Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 6 Bab 9

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 9[edit]

Sekarang aku berada di daerah paling utara ibukota GGO itu, «SBC Gurroken», di sudut dekat menara presidensial.

Di bawah langit senja, kulihat lampu neon yang terus bergerak menuju keramaian. Diatasnya tampak sebuah iklan perusahaan. Jika ini ALO,beberapa player mungkin akan mengeluh bahwa ini ‘mengganggu’ penglihatan mereka, tapi penampilan menyedihkan ini cocok dengan tema kota gurun futuristic dan tentu saja yang paling mencolok dari 3 iklan disana ialah turnamen «Bullet of Bullets». Tubuhku mulai gemetar saat aku melihat kata-kata merah cerah. Tentu saja, ini bukan karena takut, tapi karena semangat-atau setidaknya aku berharap dapat mempercayainya.

Aku menghela napas dan berbalik, dan menyibak rambut hitam di pundakku. Sepertinya rambut itu kembali berada di pundakku, aku merasa menyesal melakukannya, tapi aku berhasil meyakinkan diri bahwa pada akhirnya, ini adalah bukti bahwa aku sudah siap untuk menggunakan avatar ini.

Aku memutuskan untuk melanjutkan pendaftaran ke di turnamen dan kemudian sedikit menjauh dari vila presidensil , tapi ada beberapa orang menatapku dari kedua sisi jalan. Entah mengapa aku merasa tidak tahan lagi. Aku ingin menatap mereka balik, tetapi aku memutuskan untuk tidak melakukannya pada akhirnya.

Sebenarnya, mereka tidak benar-benar memperhatikan aku. Hanya saja avatar ku di sini tampak seperti seorang gadis cantik pada jaman sekarang. Jika kami bertukar posisi, mungkin aku akan melihatnya juga.

Biasanya, mereka tidak hanya menatapku, kadang-kadang dua atau tiga pemain datang untuk berbicara denganku. Namun, orang-orang akan segera menjaga jarak mereka setelah mereka melihatku mendekat. Aku kira alasannya adalah karena semua orang melihatku bertarung seperti pengamuk dengan Photon Sword dan menyerang musuh kemarin selama penyisihan dari BoB.

Turnamen hanya mengungkapkan nama dan jumlah peserta yang berpartisipasi di turnamen dari data peserta, dan «Kirito» adalah nama netral. Itulah mengapa semua orang di GGO merasa bahwa aku adalah «seorang gadis yang juga seorang psikopat, pembunuh buas yang sengaja memilih untuk mengayunkan pedang, bukannya pistol».

Aku tidak benar-benar ingin dianggap sebagai orang yang seperti itu, tetapi kesalahpahaman itu akan sia-sia jika aku bisa membiarkan pemain lain di final BoB ragu. Selain itu, tujuanku bukan untuk menang, tapi untuk bertemu orang yang berjubah itu -«Death Gun».

«Death Gun», nama itu tidak ada di antara 30 finalis, tetapi dia pasti berpartisipasi di final. Jika tujuannya adalah untuk memamerkan kekuasaannya di dunia GGO, BoB akan menjadi panggung terbaik agar semua orang bisa menyaksikannya . Death Gun itu nama aslinya meskipun itu terdengar aneh, seharusnya merupakan nama dari karakter lain dalam sistem.

Pertama, aku harus menemukan namanya, dan kemudian berbicara dengannya lagi di turnamen. Setelah aku mengetahui nama yang digunakan di SAO, aku dapat menggunakan informasi tersebut untuk mengetahui namanya di dunia nyata. Kikuoka Seijirou mengatakan bahwa ia dapat mengakses data akun pemain yang telah menjadi rahasia. Setelah kita mengenal nama asli orang itu, kita harus bisa mencari tahu apakah ia benar-benar membunuh «Zexceed» dan «Usujio Tarako», tidak, jika ia benar-benar bisa membunuh.

Namun, selama proses ini, aku harus mengingat kejahatan di masa laluku.

Rasa takut ini masih belum hilang.

Tapi ini adalah emosi yang diperlukan untuk mencegah diriku melarikan diri dan melupakannya. Aku mengepalkan kedua tanganku, menginjak keras di tanah dengan sepatu tempurku, dan menuju ke menara besar dari Presidensial Estate yang berada di depanku.

Sebagai turnamen melawan orang lain, aku akan merasa senang selama berada di ALO, dan bahkan selama SAO.

Tanpa diduga meskipun, aku mengikuti turnamen ini dengan rasa takut.

Sepertinya aku menunjukan senyum wajah depresi, aku menaiki tangga lebar yang mengarah ke menara, dan melihat syal berwarna familiar melambai di lorong pintu masuk di depanku.

