Baka to Tesuto to Syokanju:Volume2 Soal Kedua

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Pertanyaan Kedua[edit]

Jawablah Pertanyaan berikut:

Tuliskan nama nama ketiga negara negara Baltik.



Jawaban Himeji Mizuki:

Lithuania, Estonia, Latvia.[1]

Komentar Guru:

Benar



Jawaban Tsuchiya Kouta:

BTS vol 02 031.jpg

Asia, Eropa, Urayasu.[2]

Komentar Guru:

Saya lebih khawatir tentang bagaimana Tsuchiya-san menjelaskan kata 'negara'.



Jawaban Yoshii Akihisa:

Kagawa, Tokushima, Ehime, Kochi.[3]

Komentar Guru:

Sebelum saya membetulkan jawabanmu, saya berharap kamu sadar kamu tidak menjawab dengan jumlah jawaban yang benar.




"Aki, bisa bicara sebentar?"

Sekarang sudah waktu pulang sekolah. Baru saja ingin pulang tanpa memikirkan apa apa yang penting, Minami memanggilku.

"Un, kau butuh bantuanku?"

"Bukannya bantuan... lebih seperti aku ingin diskusi sesuatu denganmu."

Dia kelihatan normal sekarang. Sepertinya dia tidak ingin berbicara yang aneh aneh.

"Diskusi? Oke akan kudengarkan jika kau mau."

"Um, thanks. Aku merasa Aki adalah yang paling cocok diajak bicara tentang ini-itu. Beneran nggak ada cara agar Sakamoto bisa ikut?"

Ngomong ngomong tentang Sakamoto, dia adalah teman buruk terbaikku, ketua kelas F-Sakamoto Yuuji

Sepertinya Minami pikir kalau kedai teh hanya akan sukses kalau Yuuji memimpin kelas F. Tapi dia nggak mau bikin repot begini, sepertinya dia pintar juga.

"Mm-Ini bakalan susah...Kan sudah kubilang, Yuuji nggak akan peduli tentang apapun yang dia nggak tertarik."

Orang itu juga paling nggak tahu kelas ini akan ngapain.

"Tapi kalau Aki minta dia mungkin dia akan melakukan sesuatu?"

Minami melihatku dengan tampang penuh harap

"Eh? perasaan kalau aku yang tanya juga dia nggak akan merubah jawabannya-"

"Tidak, itu nggak akan mungkin. Dia pasti akan menerima permintaan Aki, karena-"

"Walaupun kita sering main bareng, nggak akan ada perbedaan..."

"Karena kalian saling cinta, kan?"

"SUDAHLAH AKU TAK BISA MENIKAH LAGI!!"

Bisa bisanya kau mengatakannya dengan muka segitu rata...

"Dari awal juga siapa yang mau sama Yuuji? Kalau begitu aku lebih pilih Hideyoshi!"

"...Ah, Akihisa?"

Saat ini, Hideyoshi yang sedang berdiri disebelah kami menghentikan pergerakannya. Sial, situasi ini menjadi aneh begini.

"Itu...itu, terima kasih tentang perasaanmu, tapi walau kau bilang begitu, ada banyak halangan yang tidak bisa dilewati. Itu, misalnya, misalnya perbedaan umur..."

"Hi...Hideyoshi! Bukan seperti itu!! Kau telah salah paham! Itu cuma kiasan! Dan halangan terbesar kita bukan umur!!"

Hideyoshi tersipu sambil dia merunduk. Apa, sekarang apa! Aku mulai berpikir itu malah nggak apa2 kalau itu Hideyoshi.

"Jadi maksudmu kau tidak bisa meyakinkan Sakamoto juga?"

"Eh? Ah, pada dasarnya iya."

Aku menggeleng, mencoba mengeluarkan seluruh pemikiran bahaya ini, dan menoleh ke arah Minaki.

"Ada cara lain nggak sih? Kalau begini terus kedai teh-nya akan gagal"

Matanya melihat kebawah, serta wajahnya juga kelihatan murung. Benar, aku juga berpikir bagaimana cara agar Yuuji mau ikut.

Kalau kedai teh-nya sukses, kami bisa memakai uang penghasilannya untuk meningkatkan fasilitas kelas F, dan mengurangi beban untuk tubuh Himeji-san sekalian. Kalau memungkinkan aku juga inin kedai ini sukses.

"Oh ya, kalian tadi ngomongin apa? Kelihatannya kalian kerepotan banget, pasti tadi tentang sesuatu yang serius."

"Nggak serius amat, cuma tentang manajemen kedai-nya dan perlengkapan kelas"

"Aki, itu bukan cuma seperti itu. Ini benar benar serius."

"Eh? Tentang apa?"

Minami kelihatan agak aneh. Dia bukannya nggak senang dengan fasilitasnya tapi untuk dia untuk se-entusias ini. Dia mikirin apa sih?

"Walaupun dia bilang jangan bilang siapa siapa, tapi situasi ini...bisa kau jaga rahasia?"

"Um, mm, iya."

Aku malah kaget dengan muka serius Minami.

"Ini ada hubungannya dengan Himeji."

"Himeji-san? Ada apa dengannya?"

"Dia bisa bisa pindah sekolah"

"Eh?"

