Difference between revisions of "High School DxD (Bahasa Indonesia):Jilid 15 Life.6 Biarlah Kilau Didalam Dirimu"

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search
m
Line 1,012: Line 1,012:
   
 
Meskipun dipikir kita ada Iblis, kita mulai memainkannya dibawah sinar matahari–.
 
Meskipun dipikir kita ada Iblis, kita mulai memainkannya dibawah sinar matahari–.
  +
  +
  +
<noinclude>
  +
{{HSDxD(id) Nav|prev=High School DxD (Bahasa Indonesia):Jilid 15 Yuuto 1|next=High School DxD (Bahasa Indonesia):Jilid 15 Yuuto 2}}
  +
</noinclude>

Revision as of 11:54, 13 July 2015

Life.6 Biarlah Kilau Didalam Dirimu

Bagian 1

Aku ingin hidup.


Hidupku hampir berakhir perlahan didalam hutan bersalju.


Sebagai bahan percobaan, dan sebagai satu dari anak-anak yang dikumpulkan untuk proyek Gereja. Mereka mengumpulkan anak-anak sepertiku yang tidak memiliki keluarga dan orang yang juga memiliki kemampuan untuk proyek mereka dengan tujuan membuat kita dapat memegang pedang-suci Excalibur buatan.


Setiap hari, hari demi hari, adalah sebuah hari-hari percobaan. Itu penuh dengan percobaan yang keji, tapi semenjak kita diberitahu kalau kita akan menjadi makhluk yang spesial yang pada suatu hari akan dipilih oleh Tuhan, rekan-rekanku dan Aku bahkan melakukannya tanpa adanya sedikitpun rasa takut.


Suatu hari, semuanya tiba-tiba berubah.


Mereka tiba-tiba datang untuk membuang kita.


Kita dikumpulkan di satu lokasi dan mereka memberi gas kepada kita–. Tanganku menjadi lumpuh, kakiku berhenti bergerak, dan tubuhku mengalami rasa yang amat menyakitkan seperti aku mengalami sistem syarafku ditebas.


Ada banyak cairan termasuk airmata dan darahku keluar dari tubuhku, dan hanya rasa sakit menguasai tubuhku.


Lalu kesadarankupun melemah–dan Aku akan mati.


Banyak dari rekan-rekanku mati sambil menderita didepanku.


Aku tidak tahu apa yang terjadi pada awalnya. Aku bahkan berpikir ini adalah sebuah percobaan.


Aku bahkan tidak membayangkan kalau peneliti yang mencoba melakukan sesuatu yang spesial pada kita dan mereka yang juga percaya pada Tuhan yang sama seperti kita akan membalikan taringnya kepada kita–.


Satu mati, lalu yang keduapun mati. Rekanku mati satu per satu. Aku akhirnya memahami situasi dimana aku berada sambil giliranku untuk mati datang.


Ah, Aku akan mati dibunuh.


Gilirankupun datang dan Aku dikumpulkan ditengah ruangan. Peneliti yang menggunakan pakaian pelindung memasukan gas pada kita terlihat badannya gemetaran.


Bahkan jika Aku mencoba untuk berhenti bernafas, itu ada batasnya. Aku mulai menghirup gas sedikit demi sedikit dan membuat gas tersebut masuk kedalam tubuh setiap aku melakukan pernafasan.


Tubuhku mengalami rasa sakit dan kram, dan matakupun mulai kabur.


Aku terjatuh berlutut dan mencoba menghilangkan rasa sakit yang mengalir didalam tubuhku dengan menggaruk setiap anggota tubuhku, tapi satu dari rekanku mendorong satu dari peneliti itu.


Setelah mereka membuka pintu dengan paksa, rekanku berteriak padaku yang dalam kondisi paling tidak kritis diantara kita semua.


“Pergi! Setidaknya kau bisa selamat!”


Aku–. Mendengar itu, saat itu juga AKu melarikan diri dari ruangan itu setelah berdiri.


Aku tidak ingin mati–.


Dengan hanya kata-kata itu didalam pikiranku, Aku berhasil melarikan diri dari para peneliti setelah Aku menemukan kesempatan untuk kabur.


Mungkin mereka sangat berpikir kalau “Mereka akan percaya pada kita sampai saat terakhir dan tidak akan ada seorangpun yang akan lari dari kita” karena kita merupakan orang yang dengan setia percaya.


Aku berhasil dalam pelarianku karena adanya sedikit celah terbuka di mereka.


“Berhenti!”


“Jangan biarkan dia melarikan diri!”


Akan tetapi, para pengejar dengan keras kepala tetap mengejarku.


Didalam hutan sebuah gunung ketika salju turun, Aku tetap terus berlari–.


Aku mulai mengingat hari dimana Aku menghabiskan waktu didalam laboratorium sambil terus berlari–.


Rekanku yang membuat sebuah janji bersamaku untuk menjadi makhluk spesial. Kita makan bersama, kita bernyanyi bersama, dan kita tertawa bersama.


Akan tetapi–mereka mati. Hanya Aku yang dapat melarikan diri.


…..Aku sukses dalam pelarianku. Kesempatan yang mereka berikan kepadaku…..


Aku akan bertahan hidup dan…..


Kesadaranku mulai memudar bersamaan dengan rasa sakit menjalar diseluruh tubuhku–. Aku mulai menimbun perasaan kebencian yang kuat didalam diriku.


Terhadap mereka–.


Mereka yang mengadakan proyek itu–.


Excalibur–.


Tidaklah mungkin aku bisa memaafkan mereka…..!


Akan tetapi, stamina dan kesadaranku mencapai batasnya…..dan Aku terjatuh perlahan didalam hutan.


Aku bahkan tidak dapat menggerakan jariku sekarang.


…..ini jelasnya aku akan mati. Bisakah aku bergerak kedepan sedikit? Bahkan untuk satu langkah kedepan–.


Aku tidak ingin membuat kematian mereka hanya terbuang percuma. Aku…..Aku…..