Bahkan tanpa melihat rambut pendek biru dan kaki panjang yang memanjang dari bawah jaket, aku tahu bahwa itu adalah avatar lawan terakhirku di babak penyisihan kemarin-penembak jitu «Sinon». Dia adalah satu-satunya orang aku tahu di GGO, tapi aku masih ragu apa aku harus berjalan ke depan untuk menyapanya.

Sepertinya aku dengan cepat kehilangan beberapa moment yang telah aku gali sejak berada di dunia ini kemarin , aku harus menguatkan diri dan meminta Sinon, dan hanya bertemu, dan pada saat itu, aku tidak segera menyadari bahwa ia mengira aku sebagai pemain wanita karena penampilanku dan entah bagaimana akhirnya aku berperilaku sebagai «seorang gadis pemula yang tidak tahu apa yang harus dilakukan pada semua». Selain memintanya untuk menjelaskan mekanisme permainan dan membantuku untuk memilih equipmentku, aku bahkan pergi ke ruang ganti bersamanya dan menyaksikan avatarnya hanya mengenakan pakaian dalamnya di rest area.

Tidak- bukan itu saja.

Saat turnamen, aku tiba-tiba bertemu player «Death Gun» dan dia mendekatiku. Aku tahu dia «selamat dari SAO» dan juga anggota dari guild merah «Laughin Coffin», yang benar-benar mengejutkanku. Dengan demikian, dalam final melawan Sinon setelah itu, aku hampir menyerah. Pada dasarnya, aku lemah selama awal pertempuran, aku berharap Sinon menembakku pada fatal round sehingga aku bisa kalah dalam battle.

Namun, Sinon tidak melakukan hal tersebut.

Dia menembak 6 kali yang menimbulkan percikan berwarna putih kebiruan karena marah, lalu membuang kesempatannya, dan menghampiriku dan berteriak.

Dia mengatakan, berhenti bersikap seperti itu, aku harus mati sendiri jika aku ingin, dan mengatakan bahwa itu hak ku untuk berpikir bahwa ini hanya pertandingan dalam permainan, tapi aku tidak perlu memaksakan kehendakku pada orang lain.

Sejujurnya, kata-kata ini sangat menyakitkan.

Sebenarnya, aku mengatakan hal yang sama kepada orang lain beberapa waktu yang lalu. Hal itu terjadi empat tahun lalu. Pada waktu itu, aku hanya dipromosikan saat tahun kedua sekolah menengah, dan sangat beruntung, atau lebih tepatnya, beruntung untuk dipilih sebagai pemain dari «Sword Art Online Beta Tester», dan sehari-hari, aku dive ke dalam hal yang aku tidak sadari bahwa itu permainan kematian, kota terapung Aincrad sampai keesokan paginya.

Ini benar-benar sedikit memalukan bagiku untuk mengatakannya , tetapi «Kirito» yang kemudian menjadi seorang prajurit legendaris yang tidak akan berinteraksi dengan orang-orang kembali kemudian dibandingkan dengan sekarang meskipun aku menjadi sedikit terkenal karena berada di antara bagian atas dalam PvP event, jadi aku tidak punya orang yang bisa kuhubungi dalam permainan. Namun, di antara orang-orang yang aku tahu, masih ada beberapa pemain yang aku pikir bahwa aku bisa berteman dengan mereka. Salah satunya adalah berwatak halus, swordsman berambut teh aku sering bertemu dengannya di acara duel. Dia terampil dalam menggunakan pedang satu tangan.

Orang ini sering bertarung dengan logika yang bagus dan indera yang tajam, dan aku selalu berharap untuk bertemu dengannya di final turnamen. Aku diam-diam berharap melawan dia di final, tetapi ketika tahap itu akhirnya tiba-aku menerima kejutan besar. Pada saat-saat terakhir dari pertempuran hebat ini, ia sengaja berpikir bahwa ia harus mampu menghindari. Aku menduga bahwa dia sengaja kalah untuk memperoleh uang dari perjudian, dan pada dasarnya aku mengecam dia dengan kata-kata yang Sinon ucapkan padaku.

Aku diomeli sebagaimana aku memarahi orang itu, selama tahap akhir dari turnamen BoB, jadi aku tulus meminta maaf kepada Sinon. Meskipun kita berhadapan dengan orang lain, itu seharusnya sulit bagi Sinon untuk menerimanya. Tidak peduli walau dia penembak jitu, dan senjata terbesarnya adalah untuk menembak jarak jauh dan dia yakin dapat membunuh dengan pelurunya. Selama pertempuran turnamen hari ini, aku kira dia akan mencoba untuk menembak peluru balas dendam yang mengarah tepat diantara dahiku.