Himeji-san pindah sekolah!? Bagaimana mungkin! Kami akhirnya sekelas dan baru mulai dan dia akan pindah sekolah!? Aku belum membuat kenangan yang bagus dengannya, maupun tiduran di pangkuannya atau membiarkannya membersihkan kupingku! Ngomong ngomong jadi kelas ini nantinya gimana? Sebagai bintang kelas sekelas ini akan hancur berantakan kalau dia tidak ada, dan akan jatuh menjadi neraka yang penuh kekerasan dan penjarahan. Gaya rambut sekelas akan menjadi Mohican yang seperti penyelamat akhir abad... Setelah itu akan ada perang bear besaran untuk Hideyoshi-

"Payah. Akihisa mulai kacau"

"Aduh si bego! Dia emang bener bener nggak bisa mengatasi situasi yang tiba tiba"

"Akihisa! Sadar woy!"

Siapa yang menggoyangkan pundakku sekeras ini? Ah, Hideyoshi. Kau manis sekali hari ini

"Hideyoshi...kalau aku punya Mohawk akankah kau tetap suka aku?"

"...Apa hubungannya dengan pindahnya Himeji?"

"Dalam arti tertentu ini mungkin bakat langka."

...Ack! Sial, aku kebanyakan mikir.

"Minami, apa apaan dengan Himeji-san pindah sekolah tiba tiba?"

"Tepat kaya yang aku bilang, kalau ini berkelanjutan, Himeji bisa bisa pindah sekolah"

"Kalau ini berkelanujutan...?"

Ini adalah cara aneh untuk ngejelasinnya. Kupikir di situasi normal, sekalinya orang berpikir mau pindah sekolah, itu sudah nggak terhindarkan.

"Shimada. Bukannya alasan Himeji-san pindah sekolah nggak ada hubungannya sama masalah sebelumnya?"

Hideyoshi memperlihatkan muka bingungnya.

"Bukan begitu. Alasan Himeji pindah sekolah adalah 'Lingkungan kelas F'."

"Dengan kata lain, bukan karena pekerjaan orangtuanya."

"Yah, pada dasarnya adalah fasilitas"

Mendengarnya ngomong ini, aku tiba tiba sadar.

Siapa saja bisa mengerti dengan mudah kalau fasilitas kelas F tidak cocok untuk Himeji-san. Walaupun aku tidak melawan metode sekolah yaitu menaikkan edikasi melalui kompetisi, ini aneh untuk Himeji-san, yang sudah level tinggi, untuk menahan perlakuan payah ini. Kita hanya punya tikar jerami dan kerdus. walaupun dia harus belajar dengan kelas kita, hanya ada idiot di sekitar kita. Dia tidak melakukan sesuatu yang salah sendirinya, tapi dipaksa belajar dengan lingkungan parah ini, orang tua manapun pasti mau dia pindah sekolah.

"Dan juga, Kondisi Himeji tidak terlalu bagus"

"Ya, Ngerepotin banget."

Seperti yang Minami bilang, kondisi kaya gini bisa merusak kesehatan Himeji-san dalam waktu yang lama. Walaupun kami sudah menyapu kadang (yah, kadang banget), tetap saja tempatnya nggak bersih. Sekarang, kondisinya nggak apa apa, tapi saat musim dingin datang menghembus lewat jendela, walau bukan Himeji-san, banyak yang bakal sakit.

"Begitu ya... jadi kau mau kedai teh ini sukses biar bisa menaikkan kualitas fasilitasnya?"

"Walaupun Himeji ingin merubah pola pikir ayahnya tentang kelas F dengan memenangkan 'Turnamen Summoning', kalau kita nggak naikin kualitas fasilitasnya..."

Salah satu alasan Himeji-san transferadalah kelas F yang penuh orang idiot, jadi tindakannya tidak sia sia. Namun yang paling penting adalah kesehatan Himeji-san. kalau tidak dapat fasilitas yang bagus orangtuanya tidak akan berubah pikiran.

"...Aki...kau tidak suka dengan Himeji pindah sekolah kan?"

Minami menatapku dengan pandangan sementara. Ini tak terduga; aku terlihat segitu kejamnya-kah?

"Iyalah aku nggak suka! Jangankan Himeji-san, kalau itu Minami dan Hideyoshi aku bakal nggak suka"

Kalau itu karena masalah keluarga, ya mau apa lagi, aku tidak mau terpisah dari teman temanku gara gara masalah bodoh ini.

"Benarkah...yah, aku rasa kau orang macam itu."

Kebetulan, kalau itu Yuuji, aku nggak akan repot repot

"Jika gitu, mau nggak mau kita harus mengajak Yuuji"

"Benar, setelah mendengar ini aku nggak bisa diam aja."

"Kalau begitu kita lebih baik menghubungi Yuuji."

Aku mengeluarkan handphone-ku dan menelepon Yuuji. Tasnya masih di sekolah walaupun dia tidak disekitar sini. Dia pasti masih disekolah.

Tuuuuuut~ Nada sambung telepon masih kedengaran.

"Halo-"

"Ah Yuuji, Ada sesuatu yang aku-"

"Akihisa? Timing yang bagus. Sori, bisa ambilkan tas-AAGH! SHOUKO!"

"Eh? Yuuji, kau sedang apa?"

"Sialan aku ketauan! Tolong tasku!"

"Yuuji? Halo! Halo-!?"

Teleponnya ditutup. Yang tersisa hanya suara "tuut tuut tuut"

"Sakamoto bilang apa?"

"Eh, hal tentang 'Aku ketauah' dan 'tolong tasku'

"Maksudnya apa coba?"

