Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 7 Bab 8

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 8[edit]

Asuna mengalihkan pandangannya ke kertas yang ada di tangannya dan memeriksa bahwa nama yang ditulis tangan itu ternyata sama dengan nama yang tertera secara horizontal pada sebuah tembok bangunan besar.

Kota Yokohama, prefektur Kanagawa. Bangunan itu terletak di sebuah tempat yang dikelilingi perbukitan yang hijau. Area itu tidak terlihat seperti wilayah metropolitan dengan gedung-gedung yang relatif pendek, desain bangunan bersayap dua, dan suasana sunyi dari perbukitan yang mengelilingi. Namun, perjalanan Asuna hanya memakan waku kurang dari 30 menit dari rumahnya di Setagaya dan menelusur Jalur Ekspres Timur.

Bangunan itu masih baru, dimandikan oleh cahaya matahari musim dingin yang rendah. Temboknya berwarna coklat. Tempat ini benar-benar persis seperti tempatku tidur untuk waktu yang lama, pikir Asuna sambil ia menyimpan kembali catatannya ke dalam kantungnya.

"Apakah kamu di sini, Yuuki…?"

Dia berbisik. Dia ingin bertemu dengannya, tapi ia merasa bahwa pada sisi yang lain, akan lebih baik apabila gadis itu tidak tinggal di sini.

Setelah berkeliling sementara, Asuna menarik kerah mantelnya yang menempel erat pada seragamnya, dan bergegas menuju pintu utama.

Sudah 3 hari sejak hilangnya «Zekken[1]» Yuuki dari Aincrad.

Di momen terakhir, dia mengeluarkan air mata di depan Monumen Pendekar Pedang, dan bahkan sampai sekarang, bayangan itu masih tergambar di mata Asuna. Ia tak bisa melupakannya begitu saja. Bagaimanapun caranya, dia ingin bertemu lagi dengannya, untuk berbincang lagi dengannya. Namun, semua pesan yang ia kirim dibalas dengan «penerima tidak log in», dan tak ada tanda pesan - pesan tersebut dibaca.

Anggota Sleeping Knights mungkin mengetahui di mana keberadaan Yuuki, pikir Asuna. Namun, dua hari yang lalu, di Hotel Lombard di mana biasanya mereka berkumpul, hanya Shiune yang ada di sana. Dia menurunkan bulu matanya yang terkulai dan menggelengkan kepalanya.

"Kami juga tak bisa menghubungi Yuuki. Tidak hanya ALO. Nampaknya dia tak pernah FullDive lagi. Dan kami tidak mengetahui apapun tentang Yuuki di dunia nyata. Dan…"

Shiune terdiam sejenak, dan menatap Asuna dengan tatapan khawatir.

"Asuna-san. Aku rasa, Yuuki tidak ingin bertemu denganmu lagi. Ini bukan tentang yang lain, tetapi ini demi dirimu."

Asuna sangat terhenyak sampai ia tak bisa mengatakan apapun. Setelah berberapa detik, ia akhirnya berhasil mengeluarkan sebuah suara,

"Ke… kenapa? Tidak… Kurasa, Yuuki, Shiune, kalian, kalian tak perlu memutuskan hubungan pertemanan denganku. Jika aku telah menyusahkanmu, aku tak akan mencari tahu tentang hal ini lebih jauh. Tetapi… Aku tak bisa menerima jika ini karena aku."

"Tentang apa yang menyusahkan kami…"

Shiune, yang telah menjaga perasaan tenangnya, memberi ekspresi terluka yang langka sambil ia menggeleng kepalanya dengan keras,

"Kami sangat senang bertemu denganmu. Di dalam dunia ini, kami dapat membuat sebuah kenangan yang sangat indah karenamu, Asuna-san. Membantu melawan boss, dan bahkan berkata bahwa kamu ingin bergabung dengan Guild. Kami tak bisa mengekspresikan terima kasih kami bagaimanapun caranya. Tetapi… Sebenarnya, tolong, lupakan saja tentang kita."

Shiune terdiam sejenak saat ini, dan menggerakkan tangan kirinya untuk menggunakan jendela menu. Sebuah jendela transaksi muncul dihadapan Asuna.

"Ini terlalu dini dari yang aku perkirakan, tapi aku ingin membubarkan Sleeping Knights di sini. Hadiah untukmu ada semuanya di sini, Asuna-san, drop-item dari boss dan perlengkapan kami"

"Tidak… tidak perlu. Aku tak bisa menerima ini."

Asuna menghilangkan jendela tersebut seperti ia sedang menggetarkannya, dan lalu berjalan menuju Shiune.

