang panjang yang ditempa dari Gigas Cedar yang memiliki berat lebih tinggi dibandingkan dengan Blue Rose Sword, sacred instrument. Ditambah dengan serangan tebasan dari Kirito yang kelihatannya cepat sekali telah tercampur, itu akan cukup untuk menghancurkan sesuatu seperti pedang tipis itu menjadi pecahan, bahkan jika ketiga pedang seperti itu digabungkan bersama-sama.

Itu adalah saat ketika knight berjubah hitam itu mencapai puncak loncatannya dan mulai mengayun pedangnya ke depan—

Cahaya keluar dari pedang tipis di tangan knight itu.

Tidak, untuk akuratnya, seluruh pedang itu berubah menjadi cahaya putih kebiru-biruan saat itu menunjuk ke arah depan dengan kecepatan mengerikan.

Sinar tipis dari cahaya menembus bagian kiri Kirito tanpa suara, terus berlanjut menuju langit, dan membuat ledakan kecil saat itu menabrak pada langit-langit aula besar itu. Dan itu berakhir dengan sekejap.

Secret move Kirito yang lintasannya telah terganggu dengan perutnya tertembus, dan hanya menggores dekorasi sayap pada helm Fanatio, dengan secara paksa memotong itu hingga ke udara.

Banyak darah yang dapat terlihat mengalir dari luka dan Eugeo tidak pernah berpikir Lifenya berkurang sebanyak ini, tapi Kirito terjatuh saat mendarat dengan bertumpu pada satu lutut. Ketika dia memfokuskan matanya dengan cukup keras, dia melihat asap pucat muncul di lubang kecil yang terbuka di bajunya.

Itu mungkin adalah serangan bertipe api? Tetapi, cahaya yang dilepaskan dari pedang Fanatio berwarna putih menyilaukan yang hampir biru. Eugeo tidak pernah melihat api dengan warna seperti itu.

Berputar dengan gerakan sangat halus yang sangat cepat, Fanatio menunjuk ujung pedang tipisnya tepat pada Kirito yang meringkuk di lantai.

Dengan suara 'sha' yang samar-samar, sinar cahaya memancar keluar lagi. Jika itu bukan Kirito yang segera berguling menuju kiri sebelum itu, cahaya itu tampaknya akan menembus kaki kanannya. Sinar cahaya yang berbahaya itu meleset dan menembus pada lantai marbel dan sekali lagi membuat ledakan kecil. Ketika cahaya itu menghilang, lubang berwarna merah terang yang tersisa melelehkan permukaan lantai itu.

"Tidak...mungkin...!"

Eugeo tidak menyadari suara serak, dari keterkejutannya yang keluar dari mulutnya sendiri untuk sebentar.

Material yang digunakan di bangunan katedral adalah marbel dengan kualitas tertinggi, seperti «immortal walls» yang membagi Centoria Pusat seperti silang, menilai dari corak putih murninya dan lapisan kacanya. Itu bukanlah sesuatu yang dapat meleleh tidak peduli bagaimana panasnya api yang kau gunakan. Bukankah bagaimana hanya karpet yang telah terbakar ketika api yang sangat panas yang dibawa oleh «Conflagrant Flame Bow» Deusolbert yang hanya membakar permukaan telah cukup untuk membuat itu sebagai bukti untuk itu?

Dengan kata lain, itu akan membuat full control art Fanatio jauh lebih kuat dibandingkan dengan skill Deusolbert, jika itu adalah serangan bertipe api. Jadi bukankah Life Kirito yang berkurang karena serangan langsung dari skill seperti itu akan berada diambang dimana itu akan menghilang?

Kirito tidak terdiam di satu tempat, terus-menerus melompat ke arah yang tidak menentu saat Eugeo terlihat menggenggam erat pada tangannya dari ketakutan yang sedingin es. Sinar cahaya memancar keluar satu demi satu, menembus hingga ke lantai, saat pedang Fanatio mengejar sosoknya.

Detail yang jauh lebih menakutkan dari skill itu adalah bagaimana itu betul-betul tidak memerlukan gerakan sebelum melepaskan cahaya, seperti sejumlah cahaya yang terkumpul atau serangan pedang itu. Setidaknya, Eugeo tidak dapat menebak ketika dengan pelan menggerakkan pedang tipis itu yang akan menembakkan sinar cahaya dari posisinya. Mendeskripsikan itu memiliki jangkauan yang benar-benar panjang yang akan membuat itu berada dilevel yang sama seperti «Frost Scale Whip» Eldrie, tapi itu hanyalah mainan anak-anak ketika dibandingkan dengan ini.

Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda dari bersemangat, Fanatio terus mengejar Kirito dengan gerakan tangkas seperti menari. Kirito bahkan dapat menghindari empat, lima, enam tembakan dari itu hanya karena kemampuan fisiknya yang ditempa secara susah payah dan intuisi hebatnya.

Tetapi, pada akhirnya, cahaya yang tertembak untuk ketujuh kalinya menyatakan akhir dari game tag kematian ini.

Shaa! Bagian atas kakinya telah tertembus di udara oleh sinar cahaya yang membuat udara panas saat itu tertembak, Kirito terhantam pada lantai, dengan bahunya yang pertama, posturnya goyah. Tapi ujung pedang Fanatio dengan tetap mengarah sedikit ke bawah pada seberkas rambut hitam yang terurai pada saat itu juga.

"Ki......"

-rito, Eugeo mencoba untuk berteriak sebelum dia menyadari mati rasa di tenggorokan dan mulutnya akhirnya telah menghilang. Dia mungkin mampu untuk mengucapkan dengan cukup jelas untuk menyelesaikan upacara art dengan seperti ini.

Jadi daripada berteriak, Eugeo dengan mengalirkan kekuatannya secara tetap ke perut dan mulai mengucapkan upacara art dengan volume yang terlalu pelan untuk knight itu dengar, tapi cukup keras untuk mencapai dewi pencipta.

"System call..."

Kirito pasti akan mampu untuk melewati bahaya selevel ini dengan kemampuannya sendiri. Karena itu, hanya ada satu hal yang Eugeo harus lakukan, yaitu mengucapkan full control art seperti yang diberitahukan pada dia, membuat itu siap untuk diaktifkan kapanpun itu dibutuhkan.

Dengan pedang yang mengarah lurus yang menandakan kematian pada Kirito, Fanatio terdiam untuk sebentar, seolah-olah memprovokasi dia, sebelum berbicara dengan suara pelan.

"...Aku telah diberikan nasihat, bahwa berbicara pada waktu seperti ini adalah kebiasaaan burukku, dari Komandan Integrity Knight selama ratusan tahun, tapi...Meski begitu, itu terasa sangat menyedihkan. Setiap orang yang membuat diri mereka tidak berdaya dibawah kekuasaanku dari «Heaven Piercing Sword» tidak dapat menunjukkan apapun selain ekspresi aneh itu, kau tahu. Aku rasa kau, juga, memikirkan apa sebenarnya dari bentuk sebenarnya dari tehnik yang mampu memojokkan dirimu dengan mudah."

Itu kelihatannya empat knight dibawah Fanatio telah menyelesaikan mengobati luka mereka di waktu ini juga, saat mereka sekarang mengelilingi Kirito dari belakang, memegang pedang besar mereka dengan satu tangan. Ini membuatnya semakin sulit untuk melarikan diri, tapi meningkatkan kemungkinan dari memperpanjang perkataan Fanatio sesuai dengan perkiraan. Berkosentrasi penuh untuk tidak membuat kesalahan di pengucapannya agar untuk mencegah kegagalan, Eugeo melanjutkan merangkai upacara art itu secara bersamaan dengan semua yang dia punya.

"Kalian mungkin adalah kriminal, tapi aku rasa kalian tahu cermin jika kalian pernah tinggal di pusat?"

Fanatio tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang datang dari suatu tempat dan ekspresi kebingungan terlihat pada Kirito bahkan saat dia menahan rasa sakit.

Cermin.

Tentu saja, Eugeo telah melihat itu sebelumnya. Itu tidak ada satupun yang ada di Rulid, tapi di ruangan pribadinya di asrama akademi elite swordsman-in-training dilengkapi oleh cermin yang kecil. Itu adalah alat misterius yang memantulkan jauh lebih jelas dibandingkan dengan permukaan air dan lembaran metal, tapi Eugeo tidak terlalu untuk menyukai penampilan lemahnya, jadi dia tidak memiliki keinginan yang besar untuk memakai itu.

Dengan pedang yang bersiap untuk segera menembak cahaya pada Kirito jika membuat gerakan apapun, Fanatio melanjutkan dengan suara yang kelihatannya tidak memiliki emosi.

"Karena itu adalah barang yang cukup mahal karena dibuat dengan menuangkan perak yang dicairkan pada kaca, aku meragukan bahwa akan ada banyak kesempatan untuk penduduk diluar ibu kota untuk melihat itu dengan mata mereka, tapi...alat itu mampu memantulkan cahaya Solus dengan hampir sempurna. Aku berpikir jika kau dapat mengerti...bahwa itu, alasan kenapa area yang disinari oleh cahaya yang terpantul menjadi dua kali lebih panas. —Tiga ratus tiga puluh tahun yang lalu dari sekarang, Pemimpin Suci, pemimpin tertinggi, mengambil koin perak dan benda yang terbuat dari perak, dan memerintahkan pengrajin kaca untuk menciptakan ribuan cermin besar dari kaca. Itu untuk art menyerang yang tidak perlu diucapkan...eksperimen bernama «persenjataan» bagaimanapun juga, kau tahu. Ribuan cermin, berbaris membentuk setengah lingkaran di halaman depan katedral, memantulkan cahaya Solus di tengah musim panas dan memfokuskan pada satu titik, membawa neraka putih yang murni. Itu melelehkan batu besar berukuran manusia hanya beberapa menit."

Persenjataan...Neraka putih...?

Eugeo tidak mengerti apapun pada perkataan Fanatio. Tetapi, dia mengetahui berdasarkan intuisi, bahwa rencana dari pemimpin tertinggi sangat menakutkan seperti membuat anak-anak saling membunuh satu sama lain agar menstabilkan art pembangkit.

"—Pada akhirnya, pemimpin tertinggi yang hebat itu menilai bahwa itu membutuhkan terlalu banyak persiapan untuk membuat itu menjadi kondisi baik untuk pertarungan. Tetapi, dia mengatakan bahwa itu akan sangat disayangkan bahwa semua itu akan terbuang, dan dengan keajaiban sucinya, dia mengumpulkan setiap ribuan cermin besar, menempa itu, dan menciptakan satu pedang. Itu adalah sacred instrument ini, «Heaven Piercing Sword». Apa kau mengerti kriminal? Apa yang menembus perut dan kakimu adalah kekuatan Dewi Matahari Solus itu sendiri!"

Kata-kata dari Integrity Knight, tercapur dengan kesombongan yang samar-samar, itu sangat mengejutkan hingga Eugeo dengan susah payah menghindari membuat kesalahan ketika upacara art itu hampir selesai.

Cahaya Solus yang dikumpulkan ribuan cermin—dengan kata lain adalah bentuk sebenarnya dari sinar cahaya putih itu?

Itu mungkin untuk menetralkan serangan pada thermal elements dengan cryogenic elements. Tapi bagaimana serangan dengan cahaya dapat ditahan? Sejak awal, art dengan luminous elements sebagai sumber mereka seharusnya hampir tidak memiliki kemampuan serangan langsung, sejauh yang Eugeo tahu di pelajaran. Cahaya untuk menyilaukan mata dapat dinetralkan dengan umbra elemental arts, tapi sinar cahaya pada level seperti itu mungkin akan menembus sepuluh atau dua puluh umbra elements hingga hancur dengan mudah.

Tidak peduli terhadap kegelisahan yang tak tertahankan di hatinya, mulut Eugeo melanjutkan mengucapkan upacara art, tanpa sadar sudah setengah, dan akhirnya mencapai kalimat terakhir. Kekuatan yang disembunyikan di dalam Blue Rose Sword akan dikeluarkan setelah mengucapkan kata terakhir, «enhance armament». Tapi untuk itu harus menunggu sinyal Kirito.

Fanatio kelihatannya telah selesai mengatakan tentang suatu hal dan perlahan mengarahkan ujung pedangnya ke depan pada kepala Kirito.

"Kirito, apakah kau telah mengerti kekuatan dari pedangku yang akan menghapus Lifemu? Jadi aku akan membiarkanmu menyesali dosamu, mempercayakan keyakinanmu dengan sepenuh hati pada tiga dewi, dan memohon ampunan mereka sebelum mati. Jika kau melakukan itu, cahaya suci pemurniaan akan membersihkan dosa pada jiwamu dan membimbingmu menuju Celestial World. Sekarang—Selamat tinggal, kriminal bodoh dan belum berpengalaman."

Heaven Piercing Sword bersinar hingga menyilaukan mata, memperlihatkan sinar cahaya yang akan menandakan tanda kematiannya melalui hatinya.

"Discharge!"

Itu hanya sekejap ketika teriakan itu mencapai telinga Eugeo.

Tepat dihadapan pedang Fanatio yang bersinar, Kirito menepuk kedua tangannya bersamaan dengan 'pan!' dan lalu mengeluarkan itu keluar. Apa yang muncul di telapak tangannya ada suatu lembaran berwarna perak.

Tidak, bukan itu. Itu tidak hanya suatu lembaran metal. Dengan level yang sempurna, lembaran persegi itu dengan jelas memantulkan helm Fanatio sementara knight itu berdiri di depan Eugeo.

Mata Eugeo telah mengetahui warna dua element berbeda yang digenggam kedua tangan sebelum itu ditepuk secara bersamaan.

Cahaya di tangan kanannya adalah metal elements. Itu digunakan untuk menembak jarum atau membuat dan peralatan yang biasa, element bertipe metal. Dan apa yang ada di tangan kirinya adalah crystal elements. Itu adalah element bertipe kaca yang digunakan untuk menciptakan penghalang yang tidak terlihat dan gelas kaca. Dengan dua dari itu membentuk bentuk lembaran dan lapisan, objek yang diciptakan adalah—

Cermin.

Tombak cahaya yang menyembunyikan panas yang luar biasa mengenai cermin yang diciptakan oleh upacara art Kirito dan mengubah itu dari perak menjadi orange dalam sekejap mata.

Life dari alat yang diciptakan dari element setelah semua sangatlah rendah. Bahkan jika pisau terlihat sama dari luar, dibandingkan dengan salah satu yang ditempa dari biji yang dapat digunakan untuk selama sepuluh tahun, salah satu yang dibentuk dari metal elements akan kehabisan Lifenya hanya dalam waktu satu jam dan tersebar. Cermin itu seharusnya bukan pengecualian, itu sangat meragukan bahwa itu memiliki ketahanan untuk memantulkan cahaya Heaven Piercing Sword.

Saat Eugeo berlalu sesuai yang diprediksikan, cermin itu hanya bertahan di udara hanya selama sepuluh detik. Kaca dan metal itu meleleh menjadi cairan yang tersebar disekitar dan sinar cahaya menembak lurus ke arah Kirito, yang memiliki delapan puluh persen sinarnya.

Tetapi, pada saat sekejap yang berharga dari menghindari kematian secara paksa yang dibuatnya tidak menjadi percuma pada Kirito juga. Itu hampir bukan apa-apa, tapi dia sukses memiringkan tubuhnya menuju ke arah kiri dan cahaya itu hanya menghanguskan salah satu bagian rambut dan pipinya sebelum itu tertembak di belakangnya.

Dan dua puluh persen sisanya yang dipantulkan oleh cermin itu—

Telah dipantulkan dengan sudut yang tajam dan terbang menuju helm Fanatio.

Itu seharusnya bukanlah gerakan yang dapat diprediksi, tapi seperti yang diduga dari Integrity Knight nomor kedua, sinar cahaya itu dihindari dengan memiringkan kepalanya dengan reflex yang sebanding dengan Kirito atau bahkan lebih tinggi. Tetapi, knight itu tidak dapat melindungi dekorasi sayap yang berada di kedua sisi dari helm itu. Dekorasi di bagian kiri terkena oleh cahaya dan penjepitnya telah hancur dengan itu—helm itu terbelah menjadi dua, di depan dan di belakang, dengan segera setelah itu.

Pandangan Eugeo telah tertangkap oleh rambut panjang yang terurai di udara pada saat itu.

Itu berwarna hitam gelap seperti rambut Kirito. Namun kelembutannya benar-benar melebihi yang hebat. Rambut panjang bergelombang yang terurai, yang pasti seharusnya telah dirawat dengan penuh perhatian, berkilauan dengan indah pada cahaya matahari di tengah hari dari jendela besar. Kenapa seseorang seperti knight itu adalah—

Saat Eugeo tanpa sadar memikirkan itu, dia dapat melihat wajah Fanatio yang dengan cepat ditutupi dengan tangan kirinya yang terangkat.

Dan Fanatio berteriak.

"Kalian melihatnya, bukan...kriminal!!"

Itu benar-benar berbeda dengan suara yang tertutupi oleh metal yang keluar dari dalam helm sebelumnya, itu adalah suara yang bernada tinggi, baik kehalusan dan kelembutannya.

Dia perempuan—!?

Keterkejutan yang sangat besar membuat Eugeo untuk hampir mengeluarkan suaranya, yang akan menghilangkan status standby upacara art itu. Dia dengan rapat menutup mulutnya untuk mencegah kata-kata yang tidak perlu akan keluar. Tetapi, suatu bagian dari kesadarannya tetap melihat ke arah sosok Knight Fanatio yang mundur.

Tingginya sama dengan Kirito atau lebih tinggi, tapi ketika dia menilainya dengan pemikiran itu di pikirannya, garis yang menurun dari punggungnya hingga pinggangnya benar-benar langsing. Tetapi, dia benar-benar telah yakin bahwa dia adalah laki-laki hanya sampai sekarang.

Sword Art Online Vol 12 - 229.jpg

Mereka telah menghadapi knight seperti Alice Synthesis Thirty, atau Fizel dan Linel, meskipun mereka hanya anak-anak, jadi tidak ada alasan untuk menolak bahwa ada sejumlah perempuan did alam Integrity Knight. Sejak awal, mendekati setengah dari trainees yang belajar di akademi adalah gadis seperti Tizei dan Ronie. Banyak Integrity Knight telah diciptakan dari rangking mereka, jadi tidak ada hal yang aneh tentang knight nomor dua adalah perempuan.

Ketika dia memikirkan kenapa dia begitu terkejut meskipun begitu, Eugeo menyadari bahwa itu karena cara bicara dan kelakuannya sampai sekarang benar-benar terlihat seperti laki-laki.

Jika memang begitu, alasan kenapa kemarahan terlihat dari seluruh badan Fanatio tepat sekarang adalah bukanlah karena wajahnya telah terlihat—itu mungkin disebabkan oleh mereka mengetahui bahwa dia adalah perempuan.

Itu kelihatannya Kirito, yang terjatuh dengan bertumpu pada satu lutut, mendapati rasa sakit dari pipinya yang terbakar menghilang juga, saat penampilan yang keheranan terlihat pada wajahnya.

Menatap pada Kirito terbaring diantara celah di antara jari tangan kirinya, Fanatio berbicara sekali lagi.

"Jadi kau...kau membuat wajah seperti itu juga, huh, kriminal. Jadi bahkan kalian, bersalah atas kejahatan tingkat tinggi terhadap gereja, tidak akan bertarung secara serius pada saat kalian mengetahu bahwa aku adalah perempuan?"

Meskipun telah menyesal, karena sebenarnya telah salah dari dirinya sendiri, suaranya sangat indah, membawa pikiran terhadap alat nusik senar yang dimainkan oleh musisi.

"Aku bukanlah manusia...Aku adalah Integrity Knight yang dipanggil ke tanah ini dari Celestial World...dan meski begitu aku telah menderita karena pandangan merendah dari semua laki-laki, dalam sekejap ketika kalian mengetahui bahwa aku perempuan! Tidak hanya diantara teman-temanku...tapi bahkan dari komandan penjelmaan kejahatan, Darkness Knight[4]!!"

—Sama sekali bukan, tidak ada satupun dari kami memandang rendah padamu.

Setelah menjawab seperti itu di pikirannya, sebuah pemikiran muncul pada Eugeo.

Dia telah bertarung dengan banyak swordswoman saat bertugas sebagai penjaga di Zakkaria dan sementara dia mulai belajar di akademi. Ada beberapa diantara mereka yang memiliki kemampuan lebih banyak dari Eugeo dan tentu saja, ada suatu waktu ketika dia kalah terhadap mereka.

Melalui pengalaman dari semua pertarungan itu, Eugeo tidak bersikap lunak pada lawannya hanya karena mereka perempuan dan dia sangat menghormati yang berpengalaman di bidangnya tanpa mempedulikan jenis kelamin mereka.

Tetapi—bagaimana jika itu bukanlah pertandingan dimana petarung itu menang dengan menghentikan serangan sebelum mengenai tubuh atau setelah serangan pertama, tapi pertarungan hidup dan mati yang sebenarnya? Dapatkah dia menghapus Life lawannya tanpa keraguan...?

Itu terjadi ketika Eugeo telah dipenuhi oleh pemikiran yang sekarang dia pikirkan untuk pertama kalinya dan kehilangan nafasnya.

Kirito yang meringkuk di lantai tiba-tiba menjadi hembusan angin dan melompat menyerbu.

Itu adalah tebasan ke bawah dari kanan tanpa trik apapun atau bahkan secret moves. Tetapi, pedang itu bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan yang kelihatannya tidak jelas bahkan di mata Eugeo. Itu justru seperti keajaiban, bahwa Fanatio berhasil untuk menangkis itu tepat waktu dengan hatinya terkejut di tengah kekacauan. Gaan! Suara hantaman yang menusuk telinga terdengar di dalam aula, percikan api terlihat menyebar menyinari wajah mereka berdua untuk sesaat.

Fanatio dengan cepat menghentikan tebasan di dekat penahan pedang tipisnya, tapi dia tidak dapat menahan beban dari serbuan itu dan telah dipaksa mundur beberapa langkah. Kirito menahan pedang mereka secara bersamaan dan mendorong tubuh langsing knight perempuan itu tanpa kehilangan tekanan. Lutut Fanatio, terbungkus dengan armor ungu, mulai untuk sedikit tertekuk.

Kirito tiba-tiba berbicara dengan nada rendah.

"Aku mengerti, itu menjelaskan pedang dan skill itu. Itu untuk menyembunyikan bahwa kau adalah perempuan ketika bertarung...itu benar, bukan, Fanatio ojou-sama?"

