High School DxD (Bahasa Indonesia):Jilid 5 Life.5

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Life 5 : Buchou vs Kaichou : Paruh Kedua![edit]

Bagian 1[edit]

Beberapa menit setelah aku mulai bertarung dengan Saji.

Dia dan aku masih bertukar pukulan terhadap satu sama lain. Tak peduli bagaimana kalian melihatnya, aku yang lebih unggul. Saji sudah babak belur. Dia tengah mempertahankan dirinya memakai benang yang dibundel di lengannya sebagai perisai, namun dia tak bisa menangkis setiap serangan.

Kadang kadang dia dihajar sampai jatuh sampai poin dia menabrak dinding toko di belakangnya. Pertarungan tangan kosong kami nampak sebanding. Namun, serangan dan pertahananku meningkat sampai poin dimana kami bahkan tak bisa dibandingkan. Aku masih belum mencapai kekuatan sejatiku, namun..........

Aku menghajarnya berkali kali. Meskipun begitu, dia masih berdiri. Biarpun kakinya bergetar sembari dia melakukan itu!

Dia melempar tinju ke armorku. Tinju Saji sudah remuk. Aku bisa mendengar suara sentakan luka di tinjunya, dan tinjunya sudah tertutup oleh darah.

Meski Saji telah menembakkan benangnya padaku, aura Sekiryuutei mengenyahkannya dan tak membiarkan dirinya tersambung denganku.

Namun, benang yang telah tersambung ke lengan kananku saat dia pertama datang tak bisa lepas bahkan saat aku bertransformasi menjadi armor, dan tak peduli berapa kali aku mencoba menghancurkannya dengan auraku, itu tetap tak bisa lepas! Dimana sebenarnya itu terhubung!?

Mungkin Ascalon yang telah kupinjamkan ke Xenovia bisa memotongnya, namun tak ada artinya mengatakan itu sekarang. Aku hanya perlu memotongnya saat kami berkumpul lagi nanti.

Ada hal lain juga yang aneh. Meski armorku seharusnya tangguh, kapanpun Saji berhasil memukulku, pikiran dan tubuhku berguncang dan bergema. Hal itu perlahan menjadi semakin terasa, dan rasa sakit yang kuterima memberitahuku kalau aku tentu sedang babak belur di dalam armorku. – ternyata aku juga mendapatka luka disini!

“....Aku akan menang......hari ini, aku akan mengalahkanmu......akan kuambil langkah pertama menuju impianku......”

Siapa sebenarnya orang di hadapanku ini? Sembari memuntahkan darah, siapa dia sebenarnya?

Pada waktu itu, aku mengingat dalam pikiranku kata kata yang Tannin-ossan katakan padaku sepanjang latihan.

[Nak. Dengarkan baik baik. Serangan yang paling menakutkan adalah “Pukulan keras”[1].]

[Pukulan keras?]

[Ya. Rating Game dimana kamu akan bertarung mulai dari sekarang akan berisi sejumlah orang yang bertarung dengan beragam perasaan. Demi kehendak seseorang, demi hobi, demi keluarga, demi wanita, demi kekayaan, dan demi impian. Beragam pikiran dan perasaan bercampur bersama. Diantara ini, bahkan terdapat orang orang yang mempertaruhkan nyawanya dalam Game. Diantara para peserta di dalam kuali besi mengerikan ini, ada serangan yang paling harus ditakuti. Yakni “Pukulan keras”.]

[Apa itu semacam jurus spesial? Atau Sacred Gear? Teknik sihir?]

[--Bukan, nak, genggamlah tanganmu. Apa yang sedang digenggam di tanganmu disana?]

[.....Aku tak tahu.]

[Itu “Terisi” dengan sesuatu. Impian, atau jiwa. Nyawa seseorang “diletakkan” pada tinju itu. ini, diatas semua hal, sangatlah berbahaya. Kalau seseorang punya waktu mempersiapkan serangan yang lain, pukulan ini bisa dihantamkan sampai poin tertentu sama halnya pukulan yang lain. Namun, itu saja tidak cukup. “Pukulan Keras” mencapai inti tubuh. Ini efektif. Itu luar biasa efektif. Bahkan di Dunia Bawah dengan sihir dan sainsnya, kerusakan dari pukulan itu tak bisa diungkapkan secara jelas. Namun, orang orang yang dihantam dengan pukulan ini paham. Ya, ini buruk, pikir mereka. Seorang lawan yang bisa melepaskan pukulan ini tidak salah lagi, adalah musuh yang betul betul kuat. Kau tak boleh setengah setengah melawan mereka. Kalau seorang lawan bisa melepaskan pukulan itu biarpun dia berlevel lebih rendah darimu, lain lagi ceritanya. Kalau kau menerima pukulan itu, situasi pertarungan akan berubah drastis. Itu akan menembusmu. Tak peduli pertahanan apa yang kau pakai untuk bertahan darinya, itu akan mencapai inti tubuhmu.]

Aku paham sekarang, ossan. Pukulan Saji telah menembusku. Pukulannya menembus armorku dan menjangkau tubuhku!

[Semangat ini. Apa “Prison Dragon” yang tertidur dalam Sacred Gearnya merespon perasaan Saji?]