"Apakah kita benar-benar akan mengucapkan selamat tinggal disini? Aku… Aku senang, bersama dengan Yuuki, Shiune, semuanya. Kukira kita masih bisa menjadi teman walaupun jika Guild dibubarkan. Tapi, apakah hanya aku di sini yang berpikir seperti ini…?"

Di masa lalu, Asuna tidak akan pernah berkata seperti itu. Namun, setelah melewati banyak hari - hari bersama Yuuki dan yang lainnya, Asuna merasa bahwa dia telah berubah sedikit. Karena hal inilah yang membuat Asuna tidak ingin mengucapkan selamat tinggal ke semuanya.

Namun, Shiune menurunkan kepalanya, dan hanya menggelengnya.

"Maaf… maaf, tapi ini untuk yang terbaik. Lebih baik kita berpisah disini… maaf, Asuna-san."

Lalu, Shiune menekan tombol di jendelanya seperti ia ingin lari menjauh, dan logout.

Tidak hanya Yuuki. Shiune, Jun, Nori dan lainya tidak pernah log in lagi ke dalam ALO setelah itu.

Sepertinya Asuna sendiri mungkin keliru dengan berpikir bahwa interaksi yang hanya beberapa hari mampu menjadikan mereka teman. Namun, Sleeping Knights meninggalkan kesan yang dalam dan tak terlupakan di dalam dirinya. Dia sama sekali tidak dapat terpikir untuk melupakan semuanya. Semester ke-3 telah dimulai, tetapi walaupun ia dapat bertemu dengan Kazuto, Rika, dan Keiko di dunia nyata, hati Asuna terasa sangat berat. Saat berpikir tentang itu, di dalam mata dan telinga Asuna, senyuman Yuuki akan terbayang di depannya. Nee-chan, begitulah Yuuki memanggil Asuna. Menyadari hal ini, ia menangis. Bagaimanapun caranya, Asuna ingin mengetahui alasan itu.

Dan kemarin, saat istirahat makan siang, Asuna menerima pesan dari Kazuto yang berisi, [Aku menunggumu di atap].

Di atas atap semen polos yang di mana angin dingin berhembus, Kazuto bersandar pada sebuah pipa tebal yang digunakan untuk sirkulasi udara, menunggu Asuna.

Sudah lebih dari setahun sejak mereka keluar dari SAO, tapi Kazuto di dunia nyata nampaknya tak bertambah berat sedikitpun. Adik perempuannya, Suguha, akan mengatakan kepadanya untuk makan lebih banyak, jadi ia tak perlu mencemaskan tentang nutrisinya. Mungkin kalori yang ia dapatkan sudah terbakar habis dengan kegiatan jogging dan gym, atau mungkin pertempuran yang intens di dunia virtual akan memakan habis kalori dari dunia nyata.

Kancing blazernya terbuka, tangannya diletakan di kantungnya, dan jambangnya yang agak panjang tertiup oleh angin. Pakaian dan tinggi badannya berubah, tetapi Kazuto masih terlihat sama, seperti sewaktu ia masih di Aincrad yang lama. Asuna terlihat seperti ia tertarik ketika ia berjalan menuju Kazuto, dan menyandarkan dahinya ke pundak Kazuto yang sedang menatap ke atas.

Asuna ingin mengungkapkan semua perasaan di hatinya dalam sekali jalan, tetapi ia tidak bisa mengungkapkan dalam kata - kata. Asuna menutup matanya, menahan perasaan sedihnya yang berkumpul di tenggorokannya, dan merasakan kelembutan tangan Kazuto yang menepuk pundaknya. Disaat yang sama, sebuah suara terdengar di telinga Asuna,

"Apa kamu sangat ingin bertemu dengan «Zekken» itu bagaimanapun caranya?"

Kata - kata ini mungkin mewakili semua harapan Asuna. Ya, hanya sekali. Itu karena Asuna percaya bahwa Yuuki berharap untuk hal ini juga.

"Mereka mengatakan kepadamu lebih baik untuk tidak bertemu lagi kan? Walaupun seperti ini?"

Asuna menceritakan semuanya kepada Kazuto, tentang pertempuran melawan bos level 27, perpisahan yang tak terduga setelahnya, dan ucapan Shiune saat mereka terakhir kali bertemu. Pertanyaan ini mungkin ditanyakan setelah ia membuat sebuah kesimpulan dari kata-kata itu. Saat ini, Asuna mengangguk lagi dengan keras.

