Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 7 Bab 6

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 6[edit]

"Aaaaaaaaaah, kita kalah, kita kalah!"

Nora, yang terakhir kembali, memukul punggung Taruken saat ia berteriak dengan riang.

Mereka berada di kubah besar berbentuk bangunan di seberang alun-alun kota Ronbaru, ketujuhnya berpindah ke Save Crystal di lantai yang sedikit turun di tengah ruangan. Tentu saja, ini berarti bahwa mereka dikalahkan oleh serangan ganas dari bos hitam raksasa lantai 27 itu.

"Ugh... Meskipun kita berusaha sangat keras..."

Saat bahu Yuuki merosot dengan cemas, Asuna tiba-tiba merenggut kerahnya.

"Fue?"

Asuna menyeret Yuuki yang terkejut dan berlari ke salah satu sudut ruangan.

"Semuanya cepat datang ke sini!"

Jun dan yang lainnya, yang awalnya berencana kembali ke penginapan untuk beristirahat dan merenungkan pertarungan sebelumnya, berlari dengan mulut terbuka. Tidak ada orang lain di sekitar «Titik Respawn», tetapi untuk jaga-jaga, Asuna mengumpulkan semua orang di tempat di mana mereka tidak bisa terdengar dari luar dan berkata,

"Kita tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Apa kalian ingat tiga orang di depan ruang Boss?"

"Ya, aku ingat."

Shiune mengangguk.

"Mereka adalah pengintai yang dikirim oleh guild yang mengkhususkan diri dalam berburu Bos, tujuan mereka adalah untuk memantau pemain di luar aliansi yang menantang bos. Kalian pasti telah dilihat oleh mereka sebelum kalian memasuki ruangan Bos di lantai sebelumnya dan juga lantai yang sebelumnya lagi."

"Eh... Kami bahkan tidak menyadarinya..."

"Aku takut bahwa tujuan mereka bukanlah untuk menghentikan kalian menantang Boss, tapi untuk mengumpulkan informasi. Mungkin ini sedikit kasar, tapi mereka menggunakan sebuah guild kecil seperti Sleeping Knight sebagai pion korban untuk mengetahui pola serangan Bos dan kelemahannya. Dengan cara ini, mereka tidak perlu kehilangan experience point karena death penalty dan juga dapat menyimpan sedikit biaya ramuan."

Pada titik ini, Taruken yang berkacamata mengangkat tangan kanannya dan bertanya,

"Ta-tapi, pintu segera tertutup di belakang kita setelah kita memasuki ruangan Boss. Mereka, mereka bahkan tidak bisa melihat pertarungan kita, jadi bagaimana mereka mengumpulkan informasi?"

"Itu karena kecerobohanku... Tepat sebelum pertempuran berakhir, aku melihat kadal kecil abu-abu menggeliat di sekitar kaki Jun. Itu Sihir Hitam «Megintip»- Sebuah mantra yang memanggil familiar yang dapat ditempelkan ke pemain yang ditunjuk, yang memungkinkan pembaca mantra untuk melihat sudut pandang pemain yang ditunjuk. Sesaat itu dilemparkan, sebuah ikon yang menunjukkan debuff akan muncul selama sekitar satu detik..."

"Eh, itu buruk, aku tidak menyadarinya sama sekali."

Mendengar penjelasan Asuna, ekspresi penyesalan menutupi wajah Jun. Semua orang menepuk punggungnya dengan lembut.

"Jangan katakan itu, seharusnya aku memperingatkan kalian di awal. Itu pasti telah menempel ketika Shiune sedang memperbarui buff tepat sebelum kita memasuki ruangan. Ada begitu banyak ikon yang muncul pada waktu itu, jadi wajar kalau kamu tidak menyadari ada satu tambahan."

"... Ngomong-ngomong, mungkinkah..."

Mata Yuuki melebar saat ia mengepalkan tangan di depan dadanya dan berteriak,

"Bos di lantai 25 dan 26 yang dikalahkan segera setelah kami kalah itu bukan hanya suatu kebetulan!"

Meskipun Yuuki cukup terkejut, tidak ada tanda-tanda kemarahan atau kebencian dalam suaranya. Merasa hormat pada Yuuki sekali lagi, Asuna mengangguk dan menjawab,

"Kamu mungkin benar. Serangan terus-menerus darimu terekspos bahkan di tempat bos sebelumnya, itulah sebabnya mereka mampu melakukannya dalam satu gerakan."

"Itu, itu berarti..."

Shiune mengerutkan kening dan berbisik,

"Kali ini kami sekali lagi dijadikan pion korban...?"

"Bagaimana ini bisa terjadi..."

Tepat ketika bahu kelimanya hendak terkulai mengikuti napas Nora, Asuna memukul armor Yuuki.

"Tidak, kita masih memiliki kesempatan!"

"Eh...? Asuna, apa maksudmu...?

"Saat ini sekitar pukul 2:30pm, aliansi besar sekalipun akan memiliki waktu yang sulit untuk mengumpulkan puluhan orang, mungkin akan memakan waktu setidaknya sekitar satu jam. Kita akan mengambil tindakan sekarang- Dengar, kita akan menyelesaikan diskusi kita dalam lima menit, dan kemudian bergegas kembali ke ruangan Boss dalam waktu tiga puluh menit! "

"Eeeh??"

Bahkan kelompok ini, yang terdiri dari pemain top, tidak bisa tidak berteriak karena terkejut akan ucapan ini. Melihat sekelilingnya, senyum muncul di wajah Asuna- senyum bangga yang sangat mirip dengan seseorang tertentu.

"Kita bisa melakukannya. Dan- kita pasti bisa mengalahkan Bos hanya dengan beberapa dari kita."

"Su-Sungguh?"

Yuuki membungkuk begitu jauh ke depan hingga hidungnya nyaris mengenai Asuna, dan Asuna melihatnya dan mengangguk.

"Yang harus kita lakukan adalah dengan tenang menyerang titik lemahnya. Ini adalah strategiku. Boss lantai ini berjenis raksasa. Meskipun lengan banyaknya agak sulit ditangani, masih jauh lebih mudah untuk ditangani daripada salah satu yang tidak memiliki bagian depan atau belakang yang nyata. Pola serangannya adalah mengayunkan turun palunya, menyapu dengan rantai baja dan menyerang dengan menurunkan kepalanya. Dia akan mulai menggunakan serangan napas beracun jarak menengah ketika darahnya tinggal setengah, dan setelah turun ke merah dia akan menggunakan skill pedang 8 hit dengan memanfaatkan empat senjata..."

Asuna menempatkan tampilan gambar hologram di tanah, beralih ke layar input dan dengan cepat menarik gambar pola serangan Boss. Dia kemudian mencatat cara untuk bertahan melawan serangan ini.