"Kau...sialan!!"

Teriakannya terdengar seperti jeritan, Fanatio menekan kembali pedangnya saat itu salng menahan satu sama lain.

Ketika Eugeo mengalihkan pandangannya dari dua orang yang saling menahan di tempat itu, dia dapat merasakan tanda tertekan dari empat knight di sekitarnya. Ini mungkin hanya perkiraan, tapi mungkin beberapa diantara mereka tidak mengetahui wajah Fanatio. Dua gadis yang terbaring lumpuh di sisi kanan Eugeo tidak dapat menunjukkan tanda-tanda apapun, juga.

Menampakkan diri mereka di hadapan mata knight itu, Kirito dan Fanatio melanjutkan pertarungan dengan seluruh kekuatan mereka. Kirito sudah jelas menang pada faktor berat tubuh dan berat pedang, dia menduganya. Tapi setelah mendapati terdorong ke belakang lagi, Fanatio tidak menunjukkan tanda-tanda untuk mundur dengan kekuatan fisik yang tidak dapat dibayangkan dari tangan kurusnya.

Kirito melemparkan kata-kata padanya lagi dari celah saat menggeretakkan giginya.

"...Aku akan mengatakan ini untuk pertama kalinya, tapi apa yang aku terkejut sekarang, adalah bagaimana kekuatan pedangmu berkurang dengan sangat jauh ketika helmmu menjadi rusak. Menyembunyikan wajahmu, menyembunyikan tebasan pedangmu...bukankah kau adalah orang yang paling sadar bahwa kau adalah perempuan?"

"Diam...Diam! Aku akan membunuhmu...Setidaknya aku pasti akan membunuhmu...!"

"Itu adalah apa yang akan kulakukan juga. Aku benar-benar tidak berencana untuk bersikap lunak padamu hanya karena kau adalah perempuan, setelah semua, aku telah kalah pada swordswoman sepanjang waktu!"

Itu benar bahwa Kirito telah kalah tak terhitung jumlahnya oleh Solterina-senpai, yang dia layani sebagai valet, sejauh yang Eugeo tahu. Tapi Eugeo mempercayai bahwa dia tidak benar-benar berhubungan dengan latihan atau pertandingan praktek. Seolah-olah dia hendak mengatakan bahwa dia benar-benar kalah oleh swordswoman di suatu tempat, di pertarungan nyata di masa lalu...

Pada saat itu, kaki kanan Kirito tiba-tiba terlihat di depan dan menyandung kaki Fanatio. Tubuh bagian atasnya terhuyung dan kedua pedang itu mengeluarkan percikan api saat itu terpisah. Tanpa menunggu jeda, dia menusukkan pedang hitamnya dengan satu tangan.

Tetapi, tangan kanan Integrity Knight itu bergerak dengan sangat cepat dan pedang tipisnya menangkis pedang hitam dari sisinya seperti mahluk hidup. Memperbaiki posturnya sementara menghindari lintasan tusukan itu, dia mengambil langkah ke belakang untuk memperlebar jarak.

Kirito pulih dengan cepat juga. Menggunakan kecepatan dari tusukan, dia menyerbu menuju dada musuh yang kelihatannya seperti hendak menghantam tubuhnya dan mempertahankan pertarungan jarak dekat. Setelah semua, pertarungan jarak jauh tidak mungkin terhadap Fanatio yang memiliki skill menembak sinar cahaya tanpa persiapan terlebih dahulu.

Kecepatan yang sangat tinggi dari pedang yang saling berhantaman dimulai dari jarak yang mendekati nol.

Apa yang menakuti Eugeo adalah bagaimana Fanatio berhadapan dengan serangan beruntun yang tidak beraturan dari Kirito tanpa mundur bahkan untuk satu langkah. Pedang itu melakukan serangan dari atas, bawah, kiri dan kanan secara beruntun yang ditangkis oleh pedang tipis itu, dengan bebas menebas di sekitar, membalas dengan tusukan dari dua atau tiga skill tebasan beruntun setiap kali ada celah kecil. Tidak ada satupun dari mereka menggunakan secret moves, tapi itu karena mereka bahkan tidak dapat menemukan celah untuk melakukan posisi awal.

Setiap semua style ilmu pedang tradisional di Dunia Manusia hanya memiliki kemampuan skill pedang satu tebasan dan itu kelihatannya bahkan Integrity Knight Deusolbert tidak mengetahui skill tebasan beruntun. Itu berarti Fanatio melatih skill tebasan beruntun melalui usahanya sendiri. Alasan dibalik itu pastinya tidak berhubungan dengan perkataan Kirito yang sebelumnya.

Cahaya dari Heaven Piercing Sword, untuk mengalahkan musuh tanpa mendekat. Atau skill tebasan beruntun, untuk mengalahkan musuh dengan seranagn beruntun bahkan jika dia tidak dapat menggunakan full control art dan kehilangan inisiatif.

Dengan kata lain, knight perempuan, Fanatio, takut apabila musuh mendekat padanya dan menyadari apa yang disembunyikan dibalik armornya. Tapi kenapa...? Kenapa dia mencoba sangat keras untuk menyembunyikan jenis kelaminnya.

Sementara memikirkan keraguan baru yang muncul, mata Eugeo telah terpaku pada pertarungan diantara mereka berdua. Itu kelihatannya empat knight yang dibawah perintah Fanatio juga sama, mereka melihat pada pertarungan hebat itu tanpa bergerak sedikitpun dan dengan pedang besar mereka yang telah diturunkan.

Betul-betul sekarang, ini adalah suatu—

Suatu pertarungan yang hebat.

Pada jarak sedekat itu, mereka berdua sangat sulit untuk menggerakkan kaki mereka dan terus bertahan terhadap serangan tebasan dan tusukan secara terus menerus dan menghindarinya hanya dengan menggerakkan tubuh mereka atau menangkisnya. Pemandangan di sekitar mereka berdua seolah-olah banyak bintang yang bercahaya, terlihat, dan menghilang, satu demi satu. Bahkan suara dari besi yang berhantaman dengan besi benar-benar sangat hebat, mengingatkan seseorang pada duet instrument perkusi.

Senyuman dingin terlihat pada wajah Kirito yang terlihat pucat saat dia melakukan tehnik dengan kekuatan tersebut, itu kelihatan seperti Kirito benar-benar bergabung dengan pedang hitam. Pertarungan jarak dekat seharusnya mampu untuk menahan lawannya menggunakan cahaya Solus, tapi kelihatannya dia sekarang hanya dipenuhi dengan kegembiraan yang keluar darinya dengan skill pedang yang dilatihnya dengan seluruh isi hatinya.

Di sisi lain, Fanatio seharusnya tidak memiliki alasan untuk mengikuti keinginan musuhnya. Jika dia menyuruh salah satu anak buahnya untuk menyerang Kirito dari belakang, mengambil celah itu untuk memperlebar jarak, dan menembak sinar cahaya lagi, seharusnya tidak akan ada kesempatan Kirito untuk menahannya kali ini.

Meskipun begitu, Integrity Knight dengan rambut hitam, panjang yang terurai kelihatannya mencoba untuk mengakhiri pertarungan melalui serangan langsung dari pedang tipisnya. Eugeo tidak dapat menyimpulkan alasan untuk itu. Karena kemarahan disebabkan oleh provokasi Kirito? Harga dirinya sebagai knight yang tidak dapat memaafkan untuk kabur dari pertarungan? Atau mungkin, dia, juga menemukan sesuatu yang penting sebagai ganti dari skill tebasan beruntun, pertarungan yang hebat ini?

Eugeo tidak dapat melihat apapun selain punggung Fanatio dari posisinya, dia tidak mengetahui apa jenis ekspresi yang terlihat pada wajahnya.

Membuat dugaan dari kata-katanya, dia menduga Fanatio telah melayani gereja sebagai Integrity Knight selama seratus tiga puluh tahun untuk minimalnya, dengan kemungkinan masih lebih jauh lagi. Itu adalah panjang waktu yang absurd bahkan Eugeo tidak dapat untuk membayangkannya, dengan dirinya tidak yakin jika dia bahkan dapat mencapai umur sembilan puluh tahun.

Dia benar-benar tidak tahu sudah berapa tahun berlalu semenjak dia telah menyembunyikan wajah dan jenis kelaminnya, tapi jika dia melatih semua skill tebasan beruntun itu melalui usahanya sendiri, itu bukan hanya latihan selama sepuluh atau dua puluh tahun. Kirito hanya dapat terus saling beradu pedang dengan Fanatio sekarang karena dia, juga, adalah pengguna skill tebasan beruntun yang langka, Aincrad style.

Jika ada swordsman yang lain, mereka mungkin hanya akan menjadi tidak berdaya hingga jatuh ke tanah, bahkan tidak dapat untuk bergerak satu langkah di dalam jangkauan pedangnya.

Karena itu, Kirito mungkin adalah lawan pertama yang Fanatio hadapi yang membuatnya dapat menggunakan semua kekuatannya melalui skill pedang yang dipolesnya juga.

Mereka mungkin Integrity Knight, tapi kehebatan dari keindahan dan kekuatan dari menggunakan satu tebasan adalah bukti dari style bertarung dari Eldrie dan Deuolbert. Karenanya, itu sangat meragukan bahwa Fanatio telah menunjukkan skill tebasan beruntun di latihan dengan knight sebagai patnernya. Dia telah berlatih sendiri untuk waktu yang, benar-benar lama, dengan tidak ada seorangpun selain bayangan imajinasinya, lalu anak muda pengguna skill tebasan beruntun telah muncul, mengambil bentuk yang sesungguhnya bernama Kirito.

Bahkan semenjak Kirito mulai mengajar dia Aincrad style, pertarungan hebat yang dia bayangkan di pikirannya sekarang telah dibawah ke kenyataan tepat sekarang. Itu tidak membawa keindahan dari style yang terus mencari pada keangkuhan, tapi keindahan yang hebat yang murni di dapat dari hasil untuk berusaha menebas musuh.

Lima tusukan beruntun Fanatio menahan lima tebasan beruntun Kirito secara sukses dan masing-masing pedang mereka, dengan kuat saling menangkis, mengayunkan itu ke bawah saat mereka berdua meneriakkan ketetapan hati mereka.

"Ryaaaa!"

"Seaaaa!"

Bahkan Eugeo, yang terbaring di lantai yang agak jauh, dapat merasakan panas di kulitnya dari gelombang udara yang disebabkan oleh pedang yang saling berhantaman. Rambut hitam Kirito dan Fanatio dengan keras terurai, pedang mereka bertubrukan, dan mereka berdua berganti posisi.

Eugeo kehilangan nafasnya untuk sesaat ketika wajah Fanatio telihat di pandangannya.

Itu sangat cantik, yang terlihat suci, yang membuat dia berpikir bagaimana wanita suci dari dunia dongeng akan terlihat seperti itu jika mereka benar-benar ada. Dia seharusnya berusia pertengahan dua puluh hingga merasa bersalah pada orang yang lebih tua, dengan kulit halusnya seperti bayangan the hitam dengan banyak susu yang ditambahkan. Baik alis yang berbentuk busur dan bulu mata yang panjang, tapi matanya sebagian besar berwarna emas kemerahan. Penampilannya menunjukkan bahwa dia mungkin lahir di daerah timur dan ujung hidungnya cukup tinggi.

Rahangnya memiliki bentuk melengkung juga, membawa pikiran pada keanggunan yang sangat lembut. Dan mulut kecilnya sedikit kemerahan.

Kemarahan mengerikan dari waktu sebelumnya sudah tidak ada di wajah knight perempuan itu. Sesuatu seperti kepasrahan, yang memendam suatu jenis kesedihan, dapat dirasakan darinya.

"—Aku mengerti sekarang."

Fanatio berguman dengan suara yang mempesona dengan pedang yang masih bersilangan.

"Kriminal, itu kelihatannya kau sedikit berbeda dengan dari seseorang yang pernah bertarung denganku. Tidak ada seorangpun laki-laki yang mampu untuk mencoba untuk membunuhku seserius ini sekali mereka melihat wajah buruk seperti ini sampai sekarang."

"Buruk—huh. Lalu demi siapa kau menyisir rambut itu dan mewarnai bibir merah itu?"

Pertanyaan Kirito sangatlah memprovokasi seperti seperti biasa, tapi Fanatio hanya menunjukkan sedikit tanda-tanda dari senyuman mengejek, dan menjawab dengan pelan.

"Aku telah menunggu selama ratusan tahun untuk laki-laki yang aku cintai untuk meminta lebih dariku, dibanding tehnik pedang dan memenggal kepala...itu hanya normal dalam berada pada suasana hati untuk menggunakan kosmetik setelah menemaninya sangat lama dibalik topeng besi dan lalu berakhir bermain sebagai orang kedua pada knight perempuan yang baru itu, dengan wajah jauh lebih cantik dibandingkan dengan diriku dan dengan bebas memperlihatkan wajahnya."

Knight kuat yang jauh lebih cantik bahkan jika dibandingkan dengan Fanatio. Dan perempuan juga.

Itu hanya setelah Eugeo gemetar saat memikirkan bagaimana kuatnya musuh yang tersisa di atas dalam menara ini, dan dia menyadari bahwa dia mengetahui Integrity Knight yang cocok dengan kriteria tersebut. Tidak mengenakan helm, menjadi knight hanya beberapa tahun, seseorang yang menjatuhkan Eugeo dengan satu serangan yang sangat cepat—Alice Synthesis Thirty.

Kirito seharusnya merenungkan kata-kata Fanatio dalam satu hal dan lainnya, tapi dia memperlihatkan ketidaktertarikan saat dia bertanya lebih jauh.

"—Apa hal yang paling penting untukmu? Jika Integrity Knight hanya ada untuk melayani perintah pemimpin tertinggi, kau bahka seharusnya tidak memiliki hati yang mampu untuk khawatir terhadap cinta atau cemburu. Aku tidak tahu siapa laki-laki itu, tapi jika kau memiliki cinta yang tak berbalas padanya selama ratusan tahun...itu berarti kau adalah manusia. Itu karena kau adalah manusia sepertiku. Aku bertarung untuk mengalahkan gereja dan pemimpin tertinggi, untuk membuat manusia sepertimu dapat mencintai dan hidup normal!"

Bahkan Eugeo sangat terkejut oleh kata-kata itu. Dia sama sekali tidak tahu Kirito, yang kelihatannya selalu menyendiri, memikirkan tentang hal seperti itu di pikirannya. Tapi di saat yang sama, Eugeo juga menyadari di suatu tempat di suara patnernya ada sebuah gema, seolah-olah bermasalah pada suatu kontradiksi.

Wajah Fanatio berubah sekali lagi, meskipun itu hanya untuk sekejap saja.

Melihat pada benda gelap yang diukir pada dahi halusnya, dia berpikir «piety module» akan muncul seperti kasus Eldrie, tapi perubahan yang terlihat pada knight nomor dua diantara mereka berakhir di situ.

"...Anak muda, kau tidak mengerti. Jika kekuasaan gereja telah menghilang, siapa yang tahu neraka macam apa yang dunia ini akan alami... Tentara dari Dark Territory memperkuat kekuatan mereka hari demi hari, berkumpul di balik Puncak Barisan Pegunungan yang menyegel mereka. Aah...Aku mengakui, bahwa kau kuat. Dan tidak sebagai anak buah kegelapan maupun penyusup yang hebat, seperti yang Kepala Pemimpin bilang, kelihatannya. Tetapi, itu tidak mengganti fakta bahwa kalian benar-benar berbahaya. Untuk mampu mempengaruhi gereja dan Integrity Knight tidak hanya dengan pedangmu, tapi juga kata-katamu. Dihadapan tugas terbesar yang diberikan kepada kami sebagai Integrity Knight, cintaku hanya...bahkan tidak sebanding dengan memanen, seikat gandum yang ada."

Heaven Piercing Sword dan pedang hitam yang saling bersilangan di antara mereka berdua terus mengeluarkan suara keras yang kelihatannya telah mencapai batasnya, bahkan sementara Fanatio berbicara dengan ekspresi muram, seolah-olah mengatakan ketetapan hatinya. Itu sudah sangat jelas bahwa salah satu dari mereka dapat terlempar jika mereka mengurangi kekuatan mereka bahkan jika hanya sedikit.

Tidak, dua pedang itu seharusnya masih akan kehilangan Lifenya jika dalam keadaan seperti itu. Jika pedang itu masih terkunci, yang pertama akan kehabisan Lifenya adalah Heaven Piercing Sword. Setelah semua, jika status mereka sebagai sacred instruments berada di level yang sama, salah satu yang memiliki Life lebih banyak adalah salah satu yang lebih tebal dan lebih berat.

Tidak ada kemungkinan bahwa Fanatio tidak menyadari itu. Dan bagaimana dia tanpa ampun akan ditebas oleh Kirito pada saat pedangnya terdorong ke belakang dan menciptakan celah.

"Karena itu—Aku harus mengalahkanmu. Bahkan jika aku harus menghancurkan harga diriku sebagai knight. Mengejekku karena menang dengan skill yang mengejutkan. Kau berhak untuk mengatakan itu."

Setelah dengan pelan menyatakan itu, Fanatio melanjutkan dan berteriak.

"Cahaya yang disembunyikan di dalam Heaven Piercing Sword, ini adalah waktunya untuk melepaskan dirimu dari pengekangmu!! —Release recollection!!"

Upacara art ini—adalah art untuk melepaskan ingatannya!!

Pedang perak itu bersinar lebih terang daripada yang pernah diperlihatkannya.

Setelah itu.

Shupaa! Beberapa sinar cahaya telah dilepaskan dengan pola melengkung dari ujung pedang dengan suara itu.

Eugeo secara insting berpikir itu untuk menyilaukan mata. Untuk menghilangkan pandangan Kirito untuk sebentar dan mematahkan postur tubuhnya sebelum menebas dia.

Tetapi, perkiraan itu benar-benar menghilang ketika salah satu dari cahaya yang dtembakkan oleh Heaven Piercing Sword ke seluruh arah mengenai lantai di samping Eugeo, hingga ke dalam lantai marbel itu.

Itu bukan untuk menghilangkan pandangan—tidak ada satupun dari cahaya itu.

Kirito!! Eugeo tidak dapat menahan selain mengangkat bagian tubuh atasnya saat dia berteriak di dalam hatinya. Ketika dia memfokuskan matanya, dia melihat sinar cahaya yang ditembakkan dari jarak yang dekat pada saat hendak menembus pada tangan kanan Kirito. Tidak hanya itu, di dapat melihat bukti luka dari tanda luka yang tertembus dalam pada bahu kiri dan paha kanannya.

Dan Kirito bukan hanya seseorang yang menahan cahaya sangat panas di tubuhnya.

Pemilik dari Heaven Piercing Sword, juga, memiliki bekas lubang yang tertembak melalui armor pada perut, bahu dan kedua kakinya. Kedalaman lukanya jauh lebih buruk dibandingkan dengan Kirito. Tapi meski begitu, ekspresi yang dipenuhi dengan ketetapan hati yang terlihat di wajah cantiknya tidak berkurang sedikitpun.

Integrity Knight Fanatio Synthesis Two berencana untuk menghabiskan Lifenya juga, dengan Kirito sebagai orang yang akan menemaninya.

Kata-kata dari pemimpin tertinggi sebelumnya, Cardinal, terulang di pikirannya. Kalimat upacara «release recollection», membangkitkan semua ingatan senjata, melepaskan kekuatan yang tak terkendali. Kekuatan yang mampu untuk menghilangkan Life seseorang yang tidak hanya menyerang musuh, tapi dirimu juga.

Pelepasan Heaven Piercing Sword memberikan luka yang hampir fatal pada mereka berdua dari jarak dekat, dengan luka yang sangat besar pada empat knight di sekelilingnya juga, dari serangan awal. Ornamen suci di aula besar yang diluar jangkauannya juga dan itu telah secara cepat terbakar, sementara kaca jendela yang mahal tersebar secara berturut-turut. Ada beberapa sinar cahaya yang hampir tertembak menuju Eugeo dan dua anak perempuan yang lumpuh itu, terbaring di dekatnya, tapi meski begitu, mereka akan terkena serangan langsung cepat atau lambat.

Tidak peduli berapa banyak cahaya yang dipancarkan, sacred instrument yang ditempa dari ribuan cermin besar benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti Ujung pedang itu bersinar dengan jeda sekitar satu detik, menembak sinar cahaya tanpa mempedulikan untuk membidik.

Setengahnya tertembak menuju langit kosong, hanya melelehkan dinding, tiang, dan langit-langit, tapi beberapa jumlah diantara setengahnya mencapai sudut yang rendah dan telah mencapai tubuh mereka berdua pada jarak yang dekat, dan itu cukup normal.

Tidak dapat untuk menarik pedangnya, Kirito hanya dapat menggerakkan kepalanya sebanyak yang dia bisa untuk menghindari cahaya yang hampir menembus dahinya. Cahaya berikutnya menuju wajah Fanatio, tapi Integrity Knight itu tidak membuat gerakan sedikitpun. Sinar cahaya itu menggores pipinya, membakar lekukan hingga berwarna merah tua pada celah, kulit halusnya dan membakar sejumlah rambut hitam panjangnya dalam sekejap.

"Kau...benar-benar bodoh!!"

Kirito berteriak dengan ekspresi menyedihkan. Tetesan dari darah segar tersebar dari mulutnya bersamaan dengan itu. Eugeo dengan mudah dapat membayangkan bagaimana banyak sinar cahaya pada tubuhnya akan membuat Kirito berada diambang kehabisan Lifenya, tidak peduli berapa banyak yang dia punya. Tapi swordsman berjubah hitam itu keras kepala menolak untuk jatuh, bahkan menggeser pedangnya pada sumber dari sinar cahaya itu, ujung dari Heaven Piercing Sword, menutupi itu dengan bagian sampan pedang hitam itu.

Sebagai hasilnya, itu mungkin hanya penahan sementara, tapi semua cahaya yang tertembak menuju Kirito dan Fanatio berakhir dihalangi oleh pedang hitam.

Sekarang—sekarang atau tidak akan pernah!

Kirito tidak membuat sinyal, tapi Eugeo mengetahui bahwa waktunya pasti telah datang melalui baik rasional dan pemikirannya.

Fanatio secara normal telah bertarung, sementara empat knight di bawah perintahnya dengan susah payah bertahan dari cahaya juga, menggunakan pedang besar mereka sebagai perisai, dengan tidak ada ketenangan untuk mempedulikan kriminal yang tersisa. Tidak ada seorangpun yang mampu untuk menghentikan full control art Eugeo yang akan membuat dia terbuka lebar saat pengaktifannya jika dia menggunakannya saat ini.