Minami memelototiku dengan ekspresi 'dasar tak berguna', kasar banget!

"Sepertinya dia dikejar Kirishima Shouko. Walaupun mukanya begitu dia memang lemah dengan perempuan"

Hideyosi melipat lengannya, mengangguk dan membuat suara 'mm' tanda setuju.

Kirishima-san adalah wakil sekolah, rambut hitam legam dan tubuh langsing, cewek yang berkarisma dan berbakat. Namun untuk alasan yang nggak jelas, ada yang salah dengannya, untuk suka Yuuji kaya gitu..

Um, kenapa Yuuji harus lari dan sembunyi? kalau itu orang biasa, dia nggak akan dikejar kejar. Malahan mereka yang akan mengejar. Yuuji, kenapa kau malah membuang buang kesempatan ini coba?

"Kalau begitu menghubungi Yuuji akan repot"

"Nggak, mungkin ini kesempatan bagus"

"Eh? Maksudnya?"

"Situasi ini paling baik untuk membuat Yuuji mau memimpin persiapan kedai teh. Mm, kalian bisa bantu?"

"Yah, tidak masalah...tapi memang kau tahu dimana Sakamoto?"

"Nggak masalah, aku bisa tahu dia memikirkan apa"

"Sepertinya kau ada rencana"

"Yah. Kurang lebih"

Aku memerlihatkan senyum licik, membawa mereka keluar kelas.





"Ara, Yuuji, kebetulan sekali bisa bertemu denganmu disini."

"...Kebetulan mananya kalo kita ketemuan di ruang ganti cewek!?"

Benar, seperti yang Yuuji bilang, Ini adalah ruang ganti perempuan. Karena itu Yuuji, nggak mungkin dia akan bersembunyi di toilet cowok atau ruang ganti dengan jujurnya, dimana cewek nggak akan boleh masuk, dan menggunakan reverse psychologi dan sembunyi di tempat dimana cowok tidak boleh masuk...sudah kutebak mencarinya tidak akan sulit.

"Ngomong apa kamu? Cuma kebetulan kok.

"Jangan boong, Yekali kamu harus kesini."

Ckrek—

Pintunya terbuka saat suara itu terdengar, Seorang perempuan memakai baju olahraga sedang berdiri di pintu.

"Erm...eh? Bukankah kalian duo bermasalah dari kelas F? Ini ruang ganti perempuan, tau!"

"Ara, Kinoshita Yuuko-san, kebetulan sekali"

"OH, Kakaknya Hideyoshi, senang bertemu kamu disini..."

"Ah, ya, kebetulan sekali."

Aku mencoba tertawa biasa. Hmm, memang ini terlalu kebetulan...


"SENSEI! ADA ORANG BOKEP DISINI!!"

"CEPAT LARI, AKIHISA!!"

"Udah tau!"

Kami melompat keluar jendela kecil yang ada di ruang ganti, sepertinya tidak ada cara menghindari ini.

"YOSHII DAN SAKAMOTO, KATAMU!? MEREKA BERDUA LAGI!?"

"Sialan, Yuuji! Itu si manusia besi"

"Udah lari aja!"

Walaupun cuma memakai sendal, kami tetap lanjutkan lari. Lawannya si Manusia Besi atau Ironan, Kalau kita tertangkap matilah kita.

"Ketemu kalian! Nggak akan kuhiarkan lari!"

Suara kasar itu terdengar dari belakang. Sial dia mulai mendekat

"Akihisa!"

Suara Yuuji terdengar dari belakang. Matanya tertuju pada jendela terbuka di lantai dua bangunan sekolah baru. Kita akan keluar lewat sana?

"OK!"

Setelah tanda dari Yuuji, aku melepas mantelku sambil lari. Saat ini, Yuuji lari melewatiku.

"Tidak ada jalan keluar! Menyerah dan terimalah pelajaran tambahan!"

Suara Ironman semakin dekat. Jujur harus dibilang, aku malah ketakutan sendiri

"Ayolah, Akihisa!"

Yuuji, yang sudah lari didepanku, berhenti dan berputar balik menghadapku.

"Mengerti!

Aku melompat ke pijakan dari tangan Yuuji. Saat itu Yuuji mengayunkan tangannya keatas, melemparkanku ke lantai dua dengan mudah.

"Ugh, orang orang bodoh ini malah punya kemampuan atletik di waktu yang bodoh seperti ini!"

Mengabaikan auman Ironman, saat aku masuk bangunan sekolah, aku menurunkan mantelku yang baru kulepasIgnoring Ironman's loud roar, as I got into the school compound, I lowered the coat that I just took off.

"Wuush"

Sekarang, Yuuji lari di tembok, menggunakan momentum untuk mengangkat dirinya sampai di udara dan menggapai mantelku.

"Ha!"

Setelah itu aku mengayunkan mantelku keatas. Walaupun mantel itu membuat suara berkibar yang mengesalkan, setidaknya kami bisa masuk dengan aman.

"YOSHII! SAKAMOTO!! AWAS KALIAN BESOK!!"

Walaupun itu Ironman, dia nggak bisa lompat ke lantai dua. Yang kami dengar hanyalah hanya suara gonggongan anjing yang telah kalah dalam perburuan.

"Hahh...sekarang reputasi buruk kita naik lagi"

Memakai mantelku lagi, aku menghela napas. Ini keterlaluan.