"... Oleh karena itu Jun dan Thatch dapat mengabaikan serangan dari rantai baja dan memusatkan perhatian pada palu. Berikutnya adalah titik lemah- Jika palu menyentuh tanah, akan memakan waktu sekitar 0,7 detik untuk pemulihan. Nora dan Taruken harus mengambil keuntungan dari pembukaan ini untuk menggunakan skill yang kuat. Juga, akan ada banyak bukaan di belakangnya. Yuuki dapat tetap berada di belakang punggungnya dan menggunakan serangan tipe skill pedang. Tapi tetap berhati-hatilah, rantainya juga akan menyapu daerah di belakang punggungnya. Cara untuk bertahan terhadap serangan napas beracun..."

Sejak saat ia bekerja sebagai sub-leader dari Knights of the Blood, ini pertama kalinya dia berbicara begitu banyak dalam pertemuan strategi. Saat ia memikirkan itu pada dirinya sendiri, Asuna dengan cepat terus menjelaskan strategi kepada mereka, dan keenamnya mengangguk saat mereka mendengarkannya dengan serius.

Asuna merasa bahwa dia hampir seperti seorang guru sekolah, dan segera menyelesaikan pertemuan strategi dalam waktu empat menit. Dia kemudian membuka persediaannya untuk mengeluarkan sejumlah besar ramuan yang dia beli menggunakan anggaran mereka dan hadiah yang dia terima dari Lisbeth dan teman-temannya yang lain.

Semua jenis botol kaca terus-menerus muncul di tanah dengan suara klak. Asuna membagi ramuan penyembuh berdasarkan jumlah luka yang mereka terima dalam pertempuran tadi, dan menempatkan ramuan mana pada dirinya dan ke tas Shiune. Dengan itu, semua persiapan mereka telah diselesaikan.

Asuna menegakkan punggungnya, matanya melihat seluruh wajah setiap orang sekali lagi, tersenyum dan mengangguk.

"Kuulangi sekali lagi, jika itu kalian... Tidak, jika itu kita, kita pasti bisa mengalahkan Bos. Aku, yang pernah berjuang di sini pada masa lalu, dapat menjamin hal ini kepada kalian."

Senyum polos brilian dari Yuuki segera menyebar di seluruh wajahnya, dan dia dengan percaya diri mengatakan,

"Perasaanku memang benar, ini hebat karena kita mampu mendapatkan Asuna untuk membantu kita. Walaupun kita gagal, perasaanku ini tidak akan pernah berubah. Terima kasih- Asuna."

Lima lainnya mengangguk serempak. Shiune, yang tampaknya menjadi sub-leader, menambahkan dengan suaranya yang jelas dan lembut,

"Aku benar-benar bersyukur. Aku sekali lagi memastikan bahwa keputusan Yuuki untuk membawamu ke sini adalah benar, kamu adalah orang yang sudah lama kami tunggu-tunggu."

Asuna dengan putus asa mencoba untuk menekan perasaan yang mengalir di dalam dirinya, mengangkat jari dan mengedipkan matanya-

"... Kata-kata seperti ini seharusnya diucapkan setelah kita selesai. Sekarang... sekali lagi, mari kita coba yang terbaik!"


Sekali lagi terbang dari jalanan Ronbaru, ketujuhnya pergi ke dungeon dengan kecepatan tinggi. Mereka terbang melalui rute terpendek, dan terlihat oleh mobs di luar. Namun, mereka terus menggunakan ilusi Nori dan berhasil melewati mobs saat mereka terbang.

Mereka menghabiskan waktu hanya 5 menit untuk mencapai menara, dan kemudian terbang ke pintu masuk tanpa ragu-ragu. Mereka mengambil jalan terpendek ke lantai paling atas. Meskipun mereka tidak bisa menembus mob rakasa dalam dungeon yang sempit, «Zekken» Yuuki mengaktifkan kemampuannya saat ini dan dengan seketika mengalahkan pemimpin musuh.

Saat timer menunjukan lewat 28 menit, koridor menuju ruangan bos akhirnya muncul di depan mereka. Jalanan panjang dan sempit ini melengkung sedikit ke kiri, dan jalan berbentuk spiral mengarah ke tengah menara.

"Syukurlah. Masih ada 2 menit!!"

Jun berteriak gembira dan berlari melewati Yuuki.

"Hei, tunggu!"

Yuuki mengangkat tangan kanannya dan mengejar. Masalahnya, kita harus mampu mengganggu aliansi guild. Berpikir tentang hal ini, Asuna mulai berlari ke depan dengan putus asa juga. Sekelompok orang terus berjalan dalam lingkaran dan sampai ke koridor, tiba di depan gerbang menuju ruangan bos-

"...!!"

Namun, adegan di depan pintu gerbang membuat Asuna menelan ludah. Jun dan Yuuki, yang berlari di depan, menggunakan sepatu mereka untuk menggesek tanah dan berhenti dengan cepat.

"A... Apa yang terjadi...!?"

Nori dengan kosong bergumam di samping Asuna. Pada 30m terakhir menuju ruangan bos, sekitar 20 pemain menghalangi jalan menuju ruangan bos.

Orang-orang itu berasal dari berbagai macam ras, namun satu-satunya titik sama di antara mereka adalah masing-masing dari mereka memiliki lambang serikat di samping kursor, seperti trio yang bersembunyi di pintu.

'Kami tidak berhasil!' Mereka tanpa terduga mengumpulkan begitu banyak orang dalam waktu yang singkat... Asuna meratap jauh di lubuk hatinya, tetapi menemukan bahwa ada sesuatu yang salah. Masih terlalu sedikit orang untuk menaklukkan bos. 20 orang, 3 kelompok. Tidak akan cukup untuk membuat 7 kelompok, 49 pemain sekaligus.

Para anggota yang ambil bagian dalam penaklukan ini mungkin belum datang. Sungguh berani memilih titik berkumpul di bagian terdalam dungeon, dan bisa dikatakan bahwa orang-orang ini agak tidak sabaran.

Asuna berjalan di samping Yuuki, yang bergumam dengan suara gugup, dan berbisik ke telinganya yang tertutupi oleh rambut ungu tua,

"Jangan khawatir. Sepertinya kita masih memiliki kesempatan untuk menantangnya."

"Benarkah...?"

Yuuki akhirnya menghela napas lega saat ini. Asuna dengan ringan menepuk bahunya dan dengan cepat berjalan menuju kelompok. Semua tatapan kelompok lain terfokus pada Asuna dan teman-temannya, namun mereka tidak menunjukkan keterkejutan atau ketegangan. Bahkan bisa dikatakan bahwa orang-orang ini menantikan pertunjukan yang akan dimulai. Asuna mengabaikan ekspresi mereka dan berdiri langsung di depan kerumunan, berkata kepada pemain Gnome laki-laki yang tampak seperti dia mengenakan armor yang paling mahal.

"Maaf, kami ingin menantang bos. Bisakah kalian membuka jalan?"

Namun, Gnome itu melipat tangan tebalnya, seolah-olah mencoba mengatakan sesuatu yang Asuna tidak harapkan,

"Maaf, tempat ini ditutup."

"Ditutup... Apa maksudmu?"