Memancarkan sesuatu dengan kekuatan yang kuat, Eugeo menarik keluar Blue Rose Sword yang dia telah genggam selama seluruh waktu yang telah berlalu dengan satu tarikan.

"Enhance......"

Memutar itu di tengah udara, mengganti itu dengan ayunan rendah pada gagang, dia menahan gagang dengan bantuan tangan kirinya juga dan menusuk itu pada lantai marbel dengan semua kekuatan yang dapat dia kerahkan.

"—Armament!!"

Mendekati setengah dari pedang biru pucat itu tertancap pada lantai.

Bashiiii!! Diiringi dengan suara, ledakan keras, lantai marbel itu dengan sekejap tertutupi oleh es putih murni.

Kristal es menusuk ke arah atas, hawa dingin menyebar keluar dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Kira-kira lima detik setelah pengaktifan, hawa dingin dengan yang luasnya mendekati sepuluh mel membungkus Kirito dan Fanatio, bersamaan dengan empat knight, pada kaki mereka.

Itu kelihatannya empat knight itu akhirnya menyadari fenomena aneh itu. Wajah yang ditutupi oleh helm mereka terkejut dan berbalik ke arahnya.

Tapi itu sudah terlambat.

Sementara Eugeo menaruh semua kekuatan yang dia punya pada kedua tangannya, dia berteriak dengan keras.

"Mekarlah—Blue Rose Swoord!!"

Tak tehitung sulur es berwarna biru pucat muncul ke atas dengan sekejap, menuju empat knight, Fanatio dan Kirito dari kaki mereka.

Setiap sulur hanya setipis seperti jari kelingking. Tapi semuanya tumbuh dengan duri yang tajam, yang berkumpul pada itu, dengan kuat menjerat kaki mereka.

"Nhn..."

"A-Apa!?"

Knight yang berkumpul itu berteriak. Tak terhitung sulur es telah bergerak menuju pinggang dan perut mereka bersamaan dengan kaki mereka. Ada beberapa diantara mereka yang meskipun terlambat mencoba untuk memotong sulur itu dengan pedang besar mereka, tapi sulur itu telah melilit di sekitar pedang itu berkali-kali saat menyentuhnya, mengekang itu ke tanah.

Knight itu diserang oleh sulur, dari dada mereka hingga kepala mereka, bahakn turun hingga ujung jari mereka, telah membeku menjadi patung es yang tidak dapat bergerak sedikitpun. Pada akhirnya, dari sulur yang mengikat keras di sekitar tubuh mereka sementara mengeluarkan suara 'kin' yang tajam dari mawar besar bermekaran dengan jumlah tak terbatas, berwarna biru yang amat terang dan didahului oleh gema yang berbunyi dengan sangat jelas.

Normalnya, semua itu adalah es yang dingin. Tidak ada madu atau keharuman yang dibuat oleh kelopak keras dan transparan itu, tapi sebagai gantinya, mawar itu mulai mengeluarkan hawa dingin yang berwarna putih. Air di dalam seluruh aula itu telah dikelilingi kabut tebal pada saat itu, berkilauan dan bercahaya. Sumber dari hawa dingin itu—telah menahan Life knight itu.

Kecepatan segera berkurang sedikit demi sedit, tapi mereka tidak dapat mengumpulkan kekuatan yang dibutuhkan untuk menghancurkan ikatan mereka dari mawar es yang menghisap Life dari seluruh tubuh mereka. Sejak awal, upacara art ini bukanlah digunakan untuk membunuh musuh. Eugeo memutuskan kemampuan art itu hanya untuk tujuan memperlambat gerakan Integrity Knight Alice.

Empat knight itu benar-benar menjadi tak berdaya, tapi seperti yang diduga dari seseorang yang memimpin mereka, itu kelihatannya Knight Fanatio melihat pada kemampuan skill itu pada saat sulur itu berubah di dalam es dan melompat ke udara dengan usaha untuk melarikan diri.

Tetapi, Kirito yang mengetahui art Eugeo, bereaksi sedikit lebih cepat. Setelah melompat tinggi untuk mengantisipasi Fanatio, Kirito menggunakan bahu swordswoman sebagai batu pijakan dari semua hal dan melarikan diri lebih jauh ke udara. Melompat ke arah belakang sementara mengalirkan darah segar, dia melarikan diri dari sulur es.

"Kuh...!"

Mungkin disebabkan oleh kehilangan kosentrasinya, sinar cahaya tertembak secara sembarangan dari Heaven Piercing Sword berakhir setelah menembus beberapa sulur, tenggelam pada keheningan. Sulur tipis yang dengan cepat mengikat di sekitar armor rusak yang terlihat menyedihkan, membungkus itu di dalam es tebal.

Sword Art Online Vol 12 - 246.jpg

Mawar biru terakhir terbuka dari kaki Fanatio telah mekar dengan keindahannya denngan bekas luka yang ada di pipinya. Integrity Knight nomor dua itu gerakannya benar-benar berhenti bersamaan dengan sacred instrument.

Dalam keadaan luka berat pada seluruh tubuhnya, melompat ke belakang beberapa kali dengan sukses dan melepaskan diri dari sulur es, lalu gagal saat mendarat di saat terakhirnya dan terjatuh dengan suara keras di samping Eugeo.

"Gufh..."

Suara yang serak keluar dari dalam tenggorokannya dan sejumlah darah segar dengan segera tersembur keluar. Melihat saat es itu berubah warna menjadi es merah tua pada saat itu juga, Eugeo tanpa sadar berteriak.

"Kirito...tunggu sebentar, aku akan mengucapkan art penyembuhan...!"

"Tidak, Jangan hentikan skill itu!"

Bahkan ketika dia sementara diambang kehilangan kesadaran dari kehilangan banyak darah, Kirito masih merengut dengan matanya yang bersinar dan menggelengkan kepalanya.

"Orang itu tidak akan kalah hanya dengan sebanyak ini..."

Sementara setetes darah mengalir dari mulutnya, dia membangkitkan tubuhnya yang penuh dengan luka dengan pedang hitam.

Kirito mengusap mulutnya dengan tangan kirinya dan menutup kelopak matanya untuk sebentar untuk mengatur nafasnya, sebelum kedua matanya terbuka lebar dan mengangkat tinggi pedang hitamnya.

"System... call!!"

Upacara art yang mengikuti kalimat pembuka yang mengeluarkan tekadnya telah diucapkan dengan kecepatan yang luar biasa, memikirkan status fisiknya.

Suara yang tercampur dengan darah yang membuat jeda diantara setiap kalimat dan cairan berwarna merah keluar dari mulutnya pada saat itu, tapi meski begitu, Kirito melanjutkan untuk mengucapkan upacara art yang melebihi sepuluh kalimat tanpa tertahan satu kalipun.

Melihat dari dekat, tak terhitung bekas luka yang terukir pada tubuh Kirito, sebuah pemandangan menyedihkan yang membuat dia untuk bergemetar.

Cahaya Heaven Piercing Sword telah menembus tubuhnya yang terlatih baik beberapa kali, membakar lukanya menjadi hitam. Tidak terlalu banyak darah, hanya ada lubang kecil, tapi berbagai luka dengan jelas telah mencapai organ dalamnya. Life Kirito seharusnya berkurang lebih cepat dibandingkan dengan knight yang masih ditahan oleh mawar es, nyawanya dalam bahaya tanpa perawatan dalam waktu dekat.

Tetapi, Eugeo tidak dapat untuk melepaskan tangannya dari gagang the Blue Rose Sword agar untuk mempertahankan full control artnya. Itu akan membuat suatu kelegaan jika Kirito akan menggunakan art penyembuh pada dirinya sendiri, tapi itu kelihatannya patnernya yang terus mengucapkan sementara terlihat menakutkan benar-benar tidak memiliki keinginan untuk melakukan itu.

Tidak perlu untuk terburu-buru seperti itu, knight itu terkurung di kurungan es yang tidak akan hancur dengan mudah—

Itu adalah ketika Eugeo berpikir seperti itu dan pandangannya kembali pada knight di depannya sekali lagi.

Rentetan cahaya putih yang muncul dari bagian tengah mawar es yang mekar sepenuhnya dan menembus pada dinding. Eugeo hanya dapat mengeluarkan nafas pendek dari keterkejutan yang meliputinya.

"Eeh..."

Sumber dari cahaya itu adalah Knight Fanatio, yang seharusnya telah diselimuti sepenuhnya oleh lapisan dari sukur es dan dengan gerakannya yang benar-benar tersegel.

Armament full control art tidak membiarkan penggunaannya menjadi benar-benar bebas setelah selesai mengucapkannya. Memegang senjata dengan kemampuan memperkuat serangan membutuh kosentrasi mental tingkat tinggi dari penggunanya. Eugeo, juga, harus tetap menggenggam gagang dari pedang yang menusuk pada lantai dan mempertahankan gambaran dari mawar es yang mekar secara berlimpahan jika dia tidak ingin knight itu lepas dari pengekangnya.

Setelah benar-benar mengontrol Heaven Piercing Sword, Knight Fanatio telah menembak sinar cahaya yang tak terhitung jumlahnya, telah melewati pertarungan pedang dengan kecepatan sangat tinggi dengan Kirito, dan pada akhirnya melepaskan tehnik terbesarnya dari serangan sinar cahaya yang tidak terkendali dan bertubi-tubi, memberikan luka fatal bahkan pada dirinya sendiri. Kosentrasi mentalnya seharusnya telah melemah dan melepaskan dari kondisi mengendalikan Heaven Piercing Sword—atau seperti itu yang Eugeo pikirkan.

Tetapi.

Benar-benar terkurung di dalam es, Fanatio mengangkat pedang tipis yang diangkat tinggi dengan tangan kanannya, dan perlahan menggerakkan itu dengan suara retakan yang datang dari es. Aura dari semangat knight itu terlihat dari tubuh langsingnya, seperti gerakan dari uap panas, benar-benar terlihat jelas pada mata Eugeo yang terbuka lebar.

"Kuh...!"

Menggigit mulutnya, Eugeo memberikan kekuatan yang lebih pada kedua tangannya yang menggenggam gagangnya. Dipandu oleh gambaran pikirannya, mendekati sepuluh pucuk sulur es mendekati ke arah Fanatio dari sekitarnya.

Sulur yang melambai pada tangan kanan Fanatio dan mengikat itu dengan gerakan yang sama, tanpa meninggalkan jeda apapun, dan menghentikan gerakannya.

Tapi itu hanya untuk beberapa detik sebelumnya.

Dengan benar-benar tidak peduli terhadap duri yang menusuknya, Integrity Knight itu memaksakan tangan kanannya untuk keluar. Mendekati setengah dari sulur biru itu menjadi retak, berkilauan saat bagiannya menyebar.

Hawa dingin yang lebih dingin dibandingkan dengan es yang menutupi Eugeo dari belakang.

—Apakah dia benar-benar manusia?

Tekad Kirito, saat dia terus mengucapkan dengan kecepatan tinggi sementara terbatuk darah, benar-benar absurd juga, tapi swordswoman itu juga melebihi itu. Dia tidak akan kalah meskipun banyak lubang pada seluruh tubuhnya dari serangan sinar cahaya yang tidak pandang bulu dan Life yang dihisap tanpa ampun dari mawar es—sebaliknya, dia tanpa henti berusaha memisahkan dirinya dari pengekang es yang membuat empat knight anak buahnya benar-benar tidak dapat bergerak dengan kekuatan dari tangan kanannya sendiri.

Eugeo menatap dengan ketakutan pada Heaven Piercing Swordyang digenggam di tangan kanan knight itu yang kelihatannya secara perlahan mengatur sudutnya menuju mereka berdua.

Sebenarnya apa yang memberikan Fanatio kekuatan sebanyak ini?

Kewajibannya utnuk melindungi hukum sebagai Integrity Knight? Cintanya pada seseorang yang ada padanya selama ratusan tahun? Atau mungkin, kata-kata yang keluar dari mulut perempuan itu sebelumnya...?

Fanatio mengatakan bahwa Dunia Manusia mungkin akan diserang oleh tentara Dark Territory jika itu kehilangan kekuatan Gereja Axiom.

Jadi, itu berarti bahkan jika dia terluka selama prosesnya, perempuan itu akan mau untuk bertarung untuk melindungi penduduk Dunia Manusia—pada seseorang yang memandang rendahnya, membencinya dan mengambil keuntungan dari keberadaannya, apakah itu adalah bangsawan kelas atas atau penduduk biasa.

Tetapi, itu mustahil. Integrity Knight adalah anak buah di bawah pemimpin tertinggi, Administrator, yang memenjarakan Alice muda dan mengubahnya menjadi seseorang yang lain dengan mengambil ingatannya. Musuh yang dibencinya. Pikiran Eugeo telah menetapkannya seperti itu, dan dia memanjat katedral, memutuskan untuk mengambil hidup mereka jika memang diperlukan.

Meskipun begitu, bagaimana dia dapat menganggap ini adalah yang sebenarnya—bagaimana dia dengan serius memikirkan bahwa Integrity Knight ini adalah wakil keadilan?

"Kalian...Kalian semua tidak pantas untuk menegakkan keadilan!!"

Eugeo mengeluarkan teriakan yang ditahannya dan mencurahkan semua rasa permusuhan yang dia dapat kumpulkan dari dalam hatinya pada Blue Rose Sword.

Sekali lagi, tak terhitung sulur es itu bergerak di sekitar Fanatio, ujungnya berubah menjadi duri tajam dan menusuk pada tangan kanan knight itu satu demi satu.

"Berhenti...Berhenti bergerak!!"

Meskipun bagaimana besarnya kebencian yang seharusnya ada di dalam hatinya, untuk suatu alasan, sesuatu keluar dari mata Eugeo. Tetapi, dia tidak dapat untuk mengakui bahwa itu adalah air mata. Eugeo tidak dapat membiarkan hatinya dapat tergerak oleh sosok Fanatio saat tangan kanannya dengan susah payah menolak bahkan untuk berhenti sementara tertusuk oleh duri es, penjelmaan dari kemarahan dan kebencian Eugeo.

Tangan Integrity Knight itu telah tertusuk. Duri yang tajam telah menusuk itu seperti bantalan peniti, darahnya dengan cepat menetes ke bawah dan mengubah itu menjadi es merah yang teruntai.

Tapi pada akhirnya, gerakan tangan itu tidaklah berhenti, dan itu membetulkan posisi Heaven Piercing Sword yang digenggam dari vertical menjadi horizontal, menunjukkan bagian tajamnya pada Eugeo dan Kirito.

Eugeo melihat pedang perak yang dipenuhi dengan sinar, yang jauh lebih menyilaukan daripada yang pernah terlihat sebelumnya, melalui air mata yang mengaburkan pandangannya.

Itu bersinar sangat terang hingga dia dapat mempercayai bahwa Fanatio menghabiskan sisa dari Lifenya yang tersisa. Mata Eugeo yang basah menatap pada sinar berwarna putih murni yang terasa seperti Dewi Matahari Solus telah turun menuju aula besar ini.

—Aku tidak dapat menang. Aku tidak dapat menang terhadapnya dengan keadaanku yang sekarang.

Menatap pada mawar es yang hanya secara sederhana hancur karena tidak terlindungi dari cahaya putih, Eugeo dengan pelan mengambil nafas.

Tetapi, dia, tidak memiliki rencana untuk menutup matanya saja dan menunggu untuk cahaya itu mengambil hidupnya. Dia betul-betul tidak dapat menerima untuk menyerah terhadap «keadilan» Fanatio dengan cara seperti ini.

Setidaknya, dia berharap untuk memperlihatkan ketegarannya dengan membuat satu mawar terakhir untuk mekar. Itu adalah ketika dia mencoba untuk mengumpulkan sisa kebenciaan yang masih tersisa di dalam hatinya, dengan susah payah, itu terjadi.

Kirito berguman di sampingnya, kelihatannya telah menyelesaikan mengucapkan upacara art.

"Kau tidak dapat mengalahkannya dengan kebencian, Eugeo."

"Eh..."

Saat membalikkan kepalanya, patnernya melanjutkan dengan senyuman yang terlihat dengan mulutnya memiliki bekas darah.

"Kau tidak berhasil sejauh ini karena kau membenci Integrity Knight, bukan? Kau ingin mengambil Alice kembali, kau ingin bertemu dengan dia kembali...Kau ada di sini karena kau mencintai Alice, bukan? Perasaan itu pasti tidak akan kalah terhadap keadilannya. Aku juga sama...Aku ingin melindungi orang-orang di dunia ini, aku ingin melindungimu dan Alice dan bahkan dia yang ada di sana. Jadi tidak ada cara kita dapat kalah dari dia sekarang...Itu benar bukan, Eugeo?"

Suara Kirito sangat tenang meskipun di situasi yang sangat menyedihkan. Swordsman berjubah hitam dengan banyak kemisteriusan di sekelilingnya mengangguk sekali lagi dengan senyuman dan melihat ke arah depan.

Itu adalah pada saat yang persis ketika Heaven Piercing Sword yang kelihatannya menembakkan sinar cahaya yang terbesar dan terakhirnya.

Itu adalah tombak cahaya yang besar, cukup besar untuk menyamai semua sinar cahaya yang ditembakkan sejauh ini di dalam itu dan lebih. Itu seperti Holy Spiritual Light, yang secara pribadi dilempar oleh Dewi, Solus, untuk mengusir Dewa Kegelapan Vector selama penciptaan dunia, telah turun untuk membakar semua yang ada.

Mata hitam Kirito terbuka lebar dan menatap dengan ketetapan hati yang kuat. Suaranya mengucapkan kalimat terakhir yang dipenuhi dengan tekad yang tak tergoyahkan yang cocok dengan keadaan berbahaya seperti ini.

"Enhance armament!!"

Menghadap ke arah depan, ujung dari pedang hitam itu bergetar.

Dengan segera setelah itu, berbagai untaian kegelapan keluar dari seluruh pedang itu.

Suatu aliran yang berwarna hitam pekat yang kelihatannya menghisap semua cahaya yang menghalanginya, berputar, dan melilit di sekitarnya. Itu menjadi tombak, cukup tebal untuk membukus tangan seseorang di sekitarnya, dengan sekejap dan makin terdorong maju.

Saat memfokuskan matanya, itu kelihatannya hanya bagian ujung tajam yang terwujud dengan keras, mengambil wujud seperti sinar batu obsidian.

Dia dapat mengingat tekstur itu. Pohon besar yang Eugeo tebang dengan kapak, hari demi hari. «Demonic tree» yang merupakan asal dari pedang hitam itu—Gigas Cedar.

Pada saat dia mengetahui itu, Eugeo mengerti bentuk sebenarnya dibalik full control art yang diaktifkan Kirito.

Dia telah membangunkan ingatan yang tertidur di dalam pedang hitam itu melalui upacara art dan memproyeksikan di lokasi ini dengan wujud yang benar-benar seperti dulu, pohon besar yang menolak untuk tertebang jatuh selama beratus-ratus tahun. Tentu saja, bentuk dan ukurannya tidaklah tetap sama seperti waktu itu, tapi keberadaannya benar-benar sama.

Keras, tajam, dan benar-benar besar.

Itu betul-betul keberadaan yang sebanding untuk menjadi senjata terkuat.

Hati Eugeo berdetak kencang. Dengan segera—

Tombak besar, yang berwarna hitam pekat telah bertemu dengan tombak besar yang terkumpul dari cahaya Solus. Ledakan gelombang kejut yang sangat keras mengguncang seluruh aula besar itu...Mungkin seluruh Katedral Pusat itu sendiri.

Mungkin bahkan pohon besar yang ditahan oleh panas dan cahaya yang sangat terang yang melebihi imajinasi, kehilangan kecepatan untuk menyerbu maju. Tapi kegelapan yang tak ada habisnya itu terus mengalir keluar dari pedang hitam di tangan Kirito, mencoba untuk mendorong tombak itu untuk maju, bahkan hingga sampai titik darah penghabisan.

Sword Art Online Vol 12 - 255.jpg

Itu kelihatannya Heaven Piercing Sword, yang digenggam di tangan Fanatio, tidak memiliki keinginan untuk berhenti juga. Aliran cahaya yang meluap semakin diperkuat setiap detik, mawar es yang menutupi knight itu benar-benar telah meleleh disebabkan oleh panas. Itu mungkin hanya suatu keterangan, tapi sarung tangan yang menutupi tangan kanan knight itu kelihatannya telah bersinar berwarna merah terang dengan asap putih yang naik dari itu.

Pertarungan diantara cahaya dan kegelapan terus berlanjut untuk saat ini di tengah-tengah aula besar itu.

Tetapi, itu sangat meragukan bahwa pertarungan diantara kekuatan dengan level yang luar biasa ini akan berakhir dengan itu benar-benar saling mengimbangi satu sama lain dan menghilang. Itu sudah pasti bahwa satu sisi akan mendorong kembali sisi yang lain dan akan benar-benar menghancurkan musuhnya.

Seseorang yang berada di posisi tidak menguntungkan di pertarungan ini, adalah Kirito?

Tentu, Gigas Cedar sangat keras, tapi pada akhirnya, itu hanyalah pohon, keberadaan yang nyata. Seperti yang asli telah tertebang jatuh setelah menebang itu dari waktu ke waktu, ini juga, akan menghilang setelah menerima kerusakan yang melewati batasnya.

Tetapi, Heaven Piercing Sword's light adalah kumpulan dari panas murni. Bagaimana sebenarnya serangan tidak nyata dapat dikalahkan?

Memikirkan cara melawannya ada, entah itu menggunakan cermin untuk memantulkannya seperti yang Kirito pernah lakukan sekali sebelumnya, atau menetralkan itu sepenuhnya dengan es, yanga jauh lebih kuat dibandingkan dengan yang Blue Rose Sword telah keluarkan, kekuatan dengan ciri-ciri spesial yang mampu untuk melawannya seharusnya dibutuhkan. Tetapi, melihat pada sifat dari Gigas Cedar hanya akan ada dua, ketebalan yang absurd dan bebannya—

Tidak, masih ada satu hal lagi.

Dengan cepat menyerap cahaya Solus dan mengubah itu menjadi energinya sendiri.

Tombak cahaya Fanatio tiba-tiba tersebar menjadi ribuan bagian.