Aku sederhananya hanya ingin terus hidup–.


Sementara kesadaranku mulai menghilang, sebuah warna crimson muncul didalam mataku–.


Ketika Aku mengangkat kepalaku keatas, seorang gadis berambut crimson berdiri didepanku.


Aku dapat melihat senyumnya meskipun mataku telah kabur.


“Apa yang kau cari?”


Dia menanyaiku hal itu sambil dia memegangku yang sudah akan mati–.


Itu adalah pertemuanku dengan tuanku, Rias Gremory.


Itu adalah sesuatu yang terjadi empat tahun lalu.


Ketika Aku membuka mataku–itu merupakan sebuah kamar di sebuah rumah. Aku…..berbaring diatas ranjang?


Aku jadi sedikit panik melihat langit-langit yang tidak biasa.


…..Aku mendapati gas dilemparkan kepadaku di laboratorium dan Aku melarikan diri dari sana…..


Aku sedang mengembara didalam hutan itu. Aku lalu bertemu seorang gadis dengan rambut crimson…?


Aku…..kenapa ada disini dikamar yang tidak biasa ini…..? Apa aku dibawa kembali ke laboratorium……?


Ketika aku sedang mendapati banyak keraguan, pintu terbuka dan seorang gadi kecil dengan baskom masuk kedalam. …..Dia memiliki telinga seperti-kucing yang tumbuh dari kepalanya. …..Apakah dia seorang monster?


“………..!”


Anak itu menyadari kalau Aku telah bangun dan bergegas keluar kamar sambil membawa baskom itu bersamanya.


[Ara-ara, kau sudah bangun? Baiklah, itu sungguh melegakan. kalau begitu aku harus memanggil Rias.]


Aku mendengar sebuah suara orang lain dari pintu yang dibiarkan terbuka.


Aku bangun dari ranjang dan perlahan melihat keluar.


…..Sebuah ruangan yang luas. Ini adalah sebuah ruang keluarga. Ada sebuah meja dan sepertinya digunakan untuk kehidupan normal sehari-hari.


Pandanganku tertuju pada seorang gadis dengan rambut hitam dan gadis yang sebelumnya yang memiliki telinga binatang.


Aku menampakan diriku sendiri setelah gadis berambut hitam pergi meninggalkan ruang keluarga. Gadis bertelinga binatang merasakan kehadiranku dan bersembunyi dibalik tembok sambil badannya sepertinya kaku.


“………..”


Dia melihatku dalam kesunyian.


Gadis berambut hitam muncul segera setelah itu dan dia membawa seorang gadis berambut crimson bersamanya. Kedua gadis itu sepertinya umurnya tidak berbeda dari aku. Mereka sepertinya berumur sekitar tiga belas atau empat belas tahun.


Segera setelah gadis berambut crimson muncul, gadis dengan telinga binatang bersembunyi dibelakangnya. Sepertinya dia sangat dekat dengannya.


Gadis berambut crimson mengatakan ini sambil dia tersenyum.


“Tolong jangan mengganggu anak ini. Dia sangatlah takut kepada orang. Dia dipanggil Koneko, jadi tolong jagalah dia. Anak perempuan dengan rambut hitam itu dipanggil Akeno.”


Ketika gadis berambut crimson itu membelai kepala gadis bertelinga binatang, gadis yang dipanggil Koneko sepertinya sangat senang.


Ya, itu adalah pertemuan pertamaku dengan Koneko-chan. Dia baru saja dibawa oleh Rias-buchou saat itu dimana dia mulai mendapatkan kembali emosinya jadi saat itu adalah saat dimana dia sangat waspada kepada apapun.


Dan disaat itu, Aku memahami kalau gadis-gadis ini memiliki aura yang tidak biasa disekitar mereka yang itu merupakan bukan milik manusia.


Aura ini…..Aku juga merasakannya sebelumnya ketika berada di laboratorium.


–Mereka ini Iblis.


Aku mengambil pisau yang tergeletak diatas meja dan mengacungkannya kepada mereka.


“…..Dimanakah tempat ini? Kenapa Aku disini!? Siapakah kalian ini!?”


Gadis berambut crimson tertawa pada tindakanku. Dia bahkan tidak sedikitpun marah pada perilakuku.


“Kita ada di Jepang. Kau tahu dimanakah itu? Itu adalah negara kepulauan yang terletak di ujung timur. Ini adalah beberapa tempat didunia ini dimana itu damai. Aku membawa mu kesini sejak kau memiliki wajah yang mirip dengan orang Jepang. Ini adalah tempat tinggal sementaraku di Jepang.”


Jepang? Kedamaian? Tempat tinggal sementaranya?


Ini adalah sebuah situasi dimana aku tidak bisa memahaminya. Kenapa Aku disini di Jepang ketika aku jatuh didalam hutan di Eropa?


Aku tidak bisa berhenti panik tapi ketika gadis berambut crimson dan gadis berambut hitam menganggukan kepala mereka satu sama lain–mereka memunculkan sayap seperti kelelawar dari balik punggungnya.


Sayap Iblis–.


Dia kemudian mengatakan ini sambil menunjukan wajah yang lembut yang tidaklah seperti Iblis.


“Aku adalah Rias Gremory. Aku adalah ahli waris dari Keluarga Gremory, Iblis Kelas-atas. Dan kau jugalah–.”


Gadis yang menamai dirinya sendiri sebagai Rias mengacungkan jarinya kearah punggung ku.


Lalu Aku juga merasakan sebuah sensasi dimana sesuatu tumbuh keluar dari punggungku. Ketika Aku melihat kearah itu, ada sayap berwarna hitam pekat muncul keluar–.


“Kau telah mati sekali. Itulah kenapa Aku mereinkarnasimu sebagai seorang Iblis.”


…..Butuh beberapa menit setelahnya untuk membuatku memahami apa yang ia katakan.


Aku mati di hutan itu dan dipindahkan ke Jepang setelah menjadi seorang Iblis–.


