High School DxD (Bahasa Indonesia):Jilid 5 PEMENANG

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

PEMENANG[edit]

Bagian 1[edit]

Setelah Game berakhir, aku bangun di dalam ruang medis. Aku berada di atas ranjang.

Benar sekali, ini kali pertama aku berakhir di tempat ini.

Kasusku kali ini lebih karena kehilangan darah ketimbang luka luka. Sepertinya aku sudah diberi transfusi darah dengan segera setelah itu dan sekarang bisa bergerak seperti ini. Aku telah pergi keluar dan meminum jus di mesin penjualan.

Kami menang.

Namun, setengah dari kami, terdiri atas aku, Xenovia, Asia, dan Gasper, telah dijatuhkan, dan kelompok Gremory yang disebut jauh lebih superior sebelum Game telah mendapat pukulan berat pada penilaian kami.

Penilaian kami nampaknya sudah menurun drastis karena bagaimana Gasper kalah dengan begitu cepat sejak awal pertandingan dan bagaimana aku, Sekiryuutei, telah dijatuhkan. Karena hasil alami belum keluar, evaluasi dari para petinggi sangat keras.

Buchou – juga nampaknya sangat malu. Ada juga pencapaian dari Kiba, yang menampilkan usaha sangat gigih sekelas-as dan fakta kalau kami mendapat kemenangan di saat terakhir, namun -- . Nampaknya saat akhir dimenangkan dengan konfrontasi langsung diantara kedua [Raja].

Ini tentu menjadi kemenangan pertama kami........namun, kami tak mendapatkan kemenangan sempurna. Kami memang sudah menjalani pertarungan yang sulit. Biarpun kelompok kami memiliki kekuatan sangat unggul, kami sangat jauh dari kemenangan memuaskan.

Ya! Situasi ini buruk!

Menggeleng kepalaku, aku memutuskan mengubah suasana hati dan pergi ke ruang perawatan Saji. Luka lukanya juga sudah hampir disembuhkan. Dalam Game kami adalah musuh, namun setelah itu berakhir, kami adalah teman seperti biasanya.

Baiklah, aku akan menyombong tentang payudara Buchou lagi!

“Tolong ambillah ini.”

Aku mendengar suara Sirzechs-sama dari ruangan Saji. Aku bisa melihat bagian dalam ruangan dari celah pintu. Di dalam terdapat Sirzechs-sama, Kaichou, dan Saji di atas ranjangnya.

Saji tengah menerima sesuatu dari Sirzechs-sama. Dia tengah memegang kotak kecil yang kelihatan mahal di kedua tangannya.

“U-Umm......Ini....?”

Saji gemetar dengan gugup.

“Ini sesuatu yang dihadiahkan pada seseorang yang unggul dan bertarung dengan paling mengesankan dalam Rating Game.”

Sirzechs-sama mengatakan itu dengan tersenyum, namun—

“A-Aku......kalah dari Hyodou.....I-Ini bukan situasi dimana aku boleh menerima ini.”

Saji menggenggam seprai ranjangnya dengan frustasi dan penyesalan yang nampak jelas.

“Itu benar. Namun, konsekuensinya, Ise-kun—Sekiryuutei bisa dikalahkan. Kami menyaksikan pertarunganmu dengan senang dari ruang penonton. Sampai Odin dari Norse bahkan memujimu.”

Sirzechs-sama mengeluarkan medali dari kotak kecil dan meletakkannya di dada Saji.

“Kamu tak perlu merendahkan dirimu. Bahkan Iblis sepertimu bisa mengincar posisi top. Aku senang bisa melihat para Iblis muda menjanjikan untuk masa depan. Curahkanlah dirimu lebih tinggi lagi. Aku memiliki harapan besar untukmu.”

Kemudian, Sirzechs-sama menepuk nepuk kepala Saji.

“Tak apa apa tak peduli berapa tahun atau dekade yang diperlukan – teruslah bercita cita menjadi guru Rating Game.”

Pada kata kata Sirzechs-sama, Saji – menangis dengan sunyi. Air matanya mengalir tanpa henti, dan wajahnya menjadi kusut.

“......Saji, kamu telah menampilkan sosok yang hebat di depan banyak orang. Karena kamu bertarung dengan luar biasa.”

Sona-kaichou tengah penuh dengan ketenangan dan kebanggaan dari matanya.

Kaichou pasti senang karena budak kebanggaannya telah mendapat penilaian setinggi itu.