Asuna, yang tidak bisa mengatakan apa-apa untuk sementara waktu, akhirnya mengeluarkan pertanyaan ini. Gnome mengejangkan alisnya secara berlebihan, dan kemudian berkata dengan nada tenang yang langka,

"Guild kami akan menantang bos. Kami masih dalam persiapan. Tunggu saja di sini sebentar."

"Untuk beberapa saat... berapa lama?"

"Nah, sekitar satu jam."

Pada titik ini, Asuna akhirnya mengerti niatan mereka. Mereka hanyalah kelompok pengintai yang ditugaskan di depan ruangan bos, mengumpulkan informasi. Setelah kelompok lain yang mungkin bisa mengalahkan bos muncul, mereka akan mencoba untuk membuat barikade fisik melalui jumlah.

Baru-baru ini, Asuna mendengar bahwa beberapa guild tingkat tinggi menciptakan masalah dengan menduduki tempat berburu, tapi tanpa ia duga, mereka akan melakukan pendudukan dengan berani seperti ini. Bukankah ini sama saja seperti The Army yang memerintah dengan kejam di Aincrad lama?

Asuna mencoba yang terbaik untuk menekan kemarahannya dan akhirnya berkata dengan nada tenang,

"Kami tidak bisa menunggu selama itu. Ini berbeda jika kamu ingin menantangnya, tapi jika tidak, tolong biarkan kami masuk"

"Kamu agak benar juga..."

Namun Gnome itu tanpa malu-malu melanjutkan,

"Tapi kami datang duluan. Kamu harus mengantri."

"Kalau begitu kamu harus bersiap-siap sebelum datang ke sini. Kami harus menunggu selama satu jam meskipun kami dapat menyerang kapanpun. Itu tidak adil."

"Itulah sebabnya walaupun kamu mengomel, aku tidak bisa membantu. Ini adalah perintah atasan. Jika kamu memiliki perbedaan pendapat, pergilah ke markas guild untuk bernegosiasi. Kantor pusat kami berada di kota Pohon Dunia."

"AKAN MEMAKAN WAKTU SATU JAM KE SANA!!"

Tidak bisa menahan dirinya lagi, Asuna akhirnya berteriak. Dia kemudian menggigit bibirnya dan menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

Tidak peduli bagaimana mereka bernegosiasi, tampaknya kelompok lain tidak berniat untuk minggir. Apa yang harus mereka lakukan?

Mereka tidak tahu apakah mereka bisa mencapai kesepakatan dengan memberikan item yang dijatuhkan bos dan field. Mungkin tidak, saat daya tarik untuk mengalahkan bos bukan hanya barang yang dijatuhkan, tetapi juga besarnya kenaikan experience point dan hadiah nyata meninggalkan nama mereka pada Monumen Swordsman. Orang-orang ini mungkin tidak akan menerima kondisi tersebut.

Jika ini adalah VRMMO lain, mereka bisa komplain kepada GM tentang tindakan yang menentang etika net-game. Namun, argumen pemain di ALO idealnya harus diselesaikan diantara para pemain. GM pada dasarnya hanya menangani kesalahan sistem.

Gnome melirik tajam pada Asuna, yang kehabisan akal, dan berpikir bahwa negosiasi telah selesai dan bersiap-siap untuk kembali ke sekutunya.

Pada saat ini, Yuuki, yang berdiri di belakang Asuna, berteriak,

"Oi, kamu..."

«Zekken» menggunakan suara enerjik untuk meminta Gnome itu berhenti dan berbalik,

"Maksudmu kamu tidak berniat membiarkan kami lewat tidak peduli bagaimana kami meminta, benar?"

"-Sejujurnya, itulah yang terjadi."

Setelah mendengar kata-kata langsung Yuuki, Gnome itu hanya bisa berkedip. Namun, ia segera kembali ke sikap arogannya dan mengangguk. Yuuki hanya tersenyum dan berkata,

"Begitukah? Mau bagaimana lagi kalau begitu. Kami hanya bisa menggunakan kekerasan."

"A... apa!?"

"Ehh!?"

Gnome dan Asuna mengeluarkan teriakan kaget pada waktu yang sama.

ALO benar-benar sebuah permainan yang memiliki poin menjual 'mampu menyerang pemain tanpa syarat di daerah netral'. Semua pemain akan memaksa menggunakan senjata mereka untuk melampiaskan ketidakpuasan mereka, dan kode ini jelas ada dalam instruksi permainan.

Namun, selain menjadi aturan yang sebenarnya, masih ada beberapa aturan tabu tersembunyi untuk menyerang pemain. Pemain harus memperhatikan jika mereka melawan sebuah guild besar. Itu karena walaupun mereka menang, guild yang bersangkutan dapat mengirimkan serangan besar-besaran untuk membalaskan dendam, dan terkadang bahkan membawa kebencian mereka kepada komunitas internet di luar permainan. Saat ini, tidak banyak pemain yang menantang guild besar selain mereka yang sudah bertujuan untuk PK di awal.

"Yu... Yuuki, itu..."

Mulut Asuna terbuka lebar, namun dia tidak bisa membiarkan suaranya keluar karena dia tidak tahu bagaimana menjelaskan hal ini. Namun, Yuuki hanya tersenyum dan menepuk bahunya dan berkata,

"Asuna, beberapa hal harus diselesaikan melalui cara yang keras agar kelompok lain dapat memahami. Misalnya, sekarang, kita harus menunjukkan kepada mereka betapa seriusnya kita."

"Ya, kamu benar."

Di belakang mereka, Jun mengangguk setuju. Asuna berbalik dan menemukan 5 anggota lainnya memegang senjata mereka seolah-olah itu adalah normal.

"Semuanya..."

"Orang-orang yang menyegel tempat ini harus bersiap untuk mempertahankan tempat ini sampai orang terakhir."

Yuuki memalingkan matanya lagi untuk melihat Gnome, memiringkan kepalanya dan berkata kepadanya,

"Bukankah itu benar?"

"Ah... erm, kami..."

Gadis mungil Imp ini segera menarik one-handed sword di pinggangnya tepat di depan pria yang belum pulih dari shocknya tersebut, dan mengarahkannya ke langit. Senyum di bibirnya lenyap, dan matanya menunjukkan kilatan tegas-

"Sekarang, keluarkan senjatamu."

Gnome yang termakan oleh provokasi Yuuki mengeluarkan kapak perang besar di pinggangnya dan dengan mudah membuat postur untuk menyerang.

Saat berikutnya, gadis mungil Imp itu menyerbu melalui seluruh koridor seperti angin puyuh.

"NUAA ...!!"

Setelah akhirnya mengerti apa yang sedang terjadi, Gnome menusuk hidungnya dan meraung, menggerakkan kapak besar di tangannya. Namun, gerakannya benar-benar terlalu lambat. Obsidian Longsword Yuuki meninggalkan jejak gelap sebelum mengayun naik dari bawah dan menusuk langsung ke pusat dada orang itu.

"GUU!!"