Keseimbangan itu telah hancur, salah satu yang menyerbu maju sekali lagi adalah keberadaan pohon besar Kirito dengan warna kegelapan.

Ujungnya berwarna merah menyala hingga ke titik dimana itu menyilaukan, tapi meski begitu, itu bergetar dan menembus melalui cahaya tanpa berhenti pada tekanannya, melanjutkan menuju sumbernya.

Cahaya itu, menyebar dengan pola jari-jari, menembus di semua tempat di aula besar itu, menyebabkan tak terhitung ledakan kecil saat itu melelehkan sulur es. Empat knight yang tertahan di lantai itu terlempar ke udara satu demi satu.

Bahkan saat Integrity Knight Fanatio melihat pada tombak besar, yang berwarna hitam pekat itu semakin mendekat seperti badai, dia tidak bergerak bahkan satu langkahpun. Itu kelihatannya semua kemarahan dan kebencian telah menghilang dari wajah cantiknya. Kelopak matanya perlahan tertutup dan mulutnya sedikit bergerak. Suatu jenis emosi pasti bersumber dari itu, tapi Eugeo tidak dapat menebak apa itu.

Ujung tajam dari pohon besar itu akhirnya telah mendakti menuju sumber cahaya itu dan berhantaman dengan bagian tajam Heaven Piercing Sword. Pertama, pedang tipis berwarna putih keperakan itu berubah saat itu terlempar, bersinar saat itu berputar di udara.

Dengan segera mengikuti itu, knight itu sendiri telah terlempar ke udara oleh hantaman yang luar biasa.

Bagian dari armor ungu itu telah tersebar saat dia langsung terayun menuju langit-langit, menghantam lukisan dinding yang mengambil penciptaan dunia sebagai temanya hingga menjadi bagian kecil.

Dia terjatuh dengan pelan. Bersamaan dengan tak terhitung bagian marbel, tubuh Fanatio terjatuh seolah-olah ada senar yang terpasang padanya, jatuh tepat di depan pintu besar di bagian belakang dari aula besar itu dengan hantaman keras. Dan Integrity Knight nomor dua itu tidak dapat berdiri lagi.

Tombak berwarna hitam pekat itu dengan pelan kehilangan bentuknya dan mulai terserap kembali ke pedang hitam yang Kirito pegang, seperti aliran dari bayangan. Ketika Eugeo melihatnya, itu kelihatannya pedang itu sendiri entah bagaimana menjadi memanjang pada waktu ketika bertarung dengan Raios, tapi itu kembali ke ukuran yang semula setelah semua kegelapan sekali lagi terhisap ke dalam pedang.

Eugeo berbalik menuju ke depan dan menatap tanpa kata-kata pada reruntuhan yang ditinggalkan dari pertarungan hebat itu.

Tak terhitung lantai marbel dan dinding telah meleleh dan rusak di sana dan di sini, hanya ada bayangan yang tersisa dari bentuk mereka sebelumnya. Lantai di bagian tengah dari sisa pertarungan tombak besar kegelapan dan cahaya secara khusunya, telah membuat parit yang luas dan dalam yang berlanjut melalui itu, itu sangat aneh tentang bagaimana itu tidak rusak hingga mencapai lantai di bawahnya.

Fakta bahwa hanya dua orang saja telah membawa kerusakan sebanyak ini pada lantai kelima puluh dari Katedral Pusat, «Grand Cloister of Spiritual Light», tidak perlu dibilang bahwa mereka hanyalah swordsman yang belajar di Akademi Master Pedang hanya sampai dua hari yang lalu, tidak akan ada seorangpun yang akan mempercayainya selain orang yang hadir di sini.

—Tapi kita benar-benar melakukannya.

Eugeo berguman di dalam pikirannya. Kita telah bertarung dengan lima Integrity Knight, seseorang yang menegakkan peraturan tak bersyarat pada Dunia Manusia semenjak penciptaannya, dan kita telah menang.

Menghitung Eldrie dari sebelumnya, ini akan membuat sembilan Integrity Knight yang kita telah kalahkan. Menurut perkataan Cardinal, bahwa ada dua belas knight yang berjaga di dalam katedral, jadi hanya tiga knight yang tersisa. Dengan kata lain, jika kita mengalahkan beberapa knight lagi...

Itu kira-kira pada waktu yang sama pada saat Eugeo menggeretakkan giginya.

Kirito terjatuh dengan bertumpu pada lututnya. Pedang hitam itu terjatuh dari tangan kanannya dengan suara pelan.

Melepaskan tangannya secara panik dari Blue Rose Sword yang tertusuk pada lantai, bagian tubuh Eugeo melesat maju dan dia menahan tubuh patnernya.

"Kirito!"

Tubuh yang dia tahan benar-benar sangat ringan dan sejumlah darah dan Life yang keluar benar-benar tidak berhenti. Kulit yang jauh lebih putih dibandingkan dengan marbel dan tidak ada tanda-tanda dari kelopak mata yang tertutup itu untuk terbuka. Melihat sekilas dengan matanya pada seluruh tubuh itu, dia menaruh tangannya pada luka yang terlihat paling dalam, salah satu di pahanya.

"System Call! Generate luminous element!"

Mengumpulkan tiga luminous elements yang dibuatnya pada luka itu, kemudian dia mengubah itu menjadi kekuatan penyembuh melalui upacara art.

Dia melepaskan tangannya saat luka yang terbakar itu mulai menutup, sedikit demi sedikit, dan menggunakan cara penyembuhan yang sama pada bahu kirinya. Normalnya, katalis seperti «sacred flower orbs» dibutuhkan untuk membuat luminous elements yang menkonsumsi banyak sacred power dari area sekelilingnya, tapi itu tidak dibutuhkan sekarang. Sejumlah besar Life yang dikeluarkan dari lima knight oleh Blue Rose Sword telah berubah menjadi sacred power dan telah berkumpul di udara.

Penurunan dari Life secara terus menerus seharusnya telah berhenti dengan luka yang parah telah sembuh, tapi Eugeo tidak dapat menggunakan sacred arts luminous apapun yang mampu mengembalikan Life dari seseorang yang kehilangan sebanyak ini. Dia memegang tangan kanan Kirito dengan tangan kirinya tanpa keraguan dan mengucapkan upacara art baru.

"System call! Transfer human unit durability, self to left!!"

Bulatan dari cahaya biru yang samar-samar menutupi seluruh tubuh Eugeo untuk kali ini juga dan itu segera berkumpul di tangan kirinya, lalu mengalir pada tubuh Kirito. Art ini yang memperbolehkan untuk mentransfer Life diantara manusia memiliki efek yang besar meskipun upacara art itu sangat sederhana.

Memikirkan kembali tentang itu, Kirito adalah seseorang yang menderita luka berat sementara Eugeo hanya sedikit kehilangan Life, baik saat pertarungan melawan Deusolbert dan kali ini juga. Dia tidak mungkin untuk membayar itu semua selain menyerahkan Lifenya hingga diambang pingsan.

Atau seperti itu yang Eugeo pikirkan, tapi ketika dia merasa kira-kira setengah dari Lifenya akhirnya telah mengalir keluar, Kirito dengan perlahan membuka matanya dan menggenggam tangan Eugeo dengan tangan kirinya, menarik itu darinya.

"...Terima kasih, Eugeo, aku baik-baik saja sekarang."

"Jangan memaksakan dirimu, seharusnya pasti ada suatu luka yang tersembunyi dari penglihatan langsung setelah kau melalui semua itu."

"Ini masih jauh lebih baik dibandingkan dengan waktu ketika goblin itu menyerang kita, aku jauh lebih khawatir terhadap orang itu..."

Melihat Knight Fanatio, terbaring di sisi yang lain dari aula itu, pada ujung dimana mata hitam itu menatapnya, Eugeo tanpa sadar menggigit mulutnya.

"...Kirito...Perempuan itu...Mencoba untuk membunuhmu..."

Pada saat dia mengatakan itu, apa yang Kirito segera katakan sebelum dia mengaktifkan full control artnya bergema di dalam telinganya. Melihat ke arah bawah, dia melanjutkan bisikannya.

"Tidak dapat mengalahkannya dengan kebencian...Itu apa yang kau katakana sebelumnya, bukan? Ya, mungkin itu benar. Aku bertarung dengan Integrity Knight bukan karena suatu dendam pribadi atau kebencian yang diarahkan padanya, itu benar-benar bukan alasanku bertarung...Tapi... Tapi aku tidak menemukan sesuatu di dalam diriku untuk memaafkan Integrity Knight. Itu tidak hanya kekuatan hebat mereka, jika mereka memiliki ketetapan hati itu...Jika mereka memiliki perasaan untuk melindungi semua orang yang hidup di Dunia Manusia, lalu kenapa mereka tidak menggunakan kekuatan itu dan..."

Eugeo menjadi bimbang, tidak dapat berkata lebih jauh lagi. Tetapi, Kirito yang terhuyung dan mengambil pedang hitamnya dari lantai, mengangguk seolah-olah dia mengerti.

"Aku sangat yakin mereka tertahan dengan keraguan mereka sendiri. Jika kita bertemu dengan Komandan Integrity Knight, kita mungkin akan mengetahui lebih dalam tentang itu... Eugeo, full control artmu benar-benar hebat. Kau adalah orang yang mengalahkan semua knight itu. Jadi tidak perlu untuk mengarahkan kebencianmu pada manusia itu, Fanatio dan knights «Four Oscillation Blades», lebih lama lagi..."

"Manusia...Yeah...Kau benar. Aku mengerti sebanyak itu ketika aku bertarung dengan mereka. Dia adalah manusia, karena itu dia sangat kuat." Ketika Eugeo berguman seperti itu, Kirito mengeluarkan suara yang sedikit tertawa dan menyetujuinya.

"Mereka mungkin mengatakan bahwa mereka adalah orang baik, dan mereka mungkin adalah orang jahat di matamu, tapi mereka adalah manusia seperti kita. Menentukan siapa yang benar-benar baik dan jahat adalah mustahil untuk manusia, aku yakin itu."

Kata-kata itu terdengar seperti dia mengatakan itu karena dia juga dapat mempercayai itu, sebuah pikiran tiba-tiba muncul di pikiran Eugeo. —Kirito. Bukan kau pikir itu juga berlaku pada seseorang yang kau menjadi sangat marah juga pada, pemimpin tertinggi, Administrator... Seseorang dengan memberikan peraturan ketat pada Gereja Axiom dan juga, dunia?

Tapi sebelum dia dapat bertanya, Kirito telah mulai berjalan menuju Fanatio yang terbaring dihadapan pintu besar itu.

Dia mengambil lima, enam langkah sebelum berputar kembali dan mengambil botol kecil setelah memeriksa itu di sakunya.

"Oops, hampir lupa tentang itu. Singkirkan racun dari anak-anak itu dengan ini, kumohon. Pastikan untuk menghancurkan pedang beracun itu dan periksa jika mereka memegang sesuatu yang aneh sebelum kau meminumkan itu pada mereka."

Memikirkan tentang bagaimana dia telah melupakan mereka juga, Eugeo menangkap botol kecil yang Kirito lempar dan mengangguk.

Setelah berdiri, menarik Blue Rose Sword dari lantai, dan berbalik arah kepada, knight perempuan muda, Fizel dan Linel, telah berada pada kondisi yang sama, terbaring di lantai, sementara lumpuh. Es yang menutupi sekitarnya telah menghilang dan itu kelihatannya mereka tidak menderita luka apapun dari sulur es dan sinar cahaya.

Pada saat mata mereka bertemu dengan Eugeo yang mendekati mereka, anak perempuan itu yang merengut dengan menggerakkan bola mata mereka yang hanya itu yang dapat bergerak.

Kelihatannya kita tidak dapat dilihat secara langsung dalam arti yang berbeda dari kasus Fanatio yang ada di sini. dia menahan desahannya saat dia merunduk dan menarik keluar dua pedang beracun itu, yang tertusuk di lantai pada ujungnya di depan hidung mereka, dengan kedua tangan.

Melempar itu ke udara, dia mengayunkan Blue Rose Sword satu kali saat itu segera berputar ke bawah.

Pedang pendek itu telah hancur tanpa kesulitan, mengubah itu menjadi percikan cahaya dan menghilang saat itu kehilangan seluruh Lifenya sebelum itu terjatuh ke lantai. Menyarungkan pedang kesayangannya, dia berjongkok di samping mereka berdua dan mengecek pada pakaian sister mereka untuk melihat jika mereka memiliki senjata yang lain sementara meminta maaf dengan kata "maaf".

Terakhir, dia membuka botol kecil dan menuangkan tujuh puluh persen sisa dari isi botol itu kepada mulut mereka berdua, membagi itu menjadi setengah untuk mereka masing-masing. Dengan ini, mereka berdua seharusnya dapat pulih dari kelumpuhan mereka kurang lebih sepuluh menit seperti Eugeo.

Itu akan baik-baik saja untuk meninggalkan mereka dalam keadaan seperti ini, tapi Eugeo lalu berpikir, "Apa yang Kirito akan katakan pada situasi seperti ini?", dan lalu, membuka mulutnya setelah berpikir untuk sebentar.

"...Fanatio dan Kirito sekuat itu karena mereka memiliki sacred instruments and armament full control arts mereka...Itu mungkin apa yang kalian berdua pikirkan, menjadi seperti diri kalian, tapi itu salah. Mereka bedua jauh, jauh lebih kuat...Mereka dapat bertarung bahkan setelah cukup parah bukan melalui skill atau senjata mereka, tapi melalui hati dan pikiran mereka, itu juga karena mereka dapat menggunakan upacara art yang sanagt hebat. Benar, kalian berdua mungkin berpengalaman dengan tehnik membunuh manusia. Tapi membunuh dan menang benar-benar hal yang berbeda. Aku tidak menyadarinya sampai hari ini juga, meskipun begitu..."

Eugeo sama sekali tidak tahu berapa banyak dari kata-katanya yang akan mencapai mereka saat mereka tetap memalingkan pandangan mata mereka seperti biasa. Sejak awal, dia tidak terlalu bagus untuk berurusan dengan anak-anak.

Tapi meski begitu, setidaknya, mereka berdua seharusnya merasakan sesuatu setelah melihat pertarungan itu juga, dia sangat yakin hal itu. Ketika dia mengingat pembicaraan polos itu dari Fizel dan Linel, dia merasa bahwa dia dapat mempercayai bahwa mereka tidak jahat juga. Berbalik arah setelah mengatakan kalimat singkat "Selamat tinggal", dia berlari menuju Kirito.

Dia dengan cepat menggerakkan penglihatannya ke kiri dan ke kanan aula yang benar-benar hancur itu, memeriksa keadaan empat knight yang melayani di bawah perintah Fanatio.

Itu kelihatannya mereka telah menderita dari luka yang cukup dalam dari tombak cahaya yang lepas kendali saat mereka semua telah terbaring.

Tapi seperti yang diharapkan dari Integrity Knight, dia benar-benar tidak dapat melihat luka yang dapat mengurangi Life. Pendarahan mereka sangat kecil, jadi mereka kelihatannya akan dapat bergerak dengan segera.

Tetapi, tidak seperti mereka yang hanya terseret pada ledakan kecil, Fanatio telah menerima seluruh tombak besar, berwarna kegelapan yang menyerangnya dan sudah jelas berada diambang kehilangan hidupnya, bahkan tanpa melihat pada semua darah yang mengalir di area besar di sekitar perempuan yang terbaring itu.

Berjalan hingga berhenti di dekat Kirito yang berlutut dengan lututnya di samping knight itu, Eugeo menghentikan nafasnya saat dia mengintip dari atas bahu patnernya.

Melihat mereka dari dekat, luka pada seluruh tubuh Fanatio benar-benar sangat menakutkan, dia ingin untuk mengalihkan pandangannya. Badan dan kakinya memiliki lubang karena tertembus oleh sinar panas di empat tempat, sementara tangan kanannya telah tertusuk oleh duri mawar es dan diatas itu, terbakar karena disebabkan oleh serangan terakhir Heaven Piercing Sword, hampir tidak meninggalkan tempat yang tidak terluka.

Tetapi, seperti yang diduga, apa yang kelihatannya luka yang paling parah adalah luka di atas perutnya yang mendapat serangan serangan langsung dari Gigas Cedar. Ada lubang yang terbuka, yang sebesar dan sedalam tangan orang dewasa, dengan darah segar mengalir tanpa henti.

Wajahnya yang dengan kelopak matanya telah tertutup telah berubah menjadi biru keunguan yang samar-samar, seperti warna armornya yang dipakainya di sini. Dan bahkan tidak ada tanda-tanda dari organ vital dapat terlihat.

Kirito sementara dalam proses mencoba sacred arts untuk menutup lukanya saat dia menaruh tangannya pada luka Fanatio, Stacia Window kelihatannya tidak terbuka karena melihat Lifenya akan membuat itu tidak ada gunanya untuk saat ini. Menyadari Eugeo mendekat, dia masih menundukkan wajahnya dengan desakan pada nadanya.

"Tolong bantu aku, darahnya tidak mau berhenti."

"Ah... yeah."

Mengangguk dan segera berlutut di sisi yang lain, dia menaruh tangannya pada luka yang sama. Setelah dia mengucapkan art penyembuh luminous sama yang dia tadi gunakan pada Kirito sebelumnya, darah yang mengalir dari lukanya kelihatannya telah berkurang entah bagaimana, tapi tujuan untuk menutupnya, itu masih sangat jauh.

Itu adalah bukti bahwa sacred power di sekelilingnya akan segera habis dan mereka berdua tidak akan dapat untuk membuat luminous elements bahkan jika mereka memaksa untuk mencoba menyembuhkan. Fanatio mungkin akan memulihkan beberapa Life secara sementara jika mereka mentransfer Life mereka, tapi itu sama sekali tidak berguna pada akhirnya jika pendarahan itu tidak dihentikan. Karena itu, menyelamatkan hidup perempuan ini akan membutuhkan bantuan dari pengguna sacred art yang mampu untuk menggunakan art penyembuh yang jauh lebih kuat dari mereka berdua, atau elixir legenda.

Dengan kuat menggigit mulutnya saat dia dengan terdiam melihat ke arah wajah Kirito, Eugeo berbicara setelah keraguaan yang sesaat.

"Ini mustahil, Kirito. Dia kehilangan darah terlalu banyak."

Kirito terus menundukkan matanya ke bawah untuk sementara, tapi dengan segera menjawab dengan suara serak.

"Aku tahu...Tapi jika aku tidak menyerah untuk terus berpikir, seharusnya...seharusnya ada suatu jenis cara untuk melewati ini. Eugeo, aku mohon padamu, tolong pikirkan tentang itu juga."

Ekspresi itu dipenuhi dengan perasaan ketidakberdayaan, hampir sama seperti ketika dia tidak dapat mencegah perbuatan jahat pada valet trainees mereka, Ronie dan Tizei, dua hari yang lalu, Eugeo merasakan sensasi menusuk di dalam hatinya.

Tetapi, tidak peduli sebanyak apapun dia memikirkannya, itu sudah pasti tidak ada metode untuk menyembuhkan Lifenya yang sekarang akan menghilang dihadapan matanya. Pemikiran dari menyembuhkan empat knight yang terbaring di belakang dan membantu mereka dengan perawatan terlintas di dalam pikirannya. Life Fanatio kelihatannya akan hilang untuk selama-lamanya setelah entah Kirito atau Eugeo menghentikan art penyembuh mereka. Dan bahkan jika mereka melanjutkannya dengan mereka—akhir yang sama akan datang beberapa menit kemudian.

Eugeo meyakinkan keputusannya dan menginformasikan patnernya dengan suara yang paling serius yang dapat dia keluarkan.

"Kirito. —Kau memberitahuku tentang ini ketika kita melarikan diri dari penjara bawah tanah, bukan? Bahwa aku harus mempersiapkan diri untuk menebas musuh apapun jika aku ingin untuk pergi lebih jauh. Bukankah kau bertarung dengan orang ini dengan dasar dari ketetapan hati yang sebelumnya? Bukankah kau menggunakan skill itu untuk menentukan salah satu dari kalian akan mati dengan yang lain akan hidup? Setidaknya, orang ini...Fanatio-san sama sekali tidak ragu-ragu. Ekspresinya menunjukkan bahwa dia menaruh seluruh hidupnya pada garis itu...itulah apa yang aku percayai. Kau seharusnya telah mengerti itu juga, Kirito...ini bukanlah pertempuran dimana kau dapat menang sementara mengkhawatirkan tentang musuhmu atau bersikap lunak pada mereka."

Bahwa apa yang diayunkan adalah pedang kayu, tapi pedang sebenarnya pada musuh untuk mengakhiri hidupnya. Eugeo telah mempelajari itu melalui tangannya yang bergemetar, rasa sakit tajam di mata kanannya, dan ketakutan dingin di dalam hatinya ketika dia menebas tangan Humbert. Itu dapat dikatakan, dia selalu mempercayai bahwa patner berambut hitamnya telah mengerti itu lebih lama—dari sebelum mereka bertemu di hutan selatan di Rulid.

Saat mendengar suara Eugeo, Kirito menggeretakkang giginya secara bersamaan dan menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan tanpa henti.

"Aku mengerti...Aku telah mengerti. Baik orang ini dan aku bertarung serius...Pertarungan yang sungguh –sungguh, dan berakhir dimana salah satu dari kami akan menang. Tapi...Orang ini akan menghilang jika dia mati! Dia telah hidup selama ratusan tahun...dengan keraguan, cinta, rasa sakit, aku tidak dapat membiarkan jiwa seperti itu menghilang...Maksudku...Bahkan jika aku mati..."

Bahkan jika dia mati—apa yang dia coba untuk katakan? Semua manusia akan mendapati jiwa mereka dibawa ke hadapan Dewi kehidupan, Stacia, ketika mereka kehilangan Life mereka, dan menghilang dari Dunia Manusia. Bahkan Kirito, meskipun dia memiliki banyak misteri, adalah manusia, itu seharusnya berlaku pada dia juga.

Eugeo sesaat menjadi terbingung, tapi itu telah terhapus saat Kirito melihat ke arah atas dan berteriak tanpa peringatan.

"Dapatkah kau mendengarku?! Komandan Integrity Knight! Wakilmu akan segera mati disini! Atau Kepala Pemimpin itu juga boleh! Jika kau dapat mendengarku, segera turun dan membantunya!!"

Teriakannya bergema perlahan ke langit-langit tinggi yang jauh di atas dan menghilang secara sia-sia. Tetapi, Kirito tidak menyerah dan terus berteriak.