"Un, walau begitu, Aku ingin. Aku ingin bertemu kembali dengannya untuk berbincang bersama lagi. Aku harus."

"Begitukah?"

Dengan jawaban sederhana, Kazuto menaruh tangannya di pundak Asuna dan mendorongnya sedikit, menarik keluar selembar kertas dari kantung blazernya.

"Mungkin kamu bisa bertemu dengannya jika kamu pergi kesini."

"Eh…?"

"Ini hanya kemungkinan… tapi, kurasa «Zekken» ada disana."

"Bagaimana… Bagaimana kamu bisa mengetahui ini, Kirito-kun…?"

Asuna bertanya saat ia menerima secarik kertas itu yang telah dilipat dua kali. Kazuto memandang langit, dan berbisik,

"Itu karena di situlah satu - satunya tempat tes uji coba «MediCuboid».”

"Medi… Cuboid?"

Saat ia mengulangi istilah yang tak dapat dimengerti dan tak pernah ia dengar sebelumnya, Asuna membuka kertas itu.

Tertulis dengan huruf kecil yang merupakan nama [Rumah Sakit Umum Yokohama Utara] dan alamatnya.


Asuna pergi melalui dua lapis pintu otomatis yang dilap dengan bersih, berjalan melalui pintu masuk lobi yang terang, dan aroma dari sebuah bau disinfektan yang ia ingat melayang di sekitar.

Di sana terdapat ibu - ibu yang membawa anaknya dan orang - orang tua yang duduk di kursi roda. Asuna pergi melewati ruangan yang sepi dan menuju meja resepsionis.

Asuna mengisi nama dan alamatnya di formulir yang terletak pada biliknya, dan berhenti pada saat ia akan mengisi nama dari siapa yang akan ia jenguk. Asuna hanya mengetahui nama Yuuki, dan ia tak tahu apakah itu adalah nama aslinya atau tidak. Dari apa yang ia dengar dari Kazuto, walaupun jika Yuuki berada di sini, sulit untuk mengatakan jika ia bisa memeriksa atau bahkan bertemu dengannya. Tetapi Asuna tak bisa hanya menyerah di sini setelah datang sepanjang jalan kesini. Asuna memutuskan untuk mengambil formulirnya dan menyerahkanya melalui biliknya.

Di sisi lain dari counter itu, suster yang memakai seragam putih itu melihat Asuna mendekat, dan mengangkat mukanya.

"Apakah anda akan menjenguk seseorang?"

Asuna hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menghadapi senyuman dan pertanyaan ini. Asuna menyerahkan formulir permintaan itu yang setengah kosong dan mengatakan

"Errm…aku ingin bertemu dengannya, tapi aku tidak mengetahui namanya ."

"Ya?"

Ketika suster itu menaikkan alisnya dalam keadaan kaget, Asuna dengan putus asa memilih kata-kata.

"Kupikir itu seorang gadis berumur sekitar 15 tahun. Namanya mungkin «Yuuki», kalau aku tidak salah."

"Banyak pasien di sini. Ini sulit untuk saya mengetahuinya jika anda hanya memberitahu itu."

"Errm… Aku mencari orang yang sedang menguji coba «MediCuboid»."

"Untuk kerahasian pasien…"

Pada saat ini, seorang suster senior mengangkat wajahnya dan melihat ke Asuna. Lalu, ia melihat pada suster yang sedang berbicara kepada Asuna, nampaknya membisikan sesuatu.

Suster itu berkedip tentang hal yang dibisikkan itu sebelum menatap Asuna lagi. Ia menggunakan suara yang berbeda, suara yang halus.

"Permisi, boleh saya tahu siapa nama anda?"

"Ah, Aku Yuuki, Asuna."

Asuna menjawab dan memberikan formulirnya. Suster itu menerimanya, melihat padanya, dan lalu memberikannya kepada rekan kerjanya di dalam.

"Boleh saya cek identitas anda?"

"Ok, baiklah."

Asuna langsung mengambil dompetnya keluar dari dalam blazernya dan menarik kartu identitasnya untuk diperlihatkan kepada suster tersebut. Suster itu dengan hati-hati membandingkan wajah pada foto dengan wajah Asuna, menganggukkan kepalanya, memberitahu Asuna untuk menunggu sebentar, dan mengambil telepon di sampingnya.

Ia menggunakan jaringan internal untuk menghubungi seseorang, membisikan 2,3 kata, dan kembali ke Asuna.

"Mohon untuk menemui Dokter Kurahashi di departemen medis kedua. Naik lift yang di sisi depan untuk ke lantai empat, belok kanan, dan tunjukkan ini ke meja resepsionis."