Kenyataan ini benar-benar menghancurkan nilai yang aku miliki sebelumnya–.


Bagian 2

“…….”


“…..Aku tidak akan melakukan apapun kepadamu.”


Rias Gremory dan Aku berdiri menghadap satu sama lain. Aku menjadi sangat waspada setelah itu dan menghabiskan waktu dengan mereka disini.


Ini sepertinya adalah sebuah ruangan disebuah rumah disuatu kota di Jepang.


Aku membuat sebuah pedang dengan tanganku dan mengacungkan pedangku kepada Iblis Rias Gremory.


Aku masih ragu padanya waktu itu. Aku bahkan ketakutan.


Tidakkah itu wajar? Aku diberitahu kalau Iblis itu jahat dan merupakan musuh dari para pengikut seperti kita ketika berada di laboratorium. Bahkan jika Aku menjadi sesuatu yang dibuang dari proyek itu–Membuang apa yang telah diajarkan kepadaku adalah sesuatu yang tidak mudah, bahkan jika Aku telah mengkhianati Tuhan.


Dia memperlakukan aku dengan lembut. Itu malahan membuat kewaspadaanku kepadanya semakin kuat.


Tidaklah mungkin seorang Iblis bisa sangat ramah. Pasti ada suatu alasan dibalik ini. Itulah bagaimana Aku berpikir.


…..Alasan kenapa dia mengubahku menjadi Iblis pasti karena dia bisa menggunakanku untuk sesuatu. Aku dengar Iblis menipu manusia dan mereinkarnasi mereka menjadi salah satunya. Dia bisa saja mereinkarnasiku karena mengetahui Aku adalah subjek percobaan di laboratorium itu.


…..Tidak, ini mungkin kesempatan baik. Menggunakan seorang Iblis dengan tujuan membalaskan dendamku mungkin adalah ide yang bagus. Waktu itu pikiranku dalam kondisi yang mengerikan akibat kebencianku dan kecurigaanku terhadap yang lain sehingga aku tidak masalah memberikan jiwaku kepada seorang Iblis dengan tujuan membalaskan dendamku untuk rekan-rekanku.


Dia meninggalkan kamar dengan menempatkan nampan makanan diatas meja seperti jika dia menyerah.


Sepertinya dia menginginkan makan malam bersama denganku. Meskipun Aku berpikir dia adalah seorang iblis yang melakukan tindakan aneh. Dengan menginginkan makan bersama dengan orang orang yang baru saja dia ubah menjadi Iblis……


Aku tidak bisa meletakan tanganku pada makanan itu langsung. Aku bahkan meminum air sedikit demi sedikit sambil tetap waspada.


Mencoba kabur dari rumah ini adalah hal yang sulit. Aku seperti merasakan adanya pelindung yang kuat dan meskipun aku bisa berjalan sampai gerbang, Aku tidak bisa membuka pintu.


Aku bisa mengatakan kalau kondisiku adalah kondisi dimana aku dikurung didalam rumah.


Jika Aku berpikir sekarang, itu adalah sebuah tindakan yang tepat. Jika Aku mencoba melarikan diri Aku akan menjadi seorang “Iblis Liar” dan berakhir menjadi sasaran oleh pihak lain.


Akan tetapi, waktu itu Aku bahkan berpikir kalau aku bisa kabur jika aku menggunakan gadis yang dipanggil Koneko-chan sebagai perisaiku. …..Tapi Aku akan merasa bersalah jika Aku mengacungkan pedangku kepada gadis yang sedang sangat ketakutan.


Sudah sekitar sebulan sejak Aku mulai hidup dengan gadis Iblis itu tanpa membuka hatiku pada mereka.


Seorang laki-laki masuk kedalam kamar dimana aku berada.


Seorang laki-laki Jepang…..tidak, seorang Iblis, yang mengenakan sebuah haori.


Laki-laki yang tersenyum sunyi menanyai Rias Gremory yang datang bersama dengannya.


“Hime, apakah anak ini adalah [Kesatria] yang dikabarkan itu, benar?”


“Ya, namanya adalah…..sepertinya dia tidak memilikinya.”


Seperti Rias Gremory katakan, Aku tidak punya sebuah nama. Aku memiliki nama lain sebagai subjek percobaan, tapi Aku tidak bermaksud menggunakan nama itu. Itu adalah sesuatu yang aku buang jauh-jauh. Aku bukanlah kelinci percobaan mereka lagi–.


Aku menyadari kalau laki-laki itu merupakan seseorang yang memiliki kekuatan yang berbeda dari auranya. Aku menciptakan pedangku dan bersiap menghadapinya sambil aku sangat waspada padanya. Laki-laki itu tersenyum gembira dengan melihat tindakanku.


“Jadi kau bisa membuat sebuah pedang? Kau pasti seorang pemilik Sacred Gear. Cara berdirimu….. itu sungguh buruk, tapi Aku merasakan sebuah potensi didalammu semenjak kau dapat merasakan sedikit kekuatanku langsung.”


Laki-laki itu datang mendekatiku selangkah demi selangkah. Dia tidak kehilangan senyumannya.


Aku tidak bisa menahan situasi dimana aku tidak dapat memprediksi apa yang lawanku akan lakukan, jadi pada akhirnya Aku melompat tepat didepannya.


Aku mengayunkan pedangku kearah laki-laki itu–.


Tapi aku kehilangan keseimbanganku setelah dia menjegalku dengan menggunakan kakinya. Pedangku meleset dari targetnya dan berakhir dengan menikam langit langit.


Laki-laki itu mengatakan ini sambil melihat kebawah kearahku yang terjatuh kelantai.


“Aku adalah Okita Souji. Baiklah; Aku akan melatihmu mulai hari ini.”


……………? Aku tidak mengerti apa yang laki-laki itu coba katakan.


Melatih? Siapa? Aku? Kenapa? Untuk alasan apa?