Yuuki menggunakan serangan ini untuk membuat Gnome, yang jauh lebih berotot dibandingkan dirinya, kehilangan keseimbangan. Dia kemudian menambahkannya dengan serangan lurus. Longsword mengeluarkan suara berat, menebas bahu Gnome, dan menyebabkan bar HPnya menurun drastis.

"NUOOOHHH!!"

Orang itu akhirnya mengeluarkan raungan marah dan mengangkat kapak perangnya saat ia bersiap-siap untuk mengayunkannya turun menuju Yuuki.

Pemain ini benar-benar pemain yang merupakan kapten tim dari guild yang terkenal karena serangannya sangat cepat. Namun, «Zekken» Yuuki hanya terus mengayunkan pedang tanpa terburu-buru.

*Ding!* Sebuah suara logam tajam terdengar, dan lintasan kapak dibelokkan sedikit, melewati rambut merah Yuuki beberapa sentimeter di atas kepala. Biasanya, senjata hanya dapat menggunakan skill «menangkis» ketika menghadapi senjata berat yang sama. Namun, Longsword tipis Yuuki yang terlihat tidak berbeda dari Rapier membelokkan kapak perang yang besar. Hal ini karena kecepatan kilat ayunannya. Mustahil untuk bisa menjadi begitu tangkas kecuali avatar pemain, saraf dan AmuSphere yang menghubungkan mereka menjadi satu.

Berapa banyak pengalaman yang harus dia dapatkan hanya untuk mencapai tingkat itu? Asuna terlihat benar-benar kagum saat dia melihat Yuuki bertarung di depannya. Pada saat ini, pedang Yuuki itu mulai mengeluarkan cahaya biru. Dia mengaktifkan skill pedang.

Kaki prajurit Gnome itu tidak stabil saat ia menangkis sebuah serangan berkekuatan penuh, tusukan, tebasan horizontal, tebasan bawah dan sebuah pukulan, empat serangan yang semua meledak saat mereka mengarah pada wajahnya. Ujung pedang berwarna biru muda mengelilingi tubuh Gnome dan mengeluarkan cahaya yang intens. Ini adalah 4 hit lurus berturut-turut «Vertical Square»

"GUAA ...!!"

Dengan teriakan, tubuh Gnome terlempar beberapa meter jauhnya dan mendarat di tanah. Bar HPnya langsung jatuh ke zona merah. Dia pasti menyadari ini saat matanya melirik sudut kanan atas yang terlihat menonjol keluar dari sendinya.

Saat matanya kembali ke Yuuki, ekspresi di wajahnya berganti dari shock menjadi kemarahan.

"I... Itu tidak bisa diterima, menyerang seperti itu tiba-tiba...!"

Saat pemimpin mulai berteriak kembali secara acak, sekitar 20 orang dari sekutunya akhirnya berhasil pulih dan masuk ke mode pertempuran. Para pemain yang bertanggung jawab menyerang di garis depan menyebar dan menarik senjata mereka. Asuna secara naluriah menarik tongkat Pohon Dunianya dan mengulangi apa yang dikatakan Yuuki di dalam pikirannya.

-Asuna, beberapa hal harus diselesaikan melalui cara yang keras agar kelompok lain dapat memahami. Ini jelas bukan sesuatu yang dapat gadis itu pikirkan secara acak pada saat terakhir, tapi ini adalah keyakinan gadis misterius yang disebut Yuuki itu miliki. Itu karena dia selalu mengikuti contoh ini. Dia akan menantang lawan yang tak terhitung jumlahnya di jalan-jalan dalam duel dan menggunakan ini untuk berinteraksi dengan mereka.

... Aku mengerti... kamu ada benarnya juga...

Saat Asuna bergumam tanpa kata, wajahnya tanpa sadar tersenyum. Jika dia terus mundur karena takut bertarung melawan orang lain atau balas dendam, maka makna bermain VRMMO akan hilang. Pedang di pinggangnya itu bukanlah hiasan belaka, dan itu jelas bukanlah beban yang berat. Asuna mengambil langkah maju dengan tekad dan tiba di samping Yuuki. Jun dan Shiune sedang berdiri di samping Asuna, dan Thatch, Nori dan Taruken berdiri di samping Yuuki.

Mungkin musuh yang berjumlah lebih dari kelompok beranggota 7 orang ini, tiga melawan satu, terlihat menyadari sesuatu saat mereka hanya bisa bergerak mundur.

Lalu, apa yang memecah suasana tegang ini?

Bukanlah musuh di depan, namun banyaknya jejak kaki yang datang ke sini. Prajurit Gnome menoleh ke belakang Asuna dan teman-temannya dan menunjukkan senyum kemenangan.

"...!"

Asuna tersentak dan berpikir- Mengapa pada saat yang tidak tepat seperti ini? Dan memutar kepalanya ke sekitar. Sejumlah jubah berwarna kemudian muncul di depan mereka. Sebagian besar lambang guild yang ditampilkan adalah «Sagitarius», namun beberapa dari mereka berlambang «Perisai dan Kuda». Dengan kata lain, orang-orang yang datang adalah bagian lain dari aliansi yang sedang Gnome tunggu, dan pasti ada sekitar 30 orang dari mereka.

Walaupun Yuuki sekuat itu, sulit untuk menang ketika dikelilingi oleh musuh yang 7 kali lipat jumlahnya dari mereka pada sisi depan dan belakang. Mantra dan panah yang dapat ditembakkan dari belakang cukup untuk menghabiskan HP mereka tanpa bisa melakukan apa-apa.

-Semua karena aku ragu-ragu...

Asuna merasa menyesal saat ia menggigit bibirnya dengan keras. Jika dia mengikuti keyakinan Yuuki dari awal, mereka setidaknya bisa menembus 20 orang di depan dan memasuki ruangan bos.

Sama seperti Asuna yang hendak membuka mulutnya dan meminta maaf. Yuuki, yang berada di sebelah kirinya, menepuk tangannya. Emosi Gadis Imp itu menyelimuti kulitnya di dunia virtual.

-Maaf, Asuna. Ketidaksabaranku malah menyeretmu. Tapi aku tidak menyesal melakukan hal ini. Sejak kita bertemu, aku belum pernah melihatmu menunjukkan senyum indah seperti itu.

Asuna memegang tangan Yuuki dan menjawab bisikan yang tampaknya muncul di dalam benaknya ini.

-Seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak bisa banyak membantu. Kita mungkin tidak bisa melakukannya pada level ini, tapi kita pasti bisa mengalahkan bos di level berikutnya.

Shiune dan yang lain tampaknya merasakan interaksi mereka berdua karena mereka semua mengangguk, membentuk lingkaran dan menghadapi musuh di kedua sisi. 30 orang yang bergegas datang di depan dan belakang mereka tampaknya telah memahami situasi saat ini saat orang-orang itu menarik senjata mereka.

Saat ini, mereka hanya bisa berjuang sampai akhir. Asuna membuat keputusan dan mengangkat tongkat pendeknya sambil mengucapkan mantra serangan. Melihat tindakannya, Cakar prajurit Cait Sith mengeluarkan sifat karnivoranya dan berteriak,

"TETAP BERJUANG SAMPAI AKHIR!!"