Asuna menerima kartu pelajarnya dan sebuah kartu perak dari nampan yang diberikan, dan menunduk.

Setelah menunggu sekitar 10 menit di bangku lobi tamu lantai 4, Asuna memperhatikan seseorang dengan jubah putih datang menghampiri dengan cepat.

"Yaa, permisi, maafkan saya, maaf telah membuat kamu menunggu."

Seorang dokter laki - laki yang pendek dan sedikit gemuk meminta maaf dengan cara yang aneh dan menganggukkan kepalanya. Ia mungkin masih berumur 30-an, dahi mengkilapnya disisir dengan cara 3-7, dan dia memakai sebuah kacamata tebal.

Asuna segera berdiri dan membungkuk hormat,

"Tidak, tidak apa - apa. Aku datang secara tiba - tiba. Jadi, tidak apa - apa untukku menunggu."

"Tidak tidak, aku tidak dalam tugas di siang hari, jadi ini waktu yang tepat. Lalu, Yuuki Asuna-san, kan?"

Sambil tersenyum ketika ia mempersempit matanya yang sedikit terkulai, dokter itu memiringkan kepalanya sedikit.

"Ya, saya Yuuki."

"Namaku Kurahashi, dokter utama yang merawat Konno-san. Aku tak menduga anda datang kesini untuk menjenguk dia."

"Konno… san?"

"Ehh, nama lengkapnya Konno Yuuki, ditulis sebagai 'Kapas', dan Musim. Aku memanggilnya Yuuki-kun… ia telah menceritakan semuanya tentang anda, Asuna-san. Ah, maaf, kesalahanku. Aku tak sengaja mengatakan hal ini karena Yuuki-kun."

"Tak masalah, panggil saja aku Asuna."

Asuna tersenyum sambil ia menjawab, dan Dokter Kurahashi membalas senyumnya dengan malu - malu sebelum menunjuk tangan kanannya pada lift.

"Kita tak bisa berbicara dengan lancar disini. Mari kita ke ruangan tamu di lantai atas."

Asuna dibawa menuju sebuah ruangan lebar di dalam ruang tamu dan duduk berlawanan dengan dokter. Melalui jendela kaca besar, mereka bisa melihat halaman rumah sakit yang luas dan hijau. Di sana terdapat sedikit sekali orang, dan hanya suara gemerisik dari pengatur udara yang bisa didengar.

Asuna berfikir keraguan apa yang harus dia tanyakan. Namun, Dokter Kurahashi memecah kesunyian lebih dahulu.

"Asuna-san, anda bertemu Yuuki-kun di dalam dunia Virtual Reality, bukan? Apakah dia memberitahumu tentang rumah sakit ini?"

"Ah, tidak… bukan dia…"

"Oh, kalau begitu menakjubkan kamu dapat menemukan tempat ini. Yah, Yuuki-kun pernah mengatakan bahwa akan ada seorang perempuan bernama Yuuki Asuna yang mungkin datang, dan ingin menyambutmu di area resepsionis. Aku sangat terkejut dan menanyakan dia apakah dia menceritakan tentang rumah sakit ini kepadamu, namun ia mengatakan tidak. Jadi aku mengatakan bahwa dia tidak mungkin dapat mengetahui tentang tempat macam ini. Namun, aku benar-benar mendapat sebuah panggilan dari resepsionis, dan aku sangat terkejut."

"Itu… Yuuki-san, apakah ia menyebut diriku ke dokter…?"

Asuna bertanya, dan dokter itu menganggukkan kepalanya dengan keras 2, 3 kali.

"Tentu saja. Selama akhir-akhir ini, dia akan selalu memberitahuku tentang Asuna-san ketika kita berbincang bersama. Namun, Yuuki-kun akan mulai menangis setelah ia bercerita tentangmu. Dia biasanya bukan seorang gadis yang akan memperlihatkan kelemahan dirinya sendiri."

"Eh…ta, tapi kenapa…"

"Dia bilang ia ingin berteman denganmu lebih baik, tetapi tak bisa melakukannya. Dia ingin bertemu denganmu, tetapi mungkin tidak bisa melakukannya. Bukannya… Aku tak bisa mengerti perasaan itu…"

Di saat ini, Dokter Kurahashi mengeluarkan ekspresi sedih yang langka. Asuna mengambil nafas yang dalam dan memutuskan untuk bertanya,

"Yuuki-san itu, dan teman - temannya semua mengatakan hal ini ketika mereka mengucapkan sampai jumpa di dunia VR. Mengapa? Mengapa kita «tak bisa bertemu lagi»?"