Karena alasan yang disebutkan di atas- atau lebih tepatnya, karena aku penyebab semuanya, aku ragu apakah aku harus menyapa Sinon, yang berada beberapa langkah di depanku.

Tapi setelah beberapa detik, aku menepis keraguanku dan mengambil langkah-langkah besar menaiki tangga sebelum memanggilnya dengan namanya. "Yo, Sinon, tolong bimbing aku hari ini juga."

Syal miliknya yang tampak seperti ekor yang berhenti, dan rambut aqua blue tampak seperti kucing yang menunjuk ke atas. Gadis sniper yang berputar dengan kaki kanan sebagai sumbu nya memberikan ekspresi jengkel yang menunjukkan bahwa dia sangat membenciku, dan kemudian dengan dingin berkata. "... Tolong bimbing aku. Apa yang kamu maksud dengan itu?"

Kemarahan di mata birunya membuat aku segera menyesalinya, tapi aku tidak memanggilnya hanya untuk sia-sia. Ini akan menjadi buruk jika aku mengatakan sesuatu yang salah dan membuatnya mengabaikanku. Jadi, aku berkata dengan ekspresi agak serius, "Tentu saja ... Aku berharap kita berdua bisa bertarung dengan semua yang kita punya."

"Berhentilah bersikap menjijikkan."

- Sepertinya aku melakukan kesalahan fatal. Namun, aku tidak menyerah karena aku melanjutkan, "Omong-omong, mengapa kamu login begitu cepat? Masih ada 3 jam sebelum turnamen. "

"Bukankah itu karena seseorang tertentu menyebabkanku hampir kehilangan pendaftaran kemarin."

Sinon melihat jauh dan menggerutu sebelum melirik padaku, yang membuatku keringat dingin. "... Omong-omong, kamu tidak masuk sekarang juga? Kenapa kamu bicara seperti aku orang yang tidak ada hubungannya? "

"La-Lalu, mari kita gunakan waktu ini dengan efektif! Bagaimana kalau kita minum sebelum pertempuran dimulai ... tidak, pertukaran informasi ... "

Aku benar-benar tidak berani mengatakan ini dengan seseorang yang nyata di dunia nyata. Tidak, mengingat aku sudah punya pacar yaitu Asuna, itu tidak dapat dimaafkan bahkan di dunia maya. Namun, aku berani bersumpah kepada Tuhan bahwa ini bukan tentang mencoba untuk meluangkan waktu di dunia VR, namun untuk memenuhi tugas dan misiku, dan juga langkah yang diperlukan untuk memastikan keselamatan diri Sinon.

- Pada akhirnya, Sinon sepertinya dia tidak menyadari kesulitanku seperti saat dia memelototiku selama beberapa detik sebelum menghela nafas dan mengangguk-angguk dengan tindakan minimal. "Baiklah kalau begitu, aku akan menjadi orang yang memberitahumu semua informasi lagi."

"Ii, Yah... Itu bukan berarti aku tidak mau..."

Aku berhasil bergumam dengan samar-samar dan harus berlari untuk tetap dengan Sinon, yang berjalan jauh di depanku.


Setelah menyelesaikan pendaftaran kami di aula presidensial estate melalui mesin yang ada disana, Sinon membawaku ke daerah bawah tanah yang besar yang luas. Seperti lampu yang diredupkan seminimal mungkin diseluruh tempat, aku hampir tidak bisa melihat wajah para pemain yang berkumpul di meja yang berbeda. Beberapa layar panel monitor besar di langit-langit yang mempesona dengan warna aslinya.

Sinon masuk ke tempat yang jauh ke dalam dan kemudian melihat menu yang ditampilkan sebuah mesin minuman. Dia kemudian menekan tombol kecil di samping label es kopi. Segera, ia membuka lubangnya , dan gelas yang diisi dengan cairan hitam muncul dari dalam. Dibandingkan dengan harus memesan makanan kita dengan NPC dan menunggu mereka untuk melayani di Aincrad, metode ini agak sederhana, tetapi juga tidak sesuai dengan atmosfer permainan GGO.

Aku menekan tombol untuk ginger ale dan meraih gelas yang muncul sebelum meneguk setengahnya. Sambil menunggu haus yang menghilang dari tenggorokanku, aku memutuskan untuk memulai pembicaraan. "... Battle royale final menempatkan 30 pemain di peta yang sama, dan memulai tembak-menembak sekali kita bertemu lawan, dan pemenangnya adalah orang yang bertahan sampai akhir ... apakah aku benar?"

