Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 7

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Ilustrasi Novel[edit]

Di bawah ini adalah ilustrasi novel yang ada di jilid 7.

Prolog[edit]

“—Asuna, pernakah kau mendengar tentang «Zekken»?”

Mendengar suara Lisbeth, Asuna menghentikan ketikannya dan melihat ke atas.

“Tanda nomor urut pemain? Kau ingin membuat perlombaan olahraga ya?”[1]

“Bu-bukan.” Lisbeth menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ia menegak sedikit air dari cangkir yang beruap di meja lalu melanjutkan perkataannya.

“Zekken itu dari kanji, bukan katakana. Ditulis dengan kanji zetsu(?) dari zettai (pasti) (??) ken(?) dari pedang, Pedang Absolut."

“Pedang... Absolut. Apakah itu sebuah equipment langka atau semacamnya?”

“Bukan, bukan. Itu adalah nama seseorang. Nama julukan, atau bisa juga disebut alias. Tidak ada yang tahu nama asli orang tersebut. Dan dia sangat kuat. Kami tidak tahu siapa yang memulai memanggilnya dengan nama itu, tetapi akhirnya orang ini dikenal dengan nama Pedang Absolut, pedang absolut yang tak dapat hancur, pedang tanpa tanding. Sepertinya itu arti julukannya.”

Sangat kuat. Hal itu begitu menarik perhatian Asuna ketika ia mendengarnya.

Asuna sangat percaya diri dengan kemampuan berpedangnya. Sebagai pemain ALfheim Online, dia memilih ras Undine yang berfokus pada sihir suportif dan penyembuh, tetapi karakternya yang berdarah panas kadang-kadang keluar dalam pertempuran dan dia tidak segan-segan menghunuskan rapier-nya dan maju menyerang kumpulan musuh. Karena itulah dia mendapatkan julukan yang tidak begitu elegan, “Berserk Healer”, penyembuh gila.

Dirinya secara aktif mengikuti turnamen bulanan dan telah terbiasa dengan pertarungan tiga dimensi di ALO. Kemampuannya bahkan seimbang dengan pemain kuat lainnya seperti Jendral Salamander Eugene, dan Lord of Sylph, Sakuya. Adalah sesuatu yang tidak mungkin baginya untuk tidak memerdulikan kemunculan pemain baru yang kuat.

Setelah selesai menyimpan file laporan biologinya yang telah selesai, Asuna menutup keyboard virtualnya, mengambil cangkir di sampingnya dan mengetuknya dengan jari untuk memenuhinya dengan teh panas. Ia tenggelam dalam kursi kayu yang tumbuh begitu saja dari lantai papan dan mengambil posisi yang membuatnya bisa mendengar dengan serius.

“Pedang Absolut ya. Hem... Bagaimana rupa orang tersebut?”

“Biarkan aku berpikir sebentar.....”


Bab 1[edit]

Lantai 22 dari Aincrad yang baru telah dipenuhi oleh salju.

Di dunia luar telah memasuki awal Januari, meskipun musim dingin, temperatur di Tokyo tidak pernah turun dibawah nol karena efek pemanasan global selama tahun-tahun belakangan ini.

Namun, apakah untuk menunjukkan etika kerja perusahaan atau bukan, Alfheim terus berada dalam kondisi dingin yang berat. Temperatur di daerah utara dari World Tree turun hingga 10, 20 derajat di bawah nol. Apabila kamu tidak menyiapkan perlengkapan atau buff tahan-dingin, kamu pun tidak akan ingin untuk terbang. Untuk saat ini, Aincrad melayang di atas wilayah Gnome, pada utara jauh dunia ini. Temperatur di setiap lantainya begitu dingin hingga kamu bisa melihat kristal es pada siang hari.

Meskipun sangat dingin hingga selokan bisa membeku hingga ke dasarnya , dingin itu tidak dapat menembus ke dalam rumah yang terlindungi oleh tembok kayu tebal dan perapian yang bergemuruh.

8 bulan yang lalu – Pada bulan Mei 2025, ALfheim mengadakan update terbesar hingga saat ini -- ?Kastil Melayang Aincrad?.

Awalnya ALO dioperasikan dari duplikasi sistem permainan kematian «Sword Art Online». Karena itu, servernya memiliki salinan lengkap dari Aincrad, stage dimana SAO di-set. Di masa lalu, ALO dijalankan oleh «RECTO Progress». Namun, ketika perusahaan baru membeli baik software maupun hardwarenya, mereka bukan hanya tak menghapus Aincrad dan data terdahulu dari pemain SAO, mereka juga dengan berani mengajukan cara bagaimana Aincrad dapat eksis bersama dengan ALO.

Tentu saja, mereka juga berusaha mengatasi pengurangan jumlah pemain dikarenakan eksperimen manusia oleh RECTO PROGRESS dengan melakukan upgrade yang berdampak. Namun bukan hanya itu saja alasannya. Pendiri dari perusahaan baru tersebut semuanya adalah pemain veteran MMO yang telah bermain sejak masa 2D dan tidak sanggup menerima penghapusan kastil melayang yang telah terdesain dengan begitu kompleksnya – Itu yang didengar Asuna dari Agil yang memiliki koneksi dengan seseorang dari perusahaan tersebut.

Dengan kebangkitan Aincrad, Asuna menetapkan tujuan kecil dalam hatinya dan mulai bermain sebagai Undine penyembuh dan pengguna rapier. Tujuannya sudah jelas, menyimpan Col yang cukup, bukan, Yurudo, mencapai lantai 22 sebelum yang lain, dan membeli rumah kayu kecil yang berada jauh di dalam Hutan Pinusnya. Dahulu kala di kastil melayang yang lain, selama 2 minggu yang singkat di tempat yang sama, dia telah membangun sebuah keluarga dan menghabiskan hari - hari yang manis, menyenangkan, dan tenang.

Update terakhir pada bulan Mei membuka 10 lantai pertama. Bulan September membuka lantai 11 hingga 20. Lalu, pada saat Malam Natal – 24 Desember malam, pintu yang menuju lantai 21 telah dibuka. Asuna, dengan Kirito, Klein, Agil, Lisbeth, Silica, dan Lyfa membentuk grup/party dengan 7 anggota, dan bergegas menuju lantai berikutnya segera setelah seruan merayakan pembukaannya berakhir.

Lantai 22 adalah lantai dengan populasi jarang yang hanya diisi dengan hutan, dan ada beberapa penghuni di jalan utama desa, besar kemungkinan tidak ada pesaing yang menginginkan rumah yang sama. Meskipun begitu, mereka bergegas seperti badai menembus hutan belantara lantai 21 dan menantang Boss di akhir dungeon bersama dengan grup-grup lain. Kemudian Klein membuktikan, bahwa Asuna, meskipun dia menghabiskan setengah dari ability point-nya untuk skill support, terlihat lebih menggagumkan ketika dia bertempur di bagian depan dari grup 50 pria itu dibandingkan saat ia sebagai wakil ketua dari «Knights of Blood».

Setelah menyingkirkan Boss lantai 21 yang dia kalahkan sendiri, bergegas menuju rumah kayu dan menekan tombol OK untuk mengkonfirmasi transaksi, Asuna tidak dapat menahan diri dan menangis dengan penuh kebahagiaan. – Malam itu setelah pesta selesai dan semua teman-temannya pulang, sambil minum bersama dengan Kirito dan Yui, yang telah kembali ke wujud anak perempuan, dia kembali menangis. Kejadian ini disimpan sebagai rahasia dari teman-temannya.

Asuna sendiri tidak yakin betul kenapa dirinya begitu membaktikan dirinya untuk tempat tersebut. Bersama dengan anak laki-laki yang begitu dicintainya untuk pertama kali, meskipun di dunia virtual, namun bersama mereka telah melampaui kesulitan, tempat ini adalah dimana mereka menenangkan diri dan menghabiskan sejenak momen kebahagiaan. Terdengar sederhana, namun Asuna merasa lebih dari itu.

Rumah itu mungkin, untuk Asuna yang tidak dapat menemukan tempat untuk kembali di dunia nyata, tempat dimana dia bisa merasakan layaknya sebuah «rumah». Tempat kecil dan hangat dimana sepasang burung dapat mengistirahatkan sayapnya, mendekat rapat-rapat dan tertidur. Tempat untuk jiwanya pulang kembali.

Terlebih lagi, setelah segala kerja keras, rumah kayu tersebut telah menjadi tempat dimana rekan-rekannya dapat berkumpul bersama. Mereka jarang sekali tidak kedatangan tamu. Asuna membaktikan diri sepenuhnya untuk mengatur design interior dari rumah kecil tersebut, menarik semuanya untuk datang berkunjung. Tidak hanya rekan-rekan dari SAO, teman-teman baru dari ALO sering berkunjung untuk menyantap santapan buatan tangan Asuna – Sekali waktu, karena timing yang salah, mereka mendapat saat makan yang dipenuhi dengan ketegangan karena baik Lord Slyph Sakuya dan Jendral Salamander Eugene hadir.

Hari ini – 6 Januari 2026, beberapa wajah yang tidak asing berkumpul di sekitar meja yang «tumbuh di dalam rumah»

Di sebelah kanan Asuna duduk penjinak binatang Silica, yang memiliki telinga segitiga unik untuk ras Cait Sith. Saat ini dia sedang menatap pekerjaan rumah matematikanya pada monitor holographic sambil merintih. Demikian pula di sebelah kirinya, pendekar sihir Slyph Lyfa sedang mengerjakan essai Bahasa Inggrisnya sambil cemberut.

Di seberangnya, penempa Leprechaun Lisbeth duduk dengan bersilang kaki dan meminum raspberry liker sambil terbenam dalam novel yg dijual di game.

Di dunia nyata masih pukul 4 sore, namun waktu di Alfheim Online berbeda. Di luar, langit hampir gelap sepenuhnya menyisakan cahaya refleksi dari salju yang jatuh. Jelas sekali sangat dingin membeku di luar sana meskipun tidak terdengar suara angin, namun perapian di dalam berderak. Ditambah lagi, wangi hangat yang keluar dari panci besar, berasal dari stew beruap yang menggelegak.

Seperti teman-temannya, tangan Asuna berada pada keyboard virtual dan site-site yang dilihatnya di jendela browser melayang di sekitarnya, dengan sukses melengkapi laporannya.

Meskipun ibunya tidak menyetujui dirinya mengerjakan hal yang dapat dilakukannya di dunia nyata pada dunia VR, mengerjakannya disini lebih efisien untuk waktu yang lama. Mata dan tangannya tidak akan lelah dan sejumlah besar site informatif yang tidak cukup untuk UXGA kamarnya tertampil melayang dalam posisi yang mudah dilihat.

Asuna sekali waktu memberitahukan ibunya hal tersebut dan membiarkan ibunya untuk menggunakan program FullDive yang didekasikan untuk mengedit teks, namun ibunya melakukan log off hanya dalam beberapa menit mengatakan bahwa dia pusing dan sejak saat itu tidak pernah mencobanya lagi.

Tentu ada beberapa orang yang mengalami pusing di dunia virtual, tetapi untuk Asuna yang telah «tinggal» selama 2 tahun di dunia virtual tidak dapat membayangkan seperti apa rasanya. Jari-jarinya bergerak lancar tanpa satu kesalahan pun dan essai-nya secara perlahan mencapai akhir--.

Saat itu, tiba-tiba sesuatu bersandar pada pundak kanannya.

Asuna melihat dan menyadari kepala dengan rambut pendek milik Silica bersandar pada pundak kanannya, telinga segitinganya berkedut sambil ia tertidur dengan ekspresi bahagia di wajahnya.

Asuna tidak dapat menahan tawa, dan dengan lembut menggaruk telinga Silica dengan tangan kirinya.

"Hei, Silica. Jadi masalah nanti kalau kamu tidak bisa tidur malam karena kamu tidur sekarang."

"Mm... Nya..."

"Hanya tinggal 3 hari sisa libur musim dingin. Kamu harus kerja keras mengerjakan tugasmu."

Akhirnya perlahan Asuna menarik telinga Silica dan ia terbangun, terkejut. Dia mengedipkan mata beberapa kali dengan linglung, menggelengkan kepalanya dan memandang wajah Asuna.

"U... uu... Capek sekali."

Sambil bergumam, Silica membuka mulutnya yang kecil bergigi putih dan menguap. Semua pemain Cait Sith yang Asuna kenal pasti mengantuk ketika berada di rumah ini, membuatnya berpikir apakah karena karakteristik dari rasnya.

Asuna melihat monitor holographic di depan Silica dan berkata

“Bukannya halaman ini sudah hampir selesai? Kenapa tidak dilanjutkan dan diselesaikan?”

“Fu... Fuah...”

“Apa ruangan ini terlalu hangat? Haruskah kita turunkan sedikit temperaturnya?”

Mendengar itu, Lisbeth tersenyum dan merespon.

“Bukan, bukan karena itu, kupikir karena itu”

“Itu...?”

Asuna menengok ke belakang, melihat Lyfa menunjuk pada sesuatu di dinding timur dekat dengan perapian.

“Ah... Jadi karena itu...”

Melihat ke arah tersebut, Asuna menggangguk mengerti.

Di hadapan perapian yang bersinar, terdapat kursi goyang besar dari ukiran kayu.

Duduk terhenyak pada kursi goyang, seorang «Spriggan» dengan kulit berwarna hitam cerah dan rambut hitam pendek tertidur dengan nyenyak. Rambutnya yang tak tertata dahulu sekarang dibiarkan ke bawah, namun parasnya yang tajam dan agak jahat masih sama seperti sebelumnya. Tidak perlu dikatakan lagi, dia adalah Kirito.

Pada perutnya, sesuatu yang kecil, naga dengan bulu biru muda tidur dengan nyaman dengan tubuhnya menggulung dan kepalanya terbenam di dalam ekornya yang berbulu halus. Naga itu, «Pina», adalah partner Silica semenjak di SAO.

Peri yang lebih kecil lagi dengan wajah tertidur yang polos menggunakan bulu lembut Pina sebagai alas. Perempuan dengan rambut hitam panjang, lurus, dan mengkilap serta mengenakan gaun merah muda cerah adalah «Navigation Pixie» dari Kirito, selain itu juga ‘putri’ dari Asuna dan Kirito, AI «Yui», yang tercipta di server SAO.

Tertumpuk seperti cake tiga lapis, Kirito, Pina, dan Yui dengan bahagia tertidur di kursi goyang, memancarkan efek hipnotis magis. Bahkan Asuna merasa mengantuk setelah melihatnya dalam waktu beberapa detik saja.

Kirito tidur cukup sering. Ia seperti menebus waktu yang dihabiskan di SAO ketika dia mengorbankan waktu tidurnya untuk menyelesaikan dungeon. Di rumah itu, sedikit saja Asuna mengalihkan perhatian darinya, ia akan terhenyak dalam kursi goyang favoritnya dan segera tertidur pulas.

Terlebih lagi, Asuna tidak mengetahui hal lain yang lebih menghipnotis selain wajah Kirito yang tertidur di kursi.

Saat di SAO, entah itu di rumah kayu atau lantai kedua dari toko Agil, kapanpun Kirito mengayunkan sebuah kursi, Asuna selalu duduk dan tertidur di kursi tersebut. Boleh dikatakan, Asuna secara personal telah mengalami dan cukup mengerti kenapa Silica dan Lyfa tergoda untuk tidur.

Secara misterius, Pina, yang setiap tindakannya berdasarkan algoritma sederhana, akan terbang dari pundak Silica, menggulung dirinya, dan tidur dengan Kirito kapanpun dia melihat Kirito tertidur.

Hal ini menimbulkan kecurigaan apakah Kirito yang tertidur memancarkan semacam «Drowsiness Parameter». Faktanya, Asuna, yang telah menyelesaikan essai-nya dengan kecepatan penuh beberapa saat yang lalu, tanpa ia ketahui mulai merasa lemas...

“Hei, Asuna-san, jangan tertidur! Ah, Liz-san juga!”

Digoyangkan tubuhnya oleh Silica, Asuna mengangkat kepalanya.

Saat itu juga, Lisbeth yang duduk di sisi lain dari meja, terbangun dengan gemetar, mengedip dan tersenyum dengan penuh malu. Dia menyapu rambut pink metalik-nya, khas/unik untuk Lephrechaun, dan menjelaskan dengan enggan.

“Kenapa aku selalu merasa mengantuk kalau melihat itu... Apakah itu termasuk dalam sihir ilusi keahlian dari Spriggan?”

“Haha, mana mungkin seperti itu. Aku akan menyeduh teh untuk mengusir kantuk. Meskipun aku bilang seperti itu, aku benar-benar sedang malas”

Asuna berdiri dan mengambil 4 cangkir dari lemari kaca di belakangnya. Itu adalah mug magis yang dapat «menghasilkan 99 jenis teh yang berbeda dengan sekali sentuh» yang mereka dapatkan dari quest akhir-akhir ini.

Meletakkan cangkir-cangkir dan pie buah di meja, keempat-empatnya, termasuk Silica yang masih berjuang untuk mengusir rasa kantuknya, dengan segera meminum cairan yang hangat dan wangi tersebut.

“Ngomong-ngomong”

Saat itu, Lisbeth teringat akan sesuatu dan berkata.

“—Asuna, apakah kamu pernah mendegar tentang «Zekken»?”

“Sudah beredar rumornya sejak awal tahun... Dari seminggu yang lalu...”

Berkata seperti itu, Lisbeth mengangguk kepada Asuna seperti memastikan sesuatu.

“Betul, jadi Asuna pasti tidak tahu. Kamu berada di Kyoto semenjak akhir tahun”

“Tolong, jangan membuatku berpikir hal yang kubenci”

Melihat Asuna merengut, Lisbeth tertawa terbahak-bahak.

“Aduh, tidak gampang ya berasal dari keluarga yang ‘berbeda’”

“Benar-benar tidak gampang. Kamu harus duduk dan menyambut orang-orang sambil mengenakan kimono seharian, dan meskipun kamu ingin melakukan?Full Dive?di malam hari, tempat itu masih belum terkoneksi dengan Wireless LAN hingga saat ini. Meskipun aku membawa AmuSphere, sia-sia saja jadinya.”

Dia menghembuskan nafas panjang dan menghabiskan tehnya.

Semenjak akhir tahun kemarin, Asuna setengah dipaksa untuk pergi bersama keluarganya menuju Rumah Utama Keluarga Yuuki, dengan kata lain rumah ayahnya dahulu. Dia juga harus menunjukkan terimakasihnya kepada saudara-saudaranya yang mengkhawatirkan dirinya selama 2 tahun dirinya ‘berada di rumah sakit’, jadi dia tidak bisa mengatakan bahwa dia membencinya.

Saat kecil, Asuna berpikir menghabiskan awal tahun bersama dengan keluarga utama sebagai kebiasaan, dan senang karena dia dapat bertemu sepupu-sepupu yang seumur dengannya.

Tetapi, semenjak dia mulai memasuki sekolah menengah, Asuna berangsur-berangsur mulai merasa terbatasi oleh adat tersebut.

Keluarga Utama Yuuki, tanpa membesar-besarkan, telah menangani bank sebagai bisnis keluarga di Kyoto semenjak 200 tahun yang lalu, dengan kokoh bertahan menghadapi reformasi dan peperangan, dengan generasi saat ini membuka cabang di Kansai. Ayahnya Yuuki Shouzou berhasil mengembangkan «RECTO», sebuah perusahaan manufaktur General Electronic, dalam satu generasi berkat dukungan finansial dari Keluarga Utama. Melihat silsilah keluarga, didalamnya terdapat banyak presiden perusahaan dan birokrat.

Dengan beranggapan sebuah hal yang biasa, sepupu dan saudara-saudara Asuna merupakan «murid-murid top» pada «sekolah-sekolah yang bagus». Ketika jamuan makan semua anak-anak didudukkan bersebelahan, lalu orang tua mereka membicarakan topik tentang bagaimana anak-anak mereka mendapatkan pujian pada kompetisi tertentu atau seberapa tinggi ranking mereka pada ujian nasional. Terlihat menyenangkan di permukaan, realitanya hanya percekcokan tiada akhir di antara mereka. Berangsur-angsur Asuna merasakan kedengkian pada lingkungan yang melingkupi dirinya, dia beranggapan tujuan untuk mengorganisir acara tersebut setiap tahun hanyalah untuk menentukan tingkatan dari semua anak-anak mereka.

Pada November 2022, saat musim dingin di tahun ketiga sekolah menengah pertamanya, Asuna terperangkap di SAO, hingga Januari 2025, ketika ia diselamatkan oleh Kirito. Karena itu, saat ini adalah pertemuan tahunan pertamanya setelah empat tahun. Di Mansion bergaya Kyoto pada Rumah Keluarga Utama, Asuna mengenakan kimono berlengan-panjang dan berulang-ulang menyalami/menyambut banyak saudara-saudaranya dimulai dari kakeknya. Pada akhirnya, dia merasa telah menjadi NPC penyambut tamu.

Meskipun begitu, bertemu sepupu-sepupu yang lama tak dijumpai seharusnya menjadi peristiwa yang bahagia, walaupun mereka sangat bergembira mengenai kembalinya Asuna dan menggangap itu seperti permasalahan mereka sendiri, Asuna melihat hal yang ia benci di mata mereka.

Mereka mengasihani Asuna. Mereka bersimpati, merasa sedih mengetahui Asuna tersingkir secara langsung dari kompetisi yang telah terjadi semenjak mereka dilahirkan. Itu bukan sebagai anggapan berlebih dari dirinya, Asuna dengan mudah mengetahui, ia yang semenjak kecil telah belajar membaca ekspresi dari orang lain.

Tentu saja, Asuna yang saat ini memiliki kepribadian yang sangat berbeda dibandingkan saat itu. Di dunia tersebut, terdapat seorang anak laki-laki yang merubah Asuna. Oleh karena itu rasa kasihan dari sepupu, paman dan bibinya dengan ringan mempengaruhi hati Asuna. Terlebih itu, dia adalah seorang «swordswoman», seseorang yang bertarung dengan kekuatannya sendiri. Keyakinan itu yang selalu menopang hati Asuna, dan tidak berubah meskipun setelah dunia tersebut menghilang.

Namun, sepupu-sepupunya yang menganggap VRMMO adalah sesuatu yang beracun, tidak dapat mengerti nilai tersebut. Tidak berbeda dengan ibunya yang selalu kelihatan sedikit tak bahagia ketika dia bersama dengan Keluarga Utama.

Obsesi untuk pergi ke universitas yang baik dan mendapatkan pekerjaan yang baik tidak ada lagi dalam benaknya. Asuna sangat menyukai sekolahnya saat ini dan tahun-tahun berikutnya, perlahan ia dapat menemukan apa yang ia ingin lakukan. Tentu saja, membentuk keluarga dengan anak laki-laki yang sedikit lebih muda darinya di dunia nyata adalah tujuan akhirnya.

—Asuna sambil berpikiran seperti itu di satu sisi, dan di sisi lain dengan tersenyum ia melanjutkan menjawab berbagai pertanyaan dari saudara-saudaranya. Hal yang paling tak tertahankan adalah ketika ia berada sendirian dengan sepupunya yang dua tahun lebih tua darinya di sebuah ruangan pada malam terakhir di Kyoto.

Sebagai seorang pria yang tugas utamanya membantu bank Keluarga Utama, dia berbicara dengan penuh semangat tentang seberapa profesionalnya dia, bagaimana dia telah menentukan posisi yang yang akan dia ambil di bisnisnya dan bagaimana luar biasanya dia akan menjadi. Awalnya Asuna hanya memberikan senyum kekaguman, namun dengan mencurigakan yang lain pergi dan meninggalkan mereka berdua sendiri, menyebabkan dirinya berpikir apakah para orang dewasa mempunyai maksud yang lain...

“Hei Asuna, kamu dengerin gak?”

Mendapatkan tendangan Lisbeth dari bawah meja, Asuna kembali sadar.

“Ah, maaf. Aku baru ingat sesuatu yang kubenci.”

“Apa itu? Pertemuan untuk pernikahan di Kyoto?”

“...”

“... Kenapa kamu diam... Masa sih...”

“Gak, gak. Bukan apa-apa!”

Dengan cepat Asuna menggelengkan kepala, menyentuh sisi mug-nya yang telah kosong dan meneguk teh ungu yang aneh. Dia menengadah dan dengan segera mengubah topik pembicaraan.

“Sangat kuat... Jadi apa orang itu seorang PKer?”

“Um, Zekken seorang PVPer. Sedikit ke Utara dari jalan utama lantai 24, bukankah ada pulau dengan pohon besar untuk menarik turis? Di bawah pohon itu pukul 3 sore setiap hari, Zekken melawan pemain manapun yang ingin menantangnya.”

“Oh~ Jadi Zekken adalah tipe yang pernah ikut kompetisi?”

“Tidak, sepertinya dia benar-benar wajah baru. Namun skill level dari Zekken sepertinya cukup tinggi, jadi mungkin saja Zekken melakukan transfer dari game yang lain. Awalnya, sebuah pengumuman dipasang di «MMO Tomorrow» untuk merekrut penantang. Sekitar 30 orang ikut serta beranggapan itu hanya pemula yang terlalu percaya diri dan akan langsung kalah, tapi...”

“Malahan mereka yang dikalahkan?”

“Semuanya, dengan begitu indah. Zekken pastinya sungguh kuat, mereka bilang tidak satu orang pun bisa mengurangi lebih dari 30% health milik Zekken”

“Agak tak dapat dipercaya.”

Silica, yang terus memakan pie buahnya, tiba-tiba menyela.

“Aku butuh sekitar setengah tahun sebelum bisa bertarung dengan baik di udara. Tapi meski orang tersebut baru saja melakukan transfer, dia sudah bisa terbang dengan baik!”

Yang disebut «Transfer» adalah sistem transfer karakter dari VRMMO yang menggunakan «The Seed» sebagai program dasarnya seperti ALO. Secara umum sistem itu dapat menjaga «kekuatan» dari pemain, tetapi semua uang dan item akan hilang dan skill-skill tertentu akan didistribusikan lagi.

“Jadi Silica pernah melawan Zekken?”

Merespon pertanyaan Asuna, Silica langsung melebarkan matanya dan menggelengkan kepalanya.

“Mana mungkin? Aku yakin itu sangat mustahil untukku hanya dengan menonton Zekken berduel. Ah, tapi Liz-san dan Lyfa-san masih mencoba melawan Zekken. Mereka cukup berani untuk maju menantangnya.”

“Eh- kenapa dikatakan.”

“Apapun itu bisa jadi pengalaman yang berharga, kamu tahu?”

Tersenyum sambil mendengarkan Lisbeth dan Lyfa cemberut, Asuna agak sedikit terkejut.

Lisbeth, yang rasnya memang tidak diperuntukkan untuk bertarung melainkan diprioritaskan untuk menempa memang tidak jadi pertanyaan, tapi tidak banyak pemain yang dapat mengalahkan Lyfa, yang bisa dianggap sebagai pemain top ras Sylph, pada pertarungan udara. Ditambah, Zekken baru melakukan transfer, hal seperti itu tidak terbayangkan.

“Kedengarannya benar-benar terjadi. Hmmm, aku jadi agak tertarik.”

“Haha, aku tahu Asuna akan berkata seperti itu. Meskipun ada Raja dan Jendral dengan tingkat yang tinggi di kompetisi bulanan seperti Sakuya dan Eugene, sangat sulit untuk orang-orang seperti mereka ikut serta dalam pertarungan jalanan.”

“Tapi kalau orang-orang melihat Zekken sangat kuat, bukannya akan tidak ada penantang? Berbeda dengan kompetisi besar, bukannya ada penalti experience yang cukup besar kalau kalah pada pertarungan jalanan?”

“Tidak sama sekali. Semua orang dengan antusias ikut serta di pertaruhan ini.”

Sekali lagi Silica menyela.

“Eh? Apa ada rare item sangat kuat yang dijadikan taruhan?”

“Bukan item. Zekken sebenarnya mempertaruhkan sebuah «Original Sword Skill». Sangat kuat, berada pada level finishing move.

Asuna tidak dapat menahan dan ingin meniru kebiasaan Kirito untuk mengangkat bahu dan bersiul, namun ia menahannya.

“Jadi itu sebuah OSS. Tipe apa? Berapa hit?”

“Coba kuingat, sepertinya dapat digunakan oleh one-handed sword secara umum. Dengan 11 combo yang mengejutkan.”

“Wow~!”

Saat ini secara reflek dia mengeluarkan teriakan.

Sistem kunci di SAO yang telah tidak eksis adalah ‘Sword Skill’.

Adalah skill yang ter-set pada tidak terhitungnya banyaknya senjata-senjata, banyak skill yang dimulai dari single hit dengan serangan kuat hingga rentetan serangan beruntun. Perbedaan dari serangan normal adalah mulai dari momen posisi awal, tubuhmu akan bergerak secara otomatis pada kecepatan tertinggi dari sistem skill tersebut hingga selesai. Cahaya indah dan efek suara yang mengiringi setiap hit membuat penggunanya menikmati kebahagiaan menjadi pejuang super.

Di ALfheim, pada update skala besar yang melingkupi implementasi Aincrad, perusahaan baru tersebut mengambil keputusan berani untuk meng-implement kembali sword skill seperti sedia kala.

Maka, di ALO yang baru, terjadi revolusi besar-besaran bermula dari akar paling dasar dari sistem pertarungan. Hal ini pasti menyebabkan kegemparan yang hebat dari beberapa pemain, namun mereka yang menolak berubah menjadi budak sensasi setelah sekali saja mereka menggunakan sword skill.

Sebelum itu, di ALO, efek indah dimonopoli oleh sihir, yang mempunyai jangkauan dan akurasi yang superior, jadi tidak banyak orang yang memilih untuk terspesialisasi pada pertarungan jarak dekat. Karena itu dapat dikatakan bahwa kehadiran sword skill menyeimbangkan keadaan. Meski upgrade telah berjalan lebih dari setengah tahun, sistem pertarungan yang baru «Aerial Mobility» + «Sword Skill» masih terus menjadi topik diskusi.

Sword skill yang dipinjam dari pendahulu mereka masih tidak dapat memuaskan organiser berani ini.

Maka mereka mengembangkan dan memasukkan elemen baru, yaitu sistem «Original Sword Skill».

Seperti tersirat dari namanya, itu adalah ‘sword skill personal’. Bukan sword skill yang telah ada yang setiap aksinya telah diset dari awal, melainkan sword skill yang dapat disusun sendiri oleh pemain.

Ketika fitur ini diumumkan, dalam rangka mendapatkan final move yang indah milik masing-masing, banyak pemain bersebaran ke jalan-jalan atau hutan belantara sambil menghunuskan bermacam-macam senjata. –dan pada akhirnya mereka semua merasakan frustasi yang dalam.

Mendaftarkan sebuah OSS (Original Sword Skill) sangatlah mudah.

Pertama kamu membuka menu, menuju panel OSS, memulai mode merekam sword skill dan menekan tombol Start. Setelah itu kamu cukup menebaskan senjatamu sesuai yang kamu inginkan dan tekan Finish. Hanya seperti itu.

Namun, ada syarat keji dari sistem untuk menyetujui «final move yang kamu pikirkan».

Sabetan dan tusukan dengan hit tunggal hampir semuanya telah terekam pada sword skill yang telah ada sebelumnya. Maka dari itu, bila kamu ingin menyusun sebuah OSS, haruslah berupa kombo. Bagaimanapun juga, sebagai sebuah rangkaian aksi, tidak mungkin tidak ada kekurangan dalam berbagai aspek seperti pusat gravitasi dan lintasannya. Ditambah lagi, kecepatannya harus secepat sword skill yang telah komplit.

Bisa dikatakan, “Kamu harus mengeksekusi kombo yang mustahil tanpa sokongan dari sistem, tanpa bantuan dari sistem”. Sebuah syarat keji yang bisa dibilang bertolak belakang.

Hanya ada satu cara untuk melampaui dinding tersebut, dan itu adalah berlatih berkali-kali tak terhitung banyaknya. Hingga syaraf-syarafmu mengingat dengan sempurna rangkaian aksi tersebut.

Hampir semua pemain tidak dapat bertahan dari tugas membosankan tersebut dan dengan mudah mengakhiri mimpi mereka untuk mempunyai ‘Final Move Personal’. Namun, beberapa pekerja keras berhasil membuat dan mendaftarkan OSS mereka, mendapatkan kehormatan yang setara dengan ketua dari style pedang pada Zaman Pertengahan. Akhirnya, beberapa pemain mendirikan guild bernama [00ryuu] dan beberapa membuka dojo di kota.

Yang membuat hal tersebut mungkin adalah fitur ‘Sword Skill Inheritance’ pada sistem OSS. Pencipta original dari OSS dapat meneruskan ‘Skill Manual’ pada pemain lain.

Tidak hanya pada PvP, OSS juga memiliki efek signifikan pada PvE. Karena itu semua orang ingin memilikinya. Berdasarkan trend-nya, pemberian skill menghasilkan harga yang tinggi. Skill Manual untuk «Final Move» yang melebihi 5 hit adalah barang termahal di ALO saat ini. Pengetahuan umum untuk OSS terkuat untuk saat ini adalah 8-hit «Volcanic Blazer» yang dihasilkan oleh Jendral Salamander Eugene, yang belum diturunkan ke siapapun karena ia tidak kekurangan uang. Asuna sendiri berhasil menciptakan 5-hit OSS setelah kerja keras berbulan-bulan, tetapi karena begitu melelahkan, dia tidak berencana untuk memulai membuatnya lagi.

Dan yang muncul pada situasi tersebut adalah Zekken? Ahli pedang misterius dengan 11-hit kombonya yang luar biasa.

"Yah, kalau begitu dapat dimengerti akan banyak penantang. Apa ada yang melihat langsung sword skill tersebut?"

Ketiga-tiganya langsung menggelengkan kepala mereka merespon pertanyaan Asuna. Mewakili mereka Lisbeth menjawab.

“Hmm, sepertinya ditampilkan di hari pertama pertarungan jalanan, tapi belum pernah digunakan di pertempuran sesungguhnya... Lebih tepatnya, tidak ada orang yang dapat memaksa Zekken menggunakan OSS itu.”

“Bahkan Lyfa tidak bisa?”

Menjawabnya, pundak Lyfa turun dan menggelengkan kepalanya.

“Meskipun kita hampir seimbang ketika HP kita berdua sekitar 60%... Pada akhirnya aku dikalahkan dengan skill normal.”

“Oh... –Ngomong-ngomong, hal penting yang belum kutanyakan. Ras dari Zekken, senjatanya? Apa itu?”

“Oh, Zekken seorang Imp. Pedang yang digunakan one-handed sword, tapi hampir setipis rapier Asuna-san – Secara keseluruhan, Zekken sangat cepat. Serangan normalnya hampir secepat sword skill... Saking cepatnya mataku tidak bisa mengikuti gerakan Zekken. Pertama kalinya aku menghadapi hal seperti itu, aku sungguh shock.”

“Tipe kecepatan, eh? Kalau Lyfa tidak bisa mengikuti gerakan Zekken, mungkin aku juga tidak punya kesempatan... –Ah.”

Saat itu juga, Asuna teringat hal yang penting.

“Bicara soal kecepatan, ada pemain lain yang seperti orang curang sedang tidur di sebelah situ. Bagaimana dengan Kirito-kun? Kelihatannya dia akan tertarik dengan hal seperti ini.”

Pada hal ini, Lisbeth, Silica dan Lyfa saling berpandangan dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

“—A, ada apa sih?”

Melihat Asuna yang terkejut, Lyfa terkikih dan mengatakan hal yang mengejutkan.

“Hahaha. –Oniichan sudah melawan Zekken sebelumnya. Terlebih lagi, dia kalah dengan anggun.”

“Bagaimana mungkin...”

Kalah. Kirito yang itu.

Asuna menjadi kaku, ternganga selama beberapa detik.

Dalam hati Asuna, Kirito sebagai seorang swordsman searti dengan «Kekuatan Sempurna». Baik di SAO dan ALO, dari orang-orang yang Asuna kenal, yang pernah mengalahkan Kirito pada duel hanya ketua dari Knights of Blood, Heathcliff, dan itu dikarenakan sistem proteksi sebagai Game Master.

Meskipun dia belum pernah menceritakan kepada Lisbeth dan yang lain, Asuna sendiri pernah bertarung secara serius dengan Kirito ketika di SAO. Ini terjadi sebelum mereka mengerti satu sama lain, ketika Asuna memerintah garis depan sebagai wakil ketua KOB.

Ketika mereka mendiskusikan metode untuk mengalahkan boss kuat di suatu lantai, terjadi pertentangan antara guild yang dipimpin KOB yang mengutamakan kecepatan dan beberapa pemain solo yang dipimpin oleh Kirito. Kedua pihak tidak menemukan kata sepakat, pada akhirnya diambil keputusan dengan cara duel yang diwakili oleh wakil tiap pihak.

Pada saat itu, Asuna sudah memiliki ketertarikan pada Kirito, namun dia juga ingin menghapuskan perasaan itu. Saat itu ia percaya membawa perasaan pribadi sebelum menyelesaikan permainan tidak dapat ditolerir.

Asuna merasa duel tersebut adalah kesempatan baik untuk menaklukkan kelemahan dalam hatinya. Mengalahkan Kirito, secara efisien mengalahkan boss dan sekali lagi kembali ke dirinya yang dingin.

Namun Asuna tidak mengetahui kekuatan yang tersimpan dalam wajah-tak dapat diharapkan dari Kirito.

Duel tersebut begitu panas. Selama pedang mereka beradu, semua perasaan tidak berguna di kepala Asuna tersingkir, hanya kenikmatan bertarung dengan musuh kuat yang memenuhi dirinya. Dia merasa seperti bertarung dengan impuls syarafnya, sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Berlangsung selama 10 menit, namun Asuna tidak menyadari waktu yang dihabiskannya.

Lalu Asuna kalah. Kirito melakukan tipuan yang sangat realistik –alasannya dipahami kemudian –gerakan «menarik pedang dari belakang punggungnya dan menebasnya», secara reflek Asuna menahannya dan dengan anggun terkena pada celah yang dihasilkan.

Pada akhirnya, setelah merasakan pertarungan tersebut, perasaan Asuna malah menjadi sesuatu yang tidak bisa ia lepaskan, dan pada saat yang sama, kesan mendalam pedang Kirito tertinggal dalam hati Asuna.

—Swordsman terkuat. Sampai hari ini, meskipun «Black Swordsman» dari SAO telah tiada, kepercayaannya tidak pernah goyah.

Karena itu Asuna begitu gelisah ketika mendengar Kirito kalah oleh ‘Zekken’.

Asuna mengalihkan pandangannya dari Lyfa ke Lisbeth dan bertanya dengan cukup terguncang.

“Kirito-kun, dia... Kamu serius?”

“Yah~ Iya...”

Lisbeth mengerutkan dahi dan mengangkat bahu.

“Meskipun kamu bertanya padaku, untuk tingkat pertarungan itu, seseorang sepertiku tidak bisa memutuskan mereka serius atau tidak... Tapi Kirito tidak menggunakan dua-pedangnya, jadi di aspek tersebut dia tidak memberikan sepenuhnya. Terlebih lagi, itu...”

Lisbeth berhenti sejenak, matanya merefleksikan cahaya dari perapian, dan melihat Kirito yang tertidur. Mulutnya menunjukkan senyumnya yang pasti.

“Ini hanya pendapatku. Mungkin, di game normal, Kirito tidak akan bertarung secara serius. Di sisi lain, Kirito hanya bertarung dengan serius ketika game ini tidak menjadi game lagi, ketika dunia virtual menjadi nyata. Karena itu lebih baik jika situasi yang memaksanya untuk bertarung serius tidak muncul. Dari awal, dia bukan tipe orang yang dengan mudah ikut campur dalam hal yang merepotkan.”

“...”

Asuna juga melihat wajah tertidur swordsman berambut hitam itu sekilas, dan mengangguk kepada Lisbeth.

“Ah... Benar juga.”

Di kedua sisi, Lyfa dan Silica perlahan mengangguk dengan emosi yang beragam.

Yang memecahkan keheningan sementara itu adalah adik Kirito di dunia nyata, Lyfa.

“—Bagaimanapun, ini hanya kesan yang kudapat... Tapi, kupikir oniichan bertarung dengan serius. Paling tidak, dia tidak memberikan kelonggaran. Terlebih...”

“... Apa?”

“Meskipun aku tidak begitu yakin, tetapi sebelum duel berakhir, ketika pedang mereka terkunci satu sama lain, sepertinya oniichan mengatakan sesuatu kepada Zekken... Segera setelah itu, jarak diantara mereka melebar dan oniichan tidak mampu menghindari serangan dari Zekken dan kalah...”

“Hmm... Terus apa yang dia katakan?”

“Hal itu, meskipun aku menanyakannya dia tidak mau memberitahuku. Namun, rasanya seperti... ada sesuatu...”

“Sungguh? Kalau begitu mungkin tidak berpengaruh juga meskipun aku yang bertanya.”

Asuna memandang tangannya dan bergumam.

“...Yang tersisa adalah menanyakannya langsung pada Zekken.”

Mendengar ini, Lisbeth mengangkat kedua alisnya.

“Jadi kamu benar ingin melawannya?”

“Meskipun aku merasa tidak akan menang. Aku punya perasaan orang yang dipanggil Zekken datang ke ALO dengan tujuan tertentu. Aku bicara tentang hal lain selain pertarungan jalanan.”

“Ah, kupikir juga begitu. Namun, untuk mengetahui hal tersebut, level-mu pasti setara dengan Kirito. Bagaimana dengan karaktermu? Mau menggunakan yang mana?”

Asuna sedikit berpikir tentang pertanyaan Lisbeth. Selain «Asuna», Undine pengguna rapier yang dia transfer dari SAO, dia juga membuat account baru dan melatih karakter baru dari awal, «Erika» seorang Sylph. Alasan dia membuat karakter baru sangatlah sederhana: Sesekali dia ingin mengganti penampilannya.

Erika terspesialisasi pada jarak dekat dan hampir semua ability pointnya dialokasikan untuk skill dagger, jadi lebih cocok untuk duel dibandingkan Asuna yang setengah healer/penyembuh. Namun, Asuna mengangkat bahu dan membalas dengan segera.

“Aku akan menggunakan karakter ini, yang aku lebih terbiasa. Karena musuhku tipe speed, kemenangan akan ditentukan dengan instan daripada DPS (Damage per Second). Apa semuanya ikut?”

Melihat sekelilingnya, Lisbeth, Silica, dan Lyfa mengangguk di saat bersamaan. Silica menggoyangkan ekornya dengan bahagia dan berkata.

“Tentu saja! Tidak mungkin aku melewatkan pertandingan ini.”

“Aku tidak tahu apa ini bisa dibilang pertandingan atau bukan... Jadi, sudah diputuskan. Zekken muncul di pulau pada lantai 24 jam 3 sore, kan? Jadi kita bertemu disini jam 2:30.”

Menepuk tangannya, Asuna membuka menu dan melihat waktu di dunia nyata.

“Gawat, sudah jam 6, aku hampir terlambat untuk makan malam.”

“Jadi kita berpisah disini untuk hari ini.”

Lyfa menyimpan jendela di hadapannya dan segera berkemas. Setelah berpamitan dengan mereka, swordswoman Sylph itu perlahan mendekati kursi goyang, menggenggam bagian belakangnya dan tiba-tiba menggoyangnya dengan liar.

“Oniichan, bangun! Waktunya pulang!”

Tersenyum melihatnya, tiba-tiba Asuna teringat sesuatu dan melihat Lisbeth.

“Hey, Liz.”

“Ada apa?”

“Barusan, kamu bilang Zekken baru melalukan transfer... Karena Zekken sangat kuat, mungkinkah... dia dari SAO?”

Merespon bisikan tersebut, Lisbeth mengangguk dengan ekspresi serius pada wajahnya.

“Aku juga mengira seperti itu. Tapi ketika kutanyakan pada Kirito pendapatnya setelah pertarungannya dengan Zekken...”

“Apa yang Kirito-kun bilang..?”

“Dia bilang tidak mungkin Zekken pemain SAO. Alasannya...”

“...”

“Dia bilang kalau Zekken ada di dunia itu, maka «Dual Blades» akan diberikan kepadanya.”


Bab 2[edit]

-* Beep, beep *

Dengan suara elektronik singkat seperti itu AmuSphere mati.

Perlahan Asuna membuka matanya. Bahkan sebelum matanya terfokus pada langit-langit di kamarnya yang gelap, Asuna sudah merasa kedinginan, udara lembab menempel di kulitnya.

Meskipun ia mengatur pengatur suhu ruangan (air conditioner) pada mode penghangat ringan, sepertinya dia lupa untuk mematikan timernya dan alhasil menjadi mati selama FullDive. Temperatur di kamar seluas 10 tatami tersebut hampir sama dengan suhu di luar. Mendengar suara pelan, dia berputar menuju jendela besar dan menyadari begitu banyak embun air pada kacanya yang gelap.

Sambil menggigil Asuna bangkit perlahan dari tempat tidur. Ia memanjangkan jarinya menuju kontrol pada control panel yang tertanam dan menekan sensor sentuhnya. Hanya dengan gerakan tersebut, disertai dengan suara mesin yang pelan, gorden tertutup, udara panas bertiup dari pengatur suhu ruangan dan lampu LED di langit-langit memancarkan cahaya oranye muda.

Satu paket teknologi interior yang dikembangkan oleh RECTO telah ter-install di kamar Asuna. Kamarnya telah direnovasi selama ia berada di rumah sakit, namun dengan alasan tertentu Asuna tidak menyukai sistem nyaman tersebut. Segala sesuatu di kamarnya dikontrol oleh jendela menu dalam hal ini seperti di dunia virtual, namun untuk alasan tertentu rasanya sedikit ‘dingin’ begitu hadir di dunia nyata. Ia merasa seperti selalu di batas pandangan anorganik dari sensor yang ter-install di sepanjang dinding dan lantai.

Boleh jadi alasan dia merasa seperti itu karena dia sering mengunjungi Kirito, dalam hal ini rumah Kirigaya Kazuto. Kehangatan rumah tradisional Jepang berbeda dengan suasana ‘dingin’ yang ia miliki. Hal yang sama juga ia alami di rumah kakek-nenek dari pihak ibunya. Ketika ia bermain di sana saat musim panas, dia selalu duduk pada beranda yang bermandikan sinar matahari dan mengayunkan kakinya sembari menikmati es serut buatan neneknya. Namun, telah lama kakek dan nenek dari pihaknya ibunya meninggal dan rumah tersebut telah dirubuhkan beberapa waktu yang lalu--.

Menghela nafas perlahan, Asuna mengenakan selopnya dan bangkit berdiri. Tiba-tiba ia merasa sedikit pusing, jadi dia melihat ke arah bawah sebentar, sadar betul akan berat yang menahannya di dunia nyata.

Tentu saja, perasaan berat tersebut terstimulasi di dalam dunia fantasi. Namun di dunia itu, jiwa dan raga Asuna dapat membumbung tinggi ke langit hanya dengan hentakan pelan di lantai. Berat di dunia nyata tidak hanya secara fisik, berat itu juga mengandung begitu banyak aspek yang tidak bisa disingkirkan sekeras apapun kamu mencoba. Meskipun ingin berbaring di tempat tidur, waktu makan malam sudah dekat. Bila dia terlambat semenit saja, ibunya akan memiliki hal lain yang akan dikeluhkannya.

Sembari berjalan dengan susah payah menuju lemari, pintunya terbuka tanpa menunggunya menggerakkan tangan. Melepaskan sweaternya yang nyaman, dengan malas ia melemparnya ke atas tempat tidurnya. Dia menggantinya dengan rok bersih berwarna hitam-ceri dan duduk di dekat meja rias. Kaca tiga sisi terbuka dengan otomatis diikuti dengan lampu yang menyala di atasnya.

Bahkan di rumahnya, ibu Asuna tidak mengijinkannya tampil dengan dandanan selebor. Asuna mengambil sisir dan dengan cepat merapikan rambutnya yang berantakan selama FullDive.

Tiba-tiba Asuna teringat pemandangan yang ia lihat ketika berada di rumah Kirigaya di Kawagoe. Lyfa/Suguha mengatakan bahwa ia dan Kirito bertanggung jawab untuk menyiapkan makan malam pada hari itu. Kazuto dengan mata mengantuk dipaksa turun ke lantai bawah oleh Suguha. Berdua mereka berdiri bersebelahan, Suguha memotong sayuran sementara Kirito memanggang ikan. Ibu mereka kembali pada saat itu, dan menikmati bir sambil menonton TV. Dengan bersemangat mereka berbincang-bincang sambil menyiapkan santapan dan ketika makan malam telah siap, mereka bertiga mengatakan “Mari makan” bersamaan.

Menghela napas panjang sambil gemetar, Asuna menahan air matanya, meletakkan sisir dan bangkit berdiri.

Lampu di belakangnya mati tanpa menunggu ia menutup pintu sambil ia berjalan keluar kamarnya menuju koridor yang gelap.

Pelayan Sada Akiyo baru membuka pintu depan ketika Asuna berjalan menuruni tangga semi-sirkular dan mencapai lantai pertama. Dia telah menyiapkan makan malam dan bersiap untuk pulang.

Asuna menghadap wanita pendek 40 tahun tersebut dan menyapanya.

“Anda telah bekerja keras, Sada-san. Aku berterimakasih atas pekerjaan anda setiap hari. Aku minta maaf aku menunggu sampai sekarang untuk mengatakannya.

Pada hal ini, Akiyo menggelengkan kepalanya dengan mata melebar sambil menganggap hal tersebut tidak ada dan dengan segera manyapa kembali.

“Ti, Tidak apa-apa, nona. Inilah pekerjaan saya”

Selama beberapa tahun, Asuna telah menyadari bahwa hal ini akan sia-sia namun ia tetap mengatakannya. Dia mendatanginya dan dengan pelan bertanya.

“Apa ibu dan kakak sudah kembali?”

“Sepertinya Kouichirou-sama tidak akan pulang sampai nanti. Nyonya besar sudah ada di ruang makan.”

“... Jadi begitu, terimakasih. Aku minta maaf telah mengganggu anda.”

Asuna menggangguk padanya, dan Akiyo membungkuk sekali lagi sebelum ia membuka pintu dan bergegas pulang ke rumah.

Asuna ingat bahwa Akiyo memiliki 2 anak di sekolah menengah pertama dan sekolah dasar. Meskipun ia tinggal di Setagaya, dia akan sampai di rumah pukul 7:30 setelah berbelanja bahan makanan. Masa-masa yang sulit untuk anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Sekali waktu Asuna mengatakan pada ibunya untuk mengijinkan Akiyo meninggalkan makan malam yang telah selesai di sini, namun ibunya hanya mengabaikannya.

Mendengar suara metalik dari tiga pintu yang terkunci. Asuna berputar dan menyeberang aula masuk untuk menuju ruang makan.

Bersamaan ketika dia mendorong untuk membuka pintu tebal dari pohon ek, suara pelan namun tegas mencapai gendang telinga Asuna.

“Kamu terlambat.”

Melihat jam di dinding, waktu tepat menunjukkan pukul 6:30. Baru saja Asuna hendak mengatakan hal tersebut, suara ibunya kembali terdengar.

“Tolong datang di meja makan lima menit lebih cepat.”

“... Maaf”

Bergumam perlahan, Asuna melangkah di atas karpet, mendekati meja dan duduk pada kursi dengan sandaran yang tinggi dengan mata sedih.

Di tengah-tengah ruang makan seluas 20 tatami terdapat meja panjang dikelilingi delapan kursi. Kursi kedua dari pojok timurlaut adalah kursi Asuna. Kakaknya Kouichirou duduk di sebelah kirinya dan ayahnya duduk di ujung timur, namun saat ini kedua kursi tersebut kosong.

Ibu Asuna- Yuuki Kyouko duduk berada diagonal dari sisi kirinya, membaca buku ekonomi sembari menikmati sherry favoritnya di salah satu tangannya.

Dia cukup tinggi untuk seorang wanita. Meskipun kurus, tampilannya yang begitu tegap menghapus itu semua. Rambutnya dicat dengan warna coklat pirang tertata di sisinya dengan potongan rapi sepanjang rahangnya.

Meskipun wajahnya cukup cantik, hidung dan garis rahang, begitu juga dengan kerutan dalam dekat mulutnya menghasilkan kesan yang sangat dingin. Mungkin kesan tersebut yang ingin ia ciptakan. Dengan kata-kata yang tajam dan sikap politik yang sengit, dia mengalahkan pesaing-pesaingnya dan meraih gelar profesor di usianya yang ke 49 tahun lalu.

Sembari Asuna duduk, Kyouko menutup buku bersampul tebal, meletakkan serbet di lututnya dan mengambil pisau dan garpu sebelum akhirnya melihat Asuna.

Asuna melihat ke bawah, bergumam “Selamat Makan”, dan mengambil sendok.

Untuk sementara, hanya suara alat-alat makan yang terdengar di ruang makan.

Menunya adalah salad sayuran dengan blue cheese, scafata di fave, ikan goreng dengan saus herb, roti gandum... hal seperti itu. Makanan sehari-hari ditentukan oleh kalkulasi nutrisi dari Kyouko, namun tentu saja bukan dia yang memasaknya.

Sambil menikmati makan, Asuna berpikir sejak kapan makan dengan hanya mereka berdua menjadi penuh ketegangan.

Tidak, mungkin sudah seperti itu sejak lama. Ia ingat ketika betul-betul dimarahi saat ia menumpahkan supnya atau tidak memakan sayurannya. Itu terjadi di masa lalu, Asuna tidak pernah tahu bahwa makan dapat begitu menyenangkan.

Sambil makan dengan kaku, pikirannya melayang menuju rumahnya di dunia lain. Tiba-tiba suara Kyouko menariknya kembali ke dunia nyata.

“... Apa kamu menggunakan mesin itu lagi?”

Asuna memandang sekilas ibunya, dan mengangguk.

“... Iya. Karena yang lain setuju untuk bertemu dan mengerjakan tugas bersama.”

“Hal-hal seperti tugas, kamu tidak akan belajar apapun kalau tidak mengerjakannya sendiri.”

Kyouko tidak akan mengerti meskipun ia mengatakan bahwa ia mengerjakannya sendiri. Asuna menundukkan kepalanya dan mengganti topik pembicaraan.

“Tempat tinggal mereka cukup jauh. Di sana, kami bisa bertemu kapan saja.”

“Menggunakan mesin seperti itu tidak bisa disebut pertemuan. Dari awal, tugas adalah sesuatu yang harusnya kamu kerjakan sendiri. Kamu cuma bermain kalau mengerjakannya dengan teman-teman.”

Menyentuh gelas sherry-nya, Kyouko berbicara lebih cepat.

“Dengar baik-baik, kamu tidak punya waktu untuk bermain. Karena kamu sudah dua tahun tertinggal dari anak-anak yang lain, harusnya kamu berusaha lebih keras untuk menebus dua tahun itu.”

“... Aku belajar dengan baik. Bukannya kartu laporan semester kedua sudah di-print dan kuletakkan di meja ibu?”

“Aku sudah melihatnya, tapi hasil evaluasi dari sekolah seperti itu tidak bisa dijadikan bahan pertimbangan.”

“Sekolah... seperti itu?”

“Dengar baik-baik Asuna. Di semester ketiga, kamu akan diajari guru pribadi di luar sekolah. Bukan yang populer akhir-akhir ini dengan internet, mereka akan datang ke rumah ini.”

“Tunggu... Tunggu sebentar, kenapa tiba-tiba ibu...”

“Coba lihat ini.”

Protes Asuna dihentikan Kyouko tanpa memberikan celah untuk alasan dan ia mengambil PC Tablet dari atas meja. Asuna mengerutkan dahi ketika ia melihat layar dari PC Tablet yang diberikan ibunya.

“... Apa ini... Contoh untuk... tes untuk murid pindahan?”

“Itu tes untuk perpindahan murid tahun ketiga di sekolah yang dikelola salah satu teman ibu, itu satu-satunya kesempatan yang ibu dapat setelah membujuknya dengan berbagai cara. Itu tidak seperti sekolahmu yang dikumpulkan bersama-sama, itu benar-benar sekolah. Disana menggunakan sistem kredit, jadi kamu hanya butuh setengah tahun untuk memenuhi syarat kelulusan. Dengan begitu, kamu bisa melanjutkan ke Universitas di bulan September.”

Asuna menatap Kyouko dengan tercengang, meletakkan PC Tablet di atas meja dan mengangkat tangan kirinya untuk menghentikan ibunya yang semakin lama semakin bersemangat.

“Tunggu, tunggu sebentar. Aku benar-benar merasa terganggu ibu memutuskan ini sepihak. Aku benar-benar menyukai sekolahku sekarang. Banyak guru-guru yang bagus di sana, aku bisa belajar dengan benar bila aku di sana. Tidak perlu harus pindah.”

Mendengar kata-kata itu, Kyouko menghela dengan tegas, menutup matanya, memiringkan gelasnya yang berlingkar emas dan berdiri tegak. Tindakan ini adalah tindakan khas Kyouko, dan merupakan teknik berbicara yang biasa dia gunakan untuk membiarkan musuh-musuhnya mengetahui keunggulannya. Bahkan banyak pria gemetar ketika dia melakukan tindakan ini di sofa ruang guru. Hingga suaminya Shouzou berusaha menghindari pandangan Kyouko ketika di rumah.

“... Ibu sudah menyelidiki dengan seksama.”

Kyouko berbicara dengan nada dikdatis.

“Tempat yang kamu datangi sekarang bahkan tidak bisa disebut sekolah. Kurikulumnya berantakan dan standar pelajarannya sangat rendah. Guru-gurunya dikumpulkan bersama, tidak mungkin mereka punya sejarah mengajar yang layak. Daripada fasilitas akademik, tempat itu lebih tepat disebut rumah sakit gila.”