"Aku yang repot. Kalo kamu nggak disana tadi ini nggak akan terjadi"

Yuuji bersikap seolah bukan dia yang salah.

"Maksudmu apa? Bukankah kau yang salah? Sembunyi di ruang ganti perempuan."

Sembunyi di kelas mana juga nggak apa apa kan?

"Ma-mau apa lagi! Aku dikejar Shouko! Kalidah aku bisa sembunyi di sembarang tempat kalo yang ngejar itu dia"

Emang sih bawaannya dia mau aja masuk ruang ganti cowok tanpa ragu

"Ngomong-ngomong kenapa kamu sembunyi dari Kirishima-san?"

"...Dia ingin aku mampir kerumahnya."

Yuuji memperlihatkan wajah tak-senang-nya. Memangnya apa yang mengesalkan?

"Dari perspektif-ku, itu hal yang wajar untuk di-envy-kan, ya kan? Apakah itu masuk ke kamar Kirishima-san? Aku ingin masuk-"

"Dia ingin memperkenalkanku kepada keluarganya"

"...Kau belum pacaran dengannya, kan?"

Mungkin emosinya agak kebanyakan. Aku mulai kasihan kepada Yuuji. Tapi penyesalan ini nggak ada hubungannya dengan alasan kenapa aku mencarinya!

"Kalau begitu, Yuuji, karena kamu sedang kesussahan, ada hal bagus yang aku mau kasihtau"

"Bener? Kalau berita buruk kubunuh kau"

"..."

Nada bicara Yuuji membuatku diam semetara.

"Lanjut aja. Pakailah teleponku"

Aku mengeluarkan HP-ku, menekan nomor Shouko, dan menyerahkannya ke Yuuji.

"Serius, kalian merencanakan apa?"

Yuuji memperlihatkan tampang terkejut-nya sambil menerima HP-ku dan menempelkannya di telinganya.

"Halo? Ini Sakamoto-kah?"

"Oh, Shimada, Kalian sedang apa?"

"Tunggu, aku akan menyerahkan teleponnya."

"Ke siapa? Halo-hey, halo? Halo?"

Dari suaranya, sepertinya Minami telah menyerahkan HP-nya ke orang lain.

"...Yuuji, sekarang kamu dimana?"

"Salah nomer."

Keputusan tiba tiba yang menakutkan. Nggak semua orang di dunia bisa menjawab dengan 'salah nomer'.

"Kubunuh kau..."

Kalimat ini membuatku merinding.

"Tenang dulu. Kalau kau mau bantu, aku nggak akan melakukan sesuatu yang buruk untukmu."

"Bantu? Heh, ini tentang kedai teh-nya kan?"

Setiap situasi ini muncul, aku harus ingat bahwa faktanya Yuuji dikenal sebagai orang berbakat, karena otaknya bereaksi cepat banget.

"Serius, nggak usah muter muter. Kalau kamu bilang 'Aku ingin melakukan sesuatu untuk Himeji-san tersayangku! Bantulah aku!', Aku akan bantu walaupun malas malasan"

"Apa? Aku belom ngomong apa apa!"

"Ah-oke oke. Aku tau keinginanmu. Kurasa aku akan bantu."

Yuuji langsung memperlihatkan ekspresi antusias. Kenapa dia harus selalu begini...!

"Lupakan. Terima kasih bantuanmu."

"Nggak masalah. Ngomong ngomong memangnya Shimada dan Shouko dekat?"

Tiba tiba Yuuji memperlihatkan matanya yang seperti sedang menyelidiki. Sepertinya dia bingung kenapa Kirishima-san dari Kelas A bisa bersama Minami yang dari kelas F

"Un--tolong jangan marah setelah dengar."

"Bodoh. Aku kan udah setuju untuk bantu, nggak ada untungnya untuk marah kan?"

Benar sih, Yuuji sudah setuju untuk bantu.

"Yasudah. Sebenernya, tadi itu Hideyoshi niruin suara Kirishima-san"

"TUTUP MATA DAN TUTUP MULUTMU"

Yuuji! Kau pembohong!





"Ooh, ngerti. Intinya Himeji-san mau pindah sekolah..."

Setelah Yuuji bertemu dengan Minami dan Hideyoshi, kami sekarang di kelas F

"Kalau begitu, walaupun kedai teh-nya sukses, nggak akan cukup."

Yuuji melihat sekeliling kelas yang berantakan sambil ngomong itu.

"Nggak cukup? Kenapa?"

"Ada alasan kenapa ayah Himeji-san ingin dia pindah"

Yuuji bilang, sambil mengacungkan 3 jari.

"Pertama, fasilitas belajar yang sangat kurang, kita cuma punya tikar dan kerdus. Dalam kata lain, bukan tempat belajar yang enak. Jika kedai teh-nya sukses, seenggaknya kita bisa pakai uangnya untuk menyelesaikan masalah."

Satu jarinya dilipat

"Kedua, Kelas tua dan bobrok ini. Dalam kata lain, lingkungan belajar disini akan mengganggu kesehatannya dalam jangka panjang"

"Jadi menurutmu pertama itu fasilitas kelas, kedua kelasnya sendiri?"

"Ya. Untuk ini, kita bisa pakai uang yang kita dapat dari kedai tehnya. Untuk memperbaiki kelas, kita butuh bantuan sekolah."