Sacred Gear tipe-Naga memang menakutkan, Ddraig. Aku tak bisa memahami apa yang sedang terjadi!

“Hyodooooooooooooooooou!”

Biarpun tubuh dan pikirannya disiksa oleh realita kejam, Saji tak berhenti memukul.

Aku juga merespon, dan adu pukulan dimulai.

“Biar aku menanyaimu satu hal! Seperti apa itu!? Apa payudara majikanmu lembut!? Apa rumor tentang mereka terasa seperti marshmallow itu benar!? Apa tubuh wanita benar benar seperti puding yang tak bisa runtuh!?”

Aku diserang oleh tatapan Saji yang membara dengan kecemburuan dan rasa iri!

Mengambil kesempatan ini, dia menembakkan benang, menyambungkannya ke bangku di belakangku dan mengayunkannya dengan segenap kekuatannya, namun aku menyilangkan lenganku dan melindungi diriku. Bangku remuk menjadi potongan potongan kecil dan terpecah pecah di lantai.

Itu sebanding dengan luka yang kuterima barusan!

“Apa yang kau pikirkan saat kau meremas payudaranya!? Sialaaaaaaaaaaan!”

Bukankah ini terasa lebih dahsyat daripada pukulan saat dia membicarakan tentang impiannya!?

Kemudian, dia membentangkan beberapa benang ke toko furnitur, dan menarik sejumlah furnitur besar dari sana dan membentuk lengkungan sepanjang udara dengan mereka seiring mereka membawanya tepat di atas kepalaku! Jadi dia berniat untuk menjatuhkan semua itu padaku seperti itu!?

Gunn!

Dengan seluruh furnitur besar berjatuhan, aku menembakkan Dragon Shot yang aku batasi sampai minimum ke langit! Penyetelan kekuatan ini terlalu sulit! Aku tak bisa menembakkan yang seperti ini beberapa kali!

Dooooooon!

Gelombang ledakan kekuatan sihir merah dengan sekejap menghapus semua furnitur besar, namun—

Dogoh!

Punggungku dihantam sesuatu! saat aku menoleh kebelakang, Saji sudah mengubah arah serangan salah satu benang dan menghantamkan lemari padaku! Itu tak memberiku kerusakan yang terlalu besar, namun dampaknya tersalurkan ke seluruh tubuhku.

Biarpun tak ada kerusakan berarti, hantaman semacam ini buruk untuk tubuhku! Kalau aku terus dihantam seperti ini, sepertinya efek yang merugikan akan mulai bermunculan!

“Aku juga ingin meremasnya! Aku ingin sekali meremasnyaaaaaaaaaaaaa!”

Buwah! Saji akhirnya melepaskan air mata frustasi.

“Aku belum pernah melihat payudara sama sekali! Tak tahukah kau berapa banyak aku berdoa untuk puting susu seumur hidupku!? Padahal kau bisa melihatnya sebanyak yang kau mauuuuuuuu!”

Gonn!

Aku memukul jatuh Saji, namun dia segera bangkit! Sial! Semangat tempurnya sungguh hebat!

“Tapi, Hyodou! Bukan payudara yang paling kuinginkan! Tapi menjadi guru! Seorang guru! Aku akan menjadi guru! Tak bisakah aku menjadi guru!? Kenapa kita harus ditertawakan!?”

Dan kemudian – Saji menangis padaku. Tidak, tangisannya diarahkan pada semua orang yang menyaksikan ini—

“Kami tak menyatakan impian kami hanya untuk ditertawakan—“

“Aku tak mentertawakanmu! Mustahil bisa mentertawaimu saat kau mempertaruhkan nyawamu seperti ini!”

Menghadapinya, aku – memukul Saji! Itu tidak cukup, jadi aku memukulnya lagi!

Wajah Saji mulai membengkak, dan dia memuntahkan patahan gigi dan darah dari mulutnya.

Meski begitu, Saji tetap berdiri, dan menghadapiku lagi dan lagi. Dia benar benar idiot yang jujur.

“Hari ini! Aku pasti! Aku pasti akan melampauimu!”

Teriakan keras Saji menggema hingga menembus armorku dan hatiku dengan ‘bang’.

Setelah itu, aku menghantamkan sejumlah pukulan padanya.

“Hyuh.....Hyuh.....”

Sebelum aku menyadarinya, suara nafas yang keluar dari mulut Saji mulai terdengar parau.

Dia pasti sudah mencapai batasnya. Karena sudah banyak luka goresan di mulutnya sekarang, darah tak mau berhenti mengalir dari bibirnya. Dia sudah mencapai poin dimana dia bahkan tak bisa berbicara.

Wajahnya bengkak dan mata kirinya sudah benar benar tertutup.

Tubuhnya berguncang, dan posisinya juga tak stabil. Beberapa jarinya menekuk ke arah yang salah. Meskipun begitu – meskipun begitu, Saji menghadapi hanya dengan cercah kuat di matanya.

“Kemarilah, Saji! Kemari! Sajiiiiiiiiii! Kau tak akan membiarkannya berakhir disini saja, kan!? kau tak berniat membiarkannya berakhir seperti ini saja, kan? Bukankah kau akan melakukan hal hal yang tak mungkin bagi para idiot seperti kita dan melarikan diri!?”