"Siapapun boleh...Masih ada beberapa Integrity Knight yang ada di sekitar sini, bukan?! Datang dan bantulah temanmu! Aku tidak peduli apakah kau adalah pendeta atau sister... cukup datang ke sini!!"

Tidak ada respon dari atas, tapi keheningan dari yang sama seperti tiga dewi, benr-benar telah melebihi yang diketahunya. Bahkan tidak ada angin lembut yang turun pada mereka, lupakan keberadaan dari orang lain.

Ketika mereka melihat ke arah bawah, warna rmabut dan kulit Fanatio tidak dapat diragukan menjadi lebih pucat. Lifenya hanya tersisa seratus, atau mungkin lima puluh—Eugeo, yang ingin untuk mengantar Wakil Komandan Integrity Knight, Fanatio Synthesis Two, yang akan pergi menuju Celestial World dengan setidaknya doa di dalam hatinya, mencoba untuk meyakinkan Kirito untuk berhenti, tapi dia tidak dapat menghentikan teriakannya.

"Aku mohon padamu...seseorang! Bantu kami jika kalian melihatnya! ...Itu benar, datanglah ke sini, Cardinal! Cardinal..."

Kirito tenggelam pada keheningan seolah-olah sesuatu telah menghalangi tenggorokannya secara tiba-tiba.

Eugeo melihat ke atas dan melihat wajah patnernya dengan terkejut, saat itu menunjukkan ekspresi terkejut, lalu pada saat ragu-ragu sebelum itu berubah menjadi kebulatan tekad.

"H-Hey...Kenapa secara tiba-tiba?"

Tetapi, Kirito memasukkan tangan kanannya pada saku jubahnya tanpa menjawab.

Apa yang dia ambil—terayun di ujung rantai tipis itu, adalah pisau kecil dari besi.

"Kirito—! Itu-!!"

Eugeo secara insting berteriak.

Itu adalah pisau sama yang tergantung di sekitar leher Eugeo. Dia tidak mungkin dapat melupakan itu, itu adalah pisau yang Cardinal, pemimpin tertinggi sebelum dia diusir, dan itu telah diberikan kepada mereka sebelum mereka meninggalkan Ruangan Perpustakaan Besar. Itu benar-benar tidak memiliki kemampuan menyerang, tapi itu menghubungkan seseorang yang tertusuk dengan itu untuk sementara di tempat Cardinal. Dia telah menyerahkan itu pada mereka, dengan pisau pada Eugeo untuk Alice dan pisau pada Kirito untuk Administrator, itu berfungsi sebagai kartu truf untuk mereka berdua.

"Kau tidak dapat menggunakannya, Kirito! Cardinal mengatakan dia tidak memiliki pisau lebih yang disiapkan...Itu seharusnya untuk pertarungan terhadap Administrator..."

"Aku tahu..."

Kirito merintih dengan suara terluka.

"Tapi aku dapat membantunya jika aku menggunakan ini...tidak membantu seseorang ketika aku memiliki cara untuk melakukan itu...Aku tidak dapat memprioritaskan apapun lebih tinggi dibandingkan dengan hidup manusia."

Dia menatap tajam pada pisau itu dengan ekspresi, terluka, tapi dipenuhi dengan kebulatan tekad yang tegas—

Kirito menusukkan apa yang ada di tangan kanannya pada tangan kiri Fanatio, satu-satunya bagian dari tubuhnya yang tidak terluka, tanpa ada jejak dari keraguan.

Dengan sekejap, seluruh pisau itu memancarkan cahaya yang menyilaukan bersama dengan rantainya.

Bahkan tanpa memberikan waktu untuk menelan nafasnya, pisau itu terbagi menjadi beberapa berkas cahaya ungu. Saat memikirkan itu, semua berkas cahaya itu telah membentuk sacred letters sama seperti yang muncul di Stacia Window. Huruf-huruf rumit yang terpisah dari satu sama lain saat itu melayang di udara dan menyebar di semua tempat pada tubuh Fanatio.

Seluruh tubuh Integrity Knight itu diselimuti oleh aura ungu bersamaan dengan pisau itu benar-benar hancur. Eugeo terdiam saat memandangi pemandangan menakjubkan, lalu menyadari luka dari bagian atas perutnya benar-benar telah berhenti, walaupun itu hampir terlambat.

"Kirito—"

Eugeo mencoba untuk memberitahu dia bahwa pendarahannya telah berhenti, tapi itu telah dihentikan oleh suara yang bergema dengan segera dari suatu tempat.

[Ya ampun, sungguh anak muda yang tidak berdaya kalian berdua.]

Kirito mengangkat wajahnya ke atas seolah-olah itu telah ditarik.

"Cardinal...Apa itu kau?!"

[Sudah tidak ada waktu, jangan bertanya hal yang sudah jelas.]

Tidak ada keraguan bahwa suara indah dan cara bicara yang galak itu dimiliki oleh pemimpin tertinggi sebelumnya yang mereka temui di Ruangan Perpustakaan Besar.

"Cardinal...maaf, aku..."

Cardinal dengan terang-terangan memotong pada suara kesedihan Kirito saat dia mencoba untuk berbicara.

[Tidak ada gunanya untuk meminta maaf sekarang....Aku telah menduga ini akan berakhir dengan cara seperti ini semenjak aku melihat bagaimana kalian bertarung. Aku mengerti keadaanmu, aku akan mengurus perawatan Fanatio Synthesis Two. Tetapi, aku akan mengambil tubuhnya yang ada di sana saat itu membutuhkan waktu untuk dia benar-benar pulih.]

Cahaya ungu yang menyelimuti di sekitar sosok Fanatio bersinar terang saat suara itu mengatakan itu. Eugeo tanpa sengaja menutup matanya dan ketika dia membuka matanya lagi, Integrity Knight itu telah—itu benar-benar cukup mengejutkan, ini termasuk genangan darah yang tersebar di lantai—tidak dapat dilihat dimanapun.

Beberapa bagian dari sacred letters masih dapat terlihat melayang di udara. Suara Cardinal telah diteruskan pada mereka saat itu terputus-putus di saat yang sama, volumenya sedikit demi sedikit menurun.

[Serangga itu telah menyadarinya, jadi aku akan membuat penjelasan singkat ini. Menilai dari situasinya, kemungkinan Administrator masih dalam kondisi tidak bangun sangatlah tinggi untuk saat ini. Jika kalian mencapai lantai tertinggi sebelum perempuan itu terbangun, kau dapat mengurus dia tanpa menggunakan pisau itu. Cepatlah... sudah tidak banyak Integrity Knights yang tersisa...]

Eugeo merasa koridor yang tidak terlihat yang menghubungkan menuju tempat Ruangan Perpustakaan Besar dengan cepat tertutup. Suara Cardinal akhirnya terdengar dari kejauhan dan tepat sebelum keberadaannya menghilang, berkas cahaya di udara berkedip-kedip dan terjatuh ke lantai saat itu mengambil bentuk nyata.

Apa yang jatuh di atas lantai marbel dengan catatan baru adalah dua botol kecil.

Kirito menatap pada botol dengan warna lapis lazuli[5]seolah-olah energinya telah menghilang, tapi kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil kedua benda itu pada waktu yang sama. Melihat ke atas, dia memegang salah satu dari itu diantara ujung jarinya dan memberikan itu.

Sementara menjatuhkan itu pada tangan Eugeo yang terulur, Kirito berguman dengan nada rendah.

"...Maaf untuk kekacauan itu, Eugeo."

"Nah...Kau tidak melakukan sesuatu yang salah sehingga harus meminta maaf. Itu hanya sedikit mengejutkanku."

Ketika dia mengatakan itu dengan senyuman lemah, Kirito akhirnya menunjukkan senyumannya juga. Berdiri sementara sedikit terhuyung-huyung, dia menjentikan tutup dari botol kecil itu.

"Melihat dia untuk bersusah payah mengirim kita minuman, mari kita terima dengan rasa terima kasih."

Berdiri di samping patnernya, Eugeo menarik tutup dari botol kecil itu dan meminum habis cairan yang berada di dalamnya dengan satu tegukan.

Dia tidak dapat mengatakan itu enak bahkan jika dia mencoba untuk sopan, dia meringis pada keasamannya yang menyerupai air siral tanpa gula, tapi itu terasa menyegarkan seperti air dingin yang ditumpahkan pada kesadarannya, yang lelah dari pertarungan panjang. Itu kelihatannya bahwa setengah Life mereka yang berkurang telah pulih dengan cepat juga, dengan luka yang tersisa di anggota tubuh Kirito menutup dengan sekejap mata.

"Hebat...Itu akan sangat bagus jika dia mengirim sejumlah besar ini, daripada hanya dua dari ini sementara dia dapat melakukannya."

Ketika Eugeo mengatakan itu tanpa berpikir, Kirito mengangkat bahunya dengan senyum masam.

"Jika itu memiliki prioritas setinggi ini, itu mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk mengubah itu menjadi da...upacara ritual dan mengirim itu. Daripada itu, kau seharusnya melihat bagaimana cepatnya dia...uwah!?"

Tiba-tiba, Kirito mengeluarkan suara gelisah dan melompat ke samping, jadi Eugeo melihat ke arah patnernya dengan kebingungan.

"Ad-Ada apa, kenapa tiba-tiba bersikap seperti itu?"

"Eu-Eugeo...Jangan bergerak, tidak, jangan melihat ke bawah."

"Hah?"

Itu akan lebih sulit untuk tidak melihat ke bawah setelah diberitahu hal seperti itu. Secara Insting melihat ke arah bawah, Eugeo menemukan sesuatu yang ada di sana tanpa dia sadari dan segera berteriak.

"Eek!?"

Panjangnya kira-kira sekitar lima puluh cen. Tak terhitung kaki yang menempel pada badan panjang dan ratanya, terbagi menjadi bagian-bagian yang kecil, dan setengah dari bagian depannya berada di atas sepatu Eugeo. Ujungnya memiliki bentuk bola yang kelihatannya kepalanya memiliki satu deretan kecil berjumlah sepuluh, mata merah dan dua tanduk yang benar-benar panjang, seperti jarum timbul dari kedua sisinya, perlahan bergerak secara bebas satu sama lain. Itu adalah suatu jenis serangga—atau mungkin seperti itu, tapi penampilan anehnya hanya dapat dideskripsikan sebagai menjijikan. Serangga sangat banyak di hutan selatan Rulid, tapi dia tidak pernah melihat dengan penampilan seperti itu sebelumnya.

Eugeo terdiam saat pikirannya dipenuhi pikiran, tapi saat serangga aneh itu memeriksa sekitarnya dengan tanduknya untuk tiga detik lagi sebelum itu memutuskan untuk mencoba dan perlahan merayap menuju celananya dari sepatunya, jadi dia melompat ke atas dengan teriakan lainnya.

"Eek...!!"

Ketika dia dengan keras menghentak-hentakkan kakinya, serangga itu terjatuh pada punggungnya, namun dengan segera berputar dan dengan cepat berdiri dengan kedua kakinya. Tidak dapat menahan untuk itu dapat berdiri. Eugeo melompat ke atas dan ke bawah berulang kali, tapi suatu bencana telah terjadi pada saat mendarat dari lompatan yang tak terhitung jumlahnya.

Diikuti dengan suara keras 'kusha', sensasi dari objek kental dan lengket terpancar tidak karuan dengan sendirinya pada sepatu Eugeo sementara serangga itu dengan keras menjadi hancur lebur di bawah sepatu kanannya.

Cairan tubuh berwarna orange terang menyembur ke segala arah dan dengan menyengat, bau yang menyengat melayang di udara. Eugeo hampir kehilangan kesadarannya saat dia melihat kaki yang terlepas keluar itu masih melompat, tapi dia dengan susah payah menahan ketakutannya, menyadari ini bukanlah situasi untuk pingsan, dan melihat ke arah Kirito untuk sedikit bantuan.

Ketika dia melakukan itu, partnernya yang terhubung dari hati ke hati dengan dia kelihatannya sekarang tiga mel darinya dan bahkan perlahan mundur lebih jauh lagi.

"Hei... heei! Jangan coba kau untuk lari!"

Terhadap tuduhan yang keras itu, Kirito menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan yang sekarang berubah menjadi pucat dengan sedikit gerakan.

"Maaf, Aku benar-benar tidak dapat menangani hal seperti itu."

"Aku tidak dapat menangani hal seperti itu juga! Sama sekali!"

"Hei, bukankah serangga seperti itu menarik sepuluh atau seperti itu ketika salah satu dari itu mati?"

"Jangan bicara hal seperti itu!!"

Memutuskan untuk membagi nasibnya dengan patnernya bahkan jika dia harus memeluknya, Eugeo merunduk dalam persiapan untuk melemparkan dirinya pada dia, tapi dia terdiam lagi saat cahaya ungu dengan tiba-tiba bersinar dari bawah kakinya.

Sisa-sisa yang menjijikan itu hanya menyebar menjadi berkas cahaya ketika dia dengan ragu-ragu melihat ke arah bawah. Cairan lengket, kulit dan seperti itu menghilang tanpa jejak bahkan sebelum satu detik berlalu dan Eugeo mengeluarkan nafas panjang kelegaan dari dalam hatinya. Kelihatannya meyakinkan dirinya dari jauh bahwa itu telah menghilang, Kirito akhirnya kembali setelah seluruh urusan telah diselesaikan dan berbicara dengan nada serius.

"...Jadi seperti itu. Apa yang barusan adalah familiar yang dilepaskan oleh Administrator untuk mencari Cardinal. Jadi itu mengendus koridor menuju ruangan perpustakaan..."

"......"

Eugeo merengut pada Kirito dengan mata yang mengadah, menunjukkan sedikit kemarahan, lalu dengan enggan dia menjawab saat dia mengerti itu.

"Jadi...itu berarti masih ada banyak dari mahluk ini yang berkeliling di sekitar menara ini? Tapi kita belum pernah melihat satupun sampai sekarang."

"Ingat, ketika kita melarikan diri menuju ruangan perpustakaan dari taman mawar, ada suara gemerisik dari balik pintu, bukan? Mereka normalnya bersembunyi dengan baik, tapi jika dikatakan, tidak ada artinya untuk berputar mencari itu semua. Di samping itu...Cardinal mengatakan sesuatu yang aneh, bukan...Administrator masih tidak bangun, atau sesuatu seperti itu..."

"Aah, sekarang kau mengatakan itu...Itu pada dasarnya berarti dia tertidur? Dia telah pergi untuk tidur meskipun matahari masih bersinar?" Kirito mengusap dagunya untuk sebentar pada pertanyaan Eugeo dan lalu menjawab seolah-olah dia tidak mengerti itu juga.

"Cardinal juga mengatakan bahwa Administrator dan Integrity Knight memaksakan diri mereka dengan berbagai cara sebagai ganti dari hidup ratusan tahun. Terutama Administrator yang kelihatannya menghabiskan waktu setiap hari dengan tertidur, tapi...jika memang begitu, apa sebenarnya yang terjadi padanya saat mengontrol Integrity Knight dan serangga seperti yang baru saja ada...?"

Tenggelam pada pemikirannya untuk beberapa detik dengan kepalanya yang tertunduk, dia kemudian merespon pada dirinya sendiri sementara mengacak-acak rambut di dahinya.

"Baiklah, kita tentu saja akan mengetahui itu jika kita melanjutkan untuk memanjat.—Lupakan hal itu sebentar, Eugeo, dapatkah kau melihat punggungku?"

"H-Hah?"

Kirito memutar tubuhnya pada Eugeo yang terlihat terdiam kebingungan. Dia menggerakkan matanya pada itu sementara kebingungan, tapi tidak ada yang aneh tentang kain hitam di jubahnya di samping dari kerusakan dari itu, yang sama dengan yang didapat dari pertarungan.

"Tidak...Tidak ada sesuatu yang spesial pada itu, bagiamanapun juga..."

"Bagaimana aku mengatakan ini...Apakah ada serangga kecil menggantung? Seperti laba-laba atau sesuatu seperti itu."

"Tidak, tidak sesuatu seperti itu, bagaimanapun juga."

"Aku mengerti, tidak apa-apa.—Kalau begitu, sekali lagi, mari kita lanjutkan bagian kedua dari setengah petualangan kita!"

Eugeo mengejar Kirito yang mulai berjalan dengan cepat menuju bagian utara dari aula itu dan berhenti setelah itu, dengan kebingungan.

"Hei, apa yang barusan itu?!"

"Itu benar-benar, bukan apa-apa."

"Kau membuatku merasa ganjil, lihat punggungku juga!"

"Seperti yang aku katakan, itu bukan apa-apa."

Saat percakapan ringan mereka, kejadian yang terulang berkali-kali semenjak mereka meninggalkan Desa Rulid, Eugeo perlahan berguman di dalam hatinya apa yang betul-betul dia ingin tanyakan.

Kenapa kau, mampu untuk mempertahankan ketenanganmu di situasi apapun, juga menjadi putus asa sebelum kematian Fanatio, seorang musuh—dan apa yang mengikuti itu adalah kata-kata, [bahkan jika aku mati]—

Kirito, siapa kau...sebenarnya...?

Swordsman berjubah hitam itu yang masih berdiri dihadapan pintu besar, yang mungkin beberapa kali lebih tinggi darinya, menggapai itu dengan kedua tangannya dan mendorong itu hingga terbuka ke samping dengan kekuatan. Dengan sekejap, angin dingin yang berhembus ke dalam dan Eugeo dengan perlahan membalikkan wajahnya.

Bagian 3[edit]

Apa yang terbentang di balik pintu itu adalah ruangan yang kira-kira seluas seperti ruangan tangga di sisi selatan dari koridor besar yang menghubungkannya dimana Eugeo dan Kirito telah menaikinya. Itu berbentuk persegi juga, dengan langit biru muda yang terlihat melalui jendela panjang dan sempit yang berjejer di sepanjang dinding yang berlawanan.

Tetapi, element yang penting tidak dapat terlihat pada bidang lantai dengan gabungan warna hitam dan putih pada ubinnya—tangga besar yang menghubungkan menuju lantai kelima puluh satu.

Tidak peduli bagaimana mereka memeriksa ruangan yang sangat luas itu, tidak ada tangga, atau bahkan satu utas tali yang dapat ditemukan. Hanya ada satu hal yang aneh, lubang yang melingkar ditengah-tengah lantai licin dan halus itu, dan tidak ada satu jalan yang digunakan untuk melanjutkan menuju ke atas yang terlihat pada pandangan Eugeo.

"Ti...Tidak ada tangga."

Berguman dengan keterkejutan saat dia melangkah menuju ruangan gelap dari belakang Kirito, Eugeo merasa aliran dari udara dingin di lehernya dan menurunkan bahunya. Itu kelihatannya patnernya telah menyadarinya juga, saat mereka berdua melihat ke arah atas secara bersamaan.

"...Apa.."

"Apa maksudnya ini..."

Dan mereka berdua menjadi terdiam secara bersamaan.

Tidak ada langit-langit. Sebuah ruangan, tidak, lubang dengan bentuk yang sama seperti ruangan yang memanjang melebihi apa yang penglihatan mereka dapat lihat. Mereka bahkan tidak dapat memperkirakan bagaimana tingginya itu terus berlanjut, tenggelam pada kegelapan dari langit biru.

Setelah mereka mengembalikan pandangan mereka dari atas atas yang jauh, mereka menyadari lubang ini mungkin bukan ruangan yang benar-benar kosong. Pintu, yang jauh lebih kecil dibanding dengan pintu di belakang mereka berdua, telah menempel di permukaan dinding pada ketinggian yang sesuai dengan setiap tingkat dari lantai kelima puluh satu dan selanjutnya, setiap dari itu dengan teralis panjang yang memanjang hingga mendekati bagian tengah lubang itu.

Dengan kata lain, mereka dapat melanjutkan menuju lantai atas jika mereka dapat mencapai teralis itu—Itu sudah pasti memang begitu.

Eugeo mengulurkan tangan kanannya dan mencoba melompat begitu saja tanpa berpikir.

"...Tidak mungkin itu akan sampai..."

Dia berguman dengan menghela nafas. Bahkan teralis terdekat, yang cukup normal, terpasang lebih tinggi dibandingkan dengan langit-langit «Grand Cloister of Spiritual Light» di belakang mereka dan demikian, bahkan melebihi dua puluh mel melalui perkiraan yang bebas.

Kirito, yang melihat ke atas dengan cara yang sama di sisinya, bertanya dengan suara lemah.

"Dengar...Aku hanya mengkonfirmasi di sini, tapi apakah tidak ada satupun sacred arts untuk terbang, bukan?"

"Tidak ada."

Jawaban yang singkat, tampa ampun sedikitpun.

"Maksudku, terbang di udara adalah kehormatan sepenuhnya yang diberikan untuk Integrity Knight, bukan? Dan mereka bahkan tidak terbang melalui art, mereka menaiki naga terbang mereka..."

"Jadi...Bagaimana sebenarnya manusia kembali dan pergi diantara lantai kelima puluh satu dan seterusnya?"

"Siapa yang tahu..."

Mereka berdua memiringkan kepala mereka secara bersamaan. Itu akan lebih bagus jika mereka dapat menghindari itu, tapi kelihatannya tidak ada cara lain selain kembali ke aula besar dan menanyakan cara menuju ke atas dari anak buah Fanatio yang terbaring—itu terjadi ketika mereka memikirkan itu.

"Hei, sesuatu sedang mendekat."

Kirito berbisik dengan suara gelisah.

"Eh?"

Dia melihat ke arah lubang itu lagi seperti yang diinstruksikan.

Dia memang melihat sesuatu mendekat. Seolah-olah melewati dengan menyentuh ujung dari teralis yang menonjol keluar yang terlihat seperti garis, bayangan hitam perlahan turun menuju mereka.

Saat dia melompat mundur dengan Kirito dan memposisikan tangannya pada ganggang pedang, Eugeo dengan kuat menatap pada bayangan yang mendekat.

Bentuknya adalah lingkaran yang sempurna. Mungkin dengan diameter dua mel atau lebih? Itu kelihatan seperti disk metal dengan bagaimana ujungnya dapat terlihat berkilauan dengan indah setiap waktu itu tertangkap oleh cahaya biru yang bersinar dari jendela sempit itu. Tetapi, kenapa benda seperti itu dapat dengan lembut turun dari ruangan tanpa bantuan ataupun apapun yang seperti itu?

Telinga Eugeo dengan tajam mendengar suara, "whoosh", ketika piringan itu melewati dua lantai teralis diatas dengan kecepatan yang tetap. Lehernya menyadari udara dingin setiap waktu.