“Itu... Pernyataan seperti itu...”

“Mereka membuatnya terlihat bagus dan menyebutnya fasilitas untuk mendidik murid-murid yang tertinggal karena peristiwa itu, tapi kenyataanya, sekolah itu hanya tempat untuk mengawasi semua anak-anak yang mungkin akan menimbulkan masalah di masa depan. Fasilitas seperti itu penting untuk mereka yang telah membunuh satu sama lain di dunia gila itu, tapi kamu tidak perlu ke sana.”

“...”

Asuna bahkan tidak mampu merespon perkataan yang sangat sepihak ini.

Sekolah yang ia ikuti sejak musim semi terakhir berada di Nishitokyo, dan sekolah tersebut dibangun dengan benar-benar tergesa-gesa dalam waktu dua bulan semenjak pengumuman proyek tersebut. Tujuannya adalah untuk membimbing anak-anak yang pendidikannya tertinggal selama 2 tahun akibat terjebak dalam game kematian «Sword Art Online». Semua pemain SAO yang berusia dibawah 18 tahun memiliki izin masuk bebas, dan bila lulus kamu dapat mendaftar ujian masuk universitas. Perlakuan terlalu baik tersebut menerima kecaman untuk sementara.

Akan tetapi, Asuna sendiri mengerti ketika ia mengikuti sekolah tersebut bahwa hal tersebut bukanlah keuntungan sederhana semata. Semua murid-murid diwajibkan mengikuti konsultasi satu kali dalam seminggu, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang secara jelas merupakan tes untuk perilaku anti-sosial. Berdasarkan jawabanmu, kemungkinan kamu dapat dikirim kembali ke rumah sakit untuk didiagnosa bahkan diminta untuk meminum obat. Jadi pernyataan Kyouko bahwa tempat tersebut adalah «Rumah Sakit Jiwa» tidaklah tanpa alasan.

Meskipun begitu, Asuna menyukai sekolah itu. Tidak peduli apa yang pemerintah dan kementrian pikirkan, guru-gurunya adalah mereka yang secara sukarela dan tanpa pamrih menghadapi murid-muridnya. Tidak perlu untuk murid-murid dengan sengaja menyembunyikan masa lalu mereka, dan lebih penting lagi dia dapat berkumpul bersama teman-teman dekatnya. Dengan Lisbeth, Silica, beberapa rekan-rekannya di baris depan, dan tentu saja –- Kirito.

Asuna menggenggam erat garpunya dan menggigit bibirnya, dan berusaha melawan gejolak dalam hatinya untuk menceritakan kepada ibunya segalanya dari awal hingga akhir.

Dia melawan gejolak untuk memberitahu ibunya, “Aku adalah salah satu dari orang-orang «yang telah membunuh satu sama lain» seperti yang ibunya sebutkan. Aku telah hidup dengan membunuh dengan pedangku setiap hari, dan aku tidak merasa sedikitpun penyesalan dari hari-hari itu.”

Kyouko melanjutkan pembicaraannya, tidak menyadari perjuangan di hati Asuna.

“Apabila kamu mengikuti tempat seperti itu, kamu tidak akan bisa melanjutkan ke universitas dengan baik. Pikirkan baik-baik, kamu sudah berumur delapan belas tahun. Tetapi, di mana kamu saat ini, kamu tidak tahu kapan kamu akan bisa melanjutkan ke universitas. Kamu harus pergi ke pusat pemeriksaan untuk pemeriksaan minggu depan. Apa kamu tidak khawatir sama sekali?”

“Hal seperti melanjutkan ke universitas... Tidak ada masalah kan kalau masuk beberapa tahun berikutnya. Lagi pula, melanjutkan ke universitas bukan hanya satu-satunya jalan hidup...”

“Tidak.”

Kyouko menolak dengan dingin kata-kata Asuna.

“Kamu punya kemampuan. Kamu tahu bagaimana sulitnya yang harus ibu lalui untuk menarik keluar kemampuan itu. Tapi kamu sia-siakan dua tahun di game aneh itu... Ibu tidak akan mengatakan ini kalau kamu hanya anak biasa. Akan tetapi, kamu tidak seperti itu. Tidak menggunakan bakatmu sepenuhnya dan membiarkannya membusuk adalah sebuah dosa. Kamu punya kualifikasi dan kemampuan untuk pergi ke universitas sempurna dan mendapatkan pendidikan kelas atas. Maka kamu harus melakukannya. Kamu bisa tetap di universitas dan terus belajar atau menggunakan kemampuanmu untuk pemerintahan atau swasta, ibumu ini tidak akan ikut campur sampai situ. Akan tetapi, ibu tidak akan mengijinkanmu untuk menyerahkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi.”

“Aku tidak punya hal seperti bakat alami.”

Akhirnya Asuna dapat menyela selama pidato panjang Kyouko.

“Jalan hidup seseorang harus ditentukan dirinya sendiri, iya kan? Di masa lalu, aku juga berpikir melanjutkan ke universitas yang bagus dan mendapatkan pekerjaan yang baik adalah segalanya dalam hidup. Tetapi, aku sudah berubah. Meskipun aku tidak bisa menjawabnya sekarang, aku yakin aku akan menemukan sesuatu yang ingin aku lakukan. Aku ingin tetap di sekolah yang sekarang untuk tahun berikutnya dan mencari tahu apa yang aku inginkan.”

“Itu hanya membatasi pilihanmu. Tidak peduli berapa tahun kamu di tempat seperti itu, tidak akan ada jalan yang bisa kamu pilih. Akan berbeda kalau kamu pindah sekolah. Universitas di atasnya juga terkenal, jadi kalau kamu dapat hasil yang baik disana, kamu bisa pindah ke universitas tempat ibu. Dengar baik-baik, Asuna. Ibu tidak ingin kamu berjalan di jalan yang salah. Ibu ingin kamu punya karir yang bisa kamu banggakan ke siapapun.”

“Karirku... Jadi, bagaimana dengan orang yang dikenalkan kepadaku bulan Januari kemarin? Meskipun aku tidak mengerti apa yang ia bicarakan, orang itu bicara seperti dia sudah jadi tunanganku. Bukannya ibu yang membatasi hidupku?”

Asuna tidak mampu lagi meredam getaran di suaranya. Meskipun dia mengerahkan semua kekuatannya di tatapannya. Kyouko dengan tenang meminum dari gelasnya.

“Pernikahan adalah bagian dari karirmu. Apabila kamu tidak menikahi seseorang yang bebas secara materiil, kamu akan menyesalinya di beberapa tahun kemudian. Hal-hal yang kamu katakan ingin lakukan menjadi mustahil. Pada aspek tersebut, Yuuya sangatlah sempurna. Akhir-akhir ini, bank lokal yang dijalankan oleh keluarga kita lebih meyakinkan daripada bank besar dengan persaingan konstan antar golongan. Ibu juga sangat menyukai Yuuya. Bukankah dia anak yang terus-terang?”

“... Sepertinya ibu tidak belajar sama sekali. Yang memulai insiden yang menyebabkanku dan banyak orang lain menderita dan membuat RECTO berada pada krisis finansial, bukannya dia Sugou Nobuyuki yang dipilih ibu?”

“Diam kamu.”

Roman muka Kyouko berubah, dan dia mengibaskan tangan kirinya seperti hendak mengusir serangga yang mengganggunya.

“Aku tidak ingin dengar lagi tentang orang itu... Awalnya, yang sangat menyayangi dan ingin mengadopsinya menjadi putranya adalah ayahmu. Dari awal, dia memang tidak pernah ahli dalam menilai orang lain. Tidak jadi masalah, meskipun Yuuya tidak begitu mengesankan, dengan begitu kita bisa tenang menerimanya.”

Memang betul, ayah Asuna, Shozou tidak pernah memperhatikan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dia mengabdikan seluruh tenaganya untuk menjalankan perusahaan, bahkan setelah dia menyerahkan jabatannya sebagai CEO, dia tetap mengabaikan keluarganya demi mengatur kerjasama dengan penanam modal asing. Shozou sendiri mengatakan ia sangat mengagumi cita-cita, kemampuan Sugou untuk mengembangkan dan memanage, dan semuanya terjadi karena ketidakmampuannya bahwa dia tidak menyadari kepribadian sebenarnya dari Sugou.

Akan tetapi, Asuna mengerti salah satu alasan Sugou Nobuyuki menjadi makin agresif sejak sekolah menengah pertamanya dikarenakan desakan kuat dari orang-orang di sekitarnya. Terlebih, sebagian kecil dari desakan itu pasti berasal dari kata-kata Kyouko.

Asuna menelan kembali keluhannya dan dengan kaku berkata.

“Bagaimanapun juga, aku sama sekali tidak mau berhubungan dengan orang itu. Aku akan memilih sendiri pasangan hidupku.”

“Tidak apa-apa, selama dia cocok denganmu, siapapun yang terkenal tidak masalah. Tetapi, aku katakan ini lebih dulu, anak seperti itu– murid dari fasilitas seperti itu tidak termasuk.”

“...”

Dari kalimat itu, dia merasakan Kyouko dengan pasti menunjuk orang tersebut, sekali lagi Asuna tercengang.

“... Apa mungkin.. Ibu menyelidikinya? Tentang dia...”

Dia bergumam dengan suara gemetar, namun Kyouko tidak menyangkal atau mengangkuinya, malahan dia hanya mengganti topik pembicaraan.

“Kamu harus mengerti, ibu dan ayahmu menginginkan kebahagiaan untukmu. Kami sudah mengharapkan itu semenjak kamu di taman kanak-kanak. Meskipun kamu mengalami sedikit kemunduran, kamu pasti bisa pulih. Selama kamu bekerja keras dengan serius. Kamu bisa mengumpulkan karir yang brillian.” Itu bukan masalahku, itu masalahmu, Asuna menggerutu pada dirinya sendiri.

Asuna dan kakaknya Kouichirou adalah aspek dari «karir brillian» Kyouko. Kouichirou masuk pada universitas kelas satu dan mendapatkan hasil sukses di RECTO. Seharusnya Asuna mengikutinya, namun ia terjebak dalam hal yang tidak dapat dielakkan seperti insiden SAO, dilanjutkan dengan kejatuhan image perusahaan RECTO karena kasus Sugou, menyebabkan Kyouko seperti memiliki cela dalam hidupnya.

Sword Art Online Vol 07 -055.jpeg

Asuna kehilangan kekuatan untuk melanjutkan perdebatan, meletakkan peralatan makannya pada piring yang masih setengah tersisa dan berdiri.

“... Tentang berpindah, akan aku pikirkan lagi.”

Dia hanya mengatakannya untuk saat ini, namun Kyouko dengan datar membalas,

“Batas waktunya minggu depan. Isi informasi yang dibutuhkan dan print tiga lembar kopi pada meja belajar sebelum waktu itu.”

Asuna memandang ke bawah, berputar dan berjalan menuju pintu. Awalnya dia hanya ingin kembali ke kamarnya, namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, dia berputar menghadap Kyouko dan berkata.

“Ibu.”

“...Ada apa?”

“Apa ibu masih merasa malu tentang orang tua ibu yang telah meninggal, menyesal karena ibu berasal dari keluarga petani dan bukan dari keluarga terkenal yang mempunyai sejarah?”

Mata Kyouko melebar karena terkejut untuk sesaat, diikuti dengan kerutan dalam di dekat alis dan mulutnya.

“... Asuna! Kesini kamu!”

Meskipun ia masih dapat mendengar suara tajam itu, Asuna menutup pintu dan menghalangi kata-kata tersebut. Dengan segera ia menaiki tangga seperti ingin melarikan diri dan membuka pintu menuju kamarnya.

Asuna merasakan kegelisahan yang tak tertahankan, dia berjalan lurus menuju kontrol panel kamarnya dan menonaktifkan AI gabungan. Hanya seperti itu, dia melompat ke atas tempat tidurnya, dan membenamkan wajahnya di kasur yang besar, tidak memperdulikan kerutan pada blus mahalnya.

Dia tidak ingin menangis. Sebagai seorang swordswoman, dia telah memutuskan untuk tidak meneteskan air mata kesengsaraan ataupun kesedihan. Akan tetapi, kebulatan tekadnya tak mampu membendung ketidakbahagiaan yang terus berkembang tanpa batas di dalam hatinya.

Swordswoman macam apa kamu, ejekan sebagian dari hatinya. Kamu mampu sedikit menebaskan pedang di dalam game, kekuatan apa yang kamu miliki di dunia nyata? Asuna menggigit bibirnya dan bertanya pada dirinya sendiri.

Bertemu dengan anak laki-laki itu di dunia tersebut, seharusnya dia sudah berubah. Seharusnya dia sudah berhenti mengikuti secara buta nilai-nilai yang diberikan orang lain dan bertempur untuk hal yang ia percayai.

Akan tetapi, dilihat dari luar, apa bedanya dia dengan sebelum datang ke dunia itu? Dia masih bersikap seperti boneka dan menunjukkan senyum palsu di hadapan saudara-saudaranya, dia tidak mampu menolak jalan yang dipaksakan orangtuanya. Bila ia mampu percaya pada dirinya sendiri di dunia virtual, lalu kenapa dia harus kembali ke dunia nyata?

“Kirito... Kirito.”

Tanpa sadar, dia mulai memanggil nama itu berulang kali.

Kirito– Kirigaya Kazuto, mampu tetap mempertahankan tekad kuat yang ia dapat di SAO bahkan setelah kembali ke dunia nyata selama lebih dari setahun. Seharusnya dia juga menghadapi tekanan yang begitu kuat, namun dia tidak pernah menunjukkan hal itu di wajahnya.

Di masa lalu, ketika ia menanyakan Kirito apa yang ia ingin capai di masa depan, dengan malu-malu Kirito tersenyum dan menjawab dia ingin menjadi seorang produser daripada hanya sebagai seorang pemain. Terlebih lagi, bukan sesuatu seperti software untuk game, dia ingin mengganti teknologi FullDive saat ini yang begitu constraint-ridden dan memproduksi tampilan yang lebih akrab antara mesin dan manusia. Untuk mencapainya, ia telah mengunjungi forum-forum luar negeri, belajar dengan aktif dan bertukar pendapat.

Asuna merasa Kirito akan berusaha menggapai tujuan itu tanpa keraguan. Bila memungkinkan, dia ingin berada di sisinya dan bersama mengejar mimpi yang sama. Secara teliti dia mencari tahu apa yang harus dia pelajari dan berharap mereka dapat melanjutkan di sekolah yang sama pada tahun berikutnya. Akan tetapi, sepertinya jalan itu telah terputus. Pada akhirnya dia tidak dapat menahannya, perasaan lemah menyerang Asuna.

“Kirito-kun...”

Dia berharap dapat langsung bertemu dengannya. Meski bukan di dunia nyata, dia ingin sendiri bersamanya di rumah itu, menangis mengungkapkan seluruh isi hatinya dan menceritakan segalanya. Namun, dia tidak bisa. Pemikiran bahwa yang Kirito cintai bukanlah Yuuki Asuna yang lemah, melainkan salah seorang pejuang terkuat Asuna «The Flash», menjadi belenggu berat dan menghantui dirinya.

?Asuna... sangatlah kuat... Jauh lebih kuat dariku...?

Dia teringat kata-kata yang Kirito bisikkan di dunia itu. Asuna mungkin akan menarik dirinya dari hati Kirito bila dia menunjukkan kelemahan.

Hal itu terlalu menyeramkan. Asuna berbaring, dan tanpa sadar tertidur sebentar. Dia melihat dirinya dengan sarung pedang berhiaskan perak tergantung di pinggangnya, bergandengan dengan Kirito, berjalan di suatu tempat dengan sinar matahari menembus pepohonan. Akan tetapi, Asuna yang lain terkunci di tempat yang gelap, hanya mampu memandang dengan diam kebahagiaan mereka berdua.

Di dalam mimpi manis namun menyedihkan tersebut, Asuna sangat berharap dia kembali ke dunia tersebut.


Bab 3[edit]

Lantai 24 Aincrad adalah lantai limnetik yang hampir seluruhnya terisi oleh air. Corak-nya sangat mirip dengan kota danau yang belum dirilis «Salemburg» di lantai 61, tempat dimana Asuna pernah tinggal.

Blok utamanya bernama «Panareze». Terdesain sebagai pulau buatan manusia di tengah danau besar, terhubung dengan pulau-pulau kecil yang tak terhitung banyaknya melalui jembatan melayang tersebar ke semua arah.

Asuna terkesima pada Panareze yang begitu meriah dari seberang danau, dan menyandarkan kepalanya di pundak Kirito.

Mereka berdua saat ini sedang duduk di pesisir selatan pada pulau kecil di sedikit arah utara dari blok utama. Pohon besar di belakang mereka bertunas, ombak kecil menyapu kaki mereka. Angin hangat berhembus di sekitar danau meskipun saat ini sedang musim dingin, dan rumput di sekitar bergemerisik lembut.

“Hei, apa kamu masih ingat? Saat pertama kali kamu datang ke rumahku.” Dia mengangkat wajahnya dan bertanya, Kirito membalas dengan senyum lemah.

“Bukannya aku sombong, tapi aku cukup percaya diri kalau aku punya ingatan yang buruk—“

“Eh—“

“—Tapi, aku masih teringat jelas waktu itu.”

“... Sungguh?”

“Tentu saja. Waktu itu, aku mendapatkan bahan makanan yang super langka, dan Asuna membuatnya menjadi stew. Ah... Daging itu begitu lezat... Sampai sekarang, aku masih sering membayangkannya.”

“Benar-benar deh! Hal yang kamu ingat cuman makan!”

Asuna mengeluh dan memukul dada Kirito, namun terdapat gambaran senyuman pada kata-katanya.

“...Yah, aku juga masih sering membayangkannya.”

“Apa- berarti kamu tidak boleh memprotes orang lain dong... Hei, stew itu, apa mungkin untuk dibuat ulang di dunia nyata?”

“Uh~huh... Pada dasarnya itu mirip dengan daging ayam, mungkin kalau aku membuat saus-nya... Tapi tetap saja, mungkin lebih baik kalau itu tersimpan dalam kenangan kita. Masakan yang tidak akan pernah kamu rasakan lagi, bukannya itu lebih baik?”

“Mmn, iya, itu benar.”

Memandang Kirito menggangguk dengan menyesal, Asuna sekali lagi tersenyum, Kirito pun tersenyum, dan berkata seakan dia teringat akan sesuatu.

“Ah, benar juga... Hei.”

“Ada apa?”

“Tanpa sadar kita sudah menyimpan cukup banyak Yurudo, kalau update lantai 60 sudah diperkenalkan, kenapa kita tidak membeli rumah di Salemburg? Rumah Asuna ada di sana di masa lalu.”

“Soal itu...”

Asuna memikirkan sejenak mengenai usulan Kirito, dan menggelengkan kepalanya.

“Tidak deh. Aku tidak punya kenangan indah di tempat tersebut. Pakai uang itu untuk membantu Agil untuk membuka toko di Algade.”

“Membantu membangun kembali toko keji itu? Bunganya sepuluh persen setiap sepuluh hari.”

“Wah, kamu terlalu jahat.”

Mereka bisa berbicara tanpa henti tentang kenangan yang mereka rasakan di Aincrad. Sembari mereka berbicara dan tersenyum, Asuna menyadari peningkatan jumlah pemain yang terbang dari Panareze ke pulau ini. Yang lain terbang melewati mereka berdua, menuju pohon besar di tengah pulau.

“Ah, sebentar lagi waktunya. Aku harus pergi.”

Sambil mengatakan itu, Asuna masih enggan untuk berpisah dengan kehangatan yang sedang bersamanya. Pada saat itu, Kirito berkata dengan ekspresi serius di wajahnya-

“Asuna. Kalau kamu melawan Zekken...”

“...Eh?”

“Er... Well, tidak, orang itu... benar-benar kuat, sungguh.”

Mendengar sedikit gagap di nada bicara Kirito, Asuna memiringkan kepalanya.

“Aku sudah mendengar cukup banyak soal kekuatan Zekken dari Lisbeth dan yang lain. Terlebih lagi, Kirito berhasil dikalahkannya. Dari awal, aku tidak pernah merasa akan menang. Aku hanya ingin melihat pedang itu... Selain itu, aku benar-benar tidak percaya Kirito-kun bisa kalah.”

“Untuk saat ini sudah banyak orang yang lebih kuat dariku. Well, bahkan dari antara mereka, Zekken termasuk spesial.”

“Ngomong-ngomong, Lyfa bilang kalau kamu mengatakan sesuatu saat pertarungan. Apa itu?”

“Ah tentang itu, ada sesuatu yang membuatku sedikit penasaran...”

“Apa itu?”

“Ini dan itu..”

Asuna menyadari dengan teliti kecemasan di wajah Kirito. Asuna menjadi lebih dan lebih bingung, lalu berkedip.

Tidak peduli betapa kuatnya pemain yang dipanggil Zekken, ini bukanlah SAO. Meskipun kamu tidak menyerah dan kehilangan seluruh HP-mu, kamu bisa hidup kembali saat itu juga selama ada seseorang yang menggunakan ‘ressurection spell / mantra menghidupkan’. Bahkan meski kamu kehilangan seluruh experience dikarenakan death penalty / penalti kematian, kamu hanya perlu melakukan hunt untuk beberapa jam untuk mendapatkannya kembali.

Akan tetapi, dengan suara pelan Kirito mengatakan hal yang tidak Asuna perkirakan.

“Aku bertanya pada orang itu – Kamu benar-benar penghuni dunia ini kan? Jawabannya hanyalah senyum ringan dan skill charge yang sungguh cepat dan brutal. Kecepatan itu... melampaui batas...”

“...Boleh dibilang, pemain yang sangat kecanduan?”

Asuna memiringkan kepalanya dan bertanya, menjawab pertanyaannya, dengan segera Kirito menggelengkan kepalanya.

“Bukan, aku tidak menunjuk pada dunia VRMMO, aku berbicara tentang seluruh «The Seed server», bukan itu juga salah. Boleh kubilang, itu adalah produk dari lingkungan hasil ciptaan full diving... Itulah apa yang aku rasakan.”

“Apa... maksudnya itu...?”

“—Lebih baik tidak membuat kesan awal terlalu cepat. Aku ingin kamu merasakannya sendiri. Aku pikir kamu akan mengerti kalau kamu melawannya.”

Sembari Asuna mengedipkan matanya ketika Kirito mengelus kepalanya, suara orang-orang yang mendarat terus terdengar dari pohon di belakang mereka. Lalu, mereka mendengar suara keras.

“Sedikit saja aku mengalihkan pandanganku dan kalian sudah kabur ke tempat seperti ini.”

Mendengar suara langkah di atas rumput, Asuna berdiri.

Lisbeth mengenakan dress apron berjalan dari balik pohon, berdiri dengan tangan di pinggangnya, melihat Asuna dan berkata.

“Maaf ya kalau aku mengganggu saat kalian sedang sibuk, tapi sudah hampir waktunya.”

“A, Aku tahu.”

Mengangkat dirinya dengan sayap di belakangnya, Asuna segera berdiri dan memastikan equipment-nya. Sebuah jaket dengan benang biru keperakan dan rok dengan jenis yang sama. Sepatu boot dan sarung tangan terbuat dari kulit naga air. Tergantung di ikat pinggang pedang yang melingkari pinggangnya adalah sebuah rapier dengan gagang kristal. Semuanya adalah harta karun grade tertinggi yang saat ini bisa didapatkan. Dengan begitu dia tidak dapat menyalahkan equipment-nya apabila dia kalah.

Menyelesaikan pemeriksaan barang-barangnya seperti tipe asesoris magis yang di-equip, dia melihat jam.

Masih ada sedikit waktu sebelum pukul 3 sore di dunia nyata. Asuna memandang sekilas Kirito yang berdiri di sisinya, berputar, melihat Lisbeth, Silica dan Lyfa yang berada di belakangnya, begitu juga Yui yang berada di atas kepalanya dan berkata.

“–Jadi, ayo kita berangkat.”

Mereka terbang rendah dalam satu baris, menuju tengah pulau yang tak bernama. Bukit tinggi membumbung di pandangan mereka sambil mereka bergerak menembus pepohonan yang makin menjauh. Cabang-cabang pohon mencuat dari pohon besar pada puncaknya, dan kumpulan besar pemain telah berkumpul melingkar di dasarnya. Sorak sorai bergemuruh bagai tsunami.

Ketika mereka menyadari terdapat ruang di antara penonton dan mendarat, seorang pemain terjatuh jauh dari atas disertai dengan jeritan. Secara brutal dia jatuh dengan kepala terlebih dahulu di dasar pohon, menghasilkan awan debu tebal.

Swordsman yang nampaknya seorang Salamander terlentang di lantai untuk sementara sebelum akhirnya menggelengkan kepala dan menghentak. Dengan ekspresi yang masih menunjukkan benturan akibat terjatuh, dia mengangkat kedua tangannya dan berteriak.

“Aku kalah! Aku menyerah! Aku berhenti!”

Di saat yang sama, suara yang menandakan akhir dari duel berbunyi dan suara tepuk tangan dan sorak sorai menjadi lebih kencang.

Luar biasa, ini sudah menjadi ke-67 kali kemenangan berturut-turut, tidak adakah yang bisa menghentikan orang itu, teriakan seperti itu yang tak terhitung banyaknya dipadu dengan pujian dan riuh. Mendengar itu, Asuna menyipitkan matanya dan melihat seolah untuk memastikan pemenangnya.

Di dalam pancaran sinar matahari yang membekas di antara cabang-cabang pepohonan, sebuah siluet pemain berputar turun.

Zekken lebih kecil dari yang dia bayangkan. Dari namanya, Asuna membayangkan dia akan seperti pria besar dengan otot-otot yang membengkak, namun Zekken bisa dibilang cukup kurus. Detailnya makin terlihat sembari Zekken turun perlahan berselimutkan cahaya.

Warna kulitnya putih susu dengan sedikit gambaran warna ungu, karakteristik unik dari Imp. Rambut panjangnya yang hitam-keunguan terlihat begitu berkilauan dan indah. Obsidian Armor yang melindungi dadanya sedikit menonjol, blus dan dress dibawahnya berwarna ungu biru-botol. Pada pinggangnya tergantung sarung hitam tipis.

Di hadapan pandangan tercengang Asuna, swordswoman tak terkalahkan «Zekken» dengan cepat berputar dan mendarat ringan dan anggun. Lalu dia mengangkat ujung roknya, meletakkan tangan di depan dadanya dan membungkuk layaknya seorang aktris. Di saat yang sama, lelaki di sekitarnya bersiul dan bersorak.

Zekken mengangguk perlahan dan berdiri, wajahnya dipenuhi senyuman dan dengan polos membuat tanda V. Dia jelas lebih pendek dari Asuna. Terdapang lesung pipit wajahnya yang kecil, hidung yang agak ke atas serta matanya yang besar dan bersinar seperti kilau Amethyst.

Asuna belum tersadar dari keheranannya, menyentuh abdomen Lisbeth dengan siku-nya.

“...Hei, Liz.”

“Ada apa?”

“Zekken – seorang gadis?”

“Uh-huh, apa aku tidak bilang sebelumnya?”

“Tidak, kamu tidak bilang! ...Ah, apa mungkin...”

Sekarang dia memandang sekilas wajah Kirito yang berdiri di sisinya yang lain.

“Alasan Kirito kalah...”

“Tidak, bukan itu.”

Kirito menggelengkan kepalanya dengan serius dan berkata

“Aku tidak meremehkannya karena dia seorang gadis. Aku sudah bertarung dengan serius. Sungguh... Paling tidak sampai pertengahan.”

“Siapa tahu?”

Asuna berputar menjauh darinya dengan kesal.

Saat itu sang Salamander bangkit berdiri, tersenyum meskipun dia kalah dan menjabat tangan Zekken sebelum berbalik arah dan kembali ke sudut penonton. Gadis yang mengenakan bando merah pada rambutnya yang hitam menggunakan sihir penyembuhan level terendah pada dirinya sendiri dan memandang sekitar.

"Lalu, penantang berikutnya, apakah ada?"

Suaranya pun adalah suara gadis muda yang tinggi dan memikat. Nada suaranya terdengar cemerlang dan tidak berdosa, membuatnya sulit untuk menghubungkannya sebagai seorang pejuang yang berpengalaman.

ALO tidak mendukung pergantian jenis kelamin, maka pemain itu pastilah perempuan, namun tubuh virtual yang terbentuk secara acak tidak merefleksikan umur dan fisik seseorang. Meskipun begitu, sikap nyata dari «Zekken» membuat orang lain percaya bahwa itulah umur dan penampilan aslinya.

'Kenapa kamu tidak pergi', 'Tidak mungkin, aku akan terbunuh dalam beberapa detik', percakapan seperti ini terus berdatangan dari sekitar, namun tidak seorangpun yang berani. Saat ini giliran Lisbeth yang menyikut perut Asuna.

"Hei, majulah"

"Tidak... Sebentar, aku harus menemukan temponya dulu..."

"Kamu bisa menemukannya dalam satu babak dengan anak itu. Sekarang, maju cepat!"

"Wah."

Gedebuk, punggungnya didorong, dan Asuna terjatuh ke depan beberapa langkah. Dengan segera ia mengembangkan sayapnya untuk mencegahnya terjatuh, bangkit tegak berdiri dan menemukan dirinya bertatap muka dengan sang gadis dengan nama sebutan Zekken.

"Nona, mau mencoba?"

Tersenyum dengan kejang, Asuna tidak bisa melakukan apapun kecuali,

"Soal itu... Well, aku siap."

Merespon dengan pelan seperti itu. Sebelum pertempurannya dengan Zekken yang dibayangkannya seperti pria yang besar dan buas, dia mengharapkan akan menjadi adu mulut yang mengadu kehebatan satu dengan yang lain, namun terlalu banyak hal yang sudah merusak temponya.

Namun, sorak sorai sekitar tetap saja riuk pikuk. Banyak orang mengetahui bahwa Asuna sering memenangkan turnamen bulana, dan suara yang memanggil namanya bisa terdengar.

"OKE!"

Gadis itu menjetikkan jarinya dan memberikan isyarat pada Asuna.

Bernapas dalam-dalam, Asuna memantapkan hatinya dan berjalan ke tengah-tengah dinding manusia. Setelah suara sekitar mulai berhenti perlahan, pertama-tama dia memastikan kondisi untuk pertarungannya.

"Tentang itu, bisakah kamu menjelaskan peraturannya?"

"Tentu saja. Kamu bisa menggunakan sihir dan item bila kamu mau. Namun, aku (boku) hanya akan menggunakan ini."

Gadis yang sungguh cocok dengan penggunaan kata panggilan orang pertama «boku» menepuk pangkal pedangnya dengan tangan kiri ketika merespon. Kepercayaan dirinya yang begitu naif memprovokasi hasrat Asuna untuk bertarung.

...Kalau begitu, aku juga tidak akan menggunakan cara-cara untuk mengekangnya seperti serangan sihir jarak jauh. Pertarungan terang-terangan diantara swordswomen adalah apa yang aku harapkan, bisik Asuna dalam hatinya sambil meletakkan tangan kanannya di ujung pangkal rapiernya, saat itu.

Zekken berbicara sesuatu dengan lantang yang lebih terkesan tidak terburu-buru.

"Ah, betul. Nona, pertarungan di darat atau udara, mana yang lebih kamu suka?"

Awalnya berpikiran pasti akan menjadi pertarungan udara, Asuna terkejut dan berhenti menghunus pedangnya.

"...Salah satunya boleh?"

Zekken menyeringai dan mengangguk. Asuna menjadi memikirkan apakah ini adalah sebuah taktik dari dirinya. Namun, tidak tersirat tanda-tanda kejahatan dari gadis Imp ini. Boleh dikatakan, dia sungguh-sungguh yakin bahwa dirinya dapat menang tidak peduli apapun jenis pertarungannya.

"Jadi, pertarungan di darat."

"Oke. Boleh melompat, tapi tidak boleh menggunakan sayap!"

Zekken segera menyetujuinya, dan melipat kembali sayap khas yang seperti bayangan pada punggungnya. Warna sayapnya yang berbentuk seperti sayap kelelawar seketika berpudar dan menjadi hampir tidak kelihatan. Dalam waktu bersamaan, Asuna juga menggunakan perintah untuk menghilangkan sayapnya, kedua tulang belikatnya merapat sepenuhnya dan tetap disana selama dua detik. Suara gemerincing terdengar dari belakangnya, dan dia mengetahui bahwa sayapnya telah menghilang.

Asuna kurang lebih sudah menguasai «Voluntary Flight» tanpa joystick di hari pertamanya di ALO sebagai pemain normal, dan sekarang teknik udaranya tidak lebih buruk dari veteran-veteran yang sudah bermain semenjak sebelum patch Aincrad.

Meskipun begitu, seperti yang diharapkan, pergerakan yang menyebar ke seluruh tubuhnya selama 2 tahun pertarungan di SAO tidak melemah sedikitpun. Sebenarnya, pertarungan di darat cukup sulit. Menggerakkan jari kakinya, dia merasakan kerasnya daratan yang berasal dari bawah sepatu botnya.

Selanjutnya, Asuna memastikan «Multicolor Pointer» dari gadis yang dikenal sebagai Zekken.

Jendela kecil ini secara otomatis muncul di dekat orang yang kamu fokuskan. Selain menampilkan nama target, HP, MP, dan ikon kecil untuk buff dan debuff, warna jendela juga menunjukkan hubunganmu dengan si target. Kondisi seperti ras yang sama, ras netral, ras musuh, teman, guild, party, dan yang lainnya akan merubah warnanya, karena itulah disebut sebagai multicolor pointer / pointer multiwarna.

Namun, karena inilah pertama kalinya Asuna dan gadis itu bertemu, namanya tidak akan tertampil, dan tidak ada apapun diatas HP bar-nya. Secara komparatif, di bagian kirinya terdapat ikon kecil. Yang dikenal sebagai «Guild Emblem». Seperti tersirat dari namanya, berarti orang tersebut tergabung dalam sebuah guild. Emblem dapat diedit dengan bebas, emblem gadis tersebut terlihat begitu lucu dengan hati merah muda dan dua sayap mengembang di sisinya. Asuna sendiri bukanlah bagian dari guild manapun, maka tidak ada emblem di pointernya. Beberapa kali, dia dan teman-temannya mengatakan untuk membentuk sebuah guild, tapi untuk alasan tertentu tetap saja tertinggal seperti itu.

Gadis itu mungkin juga sedang memandang pointer Asuna, setelah terfokus sedikit jauh dari Asuna sekali lagi dia memandang langsung dirinya dengan mata ungunya yang indah. Dia tersenyum, melambaikan tangan kanannya dan dengan mahirnya mengatur jendela sistem yang muncul. Setelah itu, permintaan untuk duel muncul di pandangan Asuna disertai dengan efek suara yang menggerakkan hati. Baris atasnya tertulis—

'Yuuki menantangmu'.

Dibaca Yuuki, mungkin adalah nama karakter gadis itu. Imut namun mengesankan, nama yang sangat cocok untuk dirinya.

Seperti di SAO terdapat 3 mode pilihan di bagian bawah jendela menu. Dimulai dari yang paling atas, yaitu «First Strike Mode», «Half Loss Mode» dan «Total Loss Mode». Di Aincrad sebelumnya, pada dasarnya semua duel dilakukan dalam first strike mode (mode pukulan pertama). Tentu saja tidak mungkin kehilangan seluruh HP, bahkan di dalam half loss mode (mode kekalahan sebagian), sangat mungkin mengurangi HP seseorang menjadi zona bahaya apabila serangan penentunya berupa serangan kritikal.

Sword Art Online Vol 07 -073.jpeg

Namun untuk saat ini, jelas sekali pilihannya adalah total loss mode (mode kekalahan total)

Merasakan perubahan waktu di sudut pikirannya, Asuna meng-klik OK. Nama Yuuki muncul di pointer multiwarna gadis tersebut. Di saat yang bersamaan, pointer yang sedang dilihatnya juga akan menampilkan nama Asuna.

Jendela menu duel menghilang secara otomatis, digantikan dengan timer selama 10 detik. Asuna dan sang gadis— «Zekken» Yuuki menghunus pedang mereka bersamaan, *ka-chink*, dua suara jernih saling bertautan.

Senjata Zekken adalah pedang lurus satu tangan dengan dua mata. Terlihat tembus cahaya dengan corak obsidian hitam seperti armornya. Menilai dari sinar dan detailnya, level senjata tersebut kurang lebih sama dengan rapier Asuna. Boleh dikatakan, kemungkinan pedang tersebut tidak mempunyai efek tambahan unik dan langka, senjata legenda.

Yuuki memposisikan pedangnya di depan pinggangnya, dan secara alami merendahkan tubuhnya. Sementara, Asuna meletakkan tangan kanannya di sisi tubuhnya, rapiernya tergenggam hampir tegak lurus. Dalam saat yang bersamaan, sorak sorai di sekitarnya menghilang seperti tersapu ombak.

Sementara dia menarik dan menghembuskan nafas dalam-dalam, hitungan di timer mencapai angka nol.

Dalam sekejap kata 'DUEL' tersiar, Asuna mengentakkan kaki dari tanah dengan seluruh tenaganya. Memperpendek jarak sekitar 7 meter dalam sekejap, dia memutar tubuhnya ke kanan.

"Ha!"

Diiringi teriakan tersebut, tangan kanan Asuna menusuk layaknya sebuah panah. Tusukan tersebut dipenuhi putaran dan kelembaman menghasilkan dua kali serangan sedikit ke kiri dari pusat tubuh Zekken, dan tusukan lain dengan mahir ke sebelah kanannya beberapa saat kemudian. Itu hanyalah sebuah skill reguler dan bukanlah sword skill, meskipun tidak cepat, namun bidikannya lebih terarah. Apabila dia menghindari dua tusukan pertama, dia tidak akan bisa menghindari yang berikutnya.

Seperti yang Asuna perkirakan, tubuh Yuuki bergerak sedikit ke kanan untuk menghindari dua serangan pertama. Ketika gerakannya terhenti, Asuna memasuki zona serangan untuk serangan ketiga—

Namun, saat ujung rapier hendak mengenai armor dadanya, tangan kanan Yuuki bergerak secara tidak jelas. Dalam waktu yang sama, percikan muncul di sisi kanan rapier Asuna, dan arah tusukannya sedikit bergeser.

Zekken secara akurat menghindari rapiernya yang bergerak dengan kecepatan ultra-tinggi, seketika otaknya menyadari hal tersebut, ujung rapiernya menggores armor Zekken dan serangannya mengenai udara.

Mengharapkan adanya serangan balasan, kulit di leher Asuna menjadi kaku. Namun, bila dia menarik kembali rapiernya saat ini, maka kuda-kudanya akan menjadi kaku. Mengikuti kelembaman skillnya, dia memantapkan hatinya dan berputar ke sebelah kirinya.

Dalam waktu yang sama, cahaya hitam yang mengincar lehernya terlintas dalam pandangannya.

"——!!"

Gemetar memenuhi tubuh Asuna ketika dia menghadapi kecepatan mengerikan seperti kilat. Dia menggertakkan giginya dan memutar tubuhnya hingga batasnya, kekuatan yang dihasilkan oleh kaki kanannya hampir saja mengkikis permukaan tanah.

Perbedaan antara rumput yang tumbuh secara rapat di bawah kakinya diatur sedikit pendek dibandingkan dengan bebatuan atau tanah kosong. Nilai ini mengkhianati Asuna dan kaki kanannya terpeleset. Dengan segera, tubuhnya miring secara tiba-tiba.

Namun, untungnya, pedang milik Zekken hanya melintas melewati dada Asuna. *Klang!* Tumbukan melewati dekat telinganya. Apabila rambut memiliki hitboxes (daerah hit), rambut biru muda panjang Asuna mungkin hanya akan tersisa setengah dari panjang aslinya. Dari sudut luar matanya, dia melihat energi terlepas menyebar ke udara.

Asuna mengembalikan keseimbangannya, menjejak tanah dengan sepatu bootnya dan melompat ke kanan. Dia melompat sekali lagi dengan kaki kirinya dan berhenti pada jarak yang aman.

Meskipun Asuna membungkuk rendah sebagai persiapan untuk serangan pengejaran, Zekken tetap dalam senyum yang sama, berhenti bergerak dan sekali lagi mengangkat pedangnya di pinggangnya. Asuna menenangkan detak jantungnya dan membalas senyumannya- tetapi didalam, dia dipenuhi keringat dingin.

Jalur tusukan yang menuju arahnya hanyalah poin tunggal. Pada dasarnya, kamu dapat menghindarinya menggunakan gerakan kaki, namun Zekken dengan akurat menangkis rapier Asuna.

Dibandingkan kecepatan serangan balasan, Asuna lebih terkejut pada kecepatan reaksinya yang luar biasa. Meskipun dia terus mendegar tentang betapa kuatnya Zekken, wajah manis tak terduga sang musuh membuatnya lengah. Awalnya dia mengira alasan Kirito kalah adalah karena kelengahan atau keleluasaan ketika melawan seorang perempuan, tetapi hal itu sepenuhnya tidak semestinya diberikan. Bahkan Kirito pun tidak mampu dengan sukses menangkis tusukan sepenuh tenaga Asuna sekalipun.

Sekali lagi Asuna menarik nafas dalam-dalam dan menahannya. Ia memang benar-benar musuh yang mengerikan, tapi menyerah hanya dalam satu ronde akanlah memalukan.

Tak diduga, suara bergaung di dalam telinganya.

—Pedang apa. Hal seperti itu, ini hanyalah sebuah permainan...

Asuna menggertakkan giginya dan membuang jauh suara dalam pikirannya. Dunia ini sudah menjadi dunia nyata, pertarungan di tempat ini adalah pertarungan sebenarnya. Dia harus menganggapnya seperti itu.

Sembari memacu dirinya, Asuna menggoncang rapiernya, mengangkatnya ke pundak kanannya dan siap menghadapi lawannya.

Kalau skill normal tidak bisa, maka dia harus bersiap menghadapi resiko menggunakan sword skill mulai sekarang. Namun sword skill mempunyai recovery time, apabila semua serangannya berhasil dihindari, dia pasti akan menerima serangan balasan yang fatal. Dia harus memikirkan cara untuk menghancurkan postur lawannya dan menghasilkan situasi dimana serangannya pasti mengenainya. Asuna mengepalkan tangan kirinya.

Sekali lagi dia mengentakkan kaki dari tanah dan melompat, kali ini pikirannya begitu jernih. Sesuatu yang jarang dia rasakan selama pertarungan di dunia ALO, perasaan ketika kegelisahannya terbakar dan pemikirannya dipercepat meliputi dirinya.

Kali ini, Zekken juga melompat ke depan. Senyum di sudut bibirnya terhapus dan cahaya bersinar di mata amethistnya.

Pedang obsidiannya datang meraung secara diagonal dari kanan atas, Asuna mendorongnya menjauh ke kiri. Tumbukan melengkung datang dari tangan kanannya beserta percikan dan suara metalik. Menggunakan pedangnya yang tertangkis, Zekken dengan cepat kembali mengayunkanya seolah dia tidak merasakan berat dari senjatanya, dia menyerang lagi dan lagi. Kecepatannya begitu tinggi sehingga sangat mustahil untuk bereaksi ketika kamu melihat serangannya. Memfokuskan seluruh pandangan pada lawannya, Asuna memprediksi arah serangan selanjutnya dari gerakannya dengan menangkis atau menghindarinya. Adakalanya pedang mereka bertemu dan menggores tubuh satu dengan yang lain, menyebabkan kedua HP mereka berkurang sedikit, namun tidak ada satupun serangan bersih.

Mengayunkan pedangnya dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba Asuna merasa khawatir.

Memang betul, serangan dan kecepatan reaksi Yuuki sang Zekken sungguh mengerikan. Menilai hanya dari kecepatannya saja, dia mungkin diatas Kirito. Meskipun begitu alasan Asuna mampu bertahan hingga saat ini bukan hanya karena banyaknya pengalaman bertarung yang dia alami di SAO, tetapi juga karena serangan lawannya terlalu biasa. Mulai dari awal hingga akhir, dia tidak menggunakan satupun tipuan, yang bisa merusak irama pertarungan dalam seketika.

Asuna merasakan bahwa mungkin, Yuuki tidak memiliki begitu banyak pengalaman melawan pemain lain. Kalau seperti itu, meskipun hanya sekilas, dia memiliki kesempatan untuk menang apabila dia mengejutkannya.

Memasuki celah diantara kombo tiga hit yang berdatangan dari kanan atas, kiri atas, dan sisi kirinya, tanpa ampun Asuna mendekati bagian dada Zekken. Keduanya hampir menempel antara satu dengan yang lain. Dengan begitu, tidak ada satupun dari mereka yang dapat menghindari serangan dengan pergerakan kaki.

Asuna membungkuk begitu dalam, rapier di tangannya terarah tepat ke pusat dari tubuh lawannya, dan tanpa ragu menusuk ke depan—

Zekken merespon, dan menangkis rapier itu dari bawah-

Saat itu juga, tiba-tiba Asuna menarik kembali tangan kanannya, dan di saat yang sama, mengepalkan tangan kirinya dan memukul sisi kanan Zekken. Ini adalah skill «Boxing» yang dia pelajari ketika dia mengunjungi tempat latihan dari ibukota Gnome yang berada sangat jauh. Meskipun serangan tidak memiliki kekuatan lebih karena dia tidak mengenakan senjata tipe knuckle, serangan itu menyebabkan sentakan yang tidak mungkin dihasilkan bila tidak menggunakan skill.

  • Dong *, tumbukan datang dari tangan kirinya, Zekken membelalakkan matanya dalam keterkejutan. Ini adalah peluang pertama dan terakhirnya. Asuna tidak ragu dan mengaktifkan empat-hit sword skill «Quadruple Pain».

Rapier Asuna bersinar merah terang dan disaat yang sama tangan kanannya terkontrol oleh sistem, memecah udara layaknya kilat.

Asuna yakin serangannya akan masuk. Kuda-kuda dari lawannya sudah goyah dan tidak mungkin untuk menghindarinya dalam hal jarak.

Namun, membiarkan sistem mempercepat gerakan tangan kanannya, Asuna melihat wajah Zekken, dan sekali lagi gemetar memenuhi seluruh tubuhnya. Meskipun mata Zekken terbuka lebar, tidak ada sedikitpun kepanikan terpancar di mata ungunya. Kedua matanya terfokus pada ujung dari rapier.

Dia mampu melihat tusukan ini-?

Seketika juga pikiran ini terlintas di benak Asuna, pedang Zekken bersinar.

Seperti pedang yang diletakkan di roda pengasah, suara kikisan keras terdengar empat kali terus menerus. Empat-hit kombo Asuna secara akurat berhasil ditangkisnya, bawah, kiri dan kanan, tidak satupun mengenainya. Asuna hanya dapat melihat bayangan tipis yang seperti tinta tersisa di pedang milik Zekken.

Hit-nya yang terakhir berhasil ditangkis, Asuna membeku dalam posisi tangan kanannya teregang ke depan untuk sepersepuluh detik- recovery time tanpa harapan ini mengambil alih tubuh Asuna. Zekken tidak membuang-buang kesempatan ini.

Dengan suara * klang *, dia menarik kembali pedang obsidiannya, pedang itu memancarkan sinar ungu.

Sebuah counterattack-sword skill!

"Aaah!"

Untuk pertama kalinya dalam pertarungan itu, Yuuki mengeluarkan teriakan penuh semangat yang mengaggumkan. Lalu dia menusuk dengan kecepatan yang akan sangat sulit untuk dihindari meskipun Asuna sedang tidak dalam masa recovery time, langsung mengenai pundak kiri Asuna. Menebas langsung ke arah kanan bawah, dia melakukan lima-hit kombo tanpa jeda. Semuanya tereksekusi dengan indah dan dengan cepat HP Asuna menjadi kuning. Dia tidak ingat skill pedang satu-tangan seperti itu, maka tidak salah lagi itu adalah sebuah «Original Sword Skill». Jadi dia mampu menghasilkan lima-hit kombo secepat itu.

Sword Art Online Vol 07 -081.jpeg

Ketika Asuna kebingungan dan memikirkan hal tersebut, cahaya dari pedang milik Yuuki tidak menghilang dan dia mengangkatnya ke kiri-atas.

Ternyata tidak berakhir dalam lima kombo. Serangannya masih berlanjut. Akhirnya terbebas dari waktu recovery dari skillnya, Asuna memulihkan dirinya dan sekali lagi bergetar ngeri.

Misalkan Yuuki menusuknya lima kali lagi, tidak salah lagi HP-nya akan habis. Akan tetapi, itu sangatlah tidak mungkin untuk dihindari.

Daripada mencoba melarikan diri sia-sia dan terkena serangan dari belakang, lebih baik untuk bertaruh pada sebuah kemungkinan kecil. Asuna meletakkan semua energinya pada tangan kanannya dan sekali lagi mengaktifkan sword skill. Satu-satunya OSS lima-hit yang berhasil ia buat, yang diberinya nama «Starry Tear».

Cahaya biru dan merah saling bertautan. Mulai dari pundak kanan Asuna menuju bagian kiri-bawah, ujung pedang Yuuki bertemu dengan hit sebelumnya dan membuat sebuah salib.

Akan tetapi, rapier Asuna akhirnya mengenai Zekken. Menghasilkan puncak dari bintang kecil, skill tusukan lima hit menembus armor hitamnya.

Mereka selesai bertukar lima hit, dan keheningan terjadi. Tidak satupun dari mereka terjatuh.

HP Zekken berkurang lebih dari setengah dan berubah menjadi kuning. Sementara bar HP Asuna memasuki zona merah, dan hanya tersisa sedikit lagi. Pada awalnya, Asuna yang karakter datanya diwariskan dari SAO, memiliki HP yang lebih tinggi dibandingkan pemain ALO. Sepuluh-hit kombo mengherankan itu berhasil menghabisi hampir semuanya, kekuatan dari Zekken benar-benar mengerikan, akan tetapi...

Tidak. Pedang Yuuki masih menghasilkan sinar berwarna ungu, sword skillnya belum berakhir.

Sekali lagi menarik pedangnya, dia mengarahkannya ke pusat tubuh Asuna, di titik pertemuan dari efek berbentuk salib.

Boleh dibilang, inikah OSS menakjubkan yang dipertaruhkan Zekken dalam duel ini? Asuna menghela napas panjang.

Kekuatan dan kecepatan yang melampaui akal sehat, terlebih keindahan yang melampaui itu semua. Aku tidak menyesal bila kalah dari sword skill semacam ini. Menyatakan ini di dalam hatinya, Asuna menunggu hit yang terakhir.

Tanpa ampun hit ke-sebelas datang- tapi berhenti tiba-tiba tepat sebelum menembus Asuna. Sistem support yang dipaksa berhenti menghasilkan kilatan cerah dan hentakan itu dilepaskan ke udara sekeliling, menyebabkan rumput sekitarnya jatuh perlahan.

"—?!"

Di hadapan Asuna yang tercengang, Zekken meletakkan pedangnya dan untuk beberapa alasan dengan segera berjalan ke arahnya. Dia menepuk bahu Asuna dengan tangan kirinya, tersenyum cerah. Membuka bibirnya, dan dengan penuh semangat berkata,

"Ya, sungguh luar biasa! Aku memilihmu!!"

"Ap...Eh...?"

Asuna sudah tidak mengerti sama sekali dan hanya bisa mengeluarkan suara yang linglung.

"Bagaimana, itu... Bagaimana hit terakhir duel ini...?"

"Aku sudah cukup dengan bertarung seperti ini. Apa kamu mau melanjutkannya sampai selesai?"

Mendengarkan dia berkata demikian sambil tersenyum, Asuna hanya bisa menggelengkan kepalanya. Apapun yang terjadi, apabila Zekken tidak menghentikan serangannya yang terakhir, pastilah HP Asuna berkurang sampai habis.

"Aku terus, terus menerus mencari orang yang kuat. Kali ini aku berhasil menemukannya! Hei nona, ada yang kamu lakukan setelah ini?"

"Itu... uh. Tidak..."

"Maka, ikutlah denganku sebentar!"

Sang Zekken, Yuuki menyarungkan kembali pedang miliknya di sarungnya yang berada di pinggang dengan bunyi denting dan dengan penuh semangat mengulurkan tangan kanannya. Asuna juga menyarungkan pedangnya sejenak dan dengan gelisah menggenggam tangannya.

Di saat yang bersamaan, Yuuki melebarkan punggungnya dan mengaktifkan perintah untuk mengembangkan sayapnya. Sayap kelelawar yang tembus pandang kembali muncul, mengangkat tubuhnya sedikit.

"Ah, iya."

Dengan segera Asuna mengulurkan kedua tulang belikatnya, memunculkan sayap miliknya dan menghentakkan dirinya dari dasar. Yuuki tersenyum sekali lagi, menggenggam tangan Asuna, berbalik dan dengan cepat terbang ke atas seperti roket.

"Hei, Asuna, kamu pergi kemana?!"

Menengok ke arah sumber suara tajam tersebut, Asuna melihat Lisbeth dengan wajah yang terlihat setengah-kaget dan setengah-bingung, berteriak dengan tangan di mulutnya. Lyfa, Silica dan juga Yui yang duduk di kepala Kirito semuanya tampak tercengang, namun Spriggan berpakaian hitam itu hanya tersenyum tenang, seolah-olah dia sudah memperkirakan perkembangan ini.

Disemangati oleh ekspresinya, Asuna tersenyum dan menarik napas dalam-dalam.

"Yah, soal ini... Aku akan menghubungi kamu nanti!"

Setelah dia meneriakkan hal itu kepada Lisbeth, di depannya, sayap Yuuki mengeluarkan cahaya ungu dan dia langsung memasuki ledakan kecepatan. Dengan tangan kanannya yang sedang ditarik, dengan panik Asuna mengepakkan sayap di punggungnya, mencoba mengikuti punggung dari swordswoman muda misterius tersebut.

Zekken terbang langsung ke arah selatan melewati danau lantai 24 itu, melalui sebuah lubang di batas Aincrad dan menuju ke luar tanpa keraguan.

"Uwah!"

Di saat yang bersamaan, awan tebal mengenai wajah Asuna. Mereka terus bergerak maju di dalam ruang putih murni itu selama beberapa detik sebelum tiba-tiba memotong lapisan awan, langit biru membentang tanpa batas di hadapan mereka.

Di sudut kanan bawah matanya, dia bisa melihat kerucut hijau terbentang saat mereka menembus lapisan awan. Itu adalah puncak dari World Tree yang menjulang di tengah Alfheim. Melihat di bawahnya, samar-samar dia dapat melihat permukaan biru. Dilihat dari bentuk melingkar yang meraup keluar dari garis pantai, sepertinya Aincrad terbang di atas «Crescent Gulf» di wilayah Undine.

Sembari Asuna bertanya-tanya kemanakah mereka akan pergi, Zekken yang terbang dihadapannya tiba-tiba berbalik 90 derajat dan mulai terbang ke atas. Memutar tubuhnya, Aincrad terlihat di hadapannya, bentuknya yang besar dan berlekuk menjulang tinggi seperti tebing yang curam. Melewati seratus meter lantai satu per satu, Zekken terus terbang semakin tinggi.

-Meskipun kamu bisa mengatakan seperti itu, kenyataanya kamu dapat bebas masuk dan keluar dari Aincrad untuk lantai yang sudah diselesaikan. Batas luar dari lantai yang belum diakses adalah zona tidak dapat diakses. Asuna sedikit khawatir dan ingin bertanya kepadanya sekedar untuk mengkonfirmasi, namun tepat ketika dia menarik napas dalam-dalam dan bersiap-siap untuk berteriak, sekali lagi sudut penerbangan mereka berubah 90 derajat.

Sepertinya tujuan Zekken adalah di lantai 27. Jika Asuna ingat dengan benar, itu adalah posisi garis depan saat ini. Melalui celah di dinding berlumut, mereka terbang ke dalam dengan keras. Seketika itu juga, keadaan di sekitar mereka menjadi gelap.

Lantai ke-27 Aincrad adalah negara dengan kegelapan abadi. Ada bukaan sedikit di bagian eksterior dan sinar matahari tidak bersinar bahkan saat siang hari. Sejumlah besar stalaktit bergantung tidak merata dari langit-langit di dalam, dan di atasnya terdapat permata prismatik besar di sana-sini, menghasilkan cahaya biru yang buram. Dalam hal kesan, keadaain ini mirip dengan bawah tanah dari wilayah Gnome di utara Alfheim.

Gadis imp itu, yang penglihatan pada malam harinya hampir sama baiknya dengan ras Spriggan, menarik tangan Asuna dan terbang di antara stalaktit. Dari waktu ke waktu, sekelompok «Gargoyles» datang ke hadapan mereka, tapi Yuuki tidak tertarik untuk bertempur, dan dengan terampil terus menghindari jarak pandang mereka dan terus terbang.

Setelah terbang ke jurang yang muncul dan meluncur perlahan-lahan selama satu menit lebih, sebuah kota kecil mulai terlihat di bagian bawah dengan lembah yang melingkar. Ini adalah kota di lantai 27 bernama «Ronbaru».

Gang dan tangga secara kompleks saling silang-menyilang di kota ini, tampak seolah-olah diukir dari blok batu dengan cahaya oranye bersinar di atasnya. Seperti api unggun yang terbakar di malam yang dingin, terlihat begitu menenangkan.

Jejak cahaya biru muda dan ungu membentang dari Yuuki dan Asuna dalam kegelapan saat mereka terbang dan secara perlahan mendarat di plaza melingkar di pusat kota.