Laki-laki yang memanggil dirinya sendiri Okita Souji mengatakan ini kepada Rias Gremory.


“Hime, ini akan lebih baik jika anak ini melatih emosinya disuatu tempat yang tenang. Itu akan juga lebih baik jika dia bisa mengasah kemampuan pedangnya semenjadi dia adalah [Kesatria]…..jadi maukah kau meminjamkannya kepadaku untuk sementara?”


Rias Gremory sepertinya berpikir kepada apa yang laki-laki, Okita, minta kepadanya, tapi dia menanggapi dengan mengatakan “Ya” setelah dia melihat kearahku yang tidak berubah dengan mata sedih.


Seperti itu, Aku bertemu dengan laki-laki–Okita Souji, orang yang menjadi guru pedangku.


“Disini, ini adalah tempat dimana kau akan hidup untuk sementara.”


Tempat aku dibawa dengan menggunakan lingkaran-sihir–adalah sebuah kabin keci yang dibangun dipedalaman sebuah gunung disuatu tempat.


Ada hanya pohon disekeliling; Bahkan tidak ada sedikitpun tanda-tanda sebuah peradaban, jadi ini adalah sebuah dunia dimana tidak ada apa-apa.


Ada sesuatu yang terlihat seperti sebuah dojo disamping kabin. Okita Souji dan aku masuk kesana.


Lantai berkilau yang tidak memiliki satupun debu diatasnya bahkan membuatku orang yang tidak mengetahui apa-apa tentang ilmu pedang ragu-ragu untuk menginjakan kaki kedalam.


Dia mengambil dua bokuto yang terletak di dinding dojo dimana dia memberi satu darinya kepadaku. Melihatku menangkapnya, Okita Souji membuat kuda-kuda dengan bokutonya.


“Kalau begitu, ayo serang aku.”


Aku menemukan kata-kata dan tindakannya mencurigakan. Jadi tak ada yang bisa aku lakukan selain bertanya padanya.


“…..Apa yang kau coba lakukan dengan membawaku kesini?”


Okita Souji hanya tersenyum.


“Tidak peduli situasi yang kau alami, Aku bisa mengetahu dari hanya melihatmu kalau kau membawa kebencian yang kuat dan rasa dendam didalam dirimu. Jadi tidak ada yang bisa ditolong jika emosi itu menguasai dirimu dari dalam, benar?”


Sepertinya dia melihat kedalam diriku. Okita Souji melanjutkan.


“Meskipun kau mencoba untuk memenuhi rasa dendammu kau tidak memiliki kekuatan. Itu akan alami bagimu untuk langsung terbantai. Bagaimana dengan itu? Bagaimana jika kau melupakan tentang kenyataan kau tereinkarnasi menjadi seorang Iblis dan juga melupakan tentang Rias-hime dan sederhananya hanya menjadi lebih kuat? Kau tidak akan membalaskan dendammu atau melakukan apapun jika kau tidak kuat, kau tau?”


–!


Bagiku saat itu, kata-kata itu sudahlah cukup untuk membersihkan obsesi yang Aku bawa waktu itu. Itu lebih dari cukup untuk menggerakanku ke satu arah.


Pada waktu aku menyadarinya, Aku menuju kearah Okita Souji dengan bokuto-ku.


“Haaaa!”


Aku tidak memiliki kuda-kuda yang benar dimana Aku hanya menuju langsung ke dia. Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus memegang pedang saat itu. Meskipun begitu, Okita Souji–guruku, menerima semua seranganku kepadanya.


Aku mendapatkan sebuah sensai dimana obsesi yang menguasai baik kedua jiwa dan tubuhku menghilang setiap kali aku menganyun.


Aku sedikit-sedikit mulai mengayunkan bokuto mati-matian–.


“Dengar, Hal yang diperlukan untuk mengayunkan sebuah pedang adalah bagaimana kau bisa mengatasi pertahanan lawanmu dengan tepat daripada hanya dengan kekuatan brutal. Untuk alasan itu akan lebih baik mengasah teknikmu.”


Okita Souji–guruku, mengajariku dengan sungguh-sungguh ketika Aku mengayunkan bokuto-ku.


Guruku tidak mengajariku Tennen Rishin-ryu yang dia gunakan secara pribadi. Dia menemukan gaya berpedang yang pantas untukku.


Apa yang aku pelajari dari guruku melalui pedang adalah pikiran dan kesiapan yang butuh Aku miliki, dan juga bagaimana cara aku mendekat pada sebuah pertarungan. Aku kemudian diajari bagaimana cara menentukan tindakan ketika aku menggunakan pedangku.


Sebulan telah berlalu sejak Aku mulai belajar bagaimana menggunakan pedang dari guruku. Secara misterius Aku bahkan tidak berencana untuk lari sekalipun dari gunung selama masa itu.


Menjadi kuat adalah sumber dan arti untukku agar tetap dapat hidup.


Ya, seperti apa yang guruku katakan padaku ketika dia membawaku kesini. “Kau tidak bisa membalaskan dendammu atau melakukan apapun jika kau tidak kuat”.


Ini mungkin mengejutkan tapi Iblis pertama dimana aku membuka hatiku merupakan–guruku.


Aku tidak berbicara padanya bagaimana aku harus berbicara pada seseorang yang berdiri diposisi yang lebih tinggi daripadaku; akan tetapi Aku mulai bisa berbicara yang layak kepada guruku.


Itu terjadi ketika Aku pergi memancing bersamanya.


Itu menjadi hal yang wajar bagi kita untuk berkomunikasi sembari memancing dibawah panasnya matahari.


Guru kemudian bertanya.


“Apa kau membenci Iblis?”


Itu sebuah pertanyaan tiba-tiba. Aku menjawab dengan menunjukan ekspresi yang sulit.


“…….Iblis adalah musuh manusia. Mereka adalah makhluk yang menghancurkan manusia. …..Itulah bagaimana Aku diberitahu.”