Eugeo tidak berlari, maupun menarik pedangnya, dia hanya tetap berdiri, tercegang, dan menatap bagaimana disk itu menyentuh teralis di atas kepala mereka dan turun dihadapan mereka berdua. Ketika disk yang melayang mendekat hingga hanya satu mel jauhnya, lubang kecil yang terbuka di bagian tengah di sisi bawah dan menyadari udara mengalir keluar dari tempat itu yang menyebabkan suara dan angin yang misterius.

Tetapi, bagaimana mungkin disk logam dapat melayang hanya dengan kekuatan angin—dia menanyakan itu saat suara whooshing semakin besar dan tingkat kecepatan dari disk logam itu terus menurun, akhirnya menjadi berhenti saat itu hampir menjepit pada lubang yang melingkar itu, berhenti pada lantai batu itu, dengan hanya sedikit hantaman dan getaran.

Permukaan atas dari disk itu dipoles halus seperti cermin. Detail dari kerajinan pada pegangan perak yang terpasang pada bagian pinggir yang melingkar. Ukuran pipa kaca itu kira-kira panjangnya sekitar satu mel dan tebalnya lima puluh cen berdiri tegak di bagian tengah—seorang gadis muda dengan tenang berdiri di sana dengan kedua tangannya di atas pipa itu, melingkar dengan bentuk kubah.

"......!?"

Eugeo mundur beberapa langkah lagi saat dia menaruh kekuatan pada tangan kanannya yang memegang gagang pedangnya. Dia meningkatkan pertahanannya, berpikir bahwa dia mungkin adalah Integrity Knight yang baru.

Tapi dia segera menyadari bahwa gadis itu tidak dilengkapi bahkan dengan satupun pisau di pinggang maupun punggungnya. Pakaiannya, polos, dengan rok hitam panjang, terlihat tidak cocok untuk pertarungan juga. Satu-satunya hal yang dapat dikatakan adalah sederhana, terlihat pada hem yang terajut pada apron putih yang menutupi dari dada hingga ke bawah lutunya, yang berarti dia tidak mengenakan aksesoris yang lain, pada dirinya.

Rambutnya berwarna cokelat terang, yang sedikit keabu-abuan, yang terpotong lurus pada atas alis dan bahunya, dengan hampir tidak ada ciri khas yang dapat dibedakan dari kulit pucatnya. Itu sangat teratur tapi bahkan tanpa emosi sedikitpun. Eugeo merasa umurnya kira-kira jauh lebih muda, tapi dia tidak yakin jika memang seperti itu.

Siapa sebenarnya gadis ini, Eugeo mencoba untuk melihat mata gadis itu, tapi dia bahkan tidak dapat melihat warnanya saat itu tersembunyi oleh bulu matanya yang menutupinya. Gadis itu, yang tidak mencoba untuk melihat wajah mereka berdua bahkan setelah disk itu berhenti, melepaskan tangannya dari pipa kaca yang aneh itu dan menaruh itu bersama-sama di depan apronnya, lalu selanjutnya menundukkan kepalanya dan mengeluarkan suaranya untuk pertama kalinya.

"Terima kasih atas kesabaran kalian. Lantai mana yang kalian ingin pergi, kalau boleh tahu?"

Suara yang memiliki tingkat intonasi vokal yang sangat rendah dan sama sekali tidak menunjukkan suatu jenis emosi. Eugeo bahkan tidak mendengar bagian dari apapun yang menyerupai rasa permusuhan, jadi dia perlahan melepaskan tangannya dari pedangnya. Kata-kata gadis itu sekali lagi terulang di pikirannya.

"Lantai mana...Tunggu...Jadi, kau akan membawa kita menuju lantai atas?"

Ketika dia bertanya dengan setengah percaya, dan setengah ragu-ragu, gadis yang menundukkan kepalanya yang telah kembali ke posisi semula sekali lagi.

"Tentu saja. Bolehkah aku tahu lantai yang kalian inginkan?"

"Sebenarnya...Bahkan jika kau mengatakan itu..."

Memiliki pikiran bahwa semua orang yang muncul dihadapan mereka di katedral adalah musuh, Eugeo menjadi bimbang, tidak mengetahui apa yang harus dia katakan sekarang. Kirito, yang berdiri di sampingnya, lalu berbicara dengan nada santai, Eugeo tidak mengetahu apa yang dipikirkan di kepalanya juga.

"Erm, Kita adalah seseorang yang dicari karena menyusup ke katedral...apakah tidak akan masalah dengan kami untuk menaiki ele[6], tidak, disk?"

Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya, tapi dengan sekejap kembali ke posisinya semula dan menjawab.

"Satu-satunya tugasku adalah mengoperasikan disk yang bergerak ini. Aku tidak menerima perintah untuk menerima perintah apapun yang tidak berhubungan dengan itu."

"Aku mengerti. Jadi izinkan saya untuk mengambil tawaran anda."

Kirito mulai berjalan dengan cepat menuju ke arah disk itu sementara berbicara dengan kata-kata yang terlihat santai, jadi Eugeo memanggil dengan suara panik.

"H-Hei, kau yakin ini akan baik-baik saja?"

"Sebenarnya, itu tidak terlihat seperti ada cara lainnya menuju ke atas."

"Itu...Benar, tapi meski begitu..."

Eugeo sangat kagum tentang bagaimana dia dapat menaiki objek aneh itu dengan secara langsung tanpa rasa kewaspadaan setelah melewati semua dari itu dengan dua Integrity Knight yang masih anak-anak, tapi itu sangat benar bahwa tidak ada satupun dari mereka memiliki ide sedikitpun tentang bagaimana menggerakkan disk itu. Menenangkan dirinya dengan berpikir bagaimana mereka dapat melompat pada suatu teralis bahkan jika itu adalah jebakan, dia mengikuti di belakang patnernya.

Setelah mereka berdua memasuki disk melalui bagian kosong dari pegangan yang terlihat megah itu, Kirito menatap pada pipa kaca itu dengan ekspresi penasaran saat dia menginformasikan gadis itu.

"Erm, jadi tolong bawa kami menuju lantai tertinggi yang dapat kita pergi."

"Baiklah. Jadi kita sekarang akan menuju lantai kedelapan puluh, «Cloudtop Garden». Dimohon untuk tetap di dalam batas dari pegangan itu."

Respon itu segera datang tanpa membtuhkan waktu yang lama dan dengan tundukan kepala lainnya, gadis itu menaruh kedua tangannya diatas pipa. Dia menghirup nafas di udara—

"System call. Generate aerial element."

Pengucapan upacara art yang tiba-tiba membuat Eugeo terbingung, menganggap itu adalah sekarang, tapi itu kelihatannya bukan seperti itu.

Setelah semua, aerial elements yang terlihat, bersinar hijau, berada di dalam pipa transparan itu. Tapi dia mendapat keterkejutan lainnya saat melihat jumlahnya. Itu seluruhnya berjumlah sepuluh— Dia pasti adalah pengguna art berangking tinggi untuk membuat element sebanyak ini hanya dengan satu gerakan.

Gadis itu menunjuk keluar jari jempol, telunjuk, dan jari tengahnya di antara sepuluh jari kecil itu yang dia punya di atas pipa kaca itu dan perlahan berguman.

"Burst element."

Tiga dari aerial elements tertembak keluar dengan cahaya hijau pada saat itu, menyebabkan suara keras yang terdengar dari bawah. Disk logam yang dinaiki oleh tiga manusia dengan segera mulai untuk naik seolah-olah itu ditarik terus oleh tangan yang tak terlihat.

"Jadi seperti itu! Jadi itu bagaimana benda itu bekerja, huh."

Eugeo akhirnya mengerti dasar dibalik bagaimana disk itu naik dan turun dengan Suara Kirito kelihatannya sangat senang. Aerial elements telah dilepaskan di dalam pipa kaca mengalir melalui disk, yang memungkinkan berat tiga manusia dan disk itu sendiri untuk diangkat ke atas oleh pelepasan dari ledakan yang dihasilkan oleh hembusan angin ke bawah.

Itu adalah mekanisme sederhana yang sekarang baru dia tahu, tapi gerakan disk itu sangat pelan hingga pada titik dimana itu hampir tidak dapat merasakan apapun. Disamping dari tekanan yang entah bagaimana dia rasakan saat mulai naik, yang melalui udara dengan hampir tidak terasa berguncang.

Lantai kelima puluh dengan cepat menghilang ke kejauhan di bawah dan Eugeo sekali lagi menyadari bahwa disk kecil ini dapat naik menuju katedral lantai kedelapan puluh, itu adalah, ketinggian yang cukup tinggi untuk menyentuh awan. Mengusap telapak tangannya yang berkeringat pada celananya, dia menggenggam erat pada pegangan itu.

Kirito yang ada di sampingnya, tetapi, hanya memiliki ekspresi tenang seolah-olah dia pernah menaiki sesuatu yang sama di masa lalu, menyebabkan dia berseru dan terkagum, meskipun perhatiannya kemudian beralih dari disk menuju manusia yang mengoperasikannya dan bertanya saat melihat ke arah gadis itu.

"Berapa lama kau telah melakukan pekerjaan ini?"

Gadis itu merespon dengan suara yang sedikit bingung, dengan wajahnya yang masih tersembunyi.

"Ini akan menjadi keseratus tujuh tahun semenjak sacred task ini telah diberikan padaku."

"Seratu..."

Bahkan melupakan tentang kekosongan di bawah kakinya, Eugeo membuka lebar matanya. Dia bertanya dengan terbata-bata sebagai ganti dari Kirito.

"S-Seratus tujuh tahun...kau telah mengoperasikan disk ini sepanjang waktu!?"

"Aku tidak mengoperasikan itu...Sepanjang waktu. Aku menerima istirahat makan di siang hari dan tentu saja, aku diperbolehkan untuk istirahat di malam hari."

"E-Erm...Itu benar-benar bukan yang aku maksud..."

—Tidak.

Itu bagaimana yang terjadi. Gadis itu pasti telah mendapati Lifenya telah dibekukan seperti Integrity Knight, dan hidup di atas satu disk logam untuk yang dapat dikatakan selama-lamanya.

Eugeo mempercayai bahwa nasib itu jauh lebih kejam, lebih terabaikan, dan lebih suram dibandingkan dengan Integrity Knight, yang memberikan seluruh waktu mereka untuk bertarung.

Disk logam itu perlahan tapi terus menerus naik. Gadis itu menyembunyikan semua emosinya di bawah bulu matanya yang menutupinya, menciptakan aerial element lagi ketika itu telah habis, dan melepaskan itu sekali lagi. Eugeo bertanya-tanya berapa banyak dia telah mengulangi kata, "burst", menggumankan itu dengan selama setiap putaran, tapi tentu saja, itu sangat mudah untuk melebihi imajinasinya.

"Kau...Siapa namamu?"

Kirito tiba-tiba bertanya.

Gadis itu memiringkan kepalanya untuk waktu yang terlama hingga sejauh ini, sebelum menjawab dengan berguman.

"Namaku...Aku tidak dapat mengingatnya. Semua nona dan tuan yang terhormat telah menganggapku sebagai «Elevating Operator». Elevating Operator...Itu adalah namaku."

Itu kelihatannya Kirito tidak memiliki respon untuk hal ini. Eugeo, yang secara tidak sengaja menghitung teralis yang telah lewat dan sekarang melebihi dua puluh, merasa keinginan yang mengisi keheningan yang menekan di belakangnya dan membuka mulutnya.

"...Hei...hei, kita di sini untuk mengalahkan orang terpenting dari Gereja Axiom. Seseorang yang memberikan kau sacred task ini."

"Aku mengerti."

Itu semua adalah jawaban gadis itu. Tapi Eugeo melanjutkan dengan kata-katanya, mungkin tanpa tujuan yang jelas di pikirannya.

"Jika...Gereja tidak ada lagi dan kau terbebas dari sacred task ini, apa yang akan kau lakukan...?"

"...Terbebas...?"

Setelah mengulangi kata itu dengan nada goyah, gadis yang bernama Elevating Operator itu terus saat mereka telah melewati lima teralis lainnya.

Setelah melihat ke arah atas, Eugeo menyadari langit-langit berwarna abu-abu terlihat oleh tanpa mereka tanpa sadar. Itu pasti adalah bagian dari katedral lantai kedelapan puluh. Mereka akhirnya hendak melangkahkan kaki mereka menuju bagian inti sebenarnya dari Gereja Axiom.

"Aku...tidak mengetahui dunia apapun selain dari disk yang bergerak ini."

Gadis itu tiba-tiba berbicara dengan kata-kata yang bimbang.

"Karena itu...Aku tidak dapat memutuskan untuk sacred task baru bahkan oleh desakan kalian...Tetapi, jika maksudmu dalam arti sesuatu yang ingin kulakukan..."

Wajahnya yang selalu tertunduk selama sepanjang waktu terangkat dan gadis itu menatap pada jendela yang, panjang dan sempit di dinding kanan—pada langit bagian utara yang cerah yang terbentang di luar itu.

"...Aku ingin untuk terbang bebas dari disk yang bergerak ini...menuju langit itu..."

Dia akhirnya dapat melihat mata gadis itu sekarang yang biru gelap, biru tua yang gelap, seperti langit biru di puncak musim panas.

Begitu aerial element terakhir bersinar dan menghilang, disk itu mencapai teralis ketiga puluh dan perlahan menjadi berhenti.

Gadis pengoperasi elevator itu melepaskan tangannya dari pipa kaca itu, menaruh itu bersama-sama di depan apronnya, dan menundukkan kepalanya dengan dalam.

"Terima kasih atas kesabaran kalian, kita telah sampai di lantai kedelapan puluh, «Cloudtop Garden»."

"...Terima kasih."

Baik Eugeo dan Kirito menundukkan kepala mereka dan berjalan menuju teralis dari disk.

Gadis itu mengangkat kepalanya sekali lagi, dan setelah tundukan yang ringan lainnya, dia menggerakkan disk itu untuk turun dengan aerial element yang lemah. Suara yang terdengar, seperti angin dingin dari musim dingin, dengan segera menghilang dari kejauhan dan tubuhnya menghilang menuju kedalaman dari kegelapan biru itu, dunia kecil dari besi itu, mengurungnya untuk selama-lamanya.

Sword Art Online Vol 12 - 289.jpg

Eugeo mengambil nafas dalam tanpa menyadarinya.

"...Aku pikir sacred task terakhirku adalah yang terburuk di dunia ini ketika itu terlihat seperti tidak akan berakhir, tapi..."

Setelah dia berguman itu, Kirito mengangkat alisnya dan melihat ke arahnya.

"Jadi itu cukup bagus bahwa aku dapat pension setelah menjadi tua dan menjadi tidak dapat mengayun kapak itu, ketika aku membandingkan itu dengan sacred task gadis itu, itu hanya..."

"Cardinal mengatakan membekukan Life seseorang dari pengurangan secara alami melalui upacara art tidak melindungi terhadap penuaan jiwa. Itu perlahan akan melewati batas dari ingatan seseorang dan orang itu akhirnya akan hancur."

Kirito, yang menjawab dengan nada depresi, menggerakkan tubuhnya dengan kekuatan, seolah-olah mencoba untuk menghilangkan kalimat pemikiran itu, dan membalikkan punggungnya pada lubang yang dalam itu.

"Apa yang Gereja Axiom lakukan sebelumnya sangatlah salah. Karena itu kita disini untuk mengalahkan Administrator. Tapi itu tidak mengakhiri semuanya, Eugeo. Tantangan sebenarnya terbentang melebihi itu..."

"Eh...? Bukankah kita cukup untuk meninggalkan sisanya pada Cardinal-san dari sebelumnya jika kita mengalahkan Administrator?"

Kirito menggerakkan mulutnya ketika Eugeo bertanya, seolah-olah dia hendak mengatakan sesuatu, tapi ketidakpastiaan yang tidak seperti sikap pastinya yang biasa terlihat di mata hitamnya dan dia berakhir mengalihkan wajahnya.

"Kirito...?"

"...Tidak, mari kita bicarakan hal itu setelah kita mendapat kembali Alice. Ini bukan waktunya untuk memikirkan tentang sesuatu yang tidak perlu."

"Itu... benar, tapi meski begitu."

Kirito mulai berjalan melewati koridor dengan langkah cepat, seolah-olah ingin melarikan diri dari ekspresi yang berasal dari Eugeo saat dia memiringkan kepalanya. Eugeo mengejarnya dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan, tapi perasaan tegang yang keluar dari dalam tubuhnya menyapu keraguan lemahnya dengan sekejap mata setelah pintu besar yang berdiri di bagian ujung dari koridor pendek itu terlihat oleh pandangan mereka.

Melihat bagaimana lima Integrity Knight telah berkumpul di lantai kelima puluh, orang yang mengkordinasikan tindakan perlawanan terhadap penyusup—kelihatannya Kepala Pemimpin yang Fanatio pernah sebut telah bermaksud untuk menghentikan mereka berdua dengan segala cara. Fakta bahwa mereka sebenarnya telah menghentikan serangan hebat knight itu dan mendapatkan kemenangan entah bagaimana itu pasti sangat mendekati keajaiban.

Mereka menembus barisan pertahanan dan memanjat hingga sedekat ini dengan lantai tertinggi sudah pasti bahwa Kepala Pemimpin itu akhirmya mengirim seseorang dengan potensi bertarung yang tinggi tanpa keraguan. «Komandan Integrity Knight» bersama dengan semua Integrity Knight yang tersisa, dan juga pengguna sacred art berangking tinggi, baik pendeta dan sister itu, mungki sedang menunggu di balik pintu ini, sebagai contoh—hal seperti itu mungkin benar-benar akan terjadi.

Tapi selama tidak ada jalan yang lain, kita tidak dapat melakukan apapun selain menembus halangan apapun yang berdiri dihadapan kita dari depan.

Kita dapat melakukannya. Dengan Kirito dan aku bersama-sama ada di sini.

Eugeo dengan kuat bertukar pandangan dengan patnernya, yang berdiri di sampingnya, dan mereka mengangguk bersamaan. Mengulurkan tangan mereka secara bersamaan, mereka menaruh telapak tangan mereka pada pintu kiri dan kanan secara berturut-turut dan dengan kuat mendorong itu.

Pintu batu itu perlahan mulai terbuka di kiri dan kanan dengan suara kelam.

"......!"

Kelima inderanya telah terhisap oleh warna yang menyebar dihadapan matanya, suara aliran air, dan aroma harum pada saat itu, menyebabkan sakit kepala yang sebentar.

Tidak ada kesalahan bahwa mereka berada di dalam menara. Lantai marbel putih seperti lantai di bawah dapat terlihat dari kejauhan.

Tetapi, ruangan yang luas itu tidak tertutupi oleh batu seperti bagaimana itu telah ada hingga sejauh ini. Sebaliknya, rumput tebal, yang nyaman terbentang di sana. Sacred flowers dari berbagai warna, kelihatannya adalah sumber dari aroma ini, telah bermekaran di sini dan diatas halaman itu.

Apa yang mengejutkan dia lebih jauh adalah aliran air murni, yang kecil mengalir dari jarak yang cukup dekat, permukaan airnya berkilauan dengan cahaya. Sebuah jalan dari batu bata yang kecil itu memanjang dari pintu dimana mereka berdua berdiri, membelah pada halaman, dan terus berlanjut setelah jembatan kayu yang terbentang di atas sungai kecil itu.

Bukit kecil yang terlihat dibalik sungai itu. Jalan itu berliku-liku pada tanah yang mendaki dengan bunga yang berlimpah bermekaran. Setelah mengikuti jalan dengan pandangannya, Eugeo menyadari satu pohon yang tumbuh di puncak bukit itu.

Itu bukanlah pohon yang besar. Dia dapat melihat daun hijau tua dan bunga, kecil berwarna orange dengan bentuk silang pada batang tipisnya. Cahaya Solus, menyinari dari jendela di dinding dekat langit-langit di atas, dengan tepat menyinari pada pohon dan bunga yang tak terhitung jumlahnya berkilauan seolah-olah itu dibuat oleh emas.

Batang tipis, yang berkaca juga disinari sinar matahari dan bersinar—dan bagian bawahnya, juga, benar-benar bersinar indah dengan warna emas yang berkilauan—

"Ah......"

Eugeo tidak menyadari suara pelan yang keluar dari mulutnya sendiri.

Setiap dan semua pemikiran yang dia punya menjadi berhenti dengan sekejap ketika dia melihat gadis yang duduk pada botong pohon dengan kelopak matanya yang tertutup.

Seolah-olah gadis itu adalah ilusi yang dibawa oleh sinar matahari yang bersinar indah melalui pohon itu, semua bagian tubuh gadis itu terkena sinar matahari. Armor yang hebat menutupi bagian atas tubuh dan tangannya dengan hiasan emas, rok panjangnya berwarna putih murni juga, dengan benang emas yang tersulam pada kain itu, dan bahkan sepatu kulit, putih yang dipoles memantulkan cahaya tanpa cela yang diterima dari sinar matahari yang menyinarinya.

Tetapi, apa yang berkilauan paling terang adalah rambut panjang, yang banyak terurai. Rambut lurus, yang seperti emas dicairkan, membuat lengkungan yang sempurna saat itu terurai menuju pinggangnya dari kepala kecilnya, menghasilkan aliran dari cahaya yang indah.

Sinar yang hampir dia lihat setiap hari, di waktu yang dulu di masa lalu. Dia tidak tahu apakah nilainya atau keindahannya, sehingga menarik rambut itu dengan bercanda dan mengikat ranting pada itu.

Cahaya emas itu, menggambarkan pertemanan, keinginan, dan cinta yang samar-samar, telah berubah hanya denganwaktu satu hari, tidak mendapat arti apapun selain dari kelemahan, keburukan, dan sikap pengecut Eugeo. Dan kilauan itu yang dia seharusnya tidak akan pernah melihatnya lagi sekarang berada di dalam jangkauannya sekali lagi.

"Ah... Ali... ce..."

Bahkan tanpa menyadari suara serak yang keluar dari mulutnya sendiri, Eugeo berjalan maju dengan terhuyung-huyung.

Dia secara tidak teratur mengikuti jalan batu bata itu. Tidak ada aroma menyegarkan dari sacred flowers maupun suara menyejukkan dari air yang memasuki kesadaran Eugeo lebih jauh lagi. Hanya panas dari tangan berkeringatnya yang dengan erat mencengkram pada jubah bagian dadanya dan pisau yang kelihatannya bergetar di dalam jubahnya yang mengurung Eugeo dari dunia ini.