Ketakutan yang dimulai di saat Asuna melihat nama dari rumah sakit terus meluas, dan mencoba sekuat mungkin untuk menghilangkan kegelisahannya ini dengan menyandarkan tubuhnya ke depan. Dokter Kurahashi terhenyak tak bisa mengeluarkan kata - kata untuk berberapa saat, mengalihkan pandangannya menuju tangannya yang terlipat bersama diatas meja, dan lalu dengan tenang menjawab,

"Kalau begitu, mari saya mulai menjelaskan hal - hal dari «Medicuboid». Asuna-san, kamu seorang pengguna AmuSphere juga, benar?"

"Eh… ehhh, yaa."

Dokter muda itu menganggukkan kepalanya, mengangkat wajahnya, dan mengatakan sesuatu yang benar - benar tak diduga,

"Ini mungkin aneh untuk mengatakan kata - kata seperti ini kepadamu, namun aku merasa bahwa adalah suatu penyesalan ketika teknologi FullDive pertamanya digunakan untuk media hiburan."

"Eh…?"

"Penelitian dari teknologi itu seharusnya dibiayai oleh pemerintah untuk pengobatan. Karena hal itu, keadaan sekarang bisa dilanjutkan untuk 1, tidak, 2 tahun."

Asuna merasa aneh tentang perubahan arah perbincangan yang tak terduga, dan dokter itu menaikkan satu jari.

"Mohon berpikir tentang ini. Suasana yang dibawa oleh AmuSphere akan menjadi fungsi yang efektif di dalam bidang medis. Sebagai contoh, mesin itu bisa menjadi suatu berkah untuk orang yang buta ataupun tuli. Orang-orang yang mengalami disfungsi otak sayangnya dikecualikan, tapi walaupun jika bola mata ataupun syaraf penglihatan tidak normal, gambaran itu bisa dimasukan secara langsung ke otak jika AmuSphere digunakan. Situasinya sama dengan pendengaran. Bahkan mereka yang belum mengetahui tentang cahaya ataupun suara ketika mereka tumbuh bisa menggunakan mesin itu untuk berinteraksi dengan pemandangan yang nyata."

Asuna hanya bisa menganggukkan kepalanya saat Dokter Kurahashi mengatakan hal itu dengan antusias. Berbagai penggunaan AmuSphere di bidang itu bukanlah hal baru. Suatu hari, headgear itu bisa menjadi lebih kecil, dan dengan spesialis kombinasi lensa, mereka yang buta dapat hidup seperti orang yang melihat dengan normal.

"Juga, apa yang berguna bukanlah hanya fakta bahwa itu bisa mengirimkan sinyal, tetapi AmuSphere itu mempunyai fungsi untuk membatalkan rangsangan."

Dokter itu menggunakan jarinya untuk menekan lehernya.

"Sinyal elektromagnetik yang dikirim ke sini akan mematikan otot sementara. Dalam arti lain, hal itu akan memiliki efek yang mirip seperti kelumpuhan total. Sebagai contoh, anestetik. Bahkan jika digunakan, ada risiko yang kecil tetapi sangat jarang. Jika kita menggunakan AmuSphere dalam operasi, kita bisa menghindari penggunaan anestetik. Itulah yang aku pikirkan."

Asuna sudah tertarik dengan apa yang dikatakan dokter. Dia mengaggukkan kepalanya, tapi tiba - tiba ia menyadari sesuatu. Meskipun itu rasanya seperti pamer di depan seorang ahli, dia masih membisikkan keraguannya.

"…Tapi, itu tidak bisa bekerja, benar? Kemampuan interferensi AmuSphere hanya bisa membatasi indra ke minimum untuk memperkecil rasa sakit ketika pisau bedah dimasukkan ke dalam tubuh. Kupikir AmuSphere, ataupun mesin generasi pertama—Nerve Gear tak bisa melakukan itu… bahkan jika medulla dihalangi, syaraf-syaraf di dalam masih tetap aktif, jadi syaraf spinal[2] masih aktif, benar…?"

"Ya… itu benar."

Dokter Kurahashi awalnya membesarkan matanya karena kaget, dan langsung mengangguk berberapa kali, sehingga sepertinya Asuna telah tepat mengenai sasaran.