Itu adalah apa yang aku pelajari pada tempat penelitian. Itu telah ditanamkan kedalam diriku sangat dalam.


Guru tersenyum ringan.


“Kau benar. Surga–dari perspektif orang Gereja Iblis adalah pihak musuh. Akan tetapi, itu tidak berarti kalau itu adalah semuanya.”


“…..Jadi, adakah Iblis yang berada disisi manusia…..?”


Guru tidak menggerakan kepalanya kearah vertikal ataupun horizontal pada pertanyaanku. Kecuali, dia hanya tersenyum.


“Bagi Iblis, manusia adalah eksistensi yang dibutuhkan untuk tetap ada. Iblis perlu melanjutkan untuk tetap ada sejak jaman dulu dengan menerima sebuah bayaran untuk setiap perjanjian. Memberi dan Menerima. Itu adalah teori fundamental Iblis. Yah, ada juga Iblis yang menipu manusia, akan tetapi ada juga manusia yang mendapat sebuah keuntungan dengan menipu Iblis. Jadi mereka melakukan hal yang sama satu sama lain.”


“Aku tahu itu.Itu adalah sebuah hal yang dikatakan padaku kalau Iblis adalah sebuah makhluk jahat yang datang kepada kelemahan orang-orang.”


“Jahat……Begitu ya,”


Guru menyipitkan matanya pada kata-kata jahat.


“…..Sebenarnya jahat adalah sesuatu yang ditujukan pada mereka yang lebih tidak berguna. ……Meskipun kau mungkin tidak akan memahami apa yang aku katakan sekarang ini.”


“?”


Itu adalah sesuatu yang tidak Aku mengerti saat itu.


Guru menangkap seekor ikan dan menanyaiku pertanyaan lain.


“Lalu, nak. Apakah kau berpikir Iblis adalah makhluk yang menghancurkan manusia? Contohnya, apakah kau berpikir Rias-hime dan Aku adalah makhluk yang akan menghancurkan manusia?”


–Rias Gremory.


Rias Gremory telah datang kegunung ini beberapa kali untuk melihat bagaimana perkembanganku semenjak Aku dibawa kesini. Sepertinya dia khawatir padaku dan sejak Aku meragukan tindakannya waktu itu, Aku mengindari melihatnya sebanyak Aku bisa.


Tidak, Aku mulai merasakannya didalam diriku.


–Kalau, gadis berambut crimson itu bukan sebuah Iblis jahat.


Senyumnya yang diarahkan kepadaku waktu itu dan gadis dengan telinga binatang…..tidak memiliki sedikitpun perasaan dengan niat yang jahat dan motif tersembunyi.


“……….Aku tidak tahu.”


Itu merupakan jawaban terbaik yang bisa Aku berikan.


Guru tersenyum ringan lagi. Sepertinya dia menikmati bagaimana seorang anak sedang berpikir keras.


“Tolong berpikir dengan melihat banyak hal. Setidaknya kau telah diberikan pilihan untuk melakukannya. Tahukah kau bagaimana indahnya itu? Bayangkan hanya sebanyak apa mereka yang ada didunia ini yang bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk berpikir…..”


Aku yang sekarang mengerti apa yang guru katakan waktu itu. Akan tetapi, waktu itu Aku hanya menemukan kalau itu mencurigakan–.


Setelah itu, guru mengajariku banyak cara untuk “Bersenang-senang”. Tidak hanya dia mengajariku untuk memancing, tapi dia juga mengajariku bagaimana caranya memasak, bagaimana membuat saputangan, bagaimana cara bermain kartu, bagaimana memutar gasing, dan bagaimana cara menyanyikan sebuah lagu.


Dia bahkan mengajariku bagaimana cara menulis simbol Jepang dari dasarnya.


Ya, guru mempertajam orang yang merupakan Aku sekarang ini dengan mengajariku dengan halus–.


Itu hampir selalu dibawah sinar matahari ketika ia mengajariku tentang suatu hal.


itu merupakan sebuah waktu yang aneh dan berharga untukku meskipun sebagai seorang Iblis.


“…..Baiklah.”


Ada suatu hal yang aku lakukan sekali setiap beberapa hari.


Itu adalah membuat kuburan untuk rekan-rekanku di lahan terbuka didalam gunung. Aku juga bisa membuat satu pada hari ini.


Aku membuat pedang dengan hati-hati dimana setiap satu darinya memiliki wujud berbeda menggunakan kemampuanku. Aku menusukan pedang itu ketanah yang membentuk gundukkan.


…..Aku tidak membuat sebuah kuburan dengan sebuah salib. Tidak mungkin aku melakukannya.


Aku tidak mengukir nama mereka juga. Aku bisa mengetahui kuburan siapa bahkan tanpa mengukir nama mereka. Itu karena Aku bisa mengingat wajah rekan yang bersangkutan ketika Aku sedang berdiri didepan kuburan mereka.


Itu akan selesai jika Aku membuat sekitar sepuluh pedang lagi. …..Alasan kenapa Aku mengatakan “sekitar” itu karena Aku sedang ragu-ragu apakah aku perlu membuat kuburanku sendiri atau tidak.


Aku mati sebagai seorang manusia. Akan tetapi, Aku merupakan seorang Iblis. Aku masih ragu-ragu apakah itu perlu untuk membuat sebuah kuburanku yang telah mati sebagai manusia.


Orang yang mencari balas dendam adalah aku yang merupakan seorang Iblis.


…..Tidak, Aku masih saja diriku sendiri. Aku belumlah menghilang. Aku memang menjadi seorang Iblis, tapi Aku masih ada disini. Maka Aku tidak memerlukan sebuah kuburan.


…..Kecuali, ini menyakitkanku kalau Aku tidak dapat membuat kuburan mereka di kampung halaman kita.


Akan tetapi, tempat ini seharusnya juga tidak masalah jika Aku berpikir tentang itu. Aku dengar kalau Jepang adalah negara yang Damai. Maka Aku tidak perlu khawatir tentang tempat ini akan dihancurkan.