Dia perlahan berjalan ke depan, langkah demi langkah.

Saji tak melarikan diri. Saji menghadap ke depan. Tanpa mengalihkan tatapannya meski hanya satu inchi dariku, dia terus bergerak maju.

Penampilannya saat ini serupa dengan aku dalam pertarungan Phenex. Aku juga sudah melihat diriku sendiri saat itu di video rekaman. Meski aku sudah babak belur, aku terus bergerak maju. Agar bisa mendekati lawanku.

“Kau juga berlatih mati matian, kan!? Aku juga berlatih mati matian.”

Aku bisa merasakan tekanan mengerikan dari Saji. Meski aku jelas jelas melampauinya, aku tertekan oleh aura menakutkannya.

Biarpun aku memukul dan memukul, dia tak akan jatuh—

Tak kusangka akan menemui lawan yang memberiku rasa takut seperti ini—

Hei, Raiser Phenex. Kau juga merasakan hal itu saat menghadapiku, kan? Aku paham sekarang. Alasan kenapa kau terus menyerang jatuh diriku—

“Saji, aku akan mengalahkanmu.”

Saji meluncurkan pukulan padaku dengan tangan bengkoknya. Ia meluncur ke depan dengan kecepatan agak lambat, namun aku menghindarinya dengan gerakan terkecil. Kemudian, aku meluncurkan pukulan balasan kepadanya.

Dagan!

“—“

Tinjuku dengan sempurna menghantam wajah Saji. Aku juga merasakan dampak hantamannya. Itu adalah hantaman yang secara sempurna memutuskan kesadarannya.

Meskipun begitu – meskipun begitu, Saji menggenggam lengan kananku dengan kedua tangannya. Dengan begitu kuat seolah dia tak mau melepasnya.

Saji telah kehilangan kesadarannya. Namun kedua tangannya tak mau lepas dari lengan kananku.

Kemudian, dia terus memegang lengan kananku, tubuhnya terbungkus dalam cahaya.

Aku – tak bisa melepaskan mataku dari Saji sampai dia menghilang.

Karena aku merasa kalau, aku melihat ke arah lain, dia akan membangkitkan dirinya lagi.

[Salah satu “Pion” Sona Sitri-sama, kalah.]

“Koneko-chan.”

Aku membuka topeng armor di helmku dan menunjukkan wajahku.

“Bisakah kamu pegang tanganku?”

“.....Senpai?”

Aku berbicara dengan senyum terpaksa.

“Ini kali pertama aku menghajar jatuh temanku. Aku memahaminya. Aku memahaminya, namun—“

Koneko-chan dengan lembut menggenggam tinju gemetarku sambil tersenyum. Aku bisa merasakannya melalui gauntletku.

“Kamu keren sekali. Senpai yang kubanggakan.”

Kata kata itu sudah cukup untuk mencapaiku.


Bagian 2[edit]

Dengan selesainya pertandinganku melawan Saji, aku merusak pintu mesin penjual minuman terdekat dan meneguk sebotol air dari dalam. Koneko-chan juga memulihkan dahaganya.

Sial. Aku tak bisa menyingkirkan gemetar di tubuhku. Apa itu efek dari mengenakan armor? Memang, aku telah mendapat banyak luka dalam pertarungan melawan Saji, tapi itu tak mencapai poin dimana aku tak bisa bertarung.

Menurut pengumuman beberapa saat yang lalu, sepertinya satu dari [Kuda] kami telah dijatuhkan. Apa itu Kiba? Atau Xenovia? Aku tak tahu yang mana. Yang manapun dari mereka yang masih selamat kuharap tak mendapatkan luka kritis.

Pihak lawan juga telah kehilangan satu bidak [Kuda] dan [Benteng].

Pihak kami memiliki enam orang tersisa. Pihak sana punya empat. Itu adalah jumlah yang tak bisa kami lawan dengan sembrono. Aku juga punya kurang dari 20 menit tersisa dalam kondisi ini. Kami harus menyelesaikan ini dengan cepat.

“......Ise-senpai.”

Koneko-chan menunjuk tangan kananku. Itu benar, meskipun Saji sudah menghilang, benang yang melekat di lengan kananku belum. Bahkan saat aku mengaktifkan armorku, hanya benang ini yang tak menghilang. Benang ini pasti terhubung ke markas Sitri.

Untuk apa ini? Ini sepertinya bukan hal yang bagus, tapi karena ini tak menghilang bersama dengan Saji, dia pasti telah menaruh banyak pikiran dan perasaan di dalam ini........Saji, apa yang sebenarnya kau letakkan di dalam sini?

Pada waktu itu, kami dihubungi melalui perangkat komunikasi kami.

[Tim serangan, apa kalian dengar? Kita sekarang akan maju ke arah markas musuh.]

Komunikasi dari Buchou. Begitu, jadi Buchou akhirnya sudah mulai bergerak juga. panggung pembuka dan pertengahan telah berakhir, dan kami semua melaju ke markas musuh sekaligus! Setelah menarik nafas panjang, aku berbicara pada Koneko-chan.