"Ini sama seperti yang kamu bilang. Impuls sinyal elektromagnetik AmuSphere lebih lemah, CPU-nya hemat tenaga, dimana akan menyebabkan beberapa masalah dengan kecepatan proses karena itu tidak cukup kuat. Ini mungkin untuk dive asli ke dalam dunia VR, tetapi spesifikasinya akan menjadi tidak efisien ketika sampai ke pencocokan lensa di dunia nyata, ke dalam apa yang disebut «Alternate Reality[3]». Dengan demikian, alat FullDive medis pertama di dunia yang dikembangkan pada tingkat negara dengan nama — «MediCuboid»."

"MediCu… boid."

Istilah ini kemungkinan besar menggabungkan istilah Medical dan Cuboid[4]. Asuna mencerna istilah ini di mulutnya, dan dokter itu tersenyum sebelum menjelaskan,

"Itu hanya nama populernya. Hal yang terpenting itu adalah memperkuat tenaga output dari AmuSphere, meningkatkan ketebalan dari partikel-partikel beberapa kali lipat, meningkatkan proses output dan terintegrasi dengan kasur, dari kepala menuju susunan syaraf spinal. Alat itu terlihat seperti kotak putih… Jika ini bisa digunakan, dengan banyaknya peralatan di rumah sakit, maka akan ada perubahan besar dalam pengobatan. Kebanyakan operasi tidak akan memerlukan anestetik lagi, dan adalah mungkin untuk berbicara dengan pasien didalam keadaan «Locked-in[5] state»."

"Locked-in…?"

"Ini adalah sebuah kondisi yang diketahui sebagai Locked-in Syndrome, kondisi dimana walaupun proses pemikiran otak tetap normal, badannya lumpuh pada kontrolnya terhadap bagian-bagian tubuh, dan pasien tidak dapat mengekspresikan pikirannya. Jika kita menggunakan MediCuboid, kita bisa tesambung secara langsung ke dalam otak, dan walaupun jika badannya tidak bergerak, mungkin untuk kembali ke lingkungan masyarakat melalui dunia VR."

"Aku mengerti… dalam arti lain, dibandingkan dengan AmuSphere yang hanya digunakan untuk bermain game VR, ini benar-benar sebuah mesin mimpi dalam artian sebenarnya, bukan?"

Asuna secara tidak sengaja mengangguk. Namun, Dokter Kurahashi, yang terlihat seperti ia sedang menceritakan mimpi, segera menutup bibirnya, seperti telah ditarik kembali ke realita. Ekspresinya menggelap sedikit, dan ia lalu melepas kacamatanya, menutup matanya, dan menghembus nafas panjang.

Lalu, ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum dalam cara yang agak sedih.

"Ehh, itu memang adalah sebuah mesin mimpi. Namun… sebuah mesin juga mempunyai batasan - batasannya sendiri. Keadaan yang paling diantisipasi dalam penggunaan MediCuboid… adalah «Terminal Care[6]»."

"Terminal care…"

Asuna mengulang istilah inggris yang belum pernah ia dengar itu seperti sebuah burung beo, dan dokter itu menjelaskan dengan diam, "Dalam kanji… kata itu ditulis sebagai 'Perawatan Sekarat[7]'."

Kata - kata tertuang pada Asuna seperti air dingin. Dia melebarkan matanya dan tak bisa berkata apa-apa. Dokter Kurahashi memakai kacamatanya dan menunjukkan sebuah pandangan nyaman, mengatakan,

"Kamu mungkin merasa bahwa akan lebih baik berhenti di sini jika kita mempertimbangkan hal - hal kemudian. Tak ada orang yang akan menyalahkanmu walaupun jika kamu memilih keputusan itu. Walau itu Yuuki-kun atau teman - temannya, mereka semua berpikir tentangmu."

Namun, Asuna tidak pernah ragu. Tak peduli kejujuran apapun yang akan diceritakan kepadanya, dia ingin menghadapinya secara tatap muka, dan ia percaya bahwa ia harus melakukan itu. Asuna mengangkat wajahnya dan berbicara dengan jelas,

"Tidak… mohon lanjutkan. Tolong. Aku datang kesini untuk ini."

"Begitukah?"

Dokter Kurahashi tersenyum lagi, dan menganggukkan kepalanya,

"Yuuki-kun pernah mengatakan jika Asuna-san mau, aku akan menjelaskan semua kepadanya. Ruang rawat Yuuki-kun berada di tingkat tertinggi ruangan pusat. Itu akan menjadi cukup jauh, jadi mari kita berbincang sambil menuju ke sana."

Dokter itu berjalan keluar dari ruang tamu menuju lift. Asuna mengikutinya dari belakang, dan pikirannya berlanjut memikirkan istilah yang sama.

