High School DxD (Bahasa Indonesia):Jilid 3 Ksatria Pembalas Dendam

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Ksatria Pembalas Dendam[edit]

Aku tengah berjalan tanpa membawa payung ketika hujan turun sangat deras. Kupikir hujan ini sangat bagus untuk mendinginkan kepalaku.

Aku baru saja bertengkar dengan Buchou.

Aku memberontak untuk pertamakalinya pada Majikan yang pernah menyelamatkan nyawaku. Aku gagal sebagai “Kiba Yuuto”. Namun aku tak pernah sekalipun melupakan dendamku pada Pedang Suci Excalibur. Aku belum lama terbiasa dengan kehidupan sekolah. Aku sudah mendapat teman, mendapat hidup layak, dan mendapat nama. Aku juga menerima tujuan hidup dari Majikanku, Rias Gremory. Meminta kebahagiaan lebih adalah hal buruk. Aku memang buruk. Aku tak bisa terus hidup demi “Teman teman”ku sampai aku mencapai tujuanku.......

[SPLASH]

Aku mendengar suara air yang berbeda dari suara hujan. Terdapat Pendeta di hadapanku. Terdapat salib menggantung di dada mereka dan memberikan hukuman langit atas nama Tuhan yang begitu kubenci. Dia adalah salah satu hal yang kubenci. Sasaran kebencianku. Aku tak keberatan membunuhnya kalau dia adalah Exorcist. Itulah yang kupikirkan.

....! Ada darah mengucur dari perutnya dan dia batuk batuk darah. Dia kemudian jatuh. Apa dia dibunuh oleh seseorang? Siapa? Seorang musuh?

“.....!”

Aku dalam sekejap menciptakan Pedang Iblis setelah merasa ada keganjilan. Itu adalah hawa membunuh!

[KATCHIN!]

Terdapat kilatan logam dibawah hujan yang nampak bersinar. Saat aku menggerakkan tubuhku ke tempat hawa membunuh itu berasal, terdapat seseorang dengan Pedang panjang menyerangku. Pria ini memiliki busana sama dengan Pendeta yang tewas barusan. Jadi dia juga Pendeta. Tapi yang satu ini memiliki hawa membunuh yang berbeda.

“Yahoooo. Lama tak jumpa.”

Aku kenal pria Pendeta yang membuat senyum aneh. Pendeta sinting dengan rambut putih, Freed Zelzan. Dia adalah orang yang kami lawan dalam insiden yang melibatkan Malaikat Jatuh sebelumnya. Dia menunjukkan senyum menjijikkan yang sama yang membuatku kesal seperti biasanya.......

“.......Sepertinya kau masih di kota ini. Apa urusanmu hari ini? Maaf, tapi aku sedang tidak berselera hari ini.”

Aku mengatakannya dengan nada kemarahan namun dia malah tertawa.

“Waktu yang bagus sekali. Luar biasa! Saat ini aku justru merasa bahagia sampai ingin berlinang air mata karena bisa bertemu kembali denganmu!”

Cara bicaranya masih congkak. Dia benar benar membuatku marah. Aku membencinya karena dia adalah Pendeta. Saat aku mencoba membuat Pedang Iblis di tanganku, Pedang panjang yang ia bawa mulai memancarkan aura suci.....! Cahaya itu! Aura itu! Kemilau itu! Tak mungkin kulupakan!

“Aku bosan berburu Pendeta jadi sekarang waktu yang bagus. Bagus sekali. Mari pastikan siapa yang lebih kuat diantara Excalibur punyaku dan Pedang Iblismu, oke? Hyahahaha! Aku akan membalas budimu dengan membunuhmu!”

Ya, Pedang yang dia bawa adalah Excalibur itu sendiri.