“Ayo.”

Koneko-chan mengangguk, dan kami menuju ke arah pertarungan akhir penentuan.


Terdapat tempat yang terlihat seperti plaza pusat di tengah mall perbelanjaan.

Dikelilingi oleh bangku melingkar, terdapat menara jam di tengah tengahnya. Para pembeli yang lelah berbelanja sering duduk duduk disana. Setelah kami mencapai sejauh itu, aku berhenti berjalan.

Sudah wajar – karena Sona-kaichou ada tepat di hadapanku!

“Bagaimana kabarmu, Hyodou Issei-kun, Toujou Koneko-san. Begitu, jadi itu penampilan dari Sekiryuutei. Aku merasakan gelombang menakutkan darimu. Sudah wajar kalau semua orang menganggapnya berbahaya.”

Dia berbicara dengan nada kalem dan tenang.

Kaichou tengah dikelilingi oleh sebuah dinding pelindung. Seorang yang melepaskan dinding pelindung adalah dua [Peluncur] anggota OSIS. Dan benang yang melekat ke lengan kiriku terhubung pada salah satu [Peluncur].

Jangan jangan, rencana mereka adalah menghubungkan kekuatanku melalui [Peluncur] itu dan ke dinding pelindung? Akan gawat kalau kekuatan Sekiryuutei digunakan di dalamnya!

Kalau Kiba atau Xenovia bergabung dengan kami, kami hanya perlu memotongnya dengan pedang suci.

Tak lama kemudian, wakil presiden OSIS, Shinra-senpai muncul. Gadis ini juga cantik. Lebih jauh lagi, dia secara mengejutkan memiliki tubuh glamor!

Berlari mengejarnya, Kiba muncul dari arah berlawanan dari tempat kami muncul. – Jadi seorang yang tadi dikalahkan adalah Xenovia, huh.

“......Sona, kamu berani juga. Sampai datang langsung ke wilayah tengah.”

Suara Buchou! Saat aku melihat kebelakang, aku melihat kalau Buchou juga sudah tiba disini.

“Bukannya kamu sendiri, sang [Raja], juga bergerak secara pribadi, Rias?”

“Ya, karena kita sudah mencapai tahap akhir. Meski nampaknya hasil ini cukup berbeda dari yang sudah aku duga.”

Buchou memasang ekspresi kaku. Tentu, tujuan rencana kami adalah untuk Kiba dan Xenovia bisa menjatuhkan Kaichou. Aku seharusnya menjadi umpan demi itu, tapi.......Dia nampaknya sudah bisa membaca kami!

Apa kaichou selangkah lebih tinggi dari kami? Tidak, aku percaya pada Buchou!

--.

Tiba tiba, kesadaranku menjadi kabur.....A-re.....A-rere.....?

Aku terhuyung di tempatku.....A-rere? Kekeruhan di pikiranku menjadi semakin kuat sedikit demi sedikit.......?

Akhirnya, aku jatuh di atas lututku di tempat aku berdiri.

“......Ise?”

Buchou menyadari perubahan padaku dan Asia mengaktifkan Sacred Gear penyembuhannya padaku. Sembari memancarkan cahaya hijau pucat, ia menyelimuti tubuhku dengan cahaya lembut – rasa sakitku menghilang, tapi kaburnya kesadaranku tetap tidak pulih!

Buchou mencoba mengeluarkan [Air Mata Phoenix], namun berhenti. Dia menilai bahwa, kalau seseorang tak bisa disembuhkan secara sempurna dengan Sacred Gear Asia, maka air mata juga tak akan memberi efek.

Semua anggota kelompok yang lain juga menyadari perubahan padaku, dan menjadi kebingungan. Diantara mereka, hanya kaichou yang nampak tersenyum.

“Tak ada dari Sacred Gear Asia-san atau [Air Mata Phoenix] akan memberi efek. Rias, aku melihat rekaman video tentang bagaimana pertarungan dengan Raiser berakhir. Yang aku pahami dari itu adalah Hyodou-kun adalah lelaki yang tak akan menyerah dalam pertarungan, sampai poin terasa mengerikan. Demi rekan rekannya, demi dirinya sendiri, dan diatas semua itu demi Rias—“

Kaichou melanjutkan lebih jauh.

“Kami mungkin tak bisa mengalahkannya dengan kekuatan semata. Tak peduli berapa kalipun kami menjatuhkannya, dia akan terus bangkit kembali. Bagi kami, “semangat dan keberanianmu” itu sama mengerikannya dengan kekuatan Sekiryuutei. Ya, kalau kamu tak menyerah dan terus berdiri, kamu percaya kalau suatu saat bisa mengalahkan musuhmu. Kekuatan kehendak itu berhubungan langsung dengan kekuatan Sekiryuutei dan meningkatkan kekuatanmu beberapa kali. Itulah senjata terbesar bagi Hyodou-kun.”

I-itu karena keberanian dan semangat adalah satu satunya yang kumiliki........

“Karena itu kami tak punya pilihan selain mengalahkanmu dengan metode berbeda.”

Dari kantong yang tengah dipegang oleh salah satu [Peluncur] – sebuah bungkusan dikeluarkan.