Maksudnya adalah, kalau kita punya uang, masalah meja dan kursi beres. namun untuk memperbaiki kelas kita harus membicarakan tentang masalah administrasi dan memanggil kontraktor. Ini bukan hal yang bisa kita kerjakan sendiri.

"Dan ketiga, yang terakhir adalah standar kelas kita yang parah. Dengan kata lain, lingkungan ini tidak bisa membuat Himeji-san terus berkembang"

Walaupun kita tidak ikut ekskul sosial, agar kita lebih baik, kompteisi tertutup harus diadakan. Selama Himeji-san ada di kelas F, dia tidak bisa menduga komptetisi seperti ini.

"Aku nyerah. Kebanyakan masalah."

"Benar. Poin pertama sih nggak apa apa, cuma poin yang kedua sama ketiga akan susah."

Pertamanya mengadakan pertarungan Summoning akan menyelesaikan masalah, tapi sekarang, situasinya sudah semakin repot.

"Nggak. Untuk poin ketiga, bukannya Himeji dan Shimada sudah punya rencana?"

Yuuji berpaling kearah Minami.

Benar juga, Himeji-san bilang dia ingin mengejutkan ayahnya tadi saat pelajaran, Kalau dia bisa memenangkan pertarungan summoning ini, itu akan bisa membuktikan kalau kelas F punya kemampuan untuk bertanding dengan yang terbaik. Kalau begitu berarti masalah kompetisi udah selesai.

"Ini karena Mizuki memintaku. Dia bilang 'Aku tidak mau pindah sekolah, jadi tolong bantu aku.' Walaupun aku malas ikut campur dalam hiburan nggak penting seperti pertarungan summoning, aku nggak bisa nolak kan?"

Minami kelihatan lembut, yang nggak dia-banget. Tiba tiba dia kelihatan seperti kakak yang akan menjaga adiknya. Mungkin dia punya adik perempuan atau laki laki?

"Kalau Shouko ikut dalam turnamennya kita akan sulit untuk menang. Cuma dia nggak kelihatan tertarik dengan hal seperti itu. Dengan kemampuan Himeji dan Shimada, tinggi kemungkinan mereka akan menang

"Benar, kalian bisa kok."

Kalau Kirishima-san ikut, partner-nya akan dari kelas A juga. Akan sulit memenangkanya. Baguslah dia tak tertarik.

"Sebenarnya, lebih baik kalau murid lain selain Himeji-san juga ikut"

"Jangan diomongin."

Kalau pasangan lain, kita mungkin nggak akan lewat penyisihan. Karena kelas F penuh idiot.

"Kalau Himeji dan Shimada menang, itu akan memberikan publisitas untuk kedai teh kita. Ini jadi seperti membunuh 2 burung dengan satu batu."

Hideyoshi bilang sambil mengangguk tanda setuju. Sejak kelas kita ada di bangunan sekolah yang tua dan kotor, publisitas semacam ini akan bagus.

"Lalu, Sakamoto. Masalah kedua bagaimana?"

"Tenang, kami akan bicara dengan kepala sekolah."

Yuuji bilang dengan tampang 'sebenarnya'

"Ini saja? Kepala sekolah akan mengurusinya jika kita bicara dengannya?"

"Kubilang sih, seburuk apapun ini, tetap saja ini institut pendidikan, kan? Kebijaksanaan apapun yang mereka terapkan, selama kesehatan murid terpengaruh, kita punya hak untuk meminta perbaikan."

Kalau kita bisa lakukan ini, ada harapan agar 3 masalah bisa diselesaikan.

"Kalau begitu, ayo bicara dengan kepala sekolah."

Seperti pepatah bilang: Lakukan saat setrika masih panas... benar kan?

"Benar, jadi, sekarang, kita akna pergi ke kantornya. Hideyoshi dan Shimada, kalian bisa pikirkan untuk persiapan festival sekolah. Kalau ketemu Ironman, bilang kami sudah pulang."

Yuuji berdiri dan memberikan instruksi. Mungkin sudah bakat untuknya memberikan perintah dengan alami.

"Mm, oke. Kalau ketemu Ironman atau Kirishima Shouko kami akan bilang itu."

Hideyoshi senyum sambil berkata itu. Sekalinya nama Kirishima-san disebut, Yuuji kelihatan menganga.

"Aki, kerjakan yang benar."

"OK, Serahkan padaku."

Menerima suara dukungan Minami, Yuuji dan Aku meninggalkan kelas, kearah kantor kepala sekolah.





"...Hadiah...tersembunyi"

"...Kali ini...mereka sendiri...Kisaragi Highland..."

Saat kami tiba di depan kantor kepala sekolah, yang ada di pojok kampus baru, sepertinya ada perdebatan didalam.

Hadiah? Kisaragi Highland? Mereka ngomongin apa?

"Ada apa, Akihisa?"

"Nggak, itulho yang mereka omongin didalam"

"Serius? Berarti kepala sekolah ada didalam. Baguslah nggak buang buang tenaga, ayo masuk."

Yasudah, kami akan tentukan mereka sibuk atau nggak. Yuuji benar. Ngomong ngomong mumpung kita sudah disini mendingan kita selesaikan alasan kita kesini.

"Misii~"

Setelah mengetok pintu mewah kantor kepala sekolah, Yuuji dan aku langsung membobol masuk.

"Dasar kalian bocah nggak sopan. Tunggulah ada yang jawab sebelum masuk."