-Tapi sesaat ketika ia hendak menyatakan kemenangan. Sesuatu yang jauh melampaui pikiran Asuna dan semua pemain terjadi.

"Itu... Itu adalah...?"

Orang yang pertama kali menyadari anomali adalah Nori, yang memiliki kemampuan penglihatan malam. Sedetik kemudian, Asuna menyaksikan fenomena itu juga.

Pada saat ini, pasukan musuh sudah 20m di depan mereka, namun, di belakang mereka, pada dinding yang melengkung secara bertahap dari koridor, ada semacam... atau lebih tepatnya, orang tertentu yang sedang berlari ke sini. Itu benar-benar sangat cepat, hanya bayangan hitamnya yang bisa dilihat.

Itu adalah «Wall Run» yang semua elf ringan bisa gunakan. Satu-satunya yang bisa menggunakannya adalah Sylph, Undine, Cait Sith, Imp dan Spriggan. Biasanya, 10m adalah batasnya, tapi bayangan di depan mereka berlari sekitar 30m. Gerakan yang sangat sulit ini hanya dapat dilakukan melalui kecepatan berlari yang berlebihan.

Saat ia menyadari hal ini, atau lebih tepatnya, saat dia melihat sosok samar itu, Asuna tahu siapa penyusup itu.

Sosok yang berlari dengan sangat cepat, berlari di dinding, melewati bala bantuan, dan dengan mudah mendarat di tanah. Kecepatannya melambat sambil mengeluarkan bunga api besar yang disebabkan oleh percikan api pada telapak sepatunya yang bergesekan dengan tanah. Ia tiba diantara pasukan utama dan teman-teman Asuna dan berhenti sambil menghadap kelompok Asuna.

Orang itu mengenakan celana kulit ketat hitam dan jubah panjang hitam, memiliki rambut hitam pendek yang jatuh ke samping, dan memiliki pedang satu tangan yang sedikit besar di punggungnya. Juga, sarung pedang kulit hitam yang memiliki lambang putih murni wyvern di atasnya. Itu adalah merek dagang dari «Toko Senjata Lisbeth» yang dibuka di jalanan kota pohon dunia. Pedangnya ditempa dari logam langka dari Jötunheimr, itu adalah masterpiece dari seorang teman dekat Asuna.

Tangan kanan pendekar pedang berpakaian hitam dengan cepat meraih pedang biru muda dari punggungnya, dan kemudian *Clang!* menusukkannya ke lantai batu di sampingnya. 30 orang penjelajah veteran berhenti seperti mereka terkejut akan kehadirannya.

Kemudian, kata-kata tamu tak diundang ini dengan keras mengatakan kembali apa yang Gnome tadi katakan pada Asuna.

Sword Art Online Vol 07 -149.jpeg

"Maaf, tempat ini ditutup."

Suara yang agak jelas meskipun tidak ada perasaan pernyataan di dalamnya ini, menyebabkan kelompok 30 orang yang baru saja muncul, 20 orang di belakang Asuna, dan Sleeping Knights benar-benar terdiam.

Orang pertama yang menanggapi sikap menantang itu adalah Salamander kurus yang berdiri di depan bala bantuan. Dia mengguncang rambut merah gelapnya dan memberikan tampilan tidak percaya dan berkata,

"Oi oi, «Blackie». Bahkan kamu tidak akan bisa menghentikan begitu banyak orang di sini, kan?"

Pendekar pedang yang memiliki banyak nama panggilan karena pakaian hitamnya ini mengangkat bahu dan menjawab,

"Benarkah? Kenapa tidak kita coba?"

Sikap bermuka tebal ini menyebabkan Salamander, yang tampaknya pemimpin dari aliansi guild, tersenyum kecut dan mengangkat tangan kanannya. "Itu benar. Kalau begitu, cobalah... penyihir, panggang dia."

*BACHK!* Setelah dia mengatakan itu, orang itu menjentikkan jarinya, dan kelompok belakang segera meneriakkan kata-kata mantra mereka dengan cepat. Apakah itu adalah respon atau suara, orang bisa mengatakan bahwa mereka sangatlah terlatih. Asuna ingin mengucapkan mantra penyembuhan, namun 20 pasukan yang dekat di belakangnya tidak akan mengizinkannya untuk melakukan hal tersebut.

Pada saat ini, Spriggan itu memiringkan kepalanya sedikit.

Sejak keduanya saling kenal, dan walaupun avatar mereka berbeda, Asuna telah melihat senyum percaya diri itu pada pipi kirinya tak terhitung banyaknya. Saat berikutnya, cahaya mantra tertembak dari belakang dinding manusia dan segera menutupi bayangan hitam yang tersenyum itu.

«Pendekar Pedang Hitam» Kirito melihat tujuh serangan mantra tingkat tinggi yang mengarah padanya dan tidak bereaksi sama sekali. Tidak, sudah terlambat baginya untuk bereaksi. Semua mantra itu berjenis «Single Homing», dan tidak ada cara untuk menghindari serangan-serangan itu dengan bergerak di dalam koridor yang lebarnya 5m di mana ia tidak akan bisa terbang.

Kirito menarik Longsword dan mengistirahatkannya di bahu kanannya. Pada saat ini, pedang mengeluarkan efek cahaya merah gelap. Itu adalah sword skill?

Saat berikutnya, segala macam warna cahaya, meledak dan ekspresi terkejut dari 50 orang lebih memenuhi seluruh ruang sempit ini.

Kirito menggunakan skill 7 hit berturut-turut «Deadly Sins» untuk menghancurkan semua mantra serangan yang datang... atau lebih tepatnya, 'mengiris' mereka.

"Ti... Tidak mungkin..."

Bahkan «Zekken» Yuuki hanya bisa bergumam tak percaya. Asuna bisa memahami perasaannya, tetapi jika ia sendiri terkejut dengan level berlebihan, tindakan sembrono dan radikal ini, dia tidak akan bisa menjadi teman player VRMMO yang dipanggil Kirito ini.

Ini adalah skill Kirito sendiri yang dibuat di luar sistem, yang disebut «Spell Blast». Kemampuan khusus Kirito di Aincrad lama adalah menggunakan skill pedang untuk menyerang titik lemah dari senjata musuh daripada menyerang musuh, Skill di luar sistem yang disebut «Arm Blast». Meskipun skill luar biasa itu sendiri memerlukan refleks super dan skill sasaran yang sangat rumit, itu sulit untuk mengiris mantra di ALO.

Saat serangan mantra itu sendiri tidak sesolid benda-benda fisik, dan mereka terlihat seperti efek massa cahaya, 'hit designation' hanya dapat dibuat ketika mengenai pusat mantra. Juga, pusat mantra tidak bisa diserang dengan serangan biasa, tetapi dengan skill pedang yang mengenai titiknya pada kecepatan tinggi. Itu karena sifat padat senjata normal tidak bisa meniadakan sihir. Sebaliknya, skill pedang memiliki beberapa bentuk yang merusak elemen seperti bumi, air, api, angin, cahaya dan kegelapan. Namun, itu sudah melampaui kategori gila untuk mencoba menangkap pusat mantra dengan menggunakan ayunan pedang yang tidak bisa dikendalikan karena bantuan sistem, dan hampir mustahil untuk melakukannya.