Bagian dalamnya nampak merah. Seperti darah. Benang terhubung ke bungkusan itu dan – jangan jangan, di dalam bungkusan itu adalah.......Kaichou mengkonfirmasi isi dalam bungkusan.

“—Itu darahmu. Kamu adalah Iblis tereinkarnasi yang pada dasarnya manusia. Akan mematikan kalau manusia kehilangan setengah dari darah yang mengalir dalam tubuhnya. Kamu mengetahuinya, kan? Aturan dari Rating Game. Saat Iblis mencapai poin dimana ia tak mampu bertarung sepanjang Game, mereka akan dipindahkan secara paksa ke ruang kesehatan.”

High school dxd v5 321.jpg

--Saji! Kau! Jadi ini yang kau incar dari sejak awal!?

Gakun! Aku tiba tiba kehilangan seluruh kekuatan di tubuhku!

Hyuh!

Kiba melempar pedang Suci Iblis pendek dan memotong benang yang terhubung padaku, namun – darah merah menyembur keluar dari benang putus di lantai. Ah, jadi darahku disedot melalui benang itu.

“Sudah terlambat. Kamu sudah kehilangan cukup darah untuk dipindahkan ke ruang kesehatan.”

Itu kata kata dingin Kaichou!

“—Sona. Kamu--!”

Buchou berlari ke arahku. Ekspresinya terselimuti ketidaksabaran.

Buchou dan kami sudah benar benar kalah taktik......

“Itu benar, aku menggunakan Sacred Gear Saji untuk menyedot darah Hyodou-kun sedikit demi sedikit – sampai dia memasuki kondisi berbahaya. Demi terus menerus menggunakan Sacred Gear, yang kemampuan dasarnya adalah untuk menghisap energi dari target, namun justru untuk menghisap darah mereka, diperlukan latihan keras dan kendali yang tinggi. Namun, Saji berhasil mencapai semua itu.”

Jadi dia terus memukulku bahkan saat dalam kondisi itu bukan hanya karena semangat dan keberaniannya, namun juga untuk mengulur waktu! Karena dia hanya bisa menyedot darahku sedikit demi sedikit, dia mengorbankan tubuhnya sendiri saat itu demi mengulur lebih banyak waktu!

Dia bisa saja mengulur waktu dengan melarikan diri dariku, namun dia justru menghadapiku secara langsung.—Saji! Kau!

--Jadi semua itu demi mengalahkanku secara langsung!

“Hyodou-kun, sebentar lagi kamu akan kalah. Kamu hanya bisa melakukan satu atau dua serangan sekarang. Alasannya adalah kehabisan darah. Armormu memang padat. Kekuatan seranganmu juga kuat. Namun, saat aku mencari cara mengalahkanmu, ada banyak cara. Biarpun kami tak bisa mengalahkanmu secara fisik, aturan Game akan menganggapmu tak mampu bertarung.”

Aku—tak punya kekuatan untuk berdiri lagi. Aku benar benar sudah kalah.......

Jadi ada metode semacam itu........jadi rencana Kaichou jauh lebih baik dari kami? Kaichou mempertanyakan Buchou.

“Rias, apa yang akan kamu pertaruhkan dalam pertarungan ini? Aku berniat mempertaruhkan nyawaku. Impianku sangatlah sulit. Kalau aku tak menghancurkan rintangan satu demi satu, aku tak akan bisa membuka jalan solusi.”

Kaichou berbicara pada Buchou tepat di hadapannya!

“Rias, aku akan menghancurkan kebanggaan dan perkiraanmu.”

Pada kata kata Kaichou, Buchou memasang ekspresi masam seolah dia baru mengunyah serangga pahit. Dia pasti sangat malu! Tentu, Buchou yang lebih unggul dalam pertarungan ini. Keunggulan yang nampak sangat hebat sampai sangat wajar kalau kami yang menang.

Namun dalam situasi itu, hal ini terjadi. Kalau Buchou dikalahkan begitu saja oleh musuh yang telah mengambil tindakan pencegahan melawannya, perkiraannya akan turun secara drastis! Kaichou ternyata mengincar hal itu!

Sona Sitri! Sejauh mana kau bisa memperhitungkan hal hal!

Tatapan Kaichou berpindah padaku.

“Saji – dia selalu berkata kalau dia akan melampauimu. Bagi Saji, kamu adalah sesama [Pion], teman, dan rival yang ingin dia kalahkan.”

--.

Aku merasa puas oleh kata kata kaichou. Semangat bertarung dan cita cita Saji saat melawanku. Itu semua sangat membekas padaku.

Dia – sudah mengincarku sejak awal, huh.

“Namun, kamu memiliki Naga Legendaris di dalam dirimu. Dengan hanya itu, dia memiliki rasa rendah diri terhadapmu. Aku ingin menyampaikan pada anak itu bahwa dia bisa bertarung sembari menangisi hal seperti itu. Dan itu tersampaikan padanya. Benang itu tak lenyap meskipun Saji sudah babak belur. Dia mengisinya dengan seluruh perasaannya. Akan kukatakan ini padamu yang sebentar lagi akan menghilang dari medan tempur. Ketika kamu hanya mengincar posisi top, Saji terus mengejar tujuan untuk bisa mengalahkanmu.—kamu bukanlah satu satunya [Pion] yang memiliki impian dan tujuan utama! Seorang yang mengalahkanmu adalah Saji Genshirou!”