BGM tenang yang menandakan bahwa mereka telah memasuki kota itu terdengar di telinganya, dan sedikit aroma daging panggang yang tercium menggelitik hidungnya- ketika Asuna berpikir tentang hal itu, dia mendarat di lantai batu dengan perlahan.

Asuna mengatur nafasnya dan melihat sekeliling. Ronbaru adalah kota night elf, menyesuaikan setting tersebut tidak ada satupun bangunan besar. Sebuah workshop kecil, toko dan penginapan terbuat dari batu cyan terhubung dengan rapat. Di bawah cahaya oranye, pemandangan ini memiliki keindahan seperti-fantasi dan keramaian festival malam.

Selama di SAO, bahkan ketika mereka sedang menyelesaikan lantai, orang-orang berkumpul di kota ini hanya untuk sementara waktu dikarenakan ada tidak ada fasilitas penting di sini. Asuna juga ingat hanya tinggal di kota ini selama beberapa hari saja. Tetapi sekarang, karena ini adalah garis depan, banyak pemain dengan bangga berjalan di sekitar, suara gemericing berasal dari baju besi mereka. Orang-orang tampaknya membawa emosi temperamen dan atmosfer yang tajam dari seorang pejuang. Melihat itu, perasaan rindu bercampur dengan kepahitan melayang ke dalam hati Asuna.

Untuk mendapatkan rumah kayunya, Asuna berada di garis depan terus menerus sampai mereka telah menyelesaikan lantai 22, tapi dia hampir tidak pernah berpartisipasi dalam pertarungan boss setelah itu. Dia merasa bahwa kegembiraan «memasuki kota baru» harus diberikan kepada para petualang dari Aincrad yang baru untuk dinikmati. Selain itu, ingatannya di garis depan tidak semuanya menyenangkan.

Setelah menutup matanya dan dengan perlahan menggelengkan kepalanya untuk membuang semua sentimennya, Asuna memandang ke arah Zekken yang berdiri di sampingnya.

"...Hei, kenapa kamu membawaku ke sini? Apa ada sesuatu di kota ini?"

Menanggapi pertanyaan itu, Zekken tersenyum dan sekali lagi menarik tangan Asuna.

"Sebelum itu, mari kukenalkan teman-temanku! Sebelah sini!"

"Ah, sebentar..."

Mengikuti punggung Zekken yang tiba-tiba mulai berlari, Asuna memasuki salah satu gang sempit yang diperpanjang secara radial dari plaza.

Mendaki dan menuruni tangga kecil, melewati jembatan dan terowongan, mereka tiba di depan apa yang tampaknya seperti sebuah hotel. Mengetuk di samping tanda berbentuk seperti pot terbuat dari besi dengan «INN» tertulis di atasnya, mereka masuk melalui pintu tersebut. Mereka melewati seorang NPC berjenggot yang tertidur dan melangkah jauh ke dalam pub dan restoran. Pada saat ini-

"Selamat datang, Yuuki! Apa kamu berhasil menemukannya?!"

Suara riuh seorang anak laki-laki menyambut mereka berdua.

Lima orang duduk di meja bundar di tengah kedai. Tidak ada orang yang lain. Zekken berjalan di depan mereka, dengan cepat berbalik dan menghadap Asuna, dengan bahagia membuka tangan kanannya, menegakkan dada dan berkata,

"-Mari kuperkenalkan, ini adalah guildku, sahabatku dari «Sleeping Knights»."

Dia berbalik sekali lagi, dan kali ini memberi isyarat pada Asuna.

"Dan ini-..."

Tiba-tiba kata-katanya terhenti di sana. Yuuki mengerut, memutar matanya dan dengan imut menjulurkan lidahnya.

"...Maaf, aku masih belum bertanya siapa namamu."

Kelima pemain itu jatuh dari kursi mereka secara bersamaan dengan berisik. Melihat hal ini, Asuna tidak bisa menahan tawa dan setelah menekuk lutut, dia mengatakan namanya kepada mereka.

"Senang bertemu dengan kalian. Namaku Asuna."

Dan kemudian, di sisi paling kiri Asuna, seorang Salamander pendek berdiri dengan semangat yang besar. Menggoyangkan rambut oranyenya yang dikepang di belakang kepalanya, berkata dengan suara bersemangat.

"Aku Jun! Halo Asuna-san!"

Di sisinya ada seorang Gnome besar. Dengan mata berseri tersembunyi dibalik rambut bergelombangnya yang berwarna coklat pasir membuatnya tampak ramah. Dia menarik perutnya yang mencuat, membungkuk, dan menyebutkan namanya dengan nada santai.

"Ah, tentang itu, nama saya Thatch. Semoga kita bisa berteman dengan baik."

Yang selanjutnya berdiri adalah pemuda Leprechaun yang kurus. Rambut berwarna kuningan dan bulat rapi, dengan kacamata berbingkai besi memberinya kesan seperti seorang mahasiswa. Dia melebarkan mata kecilnya, membungkuk dan tersipu malu sambil memperkenalkan dirinya dengan tergugup.

"Aku, aku, itu, namaku Taruken. Mohon bantuannya... Aduh!"

Teriakan di akhir kalimatnya dikarenakan pemain perempuan yang duduk di sebelah kirinya menendang dengan keras tulang keringnya dengan sepatu botnya.

"Cukup, Taru, berhenti seperti itu. Kamu selalu seperti ini di hadapan gadis!"

Mengatakan ini dengan nada yang gelisah dan berkesan, dia bangkit dari kursinya. Dia melebarkan matanya dan tersenyum kepada Asuna, menggaruk rambutnya yang hitam yang panjang keluar seperti matahari dan menyebutkan namanya.

"Aku Nori. Senang bertemu denganmu, Asuna-san."

Dilihat dari kulitnya yang hitam dan sayapnya yang abu-abu, sepertinya dia adalah seorang Spriggan, namun alis tebal, bibir dan fisik yang besar tidak kelihatan seperti Spriggan sama sekali.

Dan kemudian, yang terakhir adalah seorang pemain Undine wanita seperti Asuna. Rambutnya panjang biru mudanya yang hampir berwarna putih murni tergantung dari bahunya. Mata birunya yang dalam dan tenang bersinar di bawah bulu matanya yang terkulai. Hidungnya yang panjang, bibir berkilau dan tubuhnya yang begitu ramping benar-benar memberikan kesan sebagai seorang healer Undine.

Wanita itu berdiri dengan anggun dan dengan tenang memperkenalkan dirinya.

"Senang bertemu denganmu, aku Shiune. Terima kasih telah datang ke sini."

"Dan yang terakhir—"

Akhirnya, Zekken melompat ke kanan, berdiri bersama lima orang yang lain dan dengan mata besarnya yang bersinar berkata,

"Aku, yang juga pemimpin guild, Yuuki! Asuna-san..."

Dia melangkah maju dan menjabat tangan Asuna,

"Mari kita berjuang bersama!"

"Berjuang... untuk apa?"

Asuna kembali tersenyum dan bertanya, Yuuki agak terkejut dan sekali lagi menjulurkan lidahnya.

"Eh, aku belum bilang sama sekali!"

  • Gubrak! * Melihat kelimanya sekali lagi terjatuh dari kursi mereka, Asuna tidak bisa menahan diri lagi. Dia tertawa terbahak-bahak, dan dengan segera Yuuki dan yang lain juga tertawa riang.

Ketika akhirnya dia berhenti tertawa, Asuna sekali lagi memandang para anggota «Sleeping Knights»- Dan kemudian, dia merasa sedikit merinding di belakang punggungnya.

Mereka semua sangat kuat. Asuna bisa melihat ini dari setiap gerakan mereka. Keenam orang ini sudah terbiasa sepenuhnya bergerak di dunia VR. Jika mereka semua bertarung, mungkin mereka hampir sekuat Zekken.

Asuna, mungkin juga Kirito, Liz dan yang lain, mereka tahu tentang keberadaan kelompok yang kuat ini. Jika mereka juga ditransfer dari dunia yang berbeda seperti Zekken, mereka pastilah kelompok yang terkenal di dunia VR di mana mereka berasal.

Apa alasan mereka pindah ke ALO, membuang karakter dan semua item mereka... Sementara Asuna bertanya-tanya tentang hal ini, Zekken- Yuuki, yang akhirnya berhenti tertawa, menggaruk kepalanya yang dihiasi oleh hairband merah dan dengan malu-malu berkata.

"Maaf, Asuna-san. Aku membawamu ke sini tanpa memberitahu kenapa. Aku gembira akhirnya aku menemukan seseorang yang hampir sama kuatnya sepertiku, dan hanya... Artinya, aku akan meminta tolong padamu sekali lagi. Aku... Tolong bantu kami!"

"Membantu... kalian?"

Memiringkan kepala dan mengulangi hal ini, Asuna terpikir berbagai kemungkinan dalam seketika.

Mungkin ini tidak hanya membantu mencari uang, item atau skill point. Guild ini sudah berada pada level tinggi, menambahkan Asuna harusnya tidak membuat banyak perbedaan.

Demikian pula, sulit untuk dipercaya bahwa mereka bertujuan untuk mencari sesuatu seperti rare item atau tempat tinggal. Ini berbeda dari SAO di mana informasi itu sendiri diperdagangkan dengan harga tinggi, tumpukan informasi tentang ALO secara bebas dipublikasikan di situs eksternal. Jika kamu mengacu kepada itu dan mencari di sana, hampir barang seperti apapun dapat diperoleh pada akhirnya.

Perlu dicatat bahwa «Kekuatan» yang sedang Zekken cari bukanlah murni secara numerik, termasuk juga mengetahui bagaimana caranya untuk bertempur. Yang dibutuhkan lebih untuk pertempuran melawan pemain lain dan bukan monster. Selain itu, karena dia memperkenalkan guildnya, maka kemungkinan ini adalah pertempuran dalam skala besar dan bukanlah duel satu-lawan-satu seperti apa yang Zekken lakukan sampai saat ini- Jadi secara sederhana, ini adalah pertempuran tanpa aturan melawan guild lain.

Mengingat ini, Asuna menggigit bibir perlahan dan berkata dengan cemas.

"Tentang itu... Jika kamu memerlukan bantuan dalam konflik melawan guild lain, aku minta maaf..."

Dalam pertempuran melawan pemain lain di mana aturan kompetisi dan sistem duel dihapus, perasaan menyimpang selalu ada. Tentu saja, pemain yang tidak akan membiarkan konflik berlalu setelah terjadi sangatlah sedikit, tapi kemungkinan itu akan membawa masalah pada masa depan teman-temannya dan bukan hanya itu- Asuna juga tidak dapat dikesampingkan.

Jadi meskipun Asuna bertemu dengan orang yang bertindak tidak masuk akal saat sedang berburu, dia tidak akan menghunuskan pedangnya untuk melawan mereka.

Untuk menjelaskan hal ini sesingkat mungkin, Asuna sekali lagi membuka mulutnya. Namun, mata Zekken melebar sesaat sebelum dia menggeleng.

"Bukan, bukan, kita tidak akan melakukan sesuatu seperti berperang melawan orang lain. Tentang itu... itu, kami... mungkin kamu akan tertawa..."

Menurunkan kepalanya, Zekken malu-malu mengerutkan bibirnya, menatap Asuna dan mengatakan sesuatu yang tidak terduga.

Sword Art Online Vol 07 -095.jpeg

"...Tentang itu, kami ingin mengalahkan boss lantai ini."

"Oh, begitu... Hah?!"

Terceplos suara tersebut, ini benar-benar di luar ekspektasinya. Dia awalnya mengira bahwa dia mendengar tujuan yang lebih parah daripada konflik antar guild, tapi ternyata mengalahkan boss lantai ini, tujuan yang sangat normal dan lurus. Para pemain yang saat ini berada di garis depan tidak diragukan lagi memiliki tujuan yang sama.

"Boss...? Boss yang berada di bagian paling dalam dungeon...? Bukan mob bernama yang akan respawn pada waktu tertentu?"

"Iya. Yang hanya bisa kita kalahkan sekali."

"Aku mengerti... Jadi begitu... boss, huh~"

Asuna diam-diam melirik wajah dari kelima anggota guild yang lain, mereka semua berkedip dan menunggu tanggapannya.

Dengan kata lain, mereka ingin bergabung dengan guild yang dibentuk secara khusus untuk mengalahkan boss tiap lantai, sebuah «Clearing Guild». Mereka baru saja ditransfer dan tidak punya koneksi sama sekali, jadi mereka meminta dirinya untuk membantu memperkenalkan mereka kepada kelompok veteran- Apakah seperti itu?

"Tentang itu... Erm, Ze... bukan, Yuuki, karena kamu sangat kuat..."

Perkembangan seperti ini sedikit di luar perkiraannya, Asuna memejamkan mata, mengubah caranya berpikir dan mempertimbangkan kemungkinan sebenarnya. Di antara para pemain yang saat ini berada di garis depan Aincrad, sekitar 80% dari mereka asli berasal ALO dan 20% berasal dari SAO. Saat ini kelompok dari ALO dan SAO telah membuat perdamaian, dan guild clearing benar-benar telah bercampur. Namun, ketika saat pertama kali upgrade, hubungan mereka sangatlah kaku. Karena di satu sisi ALO menjadi game pertama yang menggunakan AmuSphere, sementara di sisi lainnya SAO adalah VRMMO realistis yang pertama, baik «Fairies» dan «Swordsman» sama-sama memiliki ego yang kuat. Begitu pun Asuna.

Dan tiba-tiba, ada kelompok yang baru melakukan transfer dari game lain tanpa diundang mengatakan 'Ijinkan kami bergabung', tentu saja tidak dapat bergabung dengan grup raid semudah itu- Namun, kekuatan Yuuki sang «Zekken» berada di atas rata-rata. Jika kelima anggota lainnya berada pada tingkat yang sama dan mereka menunjukkannya, bisa saja ada kemungkinan.

"Memang... untuk pemetaan lantai ini sudah dekat dengan ruang boss, aku tidak tahu apakah kalian akan diijinkan bergabung melawan boss jika kalian secara tiba-tiba meminta. Bahkan jika itu tidak mungkin untuk saat ini, jika kamu bergabung mulai dari awal lantai berikutnya, dengan kekuatan kalian, kalian mungkin dapat bergabung dengan grup raid boss... jumlah maksimum orang dalam grup raid adalah 49 orang, jadi aku tidak tahu apakah kalian berenam dapat bergabung... "

Ketika Asuna berbicara sambil berpikir dan mencapai poin ini-

Sekali lagi Yuuki menyusut dengan malu-malu, dan mengatakan sesuatu diluar imajinasi Asuna.

"Tentang itu. Ini sedikit berbeda dari apa yang Asuna katakan. Kami tidak ingin bergabung dengan kelompok besar... Kami ingin menang dengan kami berenam ditambah Asuna-san."

"...Eh, apa?!"

Suara terkeras yang dia buat semenjak dia dibawa ke penginapan ini keluar dari mulut Asuna.

Alasannya sangatlah sederhana.

Dibandingkan dengan SAO yang awal, mob yang menjaga rute ke lantai berikutnya dalam Aincrad yang baru ini telah dikotori dengan power-up. Tentu saja, perubahan substansial dalam sistem ini tidak dapat begitu saja dibandingkan, tetapi dengan kehati-hatian, para boss di masa lalu dapat dikalahkan tanpa jatuhnya korban satupun, sementara boss yang baru menyerang pemain seperti biji dandelion dengan menggunakan serangan dan skill yang sangat kuat. Kekuatan mereka nyaris irasional.

Tentu saja, strategi yang digunakan harus berubah. Mengumpulkan jumlah orang maksimum dalam penyerangan dan mempersiapkan penyembuh dengan perkiraan akan ada banyak kematian adalah strategi yang solid. Daripada satu orang yang mengorbankan hidupnya untuk menerima 10 damage, lebih baik fokus menempatkan 10 orang untuk terus menerima 11 damage. Penyerangan terakhir yang Asuna ikuti adalah pada lantai ke-21, meskipun pada lantai rendah dan mereka telah membentuk 7 kelompok dengan 7 orang, ada saat-saat tak terhitung dimana mereka menghadapi bahaya yang dapat menghancurkan mereka.

Tentu saja, kekuatan boss meningkat seiring semakin tinggi lantainya. Akhir dari 20 lantai yang dibuka pada Natal kemarin secara bertahap dapat dilihat, dia mendengar bahwa lantai 26 akhirnya diselesaikan dengan mengumpulkan beberapa guild elit besar.

Dengan kata lain, tidak peduli seberapa kuat Yuuki dan yang lainnya, meskipun Asuna bergabung, mengalahkan bos dengan 7 orang saja dapat dikatakan mustahil.

Asuna memilih kata-katanya, dan secara singkat menjelaskan hal ini.

"...Jadi... dengan 7 orang, kupikir ini agak mustahil..."

Setelah ia selesai mengatakan ini, Yuuki dan yang lain melirik satu sama lain dan untuk beberapa alasan, mereka semua tertawa malu-malu. Yuuki berbicara sebagai wakil mereka.

"Yah, itu benar-benar tidak mungkin. Sebenarnya, kami juga menantang boss lantai 25 dan 26."

"Eh?! Hanya... Hanya dengan 6 orang?!"

"Ya. Kami berusaha cukup keras... tapi potion MP dan HP kami tidak bisa mengembalikan MP dan HP kami. Saat kami sedang mengumpulkan uang, bos dikalahkan oleh kelompok besar."

"Ah... ternyata begitu... Kamu benar-benar serius."

Asuna sekali lagi memandang dalam-dalam ke-6 wajah mereka.

Ini jelas dapat dianggap sebagai tantangan yang bodoh, tapi dia menyukai semangat mereka. Pemain yang terbiasa bermain dapat membedakan apa yang mungkin dan apa yang mustahil, dan dengan segera menyerah pada hal yang mustahil. Semangat menghadapi tantangan para anggota «Sleeping Knights» mencerminkan sesuatu yang sangat segar dan sedikit nostalgia di mata Asuna.

"Tapi... Kenapa? Kenapa kalian tidak mau pergi dengan guild lain dan harus mengalahkan boss sendirian?"

Tentu saja, kamu dapat memperoleh jumlah uang yang abnormal, item dan equipment langka apabila mengalahkan bos hanya dengan satu guild saja. Tapi dia merasa bahwa tujuan semacam ini tidak sesuai dengan keenam orang itu.

"Tentang... Tentang itu."

Yuuki melebarkan mata amethisnya, dan menggerakkan mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun, dia tidak mengatakan apapun. Seolah-olah ada sesuatu yang menyesakkannya, ia membuka dan menutup mulutnya beberapa kali, seolah dia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.

Pada saat ini, Undine tinggi di sebelah Yuuki bernama Shiune berbicara untuk membantunya.

"Tentang itu, biarkan aku yang menjelaskan. Sebelum itu, silakan duduk."

7 orang termasuk Asuna duduk mengelilingi meja, dan NPC membawakan minuman yang mereka pesan. Shiune dengan lembut menyilangkan jari-jarinya di atas meja, dan mulai berbicara dengan suara tenang.

"Mungkin Asuna-san sudah menyadari, tapi kami tidak bertemu di dunia ini. Kami bertemu di sebuah komunitas online di luar game.... dan dengan segera akrab dan menjadi teman. Hal ini sudah berlangsung... selama dua tahun."

Bulu mata Shiune jatuh seakan mengenang, dan berhenti berbicara sejenak.

"Kami benar-benar sahabat yang terbaik. Bersama-sama, kami pergi ke banyak dunia berbeda, dan mengalami berbagai petualangan. Namun, masalahnya, kami hanya dapat melakukan perjalanan bersama-sama sampai musim semi ini. Setiap orang... sibuk karena berbagai alasan. Jadi kami memutuskan sebelum kami berpisah, kami akan membuat kenangan yang tidak akan pernah kami lupakan. Dalam dunia VRMMO yang tak terhitung banyaknya ini kami akan menemukan dunia yang paling menyenangkan, paling indah, paling menarik dan bekerjasama untuk menyelesaikan sesuatu di sana. Jadi kami terus melakukan transfer ke berbagai tempat, dan dunia inilah yang kami temukan."

Shiune memandang sekeliling wajah temannya. Jun, Thatch, Taruken, Nori dan Yuuki, wajah kelimanya berkilauan, dan mereka mengangguk. Shiune juga tersenyum lembut, dan terus berbicara.

"Dunia ini- ALfheim, rumah dari elf, serta kastil melayang Aincrad, sungguh fantastis. Kami semua tidak akan pernah melupakan saat-saat ketika kami menghabiskan waktu terbang di kota-kota yang indah, hutan, dataran, World Tree, dan juga di sekitar kota ini. Ada satu hal lagi yang ingin kami lakukan... kami ingin meninggalkan jejak kaki kami di dunia ini."

Mata birunya yang sedikit tertutup memancarkan sinar keseriusan.

"Jika kami mengalahkan bos, kami dapat mengukir nama kami pada «Swordsman's Stele» di Black Iron Prison di dalam «Starting City» di lantai 1."

"Ah..."

Mata Asuna melebar sejenak, dan mengangguk. Dia hampir lupa tentang hal ini, tetapi nama-nama pemain yang telah mengalahkan bos akan disimpan di dalam Black Iron Prison. Nama Asuna sendiri tertulis pada kolom lantai 21.

"Tentang itu... Meskipun hanya untuk kepuasan diri, apapun yang terjadi kami ingin nama kami terukir di sana. Namun, ada satu masalah. Jika hanya satu party yang mengalahkan bos, maka nama semua anggota akan terukir, namun jika ada beberapa party, hanya nama para pemimpin yang akan terukir."

"Ah... ternyata itu. Ya, hal itulah yang akan terjadi."

Asuna menanggapi sambil berpikir tentang interior dari Black Iron Prison.

«Swordsman's Stele» adalah objek 3D di dalam dunia virtual, jadi tentu saja ukurannya terbatas. Pada akhirnya mereka harus mencapai lantai 100 dan tidak ada cukup ruang untuk mencatat nama semua anggota penyerang untuk setiap lantai. Maksimal, hanya 7 nama pemain terukir untuk setiap lantai. Jadi, seperti kata Shiune, nama semua anggota di sini dapat terukir pada prasasti jika hanya satu party yang mengalahkan boss, sementara pada kelompok penyerang hanya nama pemimpin grup yang akan terukir.

Shiune berhenti sejenak seolah menunggu Asuna untuk memahami, kemudian dengan ringan mengangguk dan melanjutkan pembicaraan,

"Dengan kata lain, jika kami ingin meninggalkan semua nama dari anggota «Sleeping Knights», kami hanya dapat menantangnya dengan satu party. Kami berusaha sangat keras di lantai 25 dan 26, namun apapun yang terjadi, kami selalu gagal ketika hal itu sudah dalam genggaman... Kemudian, setelah berdiskusi bersama-sama, kami memutuskan. Anggota maksimal dalam satu party adalah 7 orang, masih ada satu ruang kosong. Meskipun agak lancang, kami memutuskan untuk mencari seseorang yang berada pada level yang sama atau lebih kuat dari Yuuki, yang paling kuat di antara kami, dan meminta orang tersebut untuk bergabung dengan kelompok kami."

"Jadi begitu... Karena itu semua hal ini terjadi."

Asuna mengambil nafas dalam-dalam, dan tatapannya tertuju pada taplak meja putih di hadapannya.

Meninggalkan nama mereka pada «Swordsmen's Stele». Keinginan ini bisa dimengerti.

Tidak hanya VRMMO, tetapi hal seperti game online menyita banyak waktu pemain, banyak orang yang berhenti di musim semi karena alasan seperti melanjutkan pendidikan ataupun pekerjaan. Tak bisa dipungkiri, banyak guild yang telah berjalan selama bertahun-tahun tidak dapat menghindari pembubaran guild mereka. Berkeinginan untuk menggoreskan kenangan pada monumen yang akan terus ada selama dunia ini ada adalah hal yang wajar.

Jangankan orang lain, Asuna sendiri tidak tahu berapa lama dia bisa terus bermain ALO. Jika ibunya melakukan pendekatan yang lebih kuat, dia mungkin akan dilarang menggunakan AmuSphere. Ingin menghabiskan setiap menit dan detik pada sesuatu yang bermakna karena waktu yang terbatas, pemikirannya ini sama seperti mereka.

"... Bagaimana? Apa kamu setuju? Kami baru-baru ini saja melakukan transfer, jadi kami mungkin tidak mampu menyiapkan hadiah yang cukup sebagai ucapan terima kasih..."

Asuna mengulurkan tangannya dan menghentikan Shiune dari pengoperasian trade window yang menunjukkan jumlah yang akan ditulisnya.

"Ah, tidak usah, hal-hal yang membutuhkan pendanaan kalian cukup menumpuk seperti gunung, uang itu lebih baik kalian simpan. Aku bisa mengambil apapun dari drop boss sebagai hadiah...."

"Jadi, kamu setuju?"

Wajah Shiune dan kelimanya bersinar. Melihat ekspresi mereka bergiliran, Asuna menyerah memikirkan bagaimana hal ini bisa berakhir seperti ini. Awalnya, ia hanya sedikit tertarik pada rumor dari swordmaster misterius sang «Zekken». Kemudian dia dibawa dari tempat kompetisi ke garis depan, diperkenalkan kepada sahabat Yuuki dan bahkan diundang untuk menantang bos lantai dengan dirinya. Semua ini terjadi dalam waktu kurang dari satu jam. Orang yang menarik Asuna ke dalam perkembangan secepat jet ini, «Zekken» Yuuki, melebarkan mata berwarna amethis yang berkilau sebanyak yang dia inginkan dan menunggu respon dari Asuna. Kamu boleh bilang dia orang yang tidak sabaran, dan kamu juga boleh bilang bahwa dia orang yang pantang menyerah, tapi pertemuan aneh semacam ini juga salah satu kesenangan yang bisa dijumpai di VRMMO. Yang paling penting adalah jauh di dalam hatinya, salah satu firasat kabur tertentu telah tumbuh. Dia pasti bisa menjadi teman baik dari pendekar pedang misterius ini.

"Tentang itu... Tunggu sebentar."

Itu karena ia tidak bisa berurusan dengan hal semacam ini dengan gegabah. Asuna sekali lagi mengambil nafas dalam-dalam, menetapkan tatapannya pada gelas di atas meja dan menenangkan pikirannya yang kacau. Dia membuang jauh keraguan dan kekagetannya dan memfokuskan pikirannya pada tujuan baik Yuuki dan anggota yang lain untuk sejenak.

Beberapa waktu yang lalu, sebagai sub-leader dari guild yang sudah tidak ada lagi, Asuna merencanakan serangan melawan banyak bos.

Dia tidak ingat berapa jam yang dia habiskan untuk berdiskusi dengan guild lain dan para pemain solo, berdebat satu sama lain, dan bahkan bersujud dan memohon pertolongan ketika tidak cukup banyak orang. Dia bekerja sangat keras karena di dunia itu, ada satu persyaratan yang harus dijaga. Tidak boleh ada satupun yang mati.

Tapi sekarang, semuanya telah berubah. Hanya ada satu kewajiban dan hak yang pemain miliki di rumah elf ini, dan itu adalah untuk menikmatinya. Bisakah kamu menikmati permainan ini jika kamu mengatakan pada dirimu sendiri bahwa kamu hanya bisa mundur jika kamu tidak memiliki kesempatan untuk menang? Yuuki dan yang lainnya telah menantang bos dari lantai 25 dan 26 hanya dengan 6 orang, dan sepertinya mereka melakukannya cukup baik.

Daripada memikirkan tentang apa yang akan terjadi jika kamu gagal, pergilah tanpa memikirkan apapun terlebih dahulu. Sudah lama dia tidak bermain dengan gegabah. Walaupun mereka dikalahkan, satu-satunya hal yang hilang dari mereka adalah sedikit experience point.

"... Jika kita akan melakukannya, ayo kita lakukan. Kali ini, kesampingkan hal-hal seperti tingkat keberhasilan."

Asuna mengangkat wajahnya, dan tersenyum nakal. Pada saat yang sama, senyum terlukis di wajah menggemaskan Yuuki. Dalam sorak-sorai yang luar biasa dari lima temannya, dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan meraih tangan kanan Asuna dari meja.

"Terima kasih, Asuna-san! Bahkan di awal, ketika kita saling bertarung dengan pedang, aku tahu kamu akan mengatakan ini!"

"Panggil aku Asuna."

Asuna tersenyum dan menjawab, Yuuki tersenyum dan berkata.

"Maka kamu juga harus memanggilku Yuuki!"


Setelah berjabat tangan dengan lima orang yang buru-buru mengulurkan tangan mereka dan bersulang dengan bir buah yang baru mereka pesan, Asuna menanyai Yuuki pertanyaan tiba-tiba yang datang ke pikirannya.

"Omong-omong, Yuuki-sa... Yuuki, kamu mencari orang yang kuat melalui duel, kan?"

"Ah, ya."

"Kalau begitu, seharusnya ada banyak orang yang lebih kuat sebelumku. Khususnya, seorang Spriggan berpakaian hitam yang menggunakan pedang satu tangan, apa kamu masih mengingatnya? Aku merasa bahwa orang itu mungkin akan lebih berguna daripada aku..."

"Ah..."

Yuuki teringat Kirito hanya dengan hal itu. Dia terus mengangguk, dan memegang lengannya dengan ekspresi yang rumit untuk beberapa alasan.

"Aku ingat. Orang itu juga benar-benar kuat!"

"Lalu ... Mengapa kamu tidak meminta bantuannya?"

"Yah..."

Yuuki terdiam secara tidak biasa, dan senyum misterius melintas di wajahnya.

"Seperti yang kupikirkan, orang itu tidak akan mau melakukannya."

"Kenapa... Kenapa begitu?"

"Dia mengetahui rahasia kami."

Yuuki dan Shiune terlihat tidak ingin mengatakan apa-apa lagi tentang hal ini, dan tidak ada cara untuk mengetahuinya lebih lanjut. Mungkin «Rahasia» ini berhubungan dengan kekuatan luar biasa sang Zekken Yuuki, Asuna memikirkan hal ini, tapi dia tidak bisa melihat sama sekali apa yang Kirito sadari.

Saat dia memiringkan kepalanya dan berpikir, Leprechaun Taruken berbicara seolah-olah untuk mengubah topik.

"Lalu... rencana spesifik dari penyerangan ini, bagaimana... bagaimana kita akan mengaturnya?"

"Ah... Biarkan aku berpikir..."

Asuna mengguyur pertanyaan itu di dalam mulutnya dengan bir buah, dan mengangkat jari telunjuknya.

"Pertama-tama, hal yang paling penting adalah memahami pola serangan bos. Hindari ketika kamu harus menghindar, blok ketika kamu harus memblok dan serang dengan semua kekuatanmu ketika kamu harus menyerang, dengan cara itu kita mungkin memiliki kesempatan untuk menang. Masalahnya adalah, bagaimana kita bisa mendapatkan informasi tentang hal ini... Mungkin akan sia-sia meskipun kita bertanya pada guild besar yang mengkhususkan diri dalam berburu bos. Kupikir kita harus mencoba menantangnya sekali dengan pemikiran bahwa kita akan dikalahkan."

"Ya, tidak masalah dengan itu! Hanya saja... Lantai sebelumnya, dan juga satu lantai sebelumnya, boss itu langsung dikalahkan setelah kami kalah."

Yuuki menampakkan ekspresi sedih, dan pemuda Salamander Jun diseberang meja mengerutkan kening dan melanjutkan.

"Pertempuran itu sudah berakhir ketika kami sampai di sana tiga jam kemudian. Mungkin aku terlalu banyak berpikir.... tapi aku merasa mereka terus menunggu kami gagal..."

"Benarkah...?"

Asuna menempatkan tangannya di samping mulutnya dan berpikir. Baru-baru ini ia mendengar desas-desus tentang perselisihan antar kelompok penyerang. Utamanya pada guild besar yang suka memerintah, tetapi akankah kelompok seperti itu memperhatikan sebuah guild dengan hanya 6 orang? Informasi ini tidak dapat diabaikan begitu saja.

"Benar, untuk saat ini, kita harus membuat persiapan untuk menantang bos segera setelah kita dikalahkan. Kapan kalian memiliki waktu luang?"

"Ah, maaf. Taruken dan aku tidak bisa saat malam hari. Bagaimana kalau besok pukul satu siang?"

Spriggan tinggi Nora menggaruk rambutnya yang hitam dan meminta maaf.

"Ya, aku tidak masalah dengan hal itu. Kalau begitu, mari bertemu di penginapan ini besok jam satu!"

'OK, aku mengerti', semua orang menanggapi dengan berbagai cara. Menghadapi anggukkan «Sleeping Knights», Asuna sekali lagi tersenyum, dan dengan keras mengatakan.

"Mari kita coba yang terbaik!"

Asuna mengelus kepala Yuuki selagi Yuuki terus berbicara tentang betapa bersyukurnya dia. Dia dengan enggan meninggalkan penginapan, dan kembali ke tempat Lisbeth dan yang lainnya berada. Mereka mungkin akan terkejut oleh hasil tak terduga ini, jantung Asuna berdebar saat ia berjalan cepat menuju gerbang teleport di plaza Ronbaru.

Mengandalkan memori yang tak dapat ia percayai saat ia melewati gang, plaza meriah akhirnya muncul di depan matanya, pada saat ini. Bunyi * Beep *, seolah-olah tombol power ditekan, dunia gelap. Semua indranya menghilang, Asuna tertinggal ke dalam kegelapan total.


Bab 4[edit]

Seakan-akan jatuh ke dalam sebuah lubang tanpa dasar, ia telah diserbu oleh sensasi yang menyatakan bahwa ia sedang jatuh dengan sangat cepat.

Dunia secara tiba-tiba berputar 90 derajat dan ia tiba-tiba merasakan sebuah tekanan pada punggungnya. Segera setelah itu, kelima inderanya tersambung kembali dengan sebuah tabrakan, menyebabkan seluruh badan Asuna sulit bergerak.

Kelopak matananya menyentak dua kali sambil dengan susah payah membuka matanya yang buram dengan air mata, dan ia melihat langit-langit kamarnya.

Akhirnya, ia merasakan perasaan empuk tempat tidurnya yang datang dari belakang punggungnya. Secara berulang bernafas dengan rendah dua kali, kekacauan di dalam sistem sarafnya secara perlahan-lahan menghilang.

Apa yang telah terjadi? Apakah ada sebuah kegagalan daya sementara, atau apakah AmuSphere nya rusak -- Ia memikirkan hal ini, dan akhirnya mengambil nafas yang dalam, ia mengangkat dirinya dengan tangannya dan langsung membuka mulutnya dengan tercengang.

Ibunya berdiri di pinggir tempat tidurnya dengan ekspresi yang buruk, tangan kanannya sedang memegang sebuah kabel berwarna abu-abu muda. Ini adalah kabel listrik yang seharusnya tersambung pada colokan listrik dari AmuSphere yang dipakai Asuna pada kepalanya. Alasan ia secara aneh terputus adalah karena Kyouko mencabut sumber listrik mesinnya. Memahami hal ini, Asuna tidak menahan suaranya yang kebingungan.

"Apa... Apa yang kamu lakukan, ibu!"

Namun, Kyouko cemberut dengan dalam dan dengan diam melihat ke tembok utara. Asuna mengikuti arah pandangnya dan sadar akan jarum-jarum yang terpasang pada jam, saat itu sedang sekitar jam 6.30 lewat lima menit.

Asuna tidak bisa melakukan apa-apa selain menggigit bibirnya, dan Kyouko akhirnya membuka mulutnya.

"Ibu sudah pernah mengatakan hal ini saat kamu telat untuk makan malam sebulan yang lalu. Lain kali kamu memainkan game ini sampai kamu telat, aku akan mencabut sumber listriknya."

Menghadapi nada yang sangat dingin yang nampaknya memamerkan kemenangannya, Asuna hampir secara refleks berteriak balik. Namun, ia menurunkan kepala dan dengan mati-matian menelan impuls untuk melakukan hal itu, dan berkata dengan suara yang kecil dan sedikit bergemetar.

"... Melupakan waktu adalah kesalahanku. Namun, ibu tidak perlu sampai mencabut sumber listriknya. Kalau ibu menggoncangkan badanku dan berteriak di telingaku, aku akan menerima sebuah alarm di sana..."

"Saat ibu melakukan ini di waktu yang lalu, bukankah itu membutuhkan lima menit lagi sebelum kamu membuka matamu?"

"Itu... untuk berpindah tempat, mengatakan sampai jumpa, beberapa hal-hal seperti itu..."

"Sampai jumpa apa? Kamu menaruh perpisahan di dalam game yang tidak dapat dimengerti itu lebih daripada janji yang sungguhan? Apakah kamu tidak merasa kasihan pada pelayan jika makanan yang dia persiapkan dengan susah payah menjadi dingin?"

-- Orang lain itu asli meskipun jika dia ada di dalam game, lebih lagi, bukankah ibu orang yang menelpon sebelum pergi ke universitas dan benar-benar membuang makanan -- banyak bantahan-bantahan yang mirip berkilas di dalam pikirannya. Namun, Asuna sekali lagi menurunkan kepala dan dengan dalam mengeluarkan nafasnya yang gemetaran. Yang telah keluar dari mulutnya hanya sebuah kalimat pendek.

"... Maaf. Aku akan lebih menaruh perhatian lain kali."

"Tidak akan ada lain kali lagi. Bukankah ibu pernah bilang ke kamu, lain kali kamu lalai karena benda itu. Ibu akan menyitanya. Selain itu..."

Kyouko mengkerutkan bibirnya sedikit, dan melirik pada AmuSphere yang masih ada pada kepala Asuna.

"Ibu benar-benar tidak mengerti kamu. Bukankah kamu telah menghabiskan dua tahun yang berharga karena mesin aneh itu? Tidakkah kamu merasa jijik hanya dengan melihatnya?"

"Benda ini... berbeda dari Nerve Gear."

Menggumamkan hal ini, ia melepaskan dua cincin logam dari kepalanya. Mempelajari dari kejadian SAO, AmuSphere telah diisi sampai penuh dengan perlindungan, tetapi ia dengan segera merasa bahwa tidak ada gunanya untuk menjelaskan hal itu. Lebih lagi, meskipun jika perangkat kerasnya berbeda, benar bahwa Asuna pernah jatuh pada keadaan vegetatif untuk dua tahun karena sebuah VRMMO. Pada saat itu, Kyouko juga sangat khawatir dan pernah sekali siap untuk kematian Asuna. Dia telah harus mengerti, mengerti kenapa ibunya membenci mesin itu.

Asuna tetap terdiam, Kyouko mengeluarkan hela nafas yang besar dan berputar menghadap ke pintu.

"Mari makan. Ganti bajumu dan segera turun ke bawah."

"... Aku tidak akan makan hari ini."

Meskipun ia merasa kasihan pada pelayan, Akiyo, yang menyiapkan makan malam, ia benar-benar tidak ingin makan berhadapan muka dengan ibunya.

"Lakukan apa yang kamu mau."

Dengan ringan menggelengkan kepalanya, Kyouko berjalan keluar dari kamar. Saat pintu terkunci dengan suara klik, Asuna merentangkan tangannya menuju panel kontrol dan mengubah modenya ke ventilasi terus-menerus dalam sebuah usaha untuk mengusir sisa bau harum dari parfum ibunya yang kuat, tetapi bau itu tetap tertinggal dan mengganggu untuk waktu yang lama.

Kesenangan dari bertemu dengan «Zekken» Yuuki, kawan-kawannya yang sangat menarik dan firasat akan adanya sebuah petualangan baru, hilang seperti sebuah bola salju yang terkena sinar matahari. Asuna berdiri, membuka lemarinya, mengeluarkan sepasang jeans yang pudar dengan sebuah lubang di sekitar lutut dan memasukkan kakinya ke dalam. Ia memakai sebuah hoodie kapas yang cukup tebal, dan memakai sebuah mantel putih terusan di atas itu. Pakaian-pakaian ini merupakan salah satu dari sedikit baju yang tidak dipilih oleh ibunya.

Dengan cepat merapikan rambutnya, ia mengambil tas kecil dan handphonenya dan dengan cepat berjalan keluar dari kamarnya. Saat ia sedang berjalan turun di tangga, mengenakan sepatunya di serambi dan akan membuka pintu yang berat, sebuah suara yang tajam datang dari panel set di tembok di samping dia.

?Asuna! Kamu mau pergi ke mana jam segini?!?

Namun, Asuna tidak menjawab, ia memutar gagang pintu sebelum ibunya bisa mengunci pintunya dari jauh. Segera saat ia membuka pintu, palang besi keluar dari kedua sisi, tetapi Asuna berhasil meloncat keluar duluan. Udara malam yang lembab dan sedingin es, langsung memukul wajahnya.

Dengan segera menyeberangi jalan, ia keluar halaman dari pintu di samping pagar utama dan akhirnya mengeluarkan nafas yang besar. Udara yang ia keluarkan menjadi putih dan mengambang di depan matanya sebelum perlahan-lahan menipis dan menghilang. Ia menarik ke atas retsleting mantelnya, menaruh tangannya di kantong dan bergegas menuju stasiun Miyanosaka dari Tokyo Setagaya Line.

Ia tidak melarikan diri dari rumah, meskipun ia lari keluar seperti mengeluarkan amarahnya pada ibunya, Asuna memahami bahwa dia sedang bersikap kekanak-kanakan dan melawan. Kegelisahan ini terus meningkatkankan ketidakberdayaan yang ia rasakan dalam hatinya.

Tiba di sebuah area perumahan dengan rumah-rumah yang luas dan berdekatan, Asuna berhenti di depan sebuah taman anak-anak kecil yang berdiri sendiri. Duduk di sebuah pipa metal berbentuk U terbalik di tempat masuk, ia mengeluarkan handphonenya dari kantong.

Ia menggerakkan jarinya di atas layar, dan membuka halaman Kirito -- Kazuto dari buku teleponnya. Asuna menaruh jarinya pada tombol telepon, tetapi menutup matanya dan menurunkan kepalanya pada akhirnya.

Ia mau menelepon Kazuto dan mengatakan kepadanya: Bawa sebuah helm extra dan datang jemput aku dengan motormu. Duduk di bangku belakang motor yang kecil, berisik, tetapi cepat, dengan erat memegang pinggang Kazuto, dan mengebut lurus ke depan menuju ke mana saja di jalan-jalan tol tahun baru yang kosong. Jika seperti itu, kerisauan di pikirannya pasti akan segera menghilang, seperti saat ia terbang dengan kecepatan penuh di ALfheim.

Namun, jika ia melihat Kazuto sekarang, ia pasti tidak akan bisa menahan emosinya dan akan menangis sambil mengatakan semuanya pada dia. Tentang bagaimana ia harus pindah sekolah. Tentang bagaimana ia mungkin tidak akan bisa masuk ke dalam ALO lagi. Kenyataan dingin yang telah mendorong Asuna pada arah yang telah diatur sejak ia masih kecil, dan dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan hal itu -- dengan kata lain, ia akan mengatakan kepadanya semua hal tentang kelemahannya yang ia telah sembunyikan sampai sekarang.

Asuna melepaskan jarinya dari tombol handphonenya, dan dengan diam memencet tombol tidur. Setelah memegangnya dengan erat sekali, ia mengembalikannya ke dalam kantong.

Ia mau menjadi kuat. Sebuah kemauan yang kuat yang tidak akan ragu-ragu pada saat kapanpun. Kekuatan untuk tidak bergantung pada pembesar-pembesarnya dan maju menuju ke arah yang ia telah harapkan.

Tapi pada saat yang sama, sebuah suara menyatakan bahwa ia mau menjadi lemah. Ia mau untuk bisa untuk tidak menutupi dirinya sendiri, dan menjadi seseorang yang lemah yang bisa menangis saat ia mau menangis. Seseorang yang lemah yang bisa meminta orang lain untuk memeluk dirinya, melindunginya, dan menolongnya.

Kepingan-kepingan salju mulai turun. Mereka jatuh pada wajahnya, dan segera meleleh dan mengalir ke bawah. Asuna mengangkat wajahnya, dan dengan diam memandang titik-titik putih kecil yang jatuh tersebar di malam yang pucat.


Bab 5[edit]

"Jadi, Yuuki, Jun dan Thatch adalah tipe jarak dekat, Taruken dan Nori tipe jarak menengah dan Shiune adalah tipe pendukung."

Asuna meletakkan dagu di tangannya, dan melihat ke arah anggota Sleeping Knights. Mereka mengenakan armor ringan, pakaian biasa ketika mereka memperkenalkan diri kemarin, tapi sekarang mereka semua telah mengganti menjadi peralatan level Ancient.

Seperti kemarin, «Zekken» Yuuki memiliki setengah-armor hitam dan dilengkapi one-handed sword tipis. Jun, si Salamander dilengkapi dengan Full-Plate tembaga berwarna merah yang tidak cocok dengan perawakannya yang pendek, dan pedang besar hampir setinggi dirinya tergantung di punggungnya.

Gnome besar Thatch juga dilengkapi dengan baju besi plat tebal dan membawa perisai besar, seperti pintu. Senjatanya adalah palu yang terlihat berat yang tampak dengan tonjolan di sekitar.

Taruken, Leprechaun dengan kacamata, mengenakan light armor tembaga berwarna kuning pada tubuh rapuh itu, senjatanya adalah tombak panjang yang menakutkan. Di sebelahnya berdiri Nora, Spriggan wanita, dilengkapi baju besi non logam yang nyaman dan batang besi panjang yang hampir menyentuh langit-langit.

Satu-satunya yang tampak seperti caster, Shiune si Undine mengenakan jubah putih dan biru tua bergaya Cleric[2], topi yang menyempul seperti kue, dan membawa staff[3] perak tipis di tangan kanannya. Secara keseluruhan, party ini adalah sebuah party yang seimbang, tetapi jika sesuatu harus dikatakan, party ini sedikit lemah di bagian support.

"Dengan begini, mungkin akan lebih baik jika aku bergabung dengan barisan belakang."

Asuna memutuskan untuk mengubah senjata ke staff pendek yang menaikkan sihir. Saat ia berbicara, ia menanggalkan Rapier nya bersama dengan sabuk pedang pada pinggangnya, sementara Yuuki beringsut meminta maaf.

"Maaf, Asuna. Kamu harus di belakang meskipun kamu pengguna Rapier yang baik."

"Tidak, lagipula aku tidak bisa selalu menjadi tank[4]. Relatif, Jun dan Thatch akan mendapat pukulan, sehingga kalian berdua lebih baik bersiaplah."

Dia tersenyum nakal, dan melihat ke arah ke arah dua orang yang berarmor berat. Salamander dan Gnome yang berbeda fisik itu melirik satu sama lain, dan mereka memukul dada mereka pada waktu yang sama.

"Ye-yeah, serahkan pada kami!"

Mendengar semangat tinggi Jun dengan kata terbata-bata, mereka semua tertawa riang.


Rabu, 8 Januari 2026.

Itu adalah hari terakhir liburan musim dingin. Asuna telah setuju untuk pergi ke penginapan di blok utama lantai 27 «Ronbaru» pukul 1 siang dan bertemu Sleeping Knights lagi. Tentu, tujuan mereka adalah untuk menantang bos di bagian terdalam dungeon bersama-sama.

Asuna mengerti bahwa mereka memiliki harapan besar padanya untuk memberikan strategi yang membuat skill setiap orang digunakan dengan tepat bukan hanya kemampuan pertempuran statistik. STR murni Yuuki dan yang lainnya mungkin setara atau lebih baik dari Asuna. Namun, Asuna memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mereka kurang kuasai.

Saat ini, ia harus mengkonfirmasi rincian tentang semua build dan peralatan setiap orang, dan memutuskan formasi dasar.

Memutuskan untuk bergabung dengan barisan belakang, Asuna membuka jendela barang nya, melepas Rapier nya, meletakkannya di dalam dan ditukar dengan staff. Staff itu memiliki penampilan sebuah cabang, dan bahkan ada daun di ujungnya. Meskipun sekilas terlihat agak buruk, sebenarnya, itu adalah cabang yang diambil dari bagian paling atas Pohon Dunia. Untuk mendapatkannya, seseorang harus melepaskan diri dari serangan ganas naga penjaga raksasa.

"Lalu," Asuna mengatakan sambil ia memukul lantai dengan tongkatnya.

"Ayo kita lihat ruang Boss!"

Mereka keluar dari penginapan Ronbaru bersama-sama dan menuju ke kegelapan malam abadi.

Seperti yang diharapkan dari Sleeping Knights, semua dari mereka mampu melakukan Voluntary Flight[5], dan Asuna sekali lagi mengagumi kelancaran tindakan mereka. Mereka tidak tampak seperti orang yang baru saja ditransfer ke ALO sama sekali. Bukan sekadar terbiasa pada VRMMO, ia harus mengatakan bahwa kemahiran mereka sudah berakar, teknologi Full Dive. Memang benar bahwa akan ada jumlah yang sangat kecil pemain yang seperti itu, tetapi meskipun memiliki pengalaman gaming yang luas, dia hanya tahu sangat sedikit orang seperti itu.

Peristiwa apa yang menyebabkan pembentukan Guild ini, untuk membuat 6 orang sekaligus seperti ini. Berpikir tentang hal itu, hari ini adalah 8 Januari, dan orang-orang mulai pergi ke sekolah atau bekerja pada umumnya. Sekolah Asuna telah merencanakan pelajaran yang santai sehingga semester ketiga tidak mulai sampai besok, tapi biasanya, agak sulit untuk mendapatkan semua 6 anggota Guild untuk bertemu pada hari seperti ini.

Mengesampingkan kekuatan mereka yang luar biasa ke dalam pertimbangan, akan masuk akal untuk sampai pada kesimpulan bahwa mereka kelompok yang sangat terobsesi yang menghabiskan semua yang mereka miliki pada permainan. Namun, Asuna merasa bahwa bukan hal ini masalahnya. Di wajah para Sleeping Knights, ia tidak melihat intensitas depresiasi diri yang Guild itu tidak bisa hapus. Semua dari mereka terihat secara alami menikmati permainan.

Asuna berpikir tentang jenis orang seperti apa mereka dalam kehidupan nyata adalah sesuatu yang dia tidak pernah peduli di masa lalu. Yuuki, yang terbang di depan, berteriak dengan suara bersemangatnya seperti biasa, sementara Asuna berpikir.

"Aku bisa melihatnya, Dungeonnya!"

Melihat dengan teliti, berlawanan dari pegunungan yang tak terputus, sebuah menara besar dapat dilihat. Menara silinder memanjang ke atas ke bagian bawah lantai berikutnya. Banyak kristal prisma heksagonal seukuran rumah-rumah kecil membentang dari dasar menara, samar-samar menerangi menara dengan pendar biru. Di bagian bawah menara, pintu masuk ke ruang bawah tanah terbuka tiba-tiba, mengarah ke dalam kegelapan.

Mereka berhenti dan melayang sejenak, memeriksa penampakan monster atau pihak lain di sekitar pintu masuk.

Tentu saja, dia sudah memberitahu Lisbeth dan orang lain tentang «Sudden Raid Boss»[6] hari ini. Mereka semua terkejut ketika mereka mendengar tentang permintaan tak terduga «Zekken», tetapi mereka juga segera menawarkan diri untuk membantu. Asuna sangat senang, tetapi tujuan utama mereka adalah untuk membuat memori akhir bersama-sama. Karena hal itu, lebih baik tidak membawa orang terlalu banyak. Teman-temannya segera mengerti pertimbangan itu dan mengisi inventorynya sampai penuh dengan potion yang mereka miliki sebelum melihat Asuna pergi.

Kirito, menggunakan ekspresi yang dalam sejak awal kejadian, tampaknya sesaat tenggelam dalam pikirannya, tapi masih menguatkannya dengan senyum dan membantu membujuk Yui untuk tidak mengikutinya. Dalam arti tertentu, Asuna membantu Guild lain bisa dianggap sebagai pengkhianatan, namun teman-temannya masih menyemangatinya. Dalam hatinya, Asuna sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada teman-temanya, dan perlahan-lahan turun menuju ruang bawah tanah.

Setelah mendarat di tanah berwarna abu-abu, enam dari mereka mengikuti dan mereka menatap menara raksasa. Puluhan kali bahkan tidak akan cukup untuk menutupi berapa kali ia melihat menara ini membentang ke arah lantai atas dengan cara ini jika dihitung dari era SAO pertama, namun sosok yang tak dapat disangkal megah itu tidak pernah gagal untuk membuat kagum dengan cara yang berbeda dari ketika memandangnya ke atas langit.

"... Kemudian, seperti yang telah kita bahas, mari kita mencoba sebaik mungkin untuk menghindari perkelahian dengan mob normal dan advance."

Saat Asuna berbicara, wajah Yuuki dan yang lainnya tegang dan mereka mengangguk dalam diam. Mereka menaruh tangan mereka di pinggang atau di belakang punggung mereka, dan senjata mereka terhunus dengan denting.

Shiune si Undine, yang terampil dalam sihir, mengangkat staff peraknya dan melemparkan beberapa buff[7] berturut-turut. Tubuh mereka bertujuh diselimuti cahaya, dan beberapa ikon status menyala di sebelah kanan bawah bar HP mereka. Setelah itu, Nora Si Spriggan membaca mantra, memberikan mereka semua dengan night vision. Asuna juga belajar beberapa buff, tetapi tingkat skill Shiune yang lebih tinggi, sehingga dia menyerahkan itu padanya.

Setelah persiapan mereka selesai, mereka sekali lagi melirik satu sama lain dan mengangguk. Mereka memasuki dungeon, dimulai dengan Yuuki di depan.

Tak lama setelah melalui pintu masuk, gua itu memberi jalan seperti batu tulis, ubin terowongan buatan manusia. Suhu sekitarnya juga terasa turun, udara dingin, lembab menyapu kulit Asuna. Mereka juga bekerja keras seperti ini di SAO, tetapi interior besar dari ruang bawah tanah yang tidak masuk akal dan tingkat monster yang tak dapat dibandingkan dengan mereka di field. Selain itu, seperti ruang bawah tanah pada permukaan ALfheim, kamu tidak bisa terbang di dalam. Meskipun mereka sudah membeli data peta dari pusat informasi, masih akan membawa mereka setidaknya tiga jam sampai mereka mencapai ruang bos.

-Ini adalah apa yang ia harapkan, namun...

Ketika hanya kurang lebih sekitar satu jam, pintu raksasa muncul di depan matanya di ujung koridor, Asuna sekali lagi tak bisa berkata-kata pada kekuatan mereka. Masing-masing dari mereka memiliki level yang baik dari kemampuan tempur, tapi apa yang bahkan lebih luar biasa adalah kerja sama mereka. Tanpa bahkan satu kata, hanya dengan mengangkat satu tangan atau satu gerakan dari tubuh kecil Yuuki, mereka akan berhenti ketika mereka harus berhenti, dan maju apabila mereka harus maju. Pada dasarnya, Asuna hanya harus mengikuti di belakang party. Mereka hanya memiliki tiga pertemuan dengan mob-mob monster, dan di bawah arahan Asuna, dengan mudah mengalahkan mereka dengan membunuh pemimpinnya dalam sekejap dan melemparkan sisa mob dalam kebingungan.

Kaget, Asuna berbisik kepada Shiune saat mereka berjalan melalui koridor menuju ruang Boss.

"Apa aku... benar-benar diperlukan? Rasanya seperti hampir tidak ada yang tersisa bagiku untuk membantu kalian."

Shiune melebarkan matanya dan menggeleng keras.

"Tidak, itu tidak benar. Karena arahan Asuna-san, kami satu kalipun tidak masuk ke perangkap dan hanya memiliki beberapa pertempuran. Kita sebelumnya melawan musuh yang dua kali lipat dari tadi. Dan kami berakhir dengan menghabiskan cukup banyak waktu untuk sampai ke ruang Boss. "

"... Itu bagus... -Hei, Yuuki, berhenti."

Mendengar suara Asuna yang sedikit terangkat, tiga vanguards segera berhenti berjalan.

Mereka kurang lebih setengah jalan menyeberangi koridor menuju ruang Boss, dan detail dari dekorasi mengerikan di pintu batu sudah dapat dilihat. Pada kedua sisi koridor berdiri pilar secara berkala, tetapi tidak ada bayangan monster yang terlihat. Menghadapi Yuuki dan Jun yang berbalik kaget, Asuna membawa jari telunjuknya ke bibirnya sementara ia menatap ke tempat yang berlawanan dengan pilar terakhir dari kiri.

Satu-satunya sumber penerangan di koridor berasal dari api biru di braziers[8] di bagian atas pilar. Bahkan dengan sihir penglihatan malam Nora, masih sulit untuk melihat gerakan kecil bayangan di dinding batu. Namun, secara intuitif, Asuna merasa bahwa sesuatu dalam jarak pandangnya ada yang tidak beres.

Asuna mengisyaratkan mereka untuk mundur dan mengangkat staff di tangan kanannya. Dia segera melafalkan mantra yang agak panjang, tangan kirinya terangkat setinggi dada dengan telapak tangannya menghadap ke atas.

Saat Asuna selesai melafalkan mantra, lima ikan biru transparan dengan sayap seperti sirip muncul di telapak tangannya. Dia mengangkat mereka ke wajahnya, dan dengan lembut meniup mereka ke arah targetnya.

Segera, ikan berpencar satu per satu, berenang di udara dalam garis lurus. Ini adalah summon[9] yang digunakan untuk melawan mantra persembunyian, «Searcher».Kelima ikan itu menyebar secara radial, dan di antara mereka, dua memasuki sasaran udara yang berkerlip yang Asuna kunci.

Lampu biru tersebar dengan suara * pop *. Para searcher hilang, dan di dalam udara yang berkelip muncul membran hijau yang cepat mencair dan menghilang.

"Ah!"

Yuuki berteriak kaget. Tiga pemain tiba-tiba muncul di arah berlawanan pilar, di mana tidak ada apa-apa saat beberapa waktu yang lalu.