Saji menggenggam medali di dadanya, kemudian menyeka air matanya dengan tangannya dan mengangguk dengan kuat.

“.....Ya......Terima kasih banyak!”

.........

Merasa kalau tak akan sopan untuk mendengar lebih jauh lagi, aku meninggalkan tempat itu.

.......Saji, selamat.

Aku hanya menganggap Vali sebagai rivalku. Aku terus percaya tanpa ragu bahwa Vali adalah satu satunya rival yang harus kukalahkan.—Aku salah besar.

Karena itulah, akan kukatakan padanya secara langsung lain kali.

Itu, aku minta maaf.

Hei, Saji. Mana dari kita yang berhasil menjadi Iblis Kelas Tinggi lebih dulu dan mengabulkan impian kita?

Aku – takkan kalah! Pasti. Dan aku pasti akan menang kalau kita bertarung lagi!

Jadi, sampai lain kali.

Rivalku, Saji Genshirou.


Bagian 2[edit]

Aku menemui Buchou tepat sebelum memasuki kamar perawatanku.

“Buchou.”

Buchou juga menyadariku, dan tersenyum. Seperti itu, kami masuk ke ruang perawatanku dan mulai mengobrol dengan santai.

“Ise, terima kasih untuk kerja kerasmu dalam Game. Kamu sudah berjuang bagus. Tapi, tolong jangan permalukan aku seperti itu lagi, oke? Karena hasrat seksualmu itu terlalu kuat.”

Buchou tersenyum pahit. Ah, aku sudah mempermalukannya.

“M-Maaf......teknik baru dan peningkatan kekuatanku cenderung berkaitan dengan hasrat duniawi........”

“Teknik itu disegel saat dalam Game.”

“Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh!? Serius!?”

Mana mungkin! Serius!? A-Apa karena itu mesum!?

“Karena itu akan membuat kita tak bisa bertarung melawan Iblis wanita lagi. Jadi itu dilarang.”

“Uu, kalau Buchou mengatakan itu, aku akan patuhiiiiiiiiiiii.”

Aku mengangguk dengan mata berair! Sungguh disayangkan! Benar benar disesalkan! Tak kukira aku hanya bisa memakainya sekali! Ah, tapi itu artinya aku boleh memakainya dalam pertarungan sungguhan!?

Buchou tersenyum pahit.

“Tapi, kita akhirnya mendapat kemenangan. Dibandingkan sebelumnya, ini lebih baik, tapi aku masih kehilangan Ise, Asia, Xenovia, dan Gasper. Biarpun keluarga kita dikatakan diberkahi dengan kemampuan dan melimpah dengan kekuatan, kalau kekuatan itu tak bisa digunakan di saat kritis, maka tak ada artinya. Biarpun kemungkinan menang itu tinggi, saat kamu kalah, kamu kalah.”

Seperti yang Buchou katakan.

Kalau kami membuat kesalahan meski kecil, kami mungkin kalah. Biarpun kemungkinan menang mereka lebih kecil dari kami, lawan kami secara mati matian datang pada kami. Karena mereka juga bergerak maju, percaya kalau mereka akan menang.

Kalau seseorang menyerah dan sembrono, seseorang juga bisa kalah dalam pertandingan yang mereka bisa menangkan.

Aku dan Buchou telah menyadari fakta jelas ini sekali lagi.

......Semua itu sulit, Game ini. Sama halnya dengan pertarungan sebenarnya.

Dan tepat saat aku telah melihat jalan menuju Iblis Kelas Tinggi, itu jadi terasa semakin jauh.

Tapi, itu bukan jarak tak terjangkau. Suatu saat nanti, aku juga, seperti Buchou—

“Tapi Ise. Baik Akeno dan Koneko berhasil mengatasi dinding merek dalam Game ini. Ini sesuatu yang patut dibanggakan.”

Buchou mengatakan itu sambil tersenyum. Senyum itu nampak sangat lembut.

“Ya, aku juga berpikir begitu! Aku merasa kalau kita menang dalam pertandingan, namun kalah dalam Game, namun meskipun begitu aku senang karena Akeno-san dan Koneko-chan berhasil untuk bergerak maju!”

“Itu semua berkat kamu, Ise. Berkat kamu, semua orang dalam kelompokku mampu menerobos hal hal yang mereka pikul. Kamu telah menyelesaikan semua masalah yang terus aku cemaskan, Ise. Aku sangat bersyukur.”