Melewati jembatan yang terbentang di atas sungai kecil itu, menghitung dari lereng terdekat. Sudah kurang dari dua puluh mel untuk sampai ke puncak bukit itu.

Ketika melihat ke atas, dia dapat melihat dengan jelas wajah gadis itu yang sedikit tertunduk ke bawah. Tidak ada emosi yang terlihat pada kulit, putihnya yang bisa dibilang mulus. Dia hanya tetap terdiam dengan matanya tertutup, pikirannya kelihatannya terhanyut diantara kehangatan sinar matahari dan aroma bunga.

—Apakah dia tertidur?

Jika aku mendekat seperti ini dan cukup menusuk sedikit dengan pisau pada jari yang saling terpegang di atas pangkuannya...Bukankah itu akan mengakhiri segalanya?

Itu adalah ketika pikiran itu terlintas pada pikiran Eugeo.

Tangan kanan Alice terangkat tanpa suara dan jantung Eugeo berdetak saat langkahnya berhenti.

Mulut indahnya bergerak dan suara yang dirindukannya mencapai telinganya.

"Berikan aku sedikit waktu lagi. Itu sudah lama semenjak kita mendapat cuaca bagus seperti ini, jadi aku ingin untuk membiarkan anak ini untuk bejemur di bawah sinar matahari lebih lama lagi."

Kelopak matanya, tersambung oleh bulu mata emasnya, perlahan terbuka.

Kedua matanya berwarna biru, yang tidak dapat dibandingkan di dunia, menatap lurus pada Eugeo.

Eugeo melihat pandangan dari tatapan Alice yang melunak, senyuman terbentuk di mulutnya.

Tetapi, warna terang di mata birunya tidak berwarna lembut dari langit seperti waktu yang dulu. Itu adalah warna es yang tetap membeku selama sepuluh tahun, tidak akan meleleh tidak peduli berapa banyak sinar matahari yang menyinarinya. Tertusuk oleh pandangan dinging yang menganggap mereka penyusup, Eugeo tidak dapat menggerakkan kakinya.

Seperti yang diduga, pertarungan tidak dapat dihindari.

Bahkan jika dia kehilangan ingatannya, dia harus menarik pedangnya kepada gadis itu, yang tanpa keraguan adalah Alice Schuberg dari Rulid. Untuk mengembalikan dia kembali ke bagaimana dia seharusnya. Tidak peduli bagaimana sulitnya dia mengetahui pertempuran ini bisa diterima.

Tubuhnya merasa kekuatan sebenarnya Integrity Knight Alice Synthesis Thirty dua hari yang lalu, ketika pipinya telah diserang oleh sarung pedangnya. Eugeo mungkin munkin tidak sadar saat terkena satu serangan itu, tapi dia bahkan tidak dapat untuk mengikutinya dengan matanya. Itu akan membuktikan bahwa berikutnya akan mustahil untuk mengalahkan swordswoman dengan kemampuan seperti itu tanpa menerima luka yang berat, bukan?

Dia bukanlah musuh yang dapat dihadapi dengan bersikap lunak.

—Meski begitu, dapatkah aku benar-benar menebas bahkan sehelai rambut pirang itu?

Melihat saat aku bahkan tidak dapat mengambil langkah maju lainnya, lupakan untuk menarik pedangku.

Kirito berbicara dari belakang Eugeo, yang masih berdiri dari konflik yang mendadak, kata-katanya sangat jelas meskipun itu entah bagaimana sedikit serak.

"Kau tidak bertarung di sini, Eugeo. Cukup pikirkan tentang menusuk dengan benar pisau Cardinal pada Alice. Aku akan menghentikan serangannya untukmu bahkan dengan mempertaruhkan hidupku."

"Ta...Tapi."

"Tidak ada cara yang lain, situasi akan menjadi lebih buruk jika semakin lama kita terseret dalam pertarungan. Aku akan menahan serangan pertama Alice daripada menghindarinya dan menahannya seperti itu, jadi gunakan pisau itu dengan segera. Mengerti?"

"......"

Dia dengan kuat menggigit mulutnya. Pada akhirnya, dia telah membuat Kirito yang berdarah baik pada pertarungan melawan Deusolbert dan pertarungan melawan Fanatio. Meskipun bagaimana rencana berbahaya dengan melawan Gereja Axiom awalnya tidak lebih berasal dari keinginan pribadi Eugeo.

"...Maaf."

Ketika dia berguman itu dengan malu, Kirito menjawab dengan nada yang sedikit mirip dengan nada biasanya.

"Kau tidak perlu untuk meminta maaf. Aku akan mendapati kau harus membayar semua itu beberapa kali lebih banyak dengan segera....Namun, kesampingkan masalah itu..."

"...? Apa ada masalah?"

"Tidak...Dari apa yang aku dapat lihat, dia tidak terlihat seperti dia benar-benar bersenjata. Di samping itu...Siapa yang dia bicarakan ketika dia mengatakan, 'anak ini'...?"

Diberitahu seperti itu, dia memfokuskan matanya pada Alice, yang masih duduk di atas bukit. Kelopak matanya sekali lagi tertutup dan sedikit melihat ke bawah, dia melihat ke arah pinggangnya, sarung pedang emas yang telah tergantung di sana ketika mereka pertama kali bertemu dengannya di Akademi Master Pedang benar-benar tidak ada di sana sekarang.

"Mungkin dia meninggalkan pedangnya ketika dia istirahat atau sesuatu seperti itu...Itu akan menjadi bantuan yang hebat, bagaimanapun juga."

Berguman dengan nada yang menunjukkan keyakinannya yang kurang pada hal seperti itu, Kirito menggosok ganggang pedang hitamnya dengan tangan kirinya.

"Itu tidak baik kepada Alice, tapi itu tidak seperti kita dapat menurutinya sampai dia selesai berjemur di bawah sinar matahari. Entah dia memiliki pedang atau tidak, bertarung dengannya sekarang akan mencegah dia dari mengucap full control art setidaknya. Sejujurnya, itu akan sangat baik jika kita dapat berharap jika kita dapat menyelesaikan ini tanpa dia menggunakan itu."

"Aku rasa kau benar...Full control artku tidak menggunakan banyak Life dari pedangku, jadi aku percaya aku masih dapat menggunakannya dua kali lagi untuk hari ini, bagaimanapun juga..."

"Itu akan sangat membantu. Dapat dikatakan, satu kali lagi adalah batas dari sisiku. Dan seharusnya masih ada Komandan Integrity Knight setelah Alice. Baiklah...Ayo pergi."

Kirito mengambil langkah maju dengan mengangguk pelan.

Meyakinkan pikirannya, Eugeo mengikuti di belakang.

Meninggalkan jalan batu bata yang memutar di sekitar bukit, mereka langsung menuju puncaknya. Langkah kaki mereka bergema di halaman.

Alice perlahan berdiri ketika mereka berdua telah memanjat hingga setengah perjalan ke bukit. Mata dinginnya yang bahkan tidak menunjukkan satupun emosinya menatap ke bawah pada mereka berdua dibalik kelopak matanya yang lembut itu.

Seolah-olah pandangan melakukan suatu jenis upacara art, kedua kakinya bertambah berat dengan sekejap. Tidak peduli bagaimana itu sudah jelas bahwa tidak ada sarung pedang yang terlihat pada Alice, Eugeo merasa kakinya menolak untuk mendekati gadis itu lebih jauh lagi. Apakah rasa takut telah terukir pada badannya setelah menerima satu hantaman di pipinya? Tapi bahkan jika memang begitu, cara berjalan Kirito juga kelihatannya seperti kehilangan kekuatannya juga, saat dia berjalan di depan, bukan?

"...Pada akhirnya, kalian telah berhasil berjalan hingga sejauh ini, bukankah begitu."

Suara Alice yang jelas menggetarkan udara sekali lagi.

"Aku menilai dengan memiliki Eldrie sendiri untuk bersiap-siap di taman mawar akan cukup untuk menanggulangi bahkan dengan kesempatan kalian berdua dapat melarikan diri dari penjara bawah tanah. Tetapi, kau telah mengalahkannya dan lebih jauh lagi, menebas Deusolbert-dono dan bahkan Fanatio-dono yang memiliki sacred instruments, melangkah pada tanah di «Cloudtop Garden» ini."

Alisnya melengkung membentuk ekspresi merengut yang samar-samar. Suara pelan dari mulut cherry blossom itu terdengar sangat sedih.

"Apa sebenarnya yang memberikan kekuatan seperti itu pada kalian berdua? Kenapa kalian sampai ingin untuk mempengaruhi kedamaian dari Dunia Manusia? Kenapa kalian tidak mengerti bahwa setiap Integrity Knight yang terluka akan menjadi suatu kemunduran besar pada persiapan terhadap kekuatan kegelapan?"

—Ini semuanya untukmu, semuanya untuk itu.

Eugeo meneriakkan itu di dalam hatinya. Tapi dia tahu bahwa itu tidak akan berarti apa-apa pada Integrity Knight Alice yang berdiri di hadapan matanya bahkan jika dia mengatakan itu keluar. Dengan kuat menggeretakkan giginya, Eugeo hanya menaruh semuanya untuk menggerakkan kakinya untuk maju.

"Seperti yang aku pikirkan—itu kelihatannya aku harus menanyakan itu dengan pedangku. Baiklah...Jika itu adalah apa yang kalian berdua inginkan."

Kata-katanya seperti desahan, Alice menaruh tangan kanannya pada batang pohon di sampingnya sebagai penyanggannya.

Tapi dia tidak memegang pedang—

Eugeo memikirkan itu di waktu yang hampir sama saat Kirito berseru "tidak mungkin".

Cahaya itu terlihat pada saat berikutnya da pohon kecil yang tumbuh di atas puncak bukit itu menghilang.

"——!?"

Meskipun terlambat, aroma, yang penuh dengan aroma manis dan tenaga, sangat banyak melayang, lalu menghilang tanpa jejak.

Sebelum mereka mengetahuinya, tangan kanan Alice telah memegang sesuatu yang seperti pedang panjang dengan bentuk. Tidak hanya sarungnya, tapi semuanya dari penahan hingga gagangnya dibuat dari emas yang menyilaukan. Desain yang berbentuk bunga silang menghiasi penahan itu.

Eugeo tidak dapat segera mengerti pada apa yang terjadi.

Pohon itu telah menghilang, dan pedang itu muncul. Dengan kata lain, pohon itu telah berubah menjadi pedang? Tapi Alice tidak mengucapkan upacara art apapun. Bahkan jika itu hanya art ilusi atau sacred art berangking sangat tinggi untuk perubahan, itu sangat mustahil untuk membuatnya tanpa mengucapkan kalimat upacara.

Tidak. Jika pohon itu mengganti penampilannya hanya berdasar pada bayangan pikiran Alice—pada dasaranya, itu akan berarti—

Setelah sampai pada kesimpulan beberapa saat lebih cepat, Kirito mengeluarkan desahan yang dalam.

"Sial, ini benar-benar tidak bagus... apakah pedang itu sudah menjadi full control state?"

Melihat ke arah mereka berdua yang masih berdiri di sana, Alice mengangkat pedangnya secara horizontal dengan kedua tangannya.

Jyaa! Pedang itu, dicabut dari sarungnya dengan deritan, aura terang berwarna emas kekuningannya bahkan jauh lebih terang dari sarungnya, bersinar berkilauan saat itu memantulkan cahaya Solus.

Kirito melancarkan serangan kuat beberapa saat kemudian. Itu masih tidak jelas kekuatan jenis apa yang ada pada pedang yang dipegang Alice, tapi dia menilai bahwa itu akan sangat baik untuk membawa pada pertarungan jarak dekat sebelum control art itu diaktifkan. Dengan kuat merusak rumput hijau, dia memanjat delapan puluh persen dari bukit itu hanya dengan sepuluh langkah.

Sementara memegang pada rantai yang ada di dadanya, Eugeo dengan susah payah mengejar menuju patnernya juga. Kirito kelihatannya tidak memiliki keinginan untuk menarik pedangnya. Itu kelihatannya dia mencoba untuk menghentikan serangan pertama Alice dengan tubuhnya seperti yang dia katakan. Bahkan jika itu menyegel gerakannya, itu tidak akan bertahan lama. Sehingga, Eugeo harus memenuhi tugasnya untuk menusuk dia dengan pisau tanpa membiarkan kesempatan itu terlepas.

Ekspresi Alice bahkan tidak berganti sedikitpun sementara melihat ke arah swordsman berjubah hitam yang mendekat. Dengan gerakan yang kelihatan santai, dia perlahan mengacungkan pedang di tangan kanannya.

Kirito hampir untuk memasuki jangkauan tebasannya. Itu kelihatannya akan menjadi art menyerang dengan jangkauan jauh seperti Deusolbert atau Fanatio. Jika memang seperti itu, bahkan jika serangan awal akan menghentikan gerakan Kirito, Eugeo seharusnya masih dapat berada dalam jangkauan untuk menusuknya dengan menggunakan jeda itu.

Meyakinkan pikirannya dalam sekejap, Eugeo mengganti pendekatannya dari sudut yang berbeda dengan Kirito dan terus berlari. Tangan kanan Alice perlahan mengayun ke depan.

Pedang emas itu—menghilang.

"!?"

Untuk akuratnya, itu tidak menghilang. Itu akan jauh lebih akurat untu mengatakan bahwa itu terpencar. Pedang itu terbagi menjadi ratusan atau ribuan serpihan dan menyerang Kirito seperti badai emas.

"Guah!!"

Ditelan dengan kilauan yang tak terukur, Kirito telah terjatuh, membuatnya tidak dapat bergerak, dengan rintihan.

Memanfaatkan seluruh dari kesempatan yang dibuat oleh patnernya, Eugeo menggeretakkan giginya dan berlari ke depan.

Tetapi, angin emas yang menyerang Kirito tidak berhenti di sana. Itu menyebabkan suara seperti angin dingin dan merubah arahnya ke kiri di udara, menyapu Eugeo dari sisinya.

Dia dapat dengan susah payah tetap berdiri dengan kakinya setelah hantaman itu. Seolah-olah dia terlempar oleh tangan raksasa, Eugeo terjatuh di sisi kiri saat itu juga.

Setiap serpihan, yang jika diukur tidak lebih dari sepuluh cen, memiliki berat yang absurd. Terlempar ke halaman, Eugeo mengalami rasa sakit yang membakar seluruh tangan kirinya yang melindungi wajahnya dengan sekejap saat angin emas itu menyerangnya dan menahan keinginannya untuk berteriak dan menggeliat kesakitan.

Tak terhitung serpihan emas, yang menghentikan serangan mereka berdua dengan mudah, membuat lengkungan saat itu melayang dan kembali ke samping Alice. Tetapi, itu tidak kembali ke bentuk pedang tapi tetap melayang di sekitar knight itu.

Jika dilihat lebih dekat, semua serpihan kecil itu telah membentuk silang bahkan oleh bentuk wajik yang lebih kecil saat itu tergabung bersama-sama. Itu memiliki desain yang sama dengan penahannya—yang berarti itu memiliki bentuk yang sama seperti bunga dari pohon yang tumbuh di bukit itu.

"—Apa kalian mengejekku? Bagaimana mungkin kalian bahkan dapat berlari ke arahku tanpa menarik pedang kalian?"

Alice menyindir mereka dengan tenang bahkan tanpa mengekspresikan satupun emosi seperti biasanya.

"Serangan sebelumnya dimaksudkan untuk disampaikan sebagai peringatan. Tetapi, serangan berikutnya akan melenyapkan semua Life kalian. Tunjukkan padaku semua yang kalian punya, untuk demi semua Integrity Knight yang kalian berdua telah kalahkan hingga sejauh ini juga."

Dia bersikap—lunak?

Meskipun kekuatan absurd itu...?

Di dalam penglihatan Eugeo saat dia meringis dari dalam hatinya, tak terhitung bunga emas membuat suara keras "jyakii" secara bersamaan. Ketika dia berusaha melihat lebih keras, dia melihat ujung dari empat kelopak, yang seharusnya berbentuk lingkaran dan halus, sekarang menjadi runcing hingga ke titik dimana itu jauh lebih tajam dibandingkan dengan ujung pedang. Dia tidak akan lolos hanya dengan terjatuh seperti sebelumnya jika dia dihantam dengan benda seperti itu. Kulitnya akan terkoyak dan itu mungkin bahkan akan menebas ke dalam tulangnya.

Sebuah ketakutan yang sangat dalam mengubah bentuknya menjadi air dingin dan memaksakan itu pada Eugeo, melumpuhkan perutnya.

Bahkan jika hanya ada satu dari bunga seperti itu, Lifenya akan berkurang secara drastis jika itu memotong ke dalam organ dalamnya. Dan meski begitu serpihan yang berkilauan di sekitar Alice sekarang, seperti hujan bunga yang hebat, berjumlah melebihi dua atau tiga ratus. Itu akan mustahil untuk menangkis semuanya dengan pedang dan bahkan dapat dikatakan, itu akan sangat mustahil untuk menghindari badai bunga itu yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan tak terkendali di udara. Dengan kata lain, full control art Alice benar-benar luar biasa dan kuat—

Ya, itu benar-benar luar biasa.

Armament full control art dengan sacred instruments benar-benar kemampuan yang sangat kuat, tapi meski begitu, ada batasnya. Sifat asli dari art ini adalah mengubah «ingatan» yang dimiliki oleh asal dari senjata, seperti itu, apakah itu panas, dingin, keras, panas, dan seperti itu, menjadi kemampuan menyerang dan itu tidak dapat melakukan apapun selain menghilangkan aspek lainnya, dengan lebih mengkhususkan pada satu area yang khusus.

Seperti full control art Wakil Komandan Integrity Knight Fanatio yang dipantulkan oleh cemin kecil yang dibuat oleh Kirito, sebagai hasil dari mengkhususkan terlalu banyak dari menusuk di satu titik dengan memusatkan sinar cahaya.

Itu tidak diketahui keberadaan macam apa yang pohon kecil itu yang kelihatannya adalah asal dari sacred instrument Alice, tapi jika kekuatan di dalamnya dibagi menjadi sangat kecil, menjadi berjumlah sangat banyak—seperti itu, jika itu hanya mengejar akurasi, setiap kelopak telah kehilangan banyak kekuatannya. Tidak peduli bagaimana Eugeo memikirkan itu, terkena satu serpihan yang panjangnya bahkan tidak mencapai satu cen memiliki kekuatan seperti tangan raksasa, saat dia telah mengetahui dengan tubuhnya, melalui teori itu.

Jika itu dapat membuat fenomena seperti itu, pohon kecil itu yang bermekaran dengan bunga orange seharusnya memiliki prioritas yang sangat tinggi, bahkan melebihi asal dari pedang Kirito, «Pohon Iblis», Gigas Cedar...

Kirito yang terjatuh di depan, di sisi kiri, kelihatannya juga memikirkan hal yang sama seperti Eugeo dalam sekejap, saat dia mengangkat wajahnya dengan eskpresi keterkejutan dan ketakutan.

Tetapi, dia yang tidak mengerti arti dari menyerah, menatap ke arah Eugeo dengan mata yang memiliki kilauan dan menggerakan mulutnya secara perlahan.

«Ucapkanlah». —Segera mulai itu.

Benar, itu sudah tidak mungkin untuk menerobos badai kelopak itu dari depan. Karena itu, tidak ada pilihan lain selain untuk menahan pemiliknya dengan full control art Blue Rose Sword. Alice telah menyebarkan pedang yang hanya tersisa gagangnya dengan gerakan yang sama dengan kelopak itu sebelumnya. Dengan kata lain, itu akan berarti awan bunga itu tidak dimanipulasi seluruhnya oleh pemiliknya.

Masih dalam keadaan terjatuh, Eugeo perlahan mengusap tangan kirinya pada gagang Blue Rose Sword dan mulai mengucapkan full control art dengan volume yang hampir tidak dapat didengar. Tidak ada yang dapat dilakukan jika Alice menyadarinya dan menyerang, tapi Kirito seharusnya akan melakukan sesuatu tentang itu.

Seperti yang dia duga, Kirito bangun dengan gerakan yang berlebihan, saat Eugeo mulai mengucapkannya, dan berteriak dengan suara tegang.

"Aku ingin untuk meminta maaf untuk melakukan hal yang tidak sopan pada Integrity Knight yang terhormat! Aku, Swordsman-in-training Kirito, secara resmi ingin meminta, untuk bertarung dengan menggunakan pedang biasa dengan Integrity Knight Alice!"

Setelah memukul dadanya dengan tangan kanannya dan membungkukkan badannya, dia memegang pedang pada bagian gagangnya di bagian kiri pinggangnya. Pedang hitam legam tertarik dengan suara keras dan melengking "jyari" dan telah diangkat tinggi seolah-olah itu mencoba untuk membelah menjadi dua cahaya emas yang menutupi knight itu.

Alice menatap dengan keras kepada swordsman berjubah hitam dengan mata biru itu terasa seolah-olah itu dapat melihat ke dalam semuanya dan menjawab setelah mengedipkan matanya satu kali.

"—Baiklah, aku akan mengetes bagaimana dalamnya hati buruk yang berada pada kalian melalui ilmu pedang."

Dia perlahan mengayun gagang pedang di tangan kanannya. Dan dengan itu, tak terhitung bunga emas yang melayang di sekitarnya berterbangan menuju tangan Alice dengan suara dari aliran angin, meninggalkan sedikit celah saat itu menyatu di depan gagang yang dipegangnya. Suara metal "jyakin" terdengar dan kelopak itu menyatu, mengembalikan bentuknya menjadi pedang emas panjang.

Menghadapi Alice, yang memposisikan pedangnya di posisi tengah dengan gerakan anggun dan mulai begerak seperti itu, Kirito, yang mempersiapkan pedangnya dengan posisi rendah, dia lalu berteriak padanya sekali lagi.

"Salah satu dari kita tak dapat dihindari akan kalah setelah saling menyilangkan pedang, jadi aku memohon agar kau dapat memberitahuku satu hal sebelumnya. Aku yakin bahwa pohon di atas bukit sebelumnya adalah bentuk sacred instrumentmu di waktu yang lalu, tapi kenapa pohon kecil seperti itu memiliki kekuatan seperti itu?"

Itu sudah pasti bahwa itu adalah pertanyaan untuk mengulur waktu, tapi Kirito benar-benar ingin mengetahui misteri dibalik full control art pedang emas itu, mungkin. Tentu saja, Eugeo sangat tertarik pada itu juga. Dia menajamkan pendengarannya sementara melanjutkan mengucapkan upacara art.