Aku meletakan bunga pada kuburan semuanya. Setelah memejamkan mataku, Aku mencoba untuk pergi. Ini kemudian terjadi–.


[Houhou, seorang Iblis yang membuat pedang huh. Ini sungguhlah langka.]


Suara menyeramkan menggema keseluruh gunung. Aku mulai merasakan hawa sekitar.


…..Tak ada yang bisa Aku rasakan kecuali aura jahat.


Zushin, zushin….. sesuatu yang muncul sambil membuat suara langkah berat yang menggema didalam sekitar sini adalah seekor raksasa dengan kepala seekor macan–. Dia merupakn seekor manusia binatang dengan sifat macan di tubuhnya.


Badannya sungguh besar dan dia sekitar lima meter tingginya. Aura yang mengambang disekitar tubuhnya adalah……..sebuah kekuatan-demonic!


–Dia merupakan seekor Iblis.


Aku tak pernah berpikir dia akan muncul ditempat yang jauh dari sebuah desa manusia…… Dia besar kemungkinan seorang “Iblis Liar”. Waktu itu Aku telah diberitahu tentang “Liar” dari guruku, jadi Aku segera mengetahui identitas monster itu langsung.


Manusia binatang macan itu menggenggam satu dari pedang yang aku buat untuk digunakan sebagai sebuah kuburan.


Dia menggunakan mata besarnya untuk melihat pedang itu dengan antusias. Ada cukup banyak taring tajam yang berjejer didalam mulut besarnya yang sedang terbuka.


[Pedang-demonic? Tidak, ini adalah tiruan dari pedang-demonic. ini bahkan tidak memiliki bentuk yang benar saat ini.....akan tetapi ini adalah kemampuan yang langka.]


Aku membuat sebuah pedang ditanganku dan membentuk kuda-kuda padanya.


“Lepaskan pedang itu. Itu adalah…..sebuah kuburan!”


Meskipun dipikir Aku mengatakan itu, manusia-binatang hanya menunjukan senyum jijik.


[Sebuah kuburan? Ini? Lupakan. Ada sesuatu yang lebih penting. Nak, ikutlah denganku. Sepertinya kau bisa dijual dengan harga yang bagus. Kau juga seorang "Liar" sepertiku, kan? Aku tidak akan memperlakukanmu buruk, kau tau?]


…..Sepertinya manusia-binatang tertarik pada kemampuanku jadi dia menginginkanku.


Tidak ada alasan apapun bagiku untuk dibawa pergi oleh manusia-binatang ini.


Aku akan menjadi lebih kuat…..


Aku akan menjadi lebih kuat dan…….


…..


–Akankah baik untukku membalaskan dendam setelah menjadi lebih kuat?


Tiba-tiba ada keraguan didalam diriku.


Ya, alasan Aku mulai berlatih disini karena guru mengatakan “Kau tidak akan bisa membalaskan dendammu atau melakukan sesuatu jika kau tidak kuat” itu didepanku.


Alasan kenapa Aku menjadi lebih kuat adalah untuk alasan itu. Tapi, Aku bertanya-tanya.


Ketika Aku hidup bersama guru…..Aku mulai berpikir hal-hal yang tidak perlu.


Ada bagian dari diriku yang bersaing dengan guru dalam memancing, dan ada juga diriku yang merasa senang karena kemampuan memasakku meningkat.


Aku membuat sebuah sumpah kalau Aku akan hidup atas nama rekan-rekanku dan membalaskan dendam terhadap Excalibur, namun Aku……..Aku mulai menemukan kesenangan pada kehidupanku saat ini.


Aku menggelengkan kepalaku dan sekali lagi mengacungkan pedangku pada manusia-binatang itu.


“Berhenti mengacau. Aku tidak akan pernah pergi bersamamu!”


Aku mengatakan itu dengan semangat tinggi tapi dia hanyalah menunjukan senyum keji.


[Tidak masalah. Dari awal, Aku akan membuatmu diam dengan menyiksamu.]


Manusia-binatang itu melepaskan hawa kebenciannya kepda ku dari seluruh tubuhnya–. Dia pasti berencana untuk menyerangku.


Aku lalu berlari cepat dari posisi awalku dan mengayunkan pedangku pada musuhku dari titik butanya setelah berlari zigzag disekitar.


Aku berhasil memepetnya!–Itu apa yang Aku pikirkan, tapi manusia binatang menghilang segera!


Dia cepat!


Aku hanya bisa berpikir itu untuk sesaat, tapi Aku merasakan pukulan kuat dari punggungku ketika aku sedang maju kedepan.


Ketika Aku melihat kearah tersebut Aku menyaksikan manusia-binatang seperti dia menendangku. Dia mendapati pungguku dengan segera!


Aku entah bagaimana bisa tetap menginjakkan kaki ketanah meskipun dipikir Aku menerima pukulan di punggungku dimana aku kehilangan nafasku.


Manusia-binatang lalu mulai tertawa vulgar.


[Itu merupakan gerakan yang bagus. Kau kuat untuk anak-anak seusiamu.--Tapi kau masih bukan saja tandinganku. Meskipun dipikir Aku seperti ini, Aku merupakan seorang [Kesatria] dibawah tuanku. Yah, Aku tidak menggunakan pedang kalau dipikir. Dari perspektifku, kau jugalah seorang [Kesatria], Nak? Meskipun sepertinya kau kurang kuat.]


…..[Kesatria]? Jika Aku ingat sekarang, Aku dengar kalau seorang Iblis mendapatkan sebuah sifat tergantung dari evil-piece yang diberikan padanya. Jadi yang telah diberikan padaku adalah……[Kesatria] huh. Aku pikir gadis yang menyebut dirinya Rias juga mengatakan hal yang sama. Waktu itu, Aku pergi tanpa mendengarkan apa yang dia katakan dengan benar…..


[Hmph. Mereka yang merupakan reinkarnasi dari manusia memang sungguh lemah.]