Terminal. Arti dari istilah ini tidak bisa lebih jelas lagi. Namun, dia terus menolak pemikirannya sendiri. Hal itu tidak bisa seperti itu. Meskipun jika dia harus menyatakan hal itu, Dokter Kurahashi tak perlu menggunakan istilah langsung seperti itu.

Fakta polos satu - satunya adalah kebenaran yang akan ditunjukan nantinya. Asuna harus menerima itu secara langsung. Itu karena Yuuki percaya bahwa Asuna bisa melakukan ini dan memperbolehkan Asuna untuk melihat realitanya.

Di sana terdapat tiga lift berbaris di lobi gedung utama, dan yang di paling kiri terdapat tanda «Staff Only[8]» pada pintunya. Dokter itu menggunakan kartu yang tergantung di lehernya dan menggesekkannya ke panel di sampingnya, dan sebuah suara *beep* yang tenang terdengar bersama dengan pintu kanan yang bergeser.

Keduanya memasuki kotak putih, dan lift mulai naik dengan suara dan gerakan yang tak bisa dideteksi.

"Pernahkah kamu mendengar istilah «Window Period[9]»?"

Dokter Kurahashi tiba - tiba bertanya, dan Asuna mulai mencari di dalam ingatanya.

"Aku ingat… kelas kesehatan pernah mengajarkan itu sebelumnya. Ini ada hubungannya dengan infeksi… virus, kan?"

"Ya. Sebagai contoh, jika seseorang diduga terinfeksi oleh suatu virus, maka akan dilakukan tes darah. Metode - metode tes tersebut yaitu sebagai berikut. «Antigen test» merupakan tes antibodi terhadap virus pada darah, dan yang lebih sensitif «NAT check»[10] yang menggunakan DNA[11] dan RNA[12] dari virus sebagai bagian dari investigasi. Namun, bahkan ketika menggunakan pengecekan NAT, Ini tak mungkin untuk mendeteksi virus setelah infeksi selama 10 hari atau lebih. Periode ini disebut «Window Period»."

Dokter itu berhenti sekarang. Dan, ketika perasaan deakselerasi sedikit terasa, pintu lift terbuka bersamaan dengan bunyi bel.

Tingkat teratas, tingkat 12 terlihat terlarang untuk orang asing dikarenakan terdapat sebuah gerbang besar di depan mereka ketika keluar dari lift. Dokter itu kembali meletakkan kartunya di sensor sebelah pintu, dan sebuah suara elektronik yang lembut berbunyi. Jeruji besi semua terbuka, dengan dokter Kurahashi melambaikan tangannya untuk memanggil, Asuna bergegas menuju melewati pintu.

Tak seperti tingkat - tingkat dibawahnya, tingkat ini kelihatanya tak memiliki jendela. Panel putih halus membentang kedepan, dan terdapat pertigaan di depannya, ke kiri dan ke kanan.

Dokter Kurahashi, yang berjalan di depan Asuna lagi, mengarah ke kiri. Jalan anorganik yang penuh dengan kehangatan dan cahaya putih terus memanjang ke depan. Mereka melewati berberapa suster, dan keramaian dari luar tak bisa didengar sama sekali.

"—Karena «Window Period» itu, sesuatu pasti telah terjadi."

Tanpa sadar, dokter itu berkata lagi dengan suara yang tenang,

"Itu merupakan kontaminasi dari darah yang didonasikan. Tentu saja, kemungkinannya adalah kecil. Kemungkinanya hanya 1 per 100,000 untuk kontaminasi melalui transfusi darah. Namun, tidak mungkin di ilmu pengetahuan modern untuk menurunkan nilai tersebut menjadi nol."

Dia menghembuskan nafas.. Asuna bahkan merasakan sebuah kemarahan yang samar dan keputusasaan dari dirinya.

"Yuuki-kun lahir pada Mei 2011. Akibat distosia[13], Sebuah operasi sesar[14] dilakukan sesuai dengan kebutuhan tersebut. Pada saat itu… kami tak bisa mengkonfirmasi itu, namun sebuah kesalahan menyebabkan pendarahan dalam jumlah yang banyak, jadi transfusi darah darurat dilaksanakan. Darah yang digunakan, sayangnya, terkontaminasi."

"…!"

Asuna tak bisa mengatakan sepatah katapun. Dokter Kurahashi memandang Asuna sekilas, dan segera melihat ke bawah sebelum melanjutkan,

"Sampai sekarang, kita tidak mengerti bagaimana hal itu terjadi. Namun, ada kemungkinan bahwa sepertinya Yuuki terinfeksi sejak dia lahir. Ayahnya terinfeksi dalam bulan itu. Infeksi virus itu telah dikonfirmasi selama September, dengan pengecekan darah lanjutan yang dilakukan setelah transfusi darah. Pada saat itu… satu keluarga itu sudah…"

Dokter itu menghela nafas dengan berat dan berhenti.