Asuna cepat melihat lagi. Dua Imp, satu Sylph, semuanya bersenjata ringan dan dilengkapi dengan belati. Meskipun demikian, level senjata mereka agak tinggi. Dia tidak mengenali mereka, tapi ia mengenali lambang Guild yang ditampilkan di samping pointer. Seekor kuda di samping perisai. Ini adalah lambang dari guild besar terkenal yang terus menyelesaikan dungeon sampai lantai 23.

Di dungeon, tidak pantas untuk menyembunyikan diri ketika jelas tidak ada monster di sekitar. Akal sehat menyatakan bahwa ini dimaksudkan untuk PK. Asuna mengangkat staffnya sekali lagi dengan tujuan untuk bertahan terhadap serangan jarak jauh, dan di sisinya, Yuuki dan anggota party juga menyiapkan senjata mereka.

Namun, bertentangan dengan harapan mereka, salah satu dari tiga orang itu buru-buru mengangkat tangan dan berteriak.

"Stop, stop kami tidak ingin bertarung!!"

Perasaan Asuna bahwa kecemasan orang itu bukan suatu akting, menurunkan pertahanannya dan berteriak kembali.

"Lalu, tolong sarungkan pedangmu!"

Ketiga orang itu saling melirik satu sama lain, dan segera menyarungkan berbagai jenis belati mereka kembali. Asuna berpaling sedikit ke arah Shiune dan berbisik.

"Jika mereka berniat untuk menarik senjata mereka lagi, segera lemparkan «Aqua Bind»."

"Aku mengerti. Uwah, ini adalah pertama kalinya aku PvP[10] di ALO, aku benar-benar gugup..."

Daripada gugup, Shiune dan mata yang lain bersinar dengan kegembiraan. Dengan senyum, samar pahit, Asuna berbalik ke arah trio, perlahan-lahan berjalan beberapa langkah lebih dekat dan berkata.

"Jika kalian tidak bermaksud PK... Untuk tujuan apa kalian bersembunyi?"

Setelah melirik satu sama lain sekali lagi, Imp yang sepertinya menjadi pemimpin menjawab.

"Kami sedang menunggu pertemuan. Ini akan merepotkan jika kita diserang oleh mob sebelum rekan kami tiba, jadi kami bersembunyi."

"............"

Meskipun terdengar masuk akal, dia tidak bisa mengusir perasaan bahwa ada sesuatu yang aneh. Mantra persembunyian membutuhkan mana pada tingkat yang signifikan saat digunakan, potion mahal harus digunakan setiap beberapa detik. Apalagi, jika mereka berhasil sampai ke bagian terdalam dari Dungeon, mereka tidak bisa menghindari pertempuran dengan monster.

Namun, dia tidak bisa menemukan sebuah celah besar dalam kata-kata mereka. Meskipun ia bisa membunuh mereka dan menghapus masalah potensial, masuk ke sengketa dengan Guild besar akan menyebabkan berbagai masalah di masa depan. Asuna menelan keraguannya, dan mengangguk sedikit.

"Mengerti- Kami di sini untuk menantang Bos. Jika pihak kalian belum siap, bisa kami pergi dan menantang terlebih dahulu?"

"Ah, tentu saja."

Dia awalnya mengira bahwa mereka akan mencoba untuk menghalangi mereka menantang Boss, tapi tiba-tiba, Imp kurus langsung menjawab. Ia melambaikan tangan ke arah dua rekannya dan tiga dari mereka mundur kembali ke samping pintu.

"Kami akan menunggu teman kami di sini. Nah.. semoga beruntung dan selamat tinggal."

Imp itu tersenyum dan memberi isyarat ke arah teman Sylphnya. Sylph itu mengangguk sekali, mengangkat tangannya dan mulai membaca mantra seperti cara orang latihan.

Segera, pusaran hijau berputar di kaki pelafal mantra, membungkus mereka bertiga. Ketika pusaran hijau memudar dan menghilang, tak ada lagi yang bisa dilihat di sana.

"............"

Asuna sekali lagi melihat ke arah para pemain tersembunyi itu, tetapi segera mengangkat bahu dan berbalik untuk menghadap Yuuki. Meskipun percakapan tadi tegang, gadis dengan alias Zekken tidak terlihat takut, mata ungunya yang lebar berkilau saat ia melihat ke arah Asuna dengan kepala dimiringkan.

"... Bagaimanapun, seperti yang direncanakan, mari kita pergi dan melihat ke dalam."

Dengan mengatakan itu, Yuuki tersenyum gembira dan mengangguk.

"Ya, kita akhirnya pergi. Mari kita melakukan yang terbaik! Asuna!"

"Jangan mengatakan hal-hal seperti 'melihat ke dalam', mari kita menerobos dan menghabisinya."

Membalas apa yang Jun katakan, Asuna hanya bisa tersenyum dan berkata.

"Ya, tentu saja itu hasil yang kita inginkan, tetapi kamu tidak perlu menggunakan barang-barang mahal untuk memulihkan diri. Tidak apa-apa asalkan kamu mencoba melakukan yang terbaik dalam jangkauan penyembuhanku dan penyembuhan Shiune, mengerti?"

"Ya, guru!"

Asuna mencolek dahi Jun sebagai jawaban candaan Jun, dan berbalik untuk melihat lima orang lainnya secara bergantian sambil terus berbicara.

"Bahkan jika kalian mati, jangan langsung respawn di kota. Tinggal dan lihat baik-baik pola serangan Boss. Jika kita semua dikalahkan, kita akan kembali ke save point[11] Ronbaru bersama-sama. Dan formasi kita, Jun dan Thatch akan fokus pada tanking di depan, kadang-kadang menggunakan provoke[12] untuk membuat emosi Boss naik. Taruken dan Nori akan menyerang dari kedua sisi. Yuuki akan menyerang secara bebas dan mengapit Boss jika mungkin. Akhirnya, Shiune dan aku akan memberikan support dari belakang. "

"Mengerti."

Sebagai perwakilan mereka, Thatch menjawab dengan suara berat.

Setelah Shiune dengan cepat memperbaharui semua buff mereka, dua tanker bergerak maju. Thatch mengangkat perisai menara di tangan kirinya, memanggul palu di tangan kanan, berdiri berdampingan dengan Jun di depan pintu raksasa dan berbalik untuk melirik Asuna.

Asuna mengangguk sebagai jawaban, dan Jun yang sama memikul pedang besarnyanya memegangkan tangan kirinya yang kosong ke pintu, membungkukkan bahunya dan mendorong.

Dua pintu batu hitam berpoles berderit dalam perlawanan sesaat, dan gemuruh menggelegar berdering melalui semua koridor saat perlahan-lahan terbuka ke dua sisinya. Di dalamnya gelap gulita...

Saat dia berpikir begitu, tepat di samping pintu, dua braziers menyala dengan api putih pucat diikuti segera oleh dua brazier lain di kiri dan kanan. Dengan sedikit keterlambatan, api menyala seolah berputar. Ini pertunjukan cahaya universal untuk semua lantai, mulai dari saat pertama brazier menyala dan berjalan sampai Boss muncul dapat dianggap sebagai waktu persiapan untuk penyerangan.

Ruang Boss benar-benar melingkar. Lantainya sudah diaspal dengan batu hitam berpoles dan itu cukup terbuka. Pada dinding terdalam adalah pintu yang menyembunyikan tangga yang mengarah ke lantai berikutnya.

"- Ayo!"

Saat Asuna berteriak, Jun dan Thatch menerobos ke dalam ruangan. Lima orang yang lain juga mengikuti dan segera mengambil tindakan.

Tepat ketika semua orang tiba di posisi yang telah ditentukan dan menyiapkan senjata mereka– poligon besar dan kasar keluar dari tengah ruangan. Poligon hitam seperti kubus bertumbuk dan berkombinasi membentuk sosok humanoid raksasa, bentuk merata terbentuk di tepi sebagai jumlah informasi terus meningkat.

Akhirnya, fragmen yang tak terhitung banyaknya tersebar di udara dan Boss muncul. Seekor raksasa hitam dengan tinggi di atas empat meter. Pada tubuh penuh ototnya tumbuh dua kepala dan empat lengan, dan di setiap tangannya adalah senjata blunt[13] yang tampak buas.

Raksasa itu melangkah maju, dan ruangan tergguncang seolah-olah ada gempa bumi. Dibandingkan dengan tubuh bagian bawahnya, tubuh bagian atas yang tidak teratur itu besar, namun meskipun seluruh tubuh condong ke depan, kepalanya masih jauh di atas Asuna dan lain-lain.

Boss itu melihat jijik pada penyusup yang tampak dari sudut-sudut empat mata merah menyalanya dan mengeluarkan raungan brutal. Kedua lengan atas memegang dua pendobrak seperti palu yang tinggi, dan kedua lengan bawah mengayunkan rantai tebal yang cukup kuat untuk menyauhkan jangkar sebuah kapal pesiar di lantai.


Bab 6[edit]

"Aaaaaaaaaah, kita kalah, kita kalah!"

Nora, yang terakhir kembali, memukul punggung Taruken saat ia berteriak dengan riang.

Mereka berada di kubah besar berbentuk bangunan di seberang alun-alun kota Ronbaru, ketujuhnya berpindah ke Save Crystal di lantai yang sedikit turun di tengah ruangan. Tentu saja, ini berarti bahwa mereka dikalahkan oleh serangan ganas dari bos hitam raksasa lantai 27 itu.

"Ugh... Meskipun kita berusaha sangat keras..."

Saat bahu Yuuki merosot dengan cemas, Asuna tiba-tiba merenggut kerahnya.

"Fue?"

Asuna menyeret Yuuki yang terkejut dan berlari ke salah satu sudut ruangan.

"Semuanya cepat datang ke sini!"

Jun dan yang lainnya, yang awalnya berencana kembali ke penginapan untuk beristirahat dan merenungkan pertarungan sebelumnya, berlari dengan mulut terbuka. Tidak ada orang lain di sekitar «Titik Respawn», tetapi untuk jaga-jaga, Asuna mengumpulkan semua orang di tempat di mana mereka tidak bisa terdengar dari luar dan berkata,

"Kita tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Apa kalian ingat tiga orang di depan ruang Boss?"

"Ya, aku ingat."

Shiune mengangguk.

"Mereka adalah pengintai yang dikirim oleh guild yang mengkhususkan diri dalam berburu Bos, tujuan mereka adalah untuk memantau pemain di luar aliansi yang menantang bos. Kalian pasti telah dilihat oleh mereka sebelum kalian memasuki ruangan Bos di lantai sebelumnya dan juga lantai yang sebelumnya lagi."

"Eh... Kami bahkan tidak menyadarinya..."

"Aku takut bahwa tujuan mereka bukanlah untuk menghentikan kalian menantang Boss, tapi untuk mengumpulkan informasi. Mungkin ini sedikit kasar, tapi mereka menggunakan sebuah guild kecil seperti Sleeping Knight sebagai pion korban untuk mengetahui pola serangan Bos dan kelemahannya. Dengan cara ini, mereka tidak perlu kehilangan experience point karena death penalty dan juga dapat menyimpan sedikit biaya ramuan."

Pada titik ini, Taruken yang berkacamata mengangkat tangan kanannya dan bertanya,

"Ta-tapi, pintu segera tertutup di belakang kita setelah kita memasuki ruangan Boss. Mereka, mereka bahkan tidak bisa melihat pertarungan kita, jadi bagaimana mereka mengumpulkan informasi?"

"Itu karena kecerobohanku... Tepat sebelum pertempuran berakhir, aku melihat kadal kecil abu-abu menggeliat di sekitar kaki Jun. Itu Sihir Hitam «Megintip»- Sebuah mantra yang memanggil familiar yang dapat ditempelkan ke pemain yang ditunjuk, yang memungkinkan pembaca mantra untuk melihat sudut pandang pemain yang ditunjuk. Sesaat itu dilemparkan, sebuah ikon yang menunjukkan debuff akan muncul selama sekitar satu detik..."

"Eh, itu buruk, aku tidak menyadarinya sama sekali."

Mendengar penjelasan Asuna, ekspresi penyesalan menutupi wajah Jun. Semua orang menepuk punggungnya dengan lembut.

"Jangan katakan itu, seharusnya aku memperingatkan kalian di awal. Itu pasti telah menempel ketika Shiune sedang memperbarui buff tepat sebelum kita memasuki ruangan. Ada begitu banyak ikon yang muncul pada waktu itu, jadi wajar kalau kamu tidak menyadari ada satu tambahan."

"... Ngomong-ngomong, mungkinkah..."

Mata Yuuki melebar saat ia mengepalkan tangan di depan dadanya dan berteriak,

"Bos di lantai 25 dan 26 yang dikalahkan segera setelah kami kalah itu bukan hanya suatu kebetulan!"

Meskipun Yuuki cukup terkejut, tidak ada tanda-tanda kemarahan atau kebencian dalam suaranya. Merasa hormat pada Yuuki sekali lagi, Asuna mengangguk dan menjawab,

"Kamu mungkin benar. Serangan terus-menerus darimu terekspos bahkan di tempat bos sebelumnya, itulah sebabnya mereka mampu melakukannya dalam satu gerakan."

"Itu, itu berarti..."

Shiune mengerutkan kening dan berbisik,

"Kali ini kami sekali lagi dijadikan pion korban...?"

"Bagaimana ini bisa terjadi..."

Tepat ketika bahu kelimanya hendak terkulai mengikuti napas Nora, Asuna memukul armor Yuuki.

"Tidak, kita masih memiliki kesempatan!"

"Eh...? Asuna, apa maksudmu...?

"Saat ini sekitar pukul 2:30pm, aliansi besar sekalipun akan memiliki waktu yang sulit untuk mengumpulkan puluhan orang, mungkin akan memakan waktu setidaknya sekitar satu jam. Kita akan mengambil tindakan sekarang- Dengar, kita akan menyelesaikan diskusi kita dalam lima menit, dan kemudian bergegas kembali ke ruangan Boss dalam waktu tiga puluh menit! "

"Eeeh??"

Bahkan kelompok ini, yang terdiri dari pemain top, tidak bisa tidak berteriak karena terkejut akan ucapan ini. Melihat sekelilingnya, senyum muncul di wajah Asuna- senyum bangga yang sangat mirip dengan seseorang tertentu.

"Kita bisa melakukannya. Dan- kita pasti bisa mengalahkan Bos hanya dengan beberapa dari kita."

"Su-Sungguh?"

Yuuki membungkuk begitu jauh ke depan hingga hidungnya nyaris mengenai Asuna, dan Asuna melihatnya dan mengangguk.

"Yang harus kita lakukan adalah dengan tenang menyerang titik lemahnya. Ini adalah strategiku. Boss lantai ini berjenis raksasa. Meskipun lengan banyaknya agak sulit ditangani, masih jauh lebih mudah untuk ditangani daripada salah satu yang tidak memiliki bagian depan atau belakang yang nyata. Pola serangannya adalah mengayunkan turun palunya, menyapu dengan rantai baja dan menyerang dengan menurunkan kepalanya. Dia akan mulai menggunakan serangan napas beracun jarak menengah ketika darahnya tinggal setengah, dan setelah turun ke merah dia akan menggunakan skill pedang 8 hit dengan memanfaatkan empat senjata..."

Asuna menempatkan tampilan gambar hologram di tanah, beralih ke layar input dan dengan cepat menarik gambar pola serangan Boss. Dia kemudian mencatat cara untuk bertahan melawan serangan ini.

"... Oleh karena itu Jun dan Thatch dapat mengabaikan serangan dari rantai baja dan memusatkan perhatian pada palu. Berikutnya adalah titik lemah- Jika palu menyentuh tanah, akan memakan waktu sekitar 0,7 detik untuk pemulihan. Nora dan Taruken harus mengambil keuntungan dari pembukaan ini untuk menggunakan skill yang kuat. Juga, akan ada banyak bukaan di belakangnya. Yuuki dapat tetap berada di belakang punggungnya dan menggunakan serangan tipe skill pedang. Tapi tetap berhati-hatilah, rantainya juga akan menyapu daerah di belakang punggungnya. Cara untuk bertahan terhadap serangan napas beracun..."

Sejak saat ia bekerja sebagai sub-leader dari Knights of the Blood, ini pertama kalinya dia berbicara begitu banyak dalam pertemuan strategi. Saat ia memikirkan itu pada dirinya sendiri, Asuna dengan cepat terus menjelaskan strategi kepada mereka, dan keenamnya mengangguk saat mereka mendengarkannya dengan serius.

Asuna merasa bahwa dia hampir seperti seorang guru sekolah, dan segera menyelesaikan pertemuan strategi dalam waktu empat menit. Dia kemudian membuka persediaannya untuk mengeluarkan sejumlah besar ramuan yang dia beli menggunakan anggaran mereka dan hadiah yang dia terima dari Lisbeth dan teman-temannya yang lain.

Semua jenis botol kaca terus-menerus muncul di tanah dengan suara klak. Asuna membagi ramuan penyembuh berdasarkan jumlah luka yang mereka terima dalam pertempuran tadi, dan menempatkan ramuan mana pada dirinya dan ke tas Shiune. Dengan itu, semua persiapan mereka telah diselesaikan.

Asuna menegakkan punggungnya, matanya melihat seluruh wajah setiap orang sekali lagi, tersenyum dan mengangguk.

"Kuulangi sekali lagi, jika itu kalian... Tidak, jika itu kita, kita pasti bisa mengalahkan Bos. Aku, yang pernah berjuang di sini pada masa lalu, dapat menjamin hal ini kepada kalian."

Senyum polos brilian dari Yuuki segera menyebar di seluruh wajahnya, dan dia dengan percaya diri mengatakan,

"Perasaanku memang benar, ini hebat karena kita mampu mendapatkan Asuna untuk membantu kita. Walaupun kita gagal, perasaanku ini tidak akan pernah berubah. Terima kasih- Asuna."

Lima lainnya mengangguk serempak. Shiune, yang tampaknya menjadi sub-leader, menambahkan dengan suaranya yang jelas dan lembut,

"Aku benar-benar bersyukur. Aku sekali lagi memastikan bahwa keputusan Yuuki untuk membawamu ke sini adalah benar, kamu adalah orang yang sudah lama kami tunggu-tunggu."

Asuna dengan putus asa mencoba untuk menekan perasaan yang mengalir di dalam dirinya, mengangkat jari dan mengedipkan matanya-

"... Kata-kata seperti ini seharusnya diucapkan setelah kita selesai. Sekarang... sekali lagi, mari kita coba yang terbaik!"


Sekali lagi terbang dari jalanan Ronbaru, ketujuhnya pergi ke dungeon dengan kecepatan tinggi. Mereka terbang melalui rute terpendek, dan terlihat oleh mobs di luar. Namun, mereka terus menggunakan ilusi Nori dan berhasil melewati mobs saat mereka terbang.

Mereka menghabiskan waktu hanya 5 menit untuk mencapai menara, dan kemudian terbang ke pintu masuk tanpa ragu-ragu. Mereka mengambil jalan terpendek ke lantai paling atas. Meskipun mereka tidak bisa menembus mob rakasa dalam dungeon yang sempit, «Zekken» Yuuki mengaktifkan kemampuannya saat ini dan dengan seketika mengalahkan pemimpin musuh.

Saat timer menunjukan lewat 28 menit, koridor menuju ruangan bos akhirnya muncul di depan mereka. Jalanan panjang dan sempit ini melengkung sedikit ke kiri, dan jalan berbentuk spiral mengarah ke tengah menara.

"Syukurlah. Masih ada 2 menit!!"

Jun berteriak gembira dan berlari melewati Yuuki.

"Hei, tunggu!"

Yuuki mengangkat tangan kanannya dan mengejar. Masalahnya, kita harus mampu mengganggu aliansi guild. Berpikir tentang hal ini, Asuna mulai berlari ke depan dengan putus asa juga. Sekelompok orang terus berjalan dalam lingkaran dan sampai ke koridor, tiba di depan gerbang menuju ruangan bos-

"...!!"

Namun, adegan di depan pintu gerbang membuat Asuna menelan ludah. Jun dan Yuuki, yang berlari di depan, menggunakan sepatu mereka untuk menggesek tanah dan berhenti dengan cepat.

"A... Apa yang terjadi...!?"

Nori dengan kosong bergumam di samping Asuna. Pada 30m terakhir menuju ruangan bos, sekitar 20 pemain menghalangi jalan menuju ruangan bos.

Orang-orang itu berasal dari berbagai macam ras, namun satu-satunya titik sama di antara mereka adalah masing-masing dari mereka memiliki lambang serikat di samping kursor, seperti trio yang bersembunyi di pintu.

'Kami tidak berhasil!' Mereka tanpa terduga mengumpulkan begitu banyak orang dalam waktu yang singkat... Asuna meratap jauh di lubuk hatinya, tetapi menemukan bahwa ada sesuatu yang salah. Masih terlalu sedikit orang untuk menaklukkan bos. 20 orang, 3 kelompok. Tidak akan cukup untuk membuat 7 kelompok, 49 pemain sekaligus.

Para anggota yang ambil bagian dalam penaklukan ini mungkin belum datang. Sungguh berani memilih titik berkumpul di bagian terdalam dungeon, dan bisa dikatakan bahwa orang-orang ini agak tidak sabaran.

Asuna berjalan di samping Yuuki, yang bergumam dengan suara gugup, dan berbisik ke telinganya yang tertutupi oleh rambut ungu tua,

"Jangan khawatir. Sepertinya kita masih memiliki kesempatan untuk menantangnya."

"Benarkah...?"

Yuuki akhirnya menghela napas lega saat ini. Asuna dengan ringan menepuk bahunya dan dengan cepat berjalan menuju kelompok. Semua tatapan kelompok lain terfokus pada Asuna dan teman-temannya, namun mereka tidak menunjukkan keterkejutan atau ketegangan. Bahkan bisa dikatakan bahwa orang-orang ini menantikan pertunjukan yang akan dimulai. Asuna mengabaikan ekspresi mereka dan berdiri langsung di depan kerumunan, berkata kepada pemain Gnome laki-laki yang tampak seperti dia mengenakan armor yang paling mahal.

"Maaf, kami ingin menantang bos. Bisakah kalian membuka jalan?"

Namun, Gnome itu melipat tangan tebalnya, seolah-olah mencoba mengatakan sesuatu yang Asuna tidak harapkan,

"Maaf, tempat ini ditutup."

"Ditutup... Apa maksudmu?"

Asuna, yang tidak bisa mengatakan apa-apa untuk sementara waktu, akhirnya mengeluarkan pertanyaan ini. Gnome mengejangkan alisnya secara berlebihan, dan kemudian berkata dengan nada tenang yang langka,

"Guild kami akan menantang bos. Kami masih dalam persiapan. Tunggu saja di sini sebentar."

"Untuk beberapa saat... berapa lama?"

"Nah, sekitar satu jam."

Pada titik ini, Asuna akhirnya mengerti niatan mereka. Mereka hanyalah kelompok pengintai yang ditugaskan di depan ruangan bos, mengumpulkan informasi. Setelah kelompok lain yang mungkin bisa mengalahkan bos muncul, mereka akan mencoba untuk membuat barikade fisik melalui jumlah.

Baru-baru ini, Asuna mendengar bahwa beberapa guild tingkat tinggi menciptakan masalah dengan menduduki tempat berburu, tapi tanpa ia duga, mereka akan melakukan pendudukan dengan berani seperti ini. Bukankah ini sama saja seperti The Army yang memerintah dengan kejam di Aincrad lama?

Asuna mencoba yang terbaik untuk menekan kemarahannya dan akhirnya berkata dengan nada tenang,

"Kami tidak bisa menunggu selama itu. Ini berbeda jika kamu ingin menantangnya, tapi jika tidak, tolong biarkan kami masuk"

"Kamu agak benar juga..."

Namun Gnome itu tanpa malu-malu melanjutkan,

"Tapi kami datang duluan. Kamu harus mengantri."

"Kalau begitu kamu harus bersiap-siap sebelum datang ke sini. Kami harus menunggu selama satu jam meskipun kami dapat menyerang kapanpun. Itu tidak adil."

"Itulah sebabnya walaupun kamu mengomel, aku tidak bisa membantu. Ini adalah perintah atasan. Jika kamu memiliki perbedaan pendapat, pergilah ke markas guild untuk bernegosiasi. Kantor pusat kami berada di kota Pohon Dunia."

"AKAN MEMAKAN WAKTU SATU JAM KE SANA!!"

Tidak bisa menahan dirinya lagi, Asuna akhirnya berteriak. Dia kemudian menggigit bibirnya dan menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

Tidak peduli bagaimana mereka bernegosiasi, tampaknya kelompok lain tidak berniat untuk minggir. Apa yang harus mereka lakukan?

Mereka tidak tahu apakah mereka bisa mencapai kesepakatan dengan memberikan item yang dijatuhkan bos dan field. Mungkin tidak, saat daya tarik untuk mengalahkan bos bukan hanya barang yang dijatuhkan, tetapi juga besarnya kenaikan experience point dan hadiah nyata meninggalkan nama mereka pada Monumen Swordsman. Orang-orang ini mungkin tidak akan menerima kondisi tersebut.

Jika ini adalah VRMMO lain, mereka bisa komplain kepada GM tentang tindakan yang menentang etika net-game. Namun, argumen pemain di ALO idealnya harus diselesaikan diantara para pemain. GM pada dasarnya hanya menangani kesalahan sistem.

Gnome melirik tajam pada Asuna, yang kehabisan akal, dan berpikir bahwa negosiasi telah selesai dan bersiap-siap untuk kembali ke sekutunya.

Pada saat ini, Yuuki, yang berdiri di belakang Asuna, berteriak,

"Oi, kamu..."

«Zekken» menggunakan suara enerjik untuk meminta Gnome itu berhenti dan berbalik,

"Maksudmu kamu tidak berniat membiarkan kami lewat tidak peduli bagaimana kami meminta, benar?"

"-Sejujurnya, itulah yang terjadi."

Setelah mendengar kata-kata langsung Yuuki, Gnome itu hanya bisa berkedip. Namun, ia segera kembali ke sikap arogannya dan mengangguk. Yuuki hanya tersenyum dan berkata,

"Begitukah? Mau bagaimana lagi kalau begitu. Kami hanya bisa menggunakan kekerasan."

"A... apa!?"

"Ehh!?"

Gnome dan Asuna mengeluarkan teriakan kaget pada waktu yang sama.

ALO benar-benar sebuah permainan yang memiliki poin menjual 'mampu menyerang pemain tanpa syarat di daerah netral'. Semua pemain akan memaksa menggunakan senjata mereka untuk melampiaskan ketidakpuasan mereka, dan kode ini jelas ada dalam instruksi permainan.

Namun, selain menjadi aturan yang sebenarnya, masih ada beberapa aturan tabu tersembunyi untuk menyerang pemain. Pemain harus memperhatikan jika mereka melawan sebuah guild besar. Itu karena walaupun mereka menang, guild yang bersangkutan dapat mengirimkan serangan besar-besaran untuk membalaskan dendam, dan terkadang bahkan membawa kebencian mereka kepada komunitas internet di luar permainan. Saat ini, tidak banyak pemain yang menantang guild besar selain mereka yang sudah bertujuan untuk PK di awal.

"Yu... Yuuki, itu..."

Mulut Asuna terbuka lebar, namun dia tidak bisa membiarkan suaranya keluar karena dia tidak tahu bagaimana menjelaskan hal ini. Namun, Yuuki hanya tersenyum dan menepuk bahunya dan berkata,

"Asuna, beberapa hal harus diselesaikan melalui cara yang keras agar kelompok lain dapat memahami. Misalnya, sekarang, kita harus menunjukkan kepada mereka betapa seriusnya kita."

"Ya, kamu benar."

Di belakang mereka, Jun mengangguk setuju. Asuna berbalik dan menemukan 5 anggota lainnya memegang senjata mereka seolah-olah itu adalah normal.

"Semuanya..."

"Orang-orang yang menyegel tempat ini harus bersiap untuk mempertahankan tempat ini sampai orang terakhir."

Yuuki memalingkan matanya lagi untuk melihat Gnome, memiringkan kepalanya dan berkata kepadanya,

"Bukankah itu benar?"

"Ah... erm, kami..."

Gadis mungil Imp ini segera menarik one-handed sword di pinggangnya tepat di depan pria yang belum pulih dari shocknya tersebut, dan mengarahkannya ke langit. Senyum di bibirnya lenyap, dan matanya menunjukkan kilatan tegas-

"Sekarang, keluarkan senjatamu."

Gnome yang termakan oleh provokasi Yuuki mengeluarkan kapak perang besar di pinggangnya dan dengan mudah membuat postur untuk menyerang.

Saat berikutnya, gadis mungil Imp itu menyerbu melalui seluruh koridor seperti angin puyuh.

"NUAA ...!!"

Setelah akhirnya mengerti apa yang sedang terjadi, Gnome menusuk hidungnya dan meraung, menggerakkan kapak besar di tangannya. Namun, gerakannya benar-benar terlalu lambat. Obsidian Longsword Yuuki meninggalkan jejak gelap sebelum mengayun naik dari bawah dan menusuk langsung ke pusat dada orang itu.

"GUU!!"

Yuuki menggunakan serangan ini untuk membuat Gnome, yang jauh lebih berotot dibandingkan dirinya, kehilangan keseimbangan. Dia kemudian menambahkannya dengan serangan lurus. Longsword mengeluarkan suara berat, menebas bahu Gnome, dan menyebabkan bar HPnya menurun drastis.

"NUOOOHHH!!"

Orang itu akhirnya mengeluarkan raungan marah dan mengangkat kapak perangnya saat ia bersiap-siap untuk mengayunkannya turun menuju Yuuki.

Pemain ini benar-benar pemain yang merupakan kapten tim dari guild yang terkenal karena serangannya sangat cepat. Namun, «Zekken» Yuuki hanya terus mengayunkan pedang tanpa terburu-buru.

*Ding!* Sebuah suara logam tajam terdengar, dan lintasan kapak dibelokkan sedikit, melewati rambut merah Yuuki beberapa sentimeter di atas kepala. Biasanya, senjata hanya dapat menggunakan skill «menangkis» ketika menghadapi senjata berat yang sama. Namun, Longsword tipis Yuuki yang terlihat tidak berbeda dari Rapier membelokkan kapak perang yang besar. Hal ini karena kecepatan kilat ayunannya. Mustahil untuk bisa menjadi begitu tangkas kecuali avatar pemain, saraf dan AmuSphere yang menghubungkan mereka menjadi satu.

Berapa banyak pengalaman yang harus dia dapatkan hanya untuk mencapai tingkat itu? Asuna terlihat benar-benar kagum saat dia melihat Yuuki bertarung di depannya. Pada saat ini, pedang Yuuki itu mulai mengeluarkan cahaya biru. Dia mengaktifkan skill pedang.

Kaki prajurit Gnome itu tidak stabil saat ia menangkis sebuah serangan berkekuatan penuh, tusukan, tebasan horizontal, tebasan bawah dan sebuah pukulan, empat serangan yang semua meledak saat mereka mengarah pada wajahnya. Ujung pedang berwarna biru muda mengelilingi tubuh Gnome dan mengeluarkan cahaya yang intens. Ini adalah 4 hit lurus berturut-turut «Vertical Square»

"GUAA ...!!"

Dengan teriakan, tubuh Gnome terlempar beberapa meter jauhnya dan mendarat di tanah. Bar HPnya langsung jatuh ke zona merah. Dia pasti menyadari ini saat matanya melirik sudut kanan atas yang terlihat menonjol keluar dari sendinya.

Saat matanya kembali ke Yuuki, ekspresi di wajahnya berganti dari shock menjadi kemarahan.

"I... Itu tidak bisa diterima, menyerang seperti itu tiba-tiba...!"

Saat pemimpin mulai berteriak kembali secara acak, sekitar 20 orang dari sekutunya akhirnya berhasil pulih dan masuk ke mode pertempuran. Para pemain yang bertanggung jawab menyerang di garis depan menyebar dan menarik senjata mereka. Asuna secara naluriah menarik tongkat Pohon Dunianya dan mengulangi apa yang dikatakan Yuuki di dalam pikirannya.

-Asuna, beberapa hal harus diselesaikan melalui cara yang keras agar kelompok lain dapat memahami. Ini jelas bukan sesuatu yang dapat gadis itu pikirkan secara acak pada saat terakhir, tapi ini adalah keyakinan gadis misterius yang disebut Yuuki itu miliki. Itu karena dia selalu mengikuti contoh ini. Dia akan menantang lawan yang tak terhitung jumlahnya di jalan-jalan dalam duel dan menggunakan ini untuk berinteraksi dengan mereka.

... Aku mengerti... kamu ada benarnya juga...

Saat Asuna bergumam tanpa kata, wajahnya tanpa sadar tersenyum. Jika dia terus mundur karena takut bertarung melawan orang lain atau balas dendam, maka makna bermain VRMMO akan hilang. Pedang di pinggangnya itu bukanlah hiasan belaka, dan itu jelas bukanlah beban yang berat. Asuna mengambil langkah maju dengan tekad dan tiba di samping Yuuki. Jun dan Shiune sedang berdiri di samping Asuna, dan Thatch, Nori dan Taruken berdiri di samping Yuuki.

Mungkin musuh yang berjumlah lebih dari kelompok beranggota 7 orang ini, tiga melawan satu, terlihat menyadari sesuatu saat mereka hanya bisa bergerak mundur.

Lalu, apa yang memecah suasana tegang ini?

Bukanlah musuh di depan, namun banyaknya jejak kaki yang datang ke sini. Prajurit Gnome menoleh ke belakang Asuna dan teman-temannya dan menunjukkan senyum kemenangan.

"...!"

Asuna tersentak dan berpikir- Mengapa pada saat yang tidak tepat seperti ini? Dan memutar kepalanya ke sekitar. Sejumlah jubah berwarna kemudian muncul di depan mereka. Sebagian besar lambang guild yang ditampilkan adalah «Sagitarius», namun beberapa dari mereka berlambang «Perisai dan Kuda». Dengan kata lain, orang-orang yang datang adalah bagian lain dari aliansi yang sedang Gnome tunggu, dan pasti ada sekitar 30 orang dari mereka.

Walaupun Yuuki sekuat itu, sulit untuk menang ketika dikelilingi oleh musuh yang 7 kali lipat jumlahnya dari mereka pada sisi depan dan belakang. Mantra dan panah yang dapat ditembakkan dari belakang cukup untuk menghabiskan HP mereka tanpa bisa melakukan apa-apa.

-Semua karena aku ragu-ragu...

Asuna merasa menyesal saat ia menggigit bibirnya dengan keras. Jika dia mengikuti keyakinan Yuuki dari awal, mereka setidaknya bisa menembus 20 orang di depan dan memasuki ruangan bos.

Sama seperti Asuna yang hendak membuka mulutnya dan meminta maaf. Yuuki, yang berada di sebelah kirinya, menepuk tangannya. Emosi Gadis Imp itu menyelimuti kulitnya di dunia virtual.

-Maaf, Asuna. Ketidaksabaranku malah menyeretmu. Tapi aku tidak menyesal melakukan hal ini. Sejak kita bertemu, aku belum pernah melihatmu menunjukkan senyum indah seperti itu.

Asuna memegang tangan Yuuki dan menjawab bisikan yang tampaknya muncul di dalam benaknya ini.

-Seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak bisa banyak membantu. Kita mungkin tidak bisa melakukannya pada level ini, tapi kita pasti bisa mengalahkan bos di level berikutnya.

Shiune dan yang lain tampaknya merasakan interaksi mereka berdua karena mereka semua mengangguk, membentuk lingkaran dan menghadapi musuh di kedua sisi. 30 orang yang bergegas datang di depan dan belakang mereka tampaknya telah memahami situasi saat ini saat orang-orang itu menarik senjata mereka.

Saat ini, mereka hanya bisa berjuang sampai akhir. Asuna membuat keputusan dan mengangkat tongkat pendeknya sambil mengucapkan mantra serangan. Melihat tindakannya, Cakar prajurit Cait Sith mengeluarkan sifat karnivoranya dan berteriak,

"TETAP BERJUANG SAMPAI AKHIR!!"

-Tapi sesaat ketika ia hendak menyatakan kemenangan. Sesuatu yang jauh melampaui pikiran Asuna dan semua pemain terjadi.

"Itu... Itu adalah...?"

Orang yang pertama kali menyadari anomali adalah Nori, yang memiliki kemampuan penglihatan malam. Sedetik kemudian, Asuna menyaksikan fenomena itu juga.

Pada saat ini, pasukan musuh sudah 20m di depan mereka, namun, di belakang mereka, pada dinding yang melengkung secara bertahap dari koridor, ada semacam... atau lebih tepatnya, orang tertentu yang sedang berlari ke sini. Itu benar-benar sangat cepat, hanya bayangan hitamnya yang bisa dilihat.

Itu adalah «Wall Run» yang semua elf ringan bisa gunakan. Satu-satunya yang bisa menggunakannya adalah Sylph, Undine, Cait Sith, Imp dan Spriggan. Biasanya, 10m adalah batasnya, tapi bayangan di depan mereka berlari sekitar 30m. Gerakan yang sangat sulit ini hanya dapat dilakukan melalui kecepatan berlari yang berlebihan.

Saat ia menyadari hal ini, atau lebih tepatnya, saat dia melihat sosok samar itu, Asuna tahu siapa penyusup itu.

Sosok yang berlari dengan sangat cepat, berlari di dinding, melewati bala bantuan, dan dengan mudah mendarat di tanah. Kecepatannya melambat sambil mengeluarkan bunga api besar yang disebabkan oleh percikan api pada telapak sepatunya yang bergesekan dengan tanah. Ia tiba diantara pasukan utama dan teman-teman Asuna dan berhenti sambil menghadap kelompok Asuna.

Orang itu mengenakan celana kulit ketat hitam dan jubah panjang hitam, memiliki rambut hitam pendek yang jatuh ke samping, dan memiliki pedang satu tangan yang sedikit besar di punggungnya. Juga, sarung pedang kulit hitam yang memiliki lambang putih murni wyvern di atasnya. Itu adalah merek dagang dari «Toko Senjata Lisbeth» yang dibuka di jalanan kota pohon dunia. Pedangnya ditempa dari logam langka dari Jötunheimr, itu adalah masterpiece dari seorang teman dekat Asuna.

Tangan kanan pendekar pedang berpakaian hitam dengan cepat meraih pedang biru muda dari punggungnya, dan kemudian *Clang!* menusukkannya ke lantai batu di sampingnya. 30 orang penjelajah veteran berhenti seperti mereka terkejut akan kehadirannya.

Kemudian, kata-kata tamu tak diundang ini dengan keras mengatakan kembali apa yang Gnome tadi katakan pada Asuna.

Sword Art Online Vol 07 -149.jpeg

"Maaf, tempat ini ditutup."

Suara yang agak jelas meskipun tidak ada perasaan pernyataan di dalamnya ini, menyebabkan kelompok 30 orang yang baru saja muncul, 20 orang di belakang Asuna, dan Sleeping Knights benar-benar terdiam.

Orang pertama yang menanggapi sikap menantang itu adalah Salamander kurus yang berdiri di depan bala bantuan. Dia mengguncang rambut merah gelapnya dan memberikan tampilan tidak percaya dan berkata,

"Oi oi, «Blackie». Bahkan kamu tidak akan bisa menghentikan begitu banyak orang di sini, kan?"

Pendekar pedang yang memiliki banyak nama panggilan karena pakaian hitamnya ini mengangkat bahu dan menjawab,

"Benarkah? Kenapa tidak kita coba?"

Sikap bermuka tebal ini menyebabkan Salamander, yang tampaknya pemimpin dari aliansi guild, tersenyum kecut dan mengangkat tangan kanannya. "Itu benar. Kalau begitu, cobalah... penyihir, panggang dia."

*BACHK!* Setelah dia mengatakan itu, orang itu menjentikkan jarinya, dan kelompok belakang segera meneriakkan kata-kata mantra mereka dengan cepat. Apakah itu adalah respon atau suara, orang bisa mengatakan bahwa mereka sangatlah terlatih. Asuna ingin mengucapkan mantra penyembuhan, namun 20 pasukan yang dekat di belakangnya tidak akan mengizinkannya untuk melakukan hal tersebut.

Pada saat ini, Spriggan itu memiringkan kepalanya sedikit.

Sejak keduanya saling kenal, dan walaupun avatar mereka berbeda, Asuna telah melihat senyum percaya diri itu pada pipi kirinya tak terhitung banyaknya. Saat berikutnya, cahaya mantra tertembak dari belakang dinding manusia dan segera menutupi bayangan hitam yang tersenyum itu.

«Pendekar Pedang Hitam» Kirito melihat tujuh serangan mantra tingkat tinggi yang mengarah padanya dan tidak bereaksi sama sekali. Tidak, sudah terlambat baginya untuk bereaksi. Semua mantra itu berjenis «Single Homing», dan tidak ada cara untuk menghindari serangan-serangan itu dengan bergerak di dalam koridor yang lebarnya 5m di mana ia tidak akan bisa terbang.

Kirito menarik Longsword dan mengistirahatkannya di bahu kanannya. Pada saat ini, pedang mengeluarkan efek cahaya merah gelap. Itu adalah sword skill?

Saat berikutnya, segala macam warna cahaya, meledak dan ekspresi terkejut dari 50 orang lebih memenuhi seluruh ruang sempit ini.

Kirito menggunakan skill 7 hit berturut-turut «Deadly Sins» untuk menghancurkan semua mantra serangan yang datang... atau lebih tepatnya, 'mengiris' mereka.

"Ti... Tidak mungkin..."

Bahkan «Zekken» Yuuki hanya bisa bergumam tak percaya. Asuna bisa memahami perasaannya, tetapi jika ia sendiri terkejut dengan level berlebihan, tindakan sembrono dan radikal ini, dia tidak akan bisa menjadi teman player VRMMO yang dipanggil Kirito ini.

Ini adalah skill Kirito sendiri yang dibuat di luar sistem, yang disebut «Spell Blast». Kemampuan khusus Kirito di Aincrad lama adalah menggunakan skill pedang untuk menyerang titik lemah dari senjata musuh daripada menyerang musuh, Skill di luar sistem yang disebut «Arm Blast». Meskipun skill luar biasa itu sendiri memerlukan refleks super dan skill sasaran yang sangat rumit, itu sulit untuk mengiris mantra di ALO.

Saat serangan mantra itu sendiri tidak sesolid benda-benda fisik, dan mereka terlihat seperti efek massa cahaya, 'hit designation' hanya dapat dibuat ketika mengenai pusat mantra. Juga, pusat mantra tidak bisa diserang dengan serangan biasa, tetapi dengan skill pedang yang mengenai titiknya pada kecepatan tinggi. Itu karena sifat padat senjata normal tidak bisa meniadakan sihir. Sebaliknya, skill pedang memiliki beberapa bentuk yang merusak elemen seperti bumi, air, api, angin, cahaya dan kegelapan. Namun, itu sudah melampaui kategori gila untuk mencoba menangkap pusat mantra dengan menggunakan ayunan pedang yang tidak bisa dikendalikan karena bantuan sistem, dan hampir mustahil untuk melakukannya.

Bahkan, Lyfa, Klein dan Asuna sendiri pernah mencoba untuk mempelajari skill «Spell Blast» ini dengan Kirito, dan harus menyerah setelah 3 hari. Bahkan Kirito sendiri mencatat bahwa ia mendapatkan pengalaman ini dari 'Menggunakan pedang untuk mengiris peluru' di dunia lain yang disebut «Gun Gale Online» ketika ia ditransfer ke sana. Mendengar Kirito mengatakan 'Tidak akan pernah ada mantra yang kecepatannya lebih tinggi dari peluru senapan' dengan wajah lurus, bahkan Asuna, yang sudah pada tingkat tidak akan terkejut oleh hal apapun, hanya bisa berdiri dalam shock.

Karena alasan ini, orang bisa mengatakan bahwa Kirito kemungkinan besar, tidak, pasti hanya satu-satunya orang yang bisa menggunakan skill «Spell Blast» di ALfheim. Dan diam-diam ia melatih skill ini sendiri, dan tidak pernah menggunakannya dalam duel atau kelompok berburu, jadi sekarang pasti menjadi pertama kalinya sebuah guild besar melihat hal ini.

"... Apa-apaan..."

Salamander berambut panjang mengeluarkan gumaman, dan dari belakang, mereka bisa mendengar suara-suara 'Dia mengiris sihir!' 'Itu bukan kebetulan, kan?, 'Itulah mengapa kukatakan...' dan segala macam suara lainnya.

Namun, kelompok lain yang adalah sebuah guild yang mengkhususkan diri dalam mengalahkan bos bereaksi. Di bawah perintah Salamander itu, para pejuang garis depan menarik senjata mereka, mengeluarkan tombak dan panah, dan dukungan mulai mengucapkan mantra lagi. Kali ini, itu tidak terlihat menjadi tipe «single homing», tetapi juga terlihat memasukkan tipe «multi-homing» dan tipe «Area ballistic».

Kirito berbalik lagi, mengangguk cepat pada Asuna, dan menunjukkan 3 jari dengan tangan kirinya. Tentu saja, ini bukan tanda kemenangan untuk mengubah situasi, tapi satu hal dengan makna 'aku akan membantumu menahan mereka selama 3 menit'. Tentu saja, dia tidak berpikir bahwa dia bisa mengalahkan 30 orang musuh dengan sendirian.

Pada saat ini, Asuna akhirnya mengerti alasan mengapa Kirito muncul di sini. Begitu dia mendengar Asuna mengatakan bahwa dia ingin membantu Sleeping Knights menaklukkan tingkat ini, dia tahu bahwa mereka akan dihalangi oleh guild besar. Kirito kemungkinan besar bersembunyi di area pintu masuk dungeon, dan menyadari gerakan aliansi guild itu.

Setelah ia melihat Asuna dan teman-temannya tidak bisa melawan jumlah orang sebanyak itu, dia berniat mengorbankan dirinya untuk mengulur waktu saat dia tertangkap. 3 menit. 180 detik. Ini hanyalah kedipan mata di dalam rumah hutan, tapi akan menjadi waktu yang lama di dalam pertarungan melawan pemain.

Asuna bukannya meragukan kemampuan Kirito, tapi bisakah dia benar-benar bertahan selama 3 menit melawan begitu banyak orang? Bijaksanakah mengirim seseorang untuk mengawal Kirito dari kelompok 7 orang ini...?

Tepat ketika Asuna ragu-ragu tentang hal ini, dua hal mengganggu pikirannya. Pertama, Kirito menaruh tangan kirinya di belakang punggungnya dan menyambar gagang pedang kedua yang ia wujudkan, dan menariknya dengan suara yang jelas. Itu Longsword emas yang terlihat glamor. Itu tidak dibuat oleh seorang swordsmith, namun senjata legendaris yang tersegel di bagian terdalam dari air bawah tanah Jötunheimr, «Pedang Suci Excalibur». Dalam rangka untuk mendapatkan pedang ini, kelompoknya menggunakan teman Lyfa, dewa jahat tipe penerbang «Tonkii» untuk mencapai batas kelompok dan menantang ke dalam Jötunheimr. Mereka hampir dimusnahkan total dalam pertempuran bos. Namun, bagian punggung Kirito saat ia kembali menggunakan dua pedang menjadikannya begitu kuat,

Asuna merasa bahwa kerja keras saat itu tidak sia-sia. Tekanan yang dikeluarkan oleh Longsword emas membuat bagian dukungan mundur perlahan-lahan. Seolah mengambil keuntungan saat musuh sedang goyah, gemuruh tiba-tiba bergema langsung dari bagian belakang kelompok.

"UWOOOAAAAAAHHH!! AKU DI SINI JUGA, MESKIPUN KAMU TIDAK BISA MELIHATKU!!!"

Suara agak kasar dan serak itu tidak diragukan lagi berasal dari pengguna katana Klein. Asuna hanya bisa berjinjit untuk melihat ke belakang, dan nyaris tidak bisa melihat rambut merah mengalir lurusnya yang diikat dengan bandana. Tampaknya Kirito bukan satu-satunya yang datang untuk memeriksa dungeon. Tapi mengapa ia muncul setelah beberapa saat?

"TERLALU LAMBAT. APA SIH YANG KAMU LAKUKAN!?"

Di sisi dinding manusia, Kirito berteriak, dan di ujung, Klein kembali berteriak,

"MAAF, AKU TERSESAT!!"

Asuna hampir saja terjatuh, tapi ia menyeimbangkan dirinya, dan melihat sosok kecil yang melambai di atas bahu Kirito. Itu adalah pixie navigasi Yui, yang juga 'anak' mereka. Senyum manisnya menunjukkan sinar kehangatan ke dalam hati Asuna.

-Terima kasih Yui-chan, terima kasih, Klein.

-Aku sangat mencintaimu, Kirito-kun.

Setelah menggumamkan ini jauh di dalam hatinya, Asuna segera berbisik kepada Yuuki di sampingnya.

"Kita pasti baik-baik saja jika kita menyerahkan hal ini pada mereka. Fokus saja untuk menembus 20 orang di depan kita dan menuju ruangan bos."

"Oke, aku mengerti." Yuuki mengedip beberapa kali, dan kemudian menjawab dengan suara yang jelas.

Dia berbalik, terlihat seperti ia akan mengaktifkan skill pedangnya dan mengangkat pedang di atas kepalanya. Jun dan Shiune di sebelah kanannya dan Thatch, Nori dan Taruken di sebelah kirinya melihat efek cahaya ungu dan masuk ke posisi pertempuran. 20 anggota kelompok yang tidak memahami situasi sama sekali dan prajurit Gnome yang merupakan pemimpin melihat gerakan teman-teman Asuna dan bersiap-siap untuk bertarung kembali.

Saat suara sihir dan skill pedang yang beradu bergema di belakang, Asuna berteriak,

"... MAJU!"

Dengan Yuuki memimpin, ketujuhnya masuk ke formasi wedge dan bergegas keluar. Gnome dan pengikutnya meraung dan menyerang.

Saat kedua belah pihak bentrok, *GAGAANN!!* suara dampak meledak, dan beberapa efek cahaya muncul pada saat yang sama. Battle royale kacau dimulai, dan setiap sudut koridor dipenuhi dengan suara pedang yang beradu satu sama lain.

Asuna sendiri merasakan skill Yuuki ketika duel melawannya, dan pada saat ini, dia bisa mengatakan bahwa anggota lainnya sebanding dengannya. Bahkan ketika melawan pemain, yang bukan monster biasa, mereka mampu mengayunkan senjata mereka dan bertarung.

Dengan menggunakan bobot pedang dua tangan Jun dan gada berat Thatch mereka bisa menghancurkan musuh dari depan. Tombak panjang Taruken dan tongkat Nori akan menyerang selama terjadi pembukaan. Yuuki sendiri menggunakan kemampuan menghindarnya yang luar biasa untuk dengan mudah menghindari beberapa pedang yang lewat ke dekat dirinya dan bergegas mencengkram musuh, menggunakan tebasan miring untuk menyerang.

Ketika menghadapi musuh yang jumlahnya lebih dari mereka, para anggota Sleeping Knights bisa dikatakan berjuang dengan gagah berani. Namun, kelompok musuh tidak akan hancur begitu saja- itu karena penyihir di belakang terus mengeluarkan mantra penyembuhan.

Dalam pertempuran besar ini, akan ada beberapa luka yang tak terduga. Selain Yuuki, HP anggota lain mulai menurun. Asuna dan Shiune mulai mengeluarkan mantra penyembuhan mereka.

Pada saat ini, 2 bayangan dari musuh bergegas datang ke atas mereka. Mereka adalah pemain tipe assassin dengan belati tajam dan mengenakan armor kulit yang ringan.

Asuna menyadari bahwa itu adalah Sylph yang bersembunyi di depan ruangan bos beberapa menit yang lalu, dan secara naluriah merubah mantranya. Dia menggunakan kecepatan membaca khususnya untuk menyelesaikan mantra dalam 2 detik. Kedua Sylph memiliki cahaya aliran air yang muncul di kaki mereka, dan kaki mereka yang terikat menyebabkan mereka terjatuh.

Menggunakan pembukaan ini, Asuna berbisik kepada Shiune, yang selesai membaca mantra penyembuhan.

"Bisakah kamu mengurus penyembuhan sendiri?"

Undine yang sedikit lebih tinggi dari Asuna itu segera menganggukkan kepalanya.

"Ya, aku harus bisa melakukannya."

"Aku akan mengurus penyembuh musuh kalau begitu."

Sudah beberapa menit sejak pertempuran dimulai, dan suara dari belakang mulai menjadi lebih dan lebih intens lagi. Ini pasti hasil dari Kirito dan Klein yang menyerang ke dalam kelompok musuh untuk mencegah serangan sihir. Namun, mereka tidak memiliki satupun penyembuh, dan tidak bisa menyembuhkan segala macam luka tak terduga. Kirito mengatakan bahwa ia bisa bertahan selama 3 menit, tapi akan lebih baik jika mereka bisa menembus musuh dalam waktu 2 menit untuk membayar pengorbanan mereka. Akan lebih baik untuk mengakhiri pertempuran ini dengan cepat.

Asuna dengan cepat memanggil jendela, menaruh tongkat ke dalam persediaan barangnya dan beralih ke Rapier yang lebih suka ia gunakan. Saat itu, cahaya perak muncul di pinggangnya, mewujudkan sabuk pedang yang dirajut dari benang mithril, dan sarungnya yang terbuat dari bahan yang sama.

*SHCHANK!* Pedang panjang yang tipis ditarik keluar. Pertama, ia berlari ke 2 Sylph yang tertahan oleh mantra penahan «Aqua Bind», dan tanpa ampun menyerang titik vital yang menyebabkan bar HP mereka segera menghilang.

Dia mengintip melalui sisa-sisa avatar yang hancur di depannya dan memandang ke mana dia akan melanjutkan pertempuran. Tampaknya setiap sudut koridor dipenuhi dengan pemain yang dengan sinting mengayunkan pedang di tangan mereka, tetapi jika ia harus meletakkannya, sisi kanan adalah bagian dengan orang yang lebih sedikit.

Asuna mengambil napas dalam-dalam, menyesuaikan napasnya, dan dengan kuat menendang tanah. Dia meletakkan Rapier di tangan kanan pada pinggangnya dan berlari. Begitu dia mencapai kecepatan tertentu, dia berteriak pada Yuuki, yang bertarung dengan punggung menghadap Asuna,

"YUUKI! MENGHINDAR!!"

"He...!?? AA!?"

Yuuki memiringkan kepalanya sedikit, melihat Asuna yang bergegas maju, dan buru-buru menghindar. Asuna mengarahkan pedangnya pada pemimpin Gnome, yang tetap berdiri dengan mengeluarkan kapaknya, dan mendorong serangan pedang dengan cara yang lurus tepat saat ia masuk ke postur membungkuk ke depan.

*BAA!!* Pedang mengeluarkan beberapa kilatan putih, dan beberapa cahaya mengelilingi Asuna. Asuna segera merasakan sensasi melayang, dan dia mengeluarkan ekor panjang seperti komet sebelum bergegas ke depan dengan kecepatan luar biasa.

"UWAAAHHH!"

Gnome itu akhirnya mampu menggerakkan kapak dua tangannya dan siap untuk menggunakannya sebagai perisai. Namun, Asuna lebih cepat, dan ujung depan Rapier menyentuh tubuhnya.

Gnome tampak seperti rakasa yang kehilangan kendali saat ia terlempar ke udara. Dia memiliki HP yang mendekati nol berkat serangan Yuuki, dan meledak dalam cahaya kuning dan tubuhnya menyebar saat di udara.

Setelah berubah menjadi komet putih, Asuna tidak melambat bahkan setelah berurusan dengan satu orang saat ia bergegas menjadi penyembuh. 3-4 Orang yang menghalanginya dan pemimpin mereka tertiup ke samping. Beberapa terbang ke udara, dan beberapa terduduk di tanah. Dia menggunakan skill pedang tusukan jarak jauh terkuat untuk rapier, «Flashing Penetrator». Butuh banyak berlari untuk menggunakan skill ini, jadi hampir tidak ada yang menggunakan ini dalam duel 1 v 1. Namun, itu sangat efektif ketika menerobos orang.

Asuna segera menembus dinding besi armor dan perisai sebelum meluncur ke depan sekitar beberapa meter. Saat ini, ia akhirnya mendarat di tanah dungeon. Dia menggunakan tumit sepatu botnya sebagai rem, menciptakan banyak bunga api dalam proses, dan berlutut di tanah dengan satu kaki sebelum mengangkat kepalanya. Keempat pembaca mantra, yang mengenakan jubah panjang, hanya bisa melihat ke bawah dengan kosong pada Asuna.

-Tampaknya julukan tak terkenal «Berserk Healer» menjadi lebih dikenal sekarang.

Asuna berpikir saat dia dengan kuat menyeret Rapier di belakang tangan kanannya.

Yang paling penting dalam pertempuran kelompok bukanlah kemampuan anggota yang bertarung di garis depan, tapi status kelompok yang mendukung mereka dari belakang, Asuna benar-benar menghancurkan penyembuh lawan, dan garis depan hancur oleh Yuuki, yang telah dibantu oleh Shiune dan yang lainnya.

Total waktu yang diambil adalah 2 menit dan 8 detik.

Menengok ke belakang, dia segera melihat bahwa Kirito dan Klein masih bertarung dengan sungguh-sungguh melawan bala bantuan. Musuh telah kehilangan banyak anggota, tetapi dua HP bar mereka berada di dekat wilayah merah seperti yang ditunjukkan oleh warna kursor.

Jauh di dalam hatinya, Asuna sekali lagi mengucapkan terima kasih pada mereka berdua dan Yui, yang berada di bahu Kirito yang berperan sebagai radar taktik.