Bahkan, Lyfa, Klein dan Asuna sendiri pernah mencoba untuk mempelajari skill «Spell Blast» ini dengan Kirito, dan harus menyerah setelah 3 hari. Bahkan Kirito sendiri mencatat bahwa ia mendapatkan pengalaman ini dari 'Menggunakan pedang untuk mengiris peluru' di dunia lain yang disebut «Gun Gale Online» ketika ia ditransfer ke sana. Mendengar Kirito mengatakan 'Tidak akan pernah ada mantra yang kecepatannya lebih tinggi dari peluru senapan' dengan wajah lurus, bahkan Asuna, yang sudah pada tingkat tidak akan terkejut oleh hal apapun, hanya bisa berdiri dalam shock.

Karena alasan ini, orang bisa mengatakan bahwa Kirito kemungkinan besar, tidak, pasti hanya satu-satunya orang yang bisa menggunakan skill «Spell Blast» di ALfheim. Dan diam-diam ia melatih skill ini sendiri, dan tidak pernah menggunakannya dalam duel atau kelompok berburu, jadi sekarang pasti menjadi pertama kalinya sebuah guild besar melihat hal ini.

"... Apa-apaan..."

Salamander berambut panjang mengeluarkan gumaman, dan dari belakang, mereka bisa mendengar suara-suara 'Dia mengiris sihir!' 'Itu bukan kebetulan, kan?, 'Itulah mengapa kukatakan...' dan segala macam suara lainnya.

Namun, kelompok lain yang adalah sebuah guild yang mengkhususkan diri dalam mengalahkan bos bereaksi. Di bawah perintah Salamander itu, para pejuang garis depan menarik senjata mereka, mengeluarkan tombak dan panah, dan dukungan mulai mengucapkan mantra lagi. Kali ini, itu tidak terlihat menjadi tipe «single homing», tetapi juga terlihat memasukkan tipe «multi-homing» dan tipe «Area ballistic».

Kirito berbalik lagi, mengangguk cepat pada Asuna, dan menunjukkan 3 jari dengan tangan kirinya. Tentu saja, ini bukan tanda kemenangan untuk mengubah situasi, tapi satu hal dengan makna 'aku akan membantumu menahan mereka selama 3 menit'. Tentu saja, dia tidak berpikir bahwa dia bisa mengalahkan 30 orang musuh dengan sendirian.

Pada saat ini, Asuna akhirnya mengerti alasan mengapa Kirito muncul di sini. Begitu dia mendengar Asuna mengatakan bahwa dia ingin membantu Sleeping Knights menaklukkan tingkat ini, dia tahu bahwa mereka akan dihalangi oleh guild besar. Kirito kemungkinan besar bersembunyi di area pintu masuk dungeon, dan menyadari gerakan aliansi guild itu.

Setelah ia melihat Asuna dan teman-temannya tidak bisa melawan jumlah orang sebanyak itu, dia berniat mengorbankan dirinya untuk mengulur waktu saat dia tertangkap. 3 menit. 180 detik. Ini hanyalah kedipan mata di dalam rumah hutan, tapi akan menjadi waktu yang lama di dalam pertarungan melawan pemain.

Asuna bukannya meragukan kemampuan Kirito, tapi bisakah dia benar-benar bertahan selama 3 menit melawan begitu banyak orang? Bijaksanakah mengirim seseorang untuk mengawal Kirito dari kelompok 7 orang ini...?

Tepat ketika Asuna ragu-ragu tentang hal ini, dua hal mengganggu pikirannya. Pertama, Kirito menaruh tangan kirinya di belakang punggungnya dan menyambar gagang pedang kedua yang ia wujudkan, dan menariknya dengan suara yang jelas. Itu Longsword emas yang terlihat glamor. Itu tidak dibuat oleh seorang swordsmith, namun senjata legendaris yang tersegel di bagian terdalam dari air bawah tanah Jötunheimr, «Pedang Suci Excalibur». Dalam rangka untuk mendapatkan pedang ini, kelompoknya menggunakan teman Lyfa, dewa jahat tipe penerbang «Tonkii» untuk mencapai batas kelompok dan menantang ke dalam Jötunheimr. Mereka hampir dimusnahkan total dalam pertempuran bos. Namun, bagian punggung Kirito saat ia kembali menggunakan dua pedang menjadikannya begitu kuat,

Asuna merasa bahwa kerja keras saat itu tidak sia-sia. Tekanan yang dikeluarkan oleh Longsword emas membuat bagian dukungan mundur perlahan-lahan. Seolah mengambil keuntungan saat musuh sedang goyah, gemuruh tiba-tiba bergema langsung dari bagian belakang kelompok.

"UWOOOAAAAAAHHH!! AKU DI SINI JUGA, MESKIPUN KAMU TIDAK BISA MELIHATKU!!!"

Suara agak kasar dan serak itu tidak diragukan lagi berasal dari pengguna katana Klein. Asuna hanya bisa berjinjit untuk melihat ke belakang, dan nyaris tidak bisa melihat rambut merah mengalir lurusnya yang diikat dengan bandana. Tampaknya Kirito bukan satu-satunya yang datang untuk memeriksa dungeon. Tapi mengapa ia muncul setelah beberapa saat?

"TERLALU LAMBAT. APA SIH YANG KAMU LAKUKAN!?"

Di sisi dinding manusia, Kirito berteriak, dan di ujung, Klein kembali berteriak,

"MAAF, AKU TERSESAT!!"

Asuna hampir saja terjatuh, tapi ia menyeimbangkan dirinya, dan melihat sosok kecil yang melambai di atas bahu Kirito. Itu adalah pixie navigasi Yui, yang juga 'anak' mereka. Senyum manisnya menunjukkan sinar kehangatan ke dalam hati Asuna.

-Terima kasih Yui-chan, terima kasih, Klein.

-Aku sangat mencintaimu, Kirito-kun.

Setelah menggumamkan ini jauh di dalam hatinya, Asuna segera berbisik kepada Yuuki di sampingnya.

"Kita pasti baik-baik saja jika kita menyerahkan hal ini pada mereka. Fokus saja untuk menembus 20 orang di depan kita dan menuju ruangan bos."

"Oke, aku mengerti." Yuuki mengedip beberapa kali, dan kemudian menjawab dengan suara yang jelas.

Dia berbalik, terlihat seperti ia akan mengaktifkan skill pedangnya dan mengangkat pedang di atas kepalanya. Jun dan Shiune di sebelah kanannya dan Thatch, Nori dan Taruken di sebelah kirinya melihat efek cahaya ungu dan masuk ke posisi pertempuran. 20 anggota kelompok yang tidak memahami situasi sama sekali dan prajurit Gnome yang merupakan pemimpin melihat gerakan teman-teman Asuna dan bersiap-siap untuk bertarung kembali.