Pada akhirnya, Sinon memelototiku melalui kaca kopi, dan berkata, "Lihat, kamu berniat untuk membiarkanku menjelaskannya, kan? Omong-omong, informasi ini ditulis pada e-mail perusahaan pengoperasian dan dikirim ke peserta. "

"Aku-aku melihatnya ..."

Sebenarnya, aku melihat-lihatnya sebentar tadi. Aku ingin membaca spesifik setelah login ke dalam permainan, tapi sebelum itu, aku bertemu Sinon yang veteran, jadi aku kira itu akan lebih cepat baginya untuk mengajarkanku secara langsung ... Aku tidak akan berani mengatakannya, jadi aku hanya berpura-pura batuk untuk melanjutkan. "Yah ... Aku hanya ingin memeriksa apakah ada sesuatu yang salah dengan pemahamanku ..."

"Kamu benar-benar berani untuk mengatakannya."

Bahwa suara yang sangat dingin miliknya menyebabkan hatiku membeku setengahnya. Untungnya, Sinon menempatkan kembali gelas di meja dan dengan cepat mulai menjelaskan aturan ronde ini. "... Pada dasarnya, itu seperti apa yang kamu katakan, babak final benar-benar diadakan dengan semua 30 pemain bertarung satu sama lain pada peta yang sama. Posisi awal yang acak, tapi setiap pemain akan setidaknya berjarak 1.000m dari satu sama lain, sehingga tidak akan ada kasus musuh muncul tepat di depanmu tiba-tiba. "

"1 ... 1.000 meter? Itu berarti bahwa peta ini cukup besar ...? "

Aku tidak bisa membantu tetapi itu mengganggu, dan laser-seperti mata biru menembak ke arahku. "Apakah kamu benar-benar melihat e-mailnya? Hal ini ditulis dalam paragraf pertama .. Peta babak final adalah lingkaran dengan diameter 10 km. Ini memiliki bukit, hutan dan padang pasir, sehingga tak seorang pun akan memiliki peralatan atau kemampuan yang unggul. "

"10-10km!? Itu benar-benar besar ... "

Ini seperti ukuran lantai pertama Aincrad kota terapung. Namun, itu berarti bahwa di daerah yang cukup besar ini bahkan untuk 10.000 orang berburu, hanya ada 30 orang yang akan dipisahkan dari satu sama lain dengan jarak 1.000m.

"... Tapi, apakah bisa kita benar-benar bertemu dengan musuh kita seperti ini? Ada kemungkinan kita bahkan tidak bisa melihat siapa pun sampai saat waktu turnamen habis ... "

"Ini adalah permainan di mana kita saling bertarung dengan menggunakan senjata, sehingga ada kebutuhan seperti peta yang luas. Senapan sniper memiliki lapangan tembak 1km, dan senapan serbu memiliki sekitar 500 m. Jika 30 orang yang semuanya berada dalam sebuah peta kecil, setiap orang dapat menembak dengan liar, bang bang, ketika mulai, dan lebih dari setengah peserta akan sudah mati. "

"Hahaa, aku mengerti ..."

Aku mengangguk-angguk setuju, dan Sinon dilanjutkan dengan penjelasan rinci nya. Mungkin di balik avatar tajam dan dingin ini adalah seorang gadis baik dan lembut- jika dia tahu bahwa ini adalah apa yang aku pikirkan, dia pasti akan berjalan pergi tanpa menyelesaikannya terlebih dahulu, jadi aku masih terus mendengarkan penjelasannya. "Yah, hanya seperti yang kamu katakan, kamu tidak bisa bertempur jika kamu tidak bertemu musuh. Beberapa orang juga akan memanfaatkannya untuk bersembunyi sampai orang terakhir hidup. Oleh karena itu, para peserta secara otomatis diberikan alat yang disebut «Satellite Scan Terminal». "

"Satelit ... itu beberapa satelit mata-mata atau apa?"

"Itu benar. Setiap 15 menit, satelit di udara akan diatur untuk memindai. Pada saat ini, terminal setiap orang akan menerima lokasi dari semua pemain. Dan nama pemain akan ditunjukkan jika kamu menyentuh kedipan di peta. "

"Mmm... jadi, hanya ada 15 menit untuk bersembunyi di suatu tempat? Lalu kita mungkin akan disergap ketika lokasi kita ditampilkan pada peta, kan? "

"Itulah yang terjadi."

Aku tersenyum dan bertanya Sinon, yang mengangguk-angguk pergi. "Tapi bukankah aturan ini buruk bagi snipers? Bukankah kamu kira untuk menyembunyikan dan menutupi seperti taro dan snipe pada musuh? "

"Menggambarkanku sebagai taro terlalu berlebihan."