Orang yang memanggil kami adalah kepala sekolah dengan kepala penuh rambut putih, Todou Kaoru. Dia juga pelopor Test Summoning System. Mungkin karena dia ilmuwan?Dia kelihatan punya kebiasaan, dan kalimat pertamanya saat bertemu kami adalah 'Dasar bocah nggak sopan'

"Serius. Kami sibuk disini, dan bisa saja ada pengunjung yang tak terduga. Sudahlah, kami tidak bisa teruskan begini...jangan bilang kau rencanakanini?"

Pria yang sedang mengatur kacamatanya dan memelototi kepala sekolah adalah dekannya, Takehara-sensei. Dia sangat populer dengan cewek karena mata tajamya dan sikap dinginnya. Tapi aku nggak terlalu suka dia.

"Berhenti bicara hal bodoh seperti itu. Aku nggak ada urusannya untuk menyembunyikannya dari awal, jadi ngapain aku pakai taktik nggak berguna gini?"

"Oh, benarkah? Kau memang bagus dalam menyembunyikan hal"

Percakapan berlanjut dengan kami nggak ngerti apa apa. Kepala sekolah dan dekannya sedang diskusi sesuatu yang berhubung kelangsungan sekolah. Mungkin lebih baik balik lagi lain kali.

"Sudah kubilang. Aku tidak menyembunyikan apa apa. Kau salah"

"...Oh ya? Sejak kau tak ingin mengakuinya, hari ini cukup segini"

Setelah dia selesai bicara, Takehara-sensei melirik ke pojok ruangan-"

"Aku akan pergi"

Setelah itu dia berputar dan meninggalkan ruangan. Barusan, Takehara-sensei kelihatan sedang mengkonfirmasi sesuatu, tapi apa? Ruangan ini kah?

"Oke, bocah. Kalian ngapain kesini?"

Kepala sekolah yang pastinya nggak peduli tentang percakapannya dengan Takehara-sensei, bertanya.

"Permisi, nyonya. Kami kemari untuk berdiskusi dengan anda."

Berdiri didepan kepalasekolah, Yuuji bicara. Aku kaget dia bisa ngomong dengan sopan.

"Aku tidak ada waktu untuk bicara masalah ini. Kalau masalah administrasi sekolah, carilah Takehara-sensei. Juga, lebih pantas untukmu untuk memberi namamu. ingatlah."

Kita diceramahi tentang sikap oleh nenek nenek arogan. Kiamatlah sudah.

"Mohon maaf atas kekasaran saya. Saya ketua kelas 2-F, Sakamoto Yuuji, dan dia-"

Yuuji memperkenalkan dirinya, lalu menunjukku.

"-ketua idiot dari kelas 2"

Kenapa orang ini nggak bisa memperkenalku dengan namaku yang benar?

"Oh...begitu. Kalian Sakamoto dan Yoshii dari kelas F kan?"

Tunggu, kepsek! Aku bahka belum memperkenalkan diri. Kalau digabungkan dengan perkenalan itu... aku nangis nih...

"Aku berubah pikiran, ayo, apa yang kalian ingin bilang?"

Seperti preman melihat keatas, bibir kepsek menggulung. Orang ini nggak bisa dijelaskan kenapa dia bisa jadi edukator.

"Terima kasih banyak."

"Kalau sempat berterima kasih, maka cepat, dodol."

"Baiklah."

Dipikir pikir, Keadaan didepanku ini benar benar membuatku terkejut. Yuuji masih bersikap dingin saat dilecehkan lisan begini. Nggak sangka dia bisa se-dewasa ini.

"Kami disini meminta perbaikan fasilitas kelas F."

"Oh ya? Aku kagum kalian punya banyak waktu luang."

"Saat ini kelas F udah kaya otak keriput bolong, Keadaannya menyedihkan sampai sampai angin dingin bisa masuk"

Ah, dia mulai ngomel.

"Kalau kepala sekolah, yang seperti sampah yang ada di Era Sengoku, itu nggak masalah. Tapi sekarang, lingkunagn belajar ini terlalu bahaya untuk murid SMA. Kami merasa ini bisa membahayakan nyawa seseorang."

Dia mencampuradukkan bahasa provokatif dan bahasa sopan, mungkin Yuuji akan gila juga.

"Jadi, karena angin dingin masuk kelas, beberapa murid udah sakit. Jadi cepet betulin, nenek dodol! Sekian."

Hmm, inilah Yuuji yang kukenal.

Mendengar bahasa kasar Yuuji yang terdengar sopan, kepsek kelihatan berpikir. Tidak bicara sama sekali.

"Maaf, kepsek..."

Mungkin dia ngamuk gara gara sikap Yuuji? Hahh, orang biasa juga bakal marah.

"...Mm, ini waktu yang bagus..."

Dia ngomong apa?

"Baiklah, aku mengerti"

"Eh? Kalau begitu bisa bantu kami perbaiki?"

Yuuji benar. Walaupun kebijaksanaannya aneh, Fumitsuki Gakuen tetaplah sekolah. Kalau menyangkut masalah kesehatan murid, sekolah harus mengambil tindakan yang tepat. Bagus, bagus.

BTS vol 02 055.jpg

"Aku Menolak."

"Yuuji, tumpahi orang ini dengan lumpur terus lempar ke laut"

"...Akihisa, jaga sikap"

Ah? nggak sengaja aku bilang perasaanku.