Dia segera berbalik dan berteriak pada semua anggota Sleeping Knights, yang berhasil bertahan hidup,

"BAIKLAH, SAATNYA PERTUNJUKAN UTAMA! AYO KITA KALAHKAN BOSS!!"

Keenamnya segera berteriak 'baiklah' dan menendang tanah untuk berlari menuju gerbang hitam yang mengarah ke ruangan boss dengan Asuna.

Seperti tantangan pertama mereka, Jun meletakkan tangan kirinya di gerbang. Gerbang mengeluarkan suara berat dan membuka kedua pintu, mengeluarkan 2 baris api putih kebiruan.

Waktu yang dibutuhkan api untuk membentuk lingkaran akan menjadi waktu dimana gerbang tetap terbuka bagi mereka yang masih berada di luar, tapi tidak perlu untuk menunggu. Ketujuhnya segera meluncur masuk. Asuna adalah orang terakhir yang menyerbu masuk, dan segera berbalik menekan tombol batu yang ada di dinding kanan. Ini adalah tombol untuk membatalkan satu menit waktu tunggu.

Pintu mengeluarkan ledakan keras, dan perlahan-lahan menutup, dan pertempuran intens di baliknya mencapai momen kritis.

Pendekar pedang berpakaian hitam yang HP barnya menjadi merah terang mengangkat tangan kanannya. Dia kemudian mengangkat dua jari, kali ini benar-benar menunjukkan tanda V pada Asuna.

Setelah gerbang ruangan boss menutup sepenuhnya, mereka tidak akan bisa mendengar suara dari koridor. Tak seorang pun akan dapat membuka gerbang ini kecuali pertarungan di dalamnya berakhir.

Dalam keheningan total, api akan terus meningkat setiap dua detik. Saat ini, api mengisi setengah ruangan. Dengan kata lain, ada sekitar 50 detik sebelum bos muncul.

"Semuanya, cepatlah dan gunakan ramuan untuk memulihkan HP dan MP. Kita akan melanjutkan penaklukan sesuai dengan rencana dalam pertemuan itu. Pola serangan awalnya sederhana. Hindari saja dengan tenang."

Setelah mendengar kata-kata Asuna, keenamnya mengangguk sedikit dan mulai mengambil botol merah atau biru.

Asuna menyadari bahwa mereka masih memiliki sesuatu yang ingin dikatakan setelah meminum ramuan mereka, dan menunjukkan tatapan bingung.

Yuuki kemudian melangkah maju untuk mewakili mereka dan berbicara,

"Asuna... mereka berdua datang untuk membantu kita dan..."

"... Ya."

Asuna tersenyum dan mengangguk. Saat ini, HP Kirito dan Klein pasti telah habis dan menjadi «Remain Lights» kecil. Tidak, walaupun mereka tetap di sana, tak seorang pun akan menghidupkan mereka, jadi mereka pasti kembali ke titik respawn.

Memikirkan itu Yuuki dan yang lain pasti merasa khawatir tentang dua orang yang menjadi korban itu, Asuna terus menatap semuanya dan berkata dengan suara yang jelas,

"Mari kita kalahkan boss untuk membayar perjuangan mereka."

"Tapi... kami selalu mengandalkanmu dan teman-temanmu..."

Yuuki menggigit bibirnya, dan rambut yang memiliki bando merah di atasnya terkulai turun. Namun, Asuna hanya menepuk bahu Yuuki. Masih ada 10 detik sampai bos muncul. Undine itu menggunakan momen ini untuk mengatakan sesuatu yang penting.

"Kamu mengajariku sesuatu yang penting juga, Yuuki. Bukankah kamu mengatakan bahwa «Beberapa hal harus diselesaikan melalui cara keras agar kelompok lain dapat memahami»?"

Mata Yuuki melebar, tapi Shiune dan lima lainnya segera mengerti apa yang coba Asuna katakan. Saat para peri tersenyum dan mengangguk, api terakhir menembak langit di belakang mereka.

"Sekarang, ini adalah yang terakhir kalinya! Guild tadi pasti akan mencoba untuk mengelompok kembali saat kita sedang bertarung dan berkumpul di koridor. Kita harus bekerja keras dan perlihatkan pada mereka tanda kemenangan ketika pintu terbuka!"

Sebagai sub-leader dari «Knights of the Blood», dia juga akan menyemangati semua orang sebelum melawan boss. Namun, kata-kata yang Asuna katakan saat itu hanya akan menyebabkan sekutunya menjadi tegang. Kata-kata itu akan membuat mereka mencengkeram pedang mereka dengan keras, namun tidak meresonansi hati mereka. Itu karena Asuna hanya memikirkan cara yang efektif untuk memerintah orang lain, dan tidak pernah menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya.

…Yuuki, setelah pertempuran ini berakhir, beritahu aku lebih banyak tentang dirimu, seperti apa perjalananmu pergi ke seluruh dunia dan petualangan apa yang kamu miliki.

Dengan perasaan seperti itu, Asuna dengan kuat meraih pelindung bahu Yuuki dan melangkah mundur. Saat ini, ia menyimpan Rapiernya lagi dan mengangkat tongkat Pohon Dunia tinggi-tinggi.

Di depan mereka, teriakan yang dalam terdengar seiring dengan munculnya bentuk batu seperti poligon. Bos hendak muncul. Raksasa bersenjata empat melompat keluar saat blok seperti humanoid tertiup ke samping.

"Baiklah... Mari kita menantangnya lagi!"

Mendengar suara heroik Yuuki, semuanya meningkatkan semangat yang sama dengan auman raksasa hitam.


Bab 7[edit]

Asuna menggunakan jempolnya untuk membuka tutup dari botol kecil dan meminum cairan biru yang ada di dalamnya. Lalu dia mengecek jumlah dari mana potions.[14]

Potion yang terisi di sakunya telah digunakan selama 40 menit di waktu pertempuran yang panjang, dan sekarang hanya tersisa tiga. Shiune, orang yang berperan menjadi penyembuh bersamanya, seharusnya memiliki jumlah yang sama dengan Asuna.

Beberapa orang yang menyerang secara frontal terlihat kelelahan. Mereka mencoba sekuat tenaga untuk menghindari serangan monster hitam yang memiliki pola, namun mereka tidak dapat menghindar dari serangan racun yang memiliki jangkauan luas dan serangan semua arah dengan dua rantai yang diayun. Ketika serangan ini muncul, Asuna dan Shiune hanya bisa merapalkan sihir tingkat tinggi untuk penyembuhan, jadi mana potion terus digunakan seperti air mengalir.

Meski begitu, tongkat Nori, tombak Taruken dan pedang Yuuki yang berhasil mengenainya- itu hanya seperti memukul dinding besi yang tidak dapat memberikan damage besar sebanyak apapun mereka menyerang. Terkadang bos itu menaruh keempat tangannya untuk mempertahankan dirinya, dan ketika dia melakukan itu, itu dapat memantulkan apapun seperti metal, dan perasaan yang sia-sia terus meningkat.

Asuna menelan kegelisahannya yang telah naik di tenggorokannya dengan meminum potion, dan dengan semangat berkata,

"Semuanya, kita dapat melakukannya! Hanya tinggal sedikit lagi!"

—Meski begitu, 5 menit yang lalu, dia juga mengatakan hal yang sama. Karena tidak terlihat batang HP di boss monster yang ada di dalam Aincrad Baru, jadi mereka hanya dapat memperkirakan jumlah HP melalui pergerakan. Monster besar itu cukup lambat dan pergerakannya yang dapat dilihat pertama kali- sekarang dapat dikatakan menjadi mengamuk. Mereka memastikan bahwa dia tidak memiliki darah yang cukup banyak, tapi tentu saja ini hanya pemikiran yang optimis.

Pada suatu pertarungan yang panjang di mana terlihat tidak akan berakhir, pemain pembantu biasanya menggunakan sihir, tapi pemain terdepan menahan serangan musuh yang dapat menurunkan semangat dan kosentrasi. Untuk melawan bos yang normal, mereka seharusnya bertukar dengan pemain depan sekitar 5 menit. Dari sini, orang dapat mengatakan bagaimana kesulitan yang dialami Sleeping Knights.

Tetapi, pada akhirnya mereka kelelahan. Setelah mendengar panggilan Asuna, hanya Yuuki yang masih memiliki kekuatan untuk menjawabnya. Gadis Imp kecil itu tidak menunjukkan kelelahan bahkan setelah pertarungan yang tidak dapat dihitung menitnya dan dia melanjutkan dan menggunakan kakinya untuk menghindar dari palu raksasa dan rantai sebelum dia menggunakan pedang di tangan kanannya untuk memberikan damage.

Sebelumnya, Asuna berpikir kekuatan Yuuki berasal dari refleks yang tidak masuk akal, tapi sekarang dia sedikit mengerti dengan ini. Kosentrasi yang kuat dan kekuatan untuk terus mengayun pedang mungkin sebanding dengan Kirito.

Di saat itu, Asuna mengingat kejadian yang dialaminya saat dia melihat jauh di ingatannya dari adegan di masa lalu.

Di lantai 74 tepat di ruangan bos di Aincrad Lama, Kirito pernah bertarung dengan bos monster tipe humanoid. Dia menggunakan tangkisan dan kecepatan kakinya untuk menghindari serangan yang menakutkan di bawah situasi yang gawat, dan kedua pedangnya yang terus menebas memiliki kecepatan seperti senapan mesin, menggunakan sword skill pada kelemahan bos, di panggul—

"Ah.."

Dengan ide yang tiba-tiba muncul, Asuna tidak dapat menahan suaranya. Mantra dari sihir miliknya gagal dan- *BOON!* Asap hitam muncul di sekitarnya.

Asuna dengan cepat meringis ketika dia terluka, tapi Shiune, orang yang ada di belakangnya menyelesaikan mantranya di saat terakhir. Tecchi dan kelompoknya yang dikelilingi oleh nafas beracun di depan- HPnya telah kembali ke zona aman.

Asuna menaikkan tangan sebagai permintaan maaf ke Shiune, ke orang yang melirik padanya, lalu dia berkata,

"Shiune, aku memiliki ide. Dapatkah kamu bertahan selama 30 detik dengan dirimu sendiri?"

"Un, baiklah. Aku masih memiliki mana yang cukup."

Asuna menaikkan tangannya kepada Shiune lagi, dia mengangguk, lalu menaikkan tongkat di tangan kanannya. Dia mengambil nafas yang dalam, dan memulai merapal sihir yang baru secepat yang dia bisa.

Saat mantra itu selesai, pecahan es yang berkilauan muncul di depan Asuna, dan mereka dengan cepat berubah menjadi empat pisau es. Ketika pisau es itu selesai, lingkaran biru muncul di matanya. Ini adalah sihir pelacak penyerang.

Dengan hati-hati Asuna menggerakkan tangan kirinya dan perlahan membidik ke arah tenggorokan dari monster berkepala dua itu. Monster itu terus maju, dan palu pada kedua tangan atasnya telah siap untuk mengayun—

"Eii!"

Asuna menggerakkan tongkat di tangan kanannya. 4 pisau itu terbang di udara dengan meninggalkan jejak biru, serangan itu terkena di leher bagian bawah dari monster itu.

"GUUOOOOOHHHHHH!!!"

Monster itu mengeluarkan suara teriakkan yang terdengar seperti kesakitan dan serangan palu itu berhenti. Keempat tangan itu disilangkan di depan tubuhnya seperti menahan. Dia terus tertahan dalam posisi bertahan selama lima detik sebelum mengangkat tangannya dan menghantam lantai dengan palunya.

Lantainya bergetar dengan keras dan mengeluarkan suara- Asuna telah siap untuk mencegah dirinya jatuh sambil membisikkan,

"Seperti yang aku duga..."

Melihat itu, Shiune memikirkan hal tersebut dengan ragu, namun Asuna dengan cepat menjelaskan,

"Awalnya aku berpikir posisi bertahan itu hanya keluar sesekali, tapi bukan seperti itu. Lehernya adalah kelemahannya. Kita tidak punya kekuatan untuk mencari kelemahannya, jadi aku benar-benar melupakan hal ini..."

"Jadi kita dapat mengalahkannya jika menyerang tempat itu, kan?"

"Kupikir begitu... itu akan lebih efisien, tapi tempat itu terlalu tinggi..."

Monster itu sekitar 4m, bahkan tombak Taruken harus lebih panjang lagi agar sampai ke lehernya. Itu tidak dapat diserang secara langsung. Mereka dapat terbang dan menyerang jika itu ada di field,[15] namun mereka tidak dapat melakukannya di dungeon. [16]

"Sepertinya kita hanya bisa melakukannya bila diserang balik dan menggunakan sword skill untuk menyerang."

Asuna menganggukkan kepalanya untuk setuju dengan Shiune. Mereka hanya bisa menggunakan sword skill yang bersifat dorongan jika mereka ingin meningkatkan waktu mereka di udara di area yang tak bisa terbang, atau melompat dan melakukan combo sword skill. Tentu saja, setelah sword skill selesai, maka ada sedikit recovery time[17], dan mereka akan jatuh dan tanpa pertahanan. Musuh akan menggunakan waktu itu untuk membalas serangan. Meskipun mereka dapat menggunakan sihir pembangkit pada orang yang mati, itu tidak akan bekerja seterusnya. Dan juga, sihir pembangkit terkesan lama dan dapat memperlambat darah untuk sembuh, dan mungkin menyebabkan semua anggota mati.

Tetapi— Shiune langsung berkata tanpa keraguan, 'ayo kita coba'. Asuna berpikir sambil melihat wajah Shiune. Pada akhirnya, penampilan lembut dari seorang Undine yang kuat mengangguk menandakan setuju dengan rencana Asuna.

"Aku akan memberitahu rencana pertarungan pada mereka. Tolong bertahan dan sembuhkan mereka."

"Serahkan itu padaku!"

Hanya tersisa sedikit potion yang dia punya, Asuna mengambil dua botol potion, dan menyerahkannya pada Shiune, lalu dengan cepat bergerak maju. Dia langsung berlari sejauh 15m, mendekati monster itu, dan ayunan dari rantai itu datang dari sampingnya. Dia meringis dan berusaha untuk menghindarinya, tapi ujung rantai itu menyerempet di bahunya, dan dengan cepat HPnya menurun.

Tetapi, Asuna tidak memikirkan itu. Di saat dia di belakang Yuuki, dia berkata,

"Yuuki!"

Yuuki, orang yang sedang mengayun pedangnya, melihat ke belakang dan berbicara dengan mata yang melebar,

"Asuna, kenapa kamu ada disini?"

"Dengarkan aku. Monster ini memiliki kelemahan. Kita dapat memberikan damage jika kita menargetkan bagian tengah di lehernya."

"Kelemahan?"

Yuuki melihat ke depan kembali, dan memandang leher dari monster itu, tepat di atas. Di saat itu tiba-tiba sebuah palu yang besar jatuh dari atas- keduanya menunduk dengan cepat. Lalu Yuuki melompat untuk menghindari getaran tanah dan berkata,

"Itu terlalu tinggi... Aku tidak dapat mencapainya meskipun aku melompat!"

"Apakah di sekitar sini ada suatu benda yang dapat dijadikan sebagai pijakan?"

Asuna tersenyum dan melihat Tecchi yang tidak jauh darinya, yang sedang menaikkan perisainya seperti papan untuk melindungi Nori dari ayunan rantai. Yuuki yang sepertinya mengerti pemikiran Asuna ikut tersenyum.

Keduanya langsung maju dan telah sampai sekitar 3m di belakang Tecchi. Yuuki menaruh tangan kirinya ke depan mulutnya dan membiarkan suara keras keluar dari tubuhnya.

"TECCHI! MENUNDUKLAH SETELAH SERANGAN PALU YANG BERIKUTNYA!!"

Gnome yang tinggi dan besar itu menyipitkan matanya, kemudian dia mengangguk.

Monster hitam itu mengayunkan rantainya, dan kemudian memiringkan tubuhnya yang besar seperti batu raksasa sebelum menarik nafas yang panjang. Dia berhenti sebentar sambil membuka kedua mulutnya. 'KOHAAA!!' Dia mengeluarkan nafas beracun, dan mengelilingi semua tempat dengan bau sulfur. Semua orang yang berdiri di depannya- HPnya terus berkurang.

Tetapi, ketika serangan nafas itu berakhir, sebuah cahaya biru muncul dan menyembuhkan darah semua orang di waktu yang tepat. Monster itu menaikkan palunya dengan kedua tangannya.

Yuuki telah menunduk dan siap untuk maju. Dengan cepat Asuna yang ada dibelakangnya berkata,

"Itu adalah kesempatan terakhir! Lakukan yang terbaik, Yuuki!"

Yuuki lalu melihat ke belakang dan langsung menjawab,

"Serahkan saja padaku, Nee-chan!!"

Nee... chan?

Saat Asuna terdiam karena mendengar kata yang tidak dapat dia perkirakan, gadis itu dengan cepat melompat.

Monster itu terlihat ingin mengiris melewati tanah dengan menghantam dua palu itu di tanah keras. Suara dari gema menembus ruangan, dan Tecchi dengan cepat menunduk untuk bertahan melawan shockwave[18]

Lalu Yuuki melompat, menggunakan kaki kirinya dengan tumpuan bahu Tecchi, dan kaki kananya melangkah ke helm yang tebal dan berat—

"URRIIIYAAAAA!!"

Dengan meringis, Yuuki sepertinya ingin menggerakkan sayap yang tidak ada saat dia melompat. Dia mendekati dada monster itu dan dengan cepat menarik pedang di tangan kanannya dengan keras.

"HYAAA!!"

Yuuki berteriak lagi dan menyerang di sendi bagian lehernya. Lalu muncul efek biru-keunguan yang meledak, menyebabkan ruangan itu dipenuhi oleh cahaya.

Meskipun di area itu adalah dimana mereka tidak dapat terbang, pemain hanya cukup terus menggunakan sword skill di udara agar dapat bertahan sebelum skill itu berakhir. Sekarang, Yuuki tepat di depan bos monster, menggerakkan tangan kanannya dengan kecepatan seperti cahaya, mengeluarkan 5 serangan dari atas ke bawah, lalu membuat lima serangan lainnya pada garis memotong. Meskipun serangan dari pedang tajam itu mengenai kelemahannya, empat tangan itu terus bertahan dan mengeluarkan suara seperti erangan.

Serangan yang cepat pada monster itu membuat bentuk X. Yuuki memiringkan tubuhnya ke kanan dan menaruh tangan kirinya ke pedang yang dia pegang di tangan kanan.

Suatu cahaya yang menyilaukan keluar dari pedangnya membuat Asuna menyipitkan matanya. Pada saat itu pedang Yuuki terlihat seperti berlian. Sebuah sinar dari pedang itu sepertinya mengeluarkan suara seperti bel dan menyerang titik di tengah bentuk X- pada titik di mana itu tersambung, dan lalu menusuk tepat di tubuh monster itu.

Lalu, kulit hitam dari monster itu mulai membentuk beberapa retakan, dengan pedang masih menusuk di tengah tubuh monster itu. Retakan itu sepertinya tidak dapat menahan tekanan dari dalam dan terus menjadi makin tipis. Retakan itu meluas hingga ke anggota tubuh monster itu.

Sword Art Online Vol 07 -173.jpeg

Dengan suara seperti pohon yang jatuh, tubuh monster itu terbelah menjadi dua dan dua kepala itu terpisah. Mayat monster setinggi 4m- seperti patung kaca yang kemudian meledak menjadi serpihan fragment yang tak terhitung jumlahnya dengan berbagai ukuran. Cahaya putih yang muncul dari dalam tubuhnya mulai menutup dengan cepat, dan kepala Asuna mulai pusing. Efek dari suara yang keras dengan suara frekuensi tinggi bercampur melalui kubah itu- akhirnya menjadi suara panjang seperti suara metal sebelum menghilang.

Api biru yang misterius yang menyala tiba-tiba terguncang dan perlahan berubah menjadi oranye. Ruangan bos itu dipenuhi oleh cahaya, perlahan mengejar jumlah sisa niat jahat yang menjauh.

-*GACHANG*. Sebuah suara keras. Pintu yang ada di dalam yang menghubungkan dengan ruangan berikutnya telah terbuka.


"... Haha... kita... kita berhasil..."

Asuna tertawa dengan suara pelan saat dia terjatuh ke tanah. Saat dia melihat ke atas, dia melihat Yuuki, orang yang terdiam setelah mengalahkan bos.

Imp kecil itu terdiam untuk beberapa detik, lalu dia menyeringai. Tetapi, itu berganti menjadi senyuman yang telah dia perlihatkan sebelumnya— tidak, itu adalah senyuman yang paling indah.

Yuuki menyarungkan pedangnya dan dengan cepat berlari menghampiri Asuna. Dia langsung melompat dengan kedua tangan terbuka lebar ke arah Asuna.

"GUAA!?"

Asuna kaget dan terjatuh bersama Yuuki ke tanah. Mata keduanya saling melihat satu sama lain dalam jarak yang dekat- dan Yuuki berteriak,

"AHAHAHA... KITA BERHASIL, KITA MENANG ASUNA!"

"UN, YEAH! AHHH—...SUNGGUH MELELAHKAN—!!"

Meski Yuuki duduk di atasnya, Asuna masih meluruskan kakinya dan berbaring di tanah. Lima orang lainnya yang ada di sekitarnya juga kelelahan dan terjatuh, memberikan senyum kemenangan dan mulai ceria.

Pada saat itu, Asuna menyadari sebuah suara yang keras dan segera mencari sumber suara itu. Pintu masuk yang muncul di pikirannya telah terbuka, dan sejumlah player berkumpul di sini.

Orang yang masuk tanpa menunggu pintunya terbuka dengan sempurna dan membuat suara keras berasal dari guild yang besar yang menghalangi koridor. Orang-orang ini menyadari ruangan bos telah dipenuhi oleh cahaya oranye, dan menahan gerakan mereka saat mereka memperlambat langkah sebelum berhenti untuk melihat keadaan.

Salamander berambut hitam berdiri di depan party yang berjumlah sekitar 50 orang. Pada saat itu, matanya melihat Asuna. Terlihat rasa di wajah pemimpin itu kagum, mengerti dan menyesal, lalu Asuna melihat mereka dengan hati senang.

"Hehe..."

Asuna, orang yang terbaring di lantai tertawa dan menunjukan senyum kemenangan kepada Yuuki dan kelima orang lainnya.

Anggota dari guild yang besar berkata sesuatu seperti ancaman sebelum pergi, Asuna dan Sleeping Knights membuka pintu yang ada di ruangan itu. Mereka menaiki tangga yang berbentuk spiral dan keluar dari ruangan berbentuk kubah. Mereka telah sampai di lantai 28 di mana tidak ada orang yang mengunjunginya sebelumnya. Mereka segera berlari ke arah toko terdekat- pada saat Yuuki mengaktifkan gerbang transfer di central plaza, boss conquest quest [19] telah selesai.

Ketujuh orang itu segera menggunakan gerbang yang mengeluarkan cahaya biru untuk kembali ke jalan Ronbaru, membentuk lingkaran di ujung plaza, dan saling memegang tangan masing-masing.

"Semuanya telah bekerja keras! Semua telah berakhir!"

Asuna tersenyum saat berkata seperti itu, tapi dihatinya dia merasa kesepian. Dia hanyalah seorang tentara bayaran, sampai kontrak ini berakhir yang berarti mereka akan berpisah.

Tidak. Masih banyak waktu untuk berteman dengan mereka— saat Asuna berpikir seperti itu, tiba-tiba Shiune menyentuh bahunya. Dengan wajah yang manis tapi dengan ekspresi serius yang berbeda dari biasanya.

"Tidak, Asuna-san. Ini belum berakhir."

"... Eh?"

"Masih ada satu hal yang perlu dilakukan."

Saat melihat ekspresinya, Asuna langsung memikirkan peristiwa di «Monument of Swordsman» di Kastil Besi Hitam. Berbicara itu, tujuan anggota Sleeping Knights bukanlah mengalahkan bos, tapi menulis nama anggota di monumen sebagai bukti bahwa guild itu ada. Berbicara tentang itu, ini terlalu awal untuk senang—

Tetapi, apa yang dikatakan Shiune jauh dari apa yang Asuna pikirkan.

"—Ayo adakan pesta untuk merayakannya."

Lutut Asuna menjadi lemas dan hampir jatuh. Dia menaikkan tangan untuk protes, lalu menaruhnya kembali di pinggangnya sambil berkata,

"Un, oke! Ayo adakan yang besar!"

Setelah berkata seperti itu, wajah Jun menunjukkan senyuman,

"Kita masih memiliki banyak uang! Tempat mana yang akan kita pilih? Bolehkah kita menyewa restoran mewah di suatu kota?"

"Ahh..."

Asuna langsung memiliki suatu pemikiran. Lalu dia memegang jarinya dan melihat sekitarnya. Meskipun dia hanya mengenal mereka selama dua hari, dia seharusnya dapat bersama mereka seperti teman lama. Asuna sangat percaya itu dan dia berkata,

"Hmmm... kalau begitu... kalian mau datang ke rumahku? Tapi itu cukup kecil."

Mendengar permintaan Asuna, Yuuki langsung tersenyum.

Tetapi, untuk suatu alasan— senyumannya langsung menghilang seperti salju meleleh. Yuuki menggigit bibirnya dan melihat ke bawah.

"Yu.. Yuuki, ada apa?"

Meskipun dia sangat bingung, Asuna masih bertanya dengan antusias tanpa memalingkan padangannya. Pada saat itu, Shiune mengatakan sesuatu sebelum Yuuki berkata dan dia melanjutkan,

"... Sebenarnya... Aku minta maaf, Asuna-san. Tolong jangan salah paham... kami hanya..."

Tetapi, sebelum Shiune selesai, Yuuki yang menundukkan kepala, tiba-tiba tersentak dan memegang tangan kanan Shiune.

Dia menggigit bibirnya, dan menunjukkan mata lebarnya saat dia diam melihat Shiune. Meskipun Yuuki hendak mengatakan sesuatu saat dia menggerakkan bibrnya dua kali, pada akhirnya dia tidak membiarkan suaranya keluar.

Tetapi, Shinue sepertinya mengerti apa yang ingin Yuuki katakan. Bibirnya menunjukkan senyuman yang sulit dimengerti. Dia menaruh tangan kanannya di kepala Yuuki, lalu berkata kepada Asuna.

"Terima kasih, Asuna. Kami senang menerima untuk datang ke rumahmu."

Asuna hanya dapat merasakan masalah saat dia tidak mengerti apa yang terjadi sekarang. Tetapi, Nori sepertinya ingin menghilangkan atmosfir suram saat dia berkata dengan suara seperti terus terang.

"Jika seperti itu, kita harus menyiapkan wine! Ayo beli satu gentong penuh!"

"Tidak ada sake kentang yang kau sukai, Nori."

Taruken langsung memotong di saat itu juga dan memberikan suatu komentar di belakang.

"Berhenti mengatakan hal yang tidak masuk akal. Sejak kapan aku menyukai sake kentang? Aku sangat menyukai sake Awamori.

"Apa kau tidak seperti orang tua?"

Jun menyebabkan semua orang tertawa. Asuna juga mengikutinya, dan lalu melihat ke arah Yuuki. Meskipun Yuuki menunjukkan senyuman, sebuah perasaan keengganan di pemikirannya seperti tidak hilang sepenuhnya.

Kelompok itu pergi ke toko di tengah Ronbaru, membeli banyak makanan dan sebelum pindah ke lantai 22.

Kebanyakan mereka memebeli di plaza yang ada di area kota, Melihat ke bawah ada hutan yang tertutupi oleh salju saat mereka bergerak ke selatan. Mereka terbang di atas danau membeku, dan dapat melihat hamparan tanah dan sebuah rumah disana.

"Di, di sana?"

Yuuki sangat senang sampai membuat Asuna mengangguk.

"Ya... ah!"

Sebelum Asuna menyelesaikan perkataannya, Yuuki membuka tangannya dan dengan cepat mendarat di halaman depan rumah tersebut, mendarat dengan suara 'BFUU' dan membuat banyak salju terlempar. Sejumlah burung yang sedang bertengger sampai terkejut.

"... Benarkah..."

Asuna dan Shiune saling berpandangan sebelum tersenyum dan membuka sayap mereka dan siap untuk mendarat. Asuna meluncur sebentar sebelum mendarat di halaman, dan dengan cepat ditarik oleh Yuuki yang tidak dapat menunggu.

Asuna ingin memperkenalkan teman - temannya jika mereka ada, tapi tidak ada seorang pun di dalam- Kirito dan Klein, yang membantu untuk menghentikan guild besar, belum kembali dari save point, jadi hal itu tidak dapat dipungkiri. Namun, bahkan Lisbeth dan Silica tidak ada di sekitar. Apa semua orang memperkirakan ini dan segera pergi untuk membiarkan kita ber-7 berpesta?

"Heh. Fuu-n, jadi ini rumah Asuna ?"

Yuuki dengan senang menyentuh meja yang menempel dengan lantai, pemanasnya berwarna merah dan pedang serta item lainnya digantung di dinding. Semuanya berkumpul di meja, mengambil makanan yang mereka beli dari inventory mereka. Lalu, makanan, minuman dan snack tertimbun seperti gunung.

Mereka mengikuti saran Nori dan membeli wine. Mereka mencabut sumbatnya dan menuang cairan berwarna emas ke gelas yang sudah diatur. Dengan itu, persiapan pesta mereka telah lengkap. Jun menarik Yuuki, orang yang sedang melihat Asuna dengan pernuh perhatian saat dia membuka koleksi bumbunya, kembali ke ruang tamu, dan 7 dari mereka segera duduk di depan meja.

Yuuki, orang yang memimpin pesta, tersenyum senang dan berkata,

"Untuk merayakan kemenangan kita saat melawan bos... cheers!"

'Cheers!' Sorak semua orang. Setelah itu, terdengar suara gelas yang saling dibenturkan satu sama lain yang dapat didengar saat semua orang meminum wine itu dan memulai pesta mereka.

Jun dan Tecchi membicarakan tentang bagaimana mereka mengalahkan bos. Nori dan Taruken sangat bersemangat berbicara tentang semua wine di ALO, dan Asuna yang ada di samping mereka, mendengar Yuuki dan Shiune berbicara tentang VRMMO yang pernah dimainkan sebelumnya.

"Dan yang paling buruk dari semua adalah suatu game dinamakan «Insect Site» di Amerika!"

Yuuki menggunakan kedua tangannya untuk memeluk tubuhnya saat wajahnya tegang.

"Ahh... tentang itu."

Shinue juga menganggukan kepalanya tidak karuan.

"Heh... itu game jenis apa?"

"Serangga! Mereka semua adalah serangga! Tidak apa-apa bila semua monsternya serangga, tapi semua player juga adalah serangga. Aku menjadi semut yang berjalan dengan dua kaki, itu bukan apa-apa, tapi Shiune..."

"Tidak, jangan bilang!"

"Dia menjadi ulat dengan tanduk. Dia dapat mengeluarkan benang dari belakangnya..."

Yuuki akhirnya tidak dapat menahan tawanya pada saat itu. Setelah melihat Shiune cemberut, Asuna mulai tertawa juga.

"Itu bagus kita dapat berkelana di dunia bersama dengan semuanya."

"Bagaimana denganmu Asuna? Sepertinya kau bermain VRMMO untuk waktu yang lama."

"Aku? Errm, jangan beritahu siapapun. Sebenarnya aku menghabiskan banyak waktu untuk bermain agar mendapat uang yang cukup untuk membeli rumah ini..."

"Aku mengerti. "

Yuuki mengangkat kepalanya, dan membuka lagi matanya dengan lebar dan melihat ruang tamu.

"Tapi rumah ini sangat nyaman. Aku yakin ada kenangan indah di sini..."

"Ya. Aku merasa aman di sini."

Shiune mengangguk juga.

Tetapi, tiba-tiba bibirnya terbuka.

"Ap, apa ada yang salah padamu, Shiune?"

"Sial, aku lupa hal itu! Berbicara tentang uang... kita bilang kepada Asuna akan menyerahkan semua item yang dijatuhkan bos bila kita memintanya untuk ikut mengalahkan bos. Apa yang harus kita lakukan? Kita membeli banyak barang..."

"Wah, aku lupa hal itu!"

Keduanya kelihatan menyesal di saat mereka menurunkan bahu mereka. Melihat itu, Asuna tersenyum dan memegang tangan mereka sebelum berkata,

"Tidak apa-apa kok. Aku cukup mengambil sedikit saja. Aku pikir—itu lebih baik..."

Setelah berkata seperti itu, dia menutup mulutnya dan menghela nafas.

"Aku tidak ingin mengambil apapun kok. Tetapi, aku punya sesuatu yang ingin kuminta dari kalian."

"Eh...?"

"Sebenarnya... meskipun tugasku sudah selesai... tapi aku masih ingin berbicara dengan Yuuki sedikit lagi. Aku masih punya banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu."

Yuuki, Aku harap kamu bisa mengajariku— bagaimana cara bisa sekuat dirimu. Asuna berpikir di dalam hatinya dan melanjutkannya,

"Dapatkah kamu membiarkanku mengikuti guild Sleeping Knights?"

Asuna tidak pernah mengikuti guild manapun sejak bermain sebagai player di ALO. Guild yang besar pernah mengundangnya beberapa kali sebelumnya- Kirito dan Lisbeth mengatakan akan membuat guild yang kecil, namun belum pernah tercapai.

Alasannya adalah sebagian besar karena Asuna masih diselimuti perasaan «takut» tentang guild. Di masa lalu dia adalah wakil ketua dari guild yang dikatakan sebagai guild terkuat selama satu tahun. Pada saat itu, dia menuntut disiplin yang tinggi dan keras terhadap anggotanya, dan dia selalu bertindak sebagai contoh dan tidak pernah menunjukkan senyumnya di depan mereka. Di masa lalu anggotanya membuatnya takut, dan tidak pernah menjaganya. Asuna takut bila dia mengikuti guild di ALO, maka kejadian itu akan terulang kembali.

Tetapi, Asuna dapat berbaur diantara anggota Sleeping Knights secara langsung, dan dapat memberikan instruksi tanpa keraguan. Itu mungkin karena sikap baik dari Yuuki dan lainnya sehingga membuat Asuna melupakan pemikiran itu di dalam hatinya. Bersama mereka membuat perasaan yang seperti dinding itu menjadi ringan, dan dia dapat menjadi kuat. Asuna mungkin tidak menyadarinya, tapi Kirito, Lisbeth, Klein dan semuanya yang menyadari hal itu dan membantu aksinya. Jadi, ketika Asuna menyatakan bahwa dia ingin mengikuti penyelesaian lantai dari guild lain, mereka sedikit tidak senang, namun mereka memberikan Asuna dorongan.

Mendengar permintaan Asuna, Yuuki tidak langsung menjawab saat dia menggigit bibirnya dengan keras. Matanya menunjukkan kegelisahan lagi.

Shiune dan 4 orang lainnya menjadi diam dan melihat Yuuki dan Asuna. Ditengah suasana diam ini, Yuuki langsung melihat Asuna. Akhirnya, suara yang dikeluarkannya bergetar dan berbeda dari biasanya.

"Sebenarnya... Asuna. Kami... Sleeping Knights mungkin akan... dibubarkan di musim semi ini. Setelah itu, tidak akan seperti sekarang di mana semua orang ada di sini."

"Un, Aku tahu. Jadi tidak masalah sampai musim semi. Aku ingin berteman dengan Yuuki... dan semuanya. Itu tidak masalah sampai sebelum musim semi, kan...?"

Asuna segera membungkuk dan melihat mata Yuuki yang berwarna ungu. Tetapi, Yuuki sebenarnya menjauhi pandangan Asuna untuk pertama kalinya. Kemudian dia menggelengkan kepalanya dan berkata,

"Maaf... Aku minta maaf, Asuna. Aku benar-benar minta... maaf..."

Yuuki melanjutkan berbicara, dan itu terdengar menyakitkan. Asuna tidak ingin dia melanjutkannya.

"Aku mengerti... tidak apa-apa kok. Aku yang seharusnya minta maaf karena membuat ini sulit bagimu, Yuuki."

"Sebenarnya... Asuna-san, kami... kami..."

Di sampingnya, sepertinya Shiune ingin membantu Yuuki untuk melanjutkan, tapi dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia bilang. Asuna melihat sekitarnya dan terlihat ekspresi menyakitkan dari semua orang, dan menepuk tangannya untuk mencoba mengganti suasana saat dia berkata dengan suara bersemangat,

"Maaf karena membuat masalah karena menyinggung hal itu. Ayo pergi ke sana untuk mengganti suasana!"

"Ke sana...?"

Setelah mendengar Asuna berkata seperti itu, Shiune merasa bersalah, dan Yuuki menundukkan kepalanya dengan sedih. Pada saat itu, Asuna menepuk kedua bahu mereka.

"Kamu melupakan sesuatu yang paling penting! «Monument of Swordsman» di Kastil Besi Hitam harusnya telah diperbarui!"

"Ah, benar!"

Jun berteriak saat dia berdiri.

"Ayo, ayo! Ayo pergi untuk berfoto!"

"Bisakah kita pergi?"

Asuna mengundangnya lagi, Yuuki akhirnya tersenyum.

Setelah menarik Yuuki, yang masih terlihat sedih, Asuna melihat central plaza di «Starting City». Sebenarnya, dia sudah lama tidak pergi kesini.

"Ini benar-benar luas... semuanya, semuanya, ke sini!"

Dengan punggung mereka menghadap bangunan besar, mereka dengan cepat bergerak melewati taman, dan bangunan «Kastil Besi Hitam» muncul di depan semua orang. Ini adalah tempat paling terkenal di Aincrad, banyak pemain lama dan baru muncul di sini.

Setelah melewati gerbang yang besar dan tinggi, mereka memasuki bangunan itu, dan sensasi dingin segera masuk ke kulit semua orang. Kaki pemain yang melangkah di lantai besi, membuat gema yang aneh di langit-langit.

Asuna, Yuuki dan lainnya melangkah saat mereka memasuki ruangan utama. Mereka masuk melalui dua pintu, dan di depan pintu itu ada ruangan yang sangat luas dan dikelilingi oleh suatu atmosfir. Di tengah, ada sebuah monumen yang besar dan panjang.

"Apakah itu?"

Jun dan Nori berlari melewati Asuna dan Yuuki saat mereka berlari. Beberapa detik kemudian, mereka sampai di «Monument of Swordsman». Asuna langsung mengangkat kepalanya dan melihat tulisan paling terakhir.

"Ada... ada di sini."

Yuuki langsung berguman, dan memegang tangan Asuna dengan kekuatan yang lebih besar. Pada saat itu Asuna menyadari di tengah monumen besar itu, tertulis dengan kata [Orang yang menyelesaikan lantai 27], nama mereka tertulis dengan bahasa Inggris.

"Ada di sini... nama kita..."

Yuuki langsung berguman. Melihat matanya mengeluarkan air mata. Asuna juga mulai merasa terharu.

"Oi kita akan mengambil foto sekarang!"

Suara Jun dapat di dengar dari belakang. Asuna memegang bahu Yuuki dan berbalik arah.

"Ayo, tersenyumlah, Yuuki."

Yuuki akhirnya tersenyum saat Asuna mengatakan hal itu. 6 orang itu langsung berbaris di depan monument, dan Jun segera mengoperasikan «Kristal pengambil gambar ». Dia menentukan waktunya, dan melepaskannya, lalu kristal itu melayang di udara, menunjukkan waktu yang sudah di atur.

Jun segera bersiap di antara Yuuki dan Tecchi. Saat mereka semua tersenyum, Kristal itu mengeluarkan bunyi 'passh' di saat bersinar.

"Oke!"

Jun mengembalikan kristal itu. Asuna dan Yuuki melihat ke arah belakang di «Monument of Swordsmen» lagi.

"Kita berhasil, Yuuki."

Asuna melepaskan Yuuki dan menepuknya di kepala. Yuuki mengangguk perlahan dan melihat nama 7 orang itu beberapa saat sebelum pergi.

"Un... a, aku berhasil, Nee-chan."

"Fufufu."

Setelah mendengar hal itu, Asuna tidak dapat menahan tawanya.

"Yuuki, kamu mengatakan hal itu lagi."

"Eh...?"

Yuuki hanya dapat melihat wajah Asuna saat dia tidak mengerti kenapa Asuna tertawa.

"Kamu juga memanggilku Nee-chan di ruangan bos. Tentu saja aku senang――!?"

Meskipun begitu, Asuna menarik kata yang terakhir sebelum mengatakannya.

Itu karena Yuuki telah memiliki mata yang lebar saat dia menggunakan tangannya untuk menutup mulutnya. Mata ungu itu menjadi transparan, dan akhirnya membasahi wajah putihnya.

"Yuu.. Yuuki...?"

Asuna tersentak dan mengulurkan tangannya, ingin memegang tangan gadis Imp itu. Tetapi Yuuki mundur sebanyak dua langkah, tiga langkah. Dia membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu dengan suara serak.

"Asuna... ak, aku..."

Yuuki langsung menundukkan kepalanya dan menyeka air matanya sebelum menggerakkan tangan kirinya. Dengan jari yang bergetar, dia menekan menu window di depannya, dan tubuhnya langsung dikelilingi oleh cahaya putih—―

Mulai hari itu, sang swordsman yang tak terkalahkan Yuuki «Zekken» menghilang dari Aincrad.


Bab 8[edit]

Asuna mengalihkan pandangannya ke kertas yang ada di tangannya dan memeriksa bahwa nama yang ditulis tangan itu ternyata sama dengan nama yang tertera secara horizontal pada sebuah tembok bangunan besar.

Kota Yokohama, prefektur Kanagawa. Bangunan itu terletak di sebuah tempat yang dikelilingi perbukitan yang hijau. Area itu tidak terlihat seperti wilayah metropolitan dengan gedung-gedung yang relatif pendek, desain bangunan bersayap dua, dan suasana sunyi dari perbukitan yang mengelilingi. Namun, perjalanan Asuna hanya memakan waku kurang dari 30 menit dari rumahnya di Setagaya dan menelusur Jalur Ekspres Timur.

Bangunan itu masih baru, dimandikan oleh cahaya matahari musim dingin yang rendah. Temboknya berwarna coklat. Tempat ini benar-benar persis seperti tempatku tidur untuk waktu yang lama, pikir Asuna sambil ia menyimpan kembali catatannya ke dalam kantungnya.

"Apakah kamu di sini, Yuuki…?"

Dia berbisik. Dia ingin bertemu dengannya, tapi ia merasa bahwa pada sisi yang lain, akan lebih baik apabila gadis itu tidak tinggal di sini.

Setelah berkeliling sementara, Asuna menarik kerah mantelnya yang menempel erat pada seragamnya, dan bergegas menuju pintu utama.

Sudah 3 hari sejak hilangnya «Zekken[20]» Yuuki dari Aincrad.

Di momen terakhir, dia mengeluarkan air mata di depan Monumen Pendekar Pedang, dan bahkan sampai sekarang, bayangan itu masih tergambar di mata Asuna. Ia tak bisa melupakannya begitu saja. Bagaimanapun caranya, dia ingin bertemu lagi dengannya, untuk berbincang lagi dengannya. Namun, semua pesan yang ia kirim dibalas dengan «penerima tidak log in», dan tak ada tanda pesan - pesan tersebut dibaca.

Anggota Sleeping Knights mungkin mengetahui di mana keberadaan Yuuki, pikir Asuna. Namun, dua hari yang lalu, di Hotel Lombard di mana biasanya mereka berkumpul, hanya Shiune yang ada di sana. Dia menurunkan bulu matanya yang terkulai dan menggelengkan kepalanya.

"Kami juga tak bisa menghubungi Yuuki. Tidak hanya ALO. Nampaknya dia tak pernah FullDive lagi. Dan kami tidak mengetahui apapun tentang Yuuki di dunia nyata. Dan…"

Shiune terdiam sejenak, dan menatap Asuna dengan tatapan khawatir.

"Asuna-san. Aku rasa, Yuuki tidak ingin bertemu denganmu lagi. Ini bukan tentang yang lain, tetapi ini demi dirimu."

Asuna sangat terhenyak sampai ia tak bisa mengatakan apapun. Setelah berberapa detik, ia akhirnya berhasil mengeluarkan sebuah suara,

"Ke… kenapa? Tidak… Kurasa, Yuuki, Shiune, kalian, kalian tak perlu memutuskan hubungan pertemanan denganku. Jika aku telah menyusahkanmu, aku tak akan mencari tahu tentang hal ini lebih jauh. Tetapi… Aku tak bisa menerima jika ini karena aku."

"Tentang apa yang menyusahkan kami…"

Shiune, yang telah menjaga perasaan tenangnya, memberi ekspresi terluka yang langka sambil ia menggeleng kepalanya dengan keras,

"Kami sangat senang bertemu denganmu. Di dalam dunia ini, kami dapat membuat sebuah kenangan yang sangat indah karenamu, Asuna-san. Membantu melawan boss, dan bahkan berkata bahwa kamu ingin bergabung dengan Guild. Kami tak bisa mengekspresikan terima kasih kami bagaimanapun caranya. Tetapi… Sebenarnya, tolong, lupakan saja tentang kita."

Shiune terdiam sejenak saat ini, dan menggerakkan tangan kirinya untuk menggunakan jendela menu. Sebuah jendela transaksi muncul dihadapan Asuna.

"Ini terlalu dini dari yang aku perkirakan, tapi aku ingin membubarkan Sleeping Knights di sini. Hadiah untukmu ada semuanya di sini, Asuna-san, drop-item dari boss dan perlengkapan kami"

"Tidak… tidak perlu. Aku tak bisa menerima ini."

Asuna menghilangkan jendela tersebut seperti ia sedang menggetarkannya, dan lalu berjalan menuju Shiune.

"Apakah kita benar-benar akan mengucapkan selamat tinggal disini? Aku… Aku senang, bersama dengan Yuuki, Shiune, semuanya. Kukira kita masih bisa menjadi teman walaupun jika Guild dibubarkan. Tapi, apakah hanya aku di sini yang berpikir seperti ini…?"

Di masa lalu, Asuna tidak akan pernah berkata seperti itu. Namun, setelah melewati banyak hari - hari bersama Yuuki dan yang lainnya, Asuna merasa bahwa dia telah berubah sedikit. Karena hal inilah yang membuat Asuna tidak ingin mengucapkan selamat tinggal ke semuanya.

Namun, Shiune menurunkan kepalanya, dan hanya menggelengnya.

"Maaf… maaf, tapi ini untuk yang terbaik. Lebih baik kita berpisah disini… maaf, Asuna-san."

Lalu, Shiune menekan tombol di jendelanya seperti ia ingin lari menjauh, dan logout.

Tidak hanya Yuuki. Shiune, Jun, Nori dan lainya tidak pernah log in lagi ke dalam ALO setelah itu.

Sepertinya Asuna sendiri mungkin keliru dengan berpikir bahwa interaksi yang hanya beberapa hari mampu menjadikan mereka teman. Namun, Sleeping Knights meninggalkan kesan yang dalam dan tak terlupakan di dalam dirinya. Dia sama sekali tidak dapat terpikir untuk melupakan semuanya. Semester ke-3 telah dimulai, tetapi walaupun ia dapat bertemu dengan Kazuto, Rika, dan Keiko di dunia nyata, hati Asuna terasa sangat berat. Saat berpikir tentang itu, di dalam mata dan telinga Asuna, senyuman Yuuki akan terbayang di depannya. Nee-chan, begitulah Yuuki memanggil Asuna. Menyadari hal ini, ia menangis. Bagaimanapun caranya, Asuna ingin mengetahui alasan itu.

Dan kemarin, saat istirahat makan siang, Asuna menerima pesan dari Kazuto yang berisi, [Aku menunggumu di atap].

Di atas atap semen polos yang di mana angin dingin berhembus, Kazuto bersandar pada sebuah pipa tebal yang digunakan untuk sirkulasi udara, menunggu Asuna.

Sudah lebih dari setahun sejak mereka keluar dari SAO, tapi Kazuto di dunia nyata nampaknya tak bertambah berat sedikitpun. Adik perempuannya, Suguha, akan mengatakan kepadanya untuk makan lebih banyak, jadi ia tak perlu mencemaskan tentang nutrisinya. Mungkin kalori yang ia dapatkan sudah terbakar habis dengan kegiatan jogging dan gym, atau mungkin pertempuran yang intens di dunia virtual akan memakan habis kalori dari dunia nyata.

Kancing blazernya terbuka, tangannya diletakan di kantungnya, dan jambangnya yang agak panjang tertiup oleh angin. Pakaian dan tinggi badannya berubah, tetapi Kazuto masih terlihat sama, seperti sewaktu ia masih di Aincrad yang lama. Asuna terlihat seperti ia tertarik ketika ia berjalan menuju Kazuto, dan menyandarkan dahinya ke pundak Kazuto yang sedang menatap ke atas.

Asuna ingin mengungkapkan semua perasaan di hatinya dalam sekali jalan, tetapi ia tidak bisa mengungkapkan dalam kata - kata. Asuna menutup matanya, menahan perasaan sedihnya yang berkumpul di tenggorokannya, dan merasakan kelembutan tangan Kazuto yang menepuk pundaknya. Disaat yang sama, sebuah suara terdengar di telinga Asuna,

"Apa kamu sangat ingin bertemu dengan «Zekken» itu bagaimanapun caranya?"

Kata - kata ini mungkin mewakili semua harapan Asuna. Ya, hanya sekali. Itu karena Asuna percaya bahwa Yuuki berharap untuk hal ini juga.

"Mereka mengatakan kepadamu lebih baik untuk tidak bertemu lagi kan? Walaupun seperti ini?"

Asuna menceritakan semuanya kepada Kazuto, tentang pertempuran melawan bos level 27, perpisahan yang tak terduga setelahnya, dan ucapan Shiune saat mereka terakhir kali bertemu. Pertanyaan ini mungkin ditanyakan setelah ia membuat sebuah kesimpulan dari kata-kata itu. Saat ini, Asuna mengangguk lagi dengan keras.

"Un, walau begitu, Aku ingin. Aku ingin bertemu kembali dengannya untuk berbincang bersama lagi. Aku harus."

"Begitukah?"

Dengan jawaban sederhana, Kazuto menaruh tangannya di pundak Asuna dan mendorongnya sedikit, menarik keluar selembar kertas dari kantung blazernya.

"Mungkin kamu bisa bertemu dengannya jika kamu pergi kesini."

"Eh…?"

"Ini hanya kemungkinan… tapi, kurasa «Zekken» ada disana."

"Bagaimana… Bagaimana kamu bisa mengetahui ini, Kirito-kun…?"

Asuna bertanya saat ia menerima secarik kertas itu yang telah dilipat dua kali. Kazuto memandang langit, dan berbisik,

"Itu karena di situlah satu - satunya tempat tes uji coba «MediCuboid».”

"Medi… Cuboid?"

Saat ia mengulangi istilah yang tak dapat dimengerti dan tak pernah ia dengar sebelumnya, Asuna membuka kertas itu.

Tertulis dengan huruf kecil yang merupakan nama [Rumah Sakit Umum Yokohama Utara] dan alamatnya.


Asuna pergi melalui dua lapis pintu otomatis yang dilap dengan bersih, berjalan melalui pintu masuk lobi yang terang, dan aroma dari sebuah bau disinfektan yang ia ingat melayang di sekitar.

Di sana terdapat ibu - ibu yang membawa anaknya dan orang - orang tua yang duduk di kursi roda. Asuna pergi melewati ruangan yang sepi dan menuju meja resepsionis.

Asuna mengisi nama dan alamatnya di formulir yang terletak pada biliknya, dan berhenti pada saat ia akan mengisi nama dari siapa yang akan ia jenguk. Asuna hanya mengetahui nama Yuuki, dan ia tak tahu apakah itu adalah nama aslinya atau tidak. Dari apa yang ia dengar dari Kazuto, walaupun jika Yuuki berada di sini, sulit untuk mengatakan jika ia bisa memeriksa atau bahkan bertemu dengannya. Tetapi Asuna tak bisa hanya menyerah di sini setelah datang sepanjang jalan kesini. Asuna memutuskan untuk mengambil formulirnya dan menyerahkanya melalui biliknya.

Di sisi lain dari counter itu, suster yang memakai seragam putih itu melihat Asuna mendekat, dan mengangkat mukanya.

"Apakah anda akan menjenguk seseorang?"

Asuna hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menghadapi senyuman dan pertanyaan ini. Asuna menyerahkan formulir permintaan itu yang setengah kosong dan mengatakan

"Errm…aku ingin bertemu dengannya, tapi aku tidak mengetahui namanya ."

"Ya?"

Ketika suster itu menaikkan alisnya dalam keadaan kaget, Asuna dengan putus asa memilih kata-kata.

"Kupikir itu seorang gadis berumur sekitar 15 tahun. Namanya mungkin «Yuuki», kalau aku tidak salah."

"Banyak pasien di sini. Ini sulit untuk saya mengetahuinya jika anda hanya memberitahu itu."

"Errm… Aku mencari orang yang sedang menguji coba «MediCuboid»."

"Untuk kerahasian pasien…"

Pada saat ini, seorang suster senior mengangkat wajahnya dan melihat ke Asuna. Lalu, ia melihat pada suster yang sedang berbicara kepada Asuna, nampaknya membisikan sesuatu.

Suster itu berkedip tentang hal yang dibisikkan itu sebelum menatap Asuna lagi. Ia menggunakan suara yang berbeda, suara yang halus.

"Permisi, boleh saya tahu siapa nama anda?"

"Ah, Aku Yuuki, Asuna."

Asuna menjawab dan memberikan formulirnya. Suster itu menerimanya, melihat padanya, dan lalu memberikannya kepada rekan kerjanya di dalam.

"Boleh saya cek identitas anda?"

"Ok, baiklah."

Asuna langsung mengambil dompetnya keluar dari dalam blazernya dan menarik kartu identitasnya untuk diperlihatkan kepada suster tersebut. Suster itu dengan hati-hati membandingkan wajah pada foto dengan wajah Asuna, menganggukkan kepalanya, memberitahu Asuna untuk menunggu sebentar, dan mengambil telepon di sampingnya.

Ia menggunakan jaringan internal untuk menghubungi seseorang, membisikan 2,3 kata, dan kembali ke Asuna.

"Mohon untuk menemui Dokter Kurahashi di departemen medis kedua. Naik lift yang di sisi depan untuk ke lantai empat, belok kanan, dan tunjukkan ini ke meja resepsionis."

Asuna menerima kartu pelajarnya dan sebuah kartu perak dari nampan yang diberikan, dan menunduk.

Setelah menunggu sekitar 10 menit di bangku lobi tamu lantai 4, Asuna memperhatikan seseorang dengan jubah putih datang menghampiri dengan cepat.

"Yaa, permisi, maafkan saya, maaf telah membuat kamu menunggu."

Seorang dokter laki - laki yang pendek dan sedikit gemuk meminta maaf dengan cara yang aneh dan menganggukkan kepalanya. Ia mungkin masih berumur 30-an, dahi mengkilapnya disisir dengan cara 3-7, dan dia memakai sebuah kacamata tebal.

Asuna segera berdiri dan membungkuk hormat,

"Tidak, tidak apa - apa. Aku datang secara tiba - tiba. Jadi, tidak apa - apa untukku menunggu."

"Tidak tidak, aku tidak dalam tugas di siang hari, jadi ini waktu yang tepat. Lalu, Yuuki Asuna-san, kan?"

Sambil tersenyum ketika ia mempersempit matanya yang sedikit terkulai, dokter itu memiringkan kepalanya sedikit.

"Ya, saya Yuuki."

"Namaku Kurahashi, dokter utama yang merawat Konno-san. Aku tak menduga anda datang kesini untuk menjenguk dia."

"Konno… san?"

"Ehh, nama lengkapnya Konno Yuuki, ditulis sebagai 'Kapas', dan Musim. Aku memanggilnya Yuuki-kun… ia telah menceritakan semuanya tentang anda, Asuna-san. Ah, maaf, kesalahanku. Aku tak sengaja mengatakan hal ini karena Yuuki-kun."

"Tak masalah, panggil saja aku Asuna."

Asuna tersenyum sambil ia menjawab, dan Dokter Kurahashi membalas senyumnya dengan malu - malu sebelum menunjuk tangan kanannya pada lift.

"Kita tak bisa berbicara dengan lancar disini. Mari kita ke ruangan tamu di lantai atas."

Asuna dibawa menuju sebuah ruangan lebar di dalam ruang tamu dan duduk berlawanan dengan dokter. Melalui jendela kaca besar, mereka bisa melihat halaman rumah sakit yang luas dan hijau. Di sana terdapat sedikit sekali orang, dan hanya suara gemerisik dari pengatur udara yang bisa didengar.

Asuna berfikir keraguan apa yang harus dia tanyakan. Namun, Dokter Kurahashi memecah kesunyian lebih dahulu.

"Asuna-san, anda bertemu Yuuki-kun di dalam dunia Virtual Reality, bukan? Apakah dia memberitahumu tentang rumah sakit ini?"

"Ah, tidak… bukan dia…"

"Oh, kalau begitu menakjubkan kamu dapat menemukan tempat ini. Yah, Yuuki-kun pernah mengatakan bahwa akan ada seorang perempuan bernama Yuuki Asuna yang mungkin datang, dan ingin menyambutmu di area resepsionis. Aku sangat terkejut dan menanyakan dia apakah dia menceritakan tentang rumah sakit ini kepadamu, namun ia mengatakan tidak. Jadi aku mengatakan bahwa dia tidak mungkin dapat mengetahui tentang tempat macam ini. Namun, aku benar-benar mendapat sebuah panggilan dari resepsionis, dan aku sangat terkejut."