Di sana ada sebuah pintu geser di sisi kanan jalur, dan sebuah panel baja terletak di sebelah nya. Pada panel itu tertulis kata - kata [Ruangan Desain Mesin Model Pertama] tertulis padanya.

Dokter itu mengambil kartunya dan menggeseknya di panel. Suara elektronik berbunyi, dan dengan sekejap, pintu terbuka.

Merasa bahwa hatinya sedang terikat dengan ketat dan menyakitkan, Asuna mengikuti Dokter Kurahashi melalui pintu. Di dalam, ada sebuah ruangan yang panjang dan sempit secara anehnya.

Tembok yang menghadap mereka mempunyai pintu yang mirip dengan salah satu yang mereka baru saja lalui, dan ada panel kontrol di bagian kanan yang memiliki banyak alat. Tembok di bagian kiri mempunyai jendela kaca yang besar, tapi kacanya diwarnai hitam, jadi itu mustahil untuk melihat ke dalam.

"Di depan kita adalah sebuah ruangan steril dengan pengontrol udara. Mohon memaklumi bahwa kita tidak boleh masuk."

Sesuai apa yang ia katakan, Dokter Kurahashi berjalan ke arah jendela hitam dan mengoperasikan panel di bawahnya. Dengan sedikit gemuruh di sekitar, warna jendela berubah menjadi lebih terang, dan menjadi transparan, memperlihatkan isinya.

Itu sebuah ruangan kecil. Tidak, itu sebenarnya cukup besar. Sepintas, itu terlihat seperti ruangan yang dipenuhi oleh berbagai macam mesin - mesin. Ada yang tinggi dan pendek, berbentuk persegi sederhana bercampur dengan bentuk yang rumit. Karena itu, memerlukan banyak waktu untuk Asuna menyadari bahwa ada kasur di tengah ruangan.

Asuna memaksa wajahnya melihat ke arah kaca dan melihat kasur itu.

Ada sebuah tubuh kecil yang terlihat setengah tertidur di kasur. Selimut putih menutupinya sampai dadanya, dan dia dapat melihat bahu kurus telanjang yang terlihat sangat menyedihkan. Pada tenggorokan dan bahunya terdapat berbagai jenis pipa terhubung padanya, yang tersambung ke mesin terdekat.

Itu mustahil untuk melihat wajah pemilik kasur itu secara langsung karena ditutupi benda berbentuk kubus warna putih, terintegrasi ke kasur, yang hampir menelan seluruh kepalanya. Apa yang dapat dilihatnya adalah bibir kecil yang hampir transparan dan dagu yang tajam. Sebuah layar di pasang di samping benda kubus ke arah mereka, dan indikator - indikator dalam segala macam warna berdenyut di dalamnya. Di atasnya, terdapat kata [MediCuboid] yang terlihat, tergambar sebagai sebuah logo polos.

"…Yuuki…?"

Asuna menggunakan suaranya yang bergetar untuk bergumam. Dia akhirnya di sana, dengan Yuuki di dalam dunia nyata. Tetapi, beberapa meter terakhir ternyata terhalang oleh kaca tebal yang tidak mungkin dapat dilalui apapun caranya.

Dengan punggungnya menghadap dokter, Asuna berbicara,

"Dokter… sebenarnya apa penyakit Yuuki…?"

Jawabannya adalah singkat tapi juga berat,

"«Acquired Immunity Deficiency Syndrome»… AIDS[15]."


Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. Pedang Absolut
  2. Spinal Cord, syaraf spinal merupakan syaraf yang berada di sumsum tulang belakang, berfungsi sebagai pusat gerak refleks (tidak sadar). Contoh: lutut digetok, kaki akan reflek menendang
  3. Alternative Reality, Realitas Maya, Realitas Alternatif
  4. Medis dan Kubus
  5. Locked-in Syndrome
  6. Terminal illness, simpelnya, perawatan untuk orang yang mendekati ajal
  7. End of Life Care
  8. Hanya Staff
  9. Window Period, pemeriksaan untuk mendeteksi infeksi terntentu
  10. Nucleic-acid test
  11. DNA
  12. RNA
  13. Dystosia, Distosia, kelainan saat persalinan
  14. Bedah Sesar
  15. AIDS

Guided by Ivan012345, thanks to Ivan012345.