"Serius. Si bego ini terlalu nggak hormat. Kalau bisa, bisa disebutkan alasannya, nenek bau?"

"Benar, Tolong beritahu kami, mbah mbah sialan."

"...Kalian, benar benar ingin tahu?"

Kepsek memelototi kami dengan terkejut. Kita ngomong sesuatu yang aneh ya?

"Nggak ada alasan. Ini karena membuat kelas yang berbeda beda adalah tujuan kami. Jadi jangan ngomong macam macam, bocah."

Dasar nenek...!

"Jangan! Kalau ini berketerusan, persetan dengan kami, cewek di kelas kami akan pingsan-"

"-Biasanya aku akan ngomong itu."

Kepsek memotongku, menaruh tangannya di dagunya sambil bilang ini.

"Lagipula, sejak itu murid muridku yang bilang. Kita akan ada deal kalau kalian dengarkan permintaanku."

Deal? Jadi nggak ada yang gratis gitu ya?

"..."

Eh? Yuuji nggak bereaksi. Dia meletakkan tangannya dekat mulutnya, kelihatan berpikir tentang sesuatu.

"Apa kondisinya?"

Sekarang gara gara situasinya sudah seperti ini, aku hanya bisa memaksa kepsek bicara.

"Kalian tahu turnamen Summoning di festival musim panas ini?"

"Mm, gitu deh."

"Kau tahu hadiahnya?"

"Eh? Hadiah?"

Aku nggak tau ada hadiah. Karena aku nggak mau ikut, dan aku nggak berpikir bisa menang walau aku ikut.

"Untuk pemenang turnamen, kita akan berikan sertifikat, trofi, dan Bracelet Platinum. Untuk pemenang kedua, sepasang tiket premium pra-pembukaan 'Kisaragi Highland'"

Mendengar hadiahnya, Yuuji membeku. Kenapa dia?

"Oh...apa hubungannya dengan kondisinya?"

"Biar kuselesaikan dulu. Bukannya kalian sudah dengar pepatah 'kalau buru buru apalah'[4]?"

Nggak tau.

"Ini tentang tiket premium-nya. Aku dengar ada rumor buruk tentangnya, jadi kalau mungkin aku ingin ambil kembali."

"Ambil kembali? Kenapa tidak diberikan saja?"

"Kalau bisa aku lakukan. Tapi walaupun si dekan yang mengurusi ini, dia sudah menandatangani perjanjian dengan perusahaan Kisaragi, dan sekarang kita tidak bisa tarik kembal."

Ngomong ngomong aku dengar rumor yang bilang 'kepsek sedang sibuk dengan sistem Summoning, dan mengijinkan si dekan untuk menjalankan sekolah'. sepertinya ini benar

"Sebagai kepsek bukannya kau harus lebih hati hati masalah perjanjian?"

"Diamlah, bocah. Aku sudah sibuk dengan Platinum Bracelet. Lagian aku juga baru dengar masalah ini."

Kepsek manyun. Dia kelihatan lebih lpeas, tapi dia punya tanggung jawab yang harus dipegang.

"Lalu, rumor itu tentang apa?"

Kepsek pertamanya hanya jawab 'sesuatu yang merepotkan' dan menjelaskan seluruhnya.

"Perusahaan Kisaragi ingin membuat tanda di Kisaragi Highlands, isinya adalah 'pasangan yang datang kesana akan sangat senang'."

"Apa masalahnya? Bukannya itu bagus?"

"Untuk membuat tanda ini, mereka akan buat suasana 'pernikahan' untuk pasangan yang datang kesana membawa tiket premium. Untuk alasan marketing, cara mereka agak memaksa."

"APHOAA!!??"

Yuuji tiba tiba meraung-serem woy.

"Sekarang apa,Yuuji? Takut banget."

"YA IYALAH GUE TAKUT! YANG DIBILANG SI MBAH ITU MAKSUDNYA 'PERUSAHAAN KISARAGI BAKAL PAKE SELURUH KEKUATAN MEREKA BUAT MAKSA PASANGAN YANG BAWA TIKET PREMIUM ITU BUAT NIKAH'!!"

"eh-heh. Aku ngerti, kau nggak usah jelasin lagi"

Agak menyegarkan melihat Yuuji bersikap seperti ini.

"Maksudnya adalah, pasangan itu adalah pasangan yang dipilih dari Fumitsuki Gakuen kami."

"Sial. Banyak yang cantik di sekolah kita, dan semuanya ngomongin sistem Summoning. itu akan sempurna untuk membuat tanda ini jika mereka buat rumor untuk menikah di masa SMA! Pastilah kita target perusahaan Kisaragi itu!"

Yuuji menggigit bibirnya dalam derita. Kenapa dia aneh banget?

"Hm. Sangat diharapkan dari orang berbakat, otakmu cepat juga"

Mendengar Yuuji bilang ini, Kepsek mengangguk. Dia sepertinya lumayan tahu Yuuji, dan barusan dia memanggil namaku.

"Yuuji, tenang dulu. Rencana perusahaan Kisaragi tidak terlalu buruk. Lagipula kita tahu plot ini, jadi kita tak perlu kesana."

Dia pasti takut diseret seret kesana oleh Kirishima-san. Aku sampai cemburu.

Kalau itu aku...mungkin nggak ada yang bisa kuajak. Kesepian juga....

