High School DxD (Bahasa Indonesia):Jilid 11 Life 0

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Life 0[edit]

Hal itu terjadi tepat setelah festival sekolah berakhir. Ketika diskusi itu mencapaiku, aku, Azazel, tengah memasang ekspresi bodoh yang jarang sekali kutunjukkan.

“........Apa kau benar benar serius soal itu, Vali?”

Vali baru mengirimkan saluran khusus padaku. Aku bisa melihat wajah enerjiknya via lingkaran sihir komunikasi mungil.

[Ya. Dia (laki laki)..........kurasa sekarang adalah dia (perempuan). “Dia” mengharapkan hal itu. Aku sendiri juga tertarik, jadi aku menginginkannya terjadi.]

Ide itu sungguh tak terpikirkan oleh Vali. Jujur saja, itu adalah sesuatu yang mampu mengubah keseimbangan kekuatan di dunia.

“...........Tapi ini kau yang sedang kita bicarakan. Bukan hanya itu alasannya, kan?”

Vali tersenyum pahit oleh kata kataku.

[Kau sungguh tajam seperti biasanya. Itu juga alasan kenapa kau sangat dikucilkan dari golongan lainnya.]

“Itu bukan urusanmu.”

[Kudengar karena kebiasaanmu mengatakan “Itu bukan urusanmu” dimana mana, ada orang orang yang berpikir “Mungkin pria ini merencanakan sesuatu”, benar?]

Memang benar kalau aku dikucilkan dari orang orang yang berdiri di puncak golongan lain. Hal itu sudah terdengar mencurigakan karena aku adalah “Jenderal Malaikat Jatuh”. Selain itu aku juga suka mengatakan “Kedamaian” dan “Kesepakatan”. Dan aku juga suka ikut campur dalam urusan orang lain..........bahkan Ise juga mengatakan hal itu.

“.........Itu sudah sifat alamiku. Kalau nyawaku diincar karena hal itu, tak masalah bagiku.”

Aku mengatakannya sambil mendesah. Vali kemudian menggumamkan sesuatu sambil memasang wajah tak percaya.

[.........Ada orang orang yang mengejar “dia”.]

“Itu sudah jelas. Dan jumlahnya pasti amat sangat banyak. Namun karena kau tak bisa membunuh “dia”, semua orang jadi kerepotan.”

[Itu benar. Namun ada juga mereka yang sepertinya akan memilih mengejarnya dalam kelompok. Bukan. Ini sudah waktunya mereka melakukannya.]

.......Aku paham. Aku sudah bisa membayangkannya. Pemuda dengan “Tombak” itu masuk dalam pikiranku.

“.......Apa kau mencoba memancingnya keluar?”

[Aku hanya ingin memastikan apakah dia musuhku atau tidak.]

Dia mengatakannya secara gamblang. Tapi kau tak ingin dia menjadi “kawan”mu juga kan?

[Tapi, menurutku dia mungkin musuhku. Sudah saatnya untuk menyelesaikan ini.]

Vali membuat wajah tersenyum cerah. Lihat? Pria ini benar benar seorang maniak bertarung.