Saat suara sihir dan skill pedang yang beradu bergema di belakang, Asuna berteriak,

"... MAJU!"

Dengan Yuuki memimpin, ketujuhnya masuk ke formasi wedge dan bergegas keluar. Gnome dan pengikutnya meraung dan menyerang.

Saat kedua belah pihak bentrok, *GAGAANN!!* suara dampak meledak, dan beberapa efek cahaya muncul pada saat yang sama. Battle royale kacau dimulai, dan setiap sudut koridor dipenuhi dengan suara pedang yang beradu satu sama lain.

Asuna sendiri merasakan skill Yuuki ketika duel melawannya, dan pada saat ini, dia bisa mengatakan bahwa anggota lainnya sebanding dengannya. Bahkan ketika melawan pemain, yang bukan monster biasa, mereka mampu mengayunkan senjata mereka dan bertarung.

Dengan menggunakan bobot pedang dua tangan Jun dan gada berat Thatch mereka bisa menghancurkan musuh dari depan. Tombak panjang Taruken dan tongkat Nori akan menyerang selama terjadi pembukaan. Yuuki sendiri menggunakan kemampuan menghindarnya yang luar biasa untuk dengan mudah menghindari beberapa pedang yang lewat ke dekat dirinya dan bergegas mencengkram musuh, menggunakan tebasan miring untuk menyerang.

Ketika menghadapi musuh yang jumlahnya lebih dari mereka, para anggota Sleeping Knights bisa dikatakan berjuang dengan gagah berani. Namun, kelompok musuh tidak akan hancur begitu saja- itu karena penyihir di belakang terus mengeluarkan mantra penyembuhan.

Dalam pertempuran besar ini, akan ada beberapa luka yang tak terduga. Selain Yuuki, HP anggota lain mulai menurun. Asuna dan Shiune mulai mengeluarkan mantra penyembuhan mereka.

Pada saat ini, 2 bayangan dari musuh bergegas datang ke atas mereka. Mereka adalah pemain tipe assassin dengan belati tajam dan mengenakan armor kulit yang ringan.

Asuna menyadari bahwa itu adalah Sylph yang bersembunyi di depan ruangan bos beberapa menit yang lalu, dan secara naluriah merubah mantranya. Dia menggunakan kecepatan membaca khususnya untuk menyelesaikan mantra dalam 2 detik. Kedua Sylph memiliki cahaya aliran air yang muncul di kaki mereka, dan kaki mereka yang terikat menyebabkan mereka terjatuh.

Menggunakan pembukaan ini, Asuna berbisik kepada Shiune, yang selesai membaca mantra penyembuhan.

"Bisakah kamu mengurus penyembuhan sendiri?"

Undine yang sedikit lebih tinggi dari Asuna itu segera menganggukkan kepalanya.

"Ya, aku harus bisa melakukannya."

"Aku akan mengurus penyembuh musuh kalau begitu."

Sudah beberapa menit sejak pertempuran dimulai, dan suara dari belakang mulai menjadi lebih dan lebih intens lagi. Ini pasti hasil dari Kirito dan Klein yang menyerang ke dalam kelompok musuh untuk mencegah serangan sihir. Namun, mereka tidak memiliki satupun penyembuh, dan tidak bisa menyembuhkan segala macam luka tak terduga. Kirito mengatakan bahwa ia bisa bertahan selama 3 menit, tapi akan lebih baik jika mereka bisa menembus musuh dalam waktu 2 menit untuk membayar pengorbanan mereka. Akan lebih baik untuk mengakhiri pertempuran ini dengan cepat.

Asuna dengan cepat memanggil jendela, menaruh tongkat ke dalam persediaan barangnya dan beralih ke Rapier yang lebih suka ia gunakan. Saat itu, cahaya perak muncul di pinggangnya, mewujudkan sabuk pedang yang dirajut dari benang mithril, dan sarungnya yang terbuat dari bahan yang sama.

*SHCHANK!* Pedang panjang yang tipis ditarik keluar. Pertama, ia berlari ke 2 Sylph yang tertahan oleh mantra penahan «Aqua Bind», dan tanpa ampun menyerang titik vital yang menyebabkan bar HP mereka segera menghilang.

Dia mengintip melalui sisa-sisa avatar yang hancur di depannya dan memandang ke mana dia akan melanjutkan pertempuran. Tampaknya setiap sudut koridor dipenuhi dengan pemain yang dengan sinting mengayunkan pedang di tangan mereka, tetapi jika ia harus meletakkannya, sisi kanan adalah bagian dengan orang yang lebih sedikit.

Asuna mengambil napas dalam-dalam, menyesuaikan napasnya, dan dengan kuat menendang tanah. Dia meletakkan Rapier di tangan kanan pada pinggangnya dan berlari. Begitu dia mencapai kecepatan tertentu, dia berteriak pada Yuuki, yang bertarung dengan punggung menghadap Asuna,

"YUUKI! MENGHINDAR!!"

"He...!?? AA!?"

Yuuki memiringkan kepalanya sedikit, melihat Asuna yang bergegas maju, dan buru-buru menghindar. Asuna mengarahkan pedangnya pada pemimpin Gnome, yang tetap berdiri dengan mengeluarkan kapaknya, dan mendorong serangan pedang dengan cara yang lurus tepat saat ia masuk ke postur membungkuk ke depan.

*BAA!!* Pedang mengeluarkan beberapa kilatan putih, dan beberapa cahaya mengelilingi Asuna. Asuna segera merasakan sensasi melayang, dan dia mengeluarkan ekor panjang seperti komet sebelum bergegas ke depan dengan kecepatan luar biasa.

"UWAAAHHH!"

Gnome itu akhirnya mampu menggerakkan kapak dua tangannya dan siap untuk menggunakannya sebagai perisai. Namun, Asuna lebih cepat, dan ujung depan Rapier menyentuh tubuhnya.

Gnome tampak seperti rakasa yang kehilangan kendali saat ia terlempar ke udara. Dia memiliki HP yang mendekati nol berkat serangan Yuuki, dan meledak dalam cahaya kuning dan tubuhnya menyebar saat di udara.

Setelah berubah menjadi komet putih, Asuna tidak melambat bahkan setelah berurusan dengan satu orang saat ia bergegas menjadi penyembuh. 3-4 Orang yang menghalanginya dan pemimpin mereka tertiup ke samping. Beberapa terbang ke udara, dan beberapa terduduk di tanah. Dia menggunakan skill pedang tusukan jarak jauh terkuat untuk rapier, «Flashing Penetrator». Butuh banyak berlari untuk menggunakan skill ini, jadi hampir tidak ada yang menggunakan ini dalam duel 1 v 1. Namun, itu sangat efektif ketika menerobos orang.