"...Dia akan pasti ikut di turnamen ini untuk menang...kalau aku pergi aku harus terpaksa menikah...kalau tidak pergi, aku juga akan dipaksa menikah...ma...masa depanku sudah..."

Mata Yuuji sudah kosong. Apa apaan yang terjadi? Dia paling janji ke Kirishima-san kalau 'kita akan pergi bersama saat kita dapat tiket premium-nya'. Walaupun aku nggak tahu apa harganya kalau nggak menepati janjinya. Itu pasti sesuatu yang bodoh.

"Seperti yang dia bilang, aku tidak suka mengabaikan permintaan pasangan yang bingung dan memaksakan masa depan kepada murid muridku yang manis."

Dia benar benar berpikir murid muridnya manis? Aku curiga dengannya.

"Dengan kata lain, kondisinya adalah-"

"Benar. Memenangkan 'hadiah dari turnamen summoning'. Kalau kau bisa lakukan itu, Aku akan perbaiki kelasmu."

Oh, jadi ganti dari hadiah pertarungan summoning kan? Kalo gitu-

"Yang pasti, jangan diambil paksa, jangan juga dikasih pemenangnya secara cuma cuma. Kubilang padamu, menangkanlah turnamennya."

Ugh! Dia baca pikiranku! Walaupun dia aneh dia tetap edukator-kah? Sepertinya dia tak akan izinkan main curang.

"...kalau kami menang, janji kau akan perbaiki kelas dan perbagus fasilitasnya?"

"Ngomong apa kau? Aku hanya setuju dengan perbaikan kelas. Kalau fasilitas itu sih kebijakan sekolah. Aku tak berniat mengubahnya."

Sudah kutebak pasti dia akan jawab begini. Kalau kita bisa menaikkan fasilitas dengan deal ini, Kelas lain akan ribut...

"Namun kalau kalian pakai uang dari festival musim panas, itu masalah lain. Kalau itu kalian boleh menaikkan fasilitas kalian."

Ini proposal dari kepsek. Biasanya dari kebijakan sekolah, membeli fasilitas sendiri tidak diperbolehkan. Tapi selama kita bisa setuju dengan kondisinya, kita boleh boleh saja.

"Bisakah dibantu menaikkan standar fasilitas kami? Bagi kami perbaikan kelas sama pentingnya dengan kenaikan fasilitas."

"Terus?"

"Kalau kedai teh kami tidak sukses dan kami tak bisa menaikkan fasilitas, kami akan khawatir tentang situasi disana, dan tak bisa konsentrasi di turnamennya. Ini nggak akan bagus buat kami dan kepsek juga..."

"Apa? Itu saja? Nggak. Aku nggak akan izinkan"

"Tapi kalau kau janji untuk menaikkan fasilitas kami bisa konsentrasi dengan turnamennya-"

"Percuma Akiisa. Nenek itu nggak ada niat untuk izinkan. Terpaksa kita harus ikuti deal-nya."

Tak terduga, Yuuji mulai sadar dan menepuk bahuku.

...Sial. Walaupun aku tak suka dengan itu, kami memang terpaksa dan akhirnya harus ikut kondisinya.

"Aku mengerti. Kami terima kondisimu."

"Benar? Kalau begitu negosiasi kita selesai."

Kepsek nyengir seperti bilang 'sesuai rencana' dengan licik.

"Tapi, kami punya permintaan lain juga."

Sudah kutebak, saat negosiasi selesai dan ingin kembali ke kelas, Yuuji memberikan kondisi lain kepada kepsek.

"Oh ya? Apa itu?"

"Kudengar turnamen Summoning ini main dua lawan dua. Tipe eliminasi. Pertama matematika, kedua Kimia."

Kalau subjek pertama matematika, seluruh peserta harus bertarung dengan matematika. Alasan pergantian subjek pelajaran dalam pertarungan kedua mungkin karena poin yang terpakai di pertarungan pertama akan mengurangi hiburan dari kompetisinya. Siapapun yang bilang, ini tetap promosi sekolah.

"Terus?"

"Sekalinya peserta sudah diumumkan, Biarkan saya pilih subjeknya."

Setelah Yuuji bilang ini, untuk suatu alasan, dia memperlihatkan pandangan tajamnya kepada kepsek, mencoba meyakinkannya. Dia memang curiga tentang apa?

"Hm...oke. Pengembangan poin tak akan kuizinkan, tapi jika ini saja mungkin boleh."

"...Terima kasih banyak"

Mata Yuuji bertambah tajam. Ini past menguntungkan kami, jadi untuk apa ekspresi itu? Aku benar benar tak mengerti dia.

BTS vol 02 065.jpg

"Kalau begitu, sejauh itu aku bisa bantu kalian. Kalian bisa menang kan?"

Kepsek bertanya. Dia benar benar ingin mencegah rencana perusahaan Kisaragi, ya?

"Pasti lah. Kau pikir kami siapa?"

Yuuji tersenyum tebal. Tampang termotivasi inilah yang dia pakai saat tes pertarungan summoning.

"Kami pasti akan menang, jadi jangan lupa janjinya!"

Pastinya aku termotivasi juga. Ini bisa menjadi metode untuk menyelesaikan masalah di depan mata. Dan kita tinggal selesaikan tugas.

"Kalau begitu, bocah, Kuserahkan pada kalian."

"YEAH!!"

Begitu saja, Pasangan terburuk se-Fumitsuki Gakuen telah terbentuk