Manusia-binatang melepaskan tendangan memutar. Kuburan yang terbuat dari pedangkupun hancur!


[Sepertinya kau terobsesi dengan kuburan yang jelek ini! sama sepertimu, kuburan ini juga lemah!]


Melihat itu, Aku tidak bisa menahan diri melainkan menjadi marah dan melompat kedepan!


“Sialan!”


AKan tetapi, lawanku memiliki gerakan yang melebihiku, jadi Aku berakhir menerima serangan balasan ketika Aku menyerang.


Meskipun seranganku dihindari dan menerima serangannya, Aku tetap terus berdiri dan maju kearahnya lagi.


Untuk seorang anak-anak sepertiku yang tidak memiliki pengalaman bertarung, dia adalah lawan yang tidak akan bisa Aku kalahkan.


Aku dipukul berulang-ulang dan jatuh ketanah. Sewaktu Aku jatuh, Aku bertanya pada diriku sendiri.


…..Aku ingin menjadi kuat. Untuk siapa? Untuk diriku sendiri? Untuk rekan-rekanku? Untuk balas dendam?


Aku berpikir itu semua. Tapi, sekarang…..


[Sepertinya akhirnya kau menjadi diam.]


Ini terjadi ketika manusia-binatang mencoba mengambilku yang tergeletak di tanah–.


“Jangan coba-coba mendekat pada anak itu dari tempat dimana kau berada.”


Suara yang tidak asing bergema keseluruh hutan. Ketika Aku memutar kepalaku kearah itu, disana ada seorang gadis berambut crimson berdiri disitu.


Itu adalah Rias Gremory. Sesaat dia mengetahui situasi ini, dia menatap pada manusia-binatang itu seperti kalau dia marah.


“Aku perlu kau membayar karena kau telah menyakiti anak itu. Kau pastinya “Liar”? Aku bertanya-tanya bagaimana kau bisa masuk ke gunung ini. Tak menyadari memang sungguh menakutkan.”


Rias Gremory berterus terang dimana dia bahkan tidak terlihat tersentak terhadap lawan yang bisa dikatakan beberapa kali lebih besar darinya. Manusia-binatang menggerakan alisnya ketika dia melihat rambut-crimson.


[.....Rambut-crimson, apakah kau seorang Gremory? Hou, jadi ini pasti berarti kalau anak ini adalah pengikut Iblis dari Gremory. Menarik. Ini tentunya aku seperti bisa menjualnya dengan harga yang tinggi jika anak ini adalah pengikut Iblis dari Gremory.]


Kata-kata Vulgarnya yang diarahkan pada Rias Gremory. Rambut crimsonnya menggelombang akibat aura kemarahan.


“Harga tinggi? Apa kau mencoba menjual pengikutku yang lucu? Aku tidak akan memaafkanmu. Kau layak mati untuk itu!”


…..Ya, manusia-binatang macan ini memang layak mati.


Dia mengejek….ku……dan kuburan rekan-rekanku…..!


Sambil Aku menahan rasa sakit yang menjalar melalui seluruh tubuhku, Aku mengatakan ini tepat didepannya setelah entah bagaimana Aku berdiri diatas kakiku yang tidak mau mendengarkanku.


“…..Itu tidak masalah…. tentang apakah Aku….. akan dijual atau tidak….. itu tidaklah penting sekarang!…..!”


Aku ingin menjadi lebih kuat.


Sekarang ini. Jika Aku bisa mengalahkan si macan brengsek yang buruk ini, maka Aku–.


Kuburan yang berarti untuk rekan-rekanku…..adalah sesuatu yang tidak layak seorangpun untuk tidak menghargainya…..! Dan lebih dari itu–.


Aku tidak…..punya keinginan untuk mengakhiri hidupku disini!


“Aku tidak boleh kalah oleh lawan sepertu muuuuuuuu–! Aku akan menjadi lebih kuat dengan tujuan untuk hiduuuuup–!”


Aku menyadari sesuatu keluar bersamaan dengan teriakanku. Maka kekuatan-demonic yang kuat keluar dari dalam tubuhku yang dimana menyebar kearah sekitar. Pada saat kemudian, banyak pedang dengan bentuk berbeda mulai muncul dari dalam tanah disekitarku!


Pedang itu memiliki berbagai atribut dimana ada satu yang terbungkus oleh api sedangkan yang satu lagi terbungkus oleh es.


–Itu semua adalah pedang-demonic.


Aku mencengkram pedang kekuatan-demonic yang tertutup kegelapan. Itu adalah pedang-demonic yang bagus, cocok untuk seorang Iblis sepertiku.


Pedang yang menelan cahaya. Aku akan menamainya sebagai Holy Eraser.


Aku membuat sebuah kuda-kuda dengan pedang-demonic dan melompat kearah manusia-binatang. Sambil Aku menuju kearahnya didepan, Aku mengeluarkan satu pedang-demonic dan melemparnya kearah manusia-binatang itu dengan cepat.


Itu adalah pedang-demonic api. Itu terbuat dari sebuah api yang ganas dan menuju tepat kearah manusia-binatang itu.


[Kuu!]


Manusia-binatang memantulkannya dengan sangat kuat menggunakan tinjunya, tapi Aku telah berada diposisi dimana pedangku dapat menghujamnya kebawah.


Dia menanggapinya dan mencoba menangkap pedang-demonic–akan tetapi, Aku membuat pedang-demonic es diujung kakiku.


Aku melakukan itu karena Aku mengingat kata-kata guruku.


–Poin yang diperlukan dalam mengayunkan sebuah pedang adalah bagaimana kau bisa mengatasi pertahanan lawanmu dengan tepat daripada dengan menggunakan kekuatan brutal.


Pada saat yang sama Aku membuat pedang-demonic kegelapanku tersegel, Aku membuat tendangan tajam dengan pedang-demonic es kearah wajah manusia-binatang itu.