“T-Tidak, aku tak melakukan hal hebat apa apa. Aku hanya berpikir untuk membuat semua orang bahagia.”

Itu benar, aku ingin terus bergerak maju bersama dengan semuanya. Biarpun hal hal sulit terjadi seperti kali ini, aku ingin menerobos itu semua bersama. Karena kami adalah rekan dan teman.

“Ise, aku senang kamu menjadi budakku........tolong tetaplah denganku selamanya.”

“Ya, Buchou! Aku akan selalu berada di sisimu!”

Aku juga senang, bisa melihat senyum peringkat tertinggi Buchou.

Kon-kon.

Tiba tiba, seseorang mengetuk pintu kamar perawatanku. Setelah aku menjawab “Ya, silahkan masuk” Seorang kakek yang belum pernah kulihat sebelumnya berjalan masuk. Dia mengenakan topi dan hanya memiliki sebelah mata. Lebih jauh lagi, dia memiliki jenggot putih panjang.

“Pak tua, siapa kau?”

Saat aku bertanya dengan kebingungan, pak tua itu tertawa.

“Aku Orang Tua dari Pedesaan Utara. Sekiryuutei, sepertinya kamu perlu belajar sedikit lebih banyak lagi. Yah, tapi kau cukup mengabdikan diri.”

Apa yang pak tua-sok-akrab ini katakan tiba tiba? Tapi, bagaimana dia tahu kalau aku ini Sekiryuutei?

“Anda Odin-sama, kan? ini kali pertama kita bertemu. Saya Rias Gremory.”

Buchou nampaknya mengenal dia. Odin? Hmm, aku merasa pernah mendengar nama itu entah dimana sebelumnya......

“Begitu, begitu. Adik perempuan Sirzechs, huh. Aku melihatmu dalam Game. Yah, ada juga hal yang lain selain itu. Tapi, begitu, hmm. Besar sekali. Saat aku menonton, aku sudah terpesona dengan hanya itu.”

Pak tua itu tengah menatap payudara Buchou dengan mata mesum! Heeeeeeei! Dasar pak tua sialan! Payudara itu punyaku! Tak seorangpun selain aku yang boleh menatapnya dengan mata mesum! Saat aku mencoba protes dengan tegas, wanita cantik berarmor yang entah kapan memasuki ruangan memukul kepala pak tua dengan kipas kertas.

“Astaga! Bukankah sudah saya katakan kalau tindakan mesum itu dilarang keras? Karena akan ada pertemuan penting saat ini, mohon jaga diri anda sebagai Raja dari Dewa Dewa Norse!”

“.....Benar Benar Valkyrie tanpa celah. Aku sudah tahu. Itu konferensi untuk menghadapi para teroris dengan Malaikat, Iblis, Malaikat Jatuh, Zeus dari Yunani, dan Indra[1] dari Gunung Sumeru[2].”

Pak tua bergumam dengan mata setengah terbuka sambil menyeka kepalanya.

“Yah, itu tak apa apa. Adik perempuan Sirzechs dan Sekiryuutei. Dunia ini tak hanya penuh oleh tantangan, ada banyak hal hal mengasyikkan juga. Teruslah maju sembari menikmati dan menderita melalui itu semua. Bersikap sembrono adalah satu satunya cara bagi para pemuda untuk bisa tumbuh. Hohoho.”

Hanya meninggalkan kata kata itu, pak tua dan wanita berarmor meninggalkan ruanganku.

Siapa itu? Pak tua itu.......dia menatap payudara Buchou ku! Siapapun yang berani mengusili payudara Buchou adalah musuhku, tak perlu dipertanyakan lagi! Aku takkan pernah mengizinkan hal seperti itu!

Aku menanyai Buchou tentang hal itu kemudian, namun ternyata pak tua itu adalah Dewa dari utara! Padahal dia kelihatan seperti kakek tua mesum!

.......Astaga, ada banyak hal yang tak kupahami di dunia ini.

Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. Indra, yang nama Jepangnya adalah “Taijakuten” (帝釈天), adalah pemimpin Dewa Dewa atau “Devas” dalam mitologi Hindu. Dia juga muncul dalam Buddhisme sebagai Dewa “Śakra”.
  2. Gunung Sumeru adalah nama dari “Gunung-Pusat-Dunia” yang muncul dalam mitologi Buddha. Ia juga muncul dalam Hinduisme, dibawah nama pendek “Mt. Meru”.