"Itu… Yuuki-san, apakah ia menyebut diriku ke dokter…?"

Asuna bertanya, dan dokter itu menganggukkan kepalanya dengan keras 2, 3 kali.

"Tentu saja. Selama akhir-akhir ini, dia akan selalu memberitahuku tentang Asuna-san ketika kita berbincang bersama. Namun, Yuuki-kun akan mulai menangis setelah ia bercerita tentangmu. Dia biasanya bukan seorang gadis yang akan memperlihatkan kelemahan dirinya sendiri."

"Eh…ta, tapi kenapa…"

"Dia bilang ia ingin berteman denganmu lebih baik, tetapi tak bisa melakukannya. Dia ingin bertemu denganmu, tetapi mungkin tidak bisa melakukannya. Bukannya… Aku tak bisa mengerti perasaan itu…"

Di saat ini, Dokter Kurahashi mengeluarkan ekspresi sedih yang langka. Asuna mengambil nafas yang dalam dan memutuskan untuk bertanya,

"Yuuki-san itu, dan teman - temannya semua mengatakan hal ini ketika mereka mengucapkan sampai jumpa di dunia VR. Mengapa? Mengapa kita «tak bisa bertemu lagi»?"

Ketakutan yang dimulai di saat Asuna melihat nama dari rumah sakit terus meluas, dan mencoba sekuat mungkin untuk menghilangkan kegelisahannya ini dengan menyandarkan tubuhnya ke depan. Dokter Kurahashi terhenyak tak bisa mengeluarkan kata - kata untuk berberapa saat, mengalihkan pandangannya menuju tangannya yang terlipat bersama diatas meja, dan lalu dengan tenang menjawab,

"Kalau begitu, mari saya mulai menjelaskan hal - hal dari «Medicuboid». Asuna-san, kamu seorang pengguna AmuSphere juga, benar?"

"Eh… ehhh, yaa."

Dokter muda itu menganggukkan kepalanya, mengangkat wajahnya, dan mengatakan sesuatu yang benar - benar tak diduga,

"Ini mungkin aneh untuk mengatakan kata - kata seperti ini kepadamu, namun aku merasa bahwa adalah suatu penyesalan ketika teknologi FullDive pertamanya digunakan untuk media hiburan."

"Eh…?"

"Penelitian dari teknologi itu seharusnya dibiayai oleh pemerintah untuk pengobatan. Karena hal itu, keadaan sekarang bisa dilanjutkan untuk 1, tidak, 2 tahun."

Asuna merasa aneh tentang perubahan arah perbincangan yang tak terduga, dan dokter itu menaikkan satu jari.

"Mohon berpikir tentang ini. Suasana yang dibawa oleh AmuSphere akan menjadi fungsi yang efektif di dalam bidang medis. Sebagai contoh, mesin itu bisa menjadi suatu berkah untuk orang yang buta ataupun tuli. Orang-orang yang mengalami disfungsi otak sayangnya dikecualikan, tapi walaupun jika bola mata ataupun syaraf penglihatan tidak normal, gambaran itu bisa dimasukan secara langsung ke otak jika AmuSphere digunakan. Situasinya sama dengan pendengaran. Bahkan mereka yang belum mengetahui tentang cahaya ataupun suara ketika mereka tumbuh bisa menggunakan mesin itu untuk berinteraksi dengan pemandangan yang nyata."

Asuna hanya bisa menganggukkan kepalanya saat Dokter Kurahashi mengatakan hal itu dengan antusias. Berbagai penggunaan AmuSphere di bidang itu bukanlah hal baru. Suatu hari, headgear itu bisa menjadi lebih kecil, dan dengan spesialis kombinasi lensa, mereka yang buta dapat hidup seperti orang yang melihat dengan normal.

"Juga, apa yang berguna bukanlah hanya fakta bahwa itu bisa mengirimkan sinyal, tetapi AmuSphere itu mempunyai fungsi untuk membatalkan rangsangan."

Dokter itu menggunakan jarinya untuk menekan lehernya.

"Sinyal elektromagnetik yang dikirim ke sini akan mematikan otot sementara. Dalam arti lain, hal itu akan memiliki efek yang mirip seperti kelumpuhan total. Sebagai contoh, anestetik. Bahkan jika digunakan, ada risiko yang kecil tetapi sangat jarang. Jika kita menggunakan AmuSphere dalam operasi, kita bisa menghindari penggunaan anestetik. Itulah yang aku pikirkan."

Asuna sudah tertarik dengan apa yang dikatakan dokter. Dia mengaggukkan kepalanya, tapi tiba - tiba ia menyadari sesuatu. Meskipun itu rasanya seperti pamer di depan seorang ahli, dia masih membisikkan keraguannya.

"…Tapi, itu tidak bisa bekerja, benar? Kemampuan interferensi AmuSphere hanya bisa membatasi indra ke minimum untuk memperkecil rasa sakit ketika pisau bedah dimasukkan ke dalam tubuh. Kupikir AmuSphere, ataupun mesin generasi pertama—Nerve Gear tak bisa melakukan itu… bahkan jika medulla dihalangi, syaraf-syaraf di dalam masih tetap aktif, jadi syaraf spinal[21] masih aktif, benar…?"

"Ya… itu benar."

Dokter Kurahashi awalnya membesarkan matanya karena kaget, dan langsung mengangguk berberapa kali, sehingga sepertinya Asuna telah tepat mengenai sasaran.

"Ini sama seperti yang kamu bilang. Impuls sinyal elektromagnetik AmuSphere lebih lemah, CPU-nya hemat tenaga, dimana akan menyebabkan beberapa masalah dengan kecepatan proses karena itu tidak cukup kuat. Ini mungkin untuk dive asli ke dalam dunia VR, tetapi spesifikasinya akan menjadi tidak efisien ketika sampai ke pencocokan lensa di dunia nyata, ke dalam apa yang disebut «Alternate Reality[22]». Dengan demikian, alat FullDive medis pertama di dunia yang dikembangkan pada tingkat negara dengan nama — «MediCuboid»."

"MediCu… boid."

Istilah ini kemungkinan besar menggabungkan istilah Medical dan Cuboid[23]. Asuna mencerna istilah ini di mulutnya, dan dokter itu tersenyum sebelum menjelaskan,

"Itu hanya nama populernya. Hal yang terpenting itu adalah memperkuat tenaga output dari AmuSphere, meningkatkan ketebalan dari partikel-partikel beberapa kali lipat, meningkatkan proses output dan terintegrasi dengan kasur, dari kepala menuju susunan syaraf spinal. Alat itu terlihat seperti kotak putih… Jika ini bisa digunakan, dengan banyaknya peralatan di rumah sakit, maka akan ada perubahan besar dalam pengobatan. Kebanyakan operasi tidak akan memerlukan anestetik lagi, dan adalah mungkin untuk berbicara dengan pasien didalam keadaan «Locked-in[24] state»."

"Locked-in…?"

"Ini adalah sebuah kondisi yang diketahui sebagai Locked-in Syndrome, kondisi dimana walaupun proses pemikiran otak tetap normal, badannya lumpuh pada kontrolnya terhadap bagian-bagian tubuh, dan pasien tidak dapat mengekspresikan pikirannya. Jika kita menggunakan MediCuboid, kita bisa tesambung secara langsung ke dalam otak, dan walaupun jika badannya tidak bergerak, mungkin untuk kembali ke lingkungan masyarakat melalui dunia VR."

"Aku mengerti… dalam arti lain, dibandingkan dengan AmuSphere yang hanya digunakan untuk bermain game VR, ini benar-benar sebuah mesin mimpi dalam artian sebenarnya, bukan?"

Asuna secara tidak sengaja mengangguk. Namun, Dokter Kurahashi, yang terlihat seperti ia sedang menceritakan mimpi, segera menutup bibirnya, seperti telah ditarik kembali ke realita. Ekspresinya menggelap sedikit, dan ia lalu melepas kacamatanya, menutup matanya, dan menghembus nafas panjang.

Lalu, ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum dalam cara yang agak sedih.

"Ehh, itu memang adalah sebuah mesin mimpi. Namun… sebuah mesin juga mempunyai batasan - batasannya sendiri. Keadaan yang paling diantisipasi dalam penggunaan MediCuboid… adalah «Terminal Care[25]»."

"Terminal care…"

Asuna mengulang istilah inggris yang belum pernah ia dengar itu seperti sebuah burung beo, dan dokter itu menjelaskan dengan diam, "Dalam kanji… kata itu ditulis sebagai 'Perawatan Sekarat[26]'."

Kata - kata tertuang pada Asuna seperti air dingin. Dia melebarkan matanya dan tak bisa berkata apa-apa. Dokter Kurahashi memakai kacamatanya dan menunjukkan sebuah pandangan nyaman, mengatakan,

"Kamu mungkin merasa bahwa akan lebih baik berhenti di sini jika kita mempertimbangkan hal - hal kemudian. Tak ada orang yang akan menyalahkanmu walaupun jika kamu memilih keputusan itu. Walau itu Yuuki-kun atau teman - temannya, mereka semua berpikir tentangmu."

Namun, Asuna tidak pernah ragu. Tak peduli kejujuran apapun yang akan diceritakan kepadanya, dia ingin menghadapinya secara tatap muka, dan ia percaya bahwa ia harus melakukan itu. Asuna mengangkat wajahnya dan berbicara dengan jelas,

"Tidak… mohon lanjutkan. Tolong. Aku datang kesini untuk ini."

"Begitukah?"

Dokter Kurahashi tersenyum lagi, dan menganggukkan kepalanya,

"Yuuki-kun pernah mengatakan jika Asuna-san mau, aku akan menjelaskan semua kepadanya. Ruang rawat Yuuki-kun berada di tingkat tertinggi ruangan pusat. Itu akan menjadi cukup jauh, jadi mari kita berbincang sambil menuju ke sana."

Dokter itu berjalan keluar dari ruang tamu menuju lift. Asuna mengikutinya dari belakang, dan pikirannya berlanjut memikirkan istilah yang sama.

Terminal. Arti dari istilah ini tidak bisa lebih jelas lagi. Namun, dia terus menolak pemikirannya sendiri. Hal itu tidak bisa seperti itu. Meskipun jika dia harus menyatakan hal itu, Dokter Kurahashi tak perlu menggunakan istilah langsung seperti itu.

Fakta polos satu - satunya adalah kebenaran yang akan ditunjukan nantinya. Asuna harus menerima itu secara langsung. Itu karena Yuuki percaya bahwa Asuna bisa melakukan ini dan memperbolehkan Asuna untuk melihat realitanya.

Di sana terdapat tiga lift berbaris di lobi gedung utama, dan yang di paling kiri terdapat tanda «Staff Only[27]» pada pintunya. Dokter itu menggunakan kartu yang tergantung di lehernya dan menggesekkannya ke panel di sampingnya, dan sebuah suara *beep* yang tenang terdengar bersama dengan pintu kanan yang bergeser.

Keduanya memasuki kotak putih, dan lift mulai naik dengan suara dan gerakan yang tak bisa dideteksi.

"Pernahkah kamu mendengar istilah «Window Period[28]»?"

Dokter Kurahashi tiba - tiba bertanya, dan Asuna mulai mencari di dalam ingatanya.

"Aku ingat… kelas kesehatan pernah mengajarkan itu sebelumnya. Ini ada hubungannya dengan infeksi… virus, kan?"

"Ya. Sebagai contoh, jika seseorang diduga terinfeksi oleh suatu virus, maka akan dilakukan tes darah. Metode - metode tes tersebut yaitu sebagai berikut. «Antigen test» merupakan tes antibodi terhadap virus pada darah, dan yang lebih sensitif «NAT check»[29] yang menggunakan DNA[30] dan RNA[31] dari virus sebagai bagian dari investigasi. Namun, bahkan ketika menggunakan pengecekan NAT, Ini tak mungkin untuk mendeteksi virus setelah infeksi selama 10 hari atau lebih. Periode ini disebut «Window Period»."

Dokter itu berhenti sekarang. Dan, ketika perasaan deakselerasi sedikit terasa, pintu lift terbuka bersamaan dengan bunyi bel.

Tingkat teratas, tingkat 12 terlihat terlarang untuk orang asing dikarenakan terdapat sebuah gerbang besar di depan mereka ketika keluar dari lift. Dokter itu kembali meletakkan kartunya di sensor sebelah pintu, dan sebuah suara elektronik yang lembut berbunyi. Jeruji besi semua terbuka, dengan dokter Kurahashi melambaikan tangannya untuk memanggil, Asuna bergegas menuju melewati pintu.

Tak seperti tingkat - tingkat dibawahnya, tingkat ini kelihatanya tak memiliki jendela. Panel putih halus membentang kedepan, dan terdapat pertigaan di depannya, ke kiri dan ke kanan.

Dokter Kurahashi, yang berjalan di depan Asuna lagi, mengarah ke kiri. Jalan anorganik yang penuh dengan kehangatan dan cahaya putih terus memanjang ke depan. Mereka melewati berberapa suster, dan keramaian dari luar tak bisa didengar sama sekali.

"—Karena «Window Period» itu, sesuatu pasti telah terjadi."

Tanpa sadar, dokter itu berkata lagi dengan suara yang tenang,

"Itu merupakan kontaminasi dari darah yang didonasikan. Tentu saja, kemungkinannya adalah kecil. Kemungkinanya hanya 1 per 100,000 untuk kontaminasi melalui transfusi darah. Namun, tidak mungkin di ilmu pengetahuan modern untuk menurunkan nilai tersebut menjadi nol."

Dia menghembuskan nafas.. Asuna bahkan merasakan sebuah kemarahan yang samar dan keputusasaan dari dirinya.

"Yuuki-kun lahir pada Mei 2011. Akibat distosia[32], Sebuah operasi sesar[33] dilakukan sesuai dengan kebutuhan tersebut. Pada saat itu… kami tak bisa mengkonfirmasi itu, namun sebuah kesalahan menyebabkan pendarahan dalam jumlah yang banyak, jadi transfusi darah darurat dilaksanakan. Darah yang digunakan, sayangnya, terkontaminasi."

"…!"

Asuna tak bisa mengatakan sepatah katapun. Dokter Kurahashi memandang Asuna sekilas, dan segera melihat ke bawah sebelum melanjutkan,

"Sampai sekarang, kita tidak mengerti bagaimana hal itu terjadi. Namun, ada kemungkinan bahwa sepertinya Yuuki terinfeksi sejak dia lahir. Ayahnya terinfeksi dalam bulan itu. Infeksi virus itu telah dikonfirmasi selama September, dengan pengecekan darah lanjutan yang dilakukan setelah transfusi darah. Pada saat itu… satu keluarga itu sudah…"

Dokter itu menghela nafas dengan berat dan berhenti.

Di sana ada sebuah pintu geser di sisi kanan jalur, dan sebuah panel baja terletak di sebelah nya. Pada panel itu tertulis kata - kata [Ruangan Desain Mesin Model Pertama] tertulis padanya.

Dokter itu mengambil kartunya dan menggeseknya di panel. Suara elektronik berbunyi, dan dengan sekejap, pintu terbuka.

Merasa bahwa hatinya sedang terikat dengan ketat dan menyakitkan, Asuna mengikuti Dokter Kurahashi melalui pintu. Di dalam, ada sebuah ruangan yang panjang dan sempit secara anehnya.

Tembok yang menghadap mereka mempunyai pintu yang mirip dengan salah satu yang mereka baru saja lalui, dan ada panel kontrol di bagian kanan yang memiliki banyak alat. Tembok di bagian kiri mempunyai jendela kaca yang besar, tapi kacanya diwarnai hitam, jadi itu mustahil untuk melihat ke dalam.

"Di depan kita adalah sebuah ruangan steril dengan pengontrol udara. Mohon memaklumi bahwa kita tidak boleh masuk."

Sesuai apa yang ia katakan, Dokter Kurahashi berjalan ke arah jendela hitam dan mengoperasikan panel di bawahnya. Dengan sedikit gemuruh di sekitar, warna jendela berubah menjadi lebih terang, dan menjadi transparan, memperlihatkan isinya.

Itu sebuah ruangan kecil. Tidak, itu sebenarnya cukup besar. Sepintas, itu terlihat seperti ruangan yang dipenuhi oleh berbagai macam mesin - mesin. Ada yang tinggi dan pendek, berbentuk persegi sederhana bercampur dengan bentuk yang rumit. Karena itu, memerlukan banyak waktu untuk Asuna menyadari bahwa ada kasur di tengah ruangan.

Asuna memaksa wajahnya melihat ke arah kaca dan melihat kasur itu.

Ada sebuah tubuh kecil yang terlihat setengah tertidur di kasur. Selimut putih menutupinya sampai dadanya, dan dia dapat melihat bahu kurus telanjang yang terlihat sangat menyedihkan. Pada tenggorokan dan bahunya terdapat berbagai jenis pipa terhubung padanya, yang tersambung ke mesin terdekat.

Itu mustahil untuk melihat wajah pemilik kasur itu secara langsung karena ditutupi benda berbentuk kubus warna putih, terintegrasi ke kasur, yang hampir menelan seluruh kepalanya. Apa yang dapat dilihatnya adalah bibir kecil yang hampir transparan dan dagu yang tajam. Sebuah layar di pasang di samping benda kubus ke arah mereka, dan indikator - indikator dalam segala macam warna berdenyut di dalamnya. Di atasnya, terdapat kata [MediCuboid] yang terlihat, tergambar sebagai sebuah logo polos.

"…Yuuki…?"

Asuna menggunakan suaranya yang bergetar untuk bergumam. Dia akhirnya di sana, dengan Yuuki di dalam dunia nyata. Tetapi, beberapa meter terakhir ternyata terhalang oleh kaca tebal yang tidak mungkin dapat dilalui apapun caranya.

Dengan punggungnya menghadap dokter, Asuna berbicara,

"Dokter… sebenarnya apa penyakit Yuuki…?"

Jawabannya adalah singkat tapi juga berat,

"«Acquired Immunity Deficiency Syndrome»… AIDS[34]."


Bab 9[edit]

Saat Asuna melihat rumah sakit besar ini, dia berfirasat jika Yuuki terjangkit suatu penyakit yang serius. Inilah sebabnya, ketika ia mendengar nama penyakit dari dokter dengan jelas, dia merasa masih sulit untuk bernafas. Melalui kaca, Asuna melihat Yuuki yang sedang berbaring, dan merasa kaku.

Dia berpikir apakah itu benar. Yuuki, orang yang lebih kuat dari siapa saja, lebih bersemangat dari siapa saja saat melakukan apa pun, ternyata terbaring di tengah beberapa mesin. Apakah itu karena kehabisan alasan atau emosi, Asuna terang-terangan menolak fakta ini.

―—Aku seperti orang bodoh. Tidak mengetahui apapun dan tidak mencoba untuk mengerti dia. Saat gadis itu berteriak di hatinya, air mata Yuuki bercucuran sebelum dia menghilang.

"Tetapi AIDS tidak mengerikan seperti yang dipikirkan masyarakat sekarang."

Saat melihat Asuna, yang terpaku ditempatnya, Dokter Kurahashi berbicara dengan suara yang mantap.

“Walaupun mereka terinfeksi dengan Human Immunodeficiency Virus, jika mereka dapat diobati lebih dini, akan memungkinkan untuk bertahan kira-kira 10, 20 tahun.

Kii, sedikit suara terdengar. Dokter konsultasi itu duduk di kursi di depan mesin itu. Dia lalu berkata,

“Tetapi, tidak dapat dibantahkan bahwa kesempatan untuk keturunan nya dapat terselamatkan setelah 5 tahun terinfeksi HIV akan lebih rendah dari orang dewasa.Ibu Yuuki pernah ingin untuk bunuh diri bersama seluruh keluarganya setelah mengetahui bahwa seluruh keluarganya terinfeksi. Tetapi, ibunya adalah orang Kristen sejak muda, dan melalui agama itu dan bantuan dari ayahnya, dia bertahan melalui beberapa krisis, dan memilih untuk terus melawan penyakit tersebut.”

“Teruslah melawan!”

“Ya. Sejak Yuuki lahir, dia dipaksa untuk melawan virus itu untuk bertahan. Saat ia sudah melalui masa yang paling kritis, dia yang bertubuh mungil itu bisa tumbuh dengan aman dan bahkan bisa masuk sekolah dasar. Untuk anak-anak, sangatlah sulit untuk meminum obat yang banyak dengan teratur. Disamping itu, Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors [35], adalah obat yang mempunyai efek samping yang kuat. Tetapi, Yuuki tetap percaya bahwa suata saat ia dapat disembuhkan dan ia terus berkerja keras. Dia adalah orang yang bekerja keras, dan tampkanya ia memiliki nilai yang paling baik sepanjang tahun di sekolah. Dia mempunyai banyak teman, dan aku sempat sekali melihat beberapa fotonya waktu itu. Dia terus mempunyai senyum yang mempesona...”

Asuna mendengar dokter itu berhenti sejenak dan bernafas untuk sementara.

“—Sekolahnya tidak tahu bahwa Yuuki terinfeksi HIV. Sebenarnya, ini yang diharapkan. Pengecekan kesehatan yang diselenggarakan sekolah dan perusahaan tidak seharusnya mencakup pemeriksaan HIV dalam darah. Tetapi, saat dia beranjak ke kelas 4, untuk beberapa alasan, beberapa orang tua murid yang satu kelas mengetahui bahwa Yuuki terinfeksi HIV. Rumor itu mulai tersebar... Hukum menetapkan bahwa mereka tidak boleh mendiskriminasi orang hanya karena ia terinfeksi oleh HIV. Tetapi, hal yang menyedihkan adalah tidak semua orang di masyarakat sebaik itu.. Awalnya, ada berberapa orang yang memprotes kedatanganya ke sekolah untuk belajar, atau mengejek melalui panggilan dan surat dan sebagainya. Orang tuanya berusaha sekuat mungkin, namun pada akhirnya, mereka harus pindah, dan Yuuki-kun dipaksa untuk pindah ke sekolah lain."

"…"

Asuna tidak dapat dapat bereaksi lagi. Dia hanya dapat meluruskan punggungnya dan mendengarkan ucapan dokter.

"Dan meskipun Yuuki-kun berkerja keras untuk pergi ke sekolah baru setiap hari…sesuatu yang kejam itu…pada saat itu, hal yang mengerikan itu mulai terjadi. Indikator menunjukan melemahnya sistem imun, sel getah bening CD4 [36] mulai berkurang secara drastis. Dalam arti lain…virus AIDS mulai bereaksi. Aku selalu merasa kalau perkataan kasar dari guru dan orang tua murid di sekolah sebelumnya adalah alasan mengapa ia jatuh sakit."

Dokter muda itu mencoba untuk membuat suaranya lebih tenang, tetapi suara nafas yang bergegas itu mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.

“Ketika Sistem Imun melemah, ia dapat dengan mudah terkena virus atau bakteri yang biasanya ia dapat menahannya. Situasi ini disebut 'Opportunistic Infection[37] '. Yuuki telah terinfeksi oleh sesuatu yang dinamakan Pneumocystis Pneumonia [38] dan berakhir dirawat di rumah sakit ini, dan itu terjadi sekitar 3.5 tahun yang lalu. Yuuki tetap berpikir positif. Dia selalu terseyum setiap harinya, dan berkata ‘Aku tidak akan kalah dengan penyakit ini’. Dia tidak pernah mengeluh bahkan saat pemeriksaan yang menyakitkan. Tetapi...”

Setelah berhenti sebentar, dokter itu terlihat mulai bergerak

"Baik itu di dalam rumah sakit atau di dalam tubuh pasien, ada banyak bakteri dan virus. Ketika virus AIDS aktif, kita hanya bisa melanjutkan untuk merawat gejala-gejala yang muncul karena 'Opportunistic Infection'. Setelah pneumonia, tenggorokan Yuuki-kun telah terinfeksi oleh jamur candida [39]—Pada saat ini, masyarakat dihebohkan oleh insiden Nerve Gear, dan terjadi sebuah keributan besar. Pada saat itu sampai ada diskusi untuk menyegel teknologi FullDive secara penuh. Namun, negara dan berberapa pengembang menyelesaikan penelitian Nerve Gear untuk pengobatan medis… Alat Medicuboid eksperimental pertama selesai pada saat ini. Juga, mereka memindahkan alat itu ke rumah sakit ini dan memulai pengujian secara klinis. Tetapi meskipun ini adalah sebuah eksperimen, asal dari mesin itu adalah Nerve Gear yang menakutkan, dan tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada otak jika kita memperbanyak densinitas output impuls listrik untuk waktu yang lama. Jadi, dalam keadaan ini sulit untuk menemukan relawan yang ingin membantu eksperimen ini. Ketika aku mengetahui ini… Aku menawarkan sesuatu kepada Yuuki-kun dan keluarganya…"

Asuna kembali menunggu untuk dokter melanjutkan saat ia memandang Yuuki di atas kasur dengan benda berbentuk kubus berwarna putih yang terlihat seperti menelan kepalanya.

Di bagian tengah kepalanya mati rasa karena dingin, tapi pikiran Asuna sedang berpikir bagaimana cara mencegah diri dari kenyataan ini .

Dari wujud dari pengembangan awal, Medicuboid kemungkinan bukan kelanjutan dari AmuSphere, tapi sebuah ekstensi dari Nerve Gear. Asuna sudah terbiasa menggunakan AmuSphere, namun ia dapat membayangkan perasaan murni dari dunia virtual yang diciptakan dengan Nerve Gear. AmuSphere adalah sebuah mesin yang memiliki tiga, empat kali sistem keamaanan sejak insiden SAO, tapi dunia virtual yang dibuat sungguh tak bisa dibandingkan dengan generasi pertama dalam kualitas.

Medicuboid dipasang dengan jumlah pembangkit impuls lebih banyak dibandingkan dengan Nerve Gear, dan dapat menghilangkan rasa dari tubuh secara penuh, dan bahkan memiliki CPU dengan kecepatan proses yang melebihi AmuShphere—dalam arti lain, apakah kemampuan luar biasa Yuuki di Alfheim karena kecepatan proses mein ini yang luar biasa?

Asuna memiliki ide ini untuk sementara, namun ia segera menolak gagasan tersebut. Sword skill Yuuki yang luar biasa telah melebihi batas spesifikasi mesin yang dapat ditampilkan. Dalam hal bakat dalam pertempuran, kemampuan Yuuki mampu menyamai Kirito, dan mungkin bisa melawannya.

Sejauh yang Asuna ketahui, alasan mengapa Kirito menjadi sangat kuat karena ia menghabiskan waktu lebih banyak di garis depan dari siapapun dalam dua tahun terkurung di dalam SAO. Jika itu alasannya, sudah berapa lamakah Yuuki berada di dunia yang diciptakan oleh Medicuboid—

"Seperti yang bisa kau lihat disini, Medicuboid merupakan mesin yang sensitif."

Dokter Kurahashi, yang terdiam sejenak, mulai berbicara lagi,

"Seperti yang bisa kau lihat disini, mesin percobaan Medicuboid butuh banyak perawatan. Dalam arti lain, mesin itu harus berada di tempat yang bebas dari debu, bakteri, dan virus. Ketika pasien bersedia untuk masuk ke ruangan steril, risiko dari infeksi dapat turun dengan drastis. Karena inilah aku menyarankan Yuuki dan keluarganya untuk menerima eksperimen ini."

"…"

"Namun, bahkan sampai sekarang, Aku masih bertanya-tanya apakah ini merupakan hal yang terbaik untuk Yuuki. Ketika mengobati AIDS, «QOL [40]»—Kualitas Hidup merupakan sesuatu yang sangat penting. Dokter harus mempertimbangkan tentang bagaimana caranya untuk meningkatkan dan memaksimalkan gaya hidup pasien ketika melakukan pengobatan. Dari pengertian itu, relawan yang menerima eksperimen ini kualitas hidupnya tidak akan bisa dianggap baik. Dia tak bisa meninggalkan ruangan steril, dan tak bisa berinteraksi dengan siapapun. Usulanku sangat membuat Yuuki dan orang-tuanya merasa terganggu. Namun, ini mungkin karena ekspektasi dari dunia virtual yang tak iakenal ini yang membuat Yuuki memutuskan ini…dia setuju untuk berperan dalam eksperimen ini dan masuk ke ruangan ini. Setelah itu, Yuuki tinggal di Medicuboid ini sepanjang waktu."¬

“maksudmu... selama ini?”

"Seperti yang aku katakan.Yuuki-kun hampir tak pernah kembali ke dunia nyata. Atau bisa dibilang, dia tak bisa. Selama perawatan di rumah sakit, kami menggunakan morphine untuk memperingan rasa sakit pasien. Untuk Yuuki-kun, kami menggunakan fungsi penghilangan rasa dari Medicuboid untuk mengganti morphine…dia telah berpetualang di segala macam dunia virtual, selain berberapa jam sehari dimana data dikumpulkan. Tentu, aku berbincang dengannya di dunia itu."

"Dalam kata lain…dia dive selama 24 jam sehari…? Sudah berapa lamakah itu…?"

“Sekitar tiga tahun”

Sesaat setelah jawaban dokter yang sederhana itu, Asuna seketika tidak bisa bicara apapun.

Sebelumnya, Asuna berpikir bahwa pengguna AmuSphere di dunia, yang paling memiliki pengalaman adalah pemain lama SAO, termasuk dia. Namun sekarang ia tahu kalau ia salah. Gadis yang berbaring di depannya merupakan penjelajah virtual asli di dunia. Inilah alasan mengapa Yuuki begitu kuat.

—Kamu sudah dari dulu menjadi penduduk dunia ini? Kirito pernah menanyakan ini kepada Yuuki. Dia pasti merasa jika Yuki memiliki kesamaan dengannya di berbagai aspek saat pertempuran singkat mereka.

Asuna menyadari bahwa keyakinan mulai menyebar di dalam tubuhnya. Itu seakan ia berdiri di depan seorang pendekar pedang yang jauh melampaui dirinya, menawarkan sebuah pedang tercinta kepada pendekar pedang ini. Dia merasakan ini ketika ia menutup matanya, dan lalu merendahkan kepalanya.

Setelah beberapa saat keheningan, Asuna melihat kembali ke Dokter Kurahashi

“Terima kasih telah memperbolehkan aku melihat Yuuki, dia pasti akan baik-baik saja jika ia tetap disini bukan? Dia bisa melanjutkan petualangannya melalui dunia itu bukan...?”

Tetapi, dokter tidak langsung menjawab pertanyaan Asuna. Dia duduk di kursi di depan panel kontrol, tangannya diletakan bersama di lututnya, dan kemudian menatap Asuna dengan ekspresi yang stabil.

Walaupun ia berapa di ruangan yang steril, tidaklah mungkin untuk menghilangkan bakteri dan virus yang ada di tubuhnya. Dengan melemahnya sistem pertahanan tubuh, mereka akan terus berkembang biak. Sekarang, Yuuki telah terinfeksi oleh Cytomegalovirus [41] dan Non-tuberculous Mycobacteria [42], dan dia hampir kehilangan seluruh penglihatannya. Radang otak yang disebabkan oleh HIV semakin buruk, dan kupikir ia mungkin tidak akan bisa menggerakkan tubuhnya sendiri.

"…"

"Dia telah terinfeksi HIV selama 15 tahun…AIDS-nya muncul 3,5 tahun yang lalu. Sekarang, Yuuki-kun berada di kondisi terminal. Dia dengan jelas mengetahui ini. Aku mengira kamu seharusnya mengetahui mengapa ia menghilang darimu."

"Bagaimana mungkin…bagaimana itu mungkin…"

Asuna melebarkan matanya dan menggelengkan kepalanya sedikit. Namun, ia tak bisa mengabaikan apa yang telah ia dengar dengan telinganya tadi.

Yuuki selalu ragu apakah ia sebaiknya bersama Asuna. Salah satu alasan ia melakukan itu karena ia sangat menyayangi Asuna. Dia melakukan ini untuk menghindari Asuna merasa kesakitan di hari Yuuki harus pergi. Tidak, Ini tidak hanya dia. Itu karena Shiune dan anggota Sleeping Knights mengerti yang sebenarnya jika mereka semestinya bertindak sebagai sebuah grup misterius.

Namun, Asuna tak pernah memperhatikan itu, dan tak pernah mencoba untuk berpikir tentang itu. Dia hanya terus menimbulkan rasa sakit lebih kepada Yuuki. Saat mengingat air mata yang diteteskan Yuuki sebelum ia ter-log out dari Black Iron Palace [43], Asuna merasa hatinya sakit.

Pada saat ini, Asuna berpikir tentang sesuatu, dan ia segera melihat ke dokter.

"Lalu…dokter, apakah Yuuki memiliki kakak kandung…?"

Ditanyakan ini, dokter ini mengkerutkan dahi seperti ia dikejutkan oleh pernyataan ini, dan ragu untuk berberapa saat, sebelum menganggukan kepalanya.

"—Ini bukan tentang Yuuki-kun, jadi aku tak menyebutkan ini…ya, dia memiliki kakak kandung kembar. Ini dikarenakan operasi sesar di permulaan yang menyebabkan tragedi ini."

Dokter itu terlihat sedang mencari-cari di dalam ingatnya saat ia berbicara,

"Kakaknya bernama Aiko, dan ia berada di rumah sakit ini juga. Kedua saudara kembarnya tak begitu mirip…kakak tertuanya selalu tersenyum, diam-diam melindungi Yuuki-kun yang giat dan lincah. Oh ya…penampilanya agak menyerupai kamu…"

Mengapa menggunakan kata lampau? Asuna berbisik di dalam hatinya dan menatap kepada dokter. Dan dokter itu sepertinya mendengar suara di dalam hati Asuna sebagaimana ia menambahkan,

“Orang tua Yuuki-kun meninggal 2 tahun yang lalu, dan saudara perempuannya meninggal 1 tahun yang lalu.”

Apa yang dia pikir dia harus pahami ternyata sudah tidak berarti lagi

Di dunia itu, Asuna telah melihat banyak peristiwa orang sekarat, dan ia sendiri berada di pinggir garis kematian. Dengan demikian, dia merasa jika ia telah mengerti apa arti hidup dan mati. Dia tahu bahwa ia tak bisa merubah fakta yang terjadi di depannya walaupun ia telah bersusah payah.

Dia hanya mengetahui Yuuki untuk berberapa hari, namun setelah mengetahui masa lalunya dan kondisinya sekarang, Asuna masih tak sanggup menerima fakta ini, dan hanya bisa menyenderkan badannya pada kaca tebal di depannya. Arti dari istilah realita dan arti pentingnya tampaknya menjadi kabur, bahkan pada akhirnya menghilang sepenuhnya. Asuna menundukan kepalanya dan meletakan dahi nya ke permukaan es yang dingin.

Aku telah berusaha dengan keras, jadi apa salahnya jika aku menginnginkan sebuah kebahagiaan kecil? Asuna selalu berpikir seperti ini, yang merupakan sebab mengapa ia takut akan perubahan, tidak berani berdebat dengan yang lainnya, dan hanya bisa mencari alasan-alasan untuk menutupi sifat pengecut dan keheningannya [44].

Namun, Yuuki telah melawan penyakitnya sejak ia dilahirkan. Dia mencoba untuk menentang realita kejam ini yang mencoba mengambil segala sesuatu dari dirinya. Walau ia sudah tahu akhir[45] sudah dekat dengannya, dia masih bisa menampakkan sebuah senyuman yang indah.

Asuna menutup matanya keras dan berteriak ke Yuuki, yang sedang berjalan-jalan di dunia khusus yang jauh, dari hatinya yang dalam.

—Biarkan aku melihatmu. Sekali saja.

Saat ini, setelah mereka bertemu, mereka berdua harus melanjutkan berbicara untuk waktu yang lama. Yuuki mengatakan bahwa berberapa hal harus diselesaikan dengan cara memaksa agar party lain mengerti. Jika ia tidak bisa mengalahkan sisi kelemahannya dan dan segala permasalahannya untuk berbicara dengan Yuuki, tak perlu keduanya untuk berbicara.

Asuna akhirnya merasakan cairan hangat keluar dari kedua matanya. Dia menaruh tangan kanannya di kaca dan merabanya, seperti ia sedang mencari sesuatu sentuhan dari permukaan yang licin itu.

Pada saat ini, sebuah suara lembut terdengar.

『Jangan menangis, Asuna.』

Asuna dengan cepat menaikkan kepalanya dengan perasaan terkejut. Dia mengusap butiran air matanya di bulu matanya dan membuka matanya, menatap Yuuki yang berbaring di atas kasur. Tubuh mungil itu tak berpindah tempat, masih berbaring di sana. Mesin yang menutupi wajah Yuuki tidak berubah sama sekali. Namun, Asuna memperhatikan sebuah cahaya biru berkedip pada sebuah monitor di balik kaca. Kata-kata di balik layar berbeda dengan sebelumnya, menunjukkan kata-kata [user talking [46]].

Sword Art Online Vol 07 -223.jpeg

"Yuuki…?"

Asuna bergumam, dan lalu berbicara dengan suara bergetar yang tidak jelas,

“Yuuki?” Apa kau disana?”

Asuna langsung mendengar jawabannya. Sepertinya suara itu terdengar dari speaker yang terpasang di tembok.

『Un. Ini melalui kamera, tapi aku bisa melihat mu, Asuna. Mengagumkan…kamu melakukan seperti apa yang kamu lakukan di dalam game. Terima kasih…untuk datang menemuiku.』

"…Yuuki…A…Aku…"

Asuna ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tak tahu apa yang harus ia ucapkan. Kecemasan yang tidak dapat di jelaskan ini membuat dada Asuna terasa tidak nyaman.

Tapi sebelum ia berbicara, suara itu keluar kembali dari atas kepala.

『Dokter, tolong izinkan Asuna untuk menggunakan ruangan sebelah.』

"Eh…"

Asuna bingung dan melihat sekeliling untuk melihat Dokter Kurahashi yang tampak serius saat dia tampak memikirkan tentang sesuatu. Namun, dia langsung memberikan senyuman sigap yang membersihkan semuanya, dan menganggukkan kepalanya sebelum ia berkata,

"Baiklah—disana ada kursi yang biasanya aku gunakan untuk mengobrol dan sebuah AmuSphere. Pintunya bisa dikunci dari dalam, namun mohon untuk tidak lebih dari 20 menit. Sesuai prosedur, aku tak akan menjelaskannya."

“A...aku mengerti.”

Asuna segera mengangguk, dan lalu melihat kembali ke gadis yang terbaring di Medicuboid. Suara Yuuki bergema kembali.

"Aplikasi ALO telah terpasang di dalamnya. Ketika kamu log in, kita akan bertemu di tempat kita pertama kali bertemu."

"Un... Aku mengerti. Tunggu sebentar, aku akan berada di sana."

Asuna berkata dengan suara yang mantap, menunduk ke Dokter Kurahashi di belakangnya, dan berputar. Dia mengambil beberapa langkah ke pintu yang jauh di dalam ruang observasi dan mengangkat tangannya di pemindai. Pintunya bergeser, dan Asuna segera masuk.

Apa yang berada dibalik pintu itu adalah ruangan yang besarnya setengah dari ruangan observasi. Disana terdapat dua kursi kulit hitam, dan sandaran kepala di kedua sisi dengan bentuk cincin seperti helm yang familiar.

Asuna buru-buru mengunci pintu, menaruh tasnya di lantai dan duduk di kursi terdekar. Dia menggunakan tombol di penyangga tangan untuk mengatur kemiringan kursinya, dan mengangkat AmuSphere-nya sebelum menggunakanya. Dia mengambil nafas dalam, menekan tombol, dan sebuah sinar putih muncul di depannya. Kesadaran Asuna telah menghilang dari dunia nyata.


Setelah terbangun sebagai seorang pengguna rapier, Asuna keluar dari ruang tidur di rumah hutan sebelum indranya terbiasa dengan dunia VR.

Dia mengepakkan sayapnya di udara untuk melayang, dan segera terbang keluar jendela tanpa menyentuh lantai. Saat ini sedang subuh di Alfheim, dan hutan lebat tertutupi oleh kabut putih.Dia berbelok di udara dan segera bergerak dengan cepat, menembus kabut putih sebagaimana ia bergerak ketika ia menembus pepohonan. Asuna menaruh tangannya dekat dengannya dan terus bergegas menuju pusat.

Dia hanya menghabiskan waktu kurang dari 3 menit untuk sampai di atas jalan utama. Lalu, Asuna terbang lurus menju pusat dari plaza dan mendarat di depan pintu transfer. Saat banyak pemain melihat Asuna dengan mata lebar, dia berbelok dan berhenti tiba-tiba. Lalu ia lompat ke gerbang teleportasi disaat ia berhenti.

"Transfer! Panareze!"

Pada saat ia meneriakkan itu, sebuah cahaya putih kebiruan segera mengalir turun seperti sebuah air terjun, mendorong Asuna ke atas.

Transfer langsung selesai. Ketika ia keluar dari gerbang teleportasi, ia berada di lantai 25 plaza sentral Panareze. Asuna menghentakkan kaki di lantai batu di kanannya dan terbang menuju langit. Saat ini, dia terbang menuju sebuah pulau di arah utara ibukota. Gadis yang terbang dengan kecepatan tinggi itu terus meninggalkan berkas pada air yang bergetar.

Dalam waktu singkat, ia melihat sebuah pohon besar. Dia merasa pertarungannya di bawah pohon itu melawan «Absolute Sword» Yuuki sudah dari waktu yang sangat lama. Pulau yang sangat dipenuhi itu bisa dibilang sunyi secara total.

Asuna melambat sebagaimana ia berputar di sekitar pohon dan bersiap untuk mendarat. Sebagaimana kabut tebal menutupi dibawah, dia tak bisa melihat daratan.

Saat ia menginjak rumput yang tertutup embun, dia mulai melihat keadaan sekitar. Barangkali cahaya hari itu tak cukup sampai Asuna hanya bisa melihat berberapa meter di depannya. Merasa gelisah, Asuna hanya bisa bergerak di sekitar pepohonan dengan cepat.

Saat ia berada setengah jalan dan sampai di sisi timur pepohonan…cahaya akhirnya muncul dari luar, menyapu embun pagi dengan segera. Asuna akhirnya menemukan orang yang ia cari melalui celah di antara kabut putih.

Punggung Yuuki menghadap Asuna, dan rambutnya yang berwarna ungu tua. Pada saat ini, Asuna hanya bisa menahan nafasnya dan melihat ini. Perempuan itu tiba-tiba melihat sekeliling dan menatap Asuna dengan mata yang berwarna seperti permata. Bibir yang berwarna terang itu memperlihatkan senyum yang lemah, seperti salju.

"—Untuk berberapa alasan, aku hanya merasa jika Asuna akan mencoba untuk mencariku di dunia nyata. Aku tak memberitahumu apapun, dan itu tidak mungkin terjadi."

Setelah mengumamkan kata-kata seperti ini, Yuuki tersenyum lagi,

"Tapi kamu masih tetap datang, Asuna. Jarang untuk firasatku menjadi kenyataan, namun aku sengat senang…"

Mereka tidak bertemu untuk hanya berberapa hari, tapi rasanya postur berdiri Yuuki memiliki sedikit perasaan yang transparan. Ini membuat Asuna merasa sesak di dada, sebagaimana ia terlihat seperti ketakutan, bertanya-tanya apakah gadis di depannya hanya sebuah ilusi, seiring ia berjalan perlahan-lahan, langkah demi langkah.

Jari Asuna akhirnya menyentuh Yuuki di pundak kirinya. Dia segera tidak bisa menahan dorongan untuk memerika suhu tubuh Yuuki saat ia diam-diam memeluknya dengan kedua tangannya.

Yuuki tidak terlihat panik sama sekali saat dia bersandar di bahu Asuna seperti rumput yang tertiup angin. Dia masih memakai baju pelindungnya tetapi tubuh Yuuki tetap memberikan kehangatan yang cukup membuat hati seseorang tergerak. Perasaan ini lebih dari nilai yang impuls elektronik dapat tentukan. Asuna menghela nafas dan menutup matanya

“…Ketika nee-chan memelukku, wanginya seperti ini juga. Itu adalah wangi dari matahari.”

Yuuki, yang beristirahat di tubuh Asuna, bergumam.

Pada saat ini, Asuna akhirnya mengucapkan kata pertamanya dari bibir yang bergetar itu.

“Aiko...? Saudara mu bermain VRMMOs juga?”

"Un. Rumah sakit ini memperbolehkan orang-orang menggunakan AmuSphere di ruangan biasa. Nee-chan merupakan pemimpin pertama Sleeping Knights. Dia lebih kuat daripada aku…"

Asuna merasakan dahi Yuuki bersandar keras di bahunya, dan dia mengangkat tangan kanannya untuk membelai rambut halus dari kurcaci hitam itu. Yuuki terdiam untuk sesaat, namun segera rileks, dan kemudian melanjutkan,

"Awalnya, ada 9 anggota Sleeping Knights, tapi termasuk Nee-chan, 3 orang telah hilang…lalu aku berdiskusi dengan Shiune dan yang lainnya untuk membubarkan guild ketika ada orang yang hilang lagi. Sebelumnya, kami ingin membuat suatu kenangan indah bersama…untuk berbincang tentang sebuah pertualangan yang kami harap dapat membuat Nee-chan bangga…"

"…"

"Tempat yang kita temu adalah sebuah jaringan medis bernama «Serene Garden», sebuah rumah sakit virtual. Walau ketika penyakit kita berbeda, dalam arti luas, kita adalah orang yang berada dalam keadaan yang sama. Kami dapat berbincang dengan yang lainnya di dunia VR, bermain games, dan menikmati hidup senikmat mungkin sampai akhir…ini adalah maksud di balik operasi ini."

Setelah mendengar kata-kata Dokter Kurahashi saat dia masuk ke rumah sakit, hati Asuna merasa jika Sleeping Knights, termasuk Yuuki, bisa menjadi kuat, giat dan tenang karena mereka berada di satu perahu <ref=”perahu”>yang dimaksud mungkin “satu tanggungan” atau “satu penderitaan” ataupun “satu kondisi”</ref>.

Meskipun dia telah mempunyai pikiran semacam itu, kata-kata Yuuki tetap membani pikiran Asuna. Seyum keceriaan Shiune, Jun, Tecchi, Nori, dan Taruken terlintas di pikirannya.

"Maaf untuk tidak memberitahumu yang sebenarnya, Asuna.Alasan mengapa Sleeping Knights dibubarkan di musim semi bukanlah karena semuanya mulai sibuk dan tak mau bermain games, tetapi kami berdua sudah dinyatakan untuk tidak dapat bertahan hidup sampai Maret lalu. Jadi... itu sebabnya kami berharap dapat menciptakan kenangan terakhir kami di dunia yang indah itu. Kami ingin meninggalkan bukti bahwa kami pernah berada di sini”

Suara Yuuki terdengar bergetar. Namun, Asuna hanya bisa mengerahkan kekuatan sedikit lebih ke dalam pelukannya Yuuki.

"Namun, serangan kami tidak sukses...semuanya mendiskusikan itu dan memutuskan untuk mencari seseorang untuk membantu . Sesungguhnya, beberapa dari kita sebenarnya keberatan untuk itu. Setelah orang itu tahu masalah kita, kita akan terganggu, dan akan ada kenangan buruk yang tertinggal. Akhirnya, ini benar-benar terjadi…maaf…aku sangat meminta maaf Asuna. Jika mungkin…mohon lupakan tentang kita…"

“Apa yang bisa aku lakukan?”

Setelah menjawab, Asuna memalingkan wajahnya ke Yuuki

"Aku tak pernah merasa terganggu, dan aku tidak pernah berpikir bahwa itu adalah mimpi buruk. dapat bertemu kalian, dapat membantu kalian mengalahkan boss, aku sangat senang. Dan sekarang aku ingin bergabung dengan Sleeping Knights!"

"…Ahh…"

Yuuki bernafas dan tubuhnya tersentak untuk sementara.

“Aku sangat senang bisa untuk datang ke dunia ini dan bertemu Asuna... kata-kata darimu itu sudah cukup. Aku senang sekarang... Aku tidak menyesal...”

"…"

Asuna menaruh kedua tangannya di pundak Yuuki dan pelan-pelan pergi menjauh sambil menatap mata yang berkaca-kaca itu.

Kau masih punya banyak hal yang belum kau lakukan bukan? Ada banyak tempat di Alfheim yang belum kau kunjungi…termasuk dunia VR yang lain, dunia ini bisa dibilang tidak terbatas. Itu sebabnya kau tidak bisa bilang bahwa kau sudah puas...”

Asuna dengan cemas memberi tahu Yuuki, tapi dia hanya menunjukan ekspresi tertekan saat ia melihat tempat lain, dan kemudian tersenyum.

”Selama tiga tahun ini, kita telah melalui bermacam-macam pertualangan, di segala macam dunia. Aku berharap bahwa halaman terakhir dalam hidup aku akan menjadi kenangan yang dibuat bersama-sama dengan Asuna.”

“Tetapi... kau mempunyai banyak hal yang belum kau selesaikan dan tempat yang belum kau kunjungi, benar?”

Dia merasa jika ia setuju dengan apa yang Yuuki katakan, gadis yang ada di depannya ini akan mengilang dibalik kabut putih ini. Dengan demikian, Asuna panik berusaha meyakinkannya. Pada saat ini, Yuuki memalingkan matanya yang tengah melihat Asuna, dan menunjukan senyum nakal yang dia tunjukan beberapa kali dalam serangan mereka dengan boss.

”Ya...jika memungkinkan, aku ingin melihat sekolah."

“Se...sekolah?”

"Aku kadang-kadang pergi ke sekolah di dunia khayalan, tetapi aku selalu merasa terlalu damai, indah, dan formal. Aku ingin kembali ke sekolah nyata, dimana aku belajar."

Dia berkedip, dan tersenyum, sebelum mengerinyit kembali secara malu.

“Maaf, aku tahu ini tidak mungkin. Aku berterima kasih atas pemikiranmu, Asuna, tetapi aku benar-benar senang.

“Mungkin kau dapat benar-benar pergi.”

”Ha?”

Yuuki terus berkedip dan menatap Asuna dengan serius. Asuna tetap memanggil beberapa kenangan dalam pikirannya dan berbicara lagi,

“Mungkin kau benar-benar dapat pergi ke sekolah”


Bab 10[edit]

Hari berikutnya, 12 Januari, jam 12.50 siang, di ujung utara lantai 3 gedung sekolah ke-dua.

Di ruangan komputer dimana suara aktifitas saat istirahat makan siang terdengar sedikit, Asuna meluruskan punggungnya dan duduk di kursi.

Di pundak kanan blazer-nya, ada sebuh mesin berbentuk kubah dengan diameter 7cm yang ditahan dengan sebuah penyangga.

Dasarnya terbuat dari potongan aluminium, dan kubahnya terbuat dari akrilik transparan. Sebuah lensa terlihat di dalamnya. Di mesin itu terdapat dua kabel yang terpasang di bawahnya. Salah satunya tersambung dengan handphone Asuna di kantong blazernya, sedangkan satunya tersambung dengan sebuah komputer.

Kazuto dan dua murid lainnya, yang menghadiri pelajaran mekatronika[47] dengannya, sedang mengobrol seperti sedang mengucapkan mantra-mantra.

"Sudah ku katakan kalau gyroscope[48] ini sangat sensitif. Jika kamu lebih mengutamakan kemampuan visualnya, kamu bisa mengatur parameternya di sini dan di sini."

"Tapi bukankah nanti akan lag[49] jika ada gerakan tiba-tiba?"

"Kita Hanya Bisa menunggu pengoptimalan "program learning" untuk mendapat kan efek kan ,kazu."

"Apa kamu belum selesai, Kirito-kun? Istirahat makan siang hampir selesai!"

Asuna, yang terpaksa diam selama 30 menit, mengeluarkan suara cemas. Kazuto mengeluarkan suara ‘un’ dan mengangkat kepalanya.

"Settingan ini sudah cukup untuk sekarang. Erm, Yuuki-san, bisa mendengarku?"

Kazuto tidak berbicara kepada Asuna, melainkan ke alat yang berbentuk kubah itu. Di speaker mesin itu, suara bersemangat khas «Absolute Sword» Yuuki keluar.

『Haii, Aku mendengarmu dengan jelas!』

"Okay, aku akan menyetel settingan sekitar visual. Jika penglihatannya telah jelas, bilang sesuatu."

『Ya, Aku mengerti.』

Alat berbentuk kubah yang terletak di bahu Asuna, biasa disebut «Double-sided Visual and Hearing message Probe», adalah ekspreimen kelas Kazuto untuk meningkatkan kemampuan alat itu.

Mudahnya, alat ini dapat disambungkan dengan AmuSphere dan jaringannya, membuat hubungan audio dan visual langsung antara dunia asli dan dunia virtual. Alat itu menggunakan lensa dan microphone probe tersebut untuk mengumpulkan data, melewati HP Asuna menuju jaringan, dan lalu ke Medicuboid di Rumah Sakit Umum Yokohama Utara, dan akhirnya diterima Yuuki., yang sedang dive di dunia virtual khusus. Lensa itu dapat bergerak dengan bebas di dalam alat yang berbentuk kubah sehingga penglihatan Yuuki dapat melihat yang ia ingin lihat. Sekarang, Yuuki sepertinya merasa jika ia sebesar 1/10 dari ukuran sebenarnya dan sedang duduk di bahu Asuna.

Ketika Asuna mendengar Kirito menggerutu tentang penelitian ini, dia langsung berpikir jika alat ini dapat digunakan ketika ia mendengar Yuuki ingin sekolah.

Uiin. Alat itu bersuara di bahu kanan ketika lensanya sedang diatur. Yuuki lalu mengatakan ‘Aku melihatnya’ ketika lensa itu berhenti.

"Baiklah. Lensa itu akan berkerja sekarang. Asuna, kami menambahan unit stabilizer, namun cobalah untuk tidak melakukan sesuatu secara mendadak. Jangan berteriak-teriak terlalu kencang juga. Dia dapat mendengarnya jika suaranya dalam volume yang dapat didengar."

"Okay, aku mengerti~."

Asuna menegakkan punggungnya ketika ia menjawab Kazuto, yang mengomel tentang sesuatu yang perlu diingat sebelum berdiri. Dia melihat Kazuto mencolok kabel ke PC dan segera berbisik ke alat yang dibahunya,

"Maaf, Yuuki. Aku ingin mengajakmu berkeliling sekolah, namun istirahat makan siang telah berakhir."

Suara Yuuki langsung keluar dari speaker mini.

『Tidak apa-apa. Aku bahkan lebih tertarik mendengarkan pelajaran mu!』

"Okay, mari ucapkan hai kepada guru untuk pelajaran berikutnya."

Setelah melambaikan tangan ke Kazuto dan dua sahabatnya yang telah menyelesaikan menyetel segalanya dalam waktu singkat dan kelihatannya lelah, Asuna berjalan keluar dari lab komputer.

Dia melewati koridor, menuruni tangga, dan melalui jembatan penghubung antara gedung sekolah. Yuuki mulai bahagia ketika ia melihat segalanya, namun ia langsung diam ketika mereka sampai di pintu bertuliskan 'Staff Room'.

"…Ada yang salah?"

『Erm…well, dulu Aku tak senang untuk datang ke ruangan staff…』

"Fufufu, jangan khawatir.Guru-guru disini tidak seperti itu."

Asuna tersenyum dan berbisik sebelum membuka pintu dengan cepat.


"Permisi!"

『Per, permisi!』

Dua suara, satu kencang dan satunya lembut bergema di dalam ruangan pada saat yang sama. Asuna lalu segera melewati berberapa baris meja.

Jam pelajaran kelima ialah Bahasa Jepang, dan guru yang akan mengajar adalah guru yang pernah mengepalai departemen di sebuah sekolah independen. Dia pensiun, dah setelah itu, sebagai relawan datang di sekolah yang di bentuk dengan mendadak. Dia hampir berumur 70 tahun, namun mampu untuk mengoperasikan peralatan jaringan di sekolah ini, dan Asuna suka dengan kebijakannya.

Karena ia tahu sifat alamiah guru itu, Asuna merasa jika ia mungkin tak masalah untuk mendengarkan Yuuki, namun ia masih gugup untuk menjelaskan semuanya. Guru dengan rambut putih dan janggut itu mengambil secangkir teh ketika ia mendengar penjelasan Asuna. Ketika ia telah selesai, guru itu mengangguk dan mengatakan,

"Un, tidak apa-apa. Oh ya, siapa namamu?"

『Ah, Aku…Yuuki—Konno Yuuki.』

Mendengar jawaban yang berasal dari probe[50] , guru itu terkejut, namun ia segera tersenyum dan mengatakan,

"Konno-san, Jika kamu ingin, silahkan datang ke kelas. Kita akan memulai «Torokko» oleh Akutagawa. Ini bisa menarik jika kamu mempelajarinya sampai akhir."

『Ya…ya, terima kasih banyak!』

Saat Yuuki dan Asuna selesai berterima kasih kepada guru, bel untuk persiapan kelas berbunyi, dan Asuna menunduk hormat untuk pamit. Saat mereka keluar dari ruang staff, keduanya menghela nafas disaat yang sama.

Setelah saling melihat dan tersenyum, Asuna dengan cepat kembali ke kelasnya.

Ketika ia kembali ke tempat duduknya, teman-temannya langsung bertanya tentang alat yang berada di pundaknya. Asuna menjelaskan kalau Yuuki dirawat di rumah sakit, dan ketika Yuuki berbicara, semuanya langsung mengerti. Mereka mulai memperkenalkan dirinya masing-masing. Setelah mereka selesai saling memperkenalkan diri, bel untuk kelas berbunyi, dan seorang guru muncul di muka pintu.

Ketika petugas piket memanggil untuk menyapa—lensa probe mulai bergerak ke atas dan ke bawah—guru yang sampai di podium pertama mengusap jenggotnya dan memulai pelajaran seperti biasa.