Sinon memelototiku dengan mata biru berkilaunya, dan kemudian dengan dingin mendengus dan tersenyum bangga. "15 menit sudah cukup bagiku untuk menembakkan satu peluru, membunuh satu orang, dan pindah 1km."

"Apakah ... apakah begitu ..?"

Aku tidak berpikir bahwa akan menjadi berlebihan. Jika aku mencoba untuk menyergap Sinon melalui informasi satelit, kemungkinan bahwa dia akan menembakku dari kejauh lebih dulu. Aku sangat ingat dalam hatiku, tenggorokanku kering beberapa saat, dan kemudian memikirkan informasi yang ku terima. "Eh-ini berarti bahwa aku harus terus bergerak dan mencatat pergerakan musuh sekali ronde dimulai, dan kemudian bertahan sampai menjadi yang terakhir ... sesuatu seperti itu. Dan setiap 15 menit, terminal peta di tanganku akan menunjukkan lokasi dari semua pemain, jadi aku dapat memberitahu mana yang masih hidup dan yang tidak, apa pemahamanku benar? "

"Pada dasarnya iya."

Sinon mengangguk kepalanya dan menghabiskan es kopinya sebelum dengan meletakkan gelas ke meja dan bersiap-siap untuk bangun.

"Lalu, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi kan? Aku akan menembakmu tanpa belas kasihan jika aku bertemu denganmu ."

"Waa, tunggu tunggu, aku hanya tahu intinya saja."

Yang benar-benar terdengar seperti baris dari PNS tertentu, aku buru-buru mengulurkan tangan untuk menarik jaket Sinon. "... Apa lagi yang kamu inginkan?"

Meskipun dia menunjukkan ekspresi yang sangat kesal lalu dia menatap jam militer di pergelangan tangan kirinya, aku lalu mengangguk tanpa terlihat sedih, dan Sinon mendesah dengan keras sebelum duduk lagi. Dia menempatkan kedua siku di atas meja, dan kemudian menekan dagu yang kecil melawan jari-jari yang terjalin bersama-sama, memberitahuku untuk melanjutkan dengan isyarat gerakan alisnya.

"Eh, itu, aku ... Aku sedang berpikir tentang meminta sesuatu yang sedikit aneh ..." Aku tergagap saat aku selesai berbicara dan cepat melambaikan tangan kiriku untuk memanggil jendela menu.

VRMMO yang berada di spesifikasi «The Seed» mempunyai jendela menu yang hampir sama, jadi aku merubahnya menjadi mode di mana orang lain bisa melihatnya dan dengan cepat menggerakan tab ke bawah. Aku menunjukkan halaman dengan nama-nama dari 30 pemain yang perusahaan pengoperasian kirimkan ke peserta final BoB. Tentu saja, kita bisa melihat nama-nama final kelompok F, tempat pertama 'Kirito' dan 'Sinon' tempat kedua.

Setelah melirik ke layar yang kutunjukkan padanya sejenak, suatu ekspresi marah muncul di wajah Sinon saat ia mengerutkan dahi seperti kucing-tidak, seperti jaguar. "... Apa, kau ingin sombong dengan kemenangan atas pertarungan di final kemarin?"

Mendengar bahwa geraman rendah iri miliknya, aku buru-buru tersentak dan menggeleng dengan ekspresi serius.

"Bukan, bukan itu maksudku."

Mungkin dia melihat perubahan sikapku? Sinon mengerutkan alisnya yang indah dan berkata, "... Lalu apa yang kamu maksud? Menampilkan daftar peserta ini tiba-tiba. "

"Di antara 30 orang pada daftar nama, berapa banyak yang kamu tidak tahu?"

"Haa ...?"

Aku mengabaikan Sinon, yang memberikan ekspresi terkejut karena aku memindahkan jariku ke dalam daftar nama yang tidak benar-benar panjang. "Tolong beritahu padaku. Hal ini sangat penting bagiku. "

"... Yah, itu tidak seperti hal aku tidak bisa kuberitahukan ..."

Meskipun dia masih memiliki sedikit kecurigaan, Sinon masih terus melihat jendela holografik ungu di atas meja, dan mata birunya dengan cepat memindai melalui dari kiri ke kanan. "Mm ... ini adalah BoB yang ke-3 , jadi aku tahu hampir semua orang di sana. Mereka adalah yang pertama-kali masuk final ... selain pengguna light saber yang menyebalkan, ada 3 orang lain yang aku tidak tahu. "

"3 dari mereka? Nama mereka? "

"Nn ...«Jyuushi X» dan «Rider Pale», dan ... ini «Sterben» pria, kan?"

Sinon kaku membaca beberapa nama, dan aku membaca nama-nama pada jendela untuk memeriksa secara pribadi. Kecuali untuk «Jyuushi X», nama-nama lain yang ditulis dalam abjad Inggris. Aku memejamkan mata dan mengulang tiga nama tadi beberapa kali.