--Hari ini! Aku pasti! Aku pasti akan melampauimu!

Aku mengingat kata kata Saji dalam pikiranku.

Saji.—jadi kau......berlatih keras agar bisa mengalahkanku!?

.....Sial. Saji, Saji, kau sungguh hebat. Bahkan saat aku terus memukul dan memukulmu, kau hanya berpikir untuk mengalahkanku. Biarpun kau tak mengalahkanku secara langsung, kau percaya kalau rekan rekanmu akan mengalahkanmu kalau kau meninggalkan hanya sebuah goresan—

Tapi, kau tak perlu cemas. Sepertinya aku tenggelam hanya dengan seranganmu.

Namun, aku tak ingin menghilang tanpa menunjukkan jurus spesial baruku!

Aku mengumpulkan kekuatan terakhirku dan berdiri! Aku melangkah sedikit agak jauh. Aku berdiri di tempat dimana semua orang berada, baik Gremory dan Sitri, tertangkap!

Kalau aku akan jatuh, aku ingin jatuh setelah melakukan sebuah kenakalan! Aku menempatkan kedua tangan di depanku dan mengarahkan pandanganku pada payudara Buchou!

“Sebelum aku kalah......kupikir aku akan menghilang setelah aku memenuhi hasrat duniawiku.....”

Benar sekali, toh sebentar lagi aku akan menghilang. Kalau itu masalahnya, maka aku harus memperlihatkan semua yang kumiliki di saat terakhir dan kemudian pergi! Aku memusatkan semua kekuatan yang tersisa padaku ke dalam otakku. Menyalalah, khayalanku!

Sisa sisa auraku menyelimuti tubuhku! Itu tak terkonsentrasi menjadi kekuatan! Itu terkonsentrasi ke dalam otakku!

“Bangkitlah, nafsuku! Lepaslah, hasrat duniawiku!”

Memakai kekuatan Sekiryuutei, aku mengincar posisi yang lebih tinggi sekali lagi! Tahanlah sebentar lagi, tubuhku! Aku akan melampaui diriku yang sebelumnya! Ini akan jadi teknik tak tertandingi tergantung bagaimana ia digunakan!

“Menyebarlah, dunia impianku!”

Dalam sekejap, ruang misterius meluas dan menyebar dengan aku di pusatnya. Merasakannya di kulit mereka – para wanita dari baik kelompok Gremory dan Sitri melindungi dan menutupi tubuh mereka.

Namun, santai saja. Jurus spesial baruku ini tak akan melukai kalian. Kehebatannya tak bisa dibandingkan dengan Dress Break.

Kemudian, aku melemparkan suara pada Buchou – pada payudara Buchou.

“Tolong izinkan aku mendengarkan suaramu!”

[Ise, apa kamu baik baik saja.....? Kalau kamu melakukan hal aneh seperti itu, itu buruk untuk kesehatanmu.....]

Aku mendengar suara sangat imut dari payudaranya.

Begitu, begitu. Fufufufu. Aku bisa mendengarnya. Aku bisa mendengarnya. Luar biasa!

“Buchou, kamu mencemaskanku saat ini, kan? kalau aku akan melukai tubuhku dengan melakukan hal hal aneh........”

Pada kata kataku, Buchou memasang ekspresi tercengang di wajahnya.

“I-Ise, bagaimana kamu mengetahui itu.....?”

Aku kemudian mempertanyakan Kaichou – payudara Kaichou.

“Apa yang kau pikirkan saat ini?”

[Mungkinkah dia sudah mengembangkan teknik untuk mendengar suara hati orang lain☆? Sona, itu berbahaya☆]

Begitu, jadi payudara Sona-Kaichou tiba pada kesimpulan itu.

Karakter payudara tak selalu sama dengan pemiliknya. Payudara Buchou terdengar seperti gadis kecil. Payudara Kaichou terdengar agak mirip dengan kakak perempuannya, Serafall Leviathan.

“Sona-Kaichou, kau berpikir kalau teknik baru spesialku bisa membuatku mendengar suara hati orang lain, kan?”

Kaichou nampak sangat kaget oleh pengakuanku.

“Fufufu, bukan itu. Itu mendekati, tapi bukan itu. Aku ingin mendengarnya. Suara dada! Tidak! Suara payudara!”

Memasang pose, aku dengan gemilang menyuarakan nama dari teknik spesial baruku!

“Teknik baruku, [Bilingual][2]! Teknik baruku membuatku bisa mendengar suara payudara hanya dari wanita!.....Haa, haa. Saat aku mempertanyakan mereka, payudara akan memberikan jawaban padaku tanpa kebohongan!.....haa, haa. Itu teknik terkuat yang membuatku memahami isi hati lawan! Ugh, aku tak punya cukup darah.........”

Kuputuskan! Sudah kuputuskan! Aku mungkin mati selagi pucat karena sudah kehabisan banyak darah, namun aku puas! Suara suara yang hanya aku bisa mendengarnya! Aku ingin mendengarnya!

Saat aku diasingkan di gunung, hasrat seksualku sangat merana. Sebagai hasilnya, aku sangat merindukan payudara sampai sampai hal itu menguasai diriku.

--Aku ingin melihat mereka.

Namun, bahkan tak ada buku porno di gunung. Tentu saja, tak ada wanita sama sekali disana, hanya ada seekor Naga raksasa.

Setiap hari, sembari bertahan hidup disana, aku dikejar kejar seekor Naga. Apa yang terjadi padaku, anak jaman modern dalam periode hidup sensitifnya, menjalani hidup di lingkungan seperti itu?

Mulai dari ingin berbicara dan bertemu dengan gadis gadis, hasil akhirnya adalah – aku meremas sesuatu yang mendekati kondisi pikiran erotis.

Aku mengenal rahib terkenal yang telah mengasingkan dirinya di gunung demi berlatih dan mengejar kondisi pikiran yang membuka sebuah pencerahan. Mereka menghadapi kondisi yang mengabaikan hasrat duniawi, namun, apa yang akan terjadi kalau aku melakukan kebalikannya dan memasuki latihan dimana aku hanya mengejar hasrat duniawi!?

--Hatiku sampai pada pencarian hal hal erotis dan sumber mereka.

Malam hari di gunung. Sembari membungkus tubuhku dalam daun besar, aku memandang langit dan terus menerus memikirkan payudara.

Aku terkadang juga memasuki kondisi meditasi Zen[3]. Aku bahkan duduk di bawah air terjun dalam posisi alami, dengan kepalaku hanya terisi oleh hasrat duniawi.

Aku ingin membelainya. Menyentuhnya. Menghirupnya. Menyentilnya. Memasukkan wajahku diantaranya.

Setelah memikirkan banyak hal selama beberapa hari, aku tiba tiba sampai pada suatu realisasi.

--Aku ingin berbicara dengan payudara.

Saat aku menyadari rasa syukur dan berkah mendalam terhadap payudara, aku ingin berbicara dengan payudara. Apa yang payudara pikirkan dan katakan? Aku ingin tahu.

Pada waktu itu, aku tak bisa mencapai pikiran dan perasaan itu dengan kurangnya kekuatanku, namun dengan kekuatan Sekiryuutei, kemungkinan itu berlipat ganda! Dan pada akhirnya, aku berhasil menyempurnakannya!

“Hei! Payudara dari Onee-san [Peluncur] disana, apa yang kau pikirkan?”

“Tidak, jangan dengarkan!”

Onee-san [Peluncur] itu merasakan bahaya pada tubuhnya dan menutupi payudaranya, namun – sudah terlambat!

[Kiba-kyun! Aku sangat senang bisa berdiri di arena yang sama dengan Kiba-kyun!?]

“Apa apaan itu!? kenapa Kiba saja yang populer!? Payudara dari Onee-san [Peluncur] lainnya, apa yang kau pikirkan!”

Dengan hanya menolehkan tatapanku ke arahnya, lawan langsung berjongkok dengan kepala diantara lututnya!

“Tolong hentikan! Itu menjijikkan!”

[Hyodou menyeramkan.......Biarpun dia punya armor yang kelihatan kuat, kenapa aku hanya bisa memandang dia sebagai orang mesum biasa......?]

.......Sebagai hasil dua hal itu secara berturut turut, aku jatuh di tempatku berdiri. Uu, jadi tubuhku juga sudah mencapai batasnya......

Sialan! Jadi ada hal hal yang tak seharusnya didengarkan! Jadi begitu rupanya!

Saat aku tiba tiba melihat sekeliling – mata semua orang nampak berkedut kedut.

.....A-re? Hei, kenapa kalian tak terkejut dengan teknik terkuatku ini!?

Mata kaichou nampak kejang, dan Buchou meletakkan tangannya di dahinya sambil mendesah.

“Rias.....ini terlalu.......”

“Maaf......”

“Kupikir itu teknik menyeramkan, namun dengan pelanggaran privasi ini, bukankah tak ada Iblis wanita yang mau melawannya mulai dari sekarang?”

“Ya, kita harus lebih berhati hati mulai dari sekarang........”

A-rerere? Ada apa dengan semua reaksi ini? Kupikir itu kemampuan yang berguna! Justru, kalau begini, seolah olah aku—

“.....Mesum sejati!”

[Kamu mesum sejati!]

Aku menerima tsukkomi bertekanan tinggi baik dari pihak Gremory dan pihak Sitri.

“—“

Aku.....membisu! Mustahil......aku baru mendengar suara payudara semua orang di telingaku.

Lihat! Teknik ini sempurna, lihat ini!

“Payudara Asia, apa yang kau pikirkan sekarang!?”

[Ise bodoh, bagaimana kamu bisa melakukan hal itu saat terluka! Ta-Tapi, aku pasti akan menyembuhkanmu!]

Ah, hebat betul. Jadi payudara Asia itu tsundere[4].

Jadi payudara mengungkapkan apa yang target pikirkan seperti ini!?

“.......Biarpun kamu keren sekali tadi.......Sekiryuutei mesum. Yang terburuk.”

Au! Kata kata pedas Koneko-chan!

Ugh!......celaka. Kesadaranku sudah mencapai batasnya. Aku tak punya cukup darah.......

......Baiklah, maka setidaknya aku akan membaca strategi Kaichou di saat terakhir.

“Payudara Kaichou-san! Mohon beritahu aku strategi apa yang hendak kau gunakan!”

[Dinding pelindung yang dibuat oleh dua [Peluncur]☆ ini adalah pengecoh. Hanya jiwaku yang ditempatkan dalam dinding pelindung, dan tubuhku hanyalah imej holografik☆. Karena jiwaku sudah datang kemari, dimungkinkan untuk membuat hawa kehadiran tubuhku menghilang dan membuatnya seolah auraku berada di dalam dinding pelindung☆. Tubuh asliku ada di atap☆. Itu strategi untuk membuat kalian menyerangku di dalam dinding pelindung dan melemahkan kalian meski hanya sedikit☆.]

Begitu, begitu. Jadi itu hanyalah imej. Tapi, hanya jiwanya yang datang kemari.

Yang pasti, harus kuberitahu semua yang payudara Kaichou telah katakan.

“Semuanya, Kaichou di dalam dinding pelindung itu......hanya pengecoh. Dia hanya imej holografik yang diciptakan oleh dua [Peluncur] di dalam dinding pelindung.......strategi mereka adalah membuat kita menyerang sia sia ke dalam dinding pelindung dan melemahkan kita......Kaichou yang asli ada di atap! Sepertinya hanya jiwanya yang dipindahkan ke dalam hologram.......karena itu juga deteksi musuh Koneko-chan tak bisa menemukan Kaichou di atas atap. Namun, karena jiwanya datang kemari, Bilingual juga bekerja dan membiarkanku mendengar payudara holografiknya, itu saja......”

Setelah berkomunikasi begitu saja, aku tumbang.

“Ise-san!”

Asia berlari menuju ke arahku, namun [Ratu] Kaichou tak membiarkan dia menuju ke arahku.

Asia kemudian memasang pose berdoa dimana dia berada, dan tubuhnya mulai bersinar pucat, mencoba menyebar ke sekelilingnya. Apa ini area perluasan dari kemampuan penyembuh Asia? Ini adalah buah dari latihannya!

Dia seharusnya memahami kalau penyembuhan tak ada efeknya bagiku pada poin ini. Meskipun begitu, kebaikan hatinya membuat dia mencemaskanku. Asia, kamu sungguh anak baik. Ditambah payudara tsundere, kamu tak ada tandingannya!

“Aku sudah menanti itu!”

Salah satu [Peluncur] melepas imej holografik Kaichou. Baik dinding pelindung dan hologram Kaichou lenyap, namun tanpa mempedulikan itu, [Peluncur] di seberangnya masuk ke dalam area penyembuhan Asia.

“Reverse!”

Don! Cahaya hijau pucat berubah seketika dan justru memancarkan sesuatu yang merah dan berbahaya.

“—Ah.”

Dalam sekejap itu, tubuh Asia bersinar dan menghilang--!?

“......Kebalikan dari penyembuhan adalah kerusakan......kemampuan penyembuhan Asia Argento itu hebat.......kalau itu dibalikkan.......”

[Peluncur] lawan yang telah memasuki area penyembuhan Asia memasang ekspresi puas di wajahnya, bahkan meski dia memuntahkan darah. Apa! Apa yang terjadi!?

“.....Aku mengalahkan penyembuh Gremory.......Kaichou.......”

[Peluncur] Kaichou kemudian lenyap di saat yang sama dengan Asia.

.....Sial. Mereka mengambil Asia.....aku-aku juga.......

Tubuhku terselimuti dalam cahaya. Aku sudah habis.......aku ingin berpromosi ke [Ratu] dengan memasuki markas musuh.......kalah tanpa melakukan itu......sayang sekali!

Tapi, aku puas karena bisa menggunakan [Bilingual].......

.......Saji. Aku—

[Salah satu “Peluncur” Rias Gremory-sama, kalah.]

[Salah satu “Peluncur” Sona Sitri-sama, kalah.]

[“Pion” Rias Gremory-sama, kalah.]

Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. Kata yang dipakai disini sebenarnya "こもった一撃", yang berarti “pukulan berat/terisi dengan (sesuatu)”. Karena ini frase yang terdengar aneh, jadi kupakai kata “Pukulan keras” yang lebih gampang dipahami.
  2. Kanji yang digunakan beserta nama Inggris ini adalah "乳語翻訳", yang berarti “Terjemahan Bahasa Payudara” LOL.
  3. Meditasi yang biasa dilakukan para biksu untuk mengusir segala pikiran dan emosi negatif. Dilakukan dengan duduk bersila dan menenangkan diri selama berjam jam (kadang berhari hari).
  4. Meski mungkin teman teman sudah tahu semua, kata “tsundere” adalah gabungan dua kata “tajam/pedas” dan “penuh cinta”, dengan kata lain seseorang yang kasar dan dingin di permukaan namun terkadang menunjukkan perasaan penuh cinta mereka.