Alice berhenti setelah mengambil tiga langkah ke depan. Dia tetap terdiam untuk sebentar, dan lalu menggerakkan mulutnya dengan gerakan yang pelan.

"Tidak ada tujuan untuk memberitahu kalian berdua dengan kematian kalian yang sudah dekat, tapi...Aku rasa itu dapat menjadi sebagai bantuan dalam perjalanan kalian menuju Celestial World. Sacred instrumentku bernama, «Fragrant Olive Sword». Seperti yang dikatakan namanya, itu adalah pohon zaitun harum dengan tidak ada satupun aspek yang beraturan sama sekali."

Pohon zaitun harum adalah pohon berukuran kecil yang membuat bunga kecil berwarna orange di musim gugur. Itu sangat jarang untuk tumbuh di daerah sekitar Rulid, tapi sekarang dia telah mengtakannya, dia telah melihat berkali-kali di pusat. Itu tidak dapat dikatakan bahwa itu jenis yang langka, seperti Gigas Cedar yang hanya ada satu-satunya di dunia.

"Ya, itu hanya pohon kecil seperti yang kau katakan. Kecuali itu hanya satu-satunya yang bertahan selama ini. —Tempat ini dimana Katedral Pusat dibangun sekarang adalah «Starting Land» yang diberikan kepada manusia oleh Dewi Pencipta Stacia di masa lalu yang sudah lama berlalu. Sumber air panas yang indah mengalir keluar dari pusat desa kecil dan satu pohon zaitun harum itu tumbuh pada pinggirnya...atau seperti itu yang bagian pertama dari catatan penciptaan katakan. Pohon itu adalah bentuk asal dari pedangku. Aku harap kalian mengerti ini, Fragrant Olive Sword ini adalah keberadaan tertua diantara semua hal di alam Dunia Manusia."

"Ap...Apa yang kau katakan..."

Sebagai perbandingan dengan Kirito yang keheranan, Alice melanjutkan merangkai kata-katanya secara bersamaan tanpa emosi.

"Pedang ini adalah bentuk renkarnasi dari pohon yang diberikan oleh Dewi Pencipta. Atributnya adalah «keabadian yang terus ada». Bahkan salah satu kelopak yang melayang itu dapat membelah batu saat tersentuh atau menghancurkan tanah...Seperti yang telah kalian rasakan dengan tubuh kalian sendiri sebelumnya. Apa kau mengerti apa sebenarnya yang kau lawan dengan pedangmu?"

"...Yeah, aku benar-benar mengerti sekarang."

Kirito berbicara dengan cara bicara sopannya telah menghilang.

"Aku mengerti, ini adalah immortal object pertama yang dipasang oleh Dewi Pencipta...Jadi seperti itu, huh. Huh, hal yang datang pada kita menjadi lebih dan lebih menggelikan... bahkan jika begitu, itu tidak seperti aku dapat melanjutkan dengan terpaku."

Kirito perlahan mengayun pedang hitam, yang mungkin jauh lebih rendah tingkatannya dibandingkan dengan Fragrant Olive Sword bahkan jika itu memiliki tipe asal mula yang sama, dengan posisi bagian atas tubuh dan berteriak.

"Jadi sekarang, Integrity Knight Alice...Mari kita mulai lagi pertarungan kita!"

Udara itu bergetar saat swordsman berjubah hitam itu menghentakkan kakinya ke tanah. Dia menyerbu ke depan menuju Alice, yang berdiri di puncak bukit, dengan kecepatan yang membuat itu sulit dipercaya bahwa dia bergerak ke atas bukit.

Tidak peduli bagaimana kuatnya pedang Alice, Kirito pasti berpikir bahwa dia dapat mendapat keuntungan jika dia membawa skill tebasan beruntun dalam pertarungan jarak dekat. Fanatio dapat menahan dengan kecepatan tinggi dari skill tebasan beruntun di pertarungan sebelumnya karena dia telah mempelajari itu melalui keadaaan pribadinya, dia seharusnya adalah pengecualian diantara Integrity Knight.

Saat Kirito dan Eugeo memprediksikannya, Alice patuh mengangkat pedangnya di atas kepala terhadap tebasan bawah Kirito. Dia tidak akan dapat untuk melindungi bagian tengahnya ketika tebasan bawah itu tersambung menuju bagian tengah dengan kecepatannya.

Pedang yang diayunkan oleh Kirito ke bawah berubah menjadi petir hitam dan berhantaman dengan Fragrant Olive Sword, mengeluarkan percikan api putih kebiruan.

Tetapi, itu tidak segera berlanjut menuju serangan kedua seperti teori tersebut.

Setelah semua, dibandingkan dengan bagaimana pedang Alice yang hanya bergerak sedikit, Kirito, seseorang yang menyerang, telah terdorong dengan berat ke belakang seperti dia telah memukul batu besar dengan ranting, menggoyahkan posisinya.

"Uoah..."

Berbalik menuju Kirito yang telah kehilangan keseimbangannya pada permukaan tanah yang miring dan terhuyung dua, tiga langkah, Alice mendekat dengan gerakan kaki yang halus seperti aliran air.

Bahkan saat jari dari tangan kirinya yang terulur sedang menunjuknya. Tubuhnya cukup lebar, pedang emasnya terangkat lurus ke belakang. Itu adalah tradisional style yang tidak dapat dikatakan cocok untuk pertarungan sebenarnya tidak seperti Aincrad style, tapi penampilannya ketika berdampingan dengan rambut pirangnya yang terurai dan roknya yang berkibar sangat indah seperti lukisan yang berbingkai.

"Eeeh!"

Pedang itu membuat lintasan setengah lingkaran saat itu melancarkan serangan bersamaan dengan teriakan keras dan jelas itu. Kecepatannya benar-benar menakutkan. Tapi gerakan itu benar-benar jauh dari terlalu berlebihan.

Setelah memperbaiki posisinya, Kirito memiliki waktu yang cukup untuk menaruh pedangnya pada sisi kirinya.

Gakaan! Dua pedang itu saling berhantaman dengan suara keras.

Seseorang yang berputar seperti gasing sementara terlempar jauh kali ini sekali lagi adalah Kirito. Menahan tangannya pada rumput, dia menghindari dari hampir terjatuh ke bawah sementara meluncur ke bawah menuju dasar bukit itu.

Hingga saat ini, Eugeo, juga, mengerti apa yang telah terjadi di hadapan matanya setidaknya.

Beban dibalik tebasan individual mereka benar-benar berada pada level yang berbeda.

Kirito memiliki pedang hitam, memiliki prioritas yang bisa dibilang paling tinggi diantara hampir semua sacred instrument, dan skill tebasan beruntun dari Aincrad style, yang mengalahkan sejumlah Integrity Knights, tapi Fragrant Olive Sword yang Alice bawa mungkin menyembunyikan beban beberapa kali lebih berat dari pedang hitam di dalam itu sendiri. Itu adalah tugas yang cukup sulit untuk menghentikan serangannya, lupakan menangkisnya, ketika itu diayun dengan kecepatan seperti itu.

Tidak, itu bukanlah menjadi akhirnya. Saat itu menjadi jelas dari pertarungan sebelumnya, Kirito adalah seseorang yang terpukul mundur bahkan ketika dia menyerang. Ini bukanlah suatu pertarungan.

Kirito sepertinya telah menyadari fakta itu dan dengan cepat berdiri, meskipun dia mengambil beberapa langkah menuju ke belakang dengan ekspresi ketakutan. Alice mengejar dia ke belakang seolah-olah dia meluncur.

Pertarungan ini dapat dikatakan menjadi pertarungan pertama Kirito dalam dua tahun yang menjadi pertarungan yang tidak seimbang.

Alice memberikan tebasan demi tebasan dengan gerakan penari. Kirito mencoba yang dia bisa untuk menahannya tapi mendapati sedikit terlempar setiap waktu. Dia pasti memiliki kesempatan untuk menyerang balik jika dia dapat menghindar hanya dengan menggeser tubuhnya, tapi pedang Alice benar-benar cepat dengan arahan yang tepat meskipun ukurannya besar, membuat itu sulit menghindarinya dengan baik.

Menyelesaikan dengan mengucapkan upacara art bahkan sementara gemetar dengan ketakutan, Eugeo mengejar pada mereka berdua yang terus bergerak di sekitar. Dengan suatu hal telah berlanjut hingga sejauh ini, dia tidak memiliki pilihan selain untuk mengaktifkan armament full control art sementara Kirito entah bagaimana menahan serangannya.

Setelah hanya bergantian lima kali menyerang dan bertahan yang tidak membutuhkan waktu lama, Kirito telah terdorong hingga ke dinding barat. Di belakangnya adalah dinding marbel keras dengan semua rute melarikan diri telah terpotong.

Menghunuskan pedangnya pada musuh, yang sekarang terjebak dalam keadaan sulit. Alice berbicara dengan ekspresi menyegarkan.

"Aku mengerti. —Kau adalah orang kedua yang dapat menahan seranganku hingga selama ini. Itu kelihatannya kau telah memanjat menara ini dengan tingkat yang cukup dari ketetapan hati dan keyakinan. Tetapi...Itu semua tidak cukup untuk menjatuhkan gereja. Seperti yang aku pikirkan, aku tidak dapat membiarkan kalian berdua untuk menganggu hukum Dunia Manusia."

Knight emas itu berdiri dengan postur halus yang tidak menunjukkan celah. Dia mungkin dapat dengan sekejap menangani dengan pengaktifan upacara art dari Eugeo, bahkan jika dia berada di belakangnya.

Kirito—katakan sesuatu. Untuk sebentar saja tidak apa-apa, buat dia menurunkan pertahanannya.

Eugeo berdoa dengan semua yang dia punya saat dia berlari, tapi patnernya hanya menyandarkan punggungnya pada dinding marbel, kedua matanya bersinar, dan bahkan tidak berusaha untuk mencoba berbicara satu katapun.

"Jadi baiklah—persiapkan dirimu."

Fragrant Olive Sword telah membuat lintasan busur saat itu mengarah ke langit, terayun vertical.

Keheningan yang singkat.

Menebas melalui udara, cahaya emas itu menyerbu.

Kedua matanya terbuka hingga pada batasnya, Kirito menggerakkan tangan kanannya dengan sangat cepat hingga itu menjadi samar-samar.

Dia tidak menahannya, tapi membiarkan serangan itu berlalu. Pedang itu telah menyentuh tepat pada sudut terendah dan serangan keras Alice yang mengerikan telah dihindari dengan sedikit kesempatan.

Apa yang Fragrant Olive Sword telah tusuk ke dalam dengan hantaman keras adalah—satu cen bagian kiri dari kepala Kirito, dinding marbel yang halus. Beberapa helai rambut hitam yang terpotong tersebar ke udara dan menghilang.

Kirito dengan segera melompat menuju Alice. Dia menjepit tangan kanan knight itu dengan tangan kirinya dan memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya. Dia bahkan tidak pernah gemetar meskipun sekali sampai sekarang, tapi pipi Alice masih merengut seperti waktu sebelumnya.

Sekarang.

"Enhance armament!!"

Eugeo menusuk Blue Rose Sword pada halaman di bawah kakinya dengan teriakan itu.

Sekelilingnya menjadi membeku dengan warna putih dengan sekejap. Gelombang es yang menyebar keluar dengan kekuatan yang bergerak dengan cepat, menelan Kirito dan Alice yang kira-kira sepuluh mel jauhnya.

Tak terhitung sulur es dengan segera menjangkau kaki mereka secara sekaligus. Semuanya menjadi jelas, pengekang biru saat itu melingkar dan mengikat di sekitar mereka berdua yang menghubungkan mereka. Jubah hitam Kirito dan armor putih Alice yang terlihat menjadi tertutup oleh lapisan es yang tebal.

Kirito—Alice, maafkan aku!

Meneriakkan itu di dalam hatinya, Eugeo melanjutkan membuat sulur es. Itu sangat meragukan beberapa jumlah pengekang akan cukup dengan Integrity Knight Alice sebagai targetnya.

Sulur yang melilit pada mereka satu demi satu dengan suara keras yang segera berganti menjadi es yang tebal.

Pilar transparan dengan beberapa lapis, menyerupai biji kristal, berkilauan dengan kedua swordsman dan swordswoman terperangkap di dalamnya.

Semua yang tertahan diluar adalah tangan kanan Alice dan Fragrant Olive Sword yang dipegangnya, tertusuk pada dinding. Ekspresi Alice, menunjukkan sedikit keterkejutan, dan ekspresi Kirito, bersiap untuk mati, yang masih tersisa di dalam es biru itu.

Semuanya akan berakhir dengan menusukkan pisau itu pada tangan itu.

Eugeo melepaskan tangannya dari Blue Rose Sword dan berdiri. Membiarkan pedangnya akan melepaskan full control art, tapi es yang tebal itu seharusnya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk mencair normalnya. Dengan erat menggenggam pisau di sakunya dengan tangan kanannya, dia mengambil satu, dua langkah ke depan—

Dia mengambil langkah ketiga saat cahaya emas itu meledak.

"Ah......"

Pedang Alice, yang tertusuk pada dinding, terpencar menjadi tak terhitung kelopak bunga pada pandangan Eugeo yang ketakutan.

Zaa... Suara yang keras itu bergema saat badai emas dari bunga itu menyelimuti es itu.

Eugeo tidak dapat melakukan apapun selain melihat dengan terpaku saat pedang kecil, berbentuk silang itu berputar seperti tornado, dengan cepat memotong es itu. Life Eugeo kelihatannya akan menghilang jika dia lurus menuju badai itu, bahkan sebelum mengambil satu langkah ke depan.

Memotong es itu, badai bunga itu melayang di udara setelah hanya lapisan tipis yang tersisa.

Es itu hancur dengan suara singkat pada saat itu juga.

Melempar Kirito, yang masih tertahan, menuju Eugeo dengan tangan kirinya, Alice berbicara dengan nada yang tetap tidak berbeda sementara mengibaskan serpiha es yang menempel pada rambutnya.

"—Bukankah kalian berdua meminta pertarungan dengan menggunakan pedang? Itu sedikit cocok sebagai hiburan, tapi...Itu sudah jelas bahwa hanya es saja tidak memiliki kesempatan untuk menahan bungaku. Giliranmu akan datang berikutnya, jadi jangan berlaku semaumu dan cukup tunggu."

Ketika dia dengan ringan mengulurkan tangan kanannya keluar, kelopak bunga yang melayang di sekitar dengan sekejap berkumpul dan kembali menuju pedang aslinya—

"Enhance armament!!"

Kirito adalah seseorang yang berteriak.

Tidak ada yang tahu kapan dia menyelesaikan mengucapkan full control art, tapi untaian kegelapan melesak keluar dari pedang hitam yang digenggam oleh kedua tangannya.

Tujuannya bukanlah Alice itu sendiri—

Itu adalah Fragrant Olive Sword tepat sebelum itu dapat tergabung secara bersamaan.

"Eh...!"

Alice mengeluarkan suara terkejut untuk pertama kalinya.

Tombak kegelapan itu menyebarkan kelopak bunga yang tak terhitung dan membuat mereka dilluar kendali.

Guaaah! Suara gemuruh yang memekakkan telinga saat badai, kegelapan yang hitam pekat dan emas, dengan keras berhantaman. Itu terjalin, serta berputar secara bersamaan, dan menghantam pada dinding marbel di belakang Alice.

"Eugeo——!!"

Teriak Kirito.

Benar, ini pasti, adalah, kesempatan terakhir.

Eugeo menarik pisau dari dadanya dan menghentakkan kakinya ke tanah.

Hanya delapan mel menuju Alice.

Tujuh mel.

Enam mel.

Lalu. Sesuatu yang melebihi perkiraan semua orang terjadi.

Kekuatan abnormal yang dimiliki oleh tombak dengan menggabungkan full control arts dari kedua sacred instruments mengenai dinding Katedral Pusat dan tak terhitung retakan menyebar pada seluruh dindingnya.

Sword Art Online Vol 12 - 315.jpg

Bersamaan dengan suara keras yang kelihatannya bahkan mengguncang Celestial World, dinding marbel besar itu—dinding putih itu, yang terpikir tidak dapat hancur seperti «immortal walls», runtuh.

Batu-batuan itu terlempar keluar dan lubang besar yang tercipta dengan cepat dihadapan matanya.

Eugeo menatap pada langit biru dan kumpulan awan putih yang terlihat dari luar, dengan tertegun.

Tiba-tiba, hembusan angin keras menjatuhkan Eugeo dari belakang dan dia terdorong menuju rumput-rumputan. Udara di dalam menara itu dihisap melalui lubang di dinding itu. Dua orang yang tepat di sekitar lubang itu tidak dapat melakukan apapun selain untuk menahan tekanan udara itu.

Pemandangan dari swordsman berjubah hitam dan knight emas yang terikat denang satu sama lain terlempar keluar menara yang terbakar sendiri dihadapan mata Eugeo.

"Uwaaaaah!!"

Sementara berteriak, Eugeo merangkak menuju lubang di dinding.

Apa yang dapat aku lakukan—membuat tali dengan sacred arts—tidak, aku akan menggunakan es dari Blue Rose Sword untuk menyelamatkan mereka berdua.

Dia tidak diberikan waktu untuk menaruh pemikiran itu menjadi perbuatan.

Batu yang membuat dinding marbel itu yang seharusnya telah terjatuh keluar berkumpul secara bersamaan seolah-olah waktu telah diputar kembali dan mulai untuk bergabung secara bersamaan pada seluruh dinding itu.

Clung, clung, suara keras itu berbunyi setiap kali lubang itu menutup—

"Aaaaaah!!"

Dan dengan rapi tertutup dihadapan mata Eugeo, teriakan keluar darinya sementara dia berlari secepat yang dia, seolah-olah tidak ada apapun yang telah terjadi.

Dia dengan cepat memukul dengan tangannya, dua, tiga kali.

Bahkan setelah kulitnya rusak dan darah menyembur keluar, dinding yang baru itu tetap tidak rusak, tidak menunjukkan satupun tanda-tanda rusak.

"Kirito——!! Alice———!!"

Dinding marbel putih dan terang itu dengan kejam menutupi teriakan Eugeo.

(Alicization Rising Selesai)

Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. nama armor yang dipakai oleh samurai pada jaman dahulu
  2. standby artinya mempersiapkan itu dalam artian di sini artinya sihir atau serangan
  3. Dalam teks Jepang dia menggunakan "atashi" lalu menggantinya menjadi "watashi". "atashi" bisa diartikan jauh lebih kekanak-kanakan dalam memperkenalkan diri sendiri.
  4. Sudah jelas bahwa Darkness Knight yang dimaksud di sini adalah Kirito dan Eugeo
  5. http://en.wikipedia.org/wiki/Lapis_lazuli
  6. Kirito ingin mengatakan elevator

Catatan Pengarang[edit]

Terima kasih banyak sudah membaca Sword Art Online 12, 'Alicization Rising'. Arc Alicization sudah berjalan dengan 'Beginning', 'Running', dan 'Turning', dan sampai pada jilid keempat tanpa saya sadari dan akhirnya sudah bisa dilihat, tapi... rasanya Kirito-san dan Eugeou-san terus-menerus berjalan naik selama ini, ya kan... Yah, seperti yang dilihat, Central Cathedral adalah sebuah gedung berlantai seratus seperti Aincrad, jadi pasti terasa buruk untuk dinaiki, pasti. Mereka seharusnya sudah mencapai lantai tertinggi di jilid selanjutnya, jadi saya akan senang jika kamu bisa menemani mereka sembari mereka menaiki tangganya untuk sedikit lagi!

Tentu saja, judul 'Rising' sudah ditambahkan dengan konotasi dari 'menaiki', tetapi ketika berbicara tentang tangga, rasanya kata yang tepat adalah 'naik' daripada 'bangkit'. Tolong jangan salah mengartikan jika keluar di bahasa suci-mu, atau lebih tepatnya, ujian Bahasa Inggris. naiki tangga berarti 'naiki tangga'!

Jilid ke-1 diterbitkan pada April 2009, juga tanggal rilis jilid ke-12 pada April 2013, yang berarti seri SAO sudah berjalan selama empat tahun penuh. Di dalam ceritanya, jika kita memilih awalnya adalah saat SAO dimulai di November 2022, lalu karena arc Alicization di Juni 2026, setidaknya tiga tahun dan tujuh bulan sudah berlalu, iya tidak.(Lagipula... Kirito sudah menghabiskan dua tahun lagi di Underworld)

Pikiran saya adalah bahwa Kirito, serta juga Asuna dan yang lainnya, sudah berjalan melewati berbagai pengalaman baik di dunia nyata dan dunia virtual dalam jenjang waktu tersebut dan terus berjalan, tapi di sisi lain, pikiran saya kosong total ketika saya berpikir bagaimana saya, sang pengarang, sudah berubah. Apa baik diri saya sendiri dan kondisi hidup saya akibat Administrator-sama!? Mereka benar-benar terus bersama untuk waktu yang sangat lama hingga aku sebaliknya sangat terkejut. Di samping itu, bahkan tidak PC notebook yang aku gunakan untuk menulis telah berubah!! (Cat di keyboardnya telah usang dari seringnya pemakaian, bagaimanapun juga)

Aku ingin tahu jika ini pada dasarnya berarti aku telah menemukan suatu jenis perubahan yang menakutkan dan menyusahkan. Dalam fakta sebenarnya, keinginan untuk beradaptasi dalam lingkungan yang berbeda melebihi keinginanku untuk mengganti PC menjadi baru dan jalur yang aku gunakan untuk mengendarai sepeda setiap minggu terus sama...Tapi aku merasa bagian informasi dari ideku akan berkurang jika aku tidak berhubungan dengan dunia baru dari sekarang, jadi aku berharap untuk membuatnya tahun ini, sebuah tahun dari segala perubahan. Pertama aku akan mendapat PC notebook dengan merk baru...Aku ingin melakukan itu, tapi memindahkan film yang dilindungi itu sangat menyusahkan......

Kepada editor yang bertugas untuk waktu yang lama, Miki dan Tsuchiya-san, dan seseorang yang menggambarkan ilustrasi dengan semangat besar setiap waktu bahkan meskipun dalam jadwal yang sangat padat, dan juga semua pembaca yang selalu menemaniku dalam seri SAO hingga sejauh ini, aku berharap dukungan kalian untuk tahun kelima ini juga!

Hari tertentu di bulan Februari 2013, Kawahara Reki

Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]