Pedang-demonicku menikam mata kiri manusia-binatang yang dimana pertahanannya runtuh.


[Nugaaaaaaaaaaaaaaah!]


Manusia-binatang yang matanya tercolok berteriak keras dan menggeliat kesakitan.


Aku kemudian mengatakan padanya sambil membuat sebuah senyum sindiran.


“…..Aku tidak berpikir hanya dengan memiliki sebuah kekuatan itu sudah cukup. Jika kau seorang [Kesatria], dan jika kau adalah orang yang menggunakan pedang, maka Aku pikir teknik adalah cara untuk melakukannya.”


Ya, itu adalah apa yang tepatnya guruku katakan. Tidak masalah jika kekuatanku lebih lemah daripada lawanku. Itu karena Aku bisa menutupinya dengan teknikku dan mendobrak pertahanan mereka–.


Mendengar kata kataku, manusia-binatang menunjukan ekspresi marah dimana dia bahkan tidak memiliki sedikitpun rasa percaya diri.


[Aku tidak akan memberimu kesempatan lagiiiiiii! Aku memutuskan untuk membunuhmu sekaraaaaaang!]


Manusia-binatang membuat cakar dikedua tangannya memanjang dan menebaskannya kearahku.


Aku tidak bisa menghindar setelah kehilangan setiap staminaku pada serangan tadi, dan–.


Ini terjadi ketika Aku bersiap-siap untuk menerima kerusakan serius. Aku mendengar sebuah suara dimana aku sangat mengenalinya.


“–Seekor “Liar” yang tidak menyadari kalau ini adalah wilayahku…..itu menjelaskan betapa rendahnya kalibermu.”


Zaaaaaaa…… Pohon menimbulkan suara.


“Aku membuatmu menunggu, nak.”


Orang yang tiba-tiba muncul diantara aku dan manusia-binatang itu adalah guruku. Okita Souji. Dia menunjukan senyum biasanya.


Apa yang terjadi dengan serangan manusia-binatang itu? Aku dalam keraguan….. tapi manusia-binatang macan itu sendiri membeku dalam sikap badan dimana cakarnya mengarah kebawah, dan badannya yang besar mulai tersobek-sobek menjadi bagian-bagian kecil beberapa detik kemudian.


Guru menebasnya menjadi berkeping-keping dengan kecepatan-dewa disaat bersamaan dia tiba disini.


Aku tidak bisa melihat gerakan Guru dan ketika dia mengeluarkan pedangnya.


Ketika Aku memperbaiki kuburan dengan guru dan Rias Gremory, guru mengatakan ini padaku perlahan.


“Nak, Kau mengatakan ini padaku sebelumnya. –Kalau Iblis adalah makhluk yang menghancurkan manusia.”


Saat memancing bersamanya waktu itu, Aku mengatakan sesuatu seperti itu padanya.


Guru melanjutkan sambil dia meletakan pedang yang digunakan sebagai sebuah kuburan diatas tanah yang mencuat.


“Aku juga sama. Aku juga berpikir keras tentang itu ketika Aku bereinkarnasi. Saat berhenti menjadi seorang manusia dan menjadi sebuah eksistensi yang merepresentasikan hal jahat. Selama waktu itu, tuanku Sirzechs Lucifer mengatakan ini padaku.”


[Aku menginginkanmu memikirkan hal itu sendiri. Aku sederhananya memberimu sebuah kesempatan. Bagaimana kau akan hidup dan bagaimana kau akan menghabiskan waktu. Itu adalah sesuatu yang perlu kau putuskan. Kecuali, maukah kau membantuku dalam pekerjaanku pada waktunya sebagai pengikutku? Aku percaya kalau keahlian berpedang adalah sesuatu yang diperlukan untukku. Akan tetapi, jika kau menjadi ancaman pada manusia--maka Aku akan melenyapkanmu sebagai tuanmu. --Tapi kau tau, Aku ingin kau mengingat ini. Iblis, manusia, Malaikat, dan makhluk lainnya. Itu adalah makhluk didunia ini yang tidaklah harus dimusnahkan.]


Guru kemudian melanjutkan dan mengatakan ini.


“Menjadi seorang Iblis yang akan menghancurkan manusia itu akan menjadi keputusanmu. Tapi yang jelas, kau, Rias-hime, dan Aku, adalah jelas-jelas bukanlah Iblis itu, benar?”


…..Waktu itu, Aku tidaklah memahami apa yang dia maksud.


Kecuali–.


Aku mulai berpikir kalau Aku harus percaya pada gadis berambut crimson yang memperbaiki kuburan dengan sungguh-sungguh disampingku.


Setelah kita entah bagaimana membentuk kuburan itu, kita berjalan di jalur gunung bersama-sama.


Sambil kita berjalan, guru menanyai Rias Gremory.


“Ngomong-ngomong, Hime. Apa kau sudah memutuskan nama untuk anak ini?”


“Ya, tapi aku tidak yakin jika anak ini akan menyukainya…..”


Gadis yang menatapku dengan lembut mengucapkan nama ini.


“Kiba Yuuto. Aku memikirkan dengan sebagian besar perasaanku, tapi bagaimana dengan itu?”


Aku tersenyum pada pendapatnya dan mengangguk.


“Ya, Aku berpikir itu adalah sebuah nama yang bagus.”


Melihat reaksiku, guruku dan Rias Gremory keduanya tersenyum.


Senyum…..huh. Ya. Aku akan memastikan kalau Aku akan selalu tersenyum. Meskipun Aku tidak akan tahu Aku bisa seperti mereka…..


Semenjak Aku bisa hidup, Aku akan menjalani hidupku dengan tersenyum.


Ketika Aku tiba di dojo sembari sinar matahari turun padaku, Aku membuat sebuah pendapat pada guru pedangku dan tuan berambut crimson.


“Bagaimana kalau kita memutar gasing bertiga?”


Meskipun dipikir kita ada Iblis, kita mulai memainkannya dibawah sinar matahari–.