"Eh—dan sekarang, kita akan memulai dari buku paket halaman 98, «Torokko» oleh Akutagawa Ryunosuke. Ini adalah karya Akutagawa ketika ia berumur 30 tahun—"

Mengikuti perintah guru, Asuna mengambil komputer tablet tipisnya, lalu menaruhnya di depan Yuuki sehingga ia dapat melihatnya. Namun, kalimat selanjutnya yang guru itu katakan hampir membuat Asuna menjatuhkan tablet PC-nya.

"—Lalu, mari seseorang membaca ini dari paragraf pertama. Konno Yuuki-san, bisakah kamu membaca bagian ini?"

"Ha?"

『Ya, ya?』

Asuna dan Yuuki mengeluarkan suara terkejut, dan kelas langsung menjadi ribut.

"Apakah ada masalah?"

Sebelum Asuna dapat menjawab pertanyaan guru itu, Yuuki telah menjawab dengan kencang,

『Ok, aku mengerti!』

Sepertinya speaker di dalam probe itu ada alat yang mengatur volume, sebagaimana ketika suara Yuuki dengan jelas mengisi setiap sudut kelas. Asuna segera berdiri, mengankat PC tabletnya kedepan lensa probe, memiringkan kepalanya ke kanan, dan berbisik,

"Yuuki…kamu, kamu bisa membaca ini?"

『Tentu. Aku senang membaca!』

Yuuki berhenti sejenak setelah menjawab, dan lalu mulai membacakan isi dari buku paket dengan suara semangat.

『…Pekerjaan peletakan rel sederhana antara Odawara dan Atami adalah…』

Asuna yang memegang komputer, menutup matanya untuk fokus ketika Yuuki membaca bagian dengan irama.

Layar di hati Asuna dengan jelas menampilkan Yuuki, yang menggunakan seragam mirip dengannya, berdiri tepat di sebelahnya. Asuna yakin bahwa suatu hari, mimpi ini bisa menjadi nyata. Perawatan medis berkembang setiap tahunnya. Di masa depan, mereka mungkin dapat menemukan obat untuk menyembuhkan HIV secara total, dan Yuuki dapat kembali ke dunia nyata. Di saat itu, dia pasti sedang menggengam tangan aslinya dan mengenalkan area sekolah dan jalan disekitarnya. Setelah sekolah, mereka pergi ke restauran cepat saji, memakan hamburger dan berbincang-bincang.

Asuna diam-diam menyeka air matanya agar Yuuki tak tahu. Yuuki terus membaca bagian bacaan yang berasal dari abad lalu, dan guru tak pernah menyuruhnya untuk berhenti. Sekolah siang itu menjadi sepi secara tak normal, dan sepertinya satu sekolah sedang mendengarnya.

Yuuki lalu terus mengkuti pelajaran sampai pelajaran ke-enam, dan Asuna memperkenalkan area sekolah kepadanya sesuai yang dijanjikan. Tak disangka, bereberapa teman sekelasnya mengikuti, dan semuanya berusaha untuk berbicara kepada Yuuki.

Pada akhirnya, keduanya akhirnya sendirian, dan saat Asuna duduk di bangku taman, langit berubah warna menjadi jingga.

『Asuna…terima kasih banyak untuk hari ini. Aku senang… Aku tak akan melupakan hari ini.』

Yuuki tiba-tiba berbicara dengan nada serius, dan Asuna dengan insting menjawab dengan nada gembira,

"Apa yang kamu bilang? Bukannya para guru mengatakan jika kamu bisa datang setiap hari? Bahasa Jepang pada jam pelajaran ketiga besok. Kamu tak bisa telat! Ngomong-ngomong…well, apakah kamu ingin mengunjungi suatu tempat? Kemanapun tak masalah, selain ruangan kepala sekolah."

Yuuki tertawa kecil, dan lalu diam. Setelah berberapa saat, dia dengan malu berkata,

『Well...aku mempunyai tempat untuk dikunjungi...』

”Dimana?”

『Bolehkah ke suatu tempat diluar sekolah?』

"Eh…"

Asuna tak bisa apa-apa kecuali diam. Dia merenung sesaat, namun memutuskan jika batere dari probe masih cukup, dan Yuuki bisa melihat semasa terminal handheld tersambung dengan jaringan.

"Un, tak masalah. Tak masalah jika antena handheld dapat menjangkau tempat itu."

『Benarkah? Tempat itu…sedikit jauh…aku ingin kamu membawaku ke Hodogaya di Yokohama, sebuah tempat bernama Tsukimidai.』


Dari sekolah, Asuna dan Yuuki menaiki jalur pusat dari Tokyo Barat menuju Hodogaya, Yokohama.

Mereka sebenarnya tak saling berbisik, namun ketika mereka di jalan, Asuna mengabaikan tatapan sekitar dan melanjutkan berbicara melalui probe dua arah di pundaknya. Yuuki tak pernah mengira jika jalanan akan berubah begitu pesat selama 3 tahun ia dirawat di rumah sakit, sehingga Asuna menjelaskan kepadanya setiap kali ada sesuatu yang menarik.

Sebagaimana mereka terus berjalan dan berhenti, jam besar di tengah-tengah stasiun kereta api menunjukkan lewat pukul 5.30 sore ketika mereka turun di Stasiun Hoshikawa.

Mereka melihat langit yang berubah warna dari merah padam menjadi ungu gelap, dan Asuna menghela nafas dalam. Mungkin itu karena ada banyak hutan di daerah ini yang menyebabkan udara dingin disini berbeda dengan yang di Tokyo.

"Jalan ini sangat indah, Yuuki. Langit terlihat luas."

Yuuki mengatakannya dengan suara yang bersemangat, tetapi dengan nada yang malu,

『Un…maaf, Asuna. Permintaanku membuat kamu pulang terlambat, apa kamu tak apa-apa Asuna?』

“Tidak apa-apa! Sudah biasa untuk ku pulang ke rumah terlambat”

Dia secara insting mengatakan itu, namun faktanya, Asuna sangat ingin untuk pulang ke rumah sebelum makan malam hampir di setiap waktu. Itu karena ibunya akan tidak senang jika ia tak melakukan seperti itu. Namun, ia merasa jika itu tak masalah walau jika ia pulang ke rumah dan diomeli ibunya. Sejauh yang diharapkan Yuuki, dan batere dari probe cukup, tak masalah seberapa jauhpun dia akan pergi.

“Aku akan mengirim pesan”

Asuna mengatakan dalam nada masa bodoh, dan kemudian mengambil handpohonenya. Dia lalu mengirim pesan ke komputernya di rumah ketika sedang terkoneksi dengan probe, mengatakan jika ia akan pulang rumah terlambat. Ibunya sepertinya akan mengirim sebuah pesan kepadanya karena mengabaikan jam malam dan bahkan berberapa kali ingin meneleponnya secara langsung, tapi jika telepon terkoneksi dengan net, telepon tersebut sepertinya akan dikirim ke pesan suara.

"Semua sudah beres. Sekarang, kau ingin kemana, Yuuki?”

『Belok ke kiri dari di depan stasiun, lalu belok kanan di lampu merah ke dua

”Nn, baiklah.”

Asuna mengangguk, dan lalu mulai bergerak ke depan. Dengan Yuuki memimpin di depan, dia pergi melewati sebuah pasar kecil di depan stasiun.

Yuuki akan mengatakan beberapa kata, seperti ia terkenang sesuatu, saat mereka berjalan melewati toko roti,toko ikan,kantor pos,atau di depan kuil.Segera,mereka tiba di sebuah area perumahan.Yuuki mendesah ketika ia melihat sebuah rumah yang terdapat rumah anjing besar dan pohon kamfer besar.

Jadi,walaupun Yuuki tak mengatakannya,Asuna paham bahwa jalan ini adalan jalan menuju tempat tinggalnya dulu.Dan tepat di depan mereka adalah— 『…Setelah belok kanan,berhentilah di depan rumah bercat putih…』

Asuna sadar.Suara Yuuki mulai gemetar ketika ia mengatakan hal itu.Setelah melewati taman yang terdapat barisan pohon poplar gundul dan berbelok ke kanan,Ia langsung melihat bungalow berlantai keramik putih di sisi kiri pandangannya.

Setelah berjalan beberapa langkah ke depan,Asuna berhenti di depan sebuah pagar perunggu.

『....』

Di pundaknya,Yuuki mendesah panjang.Asuna dengan sengaja menggapaikan jari-jari tangannya dibawah probe alumunium,dan berbisik pada Yuuki,

" Itu...rumah Yuuki,kan? "

『Un…Aku bahkan tak pernah berpikir bahwa aku akan bisa melihat rumah ini lagi…』 Rumah ini memiliki dinding putih dan atap hijau yang terlihat jelas lebih kecil jika dibandingkn dengan rumah-rumah di sekitarnya,namun rumah ini memiliki halaman yang luas.Terdapat meja kursi kayu berwana putih di rerumputan, terdapat sebuah petak bunga yang dikelilingi dengan batu bata merah jauh di dalam taman.

Walaupun begitu,sekarang,warna putih dari meja kayu telah memudar karena terkikis angin,dan yang masih tertinggal dari petak bunga tersebut hanyalah tanah hitam yang kering.Jendela-jendela di semua sisi rumah memperlihatkan kehangatan dan kenyaman dari sebuah keluarga yang rukun,tetapi jendela-jendela di rumah putih itu menurunkan tirai anti hujannya.Terlihat seperti tak ada orang yang tinggal di dalam rumah itu. Walaupun begitu,ini sudah bisa ditebak.Dari orang tua dan dua anak perempuannya yang pernah hidup bersama di rumah ini,yang tersisa hanya satu orang.Sekarang,orang terakhir itu pun berada di ruangan kedap udara,terbaring di tempat tidur dengan dikelilingi oleh banyak mesin,tak bisa meninggalkan tempat itu.

Rumah itu terlihat ungu kelam ternaungi sinar terakhir cahaya matahari.Asuna dan Yuuki hanya menatap ke rumah itu.Beberapa saat kemudian,Yuuki berbisik,

『Terima kasih Asuna. Terima kasih sudah membawaku ke tempat jauh seperti ini...』

"Kamu mau melihat ke dalam? "

Pastinya akan jadi runyam jika ada orang lewat yang melihat ini,namun Asuna masih menanyakannya.Yuuki sendiri hanya mengelengkan lensanya ke kiri dan ke kanan.

『Tidak, tak usah. Yah...kita harus kembali sekarang ,kalau tidak kita akan sedikit terlambat, Asuna.』

"Ini masih terlalu cepat...kita masih bisa disini sedikit lebih lama. "

Asuna segera menjawab seperti itu dan berbalik untuk melihat keadaan di belakangnya.Yang ada dibalik jalan kecil yang panjang itu adalah taman,dan di luar taman,ada dinding pepohonan dengan bebatuan sebagai alasnya.

Asuna berjalan menyeberangi jalan dan duduk di tembok batu yang tingginya selutut.Bagian depan probe dapat mengambil gambar dari rumah kecil yang terbengkalai itu.Dari sini,mata Yuuki harusnya bisa melihat seluruh rumah dan tamannya.

『Kami hanya tinggal disini kurang dari setahun…walaupun begitu,hari-hari yang kuhabiskan disini,aku mengingatnya semua. Sebelumnya kami tinggal di sebuah apartemen,jadi aku sangat senang ketika tahu bahwa disini kami mempunyai sebuah taman. Mama takut kalau kami akan terinfeksi oleh komplikasi penyakit,tapi aku dan nee-chan terkadang berlarian di taman ini.Kami memanggang daging di depan bangku itu,dan terkadang membuat rak buku bersama ayah.Kami sangat bahagia waktu itu …』

"Hebat sekali.Aku belum pernah melakukan hal-hal seperti itu sebelumnya."

Rumah Asuna mempunyai taman yang bisa dibilang sangat luas,tapi dia tak pernah ingat pernah bermain disana dengan orang tuan dan juga kakak laki-lakinya.Dia selalu bermain rumah-rumahan atau menggambar sendirian.Karenanya,memori tentang keluarga yang Yuuki ceritakan begitu mennggema dalam hatinya.

『Jadi,ayo kita adakan pesta BBQ di rumahmu di lantai 22 lain kali.』

"Un!...jadi,ini janji.Aku akan mengundang teman-temanku,Shiune dan yang lainnya…"

『Wa, Jadi aku harus membuat membuat banyak daging panggang.Jun dan Thatch benar-benar doyan makan』

"Serius? Mereka kelihatannya nggak begitu! "

Mereka berdua tertawa,dan kemudian,mereka kembali memandangi rumah Yuuki.

『Sekarang...Sanak saudaraku sedang mendebatkan rumah ini.』

Yuuki menggumamkan hal itu dengan suara yang terdengar sedikit kesepian. "Apa maksudmu dengan mereka begitu memperdebatkan rumah ini...?"

『Seperti apakah mereka harus merobohkannya,membangunnya lagi menjadi toko serba ada mengubahnya menjadi lahan kosong,menjualnya,atau menyewakannya secara langsung…semua orang punya sarannya masing-masing.Sebelum itu,bahkan kakak perempuan Papa pernah dive untuk menemuiku.Dia tahu bahwa aku sakit,jadi dia menghindariku di dunia nyata...namun dia dive...dan menyuruhku untuk menulis surat wasiat…』

"...."

Mendengarnya,Asuna tak bisa apa-apa kecuali menghela nafas.

『Ah,maaf. Aku seharusnya tidak menggerutukan tentang hal-hal seperti itu kepadamu secara sembarangan.』

"Itu...itu tak apa-apa---katakan saja,biarkan itu semua keluar sampai kau merasa enakan."

Asuna akhirnya mengatakannya dengan suara kalem.Mendengar itu,Yuuki menggunakan probe untuk mengangguk.

『Akan kulanjutkan.Akhirnya... Aku katakan padanya begini.Di dunia nyata,aku tak bisa memegang pena atau stempel,jadi bagaimana bisa aku menulis surat wasiat?Akhirnya bibi hanya bisa terkejut dan terdiam membisu.』

Fufufu,Yuuki tertawa kecil karena itu.Asuna membalasnya dengan senyum.

『Dan kemudian,Aku memintanya untuk menjaga rumah ini.Untuk biaya perbaikannya,warisan Papa pasti cukup untuk menutupinya sekitar 10 tahun.Tapi...kupikir ini saja tak akan cukup.Aku menduga rumah ini pasti akan dirobohkan.Jadi,Aku ingin melihat rumah ini sebelum itu semua terjadi…』

Yuuki mungkin menggunakan lensa pada probe untuk memperbesar beberapa bagian dari rumah saat telinga kanan Asuna mendengar device pengatur tata letak tampilan mengeluarkan suara kecil.Mendengar suara Yuuki,Asuna yang merasakan perasaan yang campur aduk,mengatakan sesuatu yang ingin dikatakannya.

"Maka...lakukanlah."

『Eh...?』

"Usiamu 15 tahun,kan,Yuuki?Saat usiamu sudah 16 tahun,menikahlah dengan seseorang yang kau sukai.Orang itu bisa terus melindungi rumah ini untukmu...."

Saat ia mengatakan itu,Asuna tersadar kalau ia mengatakan sesuatu yang salah.Jika Yuuki benar-benar menyukai seseorang,orang itu pastinya adalah salah satu anggota laki-laki Sleeping Knight.Dan orang ini juga sedang bertarung melawan penyakit yang sulit untuk disembuhkan,orang lain pasti pernah mengatakan padanya bahwa dia hanya punya beberapa bulan lagi untuk hidup.Jika begitu,bahkan jika Yuuki menikah,situasinya tak akan banyak berubah,dan malahan akan bertambah rumit.Disamping itu,seseorang harus mempertimbangkan situasi dan perasaan anggota yang lain jika itu menyangkut sebuah pernikahan....

Tapi setelah beberapa saat terdiam,ahahahahahaha,Yuuki mulai tertawa.

『Ahahaha, A, Asuna,kamu luar biasa! Aku tahu.Aku tak pernah memikirkan hal itu. U~n mungkin itu ide yang bagus.Jika itu untuk sertifikat pernikahan,aku mungkin akan mencoba menulisnya—tapi sayangnya aku tak punya pasangan (jodoh)~』 Asuna meringis dan bertany pada Yuuki yang masih tertawa,

"Ja,jadi begitu...?Aku perhatikan kalau kamu dan Jun punya hubungan yang baik. "

『Ah,tidak,tidak.Dia masih anak-anak! Oh ya...emm...』

Yuuki tiba-tiba berkata dengan nada jahil,

『Asuna...maukah kamu menikah denganku?』

"Eh..."

『Ah,tapi kamu harus mengikuti marga keluargaku kalau begitu, Asuna, kalau tidak namaku akan menjadi Yuuki Yuuki.』

Fufufufu ketika Yuuki tertawa,Asuna hanya dapat memutar bola matanya dengan bingung.Tiap tahun,media pemberitaan akan melaporkan bahwa Jepang telah siap menerima pernikahan sejenis secara hukum seperti di Amerika,tapi hingga sekarang belun ada undang-undang yang menjelaskan hal tersebut---setelah mendengar hal itu Asuna langsung gemetar,dan Yuuki cekikikan dengan senang sekali lagi,

『Maaf maaf ,aku hanya bercanda.Kamu punya seseorang yang kamu sukai,kan?Orang itu orang yang membantu mengatur lensa untukku,kan....』 "Eh...itu...un, well..."

『Kamu sebaiknya hati-hati~』

"Heh...?"

『Laki-laki itu kelihatannya hidup di dunia yang berbeda dengan dunia nyata,dalam arti yang berbeda denganku.』

"..."

Asuna ingin memikirkan dengan hati-hati apa yang Yuuki maksudkan,tapi otaknya yang bingung tak bisa tenang apapun yang terjadi.Dia mwngusap mukanya yang memerah,Yuuki menggunakan lensany untuk melihat wajah teman disampingnya sebelum berkata dengan suara tegas

『Terima kasih banyak Asuna.Aku sudah bahagia dapat melihat rumah ini lagi.Bahkan jika rumah ini menghilang di masa depan,kenangan tetap akan ada disini.Papa,Mama,nee-chan,kenangan bahagia kita bersama,akan tetap ada disini…』

Asuna tahu bahwa 'disini' yang Yuuki maksud bukanlah tanah tempat rumah ini berdiri,tapi di dalam hatinya.

Keaadan rumah yang lembut dan penuh kedamaian ini akhirnya meninggalakan kesan yang mendalam pada Asuna.Dia mengangguk kuat-kuat,dan Yuuki melanjutkan perkataannya,

『...Jika Aku dan nee-chan menangis karena tidak mampu menyingkirkan rasa sakit dengan pengobatan,Mama akan mengatakan pada kami tentang Tuhan Yesus.Dia bilang Tuhan Yesus tidak akan memberikan kami rasa sakit yang tidak bisa kami menahannya.Dulu,aku agak marah,karena aku tak mau mendengar sesuatu tentang Injil,tapi kata-kata Mama...』

Di waktu yang singkat ini,langit telah sepenuhnya berubah menjadi biru tua,dan bahkan beberapa bintang merah mulai berkedip.

『Tapi,ketika aku melihat rumah ini lagi,Aku mengerti.Mama sebenarnya sedang berbicara denganku sepanjang waktu.Dia tidak mengatakannya dengan kata-katanya...namun dengan hatinya.Dia terus-menerus berdo’a untukku,agar Tuhan mengizinkanku untuk bertahan sampai akhir...Aku sekarang akhirnya mengerti 』

Mata Asuna seperti melihat ibu dan dua orang putrinya berlutut di dekat jendela rumah putih itu,menengadah ke langit dan berdo’a.Dia kelihatannya terbawa oleh suara kalem Yuuki,dan mengatakan kata-kata yang membuat sesak jauh di dalam dirinya.

"Aku....aku...bahkan tak bisa mendengar suara ibuku.Bahkan walau kami saling berhadap hadapan,Aku tak bisa mendengar suara hatinya.Dia bahkan tak pernah sekalipun memahami kata-kata ku.Yuuki,kamu pernah bilang kita terkadang harus menggunakan kekerasan agar orang lain mengerti tujuan kita,kan?Apa yang harus kulakukan agar menjadi sepertimu,Yuuki…?Apa yang harus kulakukan agar aku bisa sekuat dirimu...?"

Bagi Yuuki yang telah kehilangan orang tuanya,kata-kata ini mungkin akan membuka lagi lukanya.Secara normal Asuna akan memikirkan hal ini dan takkan sanggup untuk mengatakannya.Tapi saat ini, sesuatu datang dari melalui probe di bahunya adalah keberanian Yuuki serta kelembutannya yang melelehkan dinding batin Asuna hingga hilang sepenuhnya.

Yuuki menjawab pertanyaan Asuna dengan jawaban bimbang,

『Aku...tidaklah kuat,tahu ?』

"Itu tidak benar.Kamu tidak akan takut pada cara orang-orang memandangmu dan mundur karenanya.Kamu selalu…selalu terlihat natural."

『Un…tapi,ketika aku berada di dunia nyata,aku terkadang bertingkah seperti itu bukanlah diriku.Aku tahu Papa dan Mama begitu menyesal telah melahirkan aku dan nee-chan… Jadi aku harus memberikan pada mereka penampilan yang energik dan berpura-pura bahwa aku tidak terganggu apakah aku sakit atau tidak.Mungkin hanya karena inilah aku bisa memperlihatkan diriku yang seperti ini begitu aku memasuki Medicuboid.Barangkali,Aku alaminya adalah anak kecil yang benci dengan apa yang ada di sekitarku,berteriak dan menjerit-jerit sepanjang hari. 』

"…Yuuki…"

『Tapi setelah itu aku berpikir.Tak apalah bahkan jika ini hanya acting…bahkan jika Aku hanya berpura-pura terlihat kuat,itu tak apa.Jika aku bisa terus meningkatkan waktu dimana aku bisa mempertahankan senyum di wajahku itu sudah cukup.Kamu tahu kalau tak punya banyak waktu lagi….Jadi aku rasa ketika aku berinteraksi dengan orang lain,apakah itu akan menyia-nyiakan waktuku jika aku mencoba menerka-nerka bagaimana perasaan orang lain sepanjang waktu?Semungkinnya juga aku ingin menghadirkan sisi yang paling realistik dari diriku.Tak peduli bahkkan jika aku kemudian dibenci,itu tak apa-apa.Oleh karena itulah,aku bisa diingat di dalam hati orang-orang』

"...Itu benar...karena sikapmu itulah,Yuuki,kita bisa menjadi sahabat dalam beberapa hari saja..."

『Tidak itu bukan karena aku.Itu karena bahkan jika aku melarikan diri,kamu akan tetap bertahan dan mengejarku,Asna.---Kemarin aku melihatmu di ruang observasi,ketika aku mendengar suaramu,aku mengerti maksudmu sepenuhnya. Setelah aku tahu bahwa orang ini masih tetap mau menemuiku bahkan setelah mengetahui bahwa aku sakit…Aku benar-benar..benar-benar bahagia sampai aku menagis haru.』

Yuuki sedikit tercekik,dan ia melanjutkan kata-katanya,

『Jadi…cobalah gunakan perasaan itu untuk berbicara dengan ibumu.Kupikir jika kemauan itu ada,dia pasti akan mengerti apa yang kamu rasakan.Itu akan baik-baik saja.Kamu lebih kuat daripada Aku,Asuna.Sebenarnya,terkadang,kedua belah pihak hanya akan bisa memahami perasaan masing-masing dengan mengabaikan hal-hal lain….Itu karena kamu datang padaku Asuna dan memperlihatkan padaku dirimu yang sebenarnya,jadi aku merasa ‘jika dia orangnya,aku bisa menyerahkan ini semua padamu’ . 』

"...Terima kasih.Terima kasih banyak,Yuuki."

Setelah akhirnya bisa mengeluarkan kata-kata itu,Asuna mengangkat kepalanya untuk menyembunyikan air mata di matanya. Dia juga menemukan bahwa di langit ibukota yang tidak akan sepenuhnya menjadi gelap ini, masih ada beberapa bintang yang berkedip kuat karena mereka berusaha untuk tidak kalah dengan cahaya buatan.

Ketika mereka telah kembali ke stasiun,alarm baterai dari probe tiba-tiba berbunyi.Asunadan Yuuki setuju bertemu saat pelajaran esok hari,dan Asuna memutus power yang menuju ke telepon genggamnya.

Sudah pukul 9 pm ketika Asuna menaiki kereta pulang ke rumahnya di Setagaya.

Gadis itu mendengar suara pintu terbuka yang menggema dengan keras melalui udara dingin membeku dari lorong koridor,dan iapun mendesah dalam-dalam.Pundak kanannya masih merasakan berat dari Yuuki yang duduk disini (yang pasti bukan Yuuki asli :>).Asuna menggunakan tangan kirinya untuk memegang dengan lembut bekas hangat ( tempat dimana probe Yuuki diletakkan ) yang ia tinggalkan,melepas sepatunya dan dengan cepat berjalan ke kamarnya.

Dia mengganti pakaiannya dengar pakaian dalam ruangan dan egera menuju ke koridor.Yang ia tuju adalah ruangan kakak laki-lakinya, Kouichirou,yang ada jauh didalam lantai dua.Asuna merasa bahwa Kouichirou,yang hamper tak pernah dirumah,seperti ayahnya,mungkin belum pulang,tetapi ia ia mengetuk pintu kamarnya,dan seperti yang ia duga tidak ada balasan dari dalam.Dia kemudian membuka kamarnya,sama halnya yang ia lakukan pada hari pertama server SAO mulai beroperasi,dan melangkah masuk.

Tidak ada perabot di dalamnya. Di tengah ruangan yang kosong itu, terdapat meja kantor yang terbilang besar ditempatkan di sana.Sesuatu yang Asuna cari ada di samping kiri dari meja tersebut.Itu adalah Amusphere yang biasa Kouichirou gunakan untuk mengadakan meeting di dunia virtual. Amusphere Kouichirou bisa dibilang lebih baru daripada milik adiknya.Asuna memegang headgearnya dan kembali ke kamarnya.Dia kemudian menginstall memory card dari ALO Aincard ke dalam slot disamping mesin tersebut.Walaupun kemudian ia dive ke dalam kerajaan para peri,Alfheim ,Asuna tidak menggunakan akun utamanya yang familiar,tapi akun cadangan yang akan ia kadang-kadang gunakan ketika ia mencoba menjadi seseorang yang lain.

Sia muncul di ruang tamu dari rumah dalam hutn di lantai 22.Walaupun begitu,tubuhnya bukanlah Undine yang familiar bernama «Asuna» ,namun karakter lain Sylph bernama «Erika».Dia mengecek pakaiannya,memasukkan 2 belati yang ada di pinggangnya ke dadanya, memanggil menu-nya dan menekan tombol perintah log-out sementara.

Setelah beberapa saat diving,Asuna segera menemukan dirinya kembali ke dalam kamarnya di dunia nyata.Dia melepaskan Amusphere,tapi indicator biru yang menandakan tersambung berkedip-kedip pada mesin.Ini mnunjukkan bahwa koneksi ke dunia virtual reality sedang terhenti sementara.Dia bisa segera melewati proses login dan kembali ke dalam game dengan memasang headgear dan menyalakan powernya. Asuna memegang Amusphere kakaknya di tangannya dan segera bangun.Dikarenakan router yang memiliki daya tinggi dan jaringan wireless dengan jangkauan luas,dia bisa tetap terkoneksi tak peduli dimanapun bagian rumah ia berada.

Dia membuka pintu dan tiba di koridor.Kali ini ia melangkah dengan langkah kaki yang bisa dibilang berat untuk menuruni tangga. Dia melihat ke ruang tamu dan ruang makn ,menemukan bahwa mejanya telah dirapikan,dan tak bisa menemukan ibunya dimana-mana.Asuna terus berjalan lebih dalam,dan terlihat cahaya kecil lampu dari bawah pintu di ujung koridor.Itu adalah ruang belajar ibunya Dia berhenti di depan pintu,kemudian mengangkat tangan kanannya seperti ia bersiap akan mengetuknya,tetapi gerakannya terhenti,ia tak bisa meneruskan langkah selanjutnya.

Sejak kapan datang ke ruangan ibuku menjadi hal yang mengerikan begini?Asuna mengigit bibirnya sambil berpikir begitu.Walaupun begitu,alasan kenapa ini menjadi seperti ini sebagian besar karena tingkah Asuna sendiri.Jika ia tak menyatakan yang dipikirkanny secara serius,ibunya tak akan mengerti perasaannya yang sebenarnya.Yuuki-lah yang membuatnya menyadari hal ini.

Gadis itu merasa ada tangan kecil yang mendorong pundak kanannya.Bersamaan dengan itu,sebuah suara berkata,

—Tak apa,Kamu bisa melakukannya, Asuna...

Asuna menganggukan kepalanya secara paksa mengambil napas dalam-dalam, dan kemudian mengetuk pintu keras-keras. Segera,terdengar suara kecil ‘masuklah’ dari balik pintu tersebut. Asuna memutar kenop pintu, membalikkan tubuhnya menyamping untuk masuk ke dalam ruangan,sambil tetap memegang kenop pintu.

Tubuh Kyoko menghadap ke meja dari kayu jati tebal sambil terus mengetik dengan keyboard yang terhubung ke PC di atas meja. Sejenak dia terus mengetik dengan keyboard dengan suara keras,dan kemudian menekan tombol ENTER dengan suara yang lebih keras sebelum menyandarkan punggungnya pada kursinya.Ibu menekan kaca matanya dan melihat kea rah mata putrinya, tampak ia sedang menyembunyikan sebuah ketidaksabaran yang tak terlihat.

"...Kenapa kamu pulang begitu terlambat? "

Kyoko berkata,dan Asuna segera menundukkan kepalanya untuk meminta maaf,

"Maaf"

"Aku telah menyiapkan makan malam.Jika kamu lapar,cari sesuatu untuk kamu makan di dalm kulkas.Surat permohonan perpindahan sekolah yang aku sebutkan sebelumnya hanya akan berlaku sampai besok.Kamu harus menyelesaikannya besok pagi. "

Setelah Kyouko mengatakan hal tersebut,tangannya kembali ke keyboard,dan Asuna mengatakan kata-kata yang ia igin sampaikan pada ibunya terlebih dahulu.

"Bu,tentang hal ini...Aku ingin membicarakannya denganmu."

"Katakan itu disini kalau begitu."

"Aku tak bisa menjelaskannya disini." "Jadi dimana? "

Asuna tidak menjawab pertanyaan itu dan ia melangkah mendekati Kyoko, Dia lalu mengulurkan tangan kirinya,menunjukkan sesuatu yang menggantung di belakangnya---Amusphere yang ada dalam suspend mode.

"Di dunia VR...sebentar saja.Aku harap ibu mau ikut bersamaku ke suatu tempat."

Kyouko menatap cincin perak itu untuk sesaat,kelihatan seperti melihat sesuatu yang di bencinyamia mengerutkan keningnya.Lalu,ia terlihat seperti tak mau mengatakan kata-kata lain sambil mengibaskan tangan kanannya.

"Aku tak mau memakai benda seperti itu.Jika kita bahkan tak bisa berbicara secara langsung dengan bertatap muka,aku tak akan mendengarnya. "

"Kumohon Bu.Lihatlah ini,lima menit saja…."

Normalnya,Asuna akan meminta maaf dan meninggalkan ruangan itu.Akan tetapi ia terus melangkah mendekati Kyouko,sebelum mengatakan,

"Kumohon,ibu harus datang kemari bersamaku jadi aku bisa mengatakan apa yang ada dalam pikiranku dan perasaanku sekarang.Sekali ini saja….Aku ingin Ibu melihat duniaku. "

"...."

Kyuko mengernyitkan dahinya lebih kuat dan tetap menutup mulutnya dan menatap Asuna.Beberapa detik kenudian dia mendesah keras. "---Hanya 5 menit.Juga,tak peduli apa yang kamu katakana,Ibu tidak akan mengizinkanmu untuk tetap belajar di sekolah itu.Setelah kau selesai,kau harus mengisi sura permohonan itu. "

"Okay…"

Asuna mengangguk dan menyerahkan Amusphere yang ada ditangannya.Kyouko mengernyitkan dahinya dan memberikan tatapan seola h ia tak mau menyentuh benda seperti itu,tapi menerima device tersebut dan menaruhnya di kepalanya dengan gerakan yang kaku.

"Bagaimana cara mengoperasikannya?"

Asuna dengan cepat menyesuaikan belt Amusphere,dan kemudian berkata,

"Segera setelah ibu menyalakan powernya,ini akan secara otomatis terkoneksi.Tunggulah aku ketika Ibu sudah masuk. "

Kyouko menganggukan kepalanya pelan dan bersandar pada kursi.Asuna kemudian menekan tombol power di samping kanan Amusphere. Lampu indikator koneksi jaringan terus berkedip secara tak beraturan, dan tubuh Kyouko dengan segera kehilangan kekuatannya.

Auna segera keluar dari ruang belajar,berlari sepanjang koridor dan tangga kembali menuju kamarnya.Ia melompat ke tempat tidur dan segera memasang Amusphere yang biasa ia gunakan,

Setelah menekan tombol power,sebuah cahaya berbentuk garis peluru muncul di depan Asuna,dan kesadarannya meninggalkan dunia nyata. Asuna mendarat di ruang tamu dari kayu putih yang familiar baginya dengan memakai karakter utamanya,Undine <<Asuna>> dan segera ia mencari «Erika».Dia segera melihat sosok yang ia cari.Sylph berambut pendek berwarna hijau rumput terang sedang duduk di depan cermin seukuran badan di samping bufet peralatan makan,melihat pada dirinya sendiri. Asuna mendekat,dan Erika/Kyouko menengok ke belakang dengan pelan.mengernyotkan dahitnya dengan sikap yang sama seperti yang ia lakukan di dunia nyata.

"Rasanya aneh melihat orang dengan wajah yang berbeda melakukan sesuatu berdasarkan kemauanku.Dan…"

Dia menggunakan jari-jarinya untuk berjinjit naik dan turun.

"Tubuhku rasanya ringan sekali."

"Tentu saja.Berat badan karakter ini hanya sekitar 40 kg.Pastinya ada banyak perbedaan dengan berat badanmu di dunia nyata,Bu"

Asuna tersenyum sambil mengatakan hal tersebut,dan Kyouko sekali lagi mengernyitkan dahinya tak senang,

"Tak sopan.Aku tidak terlalu berat seperti yang kau katakan----ngomong-ngomong...wajahmu disini kelihatan sangat mirip wajahmu di dunia nyata."

"Un...yeah."

"Tetapi,sosokmu yang asli kelihatan sedikit lebih gemuk. "

"Kamu yang tidak sopan,bu.Diriku disini sama persis dengan aku yang ada di dunia nyata"

Sambil mereka berdua bertukar kata,Asuna berpikir.Kapan terakhir kali dia bisa berbicara dengan Kyouko seperti sekarang?Dia ingin melanjutkan pembicaraan ini,tapi Kyouko menyilangkan tangannya di depan dadanya,menandakan sikap bahwa tak ada lagi omongan-omongan yang akan menghiburnya.

"Sudah tidak ada waktu lagi.Apa yang ingin kamu perlihatkan padaku? "

"…kemarilah"

Asuna mendesah pelan sambil dia melewati ruang tamu dan membuka ruangan kecil yang biasa dia pakai sebagai gudang.Dia menunggu Kyouko menggerakkan kaki imajiner-nya dan melangkah ke arahnya,membimbingnya ke arah jendela jauh di dalam ruangan. Dari ruang tamu yang menghadap ke selatan,seseorang dapat melihat pemadangan seperti lukisan,termasuk didalamnya terdapat area luas tertutup dengan rerumputan,sebuah jalan kecil,bukit yang bertingkat-tingkat dan sebuah danau kecil di belakangnya.Tetapi akan terlihat sebuah kebun kecil penuh dengan rumput liar dan aliran sungai kecil dari jendela utara,tempat dimana ruang peralatan berada.Ada juga hutan conifer[51] di dekatnya.Tentu saja,pada musim ini,terlihat segala sesuatu terkubur di dalam salju,meninggalkan warna yang seragam sejauh mata memandang. Tapi inilah sesuatu yang ingin Asuna perlihatkan pada Kyouko.

Asuna membuka jendela,melihat jauh ke dalam hutan dan berkata,

"Bagaimana?Apa ibu merasa familiar dengan pemandangan ini? "

Dahi Kyouko kembali mengernyit,menggelengkan kepalanya pelan dan berkata,

"Apa-apaan?itu hanya hutan conifer biasa---"

Apa yang ingin ia katakan berikutnya sepertinya hilang.Mulut Kyoko terlihat setengah menganga seperti ia melihat sebuah pemandangan yang jauh.Saat itu juga,Asuna dengan tenang berbisik di samping wajahnya,

"Ibu ingat....rumah Ojii[52]-chan dan Obaa[53]-chan,kan? "

Kakek dan nenek Asuna,orang tua Kyouko,adalah petani di daerah perbukitan di Perfecture Miyagi.Rumah mereka berlokasi di desa di atas bukit,dan lahan pertanian mereka berbentuk terasiring yang terlihat lahan pertanian mereka seperti pahatan di lereng bukit.Mereka tidak punya mesin untuk membantu pertanian.Hasil utama yang mereka panen adalah padi,tapi jumlah yang dihasilkan dari panen hanya cukup untuk makan keluarga sepanjang tahun.

Dengan keadaan seperti itu,mereka masih bisa membiayai Kyouko bersekolah di perguruan tinggi,itu semua karena bukit hutan conifer yang ditinggalkan oleh nenek moyang mereka.Rumah kayu tua mereka bangun di kaki bukit.Kapanpun seseorang duduk di pinggir koridor rumah,sebuah kebun kecil dan sungai dapat terlihat beserta bukit conifer yang jauh.

Tetapi dibandingkan dengan kediaman utama keluarga Yuuki di Kyoto,Asuna lebih memilih untuk pergi ke rumah kakek-neneknya di Miyagi bahkan sejak ia masih kecil.Selama liburan musim panas atau musim dingin,dia akan merengek pada orang tuanya agar mengajaknya kemari,dan ia akan tidur dengan kakek-neneknya setelah mendengarkan mereka bercerita tentang cerita-cerita dongeng.Selama musim panas,dia akan duduk-duduk di koridor sambil memakan es serut,dan selama pertengahan musim dingin dia akan mengeringkan batang kesemek bersama neneknya.Banyak sekali kenangan disini,tapi ia paling ingat adalah saat ia bersembunyi dibawah kotatsu[54] tua di tengah musim dingin,makan jeruk dan menatap hutan conifer diluar jendela.

Kakek-neneknya tak mengerti apanya yang terlihat bagus dari hutan itu,tapi Asuna yang terlihat seperti jiwanya telah terhisap ke dalam hutan itu, ia terus melihat cabang-cabang hitam di pemandangan yang seputih salju.Dia terlihat seperi tikus kecil yang bersembunyi di lubang galian salju yang menunggu musim semi datang,dikelilingi oleh sedikit rasa takut dan hangat yang sulit dijelaskan sambil ia terus menatap ke dalam hutan conifer itu.

Kakek dan neneknya telah meninggal ketika Asuna masih di kelas dua.Lahan terrasiring dan perbukitan itu semuanya dijual,dan rumah yang tak berpenghuni itu juga akhirnya dirobohkan.

Oleh karena itu,Asuna membeli rumah kayu di lantai 22 Aincrad ini yang terlihat sangat berbeda dengan rumah di bukit Miyagi itu,baik secara fisik maupun virtual.Setelah melihat hutan conifer yang tertutup tumpukan salju besar dari jendela utara,dia merasa sangat rindu kampung halaman sampai ia merasa ingin menangis.

Asuna percaya bahwa Kyouko tidak benar-benar melupakan kehidupannya sebagai petani miskin dulu.Tetapi,ia ingin membiarkan Kyouko melihat pemandangan ini sendiri dari jendela itu.Dia ingin membiarkan ibunya melihat pemandangan yang dulu sehari-hari dilihatnya yang sekarang coba ia lupakan.

Tanpa disadari,waktu 5 menit yang dijanjikan telah berlalu.Kyouko masih saja melihat ke dalam hutan conifer itu sambil terdiam membisu.Asuna mendekatinya dan perlahan berbicara,

Sword Art Online Vol 07 -261.jpeg


"Ibu ingat tidak saat Festival Obon saat aku masih kelas satu SMP? Ayah,Ibu,dan Nii-san semuanya pergi ke Kyoto,dan akulah satu-satunya yang bersikeras untuk pergi ke Miyagi.Jadi akhirnya aku pergi kesana sendirian . "

"...Aku ingat."

"Waktu itu,aku meminta maaf pada Ojii-chan dan Obaa-chan kalau kamu tak benar-benar tak bisa datang,Bu,aku juga berkata bahwa dirimu benar-benar sangat menyesal. "

"Saat itu….keluarga Yuuki ada acara resmi yang harus dihadiri tak peduli apapun yang terjadi…"

"Tidak,Aku tidak menyalahkanmu,Bu.Itu karena….ketika aku meminta maaf,Ojii-chan dan Obaa-chan segera mengeluarkan album foto tebal.Aku benar-benar terkejut ketika pertama kali melihat isinya.—segala sesuatu tentangmu,Bu, apakah itu tesis pertamamu,atau dokimen-dokumen yang kau kirim ke berbagai majalah,laporan-laporan wawancaramu,mereka semua tersimpan secara rapi.Bahkan dokumen-dokumen yang diterbitkan di internet mereka print (cetak) dan tempel di album itu.Tapi harusnya kan mereka berdua tidak bisa menggunakan computer..."

"...."

"Lalu,Ojii-chan memperlihatkan padaku isi dari album foto itu dan mengatakan bahwa Ibu adalah harta karun paling berharga baginya.Dia bahkan bilang kalau dia benar-benar bahagia Ibu bisa meninggalkan kota itu untuk belajar di perguruan tinggi,menjadi sarjana dan menulis semua tesis-tesis ibu sendiri dan tetap belajar sampai Ibu tak bisa pulang saat Festival Obon [55],dan sudah terduga,sekalipun begitu mereka tidak pernah memperlihatkan rasa tidak senang akan hal itu."

Kyouko hanya menatap hutan itu terdiam membisu sambil diamati oleh Asuna,sisi wajahnya tidak menunjukkan sedikitpun emosi,tapi Asuna masih saja meneruskan menggerakan mulutnya,

"Setelah itu,Ojii-chan bahkan menambahkan kata-kata ini ----Ibu mungkin akan merasa lelah suatu hari dan butuh istirahat dan mengecek dari mana ia berasal.Mereka akan melindungi rumah-rumah untuk saat-saat seperti itu….kapan saja Ibu membutuhkan dukungan,mereka masih bisa bilang 'kamu bisa kembali kemari'.Mereka akan selalu melindungi rumah dan bukit ini."

Asuna mengatakan nya sambil pikirannya mengenang rumah kakek-nenek dari pihak ibunya yang sekarang sudah tak ada lagi.Dia kemudian membandingkannya dengan rumah putih yang ia lihat beberapa jam yang lalu.Keduannya adalah rumah yang memiliki ikatan batin kuat dengan penghuninya.Bahkan jika bentuk fisiknya telah tiada,itu kan tetap akan ada di hati beberapa orang selamanya.Bagi Asuna,Rumah dalam Hutan di dunia virtual ini memiliki arti seperti itu.

Rumah ini akan menghilang suatu hari,tapi dalam beberapa aspek,rumah ini tidak akan benar-benar hilang.Itu karena sesuatu yang dikatakan sebagai rumah bukanlah hanya sebuah bangunan yang memiliki bentuk---tapi juga sesuatu yang tetap menyimpan jiwa,perasaan dan jalan hidup seseorang,seperti milik kakek-neneknya.

"---Dulu,aku tidak mengerti apa yang dikatakan Ojii-chan,tapi baru-baru inii,Aku akhirnya bisa memahaminya.Itu bukan hanya tentang mengajariku untuk terus bekerja keras sepanjang hidupku….menggunakan kebahagiaan orang lain sebagai kebahagiaanku juga salah satu jalan hidup. "

Dalam pikiran Asuna terlintas wajah Kirito,Lisbeth dan kawan-kawan,Yuuki,Shiune dan kawan-kawannya. "...Aku ingin memilih jalan hidup dimana orang-orang di sekitarku bisa tersenyum dan hidup bersama.Aku ingin menjalani hidup dimana aku bisa mensupport orang-orang ketika mereka merasa lelah.Karenanya---Aku ingin mempelajari lebih banyak pengetahuan dan hal-hal lain di sekolah tercinta ini. "

Asuna melanjutkan merangkai kata-katanya,dan akhirnya kata-kata tadi yang keluar.

Akan tetapi,Kyouko tetap menutup mulutnya sambil masih tetap melihat hutan yang ada di depannya.Mata hijau gelapnya memperlihatkan cahaya kosong,dan sangat sulit untuk membaca yang ada dalam benaknya.

Ruang kecil ini terselimuti oleh kesunyian untuk beberapa menit kemudian.Di tanah bersalju dibawah pepohonan yang besar,dua binatang kecil yang terlihat seperti kelinci melompat kesana kemari dengan riang.Tatapan Asuna tertarik oleh hal tersebutmtapi ketika melihat kembali wajah Kyouko,dia langsung menahan nafasnya.

Sebentuk air mata mengalir turun dari wajah Kyouko yang sebening Kristal dan terus menetes ke lantai.Bibirnya bergetar,tapi suaranya yang tak beraturan tidak memungkinkan seseorang untuk tahu apa yang sedang dikatakannya.

Beberapa saat kemudian,Kyouko tersadar bahwa dirinya menangis dan dengan bingung ia menggunakan tangannya untuk mengusap air matanya.

"Tunggu...apa ini. Aku,Aku tidak ingin menangis..."

"...Bu,tak mungin kau menyembunyikan air matamu di dunia ini.Tidak ada seorang pun yang mampu untuk tak menangis jika mereka merasakannya. "

"Ini benar-benar tidak nyaman."

Setelah mengeluarkan kata-kata tadi,Kyouko kembali mengusap matanya,dan akhirnya ia menyerah sambil ia menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya.Sesaat kemudian,sebuah suara isak tangis pelan dapat terdengar dari dalam tenggorokannya.Asuna meragu untuk sesaat sebelum akhirnya menaruh tangannya perlahan ke pundak Kyouko yang bergetar.

Pagi berikutnya.

Duduk di depan meja saat sarapan,Kyouko telah kembali ke dirinya semula.Dia melihat surat kabar yang ada di tablet monitor.Asuna mengucapkan selamat pagi padanya,dan keduannya duduk terdiam.Asuna yang telah bersiap secara mental saat ibunya memerintahkannya untuk menyerahkan surat permohonan perpindahan itu.Akan tetapi,Kyouko hanya terus menatap Asuna dengan ekspresi yang lebih tajam dari biasanya,dan tiba-tiba ia berkata,

"Apa kamu sudah siap secara mental untuk mensupport seseorang seumur hidupmu? "

Asuna dengan cepat menganggukan kepalanya.

"U...un."

"---Akan tetapi,kau harus membuat dirimu lebih kuat agar kamu bisa mensupport orang lain.Itulah kenapa kamu harus menyelesaikan pendidikanmu di universitas.Kamu harus mendapat peringkat yang lebih baik daripada sekarang di semester ketiga jadi kamu bisa masuk ke universitas yang terbaik. "

"...Ibu...soal perpindahannya..."

"Bukankah sudah kubilang?Aku akan memutuskanny berdasarkan peringkatmu.Lakukan yang terbaik. "

Setelah Kyouko mengatakannya,dia berdiri dan segera meninggalkan ruang makan.Asuna mendengar suara pintu ditutup dengan keras,dan kemudian ia menundukkan kepalanya pelan,sebelum akhirnya berbisik " Terimakasih,Ibu."

Asuna berganti pakaiannya menjadi seragam,mengambil tasnya,dan bergegas meninggalkan rumahnya dengan tenang dan santai.Akan tetapi,setelah kakinya melangkah keuluar dari pintu,dia mulai berlari dengan kecepatan penuh seolah olah ada lapisan tipis es di jalan itu dan wajahnya secara alami berseri-seri.

Dia benar-benar segera mengatakan pada Kazuto klau diriny bisa tetap belajar di sekolah yang sama dengannya.Dia juga ingin berkata pada Yuuki bahwa dia sudah memperbaiki hubungannya dengan ibunya.

Asuna melewati kerumunan yang berjalan menuju stasiun,dan ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum sepanjang wakktu.

3 hari sesudahnya


Asuna menepati janji yang ia buat dengan Yuuki dan membawa daging besar untuk barbeque di depan rumah dalam hutannya. Yang ikut ambil bagian dalam pesta tersebut adalah teman-temannya , Kirito , Lisbeth , Klein , Lyfa Silica,Shiune dan anggota Sleepng Knight.Bahkan,pemimpin dari suku peri seperti Sakuya,Alicia,Eugene dan para ajudan mereka semua datang.Mereka bahkan membentuk grup berburu kecil untuk memenuhi persediaan agar cukup untuk grup besar ini yang beranggotakan lebih dari 30 orang.

Sebelum mulai memanggang,Asuna terlebih dahulu memperkenalkan anggota Sleeping Knight pada semua orang.Dia menyembunyikan fakta bahwa mereka sekarang mereka sedang terbaring lemah,tapi dengan persetujuan Yuuki dan kawan-kawannya di berkat bahwa mereka adalah pasukan elit yang berkelana dari satu VRMO ke VRMO yang lain dan mereka berharap bisa meninggalkan kenangan di ALO sebelum akhirnya guild mereka dibubarkan.

Rumor yang mengatakan ada Guild Misterius beranggotakan hanya 7 orang yang bisa mengalahkan Boss lantai 27 dan «Absolute Sword» yang telah mengalahkan lebih dari 60 orang dalam duel kelihatannya telah menyebar di Alfheim,jadi Sakuya,Eugene dan yang lainnya mencoba untuk mengundang mereka agar mau ikut dalam pihak mereka.Yuuki tersenyum dan menolak tawaran itu,tapi andai Sleeping Knight benar-benar menjadi tentara bayaran dari salah satu suku peri Alfheim,keseimbangan kekuatan dari 9 suku peri akan goyah,dan itu akan berakibat pada Grand Quest edisi kedua yang sedang berlangsung.

Setelah ucapan selamat yang gaduh dan meriah ,pesta yang riuh seperti badai dimulai.Asun dan Yuuki mulai makan dan minum sambil terus bercakap-cakap.Bahkan diadakan juga diskusi tentang bagaimana mengalahkan boss lantai 28.Semua orang yang penuh antusias akan hal ini berangkat menuju dungeon lantai 28,dan yah seperti itulah,grup besar beranggotan banyak orang menembus sampai Area tertinggi dari Dungeon lantai 28 untuk mengalahkan boss monter besar berjenis crustacean,tapi setelah itu hanya ada obrolan ngalor-ngidul dan menggossip.

Sayangnya,hanya Kirito dan Yuuki,para pemimpin party,dan beberapa nama saja yang terukir dalam Monument of Swordman.Akan tetapi,semua orang setuju untuk membiarkan Sleeping Knight untuk menantang Boss lantai 29,dan setelahnya akhirnya mereka dibubarkan.

Di samping petualanan yang dilaluinya di Alfheim,Yuuki menggunakan probe dua arah di dunia nyata setiap harinya untuk menghadiri pelajaran Asuna,mereka bahkan pernah berkunjung ke kediaman Kirigaya di Kawagoe,dan mereka kadang pergi ke kafe Agil di Okachimachi.

Pada awalnya Yuuki merasa sangat hati-hati, ketika dia bertatap muka dengan Kazuto yang kelewat sensitive.Akan tetapi keduanya sama-sama pengguna pedang satu-tangan dan setelah mereka berbicara satu sama lain Yuuki dengan cepat membuka hatinya dan mulai bercakap-cakap dengan penuh semangat tentang sword skill di ALO dan perkembangan dari probe di dunia nyata.Perbincangan mereka yang seperti tak ada hentinya terkadang menbuat Asuna iri.Anggota lain dari Sleeping Forest juga mulai berteman baik dengan Lisbeth dan Lyfa,mereka mulai merencanakan berbagai aktivitas yang menarik.

Sekarang bulan Februari


Seperti yang sudah dijanjikan Asuna dan Sleeping Forest mengalahkan boss lantai 29 sebagai satu party,dan semua orang di Alfheim mulai mengenal nama mereka.Di pertengahan bulan diadakan Turnamen Duel Bersama,Kirito yang berada di blok timur,dan Yuuki yang ada di blok barat terus menerus mendulang kemenangan dan mencapai babak final,yang mana disiarkan secara langsung oleh net broadcast channel «MMO Stream» meningkatkan atmosfer pertandingan ini sampai pada puncaknya.

Tak terhitung jumlah player yang menahan nafasnya melihat Yuuki dan Kazuto menggunakan sword skill level termasuk OSS mereka,memperlihatkan sebuah pertandingan sengit dan mempesona.Pertarungan telah berlangsung lebih dari 10 menit,dan akhirnya,Yuuki menggunakan skill brilian yang seperrti dewa untuk mengalahkan Kirito dengan serangan beruntun 11 hits.Semua penonton bersorak-sorak dan suara gemuruhnya seperti dapat menggoncang dunia virtual itu sendiri.

Mengalahkan Kirito,yang membuat banyak legenda---walaupun dia tak menggunakan skill Dual Bladenya —«Absolute Sword» Yuuki dimahkotai sebagai juara turnamen yang diadakan untuk keempat kalinya tersebut, dan namanya menyebar di seantero game ALO,menjadi orang terkenal di antara semua user dari Nexus «The Seed» .

Segera setelahnya bulan Maret tiba


Asuna yang menepati janji yang ia buat kepada ibunya dengan menjalani ujian akhirnya,dan sekarang ia menikmati liburan 3 hari 2 malam di Kyoto bersama dengan probe di bahunya,Rika (Liz),Keiko(Silica),Suguha(Lyfa) dan Yui ditelepon genggamnya.Pada poin ini,informasi yang dikumpulkan oleh probe bisa dibagi dengan beberapa user, jadi selain Yuuki, Shiune,Jun dan lainnya bisa ikut bersenang-senang dengan mereka selama liburan.Pengenalan Asuna pada tiap-tiap tempat wisata bahkan menjadi lebih energik Mereka memakai ruangan keluarga Yuuki yang benar-benar luas untuk menginap dimalam hari,dan uang yang telah mereka simpan bisa digunakan untuk memesan tempat di restoran terkenal Kyoto dan berpesta.Akan tetapi rasa dari makanan tak bisa disampaikan melalui semua orang ,Yuuki dan anggota Sleeping Knight lainnya terus menerus mengeluh kalau Asuna dan kawan-kawan benar-benar curang.Asuna hanya bisa berjanji pada mereka akan membuatkan makanan yang memiliki citarasa yang mirip di dunia VR,dan Asuna akhirnya mengurung diri di dapurnya di dunia VR bekerja keras untuk beberapa hari.

Semuanya berlalu bagaikan mimpi.Asuna dan Yuuki melalui perjalanan panjang bersama di dunia nyata maupun dunia virtual.Mereka memiliki banyak tempat yang ingin mereka kunjungi,dan Asuna percaya mereka masih memiliki banyak waktu.

Suatu hari sebelum bulan April,

Angin dingin berhembus dari Laut Okhotsk menyebabkan Kanto mengalami badai salju hebat yang langka terjadi di musim-musim seperti ini.

Salju tebal yang semula menyelimuti hampir semua kehadiran musim semi mulai mencair dibawah sinar matahari yang lemah.

Saat itu juga, Telepon Asuna menerima pesan dari Dokter Kurahashi yang mengabarkan bahwa kondisi Yuuki semakin memburuk.


Bab 11[edit]

Asuna menatap pesan singkat di layar kecil Hand Phone-nya dan mengulang kata – kata yang sama dalam hatinya . Bagaimana ini mungkin terjadi ?

Bagaimana ini mungkin ? Yuuki telah aktif mengambil bagian dalam segala jenis aktivitas , dan Dokter Kurahashi bahkan bilang bahwa tumor di dalam kepalanya telah menghilang . Baru baru ini , telah ada orang yang terinfeksi mampu untuk menahan rintangan virus setelah terinfeksi HIV selama lebih dari 20 tahun . Yuuki baru 15…hidupnya baru akan dimulai ! Kondisinya memburuk , namun sampai sekarang , dia mempunyai beberapa infeksi oportunis yang menyebabkannya jatuh sakit , jadi Yuuki akan dengan pasti dapat bertahan .

Namun Asuna sendiri mempunyai firasat lain . Ini adalah pertama kalinya dokter mengirim sebuah pesan ke dirinya secara langsung . Dengan kata lain , ini mungkin sebuah pemeberitahuan – bahwa saatnya telah tiba . Setiap malam , dia takut akan saat itu , dia akan selalu mencoba sebaik mungkin untuk menghilangkan emosi itu . Sekarang , saat itu telah tiba .


Gadis itu mempunyai dua pemikiran yang saling berseteru sembari dia tetap terpaku di tempat ia berpijak untuk beberapa waktu sebelum berkedip dengan keras dan bersiap untuk mengirim pesan baru . Dia mengirim sebuah surat dengan maksud yang sama ke Kirito , Lisbeth dan teman – teman dan juga Shiune dan yang lainnya . Setelah itu , Asuna dengan segera mengganti pakaian rumahnya , dank arena dia tak mau menghabiskan waktu untuk memilih pakaian , dia secara sistematis mengenakan pakaian sekolahnya . Dia menggunakan sepatunya dan berlari keluar rumah . Cahaya petang yang lembut telah terpantul di salju putih yang tersisa di jalan memasuki mata Asuna .