Asuna segera menembus dinding besi armor dan perisai sebelum meluncur ke depan sekitar beberapa meter. Saat ini, ia akhirnya mendarat di tanah dungeon. Dia menggunakan tumit sepatu botnya sebagai rem, menciptakan banyak bunga api dalam proses, dan berlutut di tanah dengan satu kaki sebelum mengangkat kepalanya. Keempat pembaca mantra, yang mengenakan jubah panjang, hanya bisa melihat ke bawah dengan kosong pada Asuna.

-Tampaknya julukan tak terkenal «Berserk Healer» menjadi lebih dikenal sekarang.

Asuna berpikir saat dia dengan kuat menyeret Rapier di belakang tangan kanannya.

Yang paling penting dalam pertempuran kelompok bukanlah kemampuan anggota yang bertarung di garis depan, tapi status kelompok yang mendukung mereka dari belakang, Asuna benar-benar menghancurkan penyembuh lawan, dan garis depan hancur oleh Yuuki, yang telah dibantu oleh Shiune dan yang lainnya.

Total waktu yang diambil adalah 2 menit dan 8 detik.

Menengok ke belakang, dia segera melihat bahwa Kirito dan Klein masih bertarung dengan sungguh-sungguh melawan bala bantuan. Musuh telah kehilangan banyak anggota, tetapi dua HP bar mereka berada di dekat wilayah merah seperti yang ditunjukkan oleh warna kursor.

Jauh di dalam hatinya, Asuna sekali lagi mengucapkan terima kasih pada mereka berdua dan Yui, yang berada di bahu Kirito yang berperan sebagai radar taktik.

Dia segera berbalik dan berteriak pada semua anggota Sleeping Knights, yang berhasil bertahan hidup,

"BAIKLAH, SAATNYA PERTUNJUKAN UTAMA! AYO KITA KALAHKAN BOSS!!"

Keenamnya segera berteriak 'baiklah' dan menendang tanah untuk berlari menuju gerbang hitam yang mengarah ke ruangan boss dengan Asuna.

Seperti tantangan pertama mereka, Jun meletakkan tangan kirinya di gerbang. Gerbang mengeluarkan suara berat dan membuka kedua pintu, mengeluarkan 2 baris api putih kebiruan.

Waktu yang dibutuhkan api untuk membentuk lingkaran akan menjadi waktu dimana gerbang tetap terbuka bagi mereka yang masih berada di luar, tapi tidak perlu untuk menunggu. Ketujuhnya segera meluncur masuk. Asuna adalah orang terakhir yang menyerbu masuk, dan segera berbalik menekan tombol batu yang ada di dinding kanan. Ini adalah tombol untuk membatalkan satu menit waktu tunggu.

Pintu mengeluarkan ledakan keras, dan perlahan-lahan menutup, dan pertempuran intens di baliknya mencapai momen kritis.

Pendekar pedang berpakaian hitam yang HP barnya menjadi merah terang mengangkat tangan kanannya. Dia kemudian mengangkat dua jari, kali ini benar-benar menunjukkan tanda V pada Asuna.

Setelah gerbang ruangan boss menutup sepenuhnya, mereka tidak akan bisa mendengar suara dari koridor. Tak seorang pun akan dapat membuka gerbang ini kecuali pertarungan di dalamnya berakhir.

Dalam keheningan total, api akan terus meningkat setiap dua detik. Saat ini, api mengisi setengah ruangan. Dengan kata lain, ada sekitar 50 detik sebelum bos muncul.

"Semuanya, cepatlah dan gunakan ramuan untuk memulihkan HP dan MP. Kita akan melanjutkan penaklukan sesuai dengan rencana dalam pertemuan itu. Pola serangan awalnya sederhana. Hindari saja dengan tenang."

Setelah mendengar kata-kata Asuna, keenamnya mengangguk sedikit dan mulai mengambil botol merah atau biru.

Asuna menyadari bahwa mereka masih memiliki sesuatu yang ingin dikatakan setelah meminum ramuan mereka, dan menunjukkan tatapan bingung.

Yuuki kemudian melangkah maju untuk mewakili mereka dan berbicara,

"Asuna... mereka berdua datang untuk membantu kita dan..."

"... Ya."

Asuna tersenyum dan mengangguk. Saat ini, HP Kirito dan Klein pasti telah habis dan menjadi «Remain Lights» kecil. Tidak, walaupun mereka tetap di sana, tak seorang pun akan menghidupkan mereka, jadi mereka pasti kembali ke titik respawn.

Memikirkan itu Yuuki dan yang lain pasti merasa khawatir tentang dua orang yang menjadi korban itu, Asuna terus menatap semuanya dan berkata dengan suara yang jelas,

"Mari kita kalahkan boss untuk membayar perjuangan mereka."

"Tapi... kami selalu mengandalkanmu dan teman-temanmu..."

Yuuki menggigit bibirnya, dan rambut yang memiliki bando merah di atasnya terkulai turun. Namun, Asuna hanya menepuk bahu Yuuki. Masih ada 10 detik sampai bos muncul. Undine itu menggunakan momen ini untuk mengatakan sesuatu yang penting.

"Kamu mengajariku sesuatu yang penting juga, Yuuki. Bukankah kamu mengatakan bahwa «Beberapa hal harus diselesaikan melalui cara keras agar kelompok lain dapat memahami»?"

Mata Yuuki melebar, tapi Shiune dan lima lainnya segera mengerti apa yang coba Asuna katakan. Saat para peri tersenyum dan mengangguk, api terakhir menembak langit di belakang mereka.

"Sekarang, ini adalah yang terakhir kalinya! Guild tadi pasti akan mencoba untuk mengelompok kembali saat kita sedang bertarung dan berkumpul di koridor. Kita harus bekerja keras dan perlihatkan pada mereka tanda kemenangan ketika pintu terbuka!"

Sebagai sub-leader dari «Knights of the Blood», dia juga akan menyemangati semua orang sebelum melawan boss. Namun, kata-kata yang Asuna katakan saat itu hanya akan menyebabkan sekutunya menjadi tegang. Kata-kata itu akan membuat mereka mencengkeram pedang mereka dengan keras, namun tidak meresonansi hati mereka. Itu karena Asuna hanya memikirkan cara yang efektif untuk memerintah orang lain, dan tidak pernah menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya.

…Yuuki, setelah pertempuran ini berakhir, beritahu aku lebih banyak tentang dirimu, seperti apa perjalananmu pergi ke seluruh dunia dan petualangan apa yang kamu miliki.

Dengan perasaan seperti itu, Asuna dengan kuat meraih pelindung bahu Yuuki dan melangkah mundur. Saat ini, ia menyimpan Rapiernya lagi dan mengangkat tongkat Pohon Dunia tinggi-tinggi.

Di depan mereka, teriakan yang dalam terdengar seiring dengan munculnya bentuk batu seperti poligon. Bos hendak muncul. Raksasa bersenjata empat melompat keluar saat blok seperti humanoid tertiup ke samping.

"Baiklah... Mari kita menantangnya lagi!"

Mendengar suara heroik Yuuki, semuanya meningkatkan semangat yang sama dengan auman raksasa hitam.