Pada saat ini, Sinon tampak setengah kaget dan cemas saat ia mengatakan kepadaku. "Oi, apa yang terjadi? Kamu telah mengajukan pertanyaan sampai sekarang, namun kamu belum menjelaskan apa-apa kepadaku. "

"Ahh ... ya ..."

Aku menggunakan sebuah jawaban yang meragukan untuk mengulur waktu sebelum kupikirkan sebuah jawaban .

3 nama yang Sinon bilang- Salah satu dari mereka mungkin menjadi alasan mengapa aku datang ke dunia ini. Dia berhubungan dengan dua kematian misterius, dan juga selamat dari SAO dan menjadi anggota guild merah «Laughin Coffin» -karakternya umum dikenal sebagai «Death Gun».

Alasan mengapa aku menyimpulkan ini karena sampai sekarang, Death Gun tetap memakai nama aslinya bukan asal-asalan. Jika memungkinkan, dia benar-benar ingin menggunakan «Death Gun» sebagai nama karakter, tetapi dalam kasus itu, dia akan mendapatkan banyak spam e-mail, dan bahkan akan menimbulkan banyak masalah. Juga, jika karakter yang sebenarnya menjadi sangat terkenal, rumor «Death Gun» dia akan susah payah untuk menghilang. Dengan demikian, dia harus menyembunyikan nama aslinya sampai sekarang, dan Sinon pasti tidak akan tahu keberadaan orang ini.

Sekarang, yang jadi masalahnya , manakah dari salah satunya adalah «Death Gun» ... Ketika aku merenungkannya, aku melihat tangan ramping putih. Tangan itu berada di atas meja dengan jempol.

Mendongak, aku melihat Sinon mempersempit matanya saat dia melotot padaku. "... Aku benar-benar akan marah. Apa sih yang kamu lakukan? Apakah ini beberapa strategi untuk membuatku marah dan membuatku melakukan kesalahan di final? "

"Tidak ... bukan itu, aku tidak bermaksud begitu ..."

Ketika merasa bahwa tatapan panas yang tajam seperti api itu, aku menggigit bibirku dengan erat. Aku benar-benar tidak bisa memutuskan dengan segera apakah aku harus menjelaskan kebenaran kepadanya. Aku percaya rumor bahwa 'Ada pemain di GGO yang menyebut dirinya «Death Gun» dan telah menembak di jalan dan di bar, dan pemain yang ditembak olehnya tidak pernah login lagi' akan lebih luas, tapi masih tidak ada pemain yang akan percaya bahwa mereka dibunuh. Tentu saja, Sinon di depanku mungkin juga sama.

Sejujurnya, aku tidak benar-benar percaya dengan hal ini. Untuk pemain yang menembakkan peluru dalam permainan dan membunuh seseorang di kehidupan nyata -benar-benar mustahil tidak peduli apa alasan Kikuoka dan aku disuruh ketika kita membahas hal ini beberapa hari lalu.

Tapi sekarang, aku bahkan tidak bisa menertawakan kemampuan Death Gun. Jika orang itu benar-benar merupakan anggota penting dari «Laughin Coffin», dia pasti salah satu pemain pembunuh yang antusias menghilangkan nyawa banyak pemain di Aincrad. Mungkin dia mengembangkan cara tertentu untuk membunuh yang jauh melampaui imajinasiku dan Kikouka dan selama pengalaman menakutkan itu. Masih ada kemungkinan.

Jika aku mengatakan semua yang aku tahu kepada Sinon dan juga bahwa kekuatan Death Gun mungkin nyata -kamu mungkin akan mati, kamu tidak harus mengambil bagian dalam turnamen kali ini, akankah dia mendengarkanku? Tidak, sama sekali tidak. Bahwa citra Sinon saat ia menunjukkan sisi wajah putus asa karena dia hampir ketinggalan pendaftaran setelah berbelanja denganku. Gadis ini harus memiliki beberapa alasan penting mengapa dia harus ambil bagian dalam turnamen BoB ... Mata biru yang melotot ini yang diam melihatku -tiba-tiba melunak.

Berwarna terang bibirnya mengatakan tanpa bergerak terlalu banyak, "... Jangan bilang bahwa alasan mengapa wajahmu tiba-tiba menjadi aneh selama penyisihan kemarin juga karena itu?"

"Eh ..."

Sinon dan aku saling bertatap muka, dan untuk sesaat, kita tidak bisa mengatakan apa-apa. Namun, aku lupa semua alasan dan pikiranku karena aku mengangguk pergi seperti diminta. Sebuah suara amat kecil keluar dari mulutku sendiri, "... Ahhh ... itu benar. Kemarin, aku tiba-tiba dipanggil oleh seseorang yang memainkan VRMMO serupa di kubah bawah tanah ... Aku berpikir bahwa ia akan mengambil bagian dalam pertempuran saat ini. Aku takut bahwa salah satu dari tiga orang itu dia ... "

"Apakah itu teman-temanmu?"

Aku menggeleng keras mendengar pertanyaan itu Sinon, mengacaukan rambutku. "Tidak, justru sebaliknya ... kita musuh. Aku dan dia, kita serius mencoba untuk membunuh satu sama lain sebelumnya. Tapi ... Aku tidak ingat nama laki-laki itu saat itu. Aku harus ingat itu. Aku ingin bertemu pemain ini di final ... mencari tahu mengapa dia ada di sini, dan apa yang dia lakukan ... "

Setelah menjelaskan sampai di sini, aku menyadari bahwa kata-kataku mungkin membingungkan Sinon. Dalam permainan VRMMO normal, bahkan pemain di guild lawan secara teknis masih saingan bermain di game yang sama. Ini akan terlalu berlebihan untuk menggunakan judul «musuh».

Namun- Sniper dengan rambut biru aqua tidak tertawa mendengar kata-kataku, tapi melebarkan mata kecilnya, dan kemudian bergumam dengan suara lemah yang sistem hampir tidak bisa identifikasi. "... Kamu mencoba membunuh satu sama lain ... musuh ...?"

Kemudian, ia menggunakan volume lembut yang sama untuk meningkatkan pertanyaan lain yang cukup untuk menembus kesadaranku. "... Apakah karena gaya bermain kamu yang tidak cocok, atau hubunganmu antara satu sama lain memburuk ketika kamu berada di sebuah pesta karena beberapa masalah? Atau ... "

Mendengar sampai ini, aku menggeleng dengan refleks.

"Tidak, kami benar-benar mempertaruhkan hidup kita dan berusaha untuk membunuh satu sama lain. Orang itu ... guild laki-laki itu melakukan sesuatu yang tak bisa dimaafkan, dan kedua belah pihak tidak bisa menuju ke sebuah solusi damai. Kami tidak punya pilihan selain untuk menyelesaikan ini dengan pedang. Aku tidak menyesal melakukan hal ini, tapi ... "

Aku tahu ini hanya akan mengganggu Sinon, tapi mulutku tidak bisa berhenti. Aku memegang tangan yang ditempatkan di atas meja, berusaha melihat jauh ke dalam mata biru, dan mencoba untuk memaksa keluar suaraku dari tenggorokanku yang telah mengering. "... Tapi, a-aku hanya terus melarikan diri dari tanggung jawab yang harus aku tanggung, dan belum pernah aku memikirkan makna di balik tindakan ini. Sampai hari ini, aku memaksa diriku untuk melupakannya ... tapi sekarang, aku tidak dapat terus untuk melarikan diri. Aku harus memecahkan masalah dengan kepala di depan. "

Kata-kata ini tampaknya dikatakan untuk diriku sendiri. Tentu saja, Sinon tidak harus bisa mengerti sama sekali. Saat aku menutup mulutku, Sinon menunduk juga. Pikiran bahwa ia merasakan hal aneh jauh di dalam hatinya bertambah besar sekarang, pikirku. "... Maaf untuk kata-kata konyol seperti itu. Hanya berpura-puralah kamu tidak pernah mendengarnya. Lagi pula, itu hanya dendam masa lalu ... "

Aku memaksa tersenyum dan siap untuk menyederhanakan hal.

Tapi Sinon bergumam mengganggu kata-kataku.

"-Jika peluru yang kau tembakkan bisa membunuh pemain di dunia nyata, Kamu bisa menekan pelatuk tanpa ragu-ragu."

"...!"

Aku segera tersentak.

Ini adalah pertanyaanku dari dalam diriku untuk Sinon selama final turnamen penyisihan kemarin. Sebenarnya, aku masih tidak mengerti mengapa aku menanyakan hal ini, tapi pada saat itu, aku bertanya balik langsung, secepat percikan, saat mendengar Sinon bertanya 'bagaimana aku bisa menjadi kuat seperti dirimu'.

Serangan di dunia game virtual membunuh seorang pemain di dunia nyata. Dari asalnya tidak ada yang mungkin percaya pada rumor «Death Gun» itu, kemungkinan bahwa hal ini tidak mungkin dalam teori. Namun, aturan ini terjadi di dunia yang tidak ada sekarang.

Pada saat ini, aku hanya bisa berdiam diri, dan Sinon menatap mataku dengan tatapan tajam, dan membuka bibir kecilnya mengatakan, "Kamu ... Kirito, mungkin kamu, dari permainan itu ..."

Pertanyaan ini yang tampaknya tak bersuara langsung sirna karena meleleh di udara kering bar. Mata biru bimbang melihat ke bawah sebelum gemetar diam-diam. "... Maaf, aku tidak harus bertanya tentang hal ini."

"... Tidak, tidak apa-apa."

Aku hanya bisa menjawab ini berkaitan dengan permintaan maaf yang tak terduga, dan kami terus melihat satu sama lain dalam keheningan yang menegangkan ini.

Aku tidak bermaksud untuk mengatakan pada Sinon bahwa aku mantan pemain «Sword Art Online», «yang selamat dari SAO». Tapi kalau aku tidak berkata begitu, dia tidak akan pernah bisa memahami penjelasanku yang barusan.

Sinon sekarang mungkin mampu memahami arti dari kata «musuh» yang kugunakan, dan dia akan mampu memahami arti rinci «saling membunuh».

Aku hanya menunggu dengan diam untuk gadis ini menunjukkan bahwa ada perasaan jijik dan gangguan baginya di matanya.

Namun- Sinon tidak berpaling, dan dia tidak meninggalkan tempat duduknya. Dia membungkuk ke depan dan menatapku. Mata sapphire miliknya, karena alasan tertentu, tampaknya akan memberikan semacam ... mungkin kilatan, permohonan bantuan, ataukah mungkin itu hanya imajinasiku.

Saat berikutnya, Sinon memejamkan mata erat-erat, dan kemudian menggigit bibirnya dengan erat. Aku bahkan tidak punya waktu untuk terkejut ketika suasana tegang antara kami menghilang. Setelah menghembuskan napas dalam-dalam, gadis sniper ini memberikan senyuman dan berbisik lembut kepadaku, "... Yah, sudah waktunya untuk kembali ke kubah dan menunggu, atau kita tidak akan punya waktu untuk memeriksa peralatan kita dan melakukan pemanasan."

"Ah ... ahh, itu benar."

Aku mengangguk, dan Sinon berdiri. Aku melihat jam digital sederhana di pergelangan tangan kiriku, dan melihat bahwa hampir jam 7 pm. Masih ada satu jam sebelum dimulainya turnamen final. Ketika kami tiba di lift sederhana di sudut bar besar, Sinon menekan tombol bawah, gerbang besi itu mengeluarkan suara berderit yang meluncur ke samping, dan lift muncul. Saat kami masuk, aku adalah orang yang menekan tombol paling bawah.

Dalam ruang sempit yang memiliki perasaan imajinasi turun dan suara mesin, suara lembut berdering. "Aku tahu kamu memiliki kesulitan sendiri."

Di belakangku, Sinon tampaknya berjalan ke arahku, dan ada sesuatu yang menunjuk pada tengah punggungku. Itu bukan moncong-tapi jari. Katanya dengan nada sedikit kuat.

Sword Art Online Vol 06 -075.jpeg

"Namun, janjimu denganku adalah salah satu alasan lain. Aku pasti akan mengembalikan hinaan selama pertempuran kemarin dengan menarik, jadi kamu tidak boleh membiarkan orang lain selain aku menembakmu. "

"... Aku mengerti."

Aku mengangguk sedikit.

Tujuan terbesarku ketika aku dive ke GGO adalah untuk berinteraksi dengan «Death Gun» dan memecahkan misteri di balik pembunuhan itu, tapi insiden ini sekarang bukan hanya tentang permintaan Kikuoka Seijirou, tetapi juga terkait denganku. Berpikir dengan tenang, aku harus menghindari duel ini dengan Sinon sniper menakutkan dan mencapai tujuanku.

Tapi aku bertemu Sinon di dunia ini, berbicara dengannya, dan membangun sebuah hubungan baru dalam pertempuran ini. Aku benar-benar tidak bisa mengabaikan atau meremehkan tindakannya. Itu karena, bahkan di dunia maya yang lain, bahkan jika hal yang menempel di pinggangku adalah pedang cahaya tanpa fisik pedang asli, «Kirito» masih swordsman. "... Aku akan bertahan sampai saat aku melawanmu."

Pada saat aku mengatakan hal ini, jari di belakang punggungku meninggalkan tubuhku, dan suara lembut terdengar lagi. "Terima kasih."

Sebelum aku bisa bertanya mengapa dia mengatakan terima kasih, lift berhenti mendadak. Setelah pintu terbuka, hal yang ada di depan lift yang gelap itu adalah bau besi dan asap-bau pertempuran datang ke arahku dan menelanku.