Hari ini Minggu di minggu terakhir Maret , 2pm . Para pejalan kaki di jalanan tampak seperti mereka sudah tak sabar dan tak dapat menunggu musim semi datang sembari mereka berjalan dengan riang . Asuna melewati mereka dan berlari menuju stasiun . Dia tak dapat mengingat bagaimana dia memastikan dimana keretanya akan pergi atau bahkan kemana dia pergi . Saat dia sadar , Asuna menemukan dirinya sedang berlari ke gantri . Jauh didalam pikirannya , terasa seperti disana ada migren , seraya pikirannya terus muncul dan menghilang . Asuna mengkertakkan giginya dan berkata , “ Yuuki , bertahanlah .” dan berlari ke dalam taxi yang tiba di tempat tunggu .


Tampaknya ketidak sabarannya disadari . Saat Asuna baru akan menjelaskan maksud kedatangannya , sang perawat dengan segera memberikan kartu izin masuk dan memeberitahunya untuk cepar-cepat ke lantai teratas dari bangunan pusat . Asuna dengan tergesa – gesa menunggu nomor yang mengindikasikan nomor lantai naik . Dia dengan kikuk menggunakan kartu izin masuk di scanner pintu keamanan .


-Tapi saat ini , Asuna hanya bisa melebarkan matanya di layar . Disana ada dua pintu berjejer satu sama lain , dan ini mungkin merupakan jalan masuk ke ruang observasi . Jauh di dalam dengan plang penanda besar merupakan ruang steril. Asuna pergi melewati pintu tebal yang besar sebelumnya , dan sekarang , mereka sepenuhnya terbuka . Sembari ia melihat layar di dalam , satu dari petugas medis dalam pakaian bedah berjalan dengan cepat.


Orang itu melihat Asuna dan menggangguk kepadanya , bahkan berbisik “ Mohon cepat”. Ketika sedang didesak dengan suara itu, Asuna dengan gemetar berjalan beberapa langkah ke depan, dan berhenti tepat di depan pintu.


Bagian dalam dari sebuah bangunan putih dengan cepat memasuki penglihatannya.


Banyak alat terpasang di dalam di geser ke dinding bagian kiri. Dua orang perawat dan seorang dokter mengelilingi sebuah kasur gel di tengah – tengah ruangan, memandang ke sebuah sosok kecil di sana. Ketiga orang itu semuanya mengenakan pakaian putih normal. Melihat ini, Asuna segera menyadari-tak ada yang bisa diselesaikan. Mereka hanya bisa menunggu di sebelah kasur itu untuk ‘saat itu’ yang telah semakin dekat.


Dokter Kurahashi menaikkan kepalanya, melihat Asuna ada di sana, dan segara menggapai takan kirinya seakan dia ingin ia mendekat. Asuna berjuang untuk bergerak kaki – kakinya yang seakan tak hidup dan memasuki ruangan. Hanya sedikit jarak ke kasur gel itu, namun ia merasa itu sangat jauh. Asuna mendekat di kenyataan kejam ini, dan akhirnya tiba di sebelah kasur gel itu.


Seorang gadis kurus kering ada di kasur, dan selimut putih menutupi tubuhnya dari leher ke bawah. Dadanya yang lemah tergantung. ECG di puncak pojok kanan menunjukkan sebuah gelombang hijau tipis.


Medicuboid menyamarkan kepala sang gadis ketika ia melihatnya sebelumnya, bangun selaput segi empat sekarang terbelah menjadi dua. Bagian teratas yang terbelah di garis antara telinganya digeser 90 derajat ke belakang. Di bagian dalam ada bagian yang lebih rendah yang merupakan sebuah kepala manusia dan muka seorang perempuan, tertidur dengan matanya tertutup, di pasang di dalamnya.

Ini adalah kali pertama Asuna melihat tubuh Yuuki di dunia nyata. Perempuan yang sakit sangat kurus yang membuat hati sakit, dengan kulitnya nyaris cukup pucat untuk dianggap transparan. Mukanya memiliki sebuah kecantikan misterius, dan bahkan Asuna merasa bahwa ini adalah seperti apa seorang pixie akan terlihat jika benar – benar ada.


Setelah memandangi Yuuki sebentar, Dokter Kurahashi yang berdiri di sampingnya, berbisik.


“Bagus…….kau datang tepat waktu.”


Tak dapat menerima kata – kata seperti itu bahwa ia berhasil datang tepat waktu, Asuna melihat sang dokter, tapi matarasional di belakang lensa menatap balik Asuna secara tulus. Sang dokter berkata lagi, “40 menit yang lalu, jantungnya berhenti sekali. Kami memberinya obat dan sebuah gelombang kejut, dan dia kembali berdetak, namun lain kali…..”


Asuna menahan napasnya dan mengeluarkan suaranya di antara giginya yang di gigit erat. Akan tetapi, ia tak dapat mengatakan kata – kata berarti yang lengkap,


“Mengapa…mengapa ini…..Yuuki, dia masih….”


Sang dokter lagi – lagi menganggukkan kepalanya, dan kemudian menggeleng dengan kuat.


“Sebenarnya, ketika kau disini saat Januari, dia telah di tingkat dimana hal seperti ini akan terjadi. Sifat konsumtif HIV menyebabkan demam tinggi dan lymphoma di system saraf pusat membusuk, dan Yuuki telah dalam bahaya. Namun, kami semua terkejut karena dia dapat bertarung hebat untuk tiga bulan ini. Dia terus menang bahkan di pertarungan keputus asaan. Dia benar – benar telah melakukan yang terbaik…tidak-jika saya benar – benar harus menyebutkannya….”


Di saat ini, suara sang dokter bergoncang.


“Bagi Yuuki, 15 tahun kehidupan merupakan pertarungan yang panjang. Disamping HIV….dia telah bertarung hebat melawan kenyataan dingin dan kejam. Mencoba Medicuboid telah memberinya banyak rasa sakit. Tapi….Yuuki tetap melakukannya. Tanpa bantuannya, ini seperti Medicuboid hanya dapat digunakan setahun lagi atau lebih. Jadi sekarang-ini adalah yang terbaik untuknya beristirahat. “


Mendengar kata – kata sang dokter, Asuna diam – diam berkata pada Yuuki di dalam hatinya, Yuuki-bagaimana bisa kau kalah? Kau adalah <<Absolute Sword>>.....pendekar pedang tak terkalahkan yang dapat memotong apapun. Kamu pasti bisa mengalahkan penyakit dan takdirmu-


Saat itu..

Kepala Yuuki bergerak sedikit. Kelopak matanya bergerak sedikit sebelum bergerak sedikit lebih tinggi. Mata di bawah kelopak mata itu berwarna cokelat mungkin karena kehilangan sinarnya menunjukkan sebuah cahaya terang sembali mereka menatap Asuna. Bibir yang berwarna sama dengan kulitnya bergerenyit lemah, dan tangan kanan kurusnya yang ada di bawah selimut mulai bergetar dan itu perlahan bergerak ke Asuna.

Doktor Kurahashi kemudian bicara dengan suara yang jelas menyadarkannya,

"Asuna-san....tolong genggam tangannya"

Sebelum ia selesai berbicara,Asuna dengan segera menjulurkan tangannya dan mengenggam tangan kanan Yuuki yang kurus .Tangan kanan yang beku seperti memohon sesuatu mendekap kedalam jari-jari Asuna dengan erat.

Saat itu juga,Asuna kelihatan mendapatkan sebuah penglihatan atau semacamnya seolah-olah ia paham apa yang Yuuki ingin katakan. Ia menggenggam tangan Yuuki erat-erat dan mengangkat kepalanya untuk bertanya pada Dokter Kurahashi,

“Dokter...bisakah kita menggunakan Medicuboid sekarang?“

"Eh—itu bisa dilakukan sekali kita menyalakannya....tapi....Yuuki bukannya berharap bertemu di luar mesin itu... "

"Tidak,Yuuki berharap bisa kembali lagi ke dunia itu sekali lagi.Aku bisa memahami perasaannya.Kumohon....biarkan dia memakai Medicuboid lagi! "


Dokter menatap sejenak wajah Asuna sebelum akhirnya menyetujui permintaannya.Dia memberi beberapa instruksi kepada perawat di sampingnya,dan kemudian memegang pegangan disamping Medicuboid sebelum akhirnya memasangkannya diatas kepala Yuuki.


“Butuh waktu sekitar 1 menit untuk mengaktifkannya...bagaimana denganmu?“

“Aku akan memakai Amusphere yanga ada di ruangan sebelah!“

Asuna mengatakan itu sambil mengenggam erat tangan Yuuki sebelum meletakkannya kembali di samping gadis yang tergolek lemah itu.Setelah Bergumam Tunggu aku,aku akan segera kesana—dia bangkit dan pergi.


Asuna berlari keluar dari ruangan steril dan sampai di ruangan monitoring disampingnya.Membuka pintu,Ia melompat menuju salah satu dari tempat duduk yang tersedia meraih Amusphere dari tempatnya dan memasangkannya di kepalanya.Dia menyalakannya dan menunggu rangkaian peluncuran untuk memulai,tapi hatinya telah sampai di sisi lainnya.


Terbangun di rumah dalam hutan,Asuna melompat keluar dari jendela disamping kamar sama seperti yang ia lakukan ketika ia login dari rumah sakit,dan bergerak menuju jalanan utama.Sambil terbang itu,dia membuka window-nya dan segera mengirim pesan kepada Lisbeth,Shiune dan yang lainnya yang sudah diberitahunya untuk login lebih dulu untuk berjaga-jaga.


Dengan terburu-buru menuju Transfer Gate,Asuna berpindah menuju Panareze tanpa ragu.Saat ia tiba di kota diatas danau,dia bergerak menuju pulau yang berada jauh di tengah danau.Tentu saja,tujuan akhirnya tentu saja adalah pohon besar tempat mereka bertemu pertama kali.


Saat ini,sudah malam di Aincrad.Cahaya matahari yang tenggelam ufuk membuat air danau berwarna keemasan memantukan cahayanya.Asuna seperti dipandu oleh cahaya ini dan dia terbang di langit di atas pulau sebelum akhirnya mendarat segera di padang rumput yang lembut.


Ia tak perlu mencari berkeliling di sekitar pepohonan.Yuuki berdiri di tempat dimana mereka berdua bertarung untuk pertama kalinya.Apa terjadi di hari itu terlihat seperti telah di putuskan sejak dulu.Rambut panjang keunguan yang menebar perasaan dingin ke udara,dan gadis Imp perlahan menoleh ke belakang,dia langgsung tersenyum melihat Asuna mendekat,dan Asuna membalas senyumannya.


"Terima kasih,Asuna.Aku melupakan sesuatu yang penting.Aku punya sesuatu yang harus aku kembalikan,jadi tak peduli apa yang terjadi,aku harus menemuimu disini."

Suaranya begitu ceria seperti biasanya,namun terdengar agak gemetar.Asuna merasa bahwa Yuuki telah menggunakan semua kekuatannya untuk mencoba bicara.

Walaupun begitu,Asuna bertanya kembali dengan nada ceria sambil berjalan mendekati Yuuki.


"Apa yang ingin kamu berikan padaku?"

"E-rm...Aku akan membuatnya sekarang.Tunggulah."


Yuuki tersenyum dan memanggil keluar Window-nya dan mengoperasikannya dengan lihai.Setelah membuat Window-nya menghilang,Dia menggunakan tangan kanannya dan mengeluarkan pedang di pinggangnya dengan bunyi yang keras.

Pedang obsidian Yuuki mengeluarkan sinar merah seperti nyala api di bawah matahari terbenam yang bercahaya kemerahan.Dia menggerakkan pedangnya ke depan dan menghunuskannya pada batang pohon besar di depannya,Menjaga posisi seperti ini sampai ia benar-benar tenang seperti hendak memfokuskan sisa-sisa kekuatannya pada ujung pedang.

Sisi wajah Yuuki bergetar dalam rasa sakit.Tubuh bagian atasnya sedikit bergoncang,tapi kakinya kemudian melebar,berusaha keras untuk menopang tubuhnya.

Asuna benar-benar ingin berkata bahwa Yuuki tak perlu memaksakan dirinya,tapi ia memutuskan untuk menggigit bibirnya dan menunggu.Tiba-tiba,angin berhembus meniup rerumputan.Bersama dengan berhentinya hembusan angin Yuuki tiba-tiba bergerak.

"HYAAA!!!!“


Tangan kanan gadis itu berayun diikuti teriakan mengejutkan.Ujung dari pedangnya meninggalkan 5 bekas tikaman dari ujung kanan atas sampai ujung kiri bawah batang pohon dengan kecepatan dimana mata telanjang tak dapat melihatnya.Setiap tikaman yang dibuat oleh terjangan skill tadi,membuat suara sangat keras pada batangnya dan pohon yang menjulang tinggi itu terus menerus bergetar.Jika pohon adalah sesuatu yang bisa dihancurkan,pasti itu sudah terpotong menjadi dua sekarang.

Setelah meluncurkan skill sergapan 10 strikes,Yuuki menggunakan kekuatan di seluruh tubuhnya untuk menarik kembali pedangnya ke belakang dan memukul titik potongnya.Cahaya silau biru-keunguan meledak di sekitarnya,dan rumput di samping kakinya tertiup ke belakang,terlihat seperti mereka terdorong oleh sesuatu.

Bersamaan dengan berhentinya badai yang menggila,Yuuki,yang menikamkan pedangnya ke batang pohon,kembali ke posisi semulanya.Seketika,muncul puncak kecil dari tengah ujung pedangnya.Puncak itu berputar dan melebar,dan sebuah perkamen persegi termaterialisasi dari permukaan cabang.Setelah puncak tadi mengeluarkan kilauan biru yang berpindah ke perkamen,perkamen tersebut mengulung dari atas ke bawah.

Yuuki menyimpan pedangnya,dan sebuah gulungan sempurna mengambang di udara.Dia secara perlahan menjulurkan tangan kirinya dan meraihnya. Pedang di tangan kanan gadis itu terjatuh ke rerumputan,sambil mengeluarkan bunyi "Ka-yan". Tubuh Yuuki terguncang sedikit dan terhuyung ke belakang,Asuna segera berlari ke arahnya untuk membantu menopang tubuhnya.Mereka berdua jatuh terduduk karena hal tersebut,dan Asuna menggunakan kedua lengannya untuk memeluk tubuh kecil Yuuki.
"Aneh....aku tak pernah merasakan penderitaan atau kesedihan,aku hanya merasa lemah... "
Asuna tersenyum membalasnya dan berkata,
"Tak apa.Kamu hanya kelelahan.Istirahatlah sebentar dan kamu akan segera pulih. "
"Un...Asuna...terimalah ini...ini adalah....OSS-ku... "
Suara ini sangat berbeda dari yang sebelumnya.Tergagap-gagap dan gemetaran di saat yang sama.Satu-satunya organ Yuuki yang tersisa,dimana kesadarannya berkumpul,hampir memudar.Hal ini membuat Asuna sesuatu seperti meledak di dalam dirinya,tapi dia masih menahan emosinya tetap terjaga sambil tersenyum dan berkata,


"Apa kamu benar-benar mau menyerahkan ini padaku...? "
"Kuharap...kamu mau menerimanya...Asuna...ini...bukalah Window-mu... "
"..Un"
Asuna mengibaskan tangannya, memanggil window-nya dan membuka setting menu untuk OSS.Yuuki mengangkat tangan gemetarannya dan menyentuhkan gulungan kecil yang ia pegang ke permukaan Window.Setelah gulungan tadi menghilang bersama cahaya,Yuuki mendesah dengan sikap puas dan menurunkan tangannya.Dia tersenyum lembut dan terlihat mendesah sambil bergumam,


"Nama...dari skill ini...adalah <<Mother Rosario>>...setidaknya...ini bisa ...membantuku....melindungi Asuna "


Mendengar kata-kata itu,air mata Asuna akhirnya jatuh ke dada Yuuki,tapi ia masih tersenyum dan berbicara dengan suara yang jelas,


"Terima kasih Yuuki—Aku berjanji padamu,jika aku harus meninggalkan dunia ini suatu hari,Aku pasti mewariskan Sword Skil ini kepada orang lain.Pedangmu...akan hidup selamanya."


"Un,,,terima kasih... "


Yuuki menganggukan kepalanya.Mata berwarna amethyst-nya mengeluarkan sesuatu yang berkilauan.Pada momen ini,terdengar gemuruh,atau bisa dibilang,suara benda terbang mendekat.Terdengar juga suara sepatu mendarat di rerumputan di sekitar Asuna dan Yuuki.Saat mereka melihat ke atas,ada 5 orang, Jun,Thatch,Taruken,Nori dan Shiune,mereka semua terbang mendekat dan berlari menghampiri mereka. Mereka membentuk formasi setengah lingkaran di sekitar Yuuki dan berlutut.Yuuki melihat sekelilingnya dan menunjukkan tatapan kesuasahan.


"Ada apa dengan semua orang...bukannya kita sudah,mengucapkan kata perpisahan sebelumnya..Sudah kubilang pada kalian kan,janji untuk tidak mengucapkan kata-kata perpisahan di saat-saat terakhir.. "

"Kami disini bukan untuk mengantarkanmu pergi.Kami disini untuk menghiburmu.Jika ketua kami menghancurkan dunia setelah dunia ini karena kami tidak ada disini,kami akan benar-benar merasa bersalah! "


Jun tersenyum dengan apa yang dikatakannya.Tangan kanannya yang tertutup sarung tangan merah tembaga menggenggam tangan kanan Yuuki sambil melanjutkan kata-katanya,


"Jangan lari seperti kamu pikir aku tak bisa menemukanmu.Aku pasti segera menemukanmu."


"Apa...yang kau katakan..itu terlalu tiba-tiba...Aku akan marah...tahu... "


Membuat suara chi chi‘ dengan lidahnya,Noria dengan ceria berkata,


"Itu tak akan terjadi.Jika kami tak ada di sampingmu,kau takkan sanggup melakukan apa-apa,ketua.Tunggulah disini...tunggulah kami... " Ekspresi Wajah Nori tiba-tiba berubah,Air mata mulai mengalir dari mata hitam besarnya.Kemudian,dia membuat 2,3 sesengukan dari dalam tenggorokannya yang tak bisa ia tahan lagi.


"Itu takkan terjadi...Nori...kamu sudah berjanji untuk tidak menangis,ya kan... "


Sambil tersenyum dan menyela,wajah Shiune menunjukan dua garis dari sesuatu yang jelas itu adalah air mata.Thatch dan Taruken tak punya alasan lagi menyembunyikan air mata mereka sambil mereka menggenggam tangan Yuuki.


Yuuki sekali lagi menatap wajah mereka berempat,kemudian tersenyum sambil berlinangan air mata dan berkata pada mereka,


"Kalian benar-benar...Aku akan menunggu disini....untuk kalian semua...luangkan waktu kalian dan datanglah kemari...tak apa-apakan... "


Ke-enam anggota Sleeping Knight menyilangkan dan menumpangkan tangan mereka diatas tangan yang lain dan terlihat mereka berjanji untuk berkumpul kembali sebelum kemudian menganggukan kepala mereka dengan kencang.Segera setelah Shiune dan teman-temannya berdiri,beberapa kepakan sayap terdengar mendekat.


Yang muncul adalah Kirito,Yui,Lisbeth,dan Silica.Mereka semua mendarat dan mengikuti yang lain berkumpul di sekeliling Yuuki,kemudian menggenggam tangan Yuuki erat-erat.


Asuna yang memeluk Yuuki melihat semuannya dengan berlinangan air mata.Tiba-tiba,ia menyadari sesuatu.Segera setelah Kirito dan yang lain berhenti,masih terdengar suara dari kepakan sayap dan tidak hanya satu.Suara sayap dari semua jenis suku peri saling tumpang tindih,membentuk gema besar yang terdengar seperti suara organ.


Asuna,Yuuki,Shiune,Lisbeth dan teman-temannya semua melihat ke langit.Mereka melihat sebuah pita besar yang menuju ke arah Panareze. Beberapa player terbang dalam satu garis lurus.Seseorang yang berada di barisan paling depan adalah Raja Sylphs,Sakuya yang mengenakan mantel yang berkibar tertiup angin.Disampingnya ada para Sylphs yang mengenakan kemeja dengan corak yang bermacam-macam.Menilik dari jumlahnya,kelihatannya semua Sylphs yang tengah login datang kemari.


Tidak—bukan hanya dari jalanan utama.Dari segala arah di sekitarnya,banyak pita yang datang menuju pulau ini.Pita merah menandakan Salamender,dan Kuning pastinya mewakili Cait Sith.Juga ada Imp,Gnome,Undine...dan semua jenis organisasi player dari tiap-tiap suku peri terbang menuju pohon besar ini.Ada sekitar 500...tidak,lebih dari 1000 orang. Yuuki melihat dengan mata terbelalak dalam dekapan lengan Asuna dan mengeluarkan teriakan takjub.


"Uwahhh...menakjubkan...banyak sekali peri..."


Asuna tersenyum dan berbicara padanya


"Maaf,kau benci mengerahkan banyak orang seperti ini,Yuuki...tapi aku meminta Lisbeth untuk memanggil mereka kemari"


"Kenapa aku....itu konyol...tapi,kenapa ada banyak orang disini...ini seperti...mimpi... "


Yuuki bergumam sambil terengah-engah,dan para pendekar pedang yang datang dari langit diatas pulau mengeluarkan suara seperti air terjun ketika mereka turun.Sakuya dan Alicia serta para pemimpin dari organisasi berkumpul diluar, mengelilingi Asuna dan kawan-kawan,kemudian mereka berlutut dengan satu kaki sembari menundukkan kepala.Pulau ini bukanlah pulau yang luas,dan sekarang sudah dipenuhi oleh para player. Asuna menatap mata Yuuli dan mencoba untuk mengekspresikan emosi di dalam hatinya ke dalam kata-kata.


"Ka…karena…"


Air matanya menetes kembali.


"Yuuki…kau pernah menjadi pendekar pedang terkuat di dunia ini…dan tak akan ada lagi pendekar pedang yang sepertimu di dunia ini.Aku benar-benar tak biasa membiarkanmu pergi sendirian seperti itu…semua orang,semua orang mendoa’akanmu….berharap agar perjalananmu yang baru akan sama sempurnanya dengan yang satu ini…"


Yuuki mengangkat lehernya dan melihat pada pendekar-pendekar pedang di sekelilingnya sebelum kemudian menyandarkan kepalanya di lengan Asuna.


Yuuki menutup matanya,dan dadanya yang rata mengembang dan mengempis beberapa kali.Dia menggunakan mata ungunya untuk menatap Asuna sekali lagi.Dia kemudian bernafas dengan keras,terlihat seperti memeras tenaga terakhirnya untuk keluar dan melanjutkan dengan suara yang terputus-putus.


" Aku selalu…selalu berpikir,kalau aku,yang selalu berhadapan dengan kematian bahkan sejak aku lahir….apa sebenarnya arti kehidupan di dunia ini…Aku tidak bisa menciptakan apapun di dunia ini,dan aku juga tak bisa membantu oarng lain…aku hanya bisa menghabiskan obat-obatan dan peralatan yang tak terhitung jumlahnya….Aku terganggu dengan itu,sakit…jika aku akhirnya harus menghilang….biarkan saja aku menghilang…aku telah memikirnya beberapa kali…aku hanya merasa…kenapa aku harus terlahir di dunia ini…"


Sisa-sisa kehidupan merembes keluar dari tubuh Yuuki.Tubuh mungil di lengan Asuna perlahan-lahan menjadi sedikit lebih ringan dan sedikit lebih transparan.Suara Yuuki menjadi lebih lemah dan lemah seperti akan segera berhenti.Walaupun begitu,tak ada bahasa yang dapat menggambarkan itu semua jauh di dalam jiwa Asuna.


"Tetapi…tetapi..aku akhirnya mendapat jawaban…bahkan…jika itu tak ada artinya..jika aku bisa hidup…itu sudah cukup…pada akhirnya…aku dapat benar-benar merasakan…begitu berarti…begitu banyak orang…mengelilingiku..dan aku berbaring…di lengan orang yang paling kucintai…sambil aku menunggu di tempat pemberhentian akhir kisah perjalananku…"


Kata-kata Yuuki berhenti dengan engahan pendek.Matanya terlihat seperti melihat Asuna dan menuju tempat nan jauh.Apa yang ia lihat adalah dunia nyata yang lain—sebuah pulau peri sungguhan dimana jiwa-jiwa dari pahlawan beristirahat?

Sword Art Online Vol 07 -288.jpeg

Asuna tak bisa menahan lagi air mata yang menetes.Tetesan air mata terus menerus jatuh ke dada Yuuki,hancur menjadi partikel-partikel cahaya dan menghilang.Walaupun begitu mulutnya tersenyum secara natural.menganggukan kepalanya dengan keras dan mengatakan kata-kata terakhirnya pada Yuuki,


"Aku…aku pasti akan menemuimu lagi.Bahkan jika itu entah dimana,di dunia yang lain,aku akan menemuimu lagi….pada saat itu…kamu harus mengatakan padaku…apa yang kamu temukan disitu… "


Mata ungu Yuuki bertemu dengan tatapan Asuna.Jauh di didalam matanya,terdapat sinar dari energy dan keberanian tanpa akhir yang dilihat Asuna lihat saat dia bertemu Yuuki untuk pertama kalinya.Sinar yang langsung membentuk dua tetes air mata yang mengalir,turun ke wajah pucat Yuuki dan akhirnya melebur dan lenyap kedalam cahaya.


Dia mengerakkan bibirnya dan membuat sebuah senyuman.Saat itu juga,sebuah suara merasuk ke dalam kesadaran Asuna secara langsung.


Aku mencoba melakukan yang terbaik untuk hidup….Disini,Aku benar-benar hidup….


Bersamaan dengan mendaratnya butiran salju terakhir di tanah tertutup salju putih bersih <<Absolut Sword>> Yuuki menutup matanya.


Bab 12[edit]

Sentuhan kecil di bahu kanan seragamnya menyebabkan Asuna untuk berpaling, itu adalah kelopak sakura di atasnya.

Gadis itu menggunakan jari tangan kirinya untuk menyentuhnya. Itu adalah kelopak berbentuk oval tanpa noda di atasnya, tampak seolah-olah itu ingin menunjukkan sesuatu karena terus bergerak. Akhirnya melayang dengan angin dan menghilang di antara bintik-bintik putih yang menari di udara. Menaruh kembali tangannya ke lututnya, Asuna kembali menatap langit musim semi yang agak kabur.

Sekarang adalah hari Sabtu pertama bulan April, jam 3 sore.

Sudah seminggu sejak Yuuki meninggal, dan pemakamannya baru saja berakhir.

Lokasi pemakaman berada di sebuah gereja Kristen yang dikelilingi oleh pohon-pohon sakura di wilayah perbukitan Hodogaya, Kabupaten Yokohama, dan kelopak yang mulai jatuh itu tampak seperti mereka mengantar kepergian Yuuki, namun, pemakaman itu sendiri jauh dari kata 'khusyuk. Termasuk bibi, yang sedang berkabung, hanya ada empat kerabat yang menghadiri acara pemakaman. Namun, ada lebih dari 100 pemuda yang mengaku menjadi teman Yuuki. Tentu saja, orang-orang diusia remaja dan usia dua puluhan itu semua pemain ALO. Para kerabat yang menerima tamu mungkin berpikir bahwa Yuuki tidak memiliki banyak teman karena ia telah dirawat di rumah sakit selama lebih dari 3 tahun, dan tampaknya benar-benar terkejut dengan jumlah yang hadir.

Setelah pemakaman berakhir, semua orang di halaman besar di depan gereja membahas insiden «Absolute Sword», namun Asuna tidak bisa bersama-sama dengan orang-orang untuk beberapa alasan, dan dia diam-diam pergi untuk mencari bangku di belakang bayang-bayang gereja saat ia menatap langit sendirian.

Yuuki telah meninggalkan dunia ini—Yuuki yang menyapa melalui alat di bahunya, Yuuki yang tersenyum saat melihat Asuna memasak di rumah hutan, telah pergi ke tempat yang jauh dan tidak akan pernah kembali. Sampai sekarang, Asuna tidak bisa menerima kenyataan ini. Gadis ini tidak menangis lagi, tapi apakah itu di tengah-tengah kerumunan berisik, di sudut kafe, atau di Alfheim, hatinya berlari setiap kali ia pikir ia mendengar suara Yuuki.

Selama beberapa hari terakhir, Asuna telah berpikir tentang apa sebenarnya dari «kehidupan».

Semua bentuk kehidupan adalah instrumen transfer gen yang ada untuk meningkatkan peluang kelangsungan keturunan mereka sendiri di masa depan. Puluhan tahun lalu, pepatah ini tampaknya telah menyebabkan keributan. Jika dipandang hanya melalui titik ini, bahkan orang-orang yang menderita HIV di sedemikian usia, kurangnya sistem kekebalan tubuh atau sesuatu yang serupa hanya akan dianggap sebagai bentuk kehidupan belaka. Namun, virus ini akan terus berkembang biak dan menggandakan dirinya sendiri sampai mengambil nyawa Yuuki inangnya, menyebabkan kematiannya.

Jika salah satu berpikir dengan cara lain, manusia telah melakukan hal yang sama selama ribuan tahun. Mereka mengambil nyawa orang lain untuk keuntungan mereka sendiri, mereka mengorbankan negara-negara lain untuk memastikan keamanan negara mereka sendiri. Bahkan ketika dia menatap langit, dia bisa melihat formasi jet tempur terbang dari pangkalan udara Atsugi ke tempat yang tidak diketahui, mengeluarkan jejak[56] putih di sisi lain pemandangan musim semi. Akankah suatu hari manusia menghancurkan dunia mereka seperti virus ini? Atau mereka akan dikalahkan oleh beberapa organisme dengan kecerdasan yang lebih tinggi dan harus dibuang ...?

Kata-kata terakhir Yuuki masih bergema di telinga Asuna. Dia berkata bahwa dia tidak bisa membuat apapun di dunia ini, dan tidak bisa memberi bantuan kepada orang lain―Yuuki sendiri tidak meninggalkan keturunan saat ia meninggalkan dunia ini.

Namun, batin Asuna bergerak saat ia menyentuh simpul kupu-kupu pada seragamnya. Yuuki pernah melakukan hal serupa yang meninggalkan bekas yang tak dapat dihapus di dalam hatinya yang dalam. Jiwa «Absolute Sword» dan jiwa heroik yang menantang kesulitan besar ini terus hidup dalam hati Asuna. Para pemuda yang hadir berjumlah lebih dari 100, dan mereka memiliki pikiran yang sama seperti Asuna. Bahkan saat kenangan memudar dengan waktu, bahkan saat kenangan mengkristal, akan ada sesuatu dalam hati semua orang.

Dalam hal ini, hidup itu bukan hanya penyaluran dari 4 basis[57]. Ini adalah sesuatu yang bisa menampung kenangan, pikiran dan jiwa yang tidak memiliki tubuh fisik. Di masa depan yang jauh, jika manusia benar-benar bisa membuat jiwa yang lengkap melalui meme[58] atau keadaan tak pasti di mana otak meniru virus, kehidupan kemanusiaan yang tidak lengkap ini dapat menggunakan ini untuk mencegah kepunahan mereka sendiri—

Hingga hari itu tiba, aku harus menggunakan cara yang aku bisa untuk menyalurkan jiwa Yuuki. Ketika aku punya anak, aku akan terus menjelaskan kejadian ini kepada mereka, aku akan membiarkan mereka tahu bahwa dalam kesenjangan antara realitas dan dunia maya, seorang gadis mungil ajaib seperti layaknya bersinar.

Asuna bergumam pada dirinya sendiri jauh di dalam hatinya, dan kemudian diam-diam membuka mata yang dia tak tahu telah dia tutup.

Dia melihat sosok datang dari sudut bangunan di depan teras, dan buru-buru menggunakan jari-jarinya untuk mengusap air mata di matanya.

Itu seorang wanita. Asuna merasa bahwa dia bertemu sebelumnya di suatu tempat, tetapi tidak memiliki ingatan apapun pada wajah itu sama sekali. Tubuh wanita itu sedikit tinggi, dan dia tampak mengenakan baju one-piece hitam sederhana dengan selendang menutupi bahunya. Dia memiliki rambut sebahu berwarna hitam, dan kalung perak di depan dadanya yang merupakan ornamen satu-satunya yang ada dirinya. Dia tampak seperti dia berada di usia dua puluhan.

Wanita itu menuju ke Asuna dan akhirnya berhenti sedikit di depannya sebelum membungkuk. Asuna segera berdiri, dan ketika ia mengangkat kepalanya, kulit wanita yang tampak transparan terlihat oleh matanya. Kulit putih pucat mengingatkan Asuna pada dirinya ketika dia terbangun dari tidur panjangnya. Melihat dari dekat, orang bisa mengatakan bahwa leher wanita yang terlihat dari selendang itu seramping pergelangan tangannya dan tampak seperti akan pecah dengan satu sentuhan.

Wanita itu menatap wajah Asuna tanpa berkata-kata untuk sementara waktu, dan kemudian, mata yang berbentuk indah itu saat ini menunjukkan ekspresi lembut seperti bibirnya yang menunjukkan sedikit senyum.

"Apakah kamu Asuna-san? Kamu twelihat seperti yang ada dunia virtual. Aku mengenali kamu saat pandangan pertama."

Mendengar kata-kata tenang dan bijak itu, Asuna segera menebak siapa wanita di depannya itu.

"Ah ... kamu, Shiune-san ...?"

"Ehh, itu benar. Nama asliku adalah An Shi En. Senang bertemu denganmu ... dan lama tidak bertemu."

"Se, senang bertemu denganmu untuk pertama kalinya! Aku Yuuki Asuna. Kita tak bertemu selama seminggu. "

Setelah ucapan yang agak canggung, mereka berdua mulai tertawa. Asuna menggunakan tangan kirinya untuk menunjukkan untuk Shi En duduk di bangku, dan dia duduk di sampingnya.

Pada saat ini, Asuna melihat sesuatu. Semua anggota Sleeping Knight itu mungkin pasien yang terserang penyakit dan butuh perawatan di rumah sakit. Apakah itu tak apa baginya untuk keluar sendiri seperti itu ...?

Shi En tampaknya memperhatikan keprihatinan Asuna saat ia mengangguk kepalanya sedikit sebelum berkata,

"Jangan khawatir. Aku akhirnya mendapat izin untuk pergi keluar selama April. Adikku datang bersama denganku juga, tapi aku ingin dia menungguku di luar. "

"... Kemudian ... tubuhmu sudah ...?"

"Ya ... aku punya lymphoblastic leukemia[59] akut ... dengan kata lain, leukemia di dalam tubuhku menghilang ... Aku mengalami itu tiga tahun yang lalu, dan aku dibebaskan setelah menjalani kemoterapi ... Tapi aku jatuh sakit lagi tahun lalu ... setelah kambuh, dokter menunjukkan bahwa satu-satunya pengobatan yang efektif adalah transplantasi sumsum tulang. Tapi sel darah putih anggota keluargaku tidak cocok denganku ... dan bank tulang tidak memiliki donor yang cocok bagi aku. Aku sudah siap secara mental dan memutuskan untuk memanfaatkan sisa waktuku ... "

Shi En berhenti untuk sementara waktu dan melihat bunga-bunga sakura di atas. Angin pusaran kecil menerbangkan beberapa kelopak bunga dan membuat mereka menari seperti kepingan salju.

"—Ketika penyakitku kambuh, aku tak bisa menjalani transplantasi sumsum tulang, dan diberikan segala macam obat-obatan dan kemoterapi untuk memperingan rasa sakit. Tetapi karena terlalu banyak menggunakan obat percobaan dan obat baru, efek sampingnya benar-benar serius... efek sampingnya benar-benar kuat sehingga aku sempat berpikir untuk menyerah berberapa kali. Aku mengatakan kepada dokter berkali-kali sebelum itu jika ada harapan, biarkan aku di-kemoterapi sehingga aku bisa pergi melalui saat-saat terakhirku..."

Asuna tiba-tiba melihat bahwa rambut Shi En yang bergoyang dengan bunga sakura sebenarnya wig.

"Tapi ... setiap kali aku bertemu Yuuki, aku berpikir agar tidak mudah menyerah. Yuuki telah berjuang dengan rasa sakit yang sama selama 15 tahun, dan bagaimana aku bisa, seseorang yang lebih tua dari dia, menyerah setelah hanya tiga tahun pengobatan? Aku terus mengatakan pada diriku sendiri ini—namun, jumlah obat turun perlahan-lahan sejak Februari tahun ini...dan dokter mengatakan kepadaku bahwa kondisiku membaik. Namun, aku hanya merasa dalam hatiku saat itu akhirnya datang. Mereka mengubah pengobatanku dari jenis kemoterapi penyelamatan ke pengobatan yang lebih umum. Aku benar-benar takut...dan belum merasa nyaman. Aku tahu tentang kondisi Yuuki, jadi aku merasa...jika itu Yuuki dengan aku, tidak peduli bahkan jika aku pergi ke dunia lain. Tidak peduli di mana aku pergi, dia akan melindungiku...itu lucu, bukan? Yuuki lebih muda daripada aku, namun aku mengandalkannya begitu banyak..."

"Tidak ... Aku bisa mengerti."

Asuna menjawab dengan sederhana dan mengangguk kepalanya. Shi En kemudian tersenyum dan mengangguk saat ia melanjutkan,

"—Pada akhirnya...seminggu yang lalu, hari berikutnya setelah aku mengucapkan selamat tinggal kepada Yuuki, dokter datang ke kamarku ...dan mengatakan bahwa aku telah pulih sepenuhnya...leukemia di dalam tubuhku telah hilang, dan aku bisa pulang. Aku bertanya-tanya omong kosong apa yang dia ucapkan, apakah ia hanya membiarkan aku kembali untuk bertemu keluargaku dan mengatakan selamat tinggal? Aku bertanya-tanya tentang itu...dan di tengah-tengah kebingungan, aku benar-benar pulang dua hari kemudian. Kemarin, aku bahkan merasa bahwa aku dapat disembuhkan. Aku mendengar bahwa obat percobaan tertentu benar-benar efektif ... "

Shi En kembali berhenti untuk berberapa saat, dan senyumnya itu dipelintir dengan ekspresi yang agak berkaca-kaca.

"Tapi, aku hanya merasa bahwa sesuatu tidak terasa benar. Waktu ini telah diberikan kepadaku ketika aku merasa bahwa itu sudah lama hilang, dan hanya untuk menggangguku. Dan...dan Yuuki, ini adalah..."

Suara Shi En gemetar sedikit, dan ketika Asuna melihat air mata kecil yang muncul di sudut-sudut matanya, dia tidak bisa menahan perasaan sedih juga.

"Yuuki sedang menunggu, namun aku satu-satunya yang menunggu. Apakah ini benar-benar sudah...Aku sudah berjanji Yuuki, Ran-san, Clovis, dan Merida...kita akan selalu bersama-sama...tapi aku...tapi aku... "

Shi En tidak bisa bicara lebih jauh saat ia menunduk dan bahunya terus gemetar.

Ran-san seharusnya pemimpin guild yang pertama, yang berarti kakak perempuan Yuuki. Dua lainnya seharusnya anggota Sleeping Knight yang sudah meninggal. Para anggota Sleeping Knight mungkin telah mengalami kehidupan yang paling menyakitkan di dunia ini, dan ujian yang dialami mungkin lebih dapat diandalkan daripada menjadi keluarga atau kekasih dalam arti tertentu. Asuna merasa bahwa dia tidak punya hak untuk mengatakan apa-apa, tapi ia tidak bisa membantu tetapi melakukannya.

Dia meraih tangan kirinya keluar dan diam-diam memegang tangan kanan Shi En yang ditempatkan di bangku cadangan. Jari Shi En tipis, tapi Asuna benar-benar merasakan rasa hangat dari tangannya.

"Shi En-san. Aku baru-baru ini...memikirkan...hidup harus menjadi sesuatu yang dapat menyimpan dan menyampaikan pikiran seseorang. Untuk waktu yang lama, aku sudah takut mengungkapkan pikiranku kepada orang lain, dan aku tidak berani melihat ke dalam pikiran orang lain. Tapi Yuuki mengatakan kepadaku bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku ingin menyampaikan kekuatan yang aku pelajari ini dari Yuuki kepada lebih banyak orang. Aku berharap bahwa sementara aku masih hidup, aku bisa menyampaikan pikiran Yuuki untuk tempat yang lebih jauh, dan kemudian...ketika aku bertemu Yuuki lagi, aku berharap bahwa aku bisa menyampaikan lebih banyak pemikiran lagi. "

Itu sedikit tersela, tapi Asuna masih mencoba terbaik untuk mengucapkan kata-kata tersebut. Dia merasa bahwa dia tidak mengungkapkan lebih dari setengah emosinya, tapi Shi En, yang menunduk, perlahan-lahan mengangguk kepalanya sedalam dia meletakkan tangannya yang lain di tangan kiri Asuna itu.

Shi En mengangkat wajahnya, dan meskipun mata hitam yang indah ternoda dengan air mata, ia tersenyum.

"Terima kasih ... Asuna-san."

Setelah menggumamkan itu, Shi En mengangkat lengannya untuk memeluk Asuna, dan Asuna memeluk erat tubuhnya yang kurus. Shi En kemudian berbisik di samping mata Asuna,

"Kami semua berterima kasih kepadamu, Asuna-san. Sejak kakak Yuuki, Ran-san meninggal, Yuuki sudah berusaha yang terbaik untuk mendorong dan mendukung kami di tempat kakaknya, dan kami berakhir terlalu mengandalkan dirinya...apakah rasa sakit atau kesulitan, Yuuki akan meminjamkan kekuatannya untuk mendukung kami. Kamu mungkin merasa bahwa tidak ada gunanya mengatakan ini sekarang...aku benar-benar khawatir tentang Yuuki. Aku bertanya-tanya siapa yang akan menjadi pilar untuk mendukung Yuuki. Dia selalu tersenyum dan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kejengkelan...tapi aku khawatir bahwa suatu hari, dia yang bertubuh mungil itu akan menanggung terlalu banyak dan hancur...saat itu—kamu muncul. Yuuki terlihat sangat senang ketika dia bersamamu, Asuna-san. Dia tampak begitu senang, seperti burung yang akhirnya tahu bagaimana cara untuk terbang. Dia sepertinya bisa terbang begitu tinggi ke langit...sampai kita tidak bisa mencapainya...dan kemudian meninggalkan kami..."

Setelah mengatakan hal ini, Shi En berhenti sejenak, dan layar dalam hati Asuna memperlihatkan sekilas Yuuki menjadi burung dan terbang tinggi di dunia lainnya.

Shi En menggeser tubuhnya ke samping dan tersenyum dalam cara yang agak malu-malu. Dia menggunakan jari-jarinya untuk menghapus air matanya, dan mengambil napas dalam sebelum berkata dengan suara yang jelas:

"Sebenarnya—, bukan hanya aku. Jun...juga menderita kanker yang sulit untuk diobati, tetapi baru-baru ini, obat yang diberikan mulai bekerja dengan sangat baik, dan aku mendengar bahwa tumornya mengecil. Ini seperti yang Yuuki beritahukan pada kami berdua bahwa itu terlalu dini bagi kami. Sepertinya itu akan menjadi waktu yang lama sebelum Sleeping Knight akhirnya bersama-sama."

"...Ya. Lain kali, kamu harus menempatkan aku sebagai anggota resmi. "

Asuna dan Shi En saling berpandangan satu sama lain, fufu, dan mulai tertawa. Mereka mengangkat kepala mereka dan menatap langit berwarna sakura. Angin bertiup dari belakang, menggerakkan rambut mereka. Asuna membayangkan Yuuki memeluk keduanya di bahu dan terbang saat mengepakkan sayapnyanya, dan kemudian diam-diam menutup matanya lagi.

Beberapa menit berlalu begitu saja. Dua pasang langkah kaki yang mendekati mereka memecah keheningan ini. Mereka membalik wajah mereka ke belakang, dan melihat anak laki-laki mengenakan seragam yang sama dengan Asuna — Kirigaya Kazuto, dan Dokter Kurahashi dengan jubah hitam, sedang berjalan.

Asuna dan Shi En bangkit dan menyapa dua orang yang mendekati mereka. Mereka berdua menganggukkan kepala mereka. Kazuto kemudian berkata kepada Asuna,

"Jadi kamu di sini. Apakah aku mengganggu kalian berdua? "

"Tidak Tapi ... eh? Kirito-kun, kamu tahu Dokter Kurahashi? "

"Uun ... baru-baru ini. Karena message probe baru-baru ini, kami telah menggunakan email untuk menghubungi satu sama lain. "

Dokter Kurahashi kemudian menyela,

"Ya. Kamera itu benar-benar menarik, jadi aku berdiskusi dengan dia mengenai apakah itu cocok untuk digunakan dalam teknologi FullDive. "

"Begitu ya. Lalu...itu berarti..."

Asuna tiba-tiba teringat sesuatu, dan bertanya pada dokter,

"Bagaimana pengujian dengan Medicuboid tersebut? Apakah ada seseorang yang menggunakan kembali alat itu ...? "

Mendengar itu, dokter segera tersenyum dan menganggukkan kepalanya keras, mengatakan,

"Ah, itu bukan apa-apa. Kami punya data yang memadai untuk pengujian. Kami melanjutkan negosiasi dengan produsen untuk produk untuk praktik. Mungkin An-san dan sisanya dapat menggunakan Medicuboid segera..."

Bagian terakhir dari kata-kata ini ditujukan pada Shi En, tapi setelah berbicara sampai di sini, dokter matanya melebar dan buru-buru berkata,

"Ahh, aku benar-benar menyesal. Aku harus mengatakan ini sejak awal—selamat atas kesembuhan Anda, An-san. Aku kira Yuuki...akan lebih bahagia..."

Shi En erat menggenggam tangan dokter yang diulurkan itu dan mengangguk kepalanya dengan keras. Lalu, ia memegang tangan Kazuto, yang ia kenal dalam game.

"Terima kasih. Aku mungkin tidak perlu menggunakan Medicuboid sekarang...tapi aku senang...tentang pemikiran bahwa aku dapat meninggalkan memoriku untuk membantu banyak orang berjuang dengan penyakitnya. "

Setelah Shi En mengatakan itu, dokter itu terus mengangguk.

"Ya. Sebagai tester pertama mesin itu, nama Yuuki akan hidup selamanya—aku benar-benar ingin penghargaan ini dihadiahkan kepadanya dan penyedia eksternal yang datang dengan desain awal..."

"Aku kira Yuuki tidak ingin hadiah. Dia mungkin mengatakan bahwa hadiah tidak bisa dimakan. "

Kata Shi En menyebabkan semua orang tertawa. Saat tawa mereda, Asuna menyadari beberapa bagian dari kata-kata Dokter Kurahashi, dan mengulanginya,

"Lalu...dokter, yang Anda katakan penyedia luar dari desain awal...? Bukankah Medicuboid dirancang oleh produsen perangkat medis?"

"Ahh ... erm, tentang itu."

Dokter tampaknya menggali memorinya sendiri saat ia menyipitkan matanya.

"Tentu saja, perangkat ini diproduksi oleh produsen perangkat medis, namun inti yang disebut perangkat, desain dasar dari komponen sinyal densinitas tinggi diberikan secara gratis oleh pihak luar. Aku ingat seorang perempuan...mungkin seorang peneliti di sebuah universitas asing. Tapi dia orang Jepang...erm, banabya... "

Dokter Kurahashi kemudian mengatakan nama. Asuna belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, dan Shi En harusnya juga sama, tapi ekspresi Kazuto membuat Asuna terkesiap.

Kazuto tampaknya telah mendengar sesuatu yang luar biasa sebab ekspresinya menjadi benar-benar hampa. Bibir pucatnya bergetar beberapa kali.

"A...ada apa denganmu, Kirito-kun?"

Asuna memanggil secara panik, tapi Kazuto hanya diam. Setelah beberapa saat, bibirnya mengeluarkan suara serak.

"Aku... Aku tahu orang itu."

"Eh...?"

"Dan aku bertemu dia sebelum..."

Kazuto segera menatap mata Asuna itu. Iris hitamnya tampak seperti mereka pergi melalui ruang dan waktu, ia tampak seolah-olah sedang menatap dunia tertentu lainnya.

"Ketika Heathcliff dive...orang yang merawatnya. Keduanya meneliti teknologi FullDive di lab yang sama di universitas...dengan kata lain, penyedia nyata untuk desain dasar Medicuboid adalah... "

"..."

Pada saat ini, Asuna tidak bisa bicara.

Apakah ini berarti—Medicuboid dan «The Seed Nexus» keduanya lahir dari benih yang orang itu tumbuhkan?

Shi En dan Dokter Kurahashi memiringkan kepala mereka kebingungan, tapi Kazuto tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Dia hanya bisa terlihat bingung saat ia menatap kelopak sakura yang terus melayang matanya.

Tiba-tiba, Asuna merasakan semburan waktu mengalir.

Dunia yang disebut «kenyataan» ini dasarnya salah satu dari banyak kebenaran.

Selain itu, ada juga tenaga tektonik besar[60] yang membentuk bumi seperti kelopak bunga yang berkumpul.

Dan sekarang, kekuatan besar yang menutupi dunia dan terus bergerak maju perlahan-lahan menunjukkan bentuknya—.

Asuna menggunakan lengannya untuk memeluk tubuhnya erat. Pada saat ini, hembusan angin yang kuat menyebabkan kelopak bunga yang mengambang di dekatnya terbawa ke langit jauh.

(SELESAI)


Catatan Pengarang[edit]

Saya adalah Kawahara Reki. Terima kasih sudah membaca «Sword Art Online volume 7—Mother's Rosario». (Akan ada banyak yang disebutkan berkaitan dengan isi buku ini. Harap perhatikan!)

Kira-kira sudah 10 tahun lalu ketika saya mulai menulis novel ringan dengan serius. Saya tahu seorang pengarang profesional dan berteman dengannya, dan saya mendiskusikan tulisan saya dengannya sering kali.

Bahkan sekarang, saya masih sangat bersyukur untuk saran-sarannya yang sangat diperlukan, dan dari semuanya itu, yang paling berkesan untuk saya adalah 'bahkan kalaupun itu adalah sebuah novel, ketika menulis mengenai kemalangan seseorang, kamu harus memperhatikan dengan baik mengapa kamu menulisnya'.

Saya sebenarnya punya sebuah kelemahan dalam 'memfokuskan perkembangan cerita dan membiarkan kemungkinannya terjadi di kehidupan nyata' Saya tidak bisa memperbaikinya (atau bisa dikatakan saya mengambil kesempatan mengenai hal itu...) ngomong-ngomong, saya biasanya memberi karakter kemalangan untuk menunjukkan keaslian dan motif mereka. Misalnya, saya tidak pernah menyebutkan detail tentang asal-usul bagaimana Kirito kehilangan orang tua kandungnya dalam sebuah kecelakaan sama sekali. Dengan kata lain, saya menciptakan alasan mengapa Kirito jauh dari orang lain dan mengabaikan 2 karakter, orang tua Kirito, yang terlibat dalam kecelakaan dan secara langsung terbunuh karenanya. (Pemain utama perempuan di kompilasi cerita pendek di volume 2 «Red-nosed Reindeer» juga seperti ini).

Tentu saja, saya tahu kalau saya punya kebiasaan buruk ketika menulis, sehingga saya seakan merasa terbebani ketika memperhalus cerita volume ke-7 untuk dipublikasikan. Meskipun ada tema dari «teknologi dan pengobatan VR», apakah pemain utama di volume ini, Yuuki, harus mati? Mungkinkah ada akhir yang lain? Apakah aku hanya menulis ahir seperti ini untuk menggusarkan emosi pembaca?

Tetapi, saat saya terbebani, saya menemukan bahwa saya hanya dapat menulis cerita seperti itu. Ini mungkin terdengar seperti alasan, tetapi kebiasaan buruk saya adalah 'meremehkan kemalangan karakter'. Meskipun demikian, yang bisa saya lakukan adalah mencoba dan memahami secara mendalam pemikiran karakter dalam penulisan saya yang memiliki kemalangan (termasuk pemain antagonis). Tentu saja, kalau pembaca dapat memikirkan efek macam apa yang bisa dibawa Yuuki 15 tahun ke Asuna dan lainnya, saya akan sangat bersyukur.

Untuk editor Miki-san, yang agak terganggu karena saya mengacaukan perkembangan penulisan setelah Tahun Baru, abec-san yang menggambar karakter ilustrasi besar di volume ini, dan tentu saja, kepada semua pembaca, saya harap kita bisa berjalan terus di 2011! Terima kasih untuk dukungannya!

27 Januari 2011 Kawahara Reki


Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. Zekken (????) dalam katakana : stiker nomor urut peserta yang biasa digunakan dalam lomba atletik
  2. dalam RPG dikenal sebagai healer
  3. semacam tongkat sihir
  4. penyerang utama
  5. kalo diterjemahin jadinya "Penerbangan Sukarela," mungkin maksudnya formasi
  6. penyerangan boss mendadak
  7. paket/skill pendukung
  8. Kontainer logam besar di mana batubara atau arang yang dibakar, menghangatkan orang-orang yang harus tinggal di luar untuk waktu yang lama
  9. hewan/monster panggilan
  10. Player versus Player
  11. Lokasi posisi tersimpan. Biasanya dalam game digunakan tempat berpindah jika character mati atau teleport.
  12. Sebuah skill untuk memprovokasi monster agar menyerang pemilik skill
  13. Tipe senjata tumpul yang biasanya memiliki effect stun di banyak game.
  14. suatu cairan penyembuh mana
  15. tanah kosong
  16. suatu bangunan berisi monster
  17. Recovery time adalah suatu gangguan di mana gerakan terhenti untuk beberapa saat setelah mengeluarkan sword skill
  18. http://en.wikipedia.org/wiki/Shockwave
  19. misi mengalahkan bos
  20. Pedang Absolut
  21. Spinal Cord, syaraf spinal merupakan syaraf yang berada di sumsum tulang belakang, berfungsi sebagai pusat gerak refleks (tidak sadar). Contoh: lutut digetok, kaki akan reflek menendang
  22. Alternative Reality, Realitas Maya, Realitas Alternatif
  23. Medis dan Kubus
  24. Locked-in Syndrome
  25. Terminal illness, simpelnya, perawatan untuk orang yang mendekati ajal
  26. End of Life Care
  27. Hanya Staff
  28. Window Period, pemeriksaan untuk mendeteksi infeksi terntentu
  29. Nucleic-acid test
  30. DNA
  31. RNA
  32. Dystosia, Distosia, kelainan saat persalinan
  33. Bedah Sesar
  34. AIDS
  35. Reverse Transcriptase Inhibitors, obat untuk HIV/AIDS
  36. CD4 Glycoprotein yang ditemukan di sistem imun tubuh, merupakan bagian dari leukosit (sel darah putih)
  37. Infeksi Oportunistik
  38. Radang Paru-paru, dimana alveolus yang berfungsi sebagai tempat pertukaran udara terisi oleh suatu cairan. Hati-hati bagi yang senang merokok
  39. Oral Candidiasis, agak menjijikan salah satu jenis genus jamur yang berasal dari ragi, bisa tumbuh disekitar saluran pernafasan maupun pencernaan, menyebabkan bau mulut.
  40. Quality of Life — Kualitas Hidup
  41. Sitomegalovirus, Cytomegalovirus, yang dapat menyebabkan cacar air
  42. NTM, Mycobacteia, adalah Mycobacteri yang tidak menyebabkan turbekolosis. Mycobacteria sendiri adalah virus yang menyebabkan berberapa penyakit pada mamalia
  43. Istana Besi Hitam
  44. teks asli = silence, kalo saya pakai “kediamannya” takutnya malah jadi ambigu…
  45. kematian
  46. Pengguna sedang Berbicara”
  47. http://en.wikipedia.org/wiki/Mechatronics Kombinasi dari teknik elektrik, teknik mesin, dan teknik komputer.
  48. http://en.wikipedia.org/wiki/Gyroscope alat yang digunakan untuk mengukur orientasi
  49. tersendat, istilah biasa dalam jaringan.
  50. kurang yakin dengan ini, kalo diatas-atas saya terjemahin jadi “alat”
  51. Hutan yang terdapat di daerah-daerah lintang tinggi mendekati kawasan lingkaran kutub, seperti wilayah Kanada bagian utara, Eropa Utara, Asia Utara terutama sekitar Siberia, serta wilayah-wilayah pegunungan tinggi kawasan tropis dengan flora khas berupa pinus mercussi, cemara, larix, dan pohon sequoia (redwood)
  52. sebutan kakek dalam bahasa jepang
  53. sebutan nenek dalam bahasa jepang
  54. meja kayu yang ditutupi dengan futon atau selimut tebal,dibawahnya biasanya diletakkan mesin pemanas untuk menghangatkan tubuh saat musim dingin tiba
  55. festival musim panas di Jepang.untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi http://id.wikipedia.org/wiki/Obon
  56. Contrail, Jejak Kontrail adalah awan buatan yang terbentuk oleh gas panas yang disemburkan oleh mesin jet di udara yang lebih dingin, sehingga terjadi kondensasi. Bisa juga terjadi pada perubahan tekanan pada ujung sayap pesawat (wing vortex)
  57. Merupakan basis DNA (A, G, C, dan T), mungkin gen keturunan maksudnya
  58. Meme budaya yang ditularkan secara non genetik
  59. ALL - Acute Lymphobastic Leukemiaadalah kanker leukosit (sel darah putih) yang dikarakterisasi oleh kelebihan Lymphoblas (yang mematangkan leukosit)
  60. Teori Global Plate Tectonic oleh Alfred Wegener yang mengatakan bentuk muka bumi terbentuk karena